Wednesday, July 10, 2024

Koleksi Memori

Berawal dari keingintahunan tentang kisah dan cerita di balik benda koleksi orang-orang, kuusung tema koleksi ini untuk menjadi salah satu tema tantangan MGN. Eh ternyata disambut dan jadi tema tantangan menulis blog posting di bulan Juli ini. Lha... kok aku jadi bingung sendiri, mau nulis tentang koleksi apa ya...? :D

Koleksi Klasik

Koleksi prangko peninggalan kakak.
Prangko merupakan salah satu benda koleksi yang kurasa bernilai klasik. Aku pun termasuk salah satu yang pernah mengoleksi prangko, ikut-ikutan kakakku... :p Beberapa album sudah kumiliki dengan koleksi prangko yang rata-rata kudapat dengan cara berkirim surat dengan sahabat pena (jadi dapat banyak prangko dari berbagai daerah), bertukar, atau minta. Hahaa... Aku jarang membeli prangko koleksi lama yang terkadang kulihat ada di emperan jalan -dan sekarang bisa didapat di berbagai e-commerce- tapi sesekali membeli prangko koleksi terbaru atau edisi khusus termasuk sampul hari pertama yang ujungnya tak pernah kupakai untuk berkirim surat tentunya, karena sayang. Di akhir tahun 90-an, 3 album prangkoku kubawa ke sekolah untuk kutunjukkan kepada murid-murid sebagai jejak sejarah filateli. Beberapa hari menginap di sekolah, eh... kok tahu-tahu menghilang aja itu album prangko beserta seluruh koleksinya. Kehilangan koleksi yang kukumpulkan sejak masih SD tentu ada rasa emosional juga siih, sedih pastinya, Tapi tak perlu nangis bombay juga, karena itu 'hanya' prangko. Sedih ya boleh juga, tapi ya sudahlah. Koleksiku juga nggak terlalu berharga sih kayaknya. Aku toh tak punya koleksi prangko langka (kayaknya). Hahaa... bukan kolektor militan juga siih...

Kalau berminat jadi kolektor militan atau minimal kolektor pranko beneran, bisa dong bergabung di Perkumpulan Penggemar Filateli Indonesia yang berdiri sejak tahun 1922 dan masih terus aktif hingga saat ini. Ragam kegiatannya banyak, bisa saling bertukar koleksi, ada pameran, workshop, termasuk sosialisasi untuk para filatelis yang baru mau bergabung dan masih bingung harus ngapain. Klub filateli ini juga punya banyak cabang di berbagai daerah. Setelah berkali-kali berganti nama, pada tahun 2022 namanya fix menjadi Penggemar Filateli Indonesia. Hingga saat ini jumlah anggotanya sudah mencapai angka sejuta filatelis. Untuk yang mau asik-asik melihat koleksi prangko bersejarah Indonesia, bisa berkunjung ke Museum Prangko yang ada di TMII-Jakarta. Selain itu di Bandung ada Museum Pos dan Giro yang terletak di area Gedung Sate. Museum ini bisa dikunjungi oleh siapa saja pada hari Senin hingga Sabtu pukul 09.00 - 16.00 WIB. Untuk berkunjung ke Museum ini pengunjung tidak dipungut biaya apapun. Aku sempat satu atau dua kali berkunjung ke museum ini bersama murid-murid sekolah tempatku mengajar dulu. Ada masanya museum bagi-bagi suvenir gratis kepada pengunjung, tapi pernah juga kami pulang dengan tangan hampa tapi hati dan memori penuh dengan ilmu baru.   

Koleksi Asik

Sebagian koleksi mug-ku. 
Selain prangko, aku juga suka mengoleksi gelas minum bergagang/mug. Mug berukuran kecil kudapat di supermarket dengan harga murah meriah. Mug keramik hitam elegan dengan bentuk hexagon kudapat di toko barang second juga dengan harga murah meriah. Beberapa mug lainnya kubeli dengan harga yang masuk akal dan masuk budget atau kudapat dari teman yang memang tahu kesukaanku mengumpulkan mug. Semuanya kusayang dan kueman-eman, sebagiannya didisplay tapi jarang sekali dipakai. Lama-lama... kupikir buat apa juga sih mengumpulkan mug kalau tak kunjung dipakai, hanya buat jadi penadah debu belaka, sementara untuk sehari-hari aku pakai mug dengan bentuk standar yang rata-rata adalah souvenir dari berbagai event, dengan sablonan atau cetakan yang sudah bocel di sana-sini. Kalau yang begini, aku tidak perlu pakai sayang-sayang untuk memakainya. Tapi mug yang begini bukan termasuk item koleksi yaa, walaupun hampir semua mug punya memorinya sendiri. 

Koleksi Antik

Sumber gambar di sini.

Hanya pernah kulihat di rumah orang lain. Koleksi barang antik berupa keramik-keramik bernilai tinggi. Ada guci, patung keramik, hingga ukiran batu mulia sekelas giok yang dibuat dalam jumlah terbatas bahkan mungkin cuma satu-satunya. Ada juga koleksi paketan keramik biru yang juga hanya kulihat di rumah orang lain. Mulai pajangan dinding, teko dan cangkir keramik, wadah saji, hingga kotak tissue dan lain sebagainya. Tampak elegan ketika muncul dalam satu tone warna begini. Bahkan sarung bantal di ruang tamunya pun (uhm... bukan keramik lah...) bernuansa biru-putih dengan desain klasik yang mirip lukisan/gambar pada keramik. Cantik. 

Koleksi Unik

Beberapa koleksi orang lain juga yang kurasa unik kutemukan di berbagai web, salah satu (atau tepatnya 10 di antaranya) kutemukan di sini. Ada yang mengoleksi bola bowling, bola golf dalam beragam bentuknya yang sudah mengalami asam garam kehidupan. Ada juga orang yang mengoleksi batu berbentuk hati, yang ditemukan di sana-sini dan terniat sekali mencari bentuk yang spesifik berupa hati dalam beragam ukuran, warna dan materi, yang semuanya batu alami. 

Koleksi lainnya yang tak kalah unik, salah satunya adalah mesin ketik. Ketika di masa kini orang tak lagi mengetik dengan mesin ketik jadul yang suara ketak-ketiknya bisa membangunkan seisi rumah, masih ada orang yang suka mengoleksi benda yang sudah layak jadi koleksi museum ini. Kamera atau pesawat telepon jadul pun ada lho yang mau mengoleksi, padahal sebagian anak-anak jaman sekarang bahkan tak tahu cara mengoperasikannya. Koleksi pasir dari berbagai pantai yang kemudian disusun dalam sebuah wadah tampak unik. Begitu pun dengan orang yang (mau-maunya) mengoleksi bola keciiil yang terdapat di ujung bolpoin. Buat apa, coba? Tapi yang lebih aneh menurutku adalah orang yang mengoleksi stiker dari buah pisang yang dibelinya dari supermarket. Humm, apakah itu menandakan jejak sejarah perpisangan di areanya? Menurutku sih, buat apa ya...? Tapiii kalau sudah jadi hobi, hal tak masuk akal pun bisa saja dikoleksi untuk menjadikannya sebagai memori.   

Koleksi Menarik

Satu lagi (atau beberapa) benda koleksiku yang cukup menarik, akan kuulas di sini. Bukan menarik-menarik amat siih... tapi lebih tepatnya menarik duit dari dompet/rekening. :p

Koleksi magnet kulkas asal tempel.
Koleksi magnet kulkas ada beberapa yang kutempel di dinding lemari es. Beberapa di antaranya kudapat dalam momen traveling yang sempat kulakukan bertahun lalu. Beberapa lainnya kudapat sebagai suvenir dari orangtua murid ketika mereka berlibur ke sana ke mari (banyaknya sih ke luar negeri, tentunya). Sisanya adalah magnet kulkas yang kudapat sebagai hadiah dari frozen food yang kubeli. Menarik? Nggak juga siih, cuma lumayan aja sih buat nutupin buriknya permukaan kulkas lungsuran dari kakakku ini.

Beberapa waktu lalu, ketika aku berkesempatan tinggal di Jepang selama 1,5 tahun, kusempatkan traveling ke beberapa tempat wisata. Kudapati di sana bahwa hampir di semua tempat wisata, stasiun kereta ataupun kantor lembaga memiliki cap/stempelnya sendiri. Kegiatan ini pun tentunya perlu dibarengi dengan menarik duit dari rekening untuk pergi ke sana ke mari, mencari lokasi stempel yang kadang agak tersembunyi, lalu mengecapnya di buku yang kita bawa atau kertas yang (sebetulnya tidak selalu) tersedia. Saat ini koleksi stempelku terkubur entah di mana, tapi masih ingin mengoleksi stempel beragam ukuran dan warna ini, terutama dari Hiroshima. Suatu saat kelak, sekiranya berkesempatan berkunjung ke sana, aku akan cari dan dapatkan stempel Hiroshima dengan landmark Monumen Bom Atomnya.

Sebagian koleksi kainku.
Satu koleksi lainnya yang juga kusuka adalah kain-kain tradisional Indonesia. Selain batik yang sudah kusuka sejak lama, aku juga suka dan kagum pada ragam kain tradisional Indonesia lainnya. Mengingat proses pembuatannya yang rata-rata masih buatan tangan bukan pabrikan, kain tradisional ini tentu bernilai cukup tinggi. Batik tulis yang perlu proses berbulan-bulan dalam proses pembuatannya dibandrol dengan harga mencapai jutaan. Kain kerawang dari Sulawesi Utara pun tak ada yang murah meriah. Harganya mulai enam puluhan ribu untuk sehelai kerudung segi empat hingga jutaan rupiah untuk setelai baju yang belum dijahit. Kain lurik dan tenun ikat pun sama-sama cantik dengan pola tenunnya masing-masing. Belum lagi jumputan, sasirangan, ulos hingga songket bersulam benang emas. Semuanya menarik ya... ingin kukoleksi, tapi juga akhirnya hampir tak kutemukan maknanya. Jika sekedar untuk dimiliki, hanya akan merendahkan arti, kecuali kukoleksi rapi lengkap dengan sejarah dan kisah mengenai kain-kain itu, menuliskan memori. 

Mengoleksi, dengan segala seninya, sejatinya tentu tak lepas dari merangkum kisah dan cerita tentang benda tersebut yang akan menjadi kenangan yang tersimpan dalam pikiran. Setiap item bisa kembali membawa kita ke suatu masa yang bermakna. Apakah itu reuni sekolah, atau mungkin pemberian dari seseorang yang punya tempat spesial di hati kita, bahkan mungkin 'sekedar' beli di suatu tempat yang pernah kita singgahi, hingga gratisan hasil datang ke kondangan. Semua punya arti yang akan mengaktivasi memori kita lagi. Kurasa... mengoleksi itu ada gunanya juga ya. Menuliskan ini pun menambahkan sebuah blog posting lagi dalam koleksi tulisan di blog ini, selain menjawab Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan ini. 

Thursday, June 27, 2024

Cinta Bumi (Tapi Masih) Setengah Hati

Simbol ekologi, diperkenalkan oleh Ron Cobb pada tahun 1969. Sumber: Wikipedia

Bulan April lalu, tepatnya tanggal 22, ditetapkan sebagai Hari Bumi, yaitu acara tahunan yang dirayakan di seluruh dunia untuk menunjukkan dukungan bagi perlindungan lingkungan. Hari Bumi dirancang untuk meningkatkan kesadaran dan apresiasi terhadap planet yang kita tinggali. Sebagai penduduk Bumi, sudah selayaknya kita menunjukkan kepedulian juga kecintaan terhadap Bumi yang sudah memberi begitu banyak kepada kita. Sebaiknya kita pun berterima kasih dengan cara merawatnya sesuai kemampuan.
Boleh nggak sih, ngaku-ngaku cinta Bumi tapi belum sepenuh hati? Harus kuakui, aku masih model orang seperti ini, yang nggak bisa bilang cinta mati lalu mengusahakan segala sesuatu demi Bumi. Well... katakanlah aku masih berproses, tapi aku peduli pada Bumi ini. (Mungkin belum sampai pada tahap cinta mati, tapi sungguhan... aku peduli pada Bumi ini).
Beberapa aksiku untuk menunjukkan rasa cintaku pada bumi, kupaparkan berikut ini. Hal-hal kecil yang bisa kulakukan untuk Bumi, sekiranya tidak terlalu merepotkan, tentu akan kulakukan. FYI, aku bukan orang yang akan sukarela mendaki gunung dan menyeberangi lautan untuk kemudian berkorban habis-habisan untuk orang yang kucinta. Enggaklah. Maaf-maaf, untuk bumi pun aku berlaku seperti itu.
Sebetulnya banyak hal yang bisa kita lakukan untuk menjaga bumi tetap lestari. Sebutlah 3 hal mendasar ini dulu deh.

1. Memilah sampah organik dan non-organik
Memilah saja sih mudah, sebetulnya. Panduan pemilahan sampah bisa kita dapatkan dari sumber mana saja dan sungguh sangat mudah mengikuti arahannya. Sampah organik cukup banyak dihasilkan bahkan dari rumah tangga kecil semacam rumah yang kutinggali sendiri. Aku mengolah bahan makanan hampir setiap hari, tapi tentu tidak semuanya bisa dikonsumsi. Kulit buah dan sayur, tulang hingga sisa makanan bisa dipisah dari sampah kertas, plastik, dan bahan non-organik lainnya. Mudahlah itu... tapi apa langkah selanjutnya?
Kumpulan botol plastik untuk donasi.
Sempat aku menjadi nasabah bank sampah di lingkungan tempat tinggal, tapi biarpun jadwal menabung sebulan sekali, terkadang sampahku nggak banyak-banyak amat juga siih sehingga tabungan akhir tahun pun tak seberapa. Nggak masalah, sebetulnya, dan nggak berharap dapat uang banyak dari tabungan sampah, kecuali kalau rajin lagi memilah sesuai kategori dan spesifikasi sampah untuk dibuang/ditabung. Kalau rajin melepas label dari botol air kemasan, memisahkan botol dari tutupnya, harganya bisa lebih tinggi dibanding botol yang masih lengkap dengan tutup dan label merek. Tapi karena aku masih terkendala malas, akhirnya kukumpulkan saja beragam botol dengan labelnya -setelah kucuci bersih dan kukeringkan tentunya- lalu setelah terkumpul satu-dua kantong plastik besar, kubawa saja dalam mobil, berharap ketemu bapak pemulung di perjalanan untuk kudonasikan saja botol-botol beserta kardus atau plastik lainnya pada mereka. Aku senang karena rumah sedikit lega tanpa sampah, sementara mereka pun senang bisa mendapat barang untuk mereka jual tanpa perlu bersusah lelah mengorek timbunan sampah dari rumah ke rumah. Simbiosis mutualis kan...? 

2. Mendaur ulang sampah, baik organik maupun non-organik
Proses mendaur ulang tampak sederhana tapi memang perlu usaha lebih untuk istiqamah menjalani prosesnya. Pernah aku mencoba membuat cairan eco enzyme dari kulit buah, tapi seberapa banyak sih sampah rumah tangga yang dihasilkan oleh seorang Diah? Tidak banyak. Dan itu yang membuatku menjadi goyah. Ketika kemarin semangat, hari ini lemah. Ketika hari ini gagah, besok ternyata lelah. Proses meng-eco enzyme akhirnya berhenti di tengah jalan.
Tak beda jauh dengan itu, proses mengompos pun pernah pula kujalani. Tidak ada pekarangan atau lahan yang luas, kumanfaatkan area di taman belakang yang luasnya ala kadarnya. Aku tak punya komposter khusus untuk mengolah sampah organik, tapi masih punya semangat mengompos (walaupun timbul-tenggelam tak berkobar-kobar). Banyak cara mengenai cara mengompos, tinggal pilih sesuai kemampuan kita.
Aku mencoba menerapkan komposting sederhana dengan menimbun tanah dan sampah secara berlapis dalam kontainer kecil. Dibantu semprotan katalis dan taburan gabah ntuk mempercepat proses pembusukan sampah, dalam rentang waktu 2-3 bulan sampah sudah berubah menjadi kompos. Tapi rupanya ada yang lucu dengan proses kompostingku. Bukan kompos yang tercipta, tapi malah muncul tunas tanaman baru.
niat mengompos,
malah jadi tunas
Seperti nampak dalam foto, di latar belakang ada beberapa wadah dengan tanaman jagung yang sedang berjuang untuk tumbuh, sementara di bagian depan, ah... itu seharusnya jadi wadah berisi kompos. Tapi kenapa malah muncul tanaman-tanaman muda yang bahkan aku lupa tanaman apa itu. Mungkin pohon jeruk, dari sampah jeruk peras beberapa waktu lalu. 
Terkadang tak sempat langsung mengompos karena berbagai keterbatasan, sampah kumasukkan ke dalam wadah bersih lalu kusimpan di freezer selama beberapa waktu. Tapi sampai sekarang ada beberapa yang belum berubah posisi. Niat untuk mengompos masih ada, tapi semangat kurang membara.  

3. Menggunakan wadah yang bisa digunakan berulang kali
Beli bubur ayam di wadah sendiri.
Ketika aku pergi beli sarapan ke tukang bubur, lontong kari atau nasi kuning, kubiasakan membawa wadah sendiri. Lumayan lah sedikit mengurangi sampah plastik. Wadah thinwall yang kadang kudapat dari tetangga atau tenant makanan siap beli, kupakai lagi untuk wadah prep bahan makanan sebelum memasak atau tak jarang untuk menyimpan frozen food di lemari pendingin. Tampilan isi kulkas jadi terlihat rapi, enak dilihat. 
Selain membiasakan diri memakai wadah yang bisa diberulang kali digunakan, kubiasakan juga membawa kantong belanja ke mana-mana untuk mengurangi konsumsi kantong plastik. Kadang-kadang aku masih perlu siih, kantong plastik dari warung atau mini market untuk kupakai sebagai pembungkus sampah agar mudah diangkut oleh petugas kebersihan.

Belum banyak yang kulakukan sebagai wujud cinta untuk Bumi, tapi setidaknya langkah kecil ini akan cukup berarti jika dilakukan konsisten dengan lebih banyak penduduk bumi ikut partisipasi. Yuk bisa yuk... cintai bumi walau masih 'setengah hati'. Daripada nggak cinta sama sekali. Iya nggak...? 

Tuesday, September 19, 2023

Tak Ada Apa-apanya Dibanding Mereka

Di, udah lama nih kita nggak ketemuan. Ketemuan yuk!

Sebuah pesan whatsapp kubaca di ponselku. Dari Mima, seorang teman yang pernah menjadi kolega di sebuah institusi di suatu masa. Ya... rasanya sudah cukup lama juga kami tak bersua dan bertukar kabar. Kubalas pesannya segera,

Yuk! Mau di mana? Kapan?

Di Ciwalk yuk. Sabtu ini?

Humm... sebetulnya agak males sih ke daerah macet begitu di akhir pekan, tapi sesekali aja kan ini... dengan tujuan silaturahmi pula, jadi baiklah, mari kita jabanin.

~๐Ÿงก~

Sabtu sore pun datang. Aku sampai lebih dulu di resto yang sudah kami sepakati, sedangkan Mima datang tak lama kemudian dengan senyum lebarnya yang khas. Setelah cipika-cipiki dan sedikit basa-basi, kami pun menelusuri daftar menu untuk memilih menu makan sore kami. Hihii... iya, sore. Bukan makan siang, bukan pula makan malam. Pokoknya makan bareng lah judulnya, ini. Aku memilih sate maranggi yang jadi rekomendasi resto ini, sedangkan Mima memilih menu lain yang berkuah. Katanya dia sedang menghindari masakan yang dibakar atau dipanggang, padahal aku tahu betul dia sangat suka persatean,  makanya aku pilih resto ini untuk tempat ketemuan kami.

"Kenapa nggak nyate? Eh... kalau tahu sedang menghindari bakar-bakaran, kita bisa ke tempat lain aja tadi," ujarku sambil sedikit merasa bersalah.

"Nggak apa-apa... masih banyak menu lain yang bisa dinikmati kan?" Jawabnya ringan saja.

"Memangnya kenapa harus menghindari makanan yang dibakar-bakar?" selidikku sambil menunggu pesanan kami diantar ke meja. 

Dia pun bercerita tentang kunjungannya ke dokter beberapa waktu berselang. Setelah menyampaikan gejala yang dirasakan, ditunjang dengan hasil cek darahnya di lab,

"Cancer nih kayaknya." Ringan saja dia bilang begitu, masih dengan senyum di wajahnya. Sementara aku, mendengar pernyataannya dengan jelas, mataku tiba-tiba berembun.

"Hey... nggak apa-apa...," ujar Mima sambil mengulurkan tangannya ke seberang meja, meraih tanganku, menggenggamnya sejenak. "Saat ini nggak ada yang dirasa siih," sambungnya lagi. "Nggak sakit nggak apa, tapi ya mesti jaga pola makan. Nurut aja deh sama dokter. Nggak boleh makan yang bakar-bakar, segala yang fermentasi, kurangi roti, dan sebagainya. Pantangannya nggak banyak-banyak amat sih rasanya. Masih banyak lah yang bisa dimakan." Pungkasnya. Waiter datang mengantar pesanan kami, menghentikan percakapan sejenak. 

Aku memandangi sate sapi yang terhidang di depanku. Tadinya aku ingin memesan sate kambing, tapi tekanan darahku agak tinggi belakangan ini, membuatku sakit kepala bahkan mual muntah sesekali. Tapi tak pantas rasanya aku mengeluhkan sakit ini, sementara sahabatku mengidap sakit yang jadi momok banyak orang, pembunuh rangking ke-2 dari penyakit yang menyerang perempuan. Apa yang kualami saat ini, tak ada apa-apanya dibandingkan dia. Kami pun melanjutkan makan sore kami tanpa membahas lebih jauh mengenai sakit apapun yang kami idap saat ini.

~๐Ÿงก~

Bulan Oktober akan bertepatan dengan Breast Cancer Awareness Month yang diperingati sebagai Bulan Kesadaran yang merupakan kampanye tahunan untuk meningkatkan kesadaran akan deteksi dini kanker payudara melalui SADARI (Periksa Payudara Sendiri). Pink ribbon for you, all breast cancer warriors! 

Sebetulnya aku pun pernah mengalami hal serupa itu bertahun yang lalu, jaman masih SMA atau awal kuliah. Kurasakan sebuah benjolan kecil di 'sekwilda'  setelah sadari beberapa kali. Benjolan itu seukuran kacang tanah sih rasanya, atau malah lebih kecil lagi. Aku sudah lupa. Saat itu aku pergi ke puskesmas sebagai faskes pertama. Dari sana diberi surat rujukan untuk menjalani pemeriksaan lanjutan ke bagian onkologi. Namanya berobat pakai askes (iyaa, masih askes waktu itu, bukan BPJS), aku ya nggak bisa manja-manja atau pilih-pilih dokter. Kuharap akan ketemu dokter wanita, tapi jebule yang nongol dokter laki-laki, tinggi kurus berkumis tebal. Setelah kusampaikan keluhan, ya mesti periksa fisik lah yaa (mallluuuu, tahu, buka-bukaan area 'sekwilda' di depan seorang laki-laki, dokter sekalipun). 

Setelah periksa, pak dokter bilang, "Nggak ada tuh (benjolannya)." Rasanya mukaku sudah merah maksimal karena malu. Ya masa sih aku harus minta dia untuk memeriksa lagi. 'Ini lho, dok... sebelah sini... coba pegang!' sambil menyodorkan *niiiit* #sensor. Duh, kan malu banget ya. Akhirnya aku benahi blus berkancing depan yang kupakai lalu bersiap pulang. Sebelum pulang, pak dokter sempat menyarankan untuk menjalani biopsi sebagai langkah lanjutan. Enggak ah, dok... aku balik badan lalu pulang. Waktu itu aku memilih untuk minum ramuan alternatif semacam jamu yang dijual bebas. Setelah beberapa bulan mengkonsumsi ramuan itu, alhamdulillah benjolan di sekwilda itu tak lagi teraba. Aku nggak perlu lapor ke pak dokter berkumis kan untuk memberi tahu bahwa benjolan benar-benar sudah hilang?

~๐Ÿงก~

Membicarakan tantangan hidup, rasanya ingin berbagi tapi malu hati. Tantangan jasmani maupun rohani PASTI sama-sama kita alami dalam hidup ini. Kadang aku merasa tantangan hidupku kok gini-gini amat... tapi kalau lirik kanan-kiri, ternyata BANYAK orang lain yang tantangan hidupnya lebih berat, jauhhh lebih berat dari tantangan hidup yang kualami. Jadi... tak ada gunanya mengeluh, Dee. Semua orang menanggung bebannya masing-masing, sesuai dengan kemampuan dirinya. Itu yang dijanjikan Allah di ayat terakhir surat Al Baqarah.  

Aku pernah berbincang dengan salah seorang keponakan, membahas satu-dua tantangan hidup (masalah keluarga tentunya), yang rasanya berat sekali untuk dijalani. Saat membahas itu, dia katakan bahwa tentu tak mungkin kita menawar-nawar pada Allah mengenai apa tantangan hidup yang rasanya tak sanggup kita jalani. Allah pasti tahu bahwa kita mampu. Kalau kita masih 'iseng' dan mencoba menawar, nggak mau menjalani tantangan 'yang ini', hidiiih... kalau dikasih tantangan hidup 'yang itu', mungkin kita lebih nggak mampu. Jadi ya sudah, terima saja tantangan hidup kita saat ini sesuai kemampuan kita. Allah yang akan bantu menguatkan.  Sungguh tak kusadari, ternyata keponakanku sudah dewasa sekali. Peluk kamu, sayang. Kamu pun menjalani tantangan hidup yang tak kalah berat, ditinggal ibu dan ayah dalam usia yang masih cenderung belia. Ya mungkin justru itu yang membuatmu dewasa. 

Untuk mengingatkan diri sendiri saja, kupungkas tulisan ini dengan sebuah hadits.

Besarnya pahala sesuai dengan besarnya ujian dan cobaan. Sesungguhnya Allah 'Azza wajalla bila menyenangi suatu kaum Allah menguji mereka. Barangsiapa bersabar maka baginya manfaat kesabarannya dan barangsiapa murka maka baginya murka Allah. (HR. Tirmidzi)

Bismillah... semoga kita semua termasuk orang-orang yang disenangi Allah untuk kemudian sanggup bersabar dalam menjalani takdir-Nya, apapun adanya. 

Disetorkan untuk menjawab Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog di bulan September ini. Kita saling doakan yaa, semoga kita sanggup menjalani tantangan hidup, apapun itu.

Saturday, August 12, 2023

Tiga Impian Yang Belum Kesampaian

Aku menatap surat perjanjian kerjasama penulisan buku yang sudah kutandatangani di atas materai ini. Beneran nih... kumpulan tulisanku akan diterbitkan menjadi sebuah buku? Bukan di penerbit mayor siih, tapi ini bukan buku indie yang bisa cetak kapan saja dan berapa saja. Sungguhan dikurasi dan siap diterbitkan. Benerankah ini?

ZONK!!! Surat perjanjian penerbitan boleh saja sudah ditandatangani, tapi ternyata penerbitan bukuku batal. Kumpulan tulisan berupa pengalamanku selama di Jepang, akhirnya kuposting dengan hashtag #MemoriMaebashi di kompasiana. Salah satunya, yang sempat menjadi artikel utama di kompasiana bisa dibaca di sini

Menerbitkan buku berisi tulisan sendiri adalah salah satu mimpi yang belum kesampaian. Masih berharap siih, tapi jadi malu sendiri ketika menulis sebagai sarana berlatih malas-malasan kujabanin. Bahkan nulis blog posting untuk tantangan MGN aja masih sering mandeg. ๐Ÿ™ˆ

Menulis keroyokan sih, sudah ada pengalaman beberapa kali. Ada yang memuaskan, tapi ada juga yang memualkan (nggak beneran memualkan, cuma ya rada nyebelin aja.) Dari 4 proyek antologi -Eh btw, e-book ITB dalam fiksi proyek barengnya MGN, keitung proyek antologi juga nggak siih...?- aku ceritakan serba sedikit tentangnya ya, biar semangatku terbakar lagi untuk menerbitkan buku sendiri.

Proyek Antologi pertama: Curhat Jalan Raya
Curhat Jalan Raya. Ini adalah proyek Antologi yang paling memuaskanku. Setiap kontributor dikurasi dulu dan diseleksi. Hanya 30 tulisan yang lolos kurasi dan berhasil ikut naik cetak menjadi buku kumpulan curhat yang seru ini. Setelah buku yang dicetak oleh Leutika Publishing ini sampai di tanganku, kubaca satu persatu tulisan di dalamnya, dan rasanya memang bagus-bagus siih. Aku bersyukur bisa menulis bersama salah satu penulis senior, Mbak Ifa Afianty di dalam proyek antologi ini. Tulisan-tulisan lain dalam buku itu sangat dekat dengan keseharian dan rata-rata dikisahkan dengan gaya bercerita yang menarik, sampai rasanya 'kesal' ketika sudah membaca buku itu hingga halaman terakhir. Masih ingin baca cerita yang lain lagi soalnya... 

Ramadan di Rantau. Ini adalah kebalikan dari buku Curhat Jalan Raya, menjadi proyek antologi yang paling tidak memuaskan juga tidak membanggakan. Aku merasa 'terjebak' ikut dalam proyek antologi ini. Kutemukan undangan untuk menulis pengalaman mengenai Ramadan di rantau ini dari sebuah akun penulis di facebook. Kabarnya dia sudah menulis banyak proyek antologi dengan buku yang tidak sekedar indie tapi juga terdaftar resmi dengan ISBN.  Terdengar sangat terpercaya bukan? Tapi ternyata kuratornya hanya dia sendiri. Bukan kurator juga sebetulnya, karena tulisan-tulisan yang masuk tidak melalui proses seleksi lagi. Dia bahkan sampai membuat 2 jilid buku ini, Ramadan di Rantau 1 dan 2, menimbang tulisan yang masuk sudah melebihi target. Yang membuatku kecewa, membaca beberapa tulisan dalam buku itu ternyata seperti mendengar seseorang bergumam saja, tak ada gregetnya. Sekiranya diseleksi dengan lebih baik, sangat mungkin buku ini akan lebih berkualitas. 

Proyek curhat berkedok Antologi :p
Unboxing Soulmate dan Melepas Untuk Bahagia. Dua proyek antologi ini jadi ajang curcol juga. Entah berapa persen kisah pribadi yang termuat di situ, tapi semoga jadi bahan pelajaran untuk pembaca. Membaca beragam kisah dalam buku Unboxing Soulmate, membuatku kembali menyadari dan memahami, bahwa pasangan hidup itu adalah misteri. Kadang tak dicari malah datang sendiri, tapi tak jarang dikejar malah dia menghilang, Buku Melepas Untuk Bahagia juga jadi sarana pembelajaran dan penguatan diri, bahwa tak semua yang kita kira baik, akan baik untuk kita. Menggenggam 'milik kita' tak selalu indah, sementara melepaskan bisa jadi membuat kita lebih bahagia. Selalu ada hikmah di balik semua peristiwa. 

Satu proyek antologi lagi, diwujudkan dalam bentuk e-book kumpulan cerita fiksi (dengan unsur) ITB. Ini kumpulan kisah yang serunya poll!!! Berisi cerita-cerita seru yang kental dengan aura nostalgia kampus Ganesha, dengan segala kisah seru tersembunyi di sana-sini. Yang mau baca-baca lagi, bisa langsung cuss ke sini.

~ ~ ๐Ÿ’› ~ ~

Hari-hari terakhir di Gunma, kuhabiskan dengan menyortir barang-barang yang akan kubawa pulang ke Indonesia. Omong punya omong dengan dua teman sesama program teacher training, segala urusan mereka dengan kampus sudah selesai bahkan sekitar 2 pekan sebelum kepulangan. Aku pun sudah menyelesaikan laporan kegiatan teacher training-ku dan bersiap untuk jalan-jalan terakhir sebelum kembali ke Indonesia. Hiroshima jadi tujuanku selanjutnya.

ZONK!!! Sensei memintaku untuk kembali merevisi laporan kegiatanku selama menjalani program teacher training. Aku harus bolak-balik mengedit dan menyerahkan revisian laporan sampai akhirnya sensei 'menyerah' di H-3. Ketika jadwal kepulangan sudah mepet begitu, aku tak mungkin lagi dong jalan-jalan ke Hiroshima yang jaraknya sekitar 800 km dari Gunma. Dengan jarak sedemikian jauh, tentu tak mungkin aku pergi bolak-balik dalam sehari, sementara packing belum beres, lalu undangan 'pesta perpisahan' juga berentet untuk dihadiri. Sementara masih banyak urusan domestik lain yang juga perlu didahulukan. Gagal deh berkunjung ke Hiroshima.

Berlatar belakang kebun Plum di area Nagoya Castle
Selama masa tinggalku di Jepang yang 1,5 tahun lamanya, alhamdulillah aku bisa berkunjung ke beberapa tempat wisata dan mendapatkan ragam kenangan yang begitu berkesan dan tak terlupakan. Tapi pergi ke Hiroshima dan mengunjungi Monumen Bom Atom adalah salah satu tujuan dalam daftar impian yang masih ingin kuwujudkan. Biarpun tabungan bolak-balik terpakai untuk hal lain-lainnya, optimis dulu ajalah. Entah kapan berkunjung ke sana, tapi ya siapa tahu... ada yang mau ngajakin untuk jadi guide ke sana. Yoroshiku ne

~ ~ ๐Ÿ’› ~ ~

Labbaik... Allahumma labbaik. Labbaika syariika laka labbaik. Innal hamda wanni'mata laka walmulk. Laa syariikalak. Berjalan di pusaran jamaah haji di sekitar ka'bah, melambai dengan takzim ke arah bangunan bersahaja yang jadi tujuan seluruh muslim di dunia, berdesakan di lautan jemaah berpakaian ihram. Ya Allah... ibadah tertinggi sebagai seorang muslim ini tentunya ingin juga kualami.

Dekorasi kamar: suasana masjidil haram dengan lampu.
Izinkan aku menjadi salah satu jemaah di rumah-Mu, ya Allah...

Tidak, kali ini tidak zonk. Bismillah... suatu saat aku akan datang ke baitullah, untuk beribadah di depan ka'bah, pergi ke tanah suci untuk menjalankan ibadah haji. Ya Allah... aku mohon izinkan diri ini untuk pergi. Entah tahun berapa aku akan dapat kuota, kesempatan untuk pergi berhaji, tapi ihtiar sudah mulai kujalani. Mendaftar untuk mendapatkan nomor antrian, menyetorkan sejumlah uang sebagai dana awal dan melanjutkan menabung di tabungan khusus yang kali ini tak akan kuotak-atik. Merutinkan berjalan kaki (masih pagi-pagi dulu) supaya badan terbiasa untuk ibadah yang perlu kekuatan fisik (dan mental) ini. Semoga Allah berkenan 'memanggilku' ke baitullah, sebelum Dia memanggilku ke haribaan-Nya. Tolong berikan kesehatan agar aku bisa menjalani ibadah itu dengan paripurna. Ya Allah...aku ingin pergi berhaji dalam keadaan sehat walafiat. Aamiin yaa mujiibassaailiin. 
~ ~ ๐Ÿ’› ~ ~

Bismillah... tulisan ini merupakan rangkuman keinginanku yang masih ingin dicapai. Disetorkan untuk menjawab Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog di bulan Agustus ini. Bantu aminkan yaa, mamah-mamah... 

Thursday, July 20, 2023

Tolong Katakan Padaku, Dari Mana Asalku?

Tiap kali ditanya, 'Kamu orang mana?' atau 'Kamu asalnya dari mana?', aku pasti perlu beberapa waktu untuk berpikir sebelum menjawab. Atau... kau siap-siap saja mendengarkan penjelasan yang cukup panjang ya. Aku siap bercerita dan nanti tolong bantu aku, apa yang harus kujawab ketika ditanya tentang daerah asalku. 
Beberapa waktu yang lalu, di acara halal bihalal keluarga besar Mangundimedjan, keponakanku bolak-balik menanyaiku, "Ini (yang baru datang) siapa, tante?" Ketika hubungan kekerabatan masih cukup dekat, misalnya sepupuku langsung beserta putra-putri mereka, aku masih bisalah memberi tahu dan mengenalkan. Tapi ketika yang datang adalah putra-putri dari sepupu bapak dari keluarga besarnya, euh... aku mendadak bodoh rasanya. Kalau ada ujiannya, mungkin nilaiku cuma 30. Harus remedial deh. 
Jika menurut garis patrilineal, aku termasuk suku Jawa. Bapak berasal dari Solo, keturunan ke-7 dari Sultan Mangkunagoro. Dari berkas-berkas yang ditinggalkan bapak, kutemukan dokumen Piagam Sentono yang menunjukkan hubungan kekerabatan bapak turun temurun dengan K.G.P.A.A. Mangkunagoro I. Keluarga besar dari bapak rata-rata bisa berbahasa Jawa, halus. Sedangkan aku? Jika ditanya dengan bahasa Jawa, jawaban default-ku adalah, "Hwaduh... mboten ngertos. Kulo ora iso boso Jowo." Pernah sih aku 'terjebak' bertanya kepada seorang teman kuliah yang berasal dari Solo. Kubilang, eyangku dari Solo juga sih. Lalu aku sok-sokan nanya, "Kalo kamu, Solone ngendhi?" Terus meluncurlah sederet kalimat dalam bahasa Jawa darinya, yang tak satu pun kupahami. Kuapok deh nanya orang pake bahasa Jawa. Hahaa... jadi kalau aku 'ngaku-ngaku' Orang Jawa, ya iyain sajalah ya, karena secara garis keturunan bapak, aku berdarah Jawa. Tapi kayak Jawa murtad rasanya kalau tak bisa Bahasa Jawa begini. :p 
Sebetulnya... dari ibu pun mestinya aku punya sedikit darah Jawa. Ibu berasal dari Tondano, tepatnya dari sebuah daerah yang disebut Kampung Jawa. Konon katanya, penduduk di sana adalah keturunan Kyai Madja dan pasukannya yang diasingkan oleh Belanda ke Sulawesi Utara. Kenalan serba sedikit yuk denganku, siapa tahu ternyata kita basudara.  Kita mulai dengan marga atau nama keluarga ya.
Marga ibuku, mengikut ayahnya adalah Masloman. marga bapak dari ibuku (yaitu kakekku) adalah Masloman, sedangkan marga ibu dari ibuku (yaitu nenekku) adalah Pulukadang.
Mengingat orang-orang di Kampung Jawa ini rata-rata terkait kekerabatan, sangat mudah bagi kami untuk mengenali kerabat sekampung. Marga atau kadang disebut Fam Pulukadang cukup dikenal, selain Kiay Modjo sebagai keturunan garis pertama dari Kiay Modjo. Ada pula Kiay Demak, Haji Ali, Kangiden, Lamani, dan sebagainya. Ternyata banyak juga nama-nama keturunan Kiay Modjo dan pengikutnya yang sekarang sudah banyak tersebar di seantero Indonesia. 

Nah... sebagai seorang yang lahir dari orang tua campuran Jawa-Tondano, aku merasa tak terkait dengan Jawa ataupun Tondano. Terus terang saja, aku lebih merasa sebagai orang Sunda dibandingkan Jawa. Ini karena sejak lahir aku sudah di Bandung, bersekolah di Bandung juga sejak TK sampai kuliah, Teman-teman mainku rata-rata orang kampung dan kami lebih aktif berkomunikasi dengan Bahasa Sunda, walaupun aku tetap kesulitan untuk berbicara Bahasa Sunda lemes/halus. 
Seumur hidupku, bisa dibilang begitu, aku tinggal di tanah Pasundan, menyerap budaya dan bahasanya, dan rasanya cinta banget dengan tanah dan air di kota Bandung ini. 
Jadi... bisakah kau katakan padaku, dari mana asalku sekiranya ada yang menanyakan itu padaku. Gampangnya sih... orang Indonesia sajalah. Setuju? Kupungkas ceritaku untuk disetorkan dalam Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog yang mengusung tema 'Daerah Asal'. Perlu 'bersemedi' sekian lama hingga akhirnya kutuntaskan juga tulisan bingung ini untuk menjawab tantangan Mamah Gajah Ngeblog bulan Juli.

Friday, June 16, 2023

Banjir Kenangan Tak Terlupakan

Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Juni ini bertema mengenai pengalaman masa kecil. Beuh... pikiran langsung flashback ke masa bertahun lalu, untuk kemudian memilih dan memilah kisah mana yang akan kuceritakan. Berikut ini salah dua di antara kenangan masa kecil yang enggan lepas dari ingatan.

Ketika kecil, aku tinggal di Dayeuhkolot. Familiar dengan nama itu? Ya... Dayeuhkolot kerap muncul di berita daerah maupun nasional sebagai area yang terdampak banjir  ketika musim hujan (dan banjir) tiba. Bittersweet memory kalau aku ingat masa itu. 

Di depan tembok sekolah masa kecilku.
Beberapa waktu lalu aku berkesempatan mengunjungi almamaterku, SDN Dayeuhkolot 7, yang terletak sekitar 100-200 meteran dari tepian Sungai Citarum. Berlokasi begitu dekat dengan salah satu sungai terbesar di Jabar ini tentu resiko kebanjiran mengintai di setiap waktu, terutama di musim hujan. Ketika hujan mengguyur Bandung dalam 2 atau 3 hari berturut-turut, tunggu saja... kami kemudian akan datang ke sekolah hanya untuk membaca pengumuman bahwa sekolah diliburkan karena banjir.  Biasanya aku dan teman-teman akan balik badan untuk pulang ke rumah masing-masing, berganti baju dengan baju lusuh, lalu kembali ke sekolah untuk bermain air. Kukucuprekan, istilahnya pada waktu itu.

Kami bermain air selama 1 hingga 2 jam  sesuka kami saja, toh biasanya orangtua kami tak ada di rumah karena pergi bekerja. Kami baru pulang ke rumah ketika lapar mulai melanda karena kelamaan bermain (atau berkubang?) dalam air yang sewarna bajigur. Tapi rasanya tentu saja tak ada bajigur-bajigurnya. Bagaimana aku bisa tahu? Ya, aku pernah merasakan sendiri ketika terpeleset dan bersalto 2 putaran di dalam air setinggi dada (di area yang landai sedikit lebih dekat ke tepi sungai). Dalam kepanikan nyaris tenggelam begitu, tak ayal air sungai terminum juga. Kupikir-pikir sekarang ini, jijik banget ya maenanku di masa itu, mengingat aliran Sungai Citarum yang berwarna coklat keruh itu tentulah membawa material lumpur dan... euwwhh... sudahlah, tak perlu dibayangkan lagi. ๐Ÿฅด๐Ÿ˜ต‍๐Ÿ’ซ

Bermain air begitu seringkali berlangsung beberapa hari. Dan setelah air surut, kami pun kembali ke sekolah untuk kerja bakti membersihkan kelas yang kotor berlumpur. Sebagai anak kecil, kami sih happy-happy aja, justru senang karena lepas dari kewajiban belajar di kelas. Sementara ketika aku dewasa dan menjalani profesi sebagai guru, rasanya libur sekolah 1-2 hari saja sudah cukup membuatku merasa kehilangan yang teramat sangat. Cemas mengingat target materi yang harus diajarkan. Akankah terkejar di sisa waktu semester berjalan? Dijejalkan atau justru dipangkas? Hahaa... Happy vs worry, what a bittersweet memory.

Flashback lebih jauh lagi yuk ke masa ketika aku bersekolah di TK. Ada pengalaman (tampak) lucu tapi bikin malu. Tapi biarlah kuceritakan padamu, karena toh saat itu aku masih lugu.

Tim tari Suwe Ora Jamu. Ki-ka: Panty, Yuli, Mbak Yayang, Nunung, Yani, aku.

Saat itu adalah hari perpisahan sekolah. Aku dan beberapa teman sudah berlatih untuk tampil menari di atas panggung. Aku ingat sekali, pagi itu aku diantar kakak sulungku, Mbak Yayu,  yang bersiap membantuku memakaikan kostum untuk tarian pertamaku, tari Suwe Ora Jamu, sesuai lagu yang mengiringi tarian itu. Dari 6 orang yang menari Suwe Ora Jamu, aku dan Nunung didapuk untuk membawakan dua tarian. Tarian kedua ini aku lupa judulnya, tapi kostumnya berupa baju senam hitam yang dilengkapi dengan kaos kaki kitam panjang (harusnya stocking kali ya) dengan rok berumbai dari kertas minyak, dan pelengkap mahkota bunga yang terbuat dari kertas krep juga kalung dan korsace. Untuk sesi ganti kostum yang rada ribet ini, aku ingat Mbak Yayu masih ada dan membantuku membuka lilitan selendang serta kain batik untuk kemudian menggantinya dengan kostum yang kusebut di atas tadi. 

Tari Hawai-kah ini?
Dengan kostum baju senam legendaris.
Rangkaian acara pun berlangsung satu demi satu. Ada teman lain yang bernyanyi, membaca sajak, atau unjuk kebolehan lainnya. Pengumuman-pengumuman pun disampaikan, termasuk pembagian hadiah. Aku juga dapat hadiah lah... standar saja, berupa buku tulis pada waktu itu. Kami naik ke atas meja panggung untuk menerima hadiah sementara aku masih memakai kostum tariku yang terakhir. 

Pendek kata, rangkaian kegiatan pun usai dan saatnya kami pulang ke rumah masing-masing. Kulihat berkeliling, tak kulihat sosok Mbak Yayu di mana pun. Tak pula ada orangtuaku karena keduanya bekerja. Tampaknya hari itu Mbak Yayu bersekolah siang dan dia pergi meminggalkanku di sekolah tanpa kabar apapun (ya mungkin karena aku sedang sibuk menari di panggung). Mbak Yayu kemudian pulang sambil membawa seluruh kelengkapan kostum tarian Suwe Ora Jamu. Intinya sih semua, tak bersisa. Tinggallah aku yang harus meninggalkan rok berjumbai dan mahkota bunga karena itu adalah properti sekolah. Kaos kaki hitam pun kutanggalkan karena tampaknya aku hanya dipinjami salah seorang teman. Ya, rasanya aku tak pernah punya kaos kaki hitam panjang. Aku tak ingat apakah Mbak Yayu meninggalkan alas kaki untukku atau juga dibawanya pulang. Yang jelas, yang kuingat dengan terang adalah aku pulang berjalan kaki ke rumah dengan mengenakan baju senam saja. Malunya luar biasa ketika siang hari itu aku memaksakan diri berjalan melewati barak tentara di kompleks Yon Zipur III alias barak tentara Kujang 330, melewati perumahan keluarga mereka yang sedang menjalani istirahat siang. Aku  sok cuek aja menebalkan muka dan telinga, mengabaikan segala komentar dan apapun kata atau tanya mereka. Perjalanan 500 meteran yang kutempuh dari sekolah ke rumah itu rasanya jadi perjalanan terlama. Lega rasanya bisa kembali ke rumah dan segera berganti baju dengan baju main yang normal, lalu kembali lagi ke komplek tentara di belakang rumah untuk manjat pohon kersen. Mudah-mudahan mereka nggak ingat mukaku, si anak yang barusan lewat pakai baju senam seksi tadi. Hihiii... ๐Ÿคญ๐Ÿซฃ

Monday, May 01, 2023

Gudeg Banda Kesukaan

Lebaran baru saja usai. Seperti tradisi di keluargaku, ketupat ketan selalu terhidang di meja makan. Lauknya saja yang selalu berganti setiap tahun. Tahun ini keponakan yang biasa berkunjung ke Bandung tak berkesempatan datang. Qadarullah, dia masih menjalani masa isoman (masih musim aja nih, si covid?). Padahal dia ini, yang bidang pekerjaannya di bidang boga, kan sebetulnya bisa dikaryakan untuk membantu masak-masak di rumah. Hahaa... Azas manfaat banget ya si tante.

Intinya sih... aku memang mencari partner masak dan ide untuk membuat lauk pendamping untuk ketupat ketan tahun ini. Berakhir dengan memasak gulai yang rasanya nggak ke sana nggak ke sini, yang akhirnya lebih banyak kumakan sendiri. Mau bagi-bagi tetangga kok ya nggak laku ya. Rata-rata mereka juga masak lebih 'grande' dibanding aku. 

Ketupat ketan #batch2 kubuat beberapa hari selepas Idul Fitri, untuk menghabiskan kulit ketupat dan beras ketan yang sudah kubeli. Aku memasak ketupat ketan setengah kiloan (untuk sekitar 6-7 buah ketupat berukuran sedang) yang bisa habis dalam beberapa hari. #Batch1 sudah habis dimakan bersama kakak-kakak. #Batch2 giliran kumakan sendiri karena kakak yang tinggal serumah denganku lebih suka nasi daripada ketupat ketan. Aku nggak ambil pusing lah. Yang pusing adalah aku, akan makan pakai apa lagi kali ini?

Foto diambil dari tokopedia 

Ada gudeg kalengan dalam beberapa varian yang kubeli tempo hari. Gudeg kaleng Bu Tjitro yang rasanya sudah kuakrabi sejak lama. Rasa dan aromanya cukup dekat dengan Gudeg Banda kesukaanku. Kali ini, aku coba varian rasa rendang. Biasanya rendang adalah lauk paling pas buat ketupat ketan karena rasanya yang cenderung pedas, bisa jadi penyeimbang gurihnya ketupat ketan. Tapi review jujurku untuk gudeg varian rendang ini, humm... kurang cocok ah. Rasa gudegnya jadi samar karena adanya rasa rendang yang jadinya juga nggak ke mana-mana. Mana nggak ada dagingnya pula. Jadi rendang apa ini teh...? Tapi sejujurnya, varian gudeg originalnya sih enak juga, jadi salah satu favoritku, pengobat kangen pada gudeg yang sedep. 

Gudeg Banda komplit-dari laman ig Gudeg Banda
Duh... jadi kangen banget nih sama Gudeg Banda kesukaan. Perkenalan pertamaku dengan Gudeg Banda adalah di jaman kuliah medio 90-an, ketika diajak teman akrabku membeli gudeg ini. Waktu itu lokasinya terletak di sebuah paviliun di Jalan Banda, di seberang Gedung Wahana Bakti Pos yang tentu saja juga berlokasi di Jalan Banda. Lapaknya masih berupa warung semi permanen dengan tenda di bagian depannya. Biasanya temanku membeli gudeg untuk dibawa pulang sebagai lauk makan nasi. Sesekali, aku dan dia makan juga sih di warung itu. Kunikmati sekali daging buah nangka muda yang lembut, dengan campuran kerecek yang tak kalah lembut, dengan pelengkap tahu, dan opor telur atau ayam, disiram kuah santan yang encer melembabkan nasi (fyi, aku suka yang becek-becek begini), ditambah dengan sambal yang pedasnya pas sesuai selera (nggak terlalu pedas) dan bebas biji cabai. Damai banget makan nasi dengan Gudeg Banda ini. Kunikmati sekali setiap suapannya hingga piring licin tandas.

Belakangan, semakin berkembang pesat warung Gudeg Banda ini, dia membuka gerai di food court Yogya Dept Store. Kalau berkesempatan berkunjung ke food court Riau Junction atau BIP, hampir bisa dipastikan aku akan memilih Gudeg Banda sebagai main course. Tak cukup puas dengan kelas food court, Gudeg Banda membuka restoran yang berlokasi di Jalan Lombok. (Pusing... pusing deh. Ini sebetulnya gudeg Yogya, yang mulai dengan gerobak dorong yang mangkal di Jalan Riau di tahun 1976, lanjut numpang berdagang di sebuah paviliun di Jalan Banda, tapi sekarang jadi resto permanen di Jalan Lombok di kota Bandung). Rasa gudeg ini masih otentik cenderung manis. Seleraku banget yang ngikutin lidah bapak yang keturunan Solo-Yogya. Sejauh ini, gudeg paling favorit itu ya Gudeg Banda ini. Ketika berkunjung ke Yogyakarta dan mencicip gudeg di sana, ah... aku masih terkenang-kenang Gudeg Banda. Gudeg paling juara. Saat ini, Gudeg Banda punya 3 lokasi permanen, yaitu di Jalan Lombok no 57, Jalan Taman Cibeunying Selatan No 33, dan Topaz Commercial No 28, Summarecon yang semuanya di Bandung. Tinggal pilihlah, mau makan di outlet mana. Tersedia juga kok di layanan pesan-antar makanan. 
3 lokasi Restoran Gudeg Banda
Sekiranya pembaca punya referensi gudeg juara lainnya, silakan menjejak komentar ya, siapa tahu aku bisa menjajal rasanya dan pasti... pasti akan membandingkan dengan Gudeg Banda sebagai benchmark. Aku berani ngadu jagoanku deh, yang kunobatkan sebagai makanan favorit walaupun jarang-jarang juga kunikmati (makanya akan sangat mengapresiasi ketika berkesempatan menikmatinya lagi, di mana pun tempatnya, apakah di outlet/restonya, di food court Yogya, atau sesekali memesan lewat layanan pesan-antar).
 
Tulisan tentang Gudeg Banda kesukaan ini kusetorkan untuk menjawab Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog yang digelar komunitas MGN setiap bulan yang bulan ini mengusung tema Makanan Favorit. Boleh bilang dong, apa makanan favorit kalian. Siapa tahu aku juga suka. Kasih tahu yaa...

Koleksi Memori