Friday, May 29, 2026

Tempat Yang Membentukku

Setiap kali melintas di Jalan Ganesha, memoriku serasa ditarik kembali ke tahun 90-an ketika aku menjalani masa muda sebagai mahasiswa. Di persimpangan Ganesha-Ciung Wanara, 3 lokasi berdekatan membuat hatiku selalu tertaut kepadanya.

Jika menyusur Jalan Ganesha masuk dari Ir.H. Juanda, di sebelah kanan adalah kampus kebanggaan, ITB dengan area FSRD yang nampak di seberang lapangan Aula Timur. Tepat di pertigaan itu terdapat Masjid Salman yang menjadi tempatku berlabuh hampir di setiap shalatku. Sementara belok kiri ke arah Ciung Wanara, berdiri sebuah bangunan lain yang menjadi tempat tinggalku selama beberapa waktu: Asrama Putri ITB. Saat ini dia sudah berubah fungsi, bukan lagi Asrama Puteri, tapi memori tentang tempat ini akan selalu terpateri di hati.  

Kampus Ganesha

Kampus ini sempat hanya menjadi mimpi buatku, yang lulusan sebuah sekolah negeri di pinggiran kota. Aku yang hanya belajar biasa, tidak pula punya prestasi gemilang, mana mungkin bisa tembus program studi reguler di kampus bergengsi itu. Bermodal nekat juga, kuberanikan diri menjajaki kemungkinan masuk melalui jalur ujian khusus untuk menjadi mahasiswa seni rupa. Bahkan ketika tes gambar pun aku tidak cukup percaya diri. Aku sudah sampai di tahap pasrah dan siap menerima kenyataan gagal. Tapi rencana Allah memang tak bisa diduga.

Aku lolos menjadi salah satu mahasiswa jurusan desain bersama sekitar seratusan teman lain. Menjalani masa perkuliahan yang sama sekali berbeda dengan masa sekolah di SD, SMP, dan SMA, membuatku menjalani sebuah perjuangan yang berbeda. Masa-masa kuliah dengan praktik gambar bentuk, gambar teknik, nirmana 2d dan 3d, lalu dilanjut dengan kuliah studio di tahun-tahun berikutnya yang nyaris seharian kujalani di kampus, membuatku kewalahan. Aku yang nggak pinter-pinter amat menggambar dibuat terkejut dan terkagum dengan skill teman-teman seangkatan. Perbedaan level terlihat nyata di studio. Sudah, aku mengaku kalah saja. Hancur-hancuran nilaiku di setiap semester. Nilaiku tertolong oleh mata kuliah umum. Lumayanlah akhirnya aku lulus dengan IPK 2 koma alhamdulillah. Nggak nasakom banget lah... 

Di kampus itu, aku belajar untuk jadi diriku sendiri, sedikit berbeda dari mahasiswa seni rupa pada umumnya. Mungkin aku tidak sekreatif teman yang lain, tidak 'segila' mahasiswa Seni Rupa pada umumnya, tapi berbeda dan jadi 'biasa' di tengah orang-orang yang 'tak biasa' itu juga suatu keistimewaan, kurasa. :D Dan puncaknya terjadi di saat wisuda. 

Berpose sejenak di seberang gerbang utama

Aku yang sudah berhijab (saat itu, tahun 90-an), agak langka yaa mahasiswa Seni Rupa yang pakai kerudung syari. Aku bergamis batik di bawah toga biru dengan kelepak beludru hitam kebanggaan kampusku. Adik tingkat yang jadi panitia wisuda bolak-balik di depanku, berencana membagikan stiker bintang lambang jurusan kami untuk para wisudawan. Aku dilewat begitu saja, bahkan dilirik pun tidak. Sampai akhirnya aku mencolek salah satu di antaranya untuk minta stiker bintang untukku. Eh... dia gelagapan lalu menjawab, "Eeeu... ini untuk lulusan Seni Rupa, Mbak," Lha iya, aku juga lulusan Seni Rupa. Kau pikir aku lulusan Farmasi, apa? :p  

Masjid Salman

Sejak SMA, aku sudah cukup akrab dengan masjid kampusnya ITB ini. Aku ikut mentoring setiap minggu pagi di area Taman Ganesha. Mengaji dan mengkaji materi keIslaman bersama kakak-kakak mentor yang kukagumi wawasan keilmuannya. Cara mereka menyampaikan materi dan membimbing diskusi pun terasa nyaman dan mudah diterima oleh kami, anak-anak SMA pada masa itu. Selain mentoring, aku pun sempat bergabung dengan majalah internal Salman: Yang Muda, dan mencoba memahami seluk-beluk penerbitan majalah, sedikit-sedikit. Selain itu, aku pun sempat mengikuti acara kajian keIslaman intensif dengan pengisi materi yang mumpuni, sekelas Pak Bukhori Nasution hingga Bang Imad yang terkenal sebagai aktivis Islam.

Di akhir kelas 3 SMA, aku pun bergabung ikut belajar di bimbel Karisma (Keluarga Remaja Islam Salman). Belajar dalam kelompok-kelompok cenderung kecil dari berbagai SMA di Bandung, kami dipandu oelh seorang 'wali kelas' yang dibantu oleh pengajar lain sesuai kapasitas dan keahlian masing-masing. Rata-rata mereka adalah mahasiswa yang berasal dari beragam kampus di Bandung. Kang Hikmat yang saat itu menjadi wali kelas kami sangat piawai menjelaskan fenomena kimia dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami juga membumi dan aplikatif. Ada Kang Handy yang begitu sabar menjelaskan beragam konsep fisika yang seringkali sulit kupahami. Ada pula akang dan teteh lain yang tak kalah kharismatiknya. Ada Kang Abbas, Teh Oche, hingga Bang R yang tak mau dipanggil 'akang' karena dia bukan orang Sunda. Begitu katanya.

Sepenggal kenangan di depan Masjid Salman

Masjid Salman begitu berkesan beserta segala paket kegiatannya yang mengikat hati-hati kami secara lembut. Satu yang tak terlupakan adalah penutupan sesi belajar di bimbel Karisma. Dua malam sebelum ujian masuk perguruan tinggi, kami berkumpul di Masjid Salman untuk shalat tahajjud dan doa bersama. Di jaman itu, tahun 90-an, sesi seperti itu adalah kegiatan yang melawan mainstream. Namun justru kegiatan itulah yang membekas kuat di hati kami, bahwa sekuat apapun usaha kami, kuasa Allah tetap di atas segalanya. Usaha kami sudah pol-polan, maka berikutnya tinggal memasrahkan sisanya ke 'tangan Allah'. 

Asrama Putri

Berlokasi di Jalan Gelap Nyawang no. 2, aku tinggal di sana di rentang waktu '93-an hingga lulus di April '96. Masuk bersamaan, aku bersama 5 teman lain menjalani masa capeng (calon penghuni) selama setahun. Berbagai tugas harian kami bagi dan jalani hingga saatnya spring cleaning di akhir masa capeng yang dilanjut dengan sidang untuk menentukan apakah kami lulus sebagai penghuni atau ada pertimbangan lain yang membuat masa capeng kami diperpanjang atau malah batal dan gagal. Tugas-tugas harian yang dibebankan kepada kami sebagai capeng sebetulnya ringan saja, sebagaimana tugas harian (chores) yang biasa kami lakukan di rumah. Tugas-tugas ini mencakup membuka dan menutup gorden ruang-ruang umum, membuka dan mengunci ruang tamu termasuk 'mengusir' tamu yang berpotensi melanggar jam berkunjung, menyiapkan paket kopi-gula-susu untuk mamang yang jaga malam, dan beberapa tugas lainnya. Tidak sulit, tapi dari situ kami belajar untuk disiplin, bertanggung jawab dan membangun empati sesama penghuni.




Gedung Aspuri yang sudah berganti fungsi.

Selepas masa capeng pun Asrama menjadi tempat yang nyaman untuk tinggal. Bukan hanya karena lokasinya yang strategis karena sangat dekat dengan area kampus, tapi juga jadi tempat untuk membangun kedewasaan dan kemampuan berorganisasi. Berbagai event pun sempat kami gelar layaknya event organizer, mulai dari pekan olahraga antar asrama, berbagai seminar dan pelatihan, acara reuni dan temu alumni, hingga acara besar berskala nasional yang melibatkan Rudy Choirudin yang merupakan juru masak paling kondang pada masanya. Event yang kami beri nama 'Cinta Boga Nusantara' itu sukses besar, membuat kami bangga dan merasa berguna saat terlibat di dalamnya.

Tiga tempat itu, membentukku menjadi aku yang sekarang ini. 

  • Aku masih merasa inferior dan minderan kalau berkaitan dengan masalah gambar menggambar, walaupun tetap suka berkreasi dan berkarya yang terkait kesenirupaan. Sedikit-banyaknya, itu adalah peran kampus seni rupa. 
  • Aku masih merasa sedikit religius. Nilai-nilai yang kudapat di lingkungan Masjid Salman menahanku untuk tidak keluar jalur. Mungkin aku juga tidak religius religius amat, tapi minimal nggak begajulan lah ya.
  • Aku masih merasa mudah untuk bersimpati dan berusaha menyatu di komunitas, berusaha untuk tidak terlalu berbeda dan mendukung aktivitas bersama. Lingkungan Asrama Putri membentukku seperti ini. 

Aku bersyukur pernah menjadi bagian dari itu semua.

Saturday, May 16, 2026

Bukan Hari Biasa

Kamis, 7 Mei 2026 siang, sekira pukul 14.30 (aku tak ingat persisnya)

Mobil putih di depanku mendadak berhenti. Aku pun refleks menginjak pedal rem sedalam dan secepat yang kubisa. Baruuu saja bernapas lega karena rasanya masih cukup celah antara mobilku dengan mobil di depan, eh tiba-tiba sebuah benturan, lalu benturan kedua, mendorongku ke depan, menghantam mobil di depanku. Euh... ini mah depan belakang kena dong. Kami yang sedang berada di lajur kanan jalan tol Padaleunyi arah Padalarang saling berpandangan melalui kaca spion lalu sepakat menepikan kendaraan.

Empat kendaraan -seharusnya 5 siih- terlibat dalam insiden tabrakan beruntun siang itu. Setelah menepi sesuai urutan, kami pun keluar dari kendaraan masing-masing, saling mengecek keadaan dan kerusakan yang terjadi. Mobil Xenia yang menghantam Ayla-ku dari belakang tampak mengucurkan air mata eh... air radiator. Kendaraan di belakangnya pun, sebuah Expander hitam yang gagah, tampak tak berdaya karena mimisan (halaahhh... bukan dong). Radiatornya juga kena. Mobil Ayla-ku yang persis di tengah-tengah bonyok bagian bagasinya. Kap depan pun tampak agak mencuat sedikit karena menghantam mobil Freed putih di depanku.

Kondisi pintu bagasi mobil.

Semua pengemudi keluar dan saling mengecek, baik kondisi mobil maupun penumpang di tiap kendaraan. Alhamdulillah, semua pengemudi maupun penumpang, sehat selamat tak kurang suatu apa. Kami pun mulai menelepon sana-sini, baik keluarga, agen asuransi mungkin, perusahaan tempat bekerja, bengkel langganan atau siapapun juga. Aku sendiri menelepon kakak ipar, melaporkan kejadian. Setelah laporan pandangan mata sekilas, plus mengirimkan foto kendaraanku yang penyok, dia cuma bilang akan menghubungi bengkel langganan untuk booking slot waktu agar mobilku bisa masuk dan segera direparasi.

Ketika kami masih belum tuntas bertelepon, menunggu sama-sama luang untuk rembukan, sekalian menunggu petugas datang, aku mengirim pesan whatsapp kepada radio PR FM yang siarannya biasa kudengar dari radio mobil. Update kondisi lalu lintas dan cuaca dari penyiarnya biasa menemaniku di perjalanan. Kali ini aku dikontak untuk mengudara, melaporkan situasi dari TKP. Gini amat ya mau 'masuk radio'. Padahal ini lutut masih lemes lhooo. Demikianlah sekilas laporan pandangan mata dari TKP di km 134 Padaleunyi.

Rembukan dan Kesepakatan Bersama

Kami berempat saling berbagi nomor kontak. Selain 'berkenalan' dengan sesama pengemudi, penumpang pun ikut turun dan berbaur bersama kami di bahu jalan. Ada pasangan muda di mobil Freed yang sebetulnya sedang dalam perjalanan untuk menjemput anak-anaknya dari sekolah. Tugas bisa didelegasikan kepada kakek yang sigap menjemput cucu. Di belakangku, dia berkoordinasi dengan kantor karena memang sedang dalam perjalanan dinas menuju tempat kerja setelah tugas luar. Sementara di paling belakang, kulihat ada anak kecil berumur sekitar 8 tahun beserta ibunya yang sedang hamil 7 bulan. Subhanallah... sehat-sehat ya bunda dan nanda. Alhamdulillah kami semua tak kurang suatu apa. Semua saling sepakat bahwa ini adalah takdir Allah yang tak terhindarkan.

Petugas jalan tol akhirnya datang. Mereka menanyakan kronologi kejadian. Sebuah mobil box memperlambat kendaraan secara mendadak, yang menjadi penyebab awal tabrakan beruntun. Sayangnya, pengemudinya tidak menyempatkan berhenti namun langsung saja melanjutkan perjalanan sehingga tak bisa dimintai keterangan. Tak berapa lama kenudian polisi pun datang dan meminta kami untuk keluar di gerbang tol terdekat, Pasirkoja, untuk merembukkan langkah dan kesepakatan selanjutnya. Baiklah... 

Malah wefie di kantor Jasa Marga

Sampai di kantor Jasa Marga, kami tak berpanjang kata. Kesepakatan untuk saling menanggung perbaikan secara mandiri sudah diambil sejak kami berbincang di tepi jalan tol. Semua berkepala dingin, tak ada yang saling menyalahkan, sepakat bahwa ini adalah qadarullah. Kami semua sehat selamat saja sudah suatu kasih sayang dari Allah. Biaya perbaikan mobil bisa dicari, tapi nyawa tentu tak bisa diganti. Perbincangan berlangsung damai dalam suasana kekeluargaan. Aku sempatkan untuk foto bersama ya. ;)

Pagi harinya

Kukira ini hari biasa saja, seperti hari Kamis lainnya. Ada beberapa jadwal rutin dan tidak rutin.

Sempat mau menjadwalkan pergi ke bengkel untuk mengganti lampu kiri depan si Silvie karena satu bola lampunya mati. Belum kujadwalkan karena kupikir masih bisa besok lagi. Hari ini ada jadwal rutin yang biasa kuikuti.

Ngabreng, bukan ngabring alias ngaji bareng (Kalau ngabring, ngaji baring dong :p) jam 9-an sampai jam 10.30-an di masjid komplek. Aku maju-mundur untuk berangkat karena ada janji dengan Pak Nana yang mau bantu beberes taman depan yang sudah menghutan.

Menunggu-nunggu Pak Nana, tak datang-datang. Katanya sih dia sudah mengetuk pintu rumahku 2 kali, tapi aku nggak dengar ya karena sedang di dapur. Daun pintu rumahku cukup tebal dan solid. Mengetuknya malah terasa meredam suara ketukan, jadi wajar saja kalau aku yang sedang ada di bagian belakang rumah tak mendengar ketukan di pintu depan.

Satu agenda lain di luar jadwal adalah niat mau jenguk tetangga yang baru pulang dari RS pasca operasi mata ikan. Eh ternyata ybs sudah masuk kerja jadi kalaupun mau jenguk, mungkin baru bisa jam 3-an, sedangkan biasanya jam segitu aku sudah harus ada di KBP untuk jadwal rutin mengajar privat sesi pertama. 

Kalau... (bukan berandai-andai juga sih, sebetulnya) aku jenguk tetangga dulu lalu baru pergi selepas asar, apakah aku akan terhindar dari insiden accident di km 134 itu? Hmm... bisa jadi. Tapi tak menutup kemungkinan ada hal lebih 'tak biasa' yang terjadi di hari itu. Jadi... aku bersyukur saja bahwa Allah melibatkanku di kecelakaan tabrak beruntun yang cenderung ringan di hari itu. Kalaulah Silvie harus 'diopname' dulu sementara waktu, yang mengakibatkan terkurasnya tabunganku, toh Allah juga yang akan membukakan pintu rejeki yang lain bagiku. Aku sehat walafiat tak kurang suatu apa pun sudah suatu rejeki yang sangat patut disyukuri. Alhamdulillah... ya Allah. Selanjutnya tinggal giatkan usaha dan kencangkan doa supaya rejekinya mengucur lagi untuk mengganti 'biaya pengobatan Silvie'. Sehat-sehat terus ya setelah ini.

Tadinya nggak ada ide untuk menulis Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog di bulan Mei ini, tapi setelah ada kejadian ini, HARUS kali ya dijadikan blog posting. :p

Tempat Yang Membentukku