Thursday, December 25, 2008
Kematian Hati
Tuesday, August 12, 2008
Muslim Paripurna
oleh : Lukman Hakim
Nabi Muhammad SAW telah bersabda, ''Bila anak Adam meninggal, terputus (pahalanya) dan amalnya kecuali tiga hal, yaitu amal jariyah, ilmu yang bermanfaat, serta anak yang shaleh dan mendoakannya.'' (HR Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Nasa'i, dan Ahmad).
Hidup hanya sekali, hiduplah yang berarti. Ungkapan ini dapat menjadi penyemangat hidup bagi setiap manusia. Untuk mencapai hidup yang berguna, berarti harus memiliki kualitas hidup yang mapan. Orang yang menjalani hidup berkualitas adalah mereka yang memiliki derajat kemuliaan, yakni orang yang memiliki tingkat ketakwaan yang tinggi kepada Allah SWT, melintasi usia, profesi, jabatan, keturunan, dan seterusnya. (Lihat QS Alhujurat (49): 13).
Dunia adalah jalan menuju akhirat; yakni sebuah tujuan akhir bagi kehidupan manusia. Bagi seorang Muslim, untuk menjadi orang yang berkualitas harus memadukan dua kehidupan ini (dunia dan akhirat).
Berdasarkan hadis di atas, terdapat tiga komponen utama yang harus dimiliki seorang Muslim, yakni aspek finansial (amal jariyah), aspek intelektual (ilmu yang bermanfaat), dan aspek spiritual (yang direpresentasikan oleh anak shaleh). Ketiga hal tersebut adalah simbol keberhasilan bagi seorang Muslim paripurna.
Setiap Muslim dianjurkan untuk mengombinasikan ketiga-tiganya dan tidak ada keharusan memilah ataupun memilih salah satu dari ketiganya. Menjadi intelek tidak harus lemah dalam hal spiritual dan finansial. Menjadi ahli ibadah tentu pula harus kuat intelektual dan finansial. Begitu pula menjadi orang kaya, harus intelek, dan ahli beribadah.
Dalam hadis lain disebutkan, ''Sesungguhnya dunia itu diperuntukkan untuk empat orang, yaitu (1) Seorang hamba yang dikaruniai oleh Allah rezeki dan ilmu, tetapi dia bertakwa kepada-Nya dan baik hubungannya dengan manusia serta mengetahui hak Allah dalam hartanya. Maka, orang ini merupakan kelompok manusia yang paling utama; (2) Orang yang diberi ilmu saja, tapi tidak diberi harta (yang banyak). Tetapi, dia mempunyai niat yang baik. Dia mengatakan, 'Seandainya aku mempunyai harta, pasti aku akan menggunakannya seperti yang dilakukan oleh si anu, maka dengan niat yang bagus itu keduanya sama dalam besar pahalanya; (3) Manusia yang diberi harta, tapi tidak diberi ilmu. Dia pergunakan hartanya semaunya tanpa ilmu.
Dia tidak bertakwa kepada Tuhan-Nya dan tidak baik hubungannya dengan sesamanya. Serta, tidak mengetahui dan tidak memenuhi hak Allah, maka orang seperti ini adalah manusia yang paling buruk kedudukannya. Dan, (4) Orang yang tidak diberi rezeki dan tidak pula diberi ilmu. Dia mengatakan, 'Jika aku mempunyai harta yang banyak, pasti aku akan melakukan seperti yang dilakukan oleh si anu, dengan niatnya seperti itu, kedua orang (terakhir) ini dosanya sama.'' (HR Ahmad).
Begitulah salah satu tuntunan Islam, agama yang menjadi rahmat bagi seluruh alam.
Saturday, August 09, 2008
Menuduh dan Membantah
oleh: Abduh Zulfidar Akaha
Menuduh mudah dilakukan, namun sangat berat konsekuensinya, baik bagi si penuduh maupun sang tertuduh. Yang paling berat dalam perkara menuduh adalah menuduh orang berzina. Jika tuduhannya benar, di mana dia bisa menghadirkan empat orang saksi, si tertuduh bisa dihukum. Adapun jika tuduhan tidak terbukti, si penuduh dapat dihukum dan kesaksiannya tidak boleh diterima selamanya. (Lihat QS Annur [24]: 4).
Banyaknya orang pandai bersilat lidah, baik dalam menuduh maupun membantah, inilah yang membuat Rasulullah SAW bersabda, ''Sesungguhnya, kalian banyak mengadukan perkara kepadaku, sedangkan aku juga manusia. Bisa jadi, sebagian kalian lebih pandai beralasan dibanding yang lain. Maka, barang siapa yang aku menangkan perkaranya dengan menzalimi saudaranya karena dia pintar bicara, sungguh yang aku berikan adalah potongan api neraka. Oleh sebab itu, janganlah dia mengambilnya.'' (Muttafaq Alaih).
Nabi sendiri bisa salah dalam membuat keputusan yang sifatnya duniawi, apalagi umatnya. Dalam hal ini, Allah-lah yang akan memutuskannya dengan segala keadilan dan ke-Mahatahu-annya, baik saat masih di dunia maupun kelak di akhirat: siapa yang salah dan siapa yang benar.
Adalah Said bin Zaid, salah seorang sahabat Nabi, dia pernah diadukan oleh seorang perempuan tua kepada penguasa. Perempuan ini menuduh Said telah merampas tanah miliknya. Saat dikonfirmasi, Said mengatakan bahwa dia pernah mendengar Nabi bersabda, ''Barang siapa mengambil sejengkal tanah yang bukan haknya, Allah akan membenamkannya ke dalam tujuh lapis bumi pada hari kiamat.'' (Muttafaq Alaih).
Lalu Said berkata, ''Silakan perempuan itu datang dan mengambil tanah yang diklaimnya. Kalau dia berdusta, semoga Allah membutakan matanya dan mematikannya di tanah tersebut.'' Benar, tidak lama setelah itu, mata si perempuan ini pun buta. Dan, pada suatu malam, ketika dia pergi ke tanah tersebut, dia terpeleset dan jatuh ke dalam sumur, lalu meninggal. Menuduh bukan asal bicara, dia mesti memiliki bukti. Nabi bersabda, ''Yang menuduh harus memberikan bukti dan yang dituduh harus bersumpah.'' (HR At Tirmidzi).
Sekiranya, masing-masing pihak bisa memberikan bukti dan menghadirkan saksi serta pandai berdalih. Maka, yang paling mendekati kebenaranlah yang dimenangkan. Begitulah pesan agama kita tentang perkara ini. Bahwa, mulut harus dijaga, untuk tidak asal bersuara. Bahwa, asal menuduh sangat berat pertanggungjawabannya, baik di dunia maupun di akhirat.
Belajar dari Al Kindi

(Kali ini, copy-paste dari Republika.or.id, edisi Jumat, 08-08-08)
Dalam buku kecilnya yang berjudul Fi Al Hilah li Daf'i Al Ahzan (Kiat Melawan Kesedihan), Al Kindi mendefinisikan kesedihan sebagai gangguan psikis (neurosis) yang terjadi karena kehilangan hal-hal yang dicintai dan sangat diinginkan.
Orang yang menjadikan kecintaan dan keinginan yang bersifat indriawi, maka ia akan menjadi sedih jika kecintaan dan keinginan yang bersifat indriawi itu hancur, hilang, atau musnah. Termasuk, dalam hal itu adalah kecintaan akan kekasih, orang tua, anak, keluarga, warisan, harta benda, jabatan, dan sebagainya.
Manusia akan selalu mengalami kehilangan sesuatu yang dicintainya. Oleh karena itu, kita tidak boleh bersedih karena kehilangan sesuatu atau kehilangan yang kita cintai. Sebaliknya, kita harus membiasakan diri dengan kebiasaan yang mulia dan rela terhadap segala keadaan agar selalu bahagia.
Karena, kesedihan adalah gangguan psikis. Maka, kita harus mencegah gangguan psikis ini sebagaimana kita mencegah gangguan fisik. Menurut Al Kindi, menyembuhkan gangguan psikis lebih penting karena kita memiliki jiwa, sedangkan fisik hanyalah alat bagi jiwa. Tindakan fisik menjadi suci karena tindakan jiwa. Maka, intinya lebih baik memperbaiki jati diri kita dibanding memperbaiki alat (fisik) kita.
Kemudian, ia mengatakan, ''Kita harus sabar dalam memperbaiki diri melebihi kesabaran kita dalam menyembuhkan gangguan fisik.'' Apalagi, penyembuhan jiwa lebih ringan dari segi biaya dan ketidaknyamanan dibanding gangguan fisik. Perbaikan diri hanya dapat dilakukan dengan kekuatan tekad atas orang yang memperbaiki diri kita, bukan dengan obat yang diminum, bukan dengan deraan besi ataupun api, bukan pula dengan uang. Tetapi, lakukan dengan disiplin diri dan kebiasaan yang terpuji dari hal-hal kecil dan sepele. Kemudian, meningkat pada tahap pembiasaan pada hal-hal yang lebih besar.
Sesungguhnya, manusia cenderung ingin memiliki banyak hal yang tidak primer dalam menegakkan jati dirinya dan kebaikan hidupnya. Semua itu membuatnya menderita dalam mencarinya, bersedih karena kehilangannya, dan menyesal karena berlalunya.
Padahal, apa yang kita klaim sebagai 'milik' adalah titipan Allah dan Allah bisa mengambil titipan itu kapan saja jika Dia mau. Kita tidak boleh bersedih karena kehilangannya. Mahabenar firman Allah SWT dalam surat Albaqarah (2) ayat 155-156, ''Dan, sesungguhnya akan Kami beri cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan, berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji'uun (sesungguhnya kita itu milik Allah dan kepada Allah-lah kita kembali).''
Thursday, August 07, 2008
Belajar dari Penjual Arum Manis

Sabtu, 26 April 2008, pukul 12.00 pas. Terik matahari persis menerpa kepala, panasnya luar biasa. Hari itu ada kegiatan Hari Bumi di sebuah sekolah. Berbagai kegiatan digelar, mulai dari penampilan siswa, presentasi tentang global warming dan tanam seribu pohon.
Menjelang acara usai, perhatianku tertuju pada kerumunan anak-anak di bawah pohon, dekat pintu masuk sekolah. Riuh rendah suara anak-anak menambah rasa penasaran. Sambil menyeka peluh, kuayunkan langkah kecil mendekati kerumunan. Tampak seorang Bapak – sudah renta – kerepotan melayani anak-anak yang ingin membeli arum manis dan yoyo. Arum manis seharga Rp 1.000,- terbuat dari gula pasir ditambah sedikit zat pewarna. Sementara yoyo yang dijual, bukan dari kayu tetapi dari balon kecil (sebesar bola tenis meja) yang diisi air dan diikat dengan tali elastis, dijual dengan harga Rp 1.000,-.
“Anak-anak, ambilnya yang teratur, jangan lupa uangnya,” terdengar suara parau sang penjual mengingatkan anak-anak yang berebut. Melihat kerumunan yang tak terkendali, kutawarkan bantuan kepada beliau untuk membantu melayani. “Boleh saya bantu melayani Pak,” ujarku menawarkan diri. “Oh.., terima kasih Nak,” sahutnya sambil memasukkan arum manis yang selesai dimasak ke dalam kantong plastik. Sambil berteriak mengingatkan anak-anak untuk antri, aku pun menjadi ‘tenaga salesman’ arum manis dan yoyo dadakan.
Tak sampai setengah jam, terkumpul uang Rp 30 ribu. Ada kepuasan batin yang tak terkira bisa memberikan sedikit Epos (energi positif) membantu Pak Udin penjual arum manis. “Gimana Pak, ramai jualannya?” tanyaku sambil membantu membereskan dagangan. “Alhamdulillah, hari-hari biasa bisa membawa uang ke rumah Rp 25.000,-, kalau ada acara semacam ini mudah-mudahan bisa sampai Rp 50.000,-,” ujarnya sambil tetap menebar senyum.
“Tetapi saya sedih Nak, tadi ada anak beli yoyo dan arum manis harganya Rp 2.000,-. Ia memberi Rp 5.000,-. Belum sempat saya mengembalikan sisa uangnya, ia sudah berlari entah ke mana. Jadi saya pegang uang Rp 3.000,- yang bukan hak saya. Bagaimana cara saya mengembalikannya, ya?”, ujarnya sedih. Tersentak batin ini mendengar keluhannya. Ada cerminan hati sebening kaca, kejujuran dan khawatiran dari raut wajahnya. Diam seribu bahasa, itulah yang aku lakukan, rasa kagumku semakin bertambah. Setelah berpikir sejenak, “Baik Pak, saya akan bantu mengumumkan lewat pembawa acara yang ada di panggung,” sahutku menawarkan solusi. Belum sempat aku melangkah ke panggung, tiba-tiba datang seorang ibu dan anaknya yang ternyata belum mengambil uang kembalian tadi. “Alhamdulillah, ucap Pak Udin berseri-seri. Saya tidak jadi membawa uang yang bukan hak saya,”.
Aku pun pamit meninggalkan Pak Udin dengan perasaan bahagia. “Ini arum manis dan yoyo untuk oleh-oleh anak-anak di rumah,” katanya sebelum kami berpisah. “Terima kasih Pak,” sahutku sambil menolak pemberiannya.
Subhanallah, hari itu kami belajar tentang kejujuran dan indahnya berbagi dari pribadi yang luar biasa yang semangat dan nuraninya patut diteladani, Pak Udin penjual arum manis. (Setiyo Iswoyo)
MENYIKAPI REJEKI
Nabi Musa menyaksikan seorang fakir, yang karena kefakirannya tidur di atas tanah padang pasir tanpa baju. Setelah beliau mendekatinya, si fakir berkata, “Wahai Musa, mohonlah kepada Allah agar memberi saya sedikit rejeki yang dapat membebaskan saya dari kemiskinan ini”.Karena perihatin melihat kondisi si fakir, Nabi Musa lalu memohon kepada Allah agar dikaruniakan kepadanya rejeki yang diperlukannya, lalu beliau segera melanjutkan perjalanannya ke gunung untuk bermunajat kepada Allah Swt.
Hari berikutnya, Nabi Musa pulang melalui jalan yang sama dan melihat si fakir yang telah dia doakan dalam keadaan terikat, babak belur dan dikelilingi oleh sekelompok orang.
Nabi Musa as bertanya, “Apa yang telah terjadi?” Mereka menjawab, “Baru saja dia mendapatkan uang, lalu digunakannya untuk minum arak sampai mabuk dan melakukan penyerangan hingga membunuh seseorang. Dan sekarang mereka menangkapnya untuk melaksanakan hukum qishash dan menggantungnya”.
Rejeki merupakan salah satu nikmat Allah, sekaligus amanah yang cukup berat dari Allah Swt. Acapkali, ketika seseorang mendapatkan rejeki, mereka lupa diri, terkunci hatinya untuk bersyukur atas anugerah Allah tersebut. Allah SWT memperingatkan bahaya bagi orang yang tidak memanfaatkan rejeki sesuai syariat-Nya, “Dan jikalau Allah melapangkan rejeki kepada hamba-hamba-Nya, tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi”.
Rasulullah Saw bersabda: “Rejeki itu mengejar seorang hamba dengan cepat, melebihi kematiannya”. Tidak ada binatang melata di muka bumi ini yang Allah tidak menentukan rejekinya, dan tidak ada jiwa yang mati melainkan dia telah memakan makanan terakhir yang ditakdirkan atasnya. Manusia dalam memenuhi seluruh kebutuhan hidupnya, harus berusaha mencari rejeki dengan cara halal. Jika dia telah berusaha tetapi masih mendapat kekurangan, jangan sampai ada pikiran untuk mencarinya dengan cara yang haram. Sebaik-baik cara menghadapi kekurangan ini adalah bersabar dan tetap bersyukur kepada-Nya.
Setiap manusia memiliki cara khusus dalam mencari rejeki; sebagian menjadi saudagar dan berdagang, sebagian menjadi kuli angkut barang, sebagian menjadi pegawai, dan jika seseorang tidak merasa puas dan cukup dengan pembagian ini, maka dia akan dihinggapi oleh sifat hina, tamak dan serakah. Dan demi memuaskan keserakahannya itu dia akan melakukan berbagai perbuatan haram demi mendapatkan apa yang diinginkannya. Dan tidak ada cara lain untuk menghindarkan diri dari perbuatan tercela ini, melainkan dengan bertawakkal dan menyerahkan diri kepada Allah Swt.
Sebaik-baik cara mencari rejeki Allah SWTadalah dengan berikhtiar dengan segenap daya dan upaya di jalan yang halal dan diridhoi Allah. Mengiringi setiap upaya kita dengan untaian doa dan amal sholeh. Secara konsisten dengan penuh keikhlasan mencari jalan menggapai rejeki halal, dan selalu bersyukur di kala dikaruniai rejeki ataupun tidak diberikan rejeki, karena Allah SWT tidak pernah mendzalimi hamba-Nya.
Tahap selanjutnya untuk mendapatkan keberkahan rejeki adalah, sucikan rejeki kita dengan zakat, sedekah dan berbagi dalam bingkai keikhlasan kepada dhu’afa. Pilih dan pertimbangkan manfaat terbaik dalam pemberian tersebut, sehingga mereka benar-benar mendapatkan solusi terbaik. Dan berikanlah dengan penuh kerendahan dan pengabdian karena sejatinya ketika kita berbagi, kita sedang menyambut ‘uluran tangan Tuhan’.
-
Alhamdulillah, harus sering-sering bersyukur atas nikmat sehat yang hampir sepanjang tahun aku nikmati. Aku termasuk kategori orang yang ja...
-
Belakangan ini, blogging buatku jadi sarana untuk curcol aja. Lama nggak update , ketemu tantangan bertema fashion di bulan Juli. Hayulah ki...
-
Mengenang saat jalan-jalan di Osaka kouen Lihat dinamika timeline teman-teman di medsos, terlihat ramai dengan aktivitas jalan-jalan sa...