Showing posts with label hikmah. Show all posts
Showing posts with label hikmah. Show all posts

Tuesday, March 17, 2009

Benci karena Disinformasi

By Jalaluddin Rakhmat
Selasa, 16 Desember 2008 pukul 14:39:00
Kira-kira 40 tahun setelah Rasul Allah SAW wafat salah seorang penduduk Syam pergi ke Madinah al-Munawwarah untuk menziarahi makamnya. Di situ ia berjumpa dengan seorang penunggang kuda yang tampan dan berwibawa. Di sekitarnya berkumpul sahabat-sahabatnya, siap untuk melaksanakan segala perintahnya.
Ketika orang Syam itu diberitahu bahwa orang itu Hasan bin Ali bin Abi Thalib, bangkitlah amarahnya. Di mimbar-mimbar Jumat di Syam ia sudah sering mendengar para khatib menerangkan kejelekan keluarga Ali. ''Jadi inilah anak Abu Turab yang keluar dari Islam itu?'' kata orang Syam itu sambil menyusulnya dengan memaki Hasan, ayahnya, dan keluarganya.
Mendengar itu sahabat-sahabat Hasan menghunus pedang untuk membunuhnya. Tapi Hasan melarang mereka. Dengan ramah beliau menyapa orang Syam itu, ''Tampaknya Anda orang asing di sini, wahai Saudaraku orang Arab?''
Orang Syam menjawab, ''Benar, aku dari Syam. Aku pengikut Amirul Mukminin dan Pemimpin kaum Muslim, Muawiyyah bin Abi Sofyan.''
Hasan mendesaknya untuk menjadi tamu. Selama beberapa hari dijamunya dan dihormatinya orang Syam itu. Pada hari yang keempat orang Syam itu tampak menyesali perbuatannya. Ia merunduk dan menciumi jari-jemari Hasan. Ia memohon maaf atas apa yang dilakukannya sebelum itu.
Hasan melirik kepada sahabat-sahabatnya. ''Kemarin kalian bermaksud membunuhnya, padahal ia tak bersalah. Ia korban disinformasi. Sekiranya ia mengetahui kebenaran, ia tidak akan memusuhinya. Kebanyakan orang Islam di Syam seperti itu.''
Kemudian Hasan membaca firman Allah: ''Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah kejahatan itu dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.'' (Q. S. 41: 34)
Tidak jarang kita membenci sesama Muslim karena kita mendengar berita yang jelek mengenai dirinya. Jangan-jangan, pertengkaran di antara kita selama ini terjadi karena proses disinformasi. Marilah kita memaklumi orang yang membenci kita karena disinformasi. Balaslah makian mereka -- yang dilakukan karena ketidaktahuan -- dengan lapang dada dan keramahan. Mudah-mudahan Allah mengubah mereka menjadi sababat-sahabat kita yang setia.- ah
Ya Allah... sungguh sulit menjadi orang baik itu. Ketika orang (mungkin) benci kita karena kurangnya informasi tentang kita, ternyata memberikan informasi yang tepat juga tidak mudah, sehingga mereka pun sulit mengubah sikap mereka. Atau ketika kita kurang informasi tentang satu-dua orang, dan kita jadi benci padanya, sungguh sulit pula untuk mencari informasi yang benar tentang mereka. Berilah petunjuk agar selalu dapat menemukan informasi yang benar, dan agar dapat selalu mencinta atau membenci karena-Mu saja.

Thursday, March 05, 2009

Pengujian

Ambil dari Republika online
By Danarto
Selasa, 13 Januari 2009 pukul 14:00:00

Allah menguji hamba-Nya dengan musibah, sebagaimana seseorang menguji kemurnian emas dengan api. Jika yang terlihat emas murni, itulah orang yang dilindungi Allah dari keragu-raguan. Jika mutunya kurang dari itu, pertanda ia orang yang bimbang dan ragu. Dan jika yang terlihat seperti emas hitam, itulah orang yang benar- benar ditimpa fitnah dan musibah - Nabi Muhammad SAW
Tidak dengan sendirinya jika seorang hamba menyatakan dirinya beriman, ia bebas dari pengujian. Tidak dengan sendirinya jika seorang hamba menyatakan dirinya siap diuji, lalu ia bebas dari rasa takut dari pengujian itu. Memahami pengujian iman adalah memahami kekuasaan Allah. Kesadaran yang paling puncak ketika kita memahami Alquran adalah kepasrahan kepada Tuhan.
Iman dan rasa takut itu bersanding sehingga keduanya saling memandang. Barangkali ada tenggang rasa. Memang, rasa takut yang dikaruniakan kepada setiap makhluk itu merupakan kendala terbesar dalam menempuh lautan iman. Bagaimana iman yang besar yang didampingi keberanian yang besar pula, dapat kita miliki dalam beribadah, itulah soalnya.
Sebenarnya, apa pun nasib kita, kita layak bersyukur karena nasib itu Allah sendiri yang memberikannya. Tidak hanya berwujud musibah, pengujian itu juga berwajah keuntungan. Alhamdulillah. Hadis riwayat At-Thabrani yang dikutip di atas selalu mengingatkan kita bahwa Allah Maha Mengetahui atas seluruh aktivitas makhluknya. Bahkan ketika kita dikaruniai kekuasaan -- sebagai presdir maupun ketua RT -- kita justru sedang masuk ke laboratorium pengujian Allah itu. Kita menjadi pemimpin yang baik atau sebaliknya. Iman dan ketakutan, pengujian dan keputusasaan, seperti jalin-menjalin.
Begitu besar sesungguhnya tanggung jawab dan pengujian yang dibebankan seorang pemimpin, sampai-sampai kita ingat Abu Bakar Al-Shiddiq yang pernah berpidato: ''Mereka yang paling sengsara di dunia dan di akhirat adalah para raja! Apabila seorang raja memiliki sesuatu, maka Allah akan menjadikannya selalu tak puas. Muak akan apa yang dimilikinya, tapi rakus terhadap apa yang digenggam orang lain.''
''Ia memperpendek masa hidupnya dan mengisi hatinya dengan kecemasan. Karena raja tidak puas bila mendapat sedikit, namun sakit hati kalau mendapat banyak. Ia bosan akan hidup enak dan keindahan tak lagi menarik baginya. Tak ubahnya seperti uang palsu atau fatamorgana, ia tampak ceria tapi gundah-gulana batinnya. Dan bila ia meninggal dunia, akan ditimpa hisab yang keras, dengan sedikit pengampunan. Sesungguhnya raja adalah orang yang patut dikasihani!'' - ah

Wednesday, February 11, 2009

Kita, Cina, dan India (Renungan Tragedi Demo Sumut)

Dikutip dari Republika Jumat, 06 Februari 2009 pukul 06:56:00
Oleh: Zaim Uchrowi

Berangkatlah dengan damai ke hadirat Ilahi, saudaraku Abdul Aziz Angkat! Engkau bukan korban. Engkau pahlawan meskipun keluarga memilih memakamkanmu di pekuburan biasa. Kepahlawananmu kau tunjukkan dengan kematian yang menjadi penanda bagi seluruh bangsa ini: Moralitas macam apa yang kita miliki sekarang ini sebagai bangsa?

'Pemekaran'. Itu kata indah yang dalam beberapa tahun terakhir menari-nari di benak banyak orang di seluruh Nusantara. Ada argumen indah di balik kata itu. Buat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Tapi, tak sedikit pula permainan kepentingan yang ada di balik kata dan alasan indah itu. 'Pemekaran daerah' berarti memperbanyak jabatan serta kesempatan menyedot dana publik. Akan ada jabatan gubernur, bupati, dan wali kota baru. Akan banyak kursi baru di dinas-dinas, juga di lembaga legislatif. Akan muncul pula orang-orang kaya baru.

Akankah rakyat umum teruntungkan dari 'pemekaran'? Tak selalu. Tak sedikit provinsi, kabupaten, serta kota hasil pemekaran yang sampai sekarang belum layak sebagai provinsi, kabupaten, dan kota semestinya. Tak sedikit pemekaran yang lebih didorong kepentingan elite. Berbagai cara akan ditempuh untuk mengegolkan pemekaran. Termasuk, bila perlu, dengan aksi demo anarkis. Entah apakah hal ini pula yang terjadi pada aspirasi pemekaran Provinsi Tapanuli. Yang pasti, penyampaian aspirasi itu telah berkembang anarkis hingga engkau, Ketua DPRD Sumatra Utara, mengembuskan napas terakhirmu.

Memang seburuk inikah wajah kita saudaraku? Budaya macam apa yang sebenarnya kita miliki saat ini? Dengan budaya yang ada, bagaimana kita dapat menjadi bangsa besar? Bagaimana kita mampu berdiri tegak dan bermartabat sebagaimana India, Cina, apalagi Amerika di tengah kompetisi global yang kian ketat ini? Ataukah kita telah menikmati, lantaran terbiasa, terus berkubang dengan berbagai persoalan? Termasuk dengan pertikaian demi pertikaian? Amerika, Cina, dan India punya modal jelas untuk dapat berjaya di kancah global.

Dengan hegemoni politik dan budayanya, Amerika akan terus mencetak dolar, mengekspor film, musik, budaya makan, program teknologi informasi, serta senjata ke pasar dunia buat memakmurkan dirinya. Cina memiliki masyarakat pekerja superkeras yang mampu mengembangkan industri manufaktur yang menguasai dunia. Maka, di tengah resesi sekarang, pun mereka terus berekspansi untuk menguasai pasar Afrika. Juga, agresif merebut energi di seluruh dunia. Sedangkan, India akan terus tertopang oleh jejaring para profesionalnya yang menguasai lembaga-lembaga serta perusahaan-perusahaan dunia.

Hingga 64 tahun merdeka, kita belum punya modal jelas buat berjaya di dunia. Kita masih bergelut dengan persoalan-persoalan lama, juga tetap mempertahankan perilaku-perilaku lama. Rumitnya pula, kita tidak merasa ada yang keliru dengan keadaan bangsa. Kita tak merasa perlu ada yang diubah dari bangsa ini. Kita tak merasa perlu mendesak para pemimpin, serta seluruh kekuatan politik, untuk bekerja keras mencari jalan baru bagi Indonesia. Kita bukan penguasa seperti Amerika, bukan pekerja keras macam Cina, juga belum jadi profesional global seperti India. Apa yang akan kita andalkan buat mengatasi kemiskinan, keterbelakangan, kemerosotan lingkungan, serta moral yang ada?

Saudaraku Abdul Aziz Angkat, kematianmu mengingatkan bahwa saat ini kita masih terlena. Kita, para akademisi, budayawan, wartawan, profesional, rohaniwan, serta para pendidik, ini masih terus menangguk keuntungan dari kecentangperenangan yang ada. Kita belum sungguh-sungguh berusaha mentransformasi bangsa ini menjadi bangsa maju yang mampu menyejahterakan dan menenteramkan seluruh rakyatnya. Jalan kematianmu adalah jalan syuhada atas bakal terjadinya perubahan mendasar Indonesia.*

Saturday, December 06, 2008

Perangkap Tikus Di Ladang Pertanian

diambil dari www.darulbayan.com
Oleh khairilmustapha
Rabu, 10 September 2008
Seekor tikus mengintip di sebalik celah di tembok untuk mengamati sang petani dan isterinya membuka sebuah bungkusan. Ada makanan fikirnya?
Dia terkejut sekali, ternyata bungkusan itu berisi perangkap tikus. Lari kembali ke ladang pertanian itu, tikus itu menjerit memberi peringatan, "Awas, ada perangkap tikus di dalam rumah, awaslah, ada perangkap tikus di dalam rumah!"
Sang ayam dengan tenang berkokok dan sambil tetap menggaruk tanah, mengangkat kepalanya dan berkata, "Ya maafkan aku, Pak Tikus, aku tahu ini memang masalah besar bagi kamu, tapi buat aku secara peribadi tak ada masalahnya. Jadi jangan buat aku peninglah."
Tikus berbalik dan pergi menuju sang kambing, katanya, "Ada perangkap tikus di dalam rumah, sebuah perangkap tikus di rumah!"
"Wah, aku menyesal dengar khabar ini," si kambing menghibur dengan penuh simpati, "Tetapi tak ada sesuatupun yang bisa kulakukan kecuali berdoa. Yakinlah, kamu sentiasa ada dalam doa doaku!"
Tikus kemudian berbelok menuju si lembu.
"Oh? sebuah perangkap tikus, jadi saya dalam bahaya besar ya?" kata lembu itu sambil ketawa.
Jadi tikus itu kembalilah ke rumah, kepala tertunduk dan merasa begitu patah hati, kesal dan sedih, terpaksa menghadapi perangkap tikus itu sendirian.
Malam itu juga terdengar suara bergema diseluruh rumah, seperti bunyi perangkap tikus yang berjaya menangkap mangsanya. Isteri petani berlari pergi melihat apa yang terperangkap. Di dalam kegelapan itu dia tak bisa melihat bahawa yang terjebak itu adalah seekor ular berbisa. Ular itu sempat mematuk tangan isteri petani itu.
Petani itu bergegas membawanya ke hospital. Dia kembali ke rumah dengan demam. Sudah menjadi kebiasaan setiap orang akan memberikan pesakitdemam panas minum sup ayam segar, jadi petani itu pun mengambil goloknya dan pergilah dia ke belakang mencari bahan bahan untuk supnya itu.
Penyakit isterinya berlanjutan sehingga teman teman dan jiran tetangganya datang menjenguk, dari jam ke jam selalu ada saja para tamu. Petani itu pun menyembelih kambingnya untuk memberi makan para pengunjung itu.
Isteri petani itu tak kunjung sembuh. Dia mati, jadi makin banyak lagi orang orang yang datang untuk pengkebumiannya sehingga petani itu terpaksalah menyembelih lembunya agar dapat menjamu makan orang orang itu.

Moral kisah ini:
Apabila kamu dengar ada seseorang yang menghadapi masalah dan kamu fikir itu tiada kaitan dengan anda, ingatlah bahawa apabila ada 'perangkap tikus' didalam rumah, seluruh 'ladang pertanian' ikut menanggung risikonya .
Sikap mementingkan diri sendiri lebih banyak keburukan dari baiknya.

Saturday, September 20, 2008

Ubahlah Bersama Allah (3)

Oleh Yusuf Mansur
(Dikutip dari rubrik Hikmah, Republika.co.id)

Berani menerima tantangan untuk berubah, insya Allah kita akan berubah.
Allah 'menantang' kita untuk memberikan balik rezeki yang diberikan-Nya untuk Allah (baca: bersedekah). Sesiapa yang bersedia memberi, Allah menyediakan penggantinya; yang lebih banyak, yang lebih baik. Sayang, tidak semua orang berani menerima tantangan-Nya, dan karenanya pula tidak semua bisa menikmati janji Allah.
Juga dalam hal tantangan shalat. Allah tunggu kita di penghujung malam. Sesiapa yang bisa bangun malam, Allah janjikan perubahan derajat, naik ke derajat yang lebih tinggi. Sayang juga, tidak semua orang tahu lalu bersedia bangun malam. Sebagaimana tidak semua orang tahu tentang sedekah lalu berani bersedekah. Khususnya sedekah yang terbaik.
Petugas keamanan yang kita angkat kisahnya sebagai ''orang-orang yang berubah bersama Allah,'' menerima tantangan ini. Di tulisan yang terdahulu, saya membacakan ayat-ayat Allah padanya; ayat-ayat tentang shalat dan sedekah.
Subhanallah, sekuriti ini menyambut tantangan tersebut. ''Innamal mu'minuunal ladziina idzaa dzukirallaahu wajilat quluubuhum'', sesungguhnya mereka yang beriman ialah yang ketika diingatkan akan ayat-ayat Allah bergetar hatinya.''
Maka, ia siap kasbon gaji bulan depan dan disedekahkan. Dia tidak pasrah pada janji Allah, tapi yakin pada janji itu.
Shalatnya juga dibenahi. Ia menjaga supaya shalat dilakukan berjamaah, ada qabliyah ba'diyah, dan sebisa mungkin melakukan duha, tahajud, dan witir. Saya menambahkan satu hadis, ''Awtiruu, witirlah kalian fa-illam tawtiruu, barang siapa yang tidak witir, falaisan minnii, maka ia bukan dari golonganku.'' (Muttafaq 'Alaih).
Pembaca Republika yang dirahmati Allah, insya Allah kita akan menemukan jawaban ''Berubah Bersama Allah'' ini pekan depan. Kita akan menemukan jawaban bahwa janji Allah itu benar adanya.

Saturday, August 09, 2008

Menuduh dan Membantah

oleh: Abduh Zulfidar Akaha

Menuduh mudah dilakukan, namun sangat berat konsekuensinya, baik bagi si penuduh maupun sang tertuduh. Yang paling berat dalam perkara menuduh adalah menuduh orang berzina. Jika tuduhannya benar, di mana dia bisa menghadirkan empat orang saksi, si tertuduh bisa dihukum. Adapun jika tuduhan tidak terbukti, si penuduh dapat dihukum dan kesaksiannya tidak boleh diterima selamanya. (Lihat QS Annur [24]: 4).

Banyaknya orang pandai bersilat lidah, baik dalam menuduh maupun membantah, inilah yang membuat Rasulullah SAW bersabda, ''Sesungguhnya, kalian banyak mengadukan perkara kepadaku, sedangkan aku juga manusia. Bisa jadi, sebagian kalian lebih pandai beralasan dibanding yang lain. Maka, barang siapa yang aku menangkan perkaranya dengan menzalimi saudaranya karena dia pintar bicara, sungguh yang aku berikan adalah potongan api neraka. Oleh sebab itu, janganlah dia mengambilnya.'' (Muttafaq Alaih).

Nabi sendiri bisa salah dalam membuat keputusan yang sifatnya duniawi, apalagi umatnya. Dalam hal ini, Allah-lah yang akan memutuskannya dengan segala keadilan dan ke-Mahatahu-annya, baik saat masih di dunia maupun kelak di akhirat: siapa yang salah dan siapa yang benar.

Adalah Said bin Zaid, salah seorang sahabat Nabi, dia pernah diadukan oleh seorang perempuan tua kepada penguasa. Perempuan ini menuduh Said telah merampas tanah miliknya. Saat dikonfirmasi, Said mengatakan bahwa dia pernah mendengar Nabi bersabda, ''Barang siapa mengambil sejengkal tanah yang bukan haknya, Allah akan membenamkannya ke dalam tujuh lapis bumi pada hari kiamat.'' (Muttafaq Alaih).

Lalu Said berkata, ''Silakan perempuan itu datang dan mengambil tanah yang diklaimnya. Kalau dia berdusta, semoga Allah membutakan matanya dan mematikannya di tanah tersebut.'' Benar, tidak lama setelah itu, mata si perempuan ini pun buta. Dan, pada suatu malam, ketika dia pergi ke tanah tersebut, dia terpeleset dan jatuh ke dalam sumur, lalu meninggal. Menuduh bukan asal bicara, dia mesti memiliki bukti. Nabi bersabda, ''Yang menuduh harus memberikan bukti dan yang dituduh harus bersumpah.'' (HR At Tirmidzi).

Sekiranya, masing-masing pihak bisa memberikan bukti dan menghadirkan saksi serta pandai berdalih. Maka, yang paling mendekati kebenaranlah yang dimenangkan. Begitulah pesan agama kita tentang perkara ini. Bahwa, mulut harus dijaga, untuk tidak asal bersuara. Bahwa, asal menuduh sangat berat pertanggungjawabannya, baik di dunia maupun di akhirat.


NB. Jadi tertuduh, ketika kita tidak melakukan apa yang dituduhkan, tentu menyakitkan sekali. Maka aku berusaha mengingat itu, dan ingat-ingat Dee, JANGAN menuduh orang sembarangan.

Thursday, August 07, 2008

Belajar dari Penjual Arum Manis

(Ini juga nyontek dari Yasmin-barbeku.org)

Sabtu, 26 April 2008, pukul 12.00 pas. Terik matahari persis menerpa kepala, panasnya luar biasa. Hari itu ada kegiatan Hari Bumi di sebuah sekolah. Berbagai kegiatan digelar, mulai dari penampilan siswa, presentasi tentang global warming dan tanam seribu pohon.
Menjelang acara usai, perhatianku tertuju pada kerumunan anak-anak di bawah pohon, dekat pintu masuk sekolah. Riuh rendah suara anak-anak menambah rasa penasaran. Sambil menyeka peluh, kuayunkan langkah kecil mendekati kerumunan. Tampak seorang Bapak – sudah renta – kerepotan melayani anak-anak yang ingin membeli arum manis dan yoyo. Arum manis seharga Rp 1.000,- terbuat dari gula pasir ditambah sedikit zat pewarna. Sementara yoyo yang dijual, bukan dari kayu tetapi dari balon kecil (sebesar bola tenis meja) yang diisi air dan diikat dengan tali elastis, dijual dengan harga Rp 1.000,-.
“Anak-anak, ambilnya yang teratur, jangan lupa uangnya,” terdengar suara parau sang penjual mengingatkan anak-anak yang berebut. Melihat kerumunan yang tak terkendali, kutawarkan bantuan kepada beliau untuk membantu melayani. “Boleh saya bantu melayani Pak,” ujarku menawarkan diri. “Oh.., terima kasih Nak,” sahutnya sambil memasukkan arum manis yang selesai dimasak ke dalam kantong plastik. Sambil berteriak mengingatkan anak-anak untuk antri, aku pun menjadi ‘tenaga salesman’ arum manis dan yoyo dadakan.
Tak sampai setengah jam, terkumpul uang Rp 30 ribu. Ada kepuasan batin yang tak terkira bisa memberikan sedikit Epos (energi positif) membantu Pak Udin penjual arum manis. “Gimana Pak, ramai jualannya?” tanyaku sambil membantu membereskan dagangan. “Alhamdulillah, hari-hari biasa bisa membawa uang ke rumah Rp 25.000,-, kalau ada acara semacam ini mudah-mudahan bisa sampai Rp 50.000,-,” ujarnya sambil tetap menebar senyum.
“Tetapi saya sedih Nak, tadi ada anak beli yoyo dan arum manis harganya Rp 2.000,-. Ia memberi Rp 5.000,-. Belum sempat saya mengembalikan sisa uangnya, ia sudah berlari entah ke mana. Jadi saya pegang uang Rp 3.000,- yang bukan hak saya. Bagaimana cara saya mengembalikannya, ya?”, ujarnya sedih. Tersentak batin ini mendengar keluhannya. Ada cerminan hati sebening kaca, kejujuran dan khawatiran dari raut wajahnya. Diam seribu bahasa, itulah yang aku lakukan, rasa kagumku semakin bertambah. Setelah berpikir sejenak, “Baik Pak, saya akan bantu mengumumkan lewat pembawa acara yang ada di panggung,” sahutku menawarkan solusi. Belum sempat aku melangkah ke panggung, tiba-tiba datang seorang ibu dan anaknya yang ternyata belum mengambil uang kembalian tadi. “Alhamdulillah, ucap Pak Udin berseri-seri. Saya tidak jadi membawa uang yang bukan hak saya,”.
Aku pun pamit meninggalkan Pak Udin dengan perasaan bahagia. “Ini arum manis dan yoyo untuk oleh-oleh anak-anak di rumah,” katanya sebelum kami berpisah. “Terima kasih Pak,” sahutku sambil menolak pemberiannya.
Subhanallah, hari itu kami belajar tentang kejujuran dan indahnya berbagi dari pribadi yang luar biasa yang semangat dan nuraninya patut diteladani, Pak Udin penjual arum manis. (Setiyo Iswoyo)

MENYIKAPI REJEKI

'Nyontek' dari situs Yasmin-barbeku.org.

Nabi Musa menyaksikan seorang fakir, yang karena kefakirannya tidur di atas tanah padang pasir tanpa baju. Setelah beliau mendekatinya, si fakir berkata, “Wahai Musa, mohonlah kepada Allah agar memberi saya sedikit rejeki yang dapat membebaskan saya dari kemiskinan ini”.

Karena perihatin melihat kondisi si fakir, Nabi Musa lalu memohon kepada Allah agar dikaruniakan kepadanya rejeki yang diperlukannya, lalu beliau segera melanjutkan perjalanannya ke gunung untuk bermunajat kepada Allah Swt.

Hari berikutnya, Nabi Musa pulang melalui jalan yang sama dan melihat si fakir yang telah dia doakan dalam keadaan terikat, babak belur dan dikelilingi oleh sekelompok orang.

Nabi Musa as bertanya, “Apa yang telah terjadi?” Mereka menjawab, “Baru saja dia mendapatkan uang, lalu digunakannya untuk minum arak sampai mabuk dan melakukan penyerangan hingga membunuh seseorang. Dan sekarang mereka menangkapnya untuk melaksanakan hukum qishash dan menggantungnya”.

Rejeki merupakan salah satu nikmat Allah, sekaligus amanah yang cukup berat dari Allah Swt. Acapkali, ketika seseorang mendapatkan rejeki, mereka lupa diri, terkunci hatinya untuk bersyukur atas anugerah Allah tersebut. Allah SWT memperingatkan bahaya bagi orang yang tidak memanfaatkan rejeki sesuai syariat-Nya, “Dan jikalau Allah melapangkan rejeki kepada hamba-hamba-Nya, tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi”.

Sungguh rejeki itu merupakan tanda kasih dan kemurahan Allah SWT. Betapa Allah SWT memberikan kepada setiap makhluk-Nya curahan rejeki. Firman Allah SWT. “Dan tidak ada satu binatang melatapun dibumi melainkan Allah-lah yang memberikan rejekinya. (QS. Hud: 6)

Rasulullah Saw bersabda: “Rejeki itu mengejar seorang hamba dengan cepat, melebihi kematiannya”. Tidak ada binatang melata di muka bumi ini yang Allah tidak menentukan rejekinya, dan tidak ada jiwa yang mati melainkan dia telah memakan makanan terakhir yang ditakdirkan atasnya. Manusia dalam memenuhi seluruh kebutuhan hidupnya, harus berusaha mencari rejeki dengan cara halal. Jika dia telah berusaha tetapi masih mendapat kekurangan, jangan sampai ada pikiran untuk mencarinya dengan cara yang haram. Sebaik-baik cara menghadapi kekurangan ini adalah bersabar dan tetap bersyukur kepada-Nya.

Setiap manusia memiliki cara khusus dalam mencari rejeki; sebagian menjadi saudagar dan berdagang, sebagian menjadi kuli angkut barang, sebagian menjadi pegawai, dan jika seseorang tidak merasa puas dan cukup dengan pembagian ini, maka dia akan dihinggapi oleh sifat hina, tamak dan serakah. Dan demi memuaskan keserakahannya itu dia akan melakukan berbagai perbuatan haram demi mendapatkan apa yang diinginkannya. Dan tidak ada cara lain untuk menghindarkan diri dari perbuatan tercela ini, melainkan dengan bertawakkal dan menyerahkan diri kepada Allah Swt.

Sebaik-baik cara mencari rejeki Allah SWTadalah dengan berikhtiar dengan segenap daya dan upaya di jalan yang halal dan diridhoi Allah. Mengiringi setiap upaya kita dengan untaian doa dan amal sholeh. Secara konsisten dengan penuh keikhlasan mencari jalan menggapai rejeki halal, dan selalu bersyukur di kala dikaruniai rejeki ataupun tidak diberikan rejeki, karena Allah SWT tidak pernah mendzalimi hamba-Nya.

Tahap selanjutnya untuk mendapatkan keberkahan rejeki adalah, sucikan rejeki kita dengan zakat, sedekah dan berbagi dalam bingkai keikhlasan kepada dhu’afa. Pilih dan pertimbangkan manfaat terbaik dalam pemberian tersebut, sehingga mereka benar-benar mendapatkan solusi terbaik. Dan berikanlah dengan penuh kerendahan dan pengabdian karena sejatinya ketika kita berbagi, kita sedang menyambut ‘uluran tangan Tuhan’.

Semoga Allah senantiasa menjadikan kita bersyukur dan berbagi atas rejeki yang ada pada kita. Wallahu a’lam bi ash-shawab. (Sulistiyo)

Wednesday, July 09, 2008

Sebuah Kartupos

Seorang kawan baik mengirimiku kartupos, langsung dari Jepang. Isinya sebuah puisi cantik, sebagai renungan untukku.

Terjemahan bebasnya kurang-lebih seperti ini:

Aku, Burung kecil dan Sang Punai

Walau kurentangkan seluas tanganku,
tak kan bisa aku terbang ke langit
burung kecil pun tak dapat menyamaiku,
jejak kaki ke bumi tak bisa kencang berlari.
Walau kutegakkan badanku segenap jiwa,
suara indah tak jua dapat kunyanyikan.
burung punai pun tak dapat menyamaiku
banyak lagu tak dia tahu.
punai, burung kecil, dan diriku,
semua berbeda, semua baik.

Friday, June 20, 2008

Tukang Sepatu

Hari Minggu yang lalu, seorang tukang (sol) sepatu sepatu lewat di depan rumah. Biasanya aku cuekin biarpun (sebetulnya) tertarik untuk memanggilnya. Teringat pada beberapa sepatuku yang sudah dalamkondisi 'mengenaskan', hampir tak layak untuk dipakai berjalan-jalan. (lihat posting berjudul "Sepatu Butut"). Kebetulan, aku sedang mengelap mobilku di garasi, maka sekalian kupanggil saja tukang sepatu itu untuk mangkal di teras rumah dan 'ngerjain' beberapa sepatuku.
Beberapa sepatu langsung bertaburan di hadapan pak tukang. Kupikir, dia pasti akan bekerja cukup lama, maka kusodorkan segelas air mineral padanya.
"Air bening begini biasa disebut air ustadz." komentarnya.
"Ibu tahu apa artinya air ustadz?" tanyanya kemudian.
Hm... apakah karena ustadz rata-rata diberi air bening ya? Atau... apakah dia akan segera berceramah? Dia memang memberiku beberapa pelajaran. Yang pertama, dia bilang air bening itu sebagai cerminan agar kita senantiasa menjaga hati agar tetap bening. Subhanallah... betul sekali.
Setelah bincang sana bincang sini, ibuku bilang bahwa aku adalah guru. Ada satu pelajaran lagi dari sang tukang sepatu ini. Dia bilang, jadi guru itu sudah tak ada lagi celanya ya. Ah... aku bercermin diri. Masih sangat banyak sifat jelekku yang harus kubenahi. Kubilang, tentu saja aku masih harus membenahi diri, masih harus dinasihati. Dia bilang, "Wah... kalau masih banyak yang perlu dibenahi, belum jadi guru, itu. Baru jadi pengajar. Hakikatnya, guru itu adalah yang digugu dan ditiru." Ya. Jadi renungan untukku. Sungguh, pelajaran itu bisa datang dari mana saja. Tak melulu harus di kelas. Hari itu, tukang sepatu jadi guruku.

Friday, May 09, 2008

Voyage of the Leader

Sebuah puisi yang kukutip dari majalah Percikan Iman edisi April (kalau tidak salah). Timingnya sangat tepat dengan kondisi yang sedang terjadi di sekitarku saat ini. Semoga semua pemimpin di muka dunia semakin menyadari hakikat kepemimpinan yang diembannya. Amiin.
Leader... leader... on the ship
Would you tell me what should I do
With the amanah...?
Hang it on the wall,
Nice painting for proud?
Hold it in my arms?
Carry it on my shoulder,
Burden?

Leader... leader... on the ship
Would you tell me and us...
What you must do with the amanah...?
Hang it on the great walls of your proud,
Admired?
Hold it in your arms of authority...?
Carry it on the solidity of the flowing hour...?
Then let the amanah guide us to do things in the flow.

Sunday, April 27, 2008

Manis-Pahit Kehidupan

Satu episode lagi dalam hidup.
Tak ada yang terlalu manis. Itu akan memuakkan.
Tak juga ada yang terlalu pahit. Pasti masih tertahankan.
Tawar? tidak juga...
Manis akan lebih terasa setelah kaurasa kepahitan.
Sebaliknya, pahit akan terasa menggigit jika baru saja kaurasa kemanisan.
Maka janganlah terlalu.
Bersyukurlah dengan yang tawar sekalipun.
Waspadalah dengan yang manis, karena kau harus bersiap... untuk bersabar dengan yang pahit.
Yakinlah, suatu saat kau akan rasakan kembali
manisnya episode kehidupan.

Tuesday, April 01, 2008

Berkendaraan Umum

Mulai hari Selasa lalu, aku berkendaraan umum ke sekolah. Kata bu Erlin, naik angkot dulu sampai PTT lalu disambung dengan bis kota jurusan Kota Baru Parahyangan. Berarti cuma sekali ganti kendaraan, aku bisa langsung nyampe sekolah. Perjalanan panjang, tapi relatif nyaman-lah. Hari pertama, bareng Erlin, naik bis pertama yang datang terlambat. Nggak biasanya, jam 6.20-an baru lewat di PTT. Tapi alhamdulillah, nyampe sekolah masih 15 menit-an sebelum bel sekolah berbunyi. Hari kedua, aku kecewa berat...! Turun dari angkot, bisa kulihat bis kota baru masih di seberang jalan, tapi tentu dia tak bisa menungguku. Terpaksalah menunggu bis berikutnya. 20 menit... 30 menit... 40 menit...!!! Aku mulai putus asa. Kirim-kirim sms ke (hampir) semua orang di sekolah. Membunuh waktu. Ngabisin pulsa banget ya. Tapi akhirnya bis itu datang juga... membawaku hingga sekolah. Namun tak ayal, aku sudah kadung terlambat. Apa boleh buat. Hari ketiga, aku berangkat sendiri. Sang kondektur menyapa, "Nggak bareng dengan ibu yang berkacamata, bu (bu Erlin, maksudnya)" Wah... rupanya dia sudah terkenal di seantero jagad bis kota baru ;). Mungkin karena penumpangnya relatif sedikit, kondektur dan sopir bis hafal dengan kebiasaan penumpangnya. Ada 2 orang di Alun-alun, ada 4 orang di Pasteur, dsb dsb. Hehe... Pulang sekolah jadi lebih cepat dari biasanya gara-gara ngejar jadwal bis kota. Tetap aja yang bikin sebel ketika harus terjebak macet berkendaraan umum. Kalau di bis kota sih bisa manfaatin waktu dengan membaca atau tidur. Wah, suatu kenikmatan yang tak bisa kudapat jika menyetir kendaraan sendiri. Dalam suatu perjalanan pulang, pernah juga aku disuruh pindah ke kendaraan lain gara-gara aku cuma satu-satunya penumpang di kendaraannya. Hm... salahnya sendiri dong mau langsung jalan aja ketika aku naik di Kebun Kelapa, padahal aku nggak keberatan kalau si sopir mau menunggu penumpang beberapa waktu. Tapi ya... itulah dinamika berkendaraan umum. Dinikmati saja. ;)

Monday, March 24, 2008

One Day Trial by Bike (part 2)

Hari Senin ini, bermotor-ria lagi. Kali ini dari rumah. Berangkat jam 6 pagi, berharap bisa nyampe Padalarang jam setengah delapan (estimasi waktu di-pas 1,5 jam. Kalo naik mobil bisa 30-50 menit lebih cepat dong, kan lewat tol.) Nyatanya? Nyampe sekolah jam 8 saja tuh! Luar biasa... 2 jam di jalan? Yang bener aja. Setelah tak ampun dihajar debu jalan maupun dari knalpot kendaraan umum lainnya, terutama bus yang suuusah banget disusul. Perjuangan-lah pokoknya untuk menuju sekolah.
Pulang sekolah, minta ditemenin bu Erlin yang 'pasrah' saja dibonceng di belakang punggungku. Perjalanan 1 jam 40 menit (kurang-lebih) diwarnai guyuran hujan, cipratan air, antrian motor yang uh.... mengerikan...! Maklumlah, nggak biasa nyalip-nyalip dengan kendaraan roda dua, bawa penumpang pula. Menyeimbangkan beban itu yang susah. Sempat disemangati pengendara motor lain supaya lebih hati-hati. Bukannya aku kurang hati-hati ya, justru karena terlalu hati-hati, kali, kurang nekat. ;) haha...!
Dingin menyergap. Air menyerap sampai ke baju dalam. Jaketku nggak cukup panjang sih, walaupun waterproof asli! Malu juga ketika harus mampir di pom bensin untuk mengisi tangki Mio. Basah kuyup, soalnya. hehe... Tapi senang sekali ketika uang yang kukeluarkan di pom bensin kali ini jauh lebih sedikit dibanding yang biasa kubelanjakan dengan Kijangku. (Ya iyyalah... :p)
Nyampe rumah teh Trini, nggak menyempatkan mampir lagi. Cuma basa-basi sebentar, ngembaliin kunci motor, lalu bersegera pulang dengan ojek ke luar kompleks yang disambung kendaraan umum. Pengalaman-lah, another one day trial by bike. Nggak kapok kok.

Wednesday, March 12, 2008

Hikmah di Balik Sebuah Kejadian

Kakak Panji, keponakanku yang nomer 3, dijadwalkan ikut bertanding Tae Kwon Do di Tasikmalaya. Menjelang hari-H, dia berlatih intensif di sekolahnya. Sudah semangat sekali dia. Ayah-bundanya juga sangat supportif. Ayahnya bahkan sudah berencana untuk mengantar dia dan anggota tim lainnya ke Tasik.
Hanya beberapa hari menjelang hari-H, si kakak keasyikan main ayunan, kencang-kencang...! Entah sok gaya atau murni musibah, dia 'meloncat' dari ayunan, jatuh tersungkur. Sebetulnya sih tidak apa-apa... dia justru baru mau bangkit berdiri, namun batal karena papan ayunan masih berayun kencang, menghantam bagian belakang kepalanya, lalu berbalik menampar pipinya membuahkan lebam dan sariawan.
Dia masih merasa 'tidak apa-apa'. Mungkin hanya akan benjol, begitu pikirnya. Ketika dia usap kepalanya, ternyata cairan kental darah merembes dari luka di kepalanya. Wah... bocor nih. Untungnya, ada seorang orang tua murid yang sigap membawanya ke UGD rumah sakit terdekat. Ayah-bundanya segera dikontak, dan alhamdulillah, ayahnya berkesempatan mendampingi kakak di UGD ketika dokter jaga 'menambal' bocor di kepalanya dengan 5 jahitan. Wadduh...! Dia mengikut jejak sang ayah, rupanya, yang juga punya bekas jahitan di kepalanya, 'jejak' masa kecilnya juga.
Alhamdulillah, kakak tidak gegar otak, cuma cukup istirahat beberapa waktu di rumah. Buntut dari kejadian itu, kakak tak bisa ikut bertanding ke Tasik deh. Allah memang belum mengizinkan. Alhamdulillah, kakak bisa 'bersyukur' lho dengan adanya kejadian ini. Dia bilang, kalau dia jadi bertanding, mungkin musibah yang lebih besar 'menunggunya' di sana. Entah cedera saat bertanding, atau musibah bentuk lainnya. Naudzubillaah... Bagaimanapun, kejadian ini, pasti ada hikmahnya.

Wednesday, February 06, 2008

Reuni 'Alumni' Salman Al Farisi

Senin sore, usai mengerjakan berkas soal untuk siswa pindahan, aku angkat kaki untuk takziah ke rumah Ella. Dari Padalarang, melintas tol Pasteur, melewati jalan layang, njemput bu Dewi Telaphia dan anak bungsunya di Cikutra. Setelah itu, melintas Bandung ke daerah Pasir Koja, njemput Intan, sang navigator menuju rumah Ella. ;) Numpang shalat ashar di sana.
Perjalanan menuju rumah Ella di Bumi Asri, diisi dengan bincang-bincang nostalgia, juga bertukar cerita tentang apa yang sudah terjadi selama pisahan. Disambung di rumah Ella dengan perbincangan dan topik lain. Ternyata, baru kita sadari bahwa kita seolah reuni 'alumni' Salman Al Farisi. Intan berdinas di Purwakarta, aku di Padalarang, DT jadi ibu rumah tangga di Bandung, sementara Ella masih setia beraktivitas di Salman.
Bincang-bincang dengan Ella, jadi ajang untuk saling menguatkan. Ibunya bu Dewi juga ternyata baru meninggal dunia sekitar 2 bulan sebelumnya. Kita pun bercermin dari situ, bahwa umur betul-betul jadi rahasia Allah. Berbincang ini-itu ke sana ke mari, akhirnya menjelang maghrib kita tuntaskan. Harus pulang! Bu Dewi bawa anak kecil yang sudah waktunya tidur. Mohon maaf... cuma 'kuantar' sampai BMI Bubat. Dari sana, kita menunggu taksi yang akan membawa bu Dewi pulang. Lama juga, ternyata.
Aku masih bersama Intan beberapa waktu, melanjutkan cerita, untuk kemudian berpisah dan berjanji untuk bertemu lagi. Segera. Insya Allah.

Friday, February 01, 2008

Kepergian Seorang Kawan (lagi)

Lagi, seorang kawan berpulang ke haribaannya. Pak Azis, suami bu Ella (teman di Salman), bada maghrib kemarin (Kamis, 31 Januari 2007) meninggal dunia karena sakit yang dideritanya. Kabar sakitnya memang sempat kudengar, bahkan mereka berencana untuk meminjam mobilku (bertukar dengan motor mereka) untuk mengoptimalkan upaya pengobatan alternatif yang akan dijalaninya.
Rencana itu batal. Kabar terakhir yang kudengar, kondisi pak Azis membaik. Dia merasa cukup kuat untuk naik-turun angkot menuju tempat pengobatan alternatif yang dijalaninya. Yang tidak kudengar lagi, ternyata beberapa hari menjelang wafatnya, dia sempat masuk rumah sakit lagi dengan kondisi yang terus memburuk, kritis, dan akhirnya meninggal dengan didampingi istri, keluarga dan beberapa teman dekat. Innalillaahi wainna ilayhi raaji'uun.
Sungguh, umur manusia betul-betul jadi rahasia Allah. Pak Azis ini baru 30-an awal, atau bahkan mungkin belum mencapai 30. Namun Allah telah memanggilnya di usia yang 'begitu muda', meninggalkan bu Ella dengan seorang anak yang belum lagi genap 2 tahun. Ya Allah... berilah ketabahan dan kesabaran untuk saudariku yang begitu tegar dengan cobaan (atau ujian?) yang bertubi-tubi Kau berikan padanya. Semoga Kau naikkan derajatnya menjadi hamba kesayangan-Mu. Amiin.

Tuesday, January 15, 2008

Pelangi Kehidupan

Satu lagu lawas dari Sheila Madjid. Masih selalu indah untuk didengarkan, didendangkan, dan diresapi maknanya. Ditambah dengan 'contekan' foto dari http://www.neatorama.com/ dengan tornado rainbownya yang subhanallah....!
Lihat pada si pelangi, seribu satu dimensi
Warna sari dalam sinar hidup kita
Menghiasai alam ini menghiasi dunia ini
Kusyukuri cendera mata Maha Esa


Dan aku mencoba menyusuri cita
Aneka warna nan menawan... di jiwa
Cinta roman setia menggores segala
Terima kasih kuucapkan, pada-Mu


Oh warna-warna pada dunia
Kuterpesona, kau teristimewa
Oh warna-warna bagai bicara
Mengiring hati sanubariku

Adakalanya kelabu membuat hatiku pilu
Tersenyum ku bila warna ceria tiba
Berbagai cerita rupa, mengusik suka dan duka
Mengarungi kehidupan alam maya
Warna dari pagi, mendamaikan hati
Tergambar indah suasana bahagia
Cinta roman setia menggores segala
Terima kasih kuucapkan, pada-Mu

Salah Satunya... Kok Jadi Banyak.