Thursday, July 07, 2011
Serdadu Kumbang
Tuesday, February 02, 2010
Sang Pemimpi
Akhirnya kesampaian juga, nonton film Sang Pemimpi. Cinema 21 Bandung sudah nggak mutar film itu lagi, maka mulailah aku berburu jadwal nonton di Blitz Megaplex. Dapat!!! Nontonlah aku di sana, di Paris Van Java. Sendirian saja, karena rata-rata teman-teman sudah pada nonton. Aku aja yang ketinggalan, dan ngejar masa tayang sebelum film itu keburu turun dari bioskop.Bukunya sudah kubaca lama, jadi sudah banyak lupa. Berharap bakal dapat kejutan-kejutan kecil dari tayangan film yang ditunggu-tunggu banyak orang ini (termasuk aku, tentunya), membayangkan akan seperti apa penggambaran bahasa tulisan jadi gerak dan suara. Selain itu, sangat mungkin ada adegan-adegan lain, yang 'berbeda' dengan yang kubaca dan kubayangkan melalui bukunya. Dan ternyata... aku tak kecewa.
Mengurai jalan hidup Ikal dan Arai dalam tiga masa, film ini beralur maju-mundur, dinamis. Dimulai sejak SMP awal bertemunya Ikal dan Arai sepupunya. Berlanjut dengan kehidupan masa SMA mereka yang penuh gejolak, perjuangan dan pemberontakan. Lalu sedikit, sekilas masa kuliah mereka, hingga bersama-sama dapat beasiswa ke Perancis. (Aku juga mauuu...!)
Belajar berjuang dari film ini. Berkaca diri. Rasanya usahaku belum sekeras mereka (walaupun nggak mesti jadi kuli pasar juga sih...). Ayo ah, semangati diri lagi, berjuang lagi dan perjuangkan mimpi!!!
Friday, August 21, 2009
Akhirnya Nonton Juga...
17 Juli, hari pertama film HP ini tayang di bioskop. Aku tak bisa menyempatkan untuk nonton, gara-gara sok sibuk dengan urusan persiapan hari pertama sekolah (dan aku bertanggung jawab dalam dua sesi utamanya) yang dilanjut dengan urusan akreditasi sekolah beberapa waktu lalu. Ketika waktu kurasa cukup luang, jaringan bioskop 21 ternyata telah menyelesaikan masa tayang film itu. Wah... searching searching di dunia maya, jaringan 21 Jakarta masih mutar film itu sih... tapi masa segitunya ya, ngebelain nonton ke Jakarta. nggak perlu sebegitunya deh. Ternyata, jaringan teater Blitz masih punya dua kali masa tayang setiap harinya sampai akhir minggu ini. Masalahnya... jam tayangnya jam 2.15 sore atau 9.15 malem. Yang satu kepagian (jam kerjaku belum selesai dong jam sekian), sementara yang satu lagi kemaleman (aku bisa berubah jadi Upik Abu ketika sampe rumah setelah nonton).
Untungnya... hari Kamis tanggal 20 sudah merupakan hari libur di sekolahku. Aku bisa meluangkan waktu untuk pergi nonton deh. Janjian dengan seorang teman, siang-siang panas terik, aku berjuang di beberapa titik kemacetan yang sangat tidak terduga. Sampe Taman Sari sudah jam setengah dua-an, sementara perhitungan awalku, dari Taman Sari (seputaran ITB) ke Blitz PVJ akan makan waktu 30-45 menit, belum lagi antri tiket dsb. Keburu nggak ya...? Aku ragu, sementara temanku memutuskan untuk mengambil resiko dan mencoba. Hmm... ayo deh. Ternyata eh ternyata, perjalanan ke sana nggak makan waktu lama lho. Mencari tempat parkir, mengunci mobil, jalan ke lokasi Blitz, eh... kita masih punya waktu untuk nunggu lho sebelum pintu teater dibuka.
Wednesday, October 01, 2008
"Laskar Pelangi" the Movie
Nonton Laskar Pelangi di malam takbiran. Yang bener aja... Nggak enak hati sih, sebetulnya. Malam takbiran kok malah asyik-asyik jalan berombongan bareng kakak dan para ponakan. Hehe... Tapi kalau mau nonton bareng, ya memang "harus" dilakukan sebelum lebaran, soalnya di hari kedua nanti salah seorang kakak bersama ponakan-ponakanku akan berwisata ke beberapa tempat. Jadilah hari Selasa sore lalu kami berdelapan (plus seorang bayi) nonton bareng di Cinema XXI BSM.Aku sudah cukup terganggu dengan ponakan kecilku, ditambah dengan komentar penonton lain di sebelah kiriku yang nyaris tak henti mengomentari jalan cerita maupun tokoh-tokoh yang muncul di layar putih itu. Dia berusaha menjelaskan kepada teman nontonnya yang... kedengarannya sih tidak cukup tahu tentang novel maupun film ini. Iya... aku ngerti... tapi suaranya nggak perlu kenceng-kenceng kan...? :(
Kakak iparku di ujung kanan rupanya punya 'pengalaman' yang berbeda, tentu saja. Dia terganggu dengan seorang ibu yang duduk di seberang gang, yang berkali-kali terhisak saat menyaksikan adegan di film itu, sementara anak yang duduk di sebelahnya malah asyik tidur!!! Sayang amat ya, bayar Rp 15.000,- untuk numpang tidur? hehe...
Thursday, September 11, 2008
Denias, Senandung di Atas Awan
Baru nonton Denias beberapa waktu lalu. Ketinggalan banget ya? Keindahan film ini sudah jadi pembicaraan hangat berbulan lalu. Aku nggak sempat nonton di bioskop, juga tidak menyempatkan untuk mencari VCD-nya. Tapi beberapa hari yang lalu, seorang teman membawa VCD "Denias" untuk diputar di kelas, sebagai referensi sebuah sesi pelajaran di depan murid. Nggak mau ketinggalan kesempatan, aku pinjem VCD Denias untuk kutonton di rumah. Boleh dong...Monday, July 14, 2008
Ayat-ayat Cinta, the Movie
Beberapa waktu lalu, teman-temanku ramai membicarakan film adaptasi dari novel karya kang Abik ini. Sibuk nyari soundtract filmnya untuk ditambahkan ke MP3 mereka, atau mengadaptasi gaya Rianti Cartwright alias Aisha dalam film ini. Tanpa cadar, tentunya. Wah... pokoknya sibuk berat! Aku sih, seperti biasa, tak ikut arus trendi, walaupun mengikuti juga perkembangan berita yang terjadi di sekitar. Baru beberapa hari yang lalu, aku sempat nonton film fenomenal itu. Fenomenal, karena novelnya saja punya ‘nafas’ baru di kalangan penulisan karya sastra terutama novel, yang kemudian melahirkan ‘aliran baru’ sastra Islami. Filmnya ditunggu banyak orang, bahkan presiden Yudhoyono sendiri ikut menonton film ini. Aku sendiri? Ketinggalan banget. Ketika dulu diajakkin teman untuk ke bioskop, sok sibuk aja sampai nggak menyempatkan diri. Lagipula, kupikir aku bisa beli VCDnya dan nonton film itu kapan-kapan. Dan demikianlah kejadiannya.
Resensi film yang menyatakan begini dan begitu memang sudah cukup banyak kudengar. Yang jelas, pada intinya, film itu sedikit berbeda dengan novelnya. Tak akan terkejut aku saat menonton film itu. Tapi tak ayal, aku agak kecewa juga. Ada beberapa bagian yang sangat berbeda dengan novel cantiknya. Selain itu, para pemeran utama di film itu yang jelas-jelas bukan muhrim, ternyata melakukan banyak kontak fisik, bahkan hingga pelukan dan... ciuman.
Selain itu, adegan Fahri talakki di depan ustadznya jelas-jelas dubbing, padahal kabarnya Fedi Nuril (pemeran Fahri) sudah berusaha keras untuk menghafal dan melafadzkan bacaan quran sebaik mungkin. Kentara sekali perbedaan suaranya. Hal lain yang membuatku tidak pro pada film ini adalah ketika konsep poligami dipraktikkan secara (menurutku) salah kaprah. Ketika ketiga orang itu tinggal bersama di satu rumah –walaupun ceritanya Fahri sudah menikah, sah, dengan kedua wanita itu-, di kamar yang bersebelahan, dengan pembagian giliran yang tidak ditetapkan sejak awal. Fahri bingung, Aisha dan Maria pun demikian. Di sini, penonton yang nggak ngerti pun akan terseret arus kebingungan. Salah konsep.
Zaman rasulullah dulu, setahuku memang terjadi kecemburuan di kalangan istri rasul, saling ‘bersaing’ untuk mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari rasulullah, tapi tentu saja masih dalam koridor adab yang sangat terjaga. Iyalah... rasul beserta istri-istrinya tentu akan segera diingatkan Allah bila mereka lengah. Sedangkan kita di zaman sekarang ini, hm... banyak-banyaklah saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran, dan jangan lupa untuk selalu minta petunjuk dan pertolongan dari Allah SWT dalam setiap langkah kita. Semoga Dia rela, beriku mudah (potongan dari salah satu lagu yang kugubah, "Hariku"). Amiin.
-
Alhamdulillah, harus sering-sering bersyukur atas nikmat sehat yang hampir sepanjang tahun aku nikmati. Aku termasuk kategori orang yang ja...
-
Belakangan ini, blogging buatku jadi sarana untuk curcol aja. Lama nggak update , ketemu tantangan bertema fashion di bulan Juli. Hayulah ki...
-
Mengenang saat jalan-jalan di Osaka kouen Lihat dinamika timeline teman-teman di medsos, terlihat ramai dengan aktivitas jalan-jalan sa...