Showing posts with label republika. Show all posts
Showing posts with label republika. Show all posts

Monday, December 20, 2010

Citizen Journalism


Republika ahad, 19 Desember 2010. Foto hasil bidikanku muncul di situ, di halaman A9, di kolom Citizen Journalism. Di sini, hitam-putih saja. Sebetulnya, berwarna lebih bermakna. Bisa dilihat di blog-ku yang lain. Di dunia-batikmania, ada. ;)

read more...

Thursday, March 05, 2009

Pengujian

Ambil dari Republika online
By Danarto
Selasa, 13 Januari 2009 pukul 14:00:00

Allah menguji hamba-Nya dengan musibah, sebagaimana seseorang menguji kemurnian emas dengan api. Jika yang terlihat emas murni, itulah orang yang dilindungi Allah dari keragu-raguan. Jika mutunya kurang dari itu, pertanda ia orang yang bimbang dan ragu. Dan jika yang terlihat seperti emas hitam, itulah orang yang benar- benar ditimpa fitnah dan musibah - Nabi Muhammad SAW
Tidak dengan sendirinya jika seorang hamba menyatakan dirinya beriman, ia bebas dari pengujian. Tidak dengan sendirinya jika seorang hamba menyatakan dirinya siap diuji, lalu ia bebas dari rasa takut dari pengujian itu. Memahami pengujian iman adalah memahami kekuasaan Allah. Kesadaran yang paling puncak ketika kita memahami Alquran adalah kepasrahan kepada Tuhan.
Iman dan rasa takut itu bersanding sehingga keduanya saling memandang. Barangkali ada tenggang rasa. Memang, rasa takut yang dikaruniakan kepada setiap makhluk itu merupakan kendala terbesar dalam menempuh lautan iman. Bagaimana iman yang besar yang didampingi keberanian yang besar pula, dapat kita miliki dalam beribadah, itulah soalnya.
Sebenarnya, apa pun nasib kita, kita layak bersyukur karena nasib itu Allah sendiri yang memberikannya. Tidak hanya berwujud musibah, pengujian itu juga berwajah keuntungan. Alhamdulillah. Hadis riwayat At-Thabrani yang dikutip di atas selalu mengingatkan kita bahwa Allah Maha Mengetahui atas seluruh aktivitas makhluknya. Bahkan ketika kita dikaruniai kekuasaan -- sebagai presdir maupun ketua RT -- kita justru sedang masuk ke laboratorium pengujian Allah itu. Kita menjadi pemimpin yang baik atau sebaliknya. Iman dan ketakutan, pengujian dan keputusasaan, seperti jalin-menjalin.
Begitu besar sesungguhnya tanggung jawab dan pengujian yang dibebankan seorang pemimpin, sampai-sampai kita ingat Abu Bakar Al-Shiddiq yang pernah berpidato: ''Mereka yang paling sengsara di dunia dan di akhirat adalah para raja! Apabila seorang raja memiliki sesuatu, maka Allah akan menjadikannya selalu tak puas. Muak akan apa yang dimilikinya, tapi rakus terhadap apa yang digenggam orang lain.''
''Ia memperpendek masa hidupnya dan mengisi hatinya dengan kecemasan. Karena raja tidak puas bila mendapat sedikit, namun sakit hati kalau mendapat banyak. Ia bosan akan hidup enak dan keindahan tak lagi menarik baginya. Tak ubahnya seperti uang palsu atau fatamorgana, ia tampak ceria tapi gundah-gulana batinnya. Dan bila ia meninggal dunia, akan ditimpa hisab yang keras, dengan sedikit pengampunan. Sesungguhnya raja adalah orang yang patut dikasihani!'' - ah

Wednesday, February 11, 2009

Kita, Cina, dan India (Renungan Tragedi Demo Sumut)

Dikutip dari Republika Jumat, 06 Februari 2009 pukul 06:56:00
Oleh: Zaim Uchrowi

Berangkatlah dengan damai ke hadirat Ilahi, saudaraku Abdul Aziz Angkat! Engkau bukan korban. Engkau pahlawan meskipun keluarga memilih memakamkanmu di pekuburan biasa. Kepahlawananmu kau tunjukkan dengan kematian yang menjadi penanda bagi seluruh bangsa ini: Moralitas macam apa yang kita miliki sekarang ini sebagai bangsa?

'Pemekaran'. Itu kata indah yang dalam beberapa tahun terakhir menari-nari di benak banyak orang di seluruh Nusantara. Ada argumen indah di balik kata itu. Buat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Tapi, tak sedikit pula permainan kepentingan yang ada di balik kata dan alasan indah itu. 'Pemekaran daerah' berarti memperbanyak jabatan serta kesempatan menyedot dana publik. Akan ada jabatan gubernur, bupati, dan wali kota baru. Akan banyak kursi baru di dinas-dinas, juga di lembaga legislatif. Akan muncul pula orang-orang kaya baru.

Akankah rakyat umum teruntungkan dari 'pemekaran'? Tak selalu. Tak sedikit provinsi, kabupaten, serta kota hasil pemekaran yang sampai sekarang belum layak sebagai provinsi, kabupaten, dan kota semestinya. Tak sedikit pemekaran yang lebih didorong kepentingan elite. Berbagai cara akan ditempuh untuk mengegolkan pemekaran. Termasuk, bila perlu, dengan aksi demo anarkis. Entah apakah hal ini pula yang terjadi pada aspirasi pemekaran Provinsi Tapanuli. Yang pasti, penyampaian aspirasi itu telah berkembang anarkis hingga engkau, Ketua DPRD Sumatra Utara, mengembuskan napas terakhirmu.

Memang seburuk inikah wajah kita saudaraku? Budaya macam apa yang sebenarnya kita miliki saat ini? Dengan budaya yang ada, bagaimana kita dapat menjadi bangsa besar? Bagaimana kita mampu berdiri tegak dan bermartabat sebagaimana India, Cina, apalagi Amerika di tengah kompetisi global yang kian ketat ini? Ataukah kita telah menikmati, lantaran terbiasa, terus berkubang dengan berbagai persoalan? Termasuk dengan pertikaian demi pertikaian? Amerika, Cina, dan India punya modal jelas untuk dapat berjaya di kancah global.

Dengan hegemoni politik dan budayanya, Amerika akan terus mencetak dolar, mengekspor film, musik, budaya makan, program teknologi informasi, serta senjata ke pasar dunia buat memakmurkan dirinya. Cina memiliki masyarakat pekerja superkeras yang mampu mengembangkan industri manufaktur yang menguasai dunia. Maka, di tengah resesi sekarang, pun mereka terus berekspansi untuk menguasai pasar Afrika. Juga, agresif merebut energi di seluruh dunia. Sedangkan, India akan terus tertopang oleh jejaring para profesionalnya yang menguasai lembaga-lembaga serta perusahaan-perusahaan dunia.

Hingga 64 tahun merdeka, kita belum punya modal jelas buat berjaya di dunia. Kita masih bergelut dengan persoalan-persoalan lama, juga tetap mempertahankan perilaku-perilaku lama. Rumitnya pula, kita tidak merasa ada yang keliru dengan keadaan bangsa. Kita tak merasa perlu ada yang diubah dari bangsa ini. Kita tak merasa perlu mendesak para pemimpin, serta seluruh kekuatan politik, untuk bekerja keras mencari jalan baru bagi Indonesia. Kita bukan penguasa seperti Amerika, bukan pekerja keras macam Cina, juga belum jadi profesional global seperti India. Apa yang akan kita andalkan buat mengatasi kemiskinan, keterbelakangan, kemerosotan lingkungan, serta moral yang ada?

Saudaraku Abdul Aziz Angkat, kematianmu mengingatkan bahwa saat ini kita masih terlena. Kita, para akademisi, budayawan, wartawan, profesional, rohaniwan, serta para pendidik, ini masih terus menangguk keuntungan dari kecentangperenangan yang ada. Kita belum sungguh-sungguh berusaha mentransformasi bangsa ini menjadi bangsa maju yang mampu menyejahterakan dan menenteramkan seluruh rakyatnya. Jalan kematianmu adalah jalan syuhada atas bakal terjadinya perubahan mendasar Indonesia.*

Wednesday, May 28, 2008

Filsafat Kamar Mandi

Membaca rubrik Resonansi di Republika Senin lalu (19 Mei), aku tergelitik untuk membaginya dengan pembaca blog yang lain. Filosofi yang bagus untuk ditiru.
Filsafat Kamar Mandi
Ahmad Tohari - Republika
Suatu kali, ketika menghadiri suatu pertemuan, saya diinapkan selama beberapa malam berdua dengan Pak Fulan, seorang tokoh masyarakat. Orangnya tenang, usianya lima puluhan. Selama sekian hari bersama dia, saya mendapat pengalaman yang menarik. Bukan dalam kaitan dengan pertemuan itu, melainkan dalam hal penggunaan kamar mandi.
Saya perhatikan, Pak Fulan selalu meninggalkan kamar mandi dalam keadaan amat rapi, seperti belum dipakai. Lantai kering seperti habis dipel dan peralatan mandi tertata rapi. Bahkan, kaca sudah bersih dari uap air panas yang mengembun. Jelas, Pak Fulan telah mengelap kaca cermin itu. Karena beberapa kali menemukan hal seperti ini, saya bertanya kepada Pak Fulan.
''Bapak selalu meninggalkan kamar mandi dalam keadaan prima. Bukankah itu urusan room boy? Lalu, kenapa Bapak mau repot?''
Pertanyaan itu hanya ditanggapi dengan senyum dan baru dijawab setelah saya mengulangnya dua kali.
''Tidak apa-apa. Saya hanya ingin menghormati pemakai di belakang saya.''
''Tapi, tidak selayaknya Bapak menghormati saya, kan?''
''Ah, siapa bilang? Kita hidup bersama, jadi harus saling hormat. Lagi pula, kita hidup dalam tatanan yang berkelanjutan. Maka, hak-hak mereka yang berada di belakang kita harus kita hargai pula.''
Saya mengangguk-angguk. Dan, pembicaraan putus sampai di situ. Namun, kata-kata Pak Fulan terus terngiang dalam telinga saya, bahkan sampai jauh hari setelah pertemuan itu usai. ''Kita hidup bersama dan berkelanjutan. Maka, hargai hak-hak mereka yang datang sesudah kita.''
Ucapan Pak Fulan ini amat mengesankan. Ini ucapan seorang yang selalu meninggalkan kamar mandi dalam keadaan prima karena dia mau memberi kemudahan dan mengenakkan mereka yang datang sesudahnya. Menurut kata-katanya sendiri, Pak Fulan bermaksud menghormati hak-hak mereka.
Saya membayangkan, jika menggunakan fasilitas umum, Pak Fulan akan bersikap sama; penuh tanggung jawab dan bila sudah selesai akan meninggalkannya dalam keadaan seperti semula atau malah lebih baik lagi. Bila dia seorang pegawai negeri, bila pensiun akan meninggalkan kantor dalam keadaan dan suasana yang kondusif sehingga penggantinya akan bekerja dengan enak. Dan, bila Pak Fulan seorang kepala desa, ketika masa tugasnya habis, dia akan lengser dengan anggun. Ditinggalkan jabatan dan desanya aman-tertib, siap jadi lahan berkembangnya geneasi berikut.
Bila Pak Fulan kelak meninggal? Saya percaya Pak Fulan akan meninggalkan kehidupan yang nyaman bagi perkembangan anak-cucunya. Juga, nilai-nilai dan tatanan yang mendukung kesadaran bahwa hidup adalah hadir bersama-sama dan berkelanjutan. Dan, dengan kesadaran seperti itu, Pak Fulan akan meninggalkan rumah-pekarangan yang terjaga, lingkungan yang diperhatikan kelestariannya.
Sayangnya, dalam kehidupan nyata, amat sedikit orang yang punya falsafah seperti Pak Fulan, yang amat sadar bahwa hidup adalah kehadiran bersama dan berkelanjutan. Kesadaran ini menuntut setiap orang tidak boleh terlalu egoistis. Juga tidak boleh serakah dengan ruang dan waktu serta sumber daya alam yang menjadi jatah generasi mendatang. Kehadiran bersama dan berkelanjutan juga membutuhkan tatanan hidup dan nilai-nilai yang terus-menerus dibangun dan ditaati. Tapi, dalam hal ini pun kita masih amat kedodoran.
Alangkah sering kita mendengar oknum pemimpin, baik sipil, polisi, maupun militer, yang menjual hutan, laut, atau gunung emas secara ilegal sehingga amat merugikan masyarakat dan generasi mendatang. Dalam skala pribadi, alangkah banyak orang yang begitu kemaruk menikmati kehidupan dengan mengabaikan etika dan moral. Bahkan, melupakan kepentingan anak-cucu mereka sendiri. Maka, jadilah kita masyarakat yang mungkin akan gagal membangun hidup sebagai sebuah kehadiran bersama dan berkelanjutan. Menyedihkan, memang.
Ah, ini sudah waktunya mandi pagi. Saya akan meniru Pak Fulan. Bila selesai, saya akan tinggalkan kamar mandi dalam keadaan prima. Dengan demikian, istri atau anak saya yang akan masuk kemudian bisa menikmati kemudahan dan hak-haknya sebagai orang yang datang kemudian terjamin sepenuhnya.

Salah Satunya... Kok Jadi Banyak.