Showing posts with label Idul Fitri. Show all posts
Showing posts with label Idul Fitri. Show all posts

Thursday, July 31, 2014

Ketupat Ketan Kami

Tradisi di keluarga kami, hidangan utama di hari lebaran adalah ketupat ketan. Apapun lauk pendampingnya, pasti enak ketika disantap bersama ketupat ketan bersantan yang gurih. Rendang tentu jadi langganan. Sambal goreng hati itu pun tak kalah sedap. Lidah panggang, pernah juga jadi teman si ketan. Semua ennak! Alhamdulillah. 
Selama bertahun-tahun, ketika ibu masih ada, cara memasak ketupat ketan ini hanya mengalami sedikit perubahan. Sempat aku alami, menemani ibu mengaduk-aduk ketupat di dalam rebusan santan dalam wajan besar nyaris semalaman, menjaga agar santannya tak sampai pecah. Belakangan ini, adanya pressure cooker sangat memudahkan urusan masak-memasak ini. Cukup masukkan ketupat ke dalam pressure cooker, dengan santan encer yang merendam keseluruhan ketupat. Beri sedikit garam, lalu kencangkan tutup pressure cooker. Biarkan sampai peluitnya berdesis, lalu kecilkan api. Biarkan selama kurang-lebih 30 menit, dan ketupat ketan pun siap dihidangkan. Eittss, tunggu dulu 10-15 menit sebelum membuka tutupnya.
Setelah ibu meninggal, kakak sulung mengambil alih tugas memasak ketupat ketan ini. Ketupat ketan selalu hadir di meja makan dalam hidangan hari raya. Tak pernah absen. Tahun ini, kakak sulungku berinisiatif untuk sedikit mengubah tampilan ketupat ketan putih yang biasa menjadi ketupat ketan hitam. Hmm... bolehlah dicoba. 
Cara memasaknya masih sama, tapi tampilannya tentu berbeda. Rasa? Hampir sama. Mungkin cuma masalah lidah kami yang merasa ada yang berbeda. Padahal sih mungkin sama saja, hanya karena belum terbiasa melihat tampilannya. Tapi cantik juga kan...? Uhm, tentu saja kami makannya nggak pakai bunga :p

Wednesday, August 31, 2011

Idul Fitri Tahun Ini

Berkumpul dengan ketiga kakak dan lima keponakan. Ramadhan tahun ini tetap berkesan. Diwarnai dengan insiden 1 Syawal yang berlainan tanggal masehi, kita tergagap-gagap di pagi fitri. Tapi lumayan, jadi ada bahan tulisan buat diposting di kompasiana (lagi keranjingan nulis di sana ;))
Teh Trini datang jelang siang. Ngobrol sebentaran, foto-foto, lalu pergi lagi. Dan inilah foto memori moment idul fitri tahun ini. Idul fitri kedua setelah ibu tiada. Beda, pastinya...
ki-ka (depan): Panji, tante Dee, bude, bunda Trini, adik Rizki, mbak Layla, kakak Tasya. Belakang: tante Rani, Adam,  dan ayah Lulu sebagai fotografer.

Saturday, September 11, 2010

Idul Fitri Kali Ini...

Pertama kalinya kami jalani tanpa ibu. Berbeda, tentunya, tapi tak boleh berlama-lama terlena dan malah tak berbuat apa-apa. Tetap mensyukuri kebersamaan bersama keluarga. Tiga kakak dan dua keponakan menginap di rumah dan menyiapkan banyak hal bersama-sama. Kami bahkan memasak ketupat ketan, sama seperti yang biasa ibu buat setiap tahun di hari lebaran. Rasanya? Sama saja, serasa ibu masih ada... :)
Silaturahmi dengan kerabat, tetap kami lakukan. Adik-adik ibu kami telefon satu-persatu. Kakak tertua yang kuminta untuk mewakili kami berbicara. Kami cukup titip-titip salam ;) Walau tak dapat bertemu muka, biarlah suara jadi penyambung sua.
Taqabbalallaahu minna wa minkum
Shiyamana wa shiyamakum
Selamat Idul Fitri 1431 Hijriah
Mohon maaf lahir dan batin

Tuesday, September 29, 2009

Silaturahmi Tahunan

Beberapa tahun belakangan ini, masa-masa pasca-lebaran kami manfaatkan untuk bersilaturahmi. Kami sempatkan untuk berkunjung ke rumah Pak Rombang, mantan atasan kami. Beliau adalah mantan kepala sekolah di tempat aku mengajar dulu. Hal ini rutin kami lakukan setiap tahun. Tahun ini, pak Rombang juga bersiap-siap untuk ‘invasi’ kami ke kediaman beliau… Biarpun sudah berkali-kali berkunjung ke sana, sendiri ataupun bersama-sama, aku masih juga sering nyasar di kompleks besar itu. Tidak mudah memang menemukan jalan Pluto yang terletak di pelosok kompleks Margahayu Raya yang luas. Tahun ini, Alhamdulillah nggak nyasar lagi. Dua tahun lalu, kami saling mengajak teman, dengan pesan berantai, sms-an. Yuk, kita bersilaturahmi ke rumah pak Rombang. Tahun sebelumnya kami perempuan saja yang ke sana. Jadi nggak enak hati kan, sama istrinya. Biarpun mereka berdua sudah cukup sepuh, tapi tetep aja nggak enak hati ketika yang datang kok gadis-gadis semua. Haha…! Tahun berikutnya kami mengajak beberapa orang bapak rekan kerja kami untuk ikut berkunjung. Untungnya mereka setuju. Diaturlah waktu pertemuan yang tepat untuk itu. Bada dzuhur, sesudah makan siang, supaya nggak usah ngerepotin tuan rumah dengan acara menjamu kita-kita (huhuy… ke-GR-an amat ya? ;)) Di hari yang sudah disepakati, kami datang satu persatu ke kediaman beliau. Tidak berapa lama kemudian, kami sudah terlibat perbincangan seru. Segala macam topik bisa jadi bahan perbincangan. Mulai dari urusan birokrasi sekolah yang masih juga njelimet hingga urusan nyari sekolah lagi (Nerusin sekolah, maksudnya…). Mulai dari teman-teman yang masih aktif mengajar hingga yang sudah resign. Mulai dari urusan anak, keluarga, hingga perjuangan mencari pasangan hidup. Hah… susah ya kalau udah ngomongin yang satu ini. Soalnya, salah satu ‘korbannya’ adalah aku Sampailah saat adzan asar. Bapak-bapak pergi shalat ke masjid dekat rumah pak Rombang, sementara ibu-ibu numpang shalat di rumah. Yang nggak shalat, menemani ibu Rombang sambil bincang-bincang lebih jauh. Sepulangnya bapak-bapak dari masjid, perbincangan berlanjut lagi. Tentang masa kini dan masa lalu, tentang kenangan dan harapan, wah… pokoknya perbincangan nggak habis-habis deh. Sulit untuk menyudahi. Ketika kita sudah menggiring pembicaraan ke arah penutup untuk segera pamit, eh… addaaa aja yang nyambung lagi, bikin cerita jadi panjang lagi. Tak terasa, waktu maghrib pun tiba. Beneran deh, saatnya pamitan. Yak ampuuun, masih ada juga yang manjang-manjangin cerita. Niat mau pulang masih belum juga terlaksana. Sampai akhirnya.. pett!!! Mati lampu. Gelaplah sekitar. Ibu Rombang sibuk mencari lilin ke dalam, gelap-gelapan, sementara pak Rombang masih menemani kami di ruang tamu. Salah seorang kawan menyalakan lampu di ponselnya, dan masih juga melanjutkan berbincang. Nggak enak hati juga kita. Maksudnya, masa sih ketika suasana terang-riang kita ngobrol dan berbincang, tapi ketika lampu mati lantas kita pergi begitu saja. Rasanya kok ya kurang sopan gitu ya. Tapi memang harus pulang nih. Akhirnya ketika ibu Rombang sudah datang membawa lilin menyala, kita sepakat untuk pamitan pulang. Lagi, yang bapak-bapak pergi ke masjid untuk shalat di sana, sementara kami yang ibu-ibu shalat maghrib di Carrefour Kircon, nggak jauh dari rumah pak Rombang. Sekalian makan malam dan belanja. Mumpung deket… ;). Padahal sih memang dasarnya ibu-ibu, sukanya belanja melulu :p Jadi, kejadian tahun itu merupakan reuni sekaligus silaturahmi yang nyaris nggak berhenti-berhenti, diakhiri acara makan dan ketawa-ketiwi. Capek deh pipi. Tahun ini, kami berkunjung lagi. Dan masih juga… perbincangan nggak berhenti-berhenti. Kami sudah pamitan pun, pak Rombang masih juga ngajakin bincang-bincang di teras rumahnya (abis berfoto-foto tuh..) Jam setengah dua-an, akhirnya aku dan Intan baru berhasil meloloskan diri. Hihi… Bukannya nggak kangen, pak, tapi masih ada tujuan lain yang berencana kami datangi. Silaturahmi juga. Mumpung masih liburan nih. Kalau sudah masuk sekolah lagi, kan nggak bisa ke mana-mana selain ke kelas dan ketemu murid-murid.
Minal aidin wa faizin. Maaf lahir batin ya atas semua salah dan khilaf.

Saturday, September 26, 2009

Wisata Puntang

Hari pertama Idul fitri. Ritual tahunan, nyaris tak ada bedanya, kecuali dengan kedatangan sepupuku dari Jakarta yang tidak biasa. Kunjungan yang menghadirkan tanda tanya besar karena kali ini tanpa disertai keluarganya.
Hari kedua Idul fitri. Sementara anak-anak (baca: ponakan-ponakanku) ‘diungsikan’ ke rumah kakak, kami empat orang dewasa di rumah memanfaatkan ketiadaan mereka dengan beres-beres pasca-lebaran. Nyuci piring dan peralatan masak, nyuci baju, beres-beres rumah. Segar semua deh.
Hari ketiga Idul fitri, Selasa, 22 September 2009, rencana jalan-jalan keluarga telah disusun. Target: Area wisata Gunung Puntang, Banjaran. Catatan: lokasi ini sering jadi sasaran penggemblengan kami ketika masih jadi pramuka jaman SMP dan SMA. Aku dan kakak-kakak ipar sih serasa nostalgia aja ;)
Sekitar jam 9, kami bertolak. Konvoi 4 mobil, siap menuju kawasan Puntang. Aku menumpang mobil kakakku, sedan Honda City, bersama ibu dan satu kakak lainnya. Mobil kakak yang lain (Toyota Avanza) dikemudikan oleh kakak ipar, membawa istri, ketiga anaknya, dan 4 keponakan. Fully-loaded. Yang berikutnya, Suzuki Karimun hitam, dibawa oleh kakak ipar kakakku, sekeluarga, 4 orang, plus segala persediaan pangan ;) Yang terakhir, Mitsubishi carry merah yang relatif kosong, hanya diisi oleh suami-istri adik ipar kakakku. Dua anak mereka kan sudah menumpang di mobil kakakku. Cari serunya tuh.
Perjalanan tidak jauh. Tidak sampai satu jam, kami sudah sampai di lokasi. Jalan menanjak dan berkelok-kelok, membawa kami ke kaki gunung Puntang yang permai (halah...) Area Puntang masih relatif sepi di pagi Selasa itu. Kami menemukan sebuah lokasi landai beratap yang kami gunakan sebagai “base camp”. A Iwan alias papah akan menjaga base camp, sementara kami berjalan sedikit mendaki, ke area yang kami ingini. Mau ke mana...? Curug? Lapangan tenis masa silam (dibangun di jaman Belanda tuh...)? Kolam cinta (karena bentuk kolamnya menyerupai bentuk hati, walaupun kolam itu sudah tak berair dan tak digunakan lagi)? Kami pun mendaki hingga lokasi kolam cinta. Ibuku yang sudah nenek-nenek maupun keponakan kecilku yang belum lagi genap 3 tahun, masih bisa mendaki dan berjalan sendiri.
Berfoto-fotolah kami di sana. Melanjutkan perjalanan, ibu dan beberapa orang kakakku kembali ke base camp, sementara aku dan beberapa orang lainnya, plus seluruh keponakan berjalan lagi menyusuri jalan setapak untuk menemukan tepi sungai. Sungai kecil yang berair sangat jernih itu sangat mengundang keinginan untuk menceburkan diri ke dalamnya. Walaupun airnya dingin sekali, tapi keponakanku tak ragu untuk bermain-main di antara bebatuan besar itu. Pengalaman baru untuk mereka. Keponakan kecilku pun ikut berkecipak di air tenang. Setelah semua bajunya ditanggalkan (oleh sang ayah), dia dibiarkan untuk berjalan-jalan dan menjelajah sebagian kecil wilayah sungai itu, sementara kakak-kakak sepupunya asyik dan seru bermain air dengan segala gaya ;)
Dinginnya air membuat keponakan kecilku memuaskan diri dengan berjalan di air dangkal di antara bebatuan. Cipratan air dari aktivitas heboh kakak-kakaknya sempat membuatnya kesal. Tapi rupanya lama kelamaan dia tertarik juga untuk menjajal aliran sungai itu. Dia mulai dengan berjongkok di air dangkal. Pinggangnya ke bawah sudah basah, dan dia menyenangi arus kecil air sungai melintas di sekitarnya. Sementara itu kakak-kakaknya menemukan lokasi serupa kolam kecil dengan arus berbuih yang menyerupai kolam jacuzzi air dingin. Seru sekali mereka bertiga, para perjaka muda itu, bermain di dalamnya.
Sebelum tengah hari, kami berkemas dan kembali ke basecamp. Di perjalanan, si adik berucap, “Adik lapar...” Ha!!! Nggak biasanya dia begitu. Biasanya kalau jam makannya tiba, dia harus dibujuk atau dikejar-kejar dulu untuk makan, dan sekarang dia bilang lapar? Pasti efek dari kedinginan tuh. Kakak perempuannya juga kedinginan sampai ke tulang. Jelas aja, bajunya basah semua. Untunglah kita tidak begitu jauh dari base camp. Sesampainya di sana, segera saja mulut-mulut kecil itu lahap menyambut makanan yang disuapkan ke depan mereka. Lapar berat tuh, judulnya ;)
Selesai makan, ponakan-ponakanku ingin main air lagi. Maka turunlah mereka ke cabang sungai yang terletak agak di bawah base camp yang kita tempati. Main air lagi, tapi tak seseru sesi sebelumnya. Berfoto-ria, nggak lupa dong, tapi tidak dengan kameraku. Low batt se-low-low-nya membuat kameraku tak berguna di sesi siang itu. Tapi pengalaman bahagia di hari lebaran itu toh sudah terekam dan tersimpan di memory card dalam kameraku, siap untuk di-upload ke album foto facebook-ku. Wisata Puntang, judulnya.
Segera setelah kupasang dan kuberi komentar pendek-pendek di setiap fotonya, komentar dari teman-teman spontan berdatangan, menyatakan kekaguman. Sungai jernih yang alami, lengkap dengan batu-batu besar begitu, di mana lagi bisa ditemui? Setelah jenuh dengan suasana kota dengan hutan beton, hutan pinus tentu akan jadi penyejuk mata. Pemandangan sungai kotor penuh sampah yang melintas di tengah kota sebagai ‘santapan’ sehari-hari, tentu akan menyenangkan bila bisa menghapusnya sejenak dari pelupuk mata, digantikan dengan pemandangan alam segar tepi sungai yang masih alami. Siapa yang tidak tertarik, coba...? Ayo deh, siapa mau ikut wisata Puntang, aku mau deh jadi guide-nya ;)

Sunday, September 20, 2009

Tradisi (Jelek) Lebaran

Alhamdulillah, sampai juga kita di bulan Syawal. Sedih juga ketika Ramadhan meninggalkan kita. Bulan mulia itu telah berlalu. Semoga Allah masih memberi umur agar kita bisa bertemu lagi dengan Ramadhan di tahun depan, untuk melakukan amalan terbaik, yang lebih baik dari tahun ini. Amiin.
Setiap tahun, selalu ada yang pantas kita cermati dari pelaksanaan Ramadhan dan Lebaran di negara kita tercinta, Indonesia ini (biarpun Agustus sudah lewat, aku tetap cinta Indonesia lho…) Kadang malu juga sih, soalnya sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia (ya iyalah, luas negaranya juga lumayan gitu lho, bukan lu manyun :p), ternyata kualitas umatnya rata-rata masih memble. Kuantitas boleh diadu, tapi kualitas belum bisa dijagokan. Sungguh seperti ucapan nabi bertahun silam, “Suatu saat umat muslim akan berjumlah besar, namun hanya seperti buih di lautan.” Nggak punya kekuatan. Mungkin karena masih ada hal-hal kecil yang kita permasalahkan, bukannya mengurusi hal besar dan bermanfaat. Beberapa contoh kecil di sini, coba ingat-ingat… adakah di sekitar kita, atau malah kita sendiri pelakunya? Hmm…
Lebaran Tidak Bersamaan
Tahun ini, persoalan Lebaran yang tidak bersamaan, muncul lagi. Sempat muncul kebingungan sih di masyarakat, Idul Fitri tuh kapan ya…? 20 atau 21 September? Yang jelas mah tanggal 1 Syawal deh. Ketika berbagai ormas besar hingga MUI sudah sepakat dengan tanggal penetapan 20 September sebagai 1 Syawal, eh… masih ada saja kelompok-kelompok kecil di beberapa tempat di Indonesia yang “mencuri start” dengan berlebaran lebih dulu. Hayoo… puasanya 28 hari ya…?
Main Petasan di Malam Takbiran
Ini lagi yang bikin sebel en mangkel. Di sekitar rumah nih, pada malam takbiran, beberapa pemuda tanggung main petasan malam-malam. Nggak tanggung-tanggung, petasannya meledak dengan kekuatan besar. Suaranya fantastis. Ini sih sudah nggak bisa ditolerir lagi. lha wong malam takbiran gitu lho. Orang lain sibuk takbiran di masjid atau malah kirab keliling kampung, ini malah main petasan di sekitar perumahan. Berisik, tahu?!? Belum lagi perbincangan di antara mereka yang ramai dengan bahasa dan kata-kata kasar. Gemas aku jadinya. Kuteriaki dari jendela kamarku, “Hey, takbiran sana, jangan main petasan aja. Ngganggu!” Salah satu dari mereka sempat berseru, “Allaahu akbar Allaahu akbar. Laa ilaaha ilallaahuwallaahu akbar…” sambil berlalu.
Mereka sempat pergi beberapa saat. Eh eh eh… jam 10-11-an mereka (atau rombongan yang lain lagi kali ya) datang lagi, main petasan lagi. Kuteriaki lagi, “Hey, sayang-sayang uangnya tuh. Daripada beli petasan dan ngganggu orang, mendingan sumbangin buat korban gempa, sana!” Sekitar 10 km dari kediaman kita, di Banjaran dan Pangalengan, banyak saudara-saudara kita yang jadi korban gempa pertengahan Ramadhan tempo hari. Betul kan, daripada buang uang dan jadi dosa, mendingan sumbangin dan jadi pahala.
Membiarkan Koran Berantakan/Berserakan
Satu lagi nih. Yang ini terjadi di hari Idul Fitri. Khutbah Idul fitri tak sepenuhnya disimak oleh jamaah, padahal khatibnya mirip-mirip ustadz Yusuf mansyur lho (sedikiit… banyak enggaknya. Haha…) Sebelum sang khatib sempurna menutup khutbahnya dengan doa, sudah banyak jamaah yang berdiri dan membubarkan diri. Nggak sopan banget ya. Lebih nggak sopan lagi, ketika banyak di antara mereka yang membiarkan koran alas shalat mereka berserakan di lapangan. Boro-boro dibawa pulang lagi. Dibereskan saja enggak. Mentalitas macam apa tuh? Seorang anak kecil bertanya pada ibunya, “Korannya nggak dibawa, mah?” Sang ibu menjawab santai, “Biarin aja.” Tak puas dengan jawaban ibunya, si anak bertanya lagi, “Kenapa dibiarin?” Ibunya agak bingung sih, tapi dia jawab lagi, “Iya… nanti biar diambil orang… buat disumbangin…” Eh… sembarangan aja nih si ibu. Disumbangin ke mana koran robek-robek begitu? Asbun aja... Sedangkan beberapa hadits mengabarkan bahwa Islam itu indah.
Allah itu indah, dan Dia mencintai keindahan.
Kebersihan sebagian dari iman.

Kesimpulannya, yang nggak bersih tentu kualitas keimanannya patut dipertanyakan. Jadi, kalau umat Islam jorok begini, sudah berimankah kita? Jadi pertanyaan besar ya…?

Anggrek untuk Lebaran

Rabu lalu, 16 September 2009, hari terakhirku ke sekolah. Dapat jadwal piket ceritanya... Membenahi beberapa file sebelum liburan, bikin anggaran kegiatan untuk kuartal berikutnya, tapi belum bikin persiapan mengajar. Itu sih nanti aja ah. Hehe...
Bincang-bincang dengan ibu kepsek, kukomentari satu pot anggrek baru di meja kerjanya. Bunga-bunga cantik keluarga anggrek bulan hybrid dalam nuansa ungu yang siap bermekaran. Kuingatkan untuk merawatnya semasa liburan, jangan sampai kering ketika saatnya kembali beraktivitas di sekolah. Tahu-tahu, beliau menitipkan bunga itu padaku. Beliau tahu bahwa ibuku bertangan dingin dalam merawat bunga-buangaan, termasuk anggrek yang jadi salah satu favoritnya (favoritku juga...)
Kaget dong... semudah itukah keputusan untuk menitipkan bunga anggrek cantik itu di rumah ibuku? Tapi aku tidak melewatkan kesempatan ini. Kesempatan baik tak datang sering-sering, harus cepat disambar sebelum kesempatan itu keburu melayang ;) Kuperhatikan, tanaman bunga ini masih dalam kondisi yang prima. Daunnya segar mengkilap, sementara kuntum bunganya banyak, siap mekar satu demi satu di hari-hari mendatang. Untuk Idul Fitri, titipan anggrek dari ibu kepsek ini akan tampak manis sekali di ruang tamu ibuku ;)
Satu lagi anggrek cantik dari taman bunga ibuku, masih tergantung di atas kolam. Dua untai bunga anggrek kecoklatan yang cantik, sementara ini biarlah jadi pemanis taman bunga belakang. Untaian yang satu sudah mekar duluan, dan satu persatu kelopak bunga mungil itu mulai layu dan berguguran. Sementara untaian yang baru sudah bermekaran sempurna, bersanding dengan 'kakaknya', membuatnya jadi sebuah paduan yang indah. Sungguh. Memperindah hari fitri di Syawal ini.

Friday, September 18, 2009

Selamat Idul Fitri

Di penghujung Ramadhan... kusadari betapa masih banyak amalan yang belum dijalani dengan sempurna, walaupun kusadari betul, bahwa sempurna itu hanya milik-Nya saja.
Sambut Syawal yang menjanjikan fitri... merenung kupertanyakan kelayakan diri untuk meraih fitrah diri, rasanya masih jauh panggang dari api.
Mohon maafkan lahir dan batin, atas semua salah dan khilaf. Semoga Allah SWT menerima amal ibadah shaum kita, dan mempertemukan kita kembali dengan Ramadhan tahun depan, untuk melakukan yang terbaik dalam upaya meraih ridho-Nya. Amiin.
Taqabalallaahuminna wa minkum, taqabbal yaa Kariim.

Wednesday, September 16, 2009

Suatu Momen Fitri, Sebuah Memori

Idul fitri sudah dekat. Teringat lagi momen idul fitri di penghujung November 2003, ketika aku melewatkan salah satu Idul fitri paling berkesan di negeri seberang, Jepang.
Jadi satu pengalaman mengharukan ketika aku berkesempatan untuk mengikuti shalat Ied di kedutaan besar Indonesia. Di malam takbiran, aku numpang menginap di asrama seorang kawan. Kurang syahdu rasanya tanpa adanya gema takbir sepanjang malam. Paginya, setelah berjuang di kepadatan lalu lintas Tokyo, disambung dengan jalan kaki yang cukup melelahkan (apalagi karena dilakukan dengan bergegas), sampailah aku dan beberapa kawan di halaman Balai Indonesia. Pagi itu gerimis, tapi tentu saja ‘the show must go on’ alias shalat Ied harus tetap dilangsungkan. Aku sebetulnya sudah ketinggalan shalat, tapi … masa mesti masbuk sih? Tapi ternyata ada shalat Ied gelombang kedua, dan bahkan ketiga!
Seusai shalat, aku berbaur dengan jamaah lain di dalam gedung untuk menikmati sajian makanan khas Indonesia ataupun sekedar kue-kue camilan sambil berbincang-bincang dengan kawan sesama muslim lain, yang notabene baru kutemui pada saat itu. Tapi kami betul-betul serasa saudara. Tidak pernah kenal sebelumnya, tapi saling menyapa ramah. Kalau saja muslim di Indonesia bisa juga seperti ini ya? Indahnya…
Aku ketemu dengan Daichi dan kedua orangtuanya. Daichi ini pernah jadi muridku di kelas satu ketika aku mengajar di sekolah terdahulu. Nggak lama, hanya beberapa bulan, sebelum aku harus berangkat ke Jepang. Tahun berikutnya, giliran dia dan keluarganya yang kembali ke Jepang. Ibunya adalah warga negara Jepang. Saat itu, bicara dengan Daichi sudah harus pakai bahasa Jepang. Dia mulai lupa bahasa Indonesia. 私も日本語もうだんだん忘れちゃうんだ...。Sayang... Nggak lama berbincang dengan mereka, aku pulang ke Gunma, tempat tinggalku selama di Jepang.
Siang itu aku langsung pulang ke Maebashi dengan kereta api. Di stasiun, hilir-mudik wajah-wajah melayu, sedangkan kereta pun nyaris penuh dengan orang Indonesia. Kalau kita memejamkan mata, serasa mudik deh, karena rata-rata mereka berbicara dengan bahasa daerah masing-masing. Lucu juga. Ada Padang, Medan, Sunda, Jawa, hm... apa lagi ya? Pokoknya terasa kental-lah nuansa Indonesia-nya. Sepanjang memejamkan mata, serasa ada di Indonesia. Tapi... aku kangen untuk kembali ke sana.

Tuesday, September 30, 2008

Selamat Idul Fitri

Assalaamu'alaikum wr.wb.
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1429 H.
Semoga keberkahan Allah SWT terlimpahkan kepada kita semua.
Syawal, bulan baru, semoga jadi awal yang baru pula bagi kita untuk menapaki hari-hari selanjutnya dengan semangat baru. Melupakan kesalahan dan memulai dengan catatan amalan yang baru pula, yang bersih dari selisih paham dan segala praduga.
Semoga Allah SWT menerima amalan shaum kita, dan berkenan menuntun kita kembali kepada fitrah. Dituntun-Nya pula kita untuk selalu istiqamah di jalan-Nya, saling menasihati dalam kebaikan dan saling menasihati untuk menetapi kesabaran. Amiin.
TaqabbalaLLaahu minna wa minkum taqabbal yaa kariim.
Wassalaamu’alaikum wr.wb.

Salah Satunya... Kok Jadi Banyak.