Awalnya postingan ini mulai kutulis untuk menjawab tantangan menulis MGN tentang 'Kisah di Balik Nama', di tantangan blogging mamah gajah ngeblog beberapa bulan lalu. Dasar aku si deadliner akut, selepas deadline pun masih belum tuntas nulis postingan in. Rilis/jangan ya...? Akhirnya belok sedikit deh dari rencana semula dan aku cerita tentang sibling gap saja ya untuk menjawab tantangan blogging mamah gajah ngeblog bulan ini.
![]() |
| Formasi lengkap ABDINA |
Kakak sulungku berinisial ARB. Bisa jadi karena ini anak pertama dari bapak dan ibu, mereka ingin mengabadikan nama mereka menjadi nama si sulung. ARB: AR adalah nama depan ibuku, sementara B adalah huruf pertama dari bapak. Jie... romantis yaa, nama mereka diabadikan dalam nama anak sulung mereka.
Kakak kedua bernisial NSP. Namanya sendiri cukup 'berat' sih menurutku, yang mengandung arti hati yang selalu setia pada pertiwi. Rada-rada militan sih kakakku yang satu ini, tapi ya kepada pertiwi, bukan kepada keluarganya sendiri.
Kakak ketiga bernisial ITB. Ketika kakakku ini lahir, konon kabarnya bapak memang sedang dapat tugas belajar di fakultas teknik kampus Ganesha. Kayaknya sekalian ngulik nama anaknya supaya ada ITB-ITB-nya.
Aku si bungsu: Diah Utami Lestari. Inisialnya DUL. Haihhh... aku pernah jadi bahan bully-an karena hal ini, dan aku tentu nggak suka dong dipanggil Si Dul. Anak Betawi, bukan... tukang insinyur juga bukan. Tapi kalau ditanya, aku tim Sarah atau tim Zaenab, ya aku mah tim si DUL aja deh. Udah nggak ngaruh juga sih dipanggil Si Dul sekarang ini mah. :p
Terus terang aja, aku pernah minder dan kurang percaya diri dengan perbedaan (padahal cuma) nama di keluargaku ini, tapi akhirnya aku yakin dengan keaslian jati diriku sebagai anak dari bapak dan ibu setelah ibu bercerita detil kelahiranku. Tak akan aku bahas di sini ya. Itu mungkin buat postingan yang lain lagi saja.
Anak Durhaka
![]() |
| Sumber foto: muslim.or.id |
Sebagai keluarga, rasanya sudah sewajarnya kalau mendapat pendampingan, didikan dan pola asuh yang sama. Namun ketika dewasa, semua anak akhirnya memilih jalannya sendiri setelah bergaul dengan teman dan lingkungan yang berbeda.
Kuteringat kisah seorang teman. Suaminya meninggal di usia yang masih muda, meninggalkan seorang anak kecil dalam pengasuhan sang istri. Sebutlah namanya Bunga. Bunga kemudian tinggal di rumah ibunya bersama sang anak yang masih balita. Sementara itu, kakak laki-lakinya -sebutlah si Tega- tinggal di komplek yang sama bersama keluarganya, hanya berbeda blok saja. Selama beberapa waktu, mereka hidup tanpa riak dan ombak. Namun tiba-tiba tsunami melanda.
Seseorang mendatangi ibunda si Bunga, seorang lelaki yang sopan namun membawa kabar yang tak sopan. Dia bicara baik-baik, meminta rumah tersebut segera dikosongkan karena rumah tersebut sudah berpindah kepemilikan. Rupanya Bang Tega menjual rumah sang bunda tanpa sepengetahuannya. Selama ini sertifikat rumah dan tanah dipercayakan kepadanya tapi ternyata tidak sekedar disalahgunakan, malah dijual dengan semena-mena. Padahal ibunya tinggal di rumah itu!!!
Bunga pun mengonfirmasi berita itu kepada keluarga Bang Tega. Ternyata istrinya pun mengatakan bahwa Bang Tega sudah beberapa waktu tak pulang ke rumah dan dia tak tahu menahu mengenai keberadaan suaminya. Masuk DPO lah dia jadinya. Benar-benar tega ya dirinya. Sementara sang adik berusaha untuk berbakti kepada ibunya, di mana surga ada di bawah telapak kakinya, si kakak malah dengan teganya membiarkan sang ibu terusir dari rumahnya sendiri.
Kakak Durjana
![]() |
| Sumber foto: health.detik.com |
Selain kisah tentang anak durhaka, ada teman lain yang juga bermasalah dengan kakaknya. Ceritanya membuatku bosan, dengan kisah tentang kakaknya yang terlalu egois dan kekanakan. Mungkin pengidap NPD, katanya dalam beberapa kesempatan. Setiap kali ketemuan, selalu terselip cerita tentang sang kakak yang bikin kesal, sebal, bikin mood berantakan nggak karuan. Terus terang saja, aku jadi ketularan. Kupikir-pikir, hal begini bikin aku jadi kena mental juga lama kelamaan. Ujung-ujungnya aku jadi menjaga jarak dengannya, menghindari pertemuan. Ya males aja sih kalau sesi ketemuan tapi isinya cuma curhatan tanpa solusi dan perbaikan.
Kembali lagi, kupikir pola asuh yang serupa dari orangtua yang sama akan membuat anak-anaknya punya perilaku dan kebiasaan yang mirip bahkan seragam. Tapi ternyata tidak demikian adanya, kawan. Bagai bumi dan langit saja kalau mendengar ceritanya. Si teman ini, sebutlah namanya (bawang) Putih, punya kakak yang kita beri nama panggilan (bawang) Merah ya. Mereka tinggal bersama di rumah si Putih. Sementara si Putih agak-agak OCD dan terobsesi pada kerapian dan keteraturan, kakaknya si Merah ini justru joroknya ampun-ampunan. Si Putih banting tulang kerja untuk bayar cicilan rumah, listrik dan internet hingga belanja bulanan, si Merah tidak terlihat kontribusinya dan merasa cukup dengan berdiam di kamarnya hampir sepanjang waktu (dan kamarnya... berantakan dan joroknya nggak ada lawan. Aku pernah 'lihat' kondisi kamarnya yang diperlihatkan dari foto yang curi-curi diambil si Putih ketika Mbak Merah sedang keluar rumah).
Dalam satu-dua, bahkan berkalu-kali kesempatan, kuingatkan si Putih untuk membuka dialog, berdiskusi dengan kakaknya untuk mencari solusi dan jalan tengah agar ada win-win solution dari permasalahan mereka. Katanya sih dia sudah berusaha, tapi bukan hanya jalan buntu yang dihadapinya, melainkan tembok tinggi yang tak bisa dipenetrasi. Merah tak mau membuka telinga untuk mendengar, tak juga membuka mata untuk melihat, dan jelas tak membuka diri untuk ruang evaluasi.
Merah merasa paling tahu sendiri, merasa paling bisa mengurus dirinya sendiri, tak mau dicampuri, dan tidak merasa perlu untuk bersimpati apalagi berempati kepada adiknya sendiri. Kalau ditegur, adiknya dibilang benci. Diajak bicara, seringkali sok sibuk dan melengos begitu saja. Bahkan ditanya via whatsapp pun, baru dibaca dan dibalas berjam-jam kemudian. Merah tidak pandai mengucap 'kata ajaib' semisal permisi, tolong, apalagi maaf. Seolah tak pernah salah saja katanya. Kalau terima kasih, ya sesekali terucap ketika si Putih berbagi sesuatu, tapi itu pun hanya jika si Putih ada di rumah. Kalau si Putih berbagi sesuatu dan Merah sedang tak ada di rumah, kata terima kasih itu tidak akan terucap, bahkan melalui teks whatsapp singkat sekalipun.
Duh... aku sampai tahu begitu banyak detil tentang (bawang) Merah dan (bawang) Putih ini ya. Ya mungkin karena aku agak terlalu intens berinteraksi dengan si Putih. Sempat merasa terseret ke dalam pusaran arus negatifnya, jadi aku merasa perlu untuk menghindar. Maaf yaa... bukannya aku tak simpati, tapi aku juga tak mau sesi pertemuan kita lama-lama jadi ajang mengghibah saja. Aku cuma bisa mendoakan agar si Putih bersabar dengan kondisi yang dia alami saat ini. Tak urung, aku bersyukur bahwa sibling gap yang terjadi antara aku dan kakak-kakakku hanya terbatas pada perbedaan pola penamaan saja. You think. Hahaa...



