Friday, February 27, 2009

Nihonjin no Subarashi Koto

Terinspirasi dari tulisan mbak-ku Diana di berkas-cahaya.blogspot.com, yang mengulas tentang sorang tunadaksa di Jepang sana, Hirotada Ototake, aku ingin juga berbagi kesan tentang seorang Nihon-jin lainnya. Inspiratif untukku, membuat "klik". Jadi merasa kurang (berharga) dibanding mereka, tapi tentu mengupayakan untuk bisa berbuat lebih.
Ini adalah satu bagian dari kumpulan tulisan yang kususun. Mudah-mudahan kelak bisa diterbitkan jadi buku. Insya Allah.
Hoshino Tomihiro no Subarashii koto
(Karya luar biasa seorang Tomihiro Hoshino)
Dalam sebuah kesempatan, Onoue-san beserta istrinya mengajakku berjalan-jalan. Dia adalah salah seorang staf kantor urusan mahasiswa asing di Universitas Gunma yang membantuku menjalani hari-hari awal di Maebashi. Dia ramah, dan sudah berkali-kali mengajakku makan siang atau sekedar berkunjung ke rumahnya, Akhirnya, dalam satu kesempatan di musim gugur yang bertepatan dengan bulan Ramadhan, aku sempatkan juga untuk menyambut tawarannya.
Pada hari itu, dia dan istrinya membawaku berjalan-jalan ke beberapa tempat yang indah di musim gugur, melihat pemandangan hutan yang merona merah atau berangsur kuning kecoklatan, segar sekali. Kami sempatkan juga untuk mengunjungi salah satu dam penampungan air dari salah satu sungai di provinsi Gunma yang jadi kebanggaan penduduknya. Mohon maaf, aku tidak begitu terkesan, karena Jatiluhur lebih besar dari itu. Yang membuatku sangat terkesan dari acara jalan-jalan sehari itu adalah ketika kami mengunjungi sebuah museum lukisan agak di luar kota, Museum Hoshino Tomihiro, seorang pelukis dan penulis puisi kebanggaan masyarakat Gunma.
Masuk ke ruang pertama museum itu, kami disambut oleh dinding besar bertuliskan susunan huruf-huruf katakana yang ditulis secara kurang sempurna. Berantakan, seperti tulisan seorang anak yang baru mulai menulis. Teks di sebelah gambar itu menyebutkan bahwa tulisan itu adalah tulisan Hoshino-san yang pertama. Kupikir, ’Apa istimewanya?’ Seorang anak SD kelas 1 sudah akan bisa menulis huruf katakana dengan jauh lebih baik daripada itu.
Menyusuri ruang demi ruang museum itu, kulihat gambar beragam bunga. Bunga biasa, sebetulnya, yang biasa ditemui di pekarangan, bunga rumput, bahkan kadang ‘hanya’ lukisan sebatang bunga dari sayuran yang biasa kita makan. Yang membuatnya unik adalah menyertai setiap gambar, selalu ada puisi yang berkaitan dengan gambar itu.
Mahkota Duri
Ketika kau bisa bergerak tetapi harus diam,
Kau perlukan daya tahan
Tapi ketika engkau seperti diriku,
yang tak bisa bergerak,
Siapa yang memerlukan daya tahan untuk tetap diam?
Dan segeralah,
Temali berduri, daya tahan
Yang melingkari tubuhku
Terlepas...
Puisi ini terletak bersisian dengan gambar bunga Euphorbia atau Crown of Thorns atau Mahkota Duri. Renungkan makna puisi itu dalam-dalam, dan… KLIK!!! Sebuah kesadaran menjentik pikiranku. Pelukis dan penulis ini tak bisa bergerak? Sehingga dia bahkan tidak memerlukan daya tahan untuk tetap diam.
Ketika kutanyakan hal ini pada Onoue-san, yang menjadi pemandu amatir hari ini, dia kemudian menjelaskan bahwa Hoshino-san adalah seorang pelukis yang mengalami kelumpuhan syaraf tulang belakang. Dia tidak bisa menggerakkan bagian bawah tubuhnya mulai dari leher hingga kaki!! Mengetahui kenyataan itu, subhanallah… sebuah pujian terungkap pada Allah SWT semata.
Beliau telah kehilangan kemampuannya untuk bergerak sejak tahun 1971, pada saat beliau menjadi pengajar mata pelajaran pendidikan jasmani di sebuah sekolah menengah pertama di Jepang. Sebuah kesalahan fatal merenggut kemampuan geraknya seketika. Ini terjadi di depan murid-murid yang sedang menunggunya untuk melihat beliau mencontohkan sebuah teknik lompatan senam dan menunggu giliran untuk melakukan hal serupa.
Setelah pemanasan seperti biasa, aku bersiap untuk membuat lompatan ke udara dengan tangan terentang tinggi. Badanku akan melayang di udara seolah ia mengikuti lenganku. Pada saat tubuhku dalam kondisi puncak, satu atau dua detik di udara terasa lebih panjang, seperti hari ini. Kali ini sommersault-ku, -telah berapa kali kulakukan itu?- membuatku mendarat secara tak terduga dengan kepala lebih dahulu di atas matras tempat mendarat. Aku berbaring pada punggungku di sana, tanpa kekhawatiran sedikitpun di kepalaku. Hanya seperti peristiwa jatuh biasa yang kadang-kadang kulakukan, pikirku. Walaupun demikian, aku tak dapat bangkit. Lalu aku ingat bahwa pada saat mendarat tadi aku mendengar sebuah suara krak, seperti sesuatu yang hancur di belakang kepalaku. Sekarang aku merasakan keringat dingin di dahiku….
(diterjemahkan dari buku Autobiografi Hoshino Tomihiro, “Here So Close But I Didn’t Know”)
Hanya sebuah kesalahan pendaratan kecil, pikir Hoshino-san pada saat itu, tapi ternyata kecelakaan itu membuatnya harus melewati masa kritis antara hidup dan mati selama berhari-hari, yang dilanjutkan dengan 9 tahun perawatan di rumah sakit. Sungguh berat! Dengan tak ada lagi daya untuk menggerakkan tubuh kecual dengan bantuan orang-orang terbaik di sekitarnya, ibunya yang tak kenal henti merawatnya, dokter dan perawat, serta teman-teman terbaik hingga beliau pun menemukan istrinya di masa itu.
Satu masa titik balik yang membuatnya bangkit adalah ketika beliau diminta untuk menuliskan kata-kata penyemangat bagi seorang kawan kecil yang juga dirawat di bangsal yang sama dengannya. Alih-alih menulis kalimat, beliau hanya mampu ‘menuliskan’ nama pendek Tomi dengan spidol yang ditaruh di mulutnya. Sebetulnya, ibunyalah yang menggerakkan topi itu hingga membentuk tulisan kanji untuk namanya. Beliau sangat malu untuk mengakui hal tersebut, hingga kemudian bertekad untuk belajar menulis lagi dengan mulutnya.
Usaha kerasnya membuahkan hasil. Setelah beliau mampu menulis deretan huruf katakana (yang kelak diperbesar dan dipajang di lobi entri museum pribadinya), beliau kemudian melanjutkan eksplorasinya dengan menggambar beragam bunga-bungaan yang terdapat di sekitar tempat tinggalnya. Ibu ataupun istrinyalah yang membantunya mencampur warna, kemudian meletakkan kuas di mulutnya, namun kemudian Hoshino-san sendirilah yang menyelesaikan gambar-gambar indah dengan filosofinya yang dalam.
Nabataki/Columbines
Even a flower When praised, Begin to look nicer, Someone said so, I remember. Then I began to wonder with fear, If the flowers Were looking at my painting
Sungguh indah. Banyak dari karyanya kemudian dijadikan kartupos bergambar, kalender, maupun poster yang tentu saja diperjual-belikan. Tidak hanya untuk menangguk dana untuk perawatan museumnya, namun lebih pada nilai filosofisnya, kupikir. Menyebarkan buah pikiran cemerlang dari seorang pelukis dan pujangga istimewa, jauh lebih berharga daripada sekedar mengeruk yen semata.
Iris
Why can you bloom so beautifully
Though you take root in the black soil
and suck up filthy ditch water?
Why do I think about ugly things
Though I'm surrounded by the love
of many people?
Sesuatu yang kupelajari darinya, sungguh berharga. Kadang pikiran serupa itu bahkan tak muncul di kepala kita, manusia sempurna dengan segala kemampuannya. Seringkali kita tak melihat detil dan hal-hal kecil serta esensi penciptaan kita. Tak jarang pula kita kurang menyukuri segala apa yang kita punya, yang sudah dianugerahkan oleh Allah Yang Maha Pemurah kepada kita. Astaghfirullaah al’adziim.
Hoshino Tomihiro memberi pelajaran berharga, bukan hanya karena dia tak berhenti berjuang dan berkarya dalam cacatnya, tapi karena pemikiran serta filosofinya yang mendalam tentang hidup dan segala esensinya. Tak akan malu aku untuk belajar darinya, walau bagaimanapun kondisi fisiknya, apapun suku bangsa maupun agamanya, ada hikmah besar yang bisa kupelajari dari beliau.

3 comments:

zuki said...

sering-sering berhenti ... melihat apa yang terlewat ... dan mensyukuri segala sesuatu ...

Diana said...

Subhanallah, speechless bacanya mbak... Semoga kiyta tdk termasuk org yg kufur nikmat, dg segala apa yg tlh dg murah hati Allah karuniakan kpd kita.... jzklh sharingnya ya say...

Diah Utami said...

Terima kasih juga buat mbak Diana. Saya terinspirasi untuk publish tulisan ini kan setelah mbaca posting-annya mbak Diana.