Tuesday, May 31, 2022

Solusi Sehat Body Sampai Kuku

Kesehatan itu jadi modal banget untuk menjalani kegiatan keseharian. Orang-orang rela mengupayakan banyak hal agar kondisi kesehatan selalu prima. Berbagai suplemen bermunculan dengan segala janji untuk meningkatkan imun tubuh lah, untuk menjaga kesehatan kulit lah, untuk memelihara kesehatan jantung lah, untuk mencegah penyakit ini lah itulah, tinggal pilih saja mana yang sesuai dengan keinginan dan kebutuhan. Dari segala suplemen yang beredar, satu yang klasik abadi menurutku itu adalah madu. Kemudian madu pun muncul dengan segala variannya. 
Aku sendiri rutin mengonsumsi madu. Tiap hari. Madu kuning juga madu putih. Sempat juga mengonsumsi madu hitam yang rasanya pahit dengan khasiat yang katanya begini dan begini. Tapi sudahlah... hidup sudah pahit, mengapa harus dibuat lebih pahit dengan konsumsi madu pahit? :p Maka aku mencukupkan diri dengan selalu menyiapkan dua jenis madu di rumah. Madu kuning untuk dicampur dengan air perasan lemon, yang kubawa untuk bekal minum sehari-hari. Sedangkan madu putih kupakai untuk campuran jamu supaya rasanya tidak segetir kehidupan ini.
Madu yang kupunya biasanya dikemas dalam botol plastik atau kaca (yang ada emboss merek sirop ternama) dengan tutup plastik dobel berupa ulir dan sumbat untuk menjaga agar madu tetap dalam kondisi terbaiknya. Nah... ketika membuka sumbat yang menutup mulut botol dengan begitu rapat, tentu perlu usaha ekstra dan kadang alat ekstra. Sesekali aku pakai pisau, tapi tak jarang aku pakai ujung kuku untuk membuka plastik sumbat botol yang bentuknya seperti topi boater atau bowler itu. Nah, dalam upaya membuka tutup botol sumbat itu, kukuku menjadi rusak karenanya. Apalagi dipakai buka-tutup sumbat botol madu tiap hari lebih dari sekali. Aku nih punya masalah kuku yang rapuh, tak seperti hatiku yang kukuh. Jiaahhh...
Belakangan, aku menemukan produk honey dispenser ini. Bentuknya lucu, seperti sarang lebah dengan motif pola honeycomb di bagian luarnya. Terbuat dari plastik bening dengan tutup bertangkai yang dilengkapi dengan kenop untuk membuka dan menutup aliran madu di bagian bawah. Bagian bawahnya yang berbentuk seperti dudukan telur dipakai untuk menaruh dispenser ketika sedang tidak digunakan dan menampung tetesan madu sekiranya masih ada yang menetes. Setidaknya, dia menetes di dalam wadah, bukan berceceran di meja. Satu set honey dispenser ini dilengkapi juga dengan sumbat untuk menahan madu agar tidak tumpah saat wadah sedang diisi. 
Honey dispenser ini bisa didapat dengan mudah di market place dengan rentang harga yang beragam. Dasar si aku nggak mau rugi, tentu aku cari yang harganya paling murah. Dan dengan konsep nggak mau rugi pula, aku sengaja beli 2 buah untuk kedua jenis maduku. Kebetulan harganya tidak sampai 50 ribu rupiah untuk sebuah dispenser, maka aku beli 2 sekaligus supaya bisa dapat benefit bebas ongkir (kalau belanja di bawah 50K nggak dapat promo bebas ongkir).
Cara pakainya mudah dan praktis. Untuk mengisinya kita pasang dulu sumbat di lubang bagian bawah, lalu tuangkan madu dari bagian atas setelah membuka tutup ulirnya yang bertangkai. Setelah wadah terisi, pasang kembali penutupnya lalu sumbat bisa dibuka. Setelah itu tempatkan dispenser ini di dudukannya sebelum digunakan. Ketika tiba saatnya untuk mengonsumsi madu, tinggal angkat dispenser mungil ini sambil memegang handle-nya, lalu tekan tuas di bagian pegangan, maka madu pun akan mengalir lancar dari lubang kecil di bagian bawah. Isi ulang madu ke dispenser ini cukup satu  hingga dua minggu sekali, jadi kuku rapuhku punya kesempatan untuk pulih sebelum kembali dipakai untuk membuka sumbat botol madu.
Satu kekurangan dari dispenser ini, masih ada sedikit lubang/celah di bagian penutupnya yang membuat aromanya menguar dan mengundang semut untuk datang. Beberapa kali, kudapati semut terjebak di bagian dalam dispenser ini. Tapi masalah kecil begini tentu bisa diatasi dengan mengoleskan sedikit minyak di area luar agar semut tidak bisa masuk. Atau lain kali, memang skunya saja yang mestinya beli madu asli supaya tidak disemutin. Madu yang kubeli mungkin agak-agak KW, yang banyak campuran gulanya sampai disamperin semut begini. Baiklah... lain kali aku beli madu asli lah.

Lain kali juga, aku bikin review tentang madu putih vs madu kuning atau madu hitam juga deh. Atau review produk lainnya. Tapi belum janji yaa. Kali ini sih janji buat setor blog post di event Nulis Kompakan Mamah Gajah Ngeblog bulan Mei ini. Terima kasih ya sudah mampir di sini.

Saturday, May 07, 2022

Ketupat Ketan Untuk Lebaran

Tema Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Mei ini adalah "Makanan Khas Kota Mamah". Duh... apa ya yang khas dari sini? Sebagai orang yang numpang hidup di Bandung hampir seumur hidup, aku nggak terlalu familier juga dengan kuliner Bandung. Lahir dari pasangan Jawa dan Tondano, selera di keluarga cukup beragam. Aku sendiri cenderung lebih suka gudeg dan makanan yang manis-manis, seperti seleranya bapak dan nggak ngikut seleranya ibu yang lebih suka ikan serta segala rica yang pedas-pedas. Lama tinggal di Bandung ternyata membuat ibu agak menurunkan standar kecintaannya pada masakan berbahan dasar ikan. Kenapakah? Katanya ikan di Bandung rata-rata tidak segar, akibat 'sudah mati 7 kali'. 🤣

Mengingat ini masih suasana lebaran, aku tuliskan serba sedikit memori tentang makanan khas Idul Fitri (dan Idul Adha) yang selalu ada di meja makan kami setiap tahun. Ketupat ketan, yang dimasak dengan santan. Lauknya bisa apa saja, sesuai usulan kami. Bisa rendang, opor ayam, gulai, kare, apapun lah, suka-suka saja.

Ketupat ketan dan lauknya. Bisa apa saja.
Ketika ibu masih ada, beliaulah yang selalu mengolah ketupat ketan ini. Kami anak-anaknya hanya membantu mengisi kulit ketupat dengan beras ketan yang sudah dicuci, dicampur sedikit santan dan ditaburi garam. Mengisi kulit ketupat harus di batas tiga perempat alias hampir penuh. Ibu selalu mengecek lagi hasil pekerjaan kami sebelum merebusnya dalam wajan atau panci besar berisi santan yang digarami lagi. Merebus ketupat ketan dalam santan tentu tak bisa ditinggal begitu saja seperti merebut ketupat beras. Rebusan harus terus dijaga, diaduk sesekali supaya santan tidak pecah. Itu pekerjaan yang dilakukan berjam-jam. Melelahkan tentunya. Setelah kenal dengan panci presto, ibu pun beralih menggunakannya untuk merebus ketupat. Cukup setengah jam saja setelah api dikecilkan dan hasilnya nggak jauh beda dengan ketupat yang dimasak dengan cara tradisional.

Ketupat ketan selalu jadi favoritku setiap tahun, dinanti-nanti keberadaannya karena rasanya yang gurih, beraroma sedap santan dengan tekstur yang kenyal. Apapun padanan lauknya, aku tak terlalu ambil pusing. Ketupatnya sendiri sudah enak kok. Mengingat kami adalah keluarga campuran dari dua suku yang berbeda, tak nampak dominasi suku tertentu di meja makan. Saling toleransi sajalah. Bapak juga nggak rewel kok soal makanan. Makan apapun, dibawa asik aja. Hal ini terbawa ke kami, anak-anaknya. Hayu, mau makan ketupat ketan pakai lauk apa? Setelah 1-2 hari lebaran, bosan dengan rendang atau opor ayam, ketupat ketan dimakan dengan abon saja pun jadilah.

Perdana memasak ketupat ketan hitam.

Setelah ibu meninggal dunia, tradisi memasak ketupat ketan dilanjutkan oleh kakak sulungku. Pernah di sebuah momen lebaran, kakakku ingin memasak ketupat memakai beras ketan hitam. Hmm...? Tidak biasa tapi ya kita turuti saja. Mengenai rasa, tak jauh berbeda dengan ketupat beras ketan putih. Cuma warnanya saja tampak eksotis.

Ketupat rice cooker vs presto.
Tradisi memasak ketupat ketan di setiap lebaran kulanjutkan setelah kakak sulungku berpulang. Aku tidak masak banyak-banyak karena aku tinggal sendiri saja. Kadang aku hanya memasak setengah kilo atau paling pol sekilo beras ketan (bisa jadi 12-14 buah ketupat berukuran sedang cenderung kecil) yang kubagi bersama kakak yang tinggal di komplek sebelah, atau dicicip teman yang berkunjung ke rumah. Tahun ini aku masak sekilo yang ternyata tidak muat di dalam panci presto imutku. Yuk bagi dua deh, sebagian kumasak di panci presto, sebagian lagi di rice cooker dengan mode memasak beras merah (sekitar 55 menit). Hasilnya? kurang lebih sama-lah.

Untuk mengabadikan tradisi hidangan lebaran ini, kubagikan langkah-langkah pembuatan ketupat ini di salah satu aplikasi memasak. Ternyata eh ternyata, ada web yang mengambil gambarku dan menyalin tulisan dari aplikasi memasak itu tanpa menyebut sumber. Untuk kali ini, aku tak akan mempermasalahkan deh... berprasangka baik saja karena ini adalah masalah tradisi, jadi dirasa pantas untuk dibagikan kembali. Kumaafkan lahir dan batin, semoga bermanfaat dan selamat menikmati ketupat ketan.

Wednesday, April 20, 2022

Hobi? Hummm.... Apa Ya?

Terus terang saja, membuat tulisan tentang aktivitas favorit yang biasa disebut hobi, sesuai dengan Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan ini, membuat aku jadi agak merenung. Apa ya hobiku sekarang ini? Rebahan, palingan. Hahaa...
Ketika kecil dulu, di masa buku kenangan bergiliran diisi oleh teman-teman, aku biasanya menulis aktivitas menggambar dan menyanyi di kolom hobi, Bertambah dengan kegemaran mengoleksi perangko yang beriringan dengan korespondensi. Di masa itu, saling berkirim surat dengan sahabat pena masih sangat lazim dan aku sungguh-sungguh menyenangi pengalaman itu. Saling berkirim surat sedikit banyak membantuku mengasah keterampilan menulis dan merangkai kata dalam bahasa yang baik dan terstruktur. Belajar sabar juga untuk menerima surat balasan yang kutunggu-tunggu di rentang waktu beberapa hari hingga hitungan minggu. Sangat berbeda dengan aktivitas berkirim pesan yang terjadi sekarang ini, di mana pesan instan tak perlu waktu lama untuk terkirim dan berbalas.

Dari aktivitas korespondensi itu, selain manfaat berupa kematangan psikologis dan kekuatan mental (menulis surat panjang dengan tulisan yang konsisten rapi perlu perjuangan lho), pastinya ada dong manfaat yang didapat secara fisik yang bisa jadi artefak sejarah. Selain mendapat beragam cerita seru tentang aktivitas teman-teman sebaya di tempat lain, beberapa kali juga aku menerima souvenir dari mereka. Saling bertukar lah kita. Souvenir yang khas dari daerah kita, tapi berukuran cukup kecil untuk bisa masuk amplop? Mikir lho itu untuk mencari benda yang pas. Bisa gantungan kunci, batas buku, sapu tangan, atau foto diri kita juga bisa. Ragam perangko yang tertempel di amplop juga jadi benda koleksi yang tak kalah menarik. Aku pun mengaku-aku sebagai philatelis. 🖃

Sampul Hari Pertama Jamnas 86.
Kubeli ketika mengikuti Jamnas di Cibubur.
Sebagai philatelis, aku merawat perangko-perangko yang kudapat dari teman-teman sahabat penaku. Kadang aku beli juga perangko bekas untuk menambah koleksiku, tapi rasanya kok tidak original ya. Ingin beli koleksi khusus semacam sampul hari pertama peringatan hari istimewa atau koleksi khusus PT Pos, kok rasanya sayang ya, buang uang untuk perangko. Mau dipakai untuk berkirim surat, sayang karena perangkonya edisi terbatas. Kalau dikirim ke orang lain, perangko edisi khusus itu tak akan kumiliki lagi dong, malah jadi milik orang lain. Tapi mau disimpan dan disayang-sayang juga kok ya terlihat ‘tak berguna’ dan buang uang ya. Ahahaa... akhirnya hobi koleksi perangko tinggal memori saja. Album perangko milikku juga sudah hilang. Sayang? Nggak sayang-sayang amat siih, toh koleksi yang kumiliki juga biasa-biasa aja, nggak istimewa. Jadi ya shifting saja ke kegiatan menyenangkan lain. Mariii...!

Sudah kubilang kan bahwa aku suka menyanyi? Dulu itu suka sekali menyanyi segala macam lagu. Ketika acara ‘Ayo Menyanyi’ atau 'Lagu Pilihanku’ ada di tv, aku biasa mengikuti acara tersebut sampai tuntas dan dari sana tak jarang aku belajar lagu baru untuk kunyanyikan dengan gembira di depan kelas ketika guru meminta muridnya untuk bergiliran menyanyi satu persatu dalam pelajaran kesenian. Biasanya teman-teman jadi anteng menyimak, menunggu-nunggu, aku akan menyanyi lagu apa kali ini? Sementara teman yang lain setia dengan lagu Pelangi, Lihat Kebunku atau Mendaki Gunung, aku biasanya membawakan lagu yang baru pertama kali mereka dengar, lengkap dengan gerak dan ekspresi. Sok artis banget ya? 😜 Aku pun mulai menggubah lagu padahal tidak punya keterampilan memainkan alat musik apapun di masa itu. Beberapa laguku yang lain sempat kuunggah di kanal Youtube, dengan iringan gitar dan suara ala kadarnya. Silakan diapresiasi.

Sekarang ini, aku sudah jarang menyanyi. Hobi menggambar pun luntur justru ketika aku mulai kuliah di FSRD ITB. Ketika SD, SMP hingga SMA aku merasa skill menggambarku cukup mumpuni, pas masuk kuliah auto minder ketika melihat goresan tangan teman-teman kok luar biasa sekali. Rata-rata mereka menggambar dengan santai, goresan cepat srat sret, tahu-tahu jadi aja gambar yang bagus. Sementara aku perlu usaha ekstra keras untuk membuat gambar yang bahkan hanya dibilang lumayan ‘benar’. Kuliah di DKV yang katanya salah satu jurusan favorit ternyata tidak membuatku bahagia. Aku sempat ingin pindah jurusan ke studio tekstil. Menggambar sosok dengan gaya fashion adalah salah satu hal yang membuatku bahagia, terlebih lagi ketika kukirimkan sketsa desain itu ke salah satu majalah, tayang, dan dapat uang. Bahagia nggak siih...? Aku sempat jadi kontributor rubrik Sketsa di majalah Ummi selama setahun lebih, sampai diundang jadi juri bersama Mbak Anne Rufaidah ketika majalah tersebut menggelar lomba sketsa busana muslim.
Beberapa sketsa busana yang sempat tayang di majalah Ummi.
Urusan kesenangan menggambar sketsa fashion ini ada irisannya dengan kesenangan pada dunia jahit menjahit. Ibu yang dulu adalah guru di sekolah keterampilan putri jadi inspirasiku. Selain membawa karya murid-muridnya ke rumah (untuk dinilai), ibu juga seringkali menjahit sendiri baju-baju untuk keempat putrinya, terutama saat Idul Fitri. Dulu ibu punya mesin jahit yang diengkol pakai tangan, lalu dilengkapi dengan dinamo dan digerakkan listrik. Sesekali, aku coba menjahit dan ternyata suka. Ibu lalu membeli mesin jahit baru yang memiliki fitur pola jahitan yang variatif. Menjahit dengan mesin jahit baru itu, tentu jauh lebih menyenangkan. Aku pun terkadang menjahit baju sendiri, termasuk seragam SMA yang kelimannya kujahit dengan pola jahitan yang tersedia di mesinnya. Selain praktis karena tak perlu mengelim dengan tangan, pola jahitan cantik juga jadi penghias seragam SMAku.

Celemek batik bolak-balik. Upcycle dari baju lama.
Kesukaan jahit menjahit, seiring dengan kecintaanku pada kain-kain tradisional. Inginnya sih seiring juga dengan kesenangan untuk mengoleksinya, terutama pada kain batik yang variannya luas sekali. Mengenali dan mengoleksi serba sedikit kain batik, sudah membuatku mengaku-aku sebagai batikmania. Makanya blog ini kunamai demikian. Tapi seperti koleksi perangko, koleksi batik ini sayang-sayang uang juga ya. Kalau hanya dikoleksi saja, untuk apa juga? Toh lama-lama lapuk digerus masa. Kalau digunting dan dijadikan baju, sayang... motif batiknya harus ‘berkorban’, sesuai dengan model baju yang diinginkan. Selain itu, sudah rahasia umum juga bahwa batik yang asli biasanya menggunakan pewarna alami yang mudah pudar setelah dicuci beberapa kali. Tapi aku tetap senang sih mengoleksi batik, biarpun tidak mau (atau tepatnya tidak mampu) merogoh kocek terlalu dalam untuk memperjuangkan sehelai kain batik bagus untuk dikoleksi. Saat ini kain-kain batikku masih banyak yang teronggok, menunggu untuk dimanfaatkan. Iya siaap. Tunggu nanti kalau aku dapat hidayah. Toh mesin jahit juga setia menanti. Apakah akan cukup waktu untuk membuat baju lebaranku sendiri? Kita lihat saja nanti ya.

Sunday, March 20, 2022

Kucing Garong


“Dasar kucing garong! Kuletakkan gagang telefon di tempatnya sambil memaki si penelefon di luar jangkauan pendengarannya.
Untuk ketiga kalinya, dia mengajakku makan bersama. Kali ini buka puasa bersama ceritanya, tapi dia hanya ingin berdua saja. Huh! Setelah gagal dengan usahanya mengajakku makan bersama di restoran miliknya, dia masih belum putus asa rupanya.
Bukan cuma sebal, aku jadi sedih. Hingga saat ini, hanya dia yang berani mengajakku 'kencan', sementara orang yang kuharapkan akan membawaku pergi ternyata malah mengajak menikah… gadis lain. 
Setelah bubaran dengan tunanganku awal tahun, aku tidak putus harapan. Aku yakin, masih ada laki-laki baik yang potensial untuk kujadikan pasangan hidup. Tidak semua laki-laki brengsek lah... Tapi yang datang kok dia? Laki-laki beristri itu, yang bahkan anaknya ada di kelasku!!!
Mantan tunanganku was bad enough. Dia mengaku sudah bercerai dari istri yang memisahkannya dengan dua putrinya. Tapi ketika kami sudah mulai mempersiapkan pernikahan dan menentukan tanggal, eh… dia bilang,”Maybe we have to delay our marriage. I haven’t really divorced from my wife.” Hari itu juga aku deklarasikan perpisahan dengannya. Sayangnya, aku tak bisa bertemu muka dan menampar wajahnya personally. Kami terpisah samudera.

Undangan acara buka bersama dari karibku semasa SMA rasanya bisa jadi pengalih perhatian nih. Sofi jadi tuan rumah. Yanti yang berdinas di Purwakarta kebetulan sedang di Bandung. Aku sendiri, setelah lulus kuliah dan mengajar di sebuah sekolah swasta, bisalah mampir ke rumah Sofi dengan acara bertajuk reuni ini. Tak kusangka hadir juga cowok-cowok se-gang ketika Paskibra dulu. Fadil datang bersama istrinya, sedangkan Teddy yang sekarang bekerja di Jakarta, datang dengan style. Betul-betul reuni kecil yang meriah.
“Dengar-dengar, ada kabar baik nih, Ted? Kok undangannya belum sampai ke sini?” Sofi membuat muka Teddy memerah dengan pertanyaannya. Yang tidak dia tahu, mataku pun membulat mendengar pertanyaan itu. Teddy mau menikah?? Dan dia tidak mengajakku untuk menjadi pengantinnya? Krkkk.. krak!! Aku patah hati lagi.
“Iya. Insya Allah setelah lebaran.”
“Eh… kirain bakalan sama Desi.” Celetuk Yanti, ringan saja. Kali ini aku yang gelagapan.
“Dari dulu udah dijodoh-jodohin, eh gagal.” Yanti memang paling rajin ngeledekin aku dengan Teddy sejak dulu. Sejak kami sama-sama aktif di Paskibra.
“Laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik…” ujarku menyitir sebuah hadits nabi.
“Teddy terlalu baik lah buatku….” Ujarku. Rasanya aku berhasil menyembunyikan rasa hati yang sesungguhnya.
“Bukan sebaliknya, Des?” timpal Teddy tersenyum. Masih menawan seperti dulu.
“Ya… mungkin juga.” Ujarku. Komentar garing! Tiba-tiba aku kehilangan sense of humor. Kusembunyikan kecewaku di balik tegukan besar es kelapa muda segar. 

Sejak Yanti semangat sekali menjodoh-jodohkan kami berdua, tepatnya meledek kebersamaan kami, aku memang jadi lebih memperhatikan dia. Kepribadiannya yang tenang, dikombinasikan dengan otak encer, plus tampang dan hati yang cenderung di atas rata-rata, cukup membuat diariku padat dengan cerita tentang dia.
Dari 5 orang bersahabat di Paskibra, selepas SMA kami saling berpisah. Aku dan Teddy bertemu lagi di kampus yang sama walaupun berbeda jurusan. Aku di Biologi, sementara Teddy mengambil Teknik Informatika.
Di kampus Ganesha, kurasakan jatuh cinta yang sesungguhnya pada dia. Betapa berdebarnya ketika lewat di depan gedung fakultasnya. Hanya melihat mobilnya parkir di tepi jalan Tamansari saja sudah membuatku tersenyum-senyum sepanjang hari. Sekilas melihat sosoknya di gedung Oktagon saat kuliah umum pun sudah cukup membuat kupu-kupu di perutku berdansa. Bertemu dan disapanya dalam perjalanan ke perpustakaan, membuatku merasa berbunga-bunga. Gila! Tanpa disadarinya, dia jadi penyemangatku, dan memacuku untuk lulus cepat, sementara dia kelihatannya betah dengan suasana kampus.

Ponselku bergetar. Kulirik layarnya untuk melihat identitas si penelepon. Si kucing garong! Ah… tidak cukup menderitakah hariku saat ini?
“Maaf… saya tidak bisa bicara saat ini, Pak.” Ujarku formil, dan langsung menutup telefon.
“Judes amat sih, Des!” celetuk Yanti.
“Biarin ah.” Ujarku tak acuh.
Kubiarkan handphone-ku bergetar hingga berhenti sendiri.
Reuni kali itu tidak lagi meriah. Perpisahan di halaman rumah Sofi saat itu jadi perpisahan sungguhan. Selamat menempuh hidup baru, Teddy. Hiks.

* * *

Ponselku bergetar. Kulirik layar depan ponselku, nama Teddy terbaca di sana. Kutarik nafas panjang.
“Hallo! Mau nganterin undangan ya? Kapan?” rentetan pertanyaanku sebelum dia bahkan sempat menyapa. Jeda sesaat. Kurasakan dia tersenyum di seberang.
“Akhir minggu ini aku ke Bandung. Bisa ketemu?”
“Bisa. Di Warung Pasta aja ya.”
“Oke. Kalau kamu nggak datang, undangannya aku kirim.”
“Iya…iya… aku datang.”

* * *

Aku datang lebih dulu. Kupilih satu tempat di area depan taman dan membuka ponselku sambil menunggu. Tak berapa lama, dia mengetuk meja di hadapanku. Kami bertukar senyum lalu dia duduk berseberangan. Kami saling berdiam diri sampai pesanan kami datang.
“Maafkan aku…” katanya. Aku mengangkat alis. Bertanya.
“Lama tidak bertemu. Aku memang sengaja menghindarimu.”
“Oh… nggak apa-apa. Aku sudah duluan (menghindarimu).” kupuntir spaghettti di piringku lalu kusuapkan sekaligus untuk kemudian kukunyah dengan geram.
“Sebenarnya… aku sangat menyukaimu,” ujarnya, dengan suaranya yang terdengar berat dan susah keluar. Kunyahanku berhenti. Ini anak… pada detik-detik penyerahan kartu undangan pernikahannya, tega-teganya dia bilang begitu???
“Aku ingin namamu yang tercetak di undangan ini, bersanding dengan namaku. Tapi sekaligus juga tidak ingin. Kita terlanjur sahabatan.”
Entahlah, aku harus tersanjung, marah, kecewa, atau malu dengan hal itu. Tak ayal, aku ingin tahu juga apa alasannya.
“Sebagai sahabat, aku ingin memberi yang terbaik buat kamu. Nasihat, cukup baik nggak?” tanyanya sambil mempermainkan sendok di tangannya.
“Bolehlah.”
“…” kulihat mukanya yang tepat di depanku. Gila! Dia masih setampan dulu, bahkan auranya makin menyala! Kupalingkan pandanganku ke piring di hadapanku.
“Tetaplah seperti kamu sekarang ini.” Ujarnya kemudian.
“Ha???” Itu saja nasihatnya?” dia mengangguk.
“Itu sih nggak perlu dikasih tahu lagi…”
“Supaya aku nggak menyesal kalau menikah nanti.”
“Ya jangan dong!”
“Kalau kamu jadi feminin, manja, dan tidak mandiri, aku akan menyesal tidak menikahimu.”
“Kamu jahat ih! Tega ngomong begitu.” Dia diam.
“Memangnya, calon istrimu, karakternya gimana sih?”
“Prita? Dia feminin, manja, dependent. Dengan begitu, aku merasa dibutuhkan.” Aku mengangguk-angguk.
“Baguslah.”
“Tapi selera humormu, aku suka.” Sambungnya kemudian.
“Nggak perlu aku. Kamu bisa sewa badut Ancol. Lebih dekat.”
“Kamu cerdas, aku respek karena itu.”
“Makasih yaa.” Sebuah reaksi garing lagi.
“Kamu mandiri, tegar, sabar, pintar …”
“Bundar,” sambungku asal saja. Dia tersenyum kecil.
Strong sense of humor. Satu sisi dirimu, aku suka.” Makin lama dia bicara, sebetulnya hatiku makin teriris.
“Tapi aku ingin merasa dibutuhkan, tidak hanya untuk teman diskusi. I want a friend, a wife, a mother for my kids, a sister, and a lover in one person.”
And you found all of them in your future wife. I see. Congratulations.” Aku tersedak. Aku belum mengunyah spaghetti sialan itu dengan baik.
“Tidak semua, memang. But nobody’s perfect. Sebagiannya ada padamu.”
“Aku nggak keberatan jadi istri kedua.” Ujarku. Mudah-mudahan dia tidak mendengar keseriusan dalam nada suaraku. Lagi-lagi, dia cuma tersenyum.
“Maafkan aku, Tam. Kuharap kamu mendapat pendamping terbaik.” Eh, dia memanggilku “Tam”? Nama kecilku. 
“Aku berpikir lebih baik menjaga jarak kita supaya tidak ada yang kecewa. Mungkin akulah yang akan paling kecewa karena dari dulu, sejak teman-teman meledek menjodoh-jodohkan kita di SMA dulu, aku mulai memperhatikan kamu, dan ternyata aku suka. Entahlah dengan kamu, aku rasa kamu sangat baik sebagai sahabat. Tapi kamu terlalu mandiri, tak memerlukan apa-apa dari orang lain. Aku merasa tidak berharga di sisimu, tidak pantas. Daripada berharap muluk-muluk, aku sudah merasa puas dengan persahabatan kita. Meskipun sering menghilang dan menjaga jarak, sebenarnya aku tetap nggak mampu melupakan kamu.”
‘Lalu mengapa kamu muncul lagi sekarang, with shocking news like this?’ satu kalimat dalam benakku menginginkan jawaban.
“Prita biasa memintaku untuk menemaninya ke sana-sini, dan itu membuatku merasa dibutuhkan.”
Good for you. She’ll be a good wife, your lover, your friend, your sister, mother for your kids, she’ll be just perfect!” Aku biasa bicara dalam bahasa Inggris kalau sedang kalut. Bukannya sok gaya, tapi justru untuk menutupi perasaanku yang sebenarnya. Bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu akan terkait erat dengan perasaanku saat aku bicara. Dan saat ini aku sedang sakittt, dan aku tak ingin dia tahu.

Padahal, akhir-akhir ini, entah dirasuki setan apa, aku mulai sedang-hampir-akan mempertimbangkan usul Fasya, teman kantor yang terkenal dengan ide-ide brilyan (baca: edan) untuk melamar dia saja, daripada nunggu dilamar dan dia memang ternyata tak datang-datang. Lebih baik didului saja, begitu katanya. Hampir saja ide gila itu kulaksanakan. Untung saja tidak jadi. Atau malah rugi? Ah… Entahlah. Aku tak tahu lagi. Yang kutahu, sekarang ini aku ingin segera pergi dari hadapan pria perampok hatiku ini, yang tak juga dikembalikannya hingga kini. Yah… bawa pergi sana sebagian hatiku! Aku tak kuasa merebutnya kembali dari kucing garong yang satu ini. Kuhabiskan spaghetti di piringku, lalu kuteguk juga jus lemon dalam gelas tinggi di hadapanku. Kecut…! Biarlah kecut ini terasa sampai ke hati. Ih!! Sentimentil banget sih Tam? Kutegakkan mukaku, menatap langsung ke bulat matanya.
“Selamat ya…!”
“Kamu akan datang di pernikahan kami?”
“Mungkin.”
“…” dia tidak berkata-kata lagi. Lalu kami berpisah. Kubawa kartu undangan cantik darinya dengan tangan yang dingin.

Aku pulang dengan sebuah kehancuran jiwa yang baru. Apa yang salah dengan takdirku? Kenapa aku (pernah) jatuh cinta pada dia? Dia yang telah mencuri hatiku dan membawanya pergi. Hatiku tak kan pulih dalam waktu dekat. Jadi… kayaknya untuk saat ini aku akan terima nasihat Teddy sepenuh hati. Tetaplah seperti kamu sekarang ini. I am what I am. Biarpun nanti malam bantalku akan basah dengan air mata hasil nangis Bombay, tapi aku akan tetap jadi gadisnya, seperti yang dia mau. Gadis yang tegar, pintar, sabar, dan… bundar? Hah!!! Yang terakhir nggak-lah.

* * *
Tayang perdana di Majalah Chic edisi Juli 2007. Tayang ulang dengan edit pangkas habis untuk ‘Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog’ edisi Maret: Cerita Fiksi (Dengan Unsur) ITB

Solusi Sehat Body Sampai Kuku