Showing posts with label Horee.... Show all posts
Showing posts with label Horee.... Show all posts

Tuesday, September 29, 2009

Silaturahmi Tahunan

Beberapa tahun belakangan ini, masa-masa pasca-lebaran kami manfaatkan untuk bersilaturahmi. Kami sempatkan untuk berkunjung ke rumah Pak Rombang, mantan atasan kami. Beliau adalah mantan kepala sekolah di tempat aku mengajar dulu. Hal ini rutin kami lakukan setiap tahun. Tahun ini, pak Rombang juga bersiap-siap untuk ‘invasi’ kami ke kediaman beliau… Biarpun sudah berkali-kali berkunjung ke sana, sendiri ataupun bersama-sama, aku masih juga sering nyasar di kompleks besar itu. Tidak mudah memang menemukan jalan Pluto yang terletak di pelosok kompleks Margahayu Raya yang luas. Tahun ini, Alhamdulillah nggak nyasar lagi. Dua tahun lalu, kami saling mengajak teman, dengan pesan berantai, sms-an. Yuk, kita bersilaturahmi ke rumah pak Rombang. Tahun sebelumnya kami perempuan saja yang ke sana. Jadi nggak enak hati kan, sama istrinya. Biarpun mereka berdua sudah cukup sepuh, tapi tetep aja nggak enak hati ketika yang datang kok gadis-gadis semua. Haha…! Tahun berikutnya kami mengajak beberapa orang bapak rekan kerja kami untuk ikut berkunjung. Untungnya mereka setuju. Diaturlah waktu pertemuan yang tepat untuk itu. Bada dzuhur, sesudah makan siang, supaya nggak usah ngerepotin tuan rumah dengan acara menjamu kita-kita (huhuy… ke-GR-an amat ya? ;)) Di hari yang sudah disepakati, kami datang satu persatu ke kediaman beliau. Tidak berapa lama kemudian, kami sudah terlibat perbincangan seru. Segala macam topik bisa jadi bahan perbincangan. Mulai dari urusan birokrasi sekolah yang masih juga njelimet hingga urusan nyari sekolah lagi (Nerusin sekolah, maksudnya…). Mulai dari teman-teman yang masih aktif mengajar hingga yang sudah resign. Mulai dari urusan anak, keluarga, hingga perjuangan mencari pasangan hidup. Hah… susah ya kalau udah ngomongin yang satu ini. Soalnya, salah satu ‘korbannya’ adalah aku Sampailah saat adzan asar. Bapak-bapak pergi shalat ke masjid dekat rumah pak Rombang, sementara ibu-ibu numpang shalat di rumah. Yang nggak shalat, menemani ibu Rombang sambil bincang-bincang lebih jauh. Sepulangnya bapak-bapak dari masjid, perbincangan berlanjut lagi. Tentang masa kini dan masa lalu, tentang kenangan dan harapan, wah… pokoknya perbincangan nggak habis-habis deh. Sulit untuk menyudahi. Ketika kita sudah menggiring pembicaraan ke arah penutup untuk segera pamit, eh… addaaa aja yang nyambung lagi, bikin cerita jadi panjang lagi. Tak terasa, waktu maghrib pun tiba. Beneran deh, saatnya pamitan. Yak ampuuun, masih ada juga yang manjang-manjangin cerita. Niat mau pulang masih belum juga terlaksana. Sampai akhirnya.. pett!!! Mati lampu. Gelaplah sekitar. Ibu Rombang sibuk mencari lilin ke dalam, gelap-gelapan, sementara pak Rombang masih menemani kami di ruang tamu. Salah seorang kawan menyalakan lampu di ponselnya, dan masih juga melanjutkan berbincang. Nggak enak hati juga kita. Maksudnya, masa sih ketika suasana terang-riang kita ngobrol dan berbincang, tapi ketika lampu mati lantas kita pergi begitu saja. Rasanya kok ya kurang sopan gitu ya. Tapi memang harus pulang nih. Akhirnya ketika ibu Rombang sudah datang membawa lilin menyala, kita sepakat untuk pamitan pulang. Lagi, yang bapak-bapak pergi ke masjid untuk shalat di sana, sementara kami yang ibu-ibu shalat maghrib di Carrefour Kircon, nggak jauh dari rumah pak Rombang. Sekalian makan malam dan belanja. Mumpung deket… ;). Padahal sih memang dasarnya ibu-ibu, sukanya belanja melulu :p Jadi, kejadian tahun itu merupakan reuni sekaligus silaturahmi yang nyaris nggak berhenti-berhenti, diakhiri acara makan dan ketawa-ketiwi. Capek deh pipi. Tahun ini, kami berkunjung lagi. Dan masih juga… perbincangan nggak berhenti-berhenti. Kami sudah pamitan pun, pak Rombang masih juga ngajakin bincang-bincang di teras rumahnya (abis berfoto-foto tuh..) Jam setengah dua-an, akhirnya aku dan Intan baru berhasil meloloskan diri. Hihi… Bukannya nggak kangen, pak, tapi masih ada tujuan lain yang berencana kami datangi. Silaturahmi juga. Mumpung masih liburan nih. Kalau sudah masuk sekolah lagi, kan nggak bisa ke mana-mana selain ke kelas dan ketemu murid-murid.
Minal aidin wa faizin. Maaf lahir batin ya atas semua salah dan khilaf.

Saturday, September 26, 2009

Wisata Puntang

Hari pertama Idul fitri. Ritual tahunan, nyaris tak ada bedanya, kecuali dengan kedatangan sepupuku dari Jakarta yang tidak biasa. Kunjungan yang menghadirkan tanda tanya besar karena kali ini tanpa disertai keluarganya.
Hari kedua Idul fitri. Sementara anak-anak (baca: ponakan-ponakanku) ‘diungsikan’ ke rumah kakak, kami empat orang dewasa di rumah memanfaatkan ketiadaan mereka dengan beres-beres pasca-lebaran. Nyuci piring dan peralatan masak, nyuci baju, beres-beres rumah. Segar semua deh.
Hari ketiga Idul fitri, Selasa, 22 September 2009, rencana jalan-jalan keluarga telah disusun. Target: Area wisata Gunung Puntang, Banjaran. Catatan: lokasi ini sering jadi sasaran penggemblengan kami ketika masih jadi pramuka jaman SMP dan SMA. Aku dan kakak-kakak ipar sih serasa nostalgia aja ;)
Sekitar jam 9, kami bertolak. Konvoi 4 mobil, siap menuju kawasan Puntang. Aku menumpang mobil kakakku, sedan Honda City, bersama ibu dan satu kakak lainnya. Mobil kakak yang lain (Toyota Avanza) dikemudikan oleh kakak ipar, membawa istri, ketiga anaknya, dan 4 keponakan. Fully-loaded. Yang berikutnya, Suzuki Karimun hitam, dibawa oleh kakak ipar kakakku, sekeluarga, 4 orang, plus segala persediaan pangan ;) Yang terakhir, Mitsubishi carry merah yang relatif kosong, hanya diisi oleh suami-istri adik ipar kakakku. Dua anak mereka kan sudah menumpang di mobil kakakku. Cari serunya tuh.
Perjalanan tidak jauh. Tidak sampai satu jam, kami sudah sampai di lokasi. Jalan menanjak dan berkelok-kelok, membawa kami ke kaki gunung Puntang yang permai (halah...) Area Puntang masih relatif sepi di pagi Selasa itu. Kami menemukan sebuah lokasi landai beratap yang kami gunakan sebagai “base camp”. A Iwan alias papah akan menjaga base camp, sementara kami berjalan sedikit mendaki, ke area yang kami ingini. Mau ke mana...? Curug? Lapangan tenis masa silam (dibangun di jaman Belanda tuh...)? Kolam cinta (karena bentuk kolamnya menyerupai bentuk hati, walaupun kolam itu sudah tak berair dan tak digunakan lagi)? Kami pun mendaki hingga lokasi kolam cinta. Ibuku yang sudah nenek-nenek maupun keponakan kecilku yang belum lagi genap 3 tahun, masih bisa mendaki dan berjalan sendiri.
Berfoto-fotolah kami di sana. Melanjutkan perjalanan, ibu dan beberapa orang kakakku kembali ke base camp, sementara aku dan beberapa orang lainnya, plus seluruh keponakan berjalan lagi menyusuri jalan setapak untuk menemukan tepi sungai. Sungai kecil yang berair sangat jernih itu sangat mengundang keinginan untuk menceburkan diri ke dalamnya. Walaupun airnya dingin sekali, tapi keponakanku tak ragu untuk bermain-main di antara bebatuan besar itu. Pengalaman baru untuk mereka. Keponakan kecilku pun ikut berkecipak di air tenang. Setelah semua bajunya ditanggalkan (oleh sang ayah), dia dibiarkan untuk berjalan-jalan dan menjelajah sebagian kecil wilayah sungai itu, sementara kakak-kakak sepupunya asyik dan seru bermain air dengan segala gaya ;)
Dinginnya air membuat keponakan kecilku memuaskan diri dengan berjalan di air dangkal di antara bebatuan. Cipratan air dari aktivitas heboh kakak-kakaknya sempat membuatnya kesal. Tapi rupanya lama kelamaan dia tertarik juga untuk menjajal aliran sungai itu. Dia mulai dengan berjongkok di air dangkal. Pinggangnya ke bawah sudah basah, dan dia menyenangi arus kecil air sungai melintas di sekitarnya. Sementara itu kakak-kakaknya menemukan lokasi serupa kolam kecil dengan arus berbuih yang menyerupai kolam jacuzzi air dingin. Seru sekali mereka bertiga, para perjaka muda itu, bermain di dalamnya.
Sebelum tengah hari, kami berkemas dan kembali ke basecamp. Di perjalanan, si adik berucap, “Adik lapar...” Ha!!! Nggak biasanya dia begitu. Biasanya kalau jam makannya tiba, dia harus dibujuk atau dikejar-kejar dulu untuk makan, dan sekarang dia bilang lapar? Pasti efek dari kedinginan tuh. Kakak perempuannya juga kedinginan sampai ke tulang. Jelas aja, bajunya basah semua. Untunglah kita tidak begitu jauh dari base camp. Sesampainya di sana, segera saja mulut-mulut kecil itu lahap menyambut makanan yang disuapkan ke depan mereka. Lapar berat tuh, judulnya ;)
Selesai makan, ponakan-ponakanku ingin main air lagi. Maka turunlah mereka ke cabang sungai yang terletak agak di bawah base camp yang kita tempati. Main air lagi, tapi tak seseru sesi sebelumnya. Berfoto-ria, nggak lupa dong, tapi tidak dengan kameraku. Low batt se-low-low-nya membuat kameraku tak berguna di sesi siang itu. Tapi pengalaman bahagia di hari lebaran itu toh sudah terekam dan tersimpan di memory card dalam kameraku, siap untuk di-upload ke album foto facebook-ku. Wisata Puntang, judulnya.
Segera setelah kupasang dan kuberi komentar pendek-pendek di setiap fotonya, komentar dari teman-teman spontan berdatangan, menyatakan kekaguman. Sungai jernih yang alami, lengkap dengan batu-batu besar begitu, di mana lagi bisa ditemui? Setelah jenuh dengan suasana kota dengan hutan beton, hutan pinus tentu akan jadi penyejuk mata. Pemandangan sungai kotor penuh sampah yang melintas di tengah kota sebagai ‘santapan’ sehari-hari, tentu akan menyenangkan bila bisa menghapusnya sejenak dari pelupuk mata, digantikan dengan pemandangan alam segar tepi sungai yang masih alami. Siapa yang tidak tertarik, coba...? Ayo deh, siapa mau ikut wisata Puntang, aku mau deh jadi guide-nya ;)

Salah Satunya... Kok Jadi Banyak.