Showing posts with label film. Show all posts
Showing posts with label film. Show all posts

Thursday, July 07, 2011

Serdadu Kumbang

Liburan sekolah. Kusempatkan nonton film produksi Alenia Pictures ini. Serdadu Kumbang, kisah seorang anak lelaki berbibir sumbing yang bercita-cita menjadi penyiar televisi seperti Najwa Shihab. Amek, nama tokohnya, diperankan dengan baik oleh Yudi Miftahudin, seorang bocah sumbing dari Jakarta. Aktingnya natural, begitu yang kudengar dari wawancara di Kick Andy beberapa waktu lalu. Sengaja kusiapkan tissue, karena aku yakin aku bakalan nangis berderai-derai menontong satu-dua scene sedih di film ini.
Janjian nonton dengan Ita, juga Yetti, partnerku di sekolah yang juga datang bersama temannya yang lain. Jadilah kita berempat nonton di dalam bioskop yang isinya nggak sampai setengahnya. Orang-orang lain sudah nonton sejak kapan tauk, kalau lihat poster filmnya yang menyatakan bahwa dia sudah tayang sejak pertengahan Juni lalu. Lha kita baru nonton di awal Juli. Telat, kali... :p
Berpisah dari Yetti dan temannya, aku sama Ita jalan-jalan bareng lihat-lihat berbagai pernik unik di AnimeBlitz dan beli satu-dua barang di toko Gunung Agung. Setelah itu, makan bareng di... Pizza Hut (lagi??? :p) Lagi-lagi order paket delight. Aku sendiri nambahin lemon squash yang super segerr. Alhamdulillah. Nikmat! 

Tuesday, February 02, 2010

Sang Pemimpi

Akhirnya kesampaian juga, nonton film Sang Pemimpi. Cinema 21 Bandung sudah nggak mutar film itu lagi, maka mulailah aku berburu jadwal nonton di Blitz Megaplex. Dapat!!! Nontonlah aku di sana, di Paris Van Java. Sendirian saja, karena rata-rata teman-teman sudah pada nonton. Aku aja yang ketinggalan, dan ngejar masa tayang sebelum film itu keburu turun dari bioskop.
Film bagus. Pastinya. Setelah diadaptasi dari novel tetralogi berjudul sama, sutradara Riri Riza ternyata bisa membawanya ke layar perak dengan baik. Selain menyutradarai, Riri juga menulis skenario bersama Mira Lesmana dan Salman Aristo. Andrea Hirata jadi konsultannya juga, kukira.
Bukunya sudah kubaca lama, jadi sudah banyak lupa. Berharap bakal dapat kejutan-kejutan kecil dari tayangan film yang ditunggu-tunggu banyak orang ini (termasuk aku, tentunya), membayangkan akan seperti apa penggambaran bahasa tulisan jadi gerak dan suara. Selain itu, sangat mungkin ada adegan-adegan lain, yang 'berbeda' dengan yang kubaca dan kubayangkan melalui bukunya. Dan ternyata... aku tak kecewa.
Mengurai jalan hidup Ikal dan Arai dalam tiga masa, film ini beralur maju-mundur, dinamis. Dimulai sejak SMP awal bertemunya Ikal dan Arai sepupunya. Berlanjut dengan kehidupan masa SMA mereka yang penuh gejolak, perjuangan dan pemberontakan. Lalu sedikit, sekilas masa kuliah mereka, hingga bersama-sama dapat beasiswa ke Perancis. (Aku juga mauuu...!)
Belajar berjuang dari film ini. Berkaca diri. Rasanya usahaku belum sekeras mereka (walaupun nggak mesti jadi kuli pasar juga sih...). Ayo ah, semangati diri lagi, berjuang lagi dan perjuangkan mimpi!!!

Friday, August 21, 2009

Akhirnya Nonton Juga...

Harry Potter and the Half Blood Prince. Film ke-6 dalam seri Harry Potter ini sudah lama kutunggu kemunculannya. Sejak sebelum dirilis, aku dan seorang teman sudah siap menjadwalkan untuk nonton bareng di PVJ. Niat itu sudah tercetus sejak nonton Angels and Demons di BIP beberapa waktu lalu.
17 Juli, hari pertama film HP ini tayang di bioskop. Aku tak bisa menyempatkan untuk nonton, gara-gara sok sibuk dengan urusan persiapan hari pertama sekolah (dan aku bertanggung jawab dalam dua sesi utamanya) yang dilanjut dengan urusan akreditasi sekolah beberapa waktu lalu. Ketika waktu kurasa cukup luang, jaringan bioskop 21 ternyata telah menyelesaikan masa tayang film itu. Wah... searching searching di dunia maya, jaringan 21 Jakarta masih mutar film itu sih... tapi masa segitunya ya, ngebelain nonton ke Jakarta. nggak perlu sebegitunya deh. Ternyata, jaringan teater Blitz masih punya dua kali masa tayang setiap harinya sampai akhir minggu ini. Masalahnya... jam tayangnya jam 2.15 sore atau 9.15 malem. Yang satu kepagian (jam kerjaku belum selesai dong jam sekian), sementara yang satu lagi kemaleman (aku bisa berubah jadi Upik Abu ketika sampe rumah setelah nonton).
Untungnya... hari Kamis tanggal 20 sudah merupakan hari libur di sekolahku. Aku bisa meluangkan waktu untuk pergi nonton deh. Janjian dengan seorang teman, siang-siang panas terik, aku berjuang di beberapa titik kemacetan yang sangat tidak terduga. Sampe Taman Sari sudah jam setengah dua-an, sementara perhitungan awalku, dari Taman Sari (seputaran ITB) ke Blitz PVJ akan makan waktu 30-45 menit, belum lagi antri tiket dsb. Keburu nggak ya...? Aku ragu, sementara temanku memutuskan untuk mengambil resiko dan mencoba. Hmm... ayo deh. Ternyata eh ternyata, perjalanan ke sana nggak makan waktu lama lho. Mencari tempat parkir, mengunci mobil, jalan ke lokasi Blitz, eh... kita masih punya waktu untuk nunggu lho sebelum pintu teater dibuka.
Penonton nggak banyak, nggak sampai setengah kapasitas tempat duduk terisi. Jelas aja, yang lain kan udah pada nonton berminggu-minggu sebelumnya. Kita aja yang telat :p Dapat kursi di tengah belakang, puas deh aku menikmati film itu. Tempat duduk nyaman, ruangan nggak terlalu dingin (soalnya aku lagi agak batuk-batuk juga, nggak akan nyaman di ruangan yang dingin), kualitas audio seru. Wah... puas deh pokoknya. Usai nonton, keluar dari teater, kusempatkan berfoto dulu di depan poster 3 dimensi film Harry Potter and the Half Blood Prince. Agak malu juga sih berpose di depan orang-orang yang lalu lalang, cuma sok cuek aja. Hehe... Nggak sabar deh nunggu film Harry Potter berikutnya. Nonton bareng lagi yuk...! Sama siapa ya nanti? ;)

Wednesday, October 01, 2008

"Laskar Pelangi" the Movie

Nonton Laskar Pelangi di malam takbiran. Yang bener aja... Nggak enak hati sih, sebetulnya. Malam takbiran kok malah asyik-asyik jalan berombongan bareng kakak dan para ponakan. Hehe... Tapi kalau mau nonton bareng, ya memang "harus" dilakukan sebelum lebaran, soalnya di hari kedua nanti salah seorang kakak bersama ponakan-ponakanku akan berwisata ke beberapa tempat. Jadilah hari Selasa sore lalu kami berdelapan (plus seorang bayi) nonton bareng di Cinema XXI BSM.
Delapan kursi di baris ketiga dari depan terisi oleh rombongan kami. Aku duduk di ujung kiri, dekat sepasang penonton lain yang sibuk membahas jalan cerita film itu sesuai buku, dan ponakan kecilku di sebelah kanan yang ramai pula berkomentar. Dia belum tahan untuk duduk lama-lama menonton film di bioskop. Berkali-kali dia bertanya, "Film-nya masih lama nggak?", "Berapa lama lagi?" juga pertanyaan-pertanyaan lain yang nyambung maupun tidak dengan adegan film itu. Bolak-balik juga dia ke dekat bundanya di ujung kanan sana. Sedangkan adik bayi di pangkuannya (Rizki, 1 tahun 5 bulan) sedang asyik mengamati adegan di depannya dengan mata bulatnya.
Aku sudah cukup terganggu dengan ponakan kecilku, ditambah dengan komentar penonton lain di sebelah kiriku yang nyaris tak henti mengomentari jalan cerita maupun tokoh-tokoh yang muncul di layar putih itu. Dia berusaha menjelaskan kepada teman nontonnya yang... kedengarannya sih tidak cukup tahu tentang novel maupun film ini. Iya... aku ngerti... tapi suaranya nggak perlu kenceng-kenceng kan...? :(
Kakak iparku di ujung kanan rupanya punya 'pengalaman' yang berbeda, tentu saja. Dia terganggu dengan seorang ibu yang duduk di seberang gang, yang berkali-kali terhisak saat menyaksikan adegan di film itu, sementara anak yang duduk di sebelahnya malah asyik tidur!!! Sayang amat ya, bayar Rp 15.000,- untuk numpang tidur? hehe...

Thursday, September 11, 2008

Denias, Senandung di Atas Awan

Baru nonton Denias beberapa waktu lalu. Ketinggalan banget ya? Keindahan film ini sudah jadi pembicaraan hangat berbulan lalu. Aku nggak sempat nonton di bioskop, juga tidak menyempatkan untuk mencari VCD-nya. Tapi beberapa hari yang lalu, seorang teman membawa VCD "Denias" untuk diputar di kelas, sebagai referensi sebuah sesi pelajaran di depan murid. Nggak mau ketinggalan kesempatan, aku pinjem VCD Denias untuk kutonton di rumah. Boleh dong...
Pendek kata, aku nonton film itu, dan terpukau... Film yang dibuat berdasarkan kisah nyata ini memang cantik. Kisahnya sarat makna, penuh perjuangan untuk melakukan upaya optimal agar bisa terus bersekolah, meraih kesempatan terbaik yang bisa didapat. Selain itu, gambar pemandangan alam yang ditangkap kamera juga sungguh-sungguh indah. Alam yang masih segar, seringkali berhias pelangi yang melengkung indah, menghias langit. Cantik... sekali. Para pemeran juga kurasa cukup optimal. Overall, ini film bagus deh. Dengar-dengar, malah akan diikutsertakan di festival film Cannes (eh, atau Oscar ya? Sebagai peserta film asing.) Semoga lolos. Asyik juga kan, kalau ada film Indonesia di ajang film internasional begitu. Kalau menang, wah... lebih asyik lagi. Salam buat Denias. ;)

Monday, July 14, 2008

Ayat-ayat Cinta, the Movie

Beberapa waktu lalu, teman-temanku ramai membicarakan film adaptasi dari novel karya kang Abik ini. Sibuk nyari soundtract filmnya untuk ditambahkan ke MP3 mereka, atau mengadaptasi gaya Rianti Cartwright alias Aisha dalam film ini. Tanpa cadar, tentunya. Wah... pokoknya sibuk berat! Aku sih, seperti biasa, tak ikut arus trendi, walaupun mengikuti juga perkembangan berita yang terjadi di sekitar.

Baru beberapa hari yang lalu, aku sempat nonton film fenomenal itu. Fenomenal, karena novelnya saja punya ‘nafas’ baru di kalangan penulisan karya sastra terutama novel, yang kemudian melahirkan ‘aliran baru’ sastra Islami. Filmnya ditunggu banyak orang, bahkan presiden Yudhoyono sendiri ikut menonton film ini. Aku sendiri? Ketinggalan banget. Ketika dulu diajakkin teman untuk ke bioskop, sok sibuk aja sampai nggak menyempatkan diri. Lagipula, kupikir aku bisa beli VCDnya dan nonton film itu kapan-kapan. Dan demikianlah kejadiannya.

Resensi film yang menyatakan begini dan begitu memang sudah cukup banyak kudengar. Yang jelas, pada intinya, film itu sedikit berbeda dengan novelnya. Tak akan terkejut aku saat menonton film itu. Tapi tak ayal, aku agak kecewa juga. Ada beberapa bagian yang sangat berbeda dengan novel cantiknya. Selain itu, para pemeran utama di film itu yang jelas-jelas bukan muhrim, ternyata melakukan banyak kontak fisik, bahkan hingga pelukan dan... ciuman.

Selain itu, adegan Fahri talakki di depan ustadznya jelas-jelas dubbing, padahal kabarnya Fedi Nuril (pemeran Fahri) sudah berusaha keras untuk menghafal dan melafadzkan bacaan quran sebaik mungkin. Kentara sekali perbedaan suaranya. Hal lain yang membuatku tidak pro pada film ini adalah ketika konsep poligami dipraktikkan secara (menurutku) salah kaprah. Ketika ketiga orang itu tinggal bersama di satu rumah –walaupun ceritanya Fahri sudah menikah, sah, dengan kedua wanita itu-, di kamar yang bersebelahan, dengan pembagian giliran yang tidak ditetapkan sejak awal. Fahri bingung, Aisha dan Maria pun demikian. Di sini, penonton yang nggak ngerti pun akan terseret arus kebingungan. Salah konsep.

Zaman rasulullah dulu, setahuku memang terjadi kecemburuan di kalangan istri rasul, saling ‘bersaing’ untuk mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari rasulullah, tapi tentu saja masih dalam koridor adab yang sangat terjaga. Iyalah... rasul beserta istri-istrinya tentu akan segera diingatkan Allah bila mereka lengah. Sedangkan kita di zaman sekarang ini, hm... banyak-banyaklah saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran, dan jangan lupa untuk selalu minta petunjuk dan pertolongan dari Allah SWT dalam setiap langkah kita. Semoga Dia rela, beriku mudah (potongan dari salah satu lagu yang kugubah, "Hariku"). Amiin.

Salah Satunya... Kok Jadi Banyak.