Setiap kali melintas di Jalan Ganesha, memoriku serasa ditarik kembali ke tahun 90-an ketika aku menjalani masa muda sebagai mahasiswa. Di persimpangan Ganesha-Ciung Wanara, 3 lokasi berdekatan membuat hatiku selalu tertaut kepadanya.
Jika menyusur Jalan Ganesha masuk dari Ir.H. Juanda, di sebelah kanan adalah kampus kebanggaan, ITB dengan area FSRD yang nampak di seberang lapangan Aula Timur. Tepat di pertigaan itu terdapat Masjid Salman yang menjadi tempatku berlabuh hampir di setiap shalatku. Sementara belok kiri ke arah Ciung Wanara, berdiri sebuah bangunan lain yang menjadi tempat tinggalku selama beberapa waktu: Asrama Putri ITB. Saat ini dia sudah berubah fungsi, bukan lagi Asrama Puteri, tapi memori tentang tempat ini akan selalu terpateri di hati.
Kampus Ganesha
Kampus ini sempat hanya menjadi mimpi buatku, yang lulusan sebuah sekolah negeri di pinggiran kota. Aku yang hanya belajar biasa, tidak pula punya prestasi gemilang, mana mungkin bisa tembus program studi reguler di kampus bergengsi itu. Bermodal nekat juga, kuberanikan diri menjajaki kemungkinan masuk melalui jalur ujian khusus untuk menjadi mahasiswa seni rupa. Bahkan ketika tes gambar pun aku tidak cukup percaya diri. Aku sudah sampai di tahap pasrah dan siap menerima kenyataan gagal. Tapi rencana Allah memang tak bisa diduga.
Aku lolos menjadi salah satu mahasiswa jurusan desain bersama sekitar seratusan teman lain. Menjalani masa perkuliahan yang sama sekali berbeda dengan masa sekolah di SD, SMP, dan SMA, membuatku menjalani sebuah perjuangan yang berbeda. Masa-masa kuliah dengan praktik gambar bentuk, gambar teknik, nirmana 2d dan 3d, lalu dilanjut dengan kuliah studio di tahun-tahun berikutnya yang nyaris seharian kujalani di kampus, membuatku kewalahan. Aku yang nggak pinter-pinter amat menggambar dibuat terkejut dan terkagum dengan skill teman-teman seangkatan. Perbedaan level terlihat nyata di studio. Sudah, aku mengaku kalah saja. Hancur-hancuran nilaiku di setiap semester. Nilaiku tertolong oleh mata kuliah umum. Lumayanlah akhirnya aku lulus dengan IPK 2 koma alhamdulillah. Nggak nasakom banget lah...
Di kampus itu, aku belajar untuk jadi diriku sendiri, sedikit berbeda dari mahasiswa seni rupa pada umumnya. Mungkin aku tidak sekreatif teman yang lain, tidak 'segila' mahasiswa Seni Rupa pada umumnya, tapi berbeda dan jadi 'biasa' di tengah orang-orang yang 'tak biasa' itu juga suatu keistimewaan, kurasa. :D Dan puncaknya terjadi di saat wisuda.
![]() |
| Berpose sejenak di seberang gerbang utama |
Aku yang sudah berhijab (saat itu, tahun 90-an), agak langka yaa mahasiswa Seni Rupa yang pakai kerudung syari. Aku bergamis batik di bawah toga biru dengan kelepak beludru hitam kebanggaan kampusku. Adik tingkat yang jadi panitia wisuda bolak-balik di depanku, berencana membagikan stiker bintang lambang jurusan kami untuk para wisudawan. Aku dilewat begitu saja, bahkan dilirik pun tidak. Sampai akhirnya aku mencolek salah satu di antaranya untuk minta stiker bintang untukku. Eh... dia gelagapan lalu menjawab, "Eeeu... ini untuk lulusan Seni Rupa, Mbak," Lha iya, aku juga lulusan Seni Rupa. Kau pikir aku lulusan Farmasi, apa? :p
Masjid Salman
Sejak SMA, aku sudah cukup akrab dengan masjid kampusnya ITB ini. Aku ikut mentoring setiap minggu pagi di area Taman Ganesha. Mengaji dan mengkaji materi keIslaman bersama kakak-kakak mentor yang kukagumi wawasan keilmuannya. Cara mereka menyampaikan materi dan membimbing diskusi pun terasa nyaman dan mudah diterima oleh kami, anak-anak SMA pada masa itu. Selain mentoring, aku pun sempat bergabung dengan majalah internal Salman: Yang Muda, dan mencoba memahami seluk-beluk penerbitan majalah, sedikit-sedikit. Selain itu, aku pun sempat mengikuti acara kajian keIslaman intensif dengan pengisi materi yang mumpuni, sekelas Pak Bukhori Nasution hingga Bang Imad yang terkenal sebagai aktivis Islam.
Di akhir kelas 3 SMA, aku pun bergabung ikut belajar di bimbel Karisma (Keluarga Remaja Islam Salman). Belajar dalam kelompok-kelompok cenderung kecil dari berbagai SMA di Bandung, kami dipandu oelh seorang 'wali kelas' yang dibantu oleh pengajar lain sesuai kapasitas dan keahlian masing-masing. Rata-rata mereka adalah mahasiswa yang berasal dari beragam kampus di Bandung. Kang Hikmat yang saat itu menjadi wali kelas kami sangat piawai menjelaskan fenomena kimia dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami juga membumi dan aplikatif. Ada Kang Handy yang begitu sabar menjelaskan beragam konsep fisika yang seringkali sulit kupahami. Ada pula akang dan teteh lain yang tak kalah kharismatiknya. Ada Kang Abbas, Teh Oche, hingga Bang R yang tak mau dipanggil 'akang' karena dia bukan orang Sunda. Begitu katanya.
![]() |
| Sepenggal kenangan di depan Masjid Salman |
Masjid Salman begitu berkesan beserta segala paket kegiatannya yang mengikat hati-hati kami secara lembut. Satu yang tak terlupakan adalah penutupan sesi belajar di bimbel Karisma. Dua malam sebelum ujian masuk perguruan tinggi, kami berkumpul di Masjid Salman untuk shalat tahajjud dan doa bersama. Di jaman itu, tahun 90-an, sesi seperti itu adalah kegiatan yang melawan mainstream. Namun justru kegiatan itulah yang membekas kuat di hati kami, bahwa sekuat apapun usaha kami, kuasa Allah tetap di atas segalanya. Usaha kami sudah pol-polan, maka berikutnya tinggal memasrahkan sisanya ke 'tangan Allah'.
Asrama Putri
Berlokasi di Jalan Gelap Nyawang no. 2, aku tinggal di sana di rentang waktu '93-an hingga lulus di April '96. Masuk bersamaan, aku bersama 5 teman lain menjalani masa capeng (calon penghuni) selama setahun. Berbagai tugas harian kami bagi dan jalani hingga saatnya spring cleaning di akhir masa capeng yang dilanjut dengan sidang untuk menentukan apakah kami lulus sebagai penghuni atau ada pertimbangan lain yang membuat masa capeng kami diperpanjang atau malah batal dan gagal. Tugas-tugas harian yang dibebankan kepada kami sebagai capeng sebetulnya ringan saja, sebagaimana tugas harian (chores) yang biasa kami lakukan di rumah. Tugas-tugas ini mencakup membuka dan menutup gorden ruang-ruang umum, membuka dan mengunci ruang tamu termasuk 'mengusir' tamu yang berpotensi melanggar jam berkunjung, menyiapkan paket kopi-gula-susu untuk mamang yang jaga malam, dan beberapa tugas lainnya. Tidak sulit, tapi dari situ kami belajar untuk disiplin, bertanggung jawab dan membangun empati sesama penghuni.
![]() |
| Gedung Aspuri yang sudah berganti fungsi. |
Selepas masa capeng pun Asrama menjadi tempat yang nyaman untuk tinggal. Bukan hanya karena lokasinya yang strategis karena sangat dekat dengan area kampus, tapi juga jadi tempat untuk membangun kedewasaan dan kemampuan berorganisasi. Berbagai event pun sempat kami gelar layaknya event organizer, mulai dari pekan olahraga antar asrama, berbagai seminar dan pelatihan, acara reuni dan temu alumni, hingga acara besar berskala nasional yang melibatkan Rudy Choirudin yang merupakan juru masak paling kondang pada masanya. Event yang kami beri nama 'Cinta Boga Nusantara' itu sukses besar, membuat kami bangga dan merasa berguna saat terlibat di dalamnya.
Tiga tempat itu, membentukku menjadi aku yang sekarang ini.
- Aku masih merasa inferior dan minderan kalau berkaitan dengan masalah gambar menggambar, walaupun tetap suka berkreasi dan berkarya yang terkait kesenirupaan. Sedikit-banyaknya, itu adalah peran kampus seni rupa.
- Aku masih merasa sedikit religius. Nilai-nilai yang kudapat di lingkungan Masjid Salman menahanku untuk tidak keluar jalur. Mungkin aku juga tidak religius religius amat, tapi minimal nggak begajulan lah ya.
- Aku masih merasa mudah untuk bersimpati dan berusaha menyatu di komunitas, berusaha untuk tidak terlalu berbeda dan mendukung aktivitas bersama. Lingkungan Asrama Putri membentukku seperti ini.
Aku bersyukur pernah menjadi bagian dari itu semua.


























