Showing posts with label accident. Show all posts
Showing posts with label accident. Show all posts

Sunday, May 24, 2009

Kecelakaan Pesawat TNI (lagi)

Innalillaahi waina ilayhi raaji'uun.
Duka cita mendalam kembali dirasakan oleh Indonesia, TNI terutama. Sebuah pesawat Hercules jatuh dan terbakar di Magetan, Jatim, menewaskan puluhan penumpang dan awak pesawatnya. Beberapa di antaranya anak-anak, korban sipil (oknum atau bukan, mereka adalah korban). Yang 'selamat' rata-rata mengalami luka parah dan perlu perawatan intensif. Seorang bocah bahkan belum tahu bahwa ibunya sudah meninggal sementara dia masih dirawat di rumah sakit.
Ya Allah... semoga Kau terima amal ibadah mereka yang meninggal, dan kepada yang ditinggalkan, Kau beri ketabahan, kesabaran, juga kesadaran bahwakelak kami semua pun akan menghadap-Mu suatu saat nanti, entah dengan cara apa, di mana, dan kapan.

Friday, October 10, 2008

Perjalanan menuju dan kembali dari "Amsterdam"

Pasca lebaran ini, aku bersama dua dari ketiga kakak beserta ibuku pergi boyongan ke Depok, ke rumah kakak sulung. Anak-anak kakak nggak ikut karena mereka ikut dengan kakak yang ke-3 menjelajah sebagian pulau Jawa. Nggak ada kerjaan juga sih di Depok, selain membaca majalah yang tak kupunya di Bandung sana, menjajal kemampuan main games di komputer kakak, dan sesekali mengakses internet barang sebentaran.
Hari Sabtu lalu (4 Okt) kita berangkat dari Bandung menjelang jam 10 pagi. Istirahat shalat dan makan siang di tempat peristirahatan di ruas jalan tol Padaleunyi, kita sampai di Depok tak lama selepas jam 1-an (atau jam 2-an ya? Hehe... lupa) Tapi tetap nggak terlalu lama juga kan di perjalanan?
Hari Minggu, aku didaulat kakak jadi 'tukang ojek' buat nganterin dia bersilaturahim dengan teman-temannya, alumni karyawan British Council Jakarta. Tempat pertemuan, tak tanggung-tanggung, di "Amsterdam"! Hehe... Maksudnya, di cluster Eropa wilayah Amsterdam di Kota Wisata Cibubur. Jauh juga lho dari Depok, dan aku sok-sok-an aja mboncengin kakakku yang 'mirip' Tike Priyatnakusumah yang anggota tetap Extravaganza itu. Literally, beneran, mirip! ;)
Menjajal jalanan Depok yang berlubang-lubang besar, motor ponakanku sempat oleng juga ketika awal-awal aku berusaha menjaga keseimbangan mengemudi. Akhirnya terbiasa juga. Di jalan lurus ke arah Cibubur, asyik juga kupacu Vario hijau itu dengan kecepatan 50-65 km/jam. Beban di belakang, tak begitu terasa.
Pendek kata, acara silaturahim berjalan lancar, biarpun aku nggak begitu kenal orang-orang di sana. Sok berbaur aja, dan menikmati hidangan lezat yang disediakan tuan rumah. Terima kasih ya, mbak Wiwin... Semuanya enak! Terutama yoghurt campur buahnya. Hm... yummy...!
Selepas ashar, satu persatu tamu mulai berpamitan. Kakakku akhirnya undur diri juga. Sebagai 'tukang ojek', tentu saja aku ikut. Tergoda sih, pengen cuci mata lihat pernak-pernik di Kampung Cina yang rasanya tinggal selangkahan kaki. Tapi melihat mendung kelam yang bergantung rendah, kuurungkan niatan itu. Nggak usahlah belanja-belanja. Langsung pulang saja. Perjalanan pulang kali ini, sebetulnya agak lebih percaya diri dibandingkan arah sebaliknya, tapi kondisi badan yang sudah capek, ditambah arus lalu lintas yang sedikit lebih padat membuatku harus sabar-sabar di jalur kiri.
Di ruas jalan Cibubur, tak jauh dari Cibubur Junction, antrian panjang kendaraan membuatku ragu. Haruskah tetap di kiri, di jalan tanah sebelah bahu jalan, atau pindah jalur ke kanan (ke sebelah kanan mobil yang berderet) tapi berresiko menghadang arus kendaraan dari depan. Sebagai pengendara mobil juga, aku suka sebal dengan pengendara motor di lajur kanan ini, karena seringkali bikin kagok! Akhirnya aku putuskan untuk istiqamah di lajur kiri. Ini lajur yang dilematis juga. Tetap di jalan tanah berarti mengambil resiko menerjang becek-becek sisa hujan dan melindas batuan yang tidak rata. Kalau naik sedikit ke bahu jalan di sebelah kiri mobil, berarti aku harus stabil memegang stang motor supaya tetap lurus dan tidak menyenggol spion kendaraan yang kulewati.
Gara-gara.... ragu-ragu sih... Ketika aku masih berpikir, naik ke bahu jalan (yang lebih tinggi sekitar 7 sentian dari tepi jalan) atau tidak, kuarahkan stang motor agak ke kanan. Ban depan sudah naik ke aspal, sementara ban belakang masih berusaha mengimbangi, sedangkan motor masih melaju, tak terlalu cepat. Tak kuasa... Seperti slow motion rasanya. Motor mulai oleng ke kiri, dan tak bisa kukendalikan lagi, doyong... doyong... dan terguling. Hihi... Soft landing. Kami berdua jatuh ke tepi jalan. Karena gerak jatuhnya motor sudah kami duga (kakakku pun sudah berpikir bakalan jatuh), maka kaki kami sudah siaga, tapi tak urung, bagian lutut sih, kena juga sedikit. Untungnya, tak ada yang tertimpa motor. Cuma, lucu aja... tak ada angin tak ada hujan, tahu-tahu motor yang kami tumpangi oleng dan terguling. Orang-orang yang lewat juga tak ada yang menolong karena melihat kami berdua baik-baik saja, justru memandangi dengan heran. Sementara kita saling bertanya, "Nggak ada orang yang kita kenal kan?" "Nggak ada candid camera kan (yang mengabadikan ketololanku)?" Waduh... Sakitnya sih nggak seberapa, wong cuma memar dikit di lutut kiri, tapi malunya itu lho. Haha... Lebih 'gila' lagi, kejadian memalukan begini, ku-publish juga di blog ini ya? Bukan menyebarluaskan kebodohan, justru mengingatkan diri untuk belajar dari kesalahan. Jangan terulang lagi, Dee!
Kejadian sore itu belum usai. Gara-gara jalanan berlubang di Depok tak terlihat jelas karena dipenuhi air berlumpur, kakakku mengajak untuk menjajal jalur alternatif melalui perumahan, bukan lewat jalan utama. Aku sih, ayo aja. Ternyata, putar sana putar sini, nyasar juga kita. Tanya sana tanya sini, ah... akhirnya sampai juga ke rumah kakak. Alhamdulillah. Betul-betul perjalanan jauh yang kutempuh hari itu. Dari Depok ke "Amsterdam" lalu balik lagi hanya dalam setengah hari. Hihi... ;)
Blogged with the Flock Browser

Saturday, August 02, 2008

Adam Air lagi. Allaahu Akbar.

Tadi malam, kudengar wawancara di salah satu stasiun TV tentang analisis jatuhnya pesawat Adam Air di Majene 1 Januari 2008 lalu (boleh lihat lagi posting-an bulan Januari 2008 lalu). Berawal dari berita beredarnya rekaman pembicaraan antara pilot dan co-pilot dalam kokpit yang berasal dari Black Box secara luas di ruang publik alias internet. Bisa didengar via youtube maupun rapidshare.
Dalam wawancara antara anchor dengan seorang pilot senior, terbukalah analisis tentang kronologis jatuhnya pesawat. Sedih lagi mendengar-mengetahui data lain tentang jatuhnya pesawat itu, yang membawa paman ibuku beserta menantunya ke Manado namun tak juga tiba mereka di tujuan.
Terlepas dari data yang terdengar maupun analisis pakar dan komentator tentang peristiwa itu, apakah kesalahan teknis, faktor cuaca buruk, human error, atau apapun itu, tentu kejadian itu sudah ada dalam rencana Allah. Sudah ditentukan jauh sebelum mereka lahir ke dunia, takdir yang ditetapkan Allah atas setiap manusia pada saat mereka berada dalam kandungan ibunda mereka.
Kepanikan pilot dan co-pilot terasa dari rekaman yang sempat kudengar lagi. Tak terbayangkan bagaimana kepanikan yang terjadi di dalam kabin pesawat. Allahu akbar. Allah... kata itu yang terakhir terdengar dalam rekaman itu.
Pilot dan co-pilot, insya Allah mereka insan beriman, yang selalu mengingat Allah hingga di penghujung nafas mereka. Menyadari bahwa Allah Maha Besar, tiada daya dan kuasa selain karena-Nya. Semoga Allah merahmati mereka, juga semua penumpang di dalam pesawat itu. Semoga Allah SWT memberi tempat terbaik di sisi-Nya. Amiin.

Tuesday, July 29, 2008

KM 129

Hari Selasa ini, aku sudah berencana pulang sedikit lebih cepat, soalnya harus mampir ke bengkel, menemui montir untuk menepati janji ganti oli yang sudah tertunda sejak kemarin.
Jam 3 berangkat dari sekolah, mampir dulu di Bale Pare untuk mengambil uang di ATM, sekalian juga mampir di AlfaMart untuk membeli minuman teh hijau favoritku. Sebotol saja kali ini. Uangku pas-pasan banget. Akhir bulan gini... harus ganti oli juga? Hhh...
Di jalan tol, menjelang kelokan ke arah Pasteur/Cimahi, kendaraan mulai melambat. Terlihat antrian mengular di depanku. Ragu. Haruskah melanjutkan ke gerbang Bubat seperti rencanaku semula supaya segera sampai di bengkel langgananku, atau berbelok ke Pasteur untuk menghindari macet, dengan konsekuensi terhadang di beberapa perempatan berlampu merah dan jarak tempuh yang (sedikit) lebih jauh? Mikir juga nih... Satu-dua kilometer, lumayan juga kali ya untuk menghemat bensin ;) Maka kuikuti saja alur kendaraan yang merayap pelan. Kusiapkan kamera, untuk merekam momen yang mungkin bisa tertangkap lensa kamera poketku. Kuprediksi, ada kecelakaan di depan.
Rupanya dugaanku benar. Selepas km 128, ban mobilku melindas pecahan kaca mobil dan lampu sign yang bertaburan di jalan. Kulirik sekilas ke sebelah kiri tanpa sempat memotret karena jalan sudah mulai lengang. Sebuah kijang kapsul biru tua berada di bahu jalan dengan bagian kiri belakang penyok berantakan. Innalillaahi wa inna ilayhi raaji'uun. Entah bagaimana nasib pengemudi atau penumpang lainnya (bila ada). Di depannya, sebuah ambulans sudah siap melaju.
Aku mempercepat laju kendaraanku di jalan yang mulai lengang itu, menjauh dari titik kecelakaan, di sekitar km 129 ruas tol Pasteur-Pasir Koja. Tak berapa lama kemudian, ambulans tadi menyusulku lalu berbalik arah menuju ke arah Pasteur. Mungkin menuju RSHS. Hmm... terpikir olehku kinerja para pengemudi ambulans. Mereka tentu perlu punya nyali dan skill ekstra tangguh ya? Harus berani ambil resiko menyusul banyak kendaraan di depan, bahkan menentang arus lalu lintas kalau perlu, supaya pasien dapat segera dibawa ke rumah sakit, menyelamatkan nyawa yang sangat berharga. Semoga korban kecelakaan tadi dapat diselamatkan. Amiin.

Salah Satunya... Kok Jadi Banyak.