Showing posts with label Depok. Show all posts
Showing posts with label Depok. Show all posts

Wednesday, September 15, 2010

Batik Depok, Ikon Sebuah Kota

Ngakunya sih pecinta batik… hingga blog-ku pun bertajuk batikmania. Tapi sebetulnya… kurasa aku bukan betul-betul penggila batik. Ya, aku memang ingin jadi kolektor beragam batik Indonesia, dan dengan begitu ikut melestarikan warisan budaya ini. Namun apa daya, dompet tak cukup berisi. :p
Batik gitu loh… Yang asli, apalagi batik tulis, tentu harganya tidak murah. Aku sih setuju setuju saja, jika dengan begitu kita bisa memberi apresiasi kepada para pengrajin batik. Aku tahu bagaimana ‘susahnya’ membatik. Berpanas-panas di depan kompor, menggambar dengan bantuan canting yang sekali gores tak boleh salah, atau menstempel pola pada kain, lalu mewarnai dengan bahan kimia yang bisa merusak kulit, setelah itu melunturkan lilin dengan rebusan air mendidih, wah… pada intinya, membatik itu bukan pekerjaan yang mudah. Jadi, sudah selayaknya sehelai kain batik dihargai dengan harga tinggi.
Apalagi saat ini batik sudah diakui oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia. Alhamdulillah… Tak boleh lagi dong di-claim oleh negara lain, apalagi oleh negara tetangga yang suka ngaku-ngaku itu. :p Apresiasi kita terhadap budaya bangsa sendiri ini, harus semakin tinggi. Kalau memang punya uang, jangan ragu untuk membayar lebih, toh keuntungannya untuk bangsa sendiri.
Berbagai daerah menggunakan batik sebagai sarana eksistensi diri alias ikon daerah. Setahuku, ada beberapa daerah yang sudah merancang motif batik sendiri, termasuk Depok. Melalui sebuah lomba desain motif batik, diluncurkanlah batik khas Depok itu di tahun 2009 lalu. Beragam hasilnya, semua indah dan menampilkan ciri khas Depok. Yang sangat kentara terlihat adalah pola/gambar irisan buah belimbing yang memang telah menjadi ikon kota Depok.
Paduan motif dan warna harus dirancang secara cermat agar dapat memperlihatkan ciri khas Depok, agar terlihat berbeda dengan daerah lainnya. Beberapa desain yang membuatku tertarik, kudapat gambarnya dari situs jejaring facebook dan kupampang di bawah ini.
Motif irisan buah belimbing yang menjadi ciri khas Depok dipadu dengan sulur-suluran dalam paduan warna merah-terakota terlihat anggun. Bapak Toni sang perancang motif terlihat luwes menggambarkan bagian demi bagian motif batik ini. Cukup sederhana, sebetulnya, namun rancangan ini pastilah dibuat dengan penuh ketekunan dan kesabaran untuk menghasilkan yang terbaik.
Yang berikutnya, batik Depok hasil rancangan bapak Fatlan. Desain kali ini relatif lebih rumit dari yang sebelumnya, Masih mengambil esensi irisan buah belimbing sebagai ikon kota Depok, rancangan batik ini dipadu dengan gambar sulur-suluran dan ornamen dekoratif lainnya, membuat desain ini secara keseluruhan terlihat kaya. Pengisian bidang dengan ornamen dekoratif yang berupa rangkaian garis yang berliuk-liuk tentulah juga memerlukan kesabaran dan ketekunan dalam mengolahnya. Nilai-nilai ini diharapkan dapat juga tumbuh di kalangan warga Depok. Semoga…
Selain nilai-nilai keutamaan yang diharapkan keberadaannya di kalangan warga Depok, produksi masal batik ini pun akan mendongkrak sektor ekonomi secara signifikan. Pengrajin batik dapat terus berproduksi dan mendapatkan keuntungan dari hasil penjualan batik ini, termasuk juga industri terkait, hingga melibatkan pengrajin batik di Solo. Depok bagi-bagi rejeki-lah... ;) Sementara itu, masyarakat Depok pun diharapkan agar memiliki kebanggaan dengan mengenakan batik khas ini. Kabarnya, walikota Depok sudah memberikan instruksi agar pegawai di lembaga pemerintahan dapat mengenakan busana batik Depok dan mendukung penggunaan batik serupa di kalangan yang lebih luas. Dengan demikian, terwujud rasa kebersamaan yang padu di kalangan warga Depok. Suatu upaya yang bagus, kukira. Aku sendiri, walaupun bukan warga Depok, mau juga dong batik Depok… ;)

Tuesday, September 14, 2010

Depok, Sebuah Kota Dengan Tangan Terbuka

Lebaran lalu, kakakku dan anak-anaknya kembali berkunjung ke rumah kami di Bandung. Setiap tahun selalu begitu. Rutin dijalaninya. Transportasi Bandung-Depok saat ini, tidak sulit lagi. Jika dulu aku bolak-balik Bandung-Depok dengan bus harus ‘transit’ dulu di Bogor atau Kampung Rambutan, sekarang tidak lagi. Ada rute bus khusus Bandung-Depok yang kini sering kugunakan jika aku perlu berkunjung ke rumah kakak di Depok. Kakak dan keluarganya, lebih sering membawa kendaraan sendiri, dengan rute perjalanan yang nyaman melalui tol Cikunir, sambung menyambung hingga tol Padaleunyi. Sungguh perjalanan yang tidak lagi merepotkan.
Aku sendiri, belum pernah membawa kendaraan sendiri ke Depok. Kalaupun aku beberapa kali ada urusan di Jakarta, aku masih sering numpang menginap di rumah kakak yang terletak di Depok. Tapi kendaraan? Aku lebih suka memanfaatkan fasilitas angkutan umum saja deh. Sebagai sebuah kota satelit dari Jakarta, Depok memiliki akses yang makin lama makin mudah saja. Mulai ojek, angkutan umum, bus, hingga kereta api, semua mendapat tempat di Depok, walaupun keberadaannya tentu saja membuat lalu lintas di Depok, juga dari dan menuju Depok makin lama makin padat saja.
Kemacetan tak terhindarkan ada di mana-mana, sementara perilaku pengemudi juga tak jarang gila-gilaan, menerjang segala jalanan berlubang sesukanya saja. Belum lagi pengendara motor yang menyalip dari kanan dan kiri dengan lihainya. Wah… tak jarang aku ‘memuji’ mereka, tapi tentu saja was-was juga. Kalau aku yang mengendarai mobil di Depok, wah… alamat bakalan terjaga selalu. Alert! Tapi lama-lama mungkin jantungan juga, atau malah kebas dan mati rasa :p Sisi baiknya, kondisi itu membuat kita belajar sabar dan ikhlas, dan banyak-banyak berdzikir di dalam kendaraan. Sama sekali tidak jelek, bukan? Hikmahnya kita bisa cepat sampai tujuan, dan... makin dekat pada Tuhan sepanjangnya dzikir yang dirapal sepanjang jalan. Bukankah itu baik? ;)
Belasan tahun berlalu sejak pertama kali kakakku menetap di Depok. Saat ini kota itu sudah berkembang sangat pesat. Pusat perbelanjaan, jangan ditanya… banyak tersebar di seantero Depok. Mulai dari Tiptop, Depok Plaza, Depok Town Square hingga Margo City, semua bisa dicapai dengan akses yang begitu mudah. Gebyar potongan harga yang selalu ada, wah… membuat kita tak boleh sering-sering berkunjung ke sana jika ingin isi dompet tetap selamat ;) Tapi justru hal inilah yang membuat laju roda ekonomi di Depok berputar kencang. Banyak tenaga kerja terserap, yang ujung-ujungnya, memakmurkan warga juga kan? Salut-lah untuk Depok.
Kota yang lahir kembali 11 tahun lalu ini, semakin berkembang saja. Depok yang ’berubah wujud’ dari sebuah kota administratif ini telah berubah menjadi kotamadya, dan kini bisa disejajarkan dengan Bogor, Bekasi dan Tangerang sebagai sebuah kota yang maju dengan dukungan infrastruktur yang memadai. Seperti Bogor, salah satu Perguruan Tinggi besar di Indonesia, ada di Depok. Universitas Indonesia sepertinya sudah bedol desa, transmigrasi ke Depok, menjadikan kota ini sebagai salah satu pusat pendidikan tinggi terpercaya. Dengan kampus yang luas dan asri, UI masih selalu menjadi salah satu perguruan tinggi favorit putra-putri terbaik bangsa ini. Satu poin lagi untuk Depok.
Dengan adanya salah satu Perguruan Tinggi terbesar dan tertua di Indonesia, Universitas Indonesia yang telah menjadi ikon Depok, ditambah dengan perguruan tinggi swasta lainnya, Depok menjadi ramai dengan banyaknya pendatang dari berbagai daerah, terutama tentu saja mahasiswa yang notabene pintar dan terpelajar. Tak lama lagi, Depok bisa menyaingi Yogyakarta dan Bandung dengan predikat sebagai kota pelajar juga.
Lagi-lagi berkait dengan roda perekonomian, banyaknya pendatang ini tentu saja membuat bertumbuhnya sebuah bahkan beberapa peluang bisnis baru bagi warga setempat. Mulai dari pengadaan tempat kost, servis cuci-laundry pakaian dengan harga mahasiswa, warung makan, rental komputer, perpustakaan, dan… tinggal sebut saja, banyak peluang bisnis ada di sana. Depok makin berkembang, dan hanya tinggal menunggu waktu, ketika usai lebaran nanti, Jakarta tidak lagi jadi tujuan utama para perantau yang ingin mengadu nasib, tapi Depoklah yang akan jadi tujuan berikutnya, yang akan menerima para pendatang itu dengan tangan terbuka.

Friday, October 10, 2008

Perjalanan menuju dan kembali dari "Amsterdam"

Pasca lebaran ini, aku bersama dua dari ketiga kakak beserta ibuku pergi boyongan ke Depok, ke rumah kakak sulung. Anak-anak kakak nggak ikut karena mereka ikut dengan kakak yang ke-3 menjelajah sebagian pulau Jawa. Nggak ada kerjaan juga sih di Depok, selain membaca majalah yang tak kupunya di Bandung sana, menjajal kemampuan main games di komputer kakak, dan sesekali mengakses internet barang sebentaran.
Hari Sabtu lalu (4 Okt) kita berangkat dari Bandung menjelang jam 10 pagi. Istirahat shalat dan makan siang di tempat peristirahatan di ruas jalan tol Padaleunyi, kita sampai di Depok tak lama selepas jam 1-an (atau jam 2-an ya? Hehe... lupa) Tapi tetap nggak terlalu lama juga kan di perjalanan?
Hari Minggu, aku didaulat kakak jadi 'tukang ojek' buat nganterin dia bersilaturahim dengan teman-temannya, alumni karyawan British Council Jakarta. Tempat pertemuan, tak tanggung-tanggung, di "Amsterdam"! Hehe... Maksudnya, di cluster Eropa wilayah Amsterdam di Kota Wisata Cibubur. Jauh juga lho dari Depok, dan aku sok-sok-an aja mboncengin kakakku yang 'mirip' Tike Priyatnakusumah yang anggota tetap Extravaganza itu. Literally, beneran, mirip! ;)
Menjajal jalanan Depok yang berlubang-lubang besar, motor ponakanku sempat oleng juga ketika awal-awal aku berusaha menjaga keseimbangan mengemudi. Akhirnya terbiasa juga. Di jalan lurus ke arah Cibubur, asyik juga kupacu Vario hijau itu dengan kecepatan 50-65 km/jam. Beban di belakang, tak begitu terasa.
Pendek kata, acara silaturahim berjalan lancar, biarpun aku nggak begitu kenal orang-orang di sana. Sok berbaur aja, dan menikmati hidangan lezat yang disediakan tuan rumah. Terima kasih ya, mbak Wiwin... Semuanya enak! Terutama yoghurt campur buahnya. Hm... yummy...!
Selepas ashar, satu persatu tamu mulai berpamitan. Kakakku akhirnya undur diri juga. Sebagai 'tukang ojek', tentu saja aku ikut. Tergoda sih, pengen cuci mata lihat pernak-pernik di Kampung Cina yang rasanya tinggal selangkahan kaki. Tapi melihat mendung kelam yang bergantung rendah, kuurungkan niatan itu. Nggak usahlah belanja-belanja. Langsung pulang saja. Perjalanan pulang kali ini, sebetulnya agak lebih percaya diri dibandingkan arah sebaliknya, tapi kondisi badan yang sudah capek, ditambah arus lalu lintas yang sedikit lebih padat membuatku harus sabar-sabar di jalur kiri.
Di ruas jalan Cibubur, tak jauh dari Cibubur Junction, antrian panjang kendaraan membuatku ragu. Haruskah tetap di kiri, di jalan tanah sebelah bahu jalan, atau pindah jalur ke kanan (ke sebelah kanan mobil yang berderet) tapi berresiko menghadang arus kendaraan dari depan. Sebagai pengendara mobil juga, aku suka sebal dengan pengendara motor di lajur kanan ini, karena seringkali bikin kagok! Akhirnya aku putuskan untuk istiqamah di lajur kiri. Ini lajur yang dilematis juga. Tetap di jalan tanah berarti mengambil resiko menerjang becek-becek sisa hujan dan melindas batuan yang tidak rata. Kalau naik sedikit ke bahu jalan di sebelah kiri mobil, berarti aku harus stabil memegang stang motor supaya tetap lurus dan tidak menyenggol spion kendaraan yang kulewati.
Gara-gara.... ragu-ragu sih... Ketika aku masih berpikir, naik ke bahu jalan (yang lebih tinggi sekitar 7 sentian dari tepi jalan) atau tidak, kuarahkan stang motor agak ke kanan. Ban depan sudah naik ke aspal, sementara ban belakang masih berusaha mengimbangi, sedangkan motor masih melaju, tak terlalu cepat. Tak kuasa... Seperti slow motion rasanya. Motor mulai oleng ke kiri, dan tak bisa kukendalikan lagi, doyong... doyong... dan terguling. Hihi... Soft landing. Kami berdua jatuh ke tepi jalan. Karena gerak jatuhnya motor sudah kami duga (kakakku pun sudah berpikir bakalan jatuh), maka kaki kami sudah siaga, tapi tak urung, bagian lutut sih, kena juga sedikit. Untungnya, tak ada yang tertimpa motor. Cuma, lucu aja... tak ada angin tak ada hujan, tahu-tahu motor yang kami tumpangi oleng dan terguling. Orang-orang yang lewat juga tak ada yang menolong karena melihat kami berdua baik-baik saja, justru memandangi dengan heran. Sementara kita saling bertanya, "Nggak ada orang yang kita kenal kan?" "Nggak ada candid camera kan (yang mengabadikan ketololanku)?" Waduh... Sakitnya sih nggak seberapa, wong cuma memar dikit di lutut kiri, tapi malunya itu lho. Haha... Lebih 'gila' lagi, kejadian memalukan begini, ku-publish juga di blog ini ya? Bukan menyebarluaskan kebodohan, justru mengingatkan diri untuk belajar dari kesalahan. Jangan terulang lagi, Dee!
Kejadian sore itu belum usai. Gara-gara jalanan berlubang di Depok tak terlihat jelas karena dipenuhi air berlumpur, kakakku mengajak untuk menjajal jalur alternatif melalui perumahan, bukan lewat jalan utama. Aku sih, ayo aja. Ternyata, putar sana putar sini, nyasar juga kita. Tanya sana tanya sini, ah... akhirnya sampai juga ke rumah kakak. Alhamdulillah. Betul-betul perjalanan jauh yang kutempuh hari itu. Dari Depok ke "Amsterdam" lalu balik lagi hanya dalam setengah hari. Hihi... ;)
Blogged with the Flock Browser

Friday, October 03, 2008

"Pindah" ke Depok

Libur lebaran kali ini, aku, ibu dan dua orang kakakku "pindah" rumah ke Depok, ke rumah kakak sulungku. Sementara, salah satu kakakku bersama suaminya, membawa kelima keponakanku berwisata menyusuri sebagian pulau Jawa. Tadinya, seperti tradisi tahun-tahun sebelumnya, aku akan berkunjung ke rumah teman dan kerabat, untuk menyambung tali silaturahim agar tetap terjalin. Tapi kelihatannya, tahun ini jadwalku berubah. Selama sepekan ini, kami akan 'berlibur' di Depok, dan kembali lagi ke Bandung ketika aku harus memenuhi jadwal piket liburan di sekolah. Cukup sehari saja. Setelah itu, segera kembali ke aktivitas belajar-mengajar bersama anak-anak. Siap bekerja kembali setelah di-recharge di masa libur lebaran ini. Bismillaah... semoga lancar.

Tuesday, August 05, 2008

Vario Tasya

Kisah kali ini, masih berkisar seputar pengalamanku dengan alat transportasi.
Sabtu 2 pekan lalu, ketika aku di Depok, kupinjam motor Tasya, keponakanku untuk kukendarai menuju Depok Town Center di Sawangan (yang pake acara nyasar tea... :p).
Pagi sebelum berangkat, kucek perlengakapan berkendaraku. Sepatu, cukup sporty dan nyaman dipakai, biarpun sudah cukup 'berumur'. Jaket, waterproof dan windproof yang kubawa dari Bandung, siap menghadapi terjangan angin saat bermotor-ria. Helm, oke juga, walaupun kacanya tak bisa diangkat. Selalu turun lagi menghalangi batas pandanganku, tapi justru melindungi mataku dari angin dan debu. Pelindung hidung dan mulut? Hm... kurasa tak begitu penting-lah. Sarung tangan? Sayang tak kubawa. Membayangkan jarak tempuh yang akan kujalani di bawah matahari pagi begitu, hm... kebayang deh belangnya warna kulit punggung tanganku berbanding dengan bagian lengan lainnya yang selalu tertutup.
Perjalanan pergi merupakan perjuangan karena adanya peristiwa nyasar sampai ke Bogor tea. Memarkir Vario hijau keponakanku di area parkir DTC seharian sempat membuatku cemas juga. Akankah aku mengenalinya saat akan mengendarainya pulang di sore hari nanti? Hihi...
Pendek kata, seusai acara di DTC, aku bergegas menuju tempat parkir untuk mengambil motor matic yang tadi membawaku ke sana. Posisi parkir sudah sedikit berubah, tapi aku masih bisa mengenali motor keponakanku dengan mudah. Kusiapkan jaket dan helm, lalu mulai mencoba menstarter motor itu. Eh... tak ada reaksi apapun. Kucoba beberapa kali, Vario hijau itu masih tetap 'bungkam'. Aku coba memancing kinerja mesin dengan starter pedal. Mesin tak juga menyala. Gerah juga nih aku. Kubuka kancing jaket, dan sebetulnya mulai panik juga. Ada apa sih dengan motor matic ini? Kusempatkan menelfon Tasya, menyanyakan masalah yang mungkin dia ketahui jalan keluarnya. Dia nggak jelas juga menyatakan sumber permasalahan yang mungkin akan jadi solusi. Hh... sekalinya minjem motor, dapat masalah begini deh.
Kucoba lagi menstarter motor matic yang memang belum familiar buatku. Beberapa kali menggenjot pedal starter, mesin Vario itu tak juga bergeming. Hampir putus asa aku, ketika seorang bapak dengan anak kecil lewat di dekatku, dan memberikan saran untuk mengangkat standar kecil motor itu. Standar besar yang lebih mantap memang sudah kupasang sebelumnya. Ketika aku akan mencoba lagi menggenjot pedal starter, bapak itu berkata tak perlu melakukannya. "Pakai starter otomatis saja, bu." katanya. Kutarik pedal rem di stang kiri, sesuai SOP rata-rata motor matic, lalu dengan berdebar harap, kutekan tombol starter otomatis di stang kanan, dan . . . brrrmm... mesin pun hidup dengan 'riangnya', seolah menertawakan kebodohanku. Halah... Untung saja aku tidak disangka pencuri motor. Penjaga parkir di sana mungkin maklum bahwa aku membawa motor pinjaman dan sangat tidak familiar dengan motor itu. Cepat kubawa Vario hijau itu dari pelataran parkir, menyembunyikan muka merahku di balik kaca helm yang relatif gelap. Langsung pulang ke Taman Depok Permai.

Salah Satunya... Kok Jadi Banyak.