Showing posts with label MGN. Show all posts
Showing posts with label MGN. Show all posts

Thursday, July 23, 2026

Salah Satunya... Kok Jadi Banyak.

2029... hingga hari ini masih banyak kisah salah ketik, salah input, salah hitung yang tak berhenti-berhenti terjadi di negeri ini. Salah yang dampaknya menjadi fatal bagi pengelolaan negeri ini. Kesal, resah, gelisah, hingga marah campur-aduk setiap kali melihat berita yang mengangkat nama salah satu pejabat hingga RI 1 sendiri. 

Sedikit mengingatkan saja. Di awal Juli ini ada jampidsus yang awalnya jadi tersangka kasus mega korupsi dan pencucian uang, tapi kemudian dikoreksi menjadi 'sekedar' saksi dalam kasus ditemukannya brankas berisi valas dan emas di rumahnya. Tak lama kemudian, ada berita baru yang menyatakan bahwa emas seberat 74 kilogram itu bukan milik sang empunya rumah. Hhheeee? Jadi punya siapa emas batangan itu? Apakah sekedar salah simpan, gitu? Niatnya mau nyimpan di brankas rumah sendiri, tapi kok jadi nyasar ke rumah orang lain...? 

Lanjut lagi penyelidikan, katanya emas itu mungkin tidak seluruhnya asli. Jadi... apakah itu emas palsu yang disimpan di brankas dengan pengamanan ketat? Ngapain juga emas palsu disimpan di brankas? Kalau emang palsu, berikan ke kru Lapor Pak aja buat properti drama tv, lucu-lucuan. Kocakkk!

Lelah ngikutin berita pulicik (pulici main pulitik), kita bahas salah ketik yang lain aja ya, yang bikin kita tertawa bahagia karena hormon bahagia yang menggelora. Sekalian setor tulisan untuk Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan ini.

Salah ketik a.k.a. typo

Cukup sering sih aku ngalamin kayak begini. Jariku sering meleset ke posisi yang nggak seharusnya. Mau tulis teman, malah jadi temqn (a dan q posisinya berdekatan). Niat nulis pesan, malah jadi oeaqn (o dan p posisinya juga sebelahan). Atuhlah... Untungnya aku cukup rajin cek & ricek tulisanku untuk mengoreksi pesan sebelum kukirim sehingga masalah fatal bisa kuhindari. Selain itu, fitur autocorrect pun tak jarang membuat masalah. Seperti contoh yang satu ini 👇

ya Allah... sefatal ini...?

Tak cukup dengan itu, chat abang ojol dan kastemernya ini typo berulang kali. Padahal sekarang sudah ada fitur edit kan ya di whatsapp. Daripada typo berkali-kali. Yuk kita simak lagi dan tertawa bersama lagi. 
chat lengkapnya ada di sini.

Emang Salah Tulis

Berkenaan dengan kasus salah tulis biasanya tak membuatku geli, malah tak jarang membuatku agak kesal. Aku paham terkadang orang menulis apa yang mereka pikir benar, sependengaran dan sepemahaman mereka. Salah satu chat yang hampir setiap pekan bikin aku gemas ingin mengoreksi adalah tentang pengumuman kajian rutin bulanan, bersama ustadjah enur. Jika menuruti kaidah KBBI, seharusnya penyebutan yang benar adalah ustaz atau ustazah. Pakai huruf z yaa, bukan j atau dj.

Kata lain yang tak jarang salah diucapkan oleh teman-teman adalah doorprice. Gemas juga sih kalau lihat kata itu di riwayat chat. Kita tidak bahas harga pintu ya, tapi hadiah lawang atau hadiah pintu. FYI, ini adalah kata baku untuk terjemahan dari kata doorprize). Jelang bulan kemerdekaan RI begini tampaknya aku harus siap mental membaca kata itu berulang kali jelang acara 17-an nanti. Haihh... dari sekarang juga sudah makin gemas membaca chat seorang tetangga yang mengetik 'persiapan acara 17-san'. Di Indonesia tuh kita mengenal akhiran 'kan' atau 'an', bukan 'san'. Duh, mengedukasi materi literasi itu memang tak semudah itu.

Salah satu kesalahan terkini dari ibu-ibu di grup komplek adalah ketika salah seorang tetangga menanyakan apakah ada yang memiliki hekter besar. Seorang tetangga lain menyambut dengan niat baik untuk membantu. Katanya, besok dia akan bawa/antarkan hektare-nya. Ya Allah gusti... berapa hektare, bu...? Ibu nyawit ya? Hadeuh. 

Di satu titik akhirnya aku koreksi seorang rekan pengajar yang menulis 'kompirmasi' di salah satu chat. Kubilang, "Bu, kata yang tepat itu 'konfirmasi', bukan kompirmasi." Mengingat kami mengajar anak-anak, mereka akan dengan sangat cepat meniru apa yang kita katakan. Kalau kata yang terdengar oleh mereka sudah salah sejak awal, kata yang salah itu akan terpateri lama di benak mereka dan akan sangat sulit untuk mengoreksinya di kemudian hari. 

Salah Bicara 

Seperti salah ketik alias typo, tak jarang kita sendiri salah bicara. Hal ini kadang jadi fatal karena ucapan tak bisa dihapus dan diedit. Terkadang kita berpikir lebih cepat daripada ucapan kita. Jadilah salah ucap yang... kita cari sisi lucunya aja ya. Dijelaskan oleh seorang tiktoker dengan akun @riskymaulan yang tahu-tahu videonya lewat di linimasaku. Maaf ya, aku tak bisa menyematkan video dari tiktok di sini, tapi videonya bisa dilihat di tiktok ini. Dia menjelaskan bahwa fenomena salah bicara begini istilahnya adalah spoonering. Menarik. Dan kalau dipikir-pikir, belakangan ini aku agak sering nih spoonering begini. Apakah ini pertanda penuaan (tak) dini, atau memang kurang latihan sinkronisasi antara otak dan mulut?

Menyanyi Dengan Hati

Seperti penyanyi yang satu ini. Dia adalah salah satu peserta di ajang pencarian bakat Bulgarian Idol tahun 2008. Dengan rasa kepercayaan diri yang tinggi, dia menyanyikan salah satu lagu legendaris dari Mariah Carey sang penyanyi asli. Lirik lagunya yang berbahasa Inggris dinyanyikan sepenuh hati walaupun dia tak mengerti apa yang dia ucapkan/nyanyikan. Sudah lihat videonya? Sini, aku tunjukkan.


Setelah sempat viral karena interpretasinya atas lagu 'Ken Lee' itu, dia kemudian diundang ke ajang American Idol. Kali ini dia menyanyikan lagu 'Ken Lee' dengan lirik yang telah disempurnakan, improved.

Salah Paham Karena Perbedaan Bahasa

Tahun 2002 lalu ketika aku berkesempatan ke Jepang, di akhir program kursus bahasa Jepang intensif, seorang teman maju untuk mempresentasikan temuannya. Dia dan rekannya mempresentasikan tentang bentuk kepemimpinan beberapa negara di Asia, yang salah satunya adalah Korea dengan sistem presidensial dan tentu saja presiden sebagai orang nomor 1.

Presentasi berjalan cukup lancar. Hasil belajar intensif bahasa Jepang menampakkan hasil yang cukup menggembirakan ketika tiba-tiba dia kepleset lidah. Alih-alih berkata 'daitouryu'  untuk menyebut 'presiden',  dia malah berkata 'daibutsu'. Hheee.... nani? Beberapa orang yang menyadari kesalahan itu terkesiap bahkan ada yang agak tersedak karena menahan tawa. Bagaimana tidak, daibutsu adalah sebutan untuk patung Budha raksasa yang terletak di Kamakura. Mungkin dia teringat itu karena kami sempat membahas hal itu untuk jadi salah satu destinasi wisata kami di masa libur musim dingin nanti. 

Salah sebut lainnya dialami temanku dari Indonesia. Dia ikut suami yang bekerja di sana. Belum lancar sih bahasa Jepangnya, tapi tentu saja dia berusaha sebaik mungkin untuk menggunakannya dalam keseharian. Salah satu momennya adalah berinteraksi dengan tetangganya. 

Ano... obake, kyou ha ii tenki desu ne. Setelah itu dia lempeng aja membahas hal lain sementara si obake eh... obasan kaget tapi akhirnya ya maklum, karena yang mengajak bicara memang sekedar salah sebut saja karena tidak paham. FYI: obasan adalah sapaan untuk memanggil 'bibi', sementara obake adalah 'hantu'. 

Sunday, July 06, 2025

Fashion Designer Wanna Be (in past tense)

Belakangan ini, blogging buatku jadi sarana untuk curcol aja. Lama nggak update, ketemu tantangan bertema fashion di bulan Juli. Hayulah kita sambut tantangan ini dengan curcol ala Diah Utami.

Dulu, aku sempat berkeinginan jadi fashion designer. Kenapa atuh nggak ambil jurusan kriya tekstil ketika kuliah: Ya itulah... aku terjebak dengan stereotype bahwa masuk DKV tuh lebih bergengsi. Aku bertekad masuk DKV karena cuma 20 seat tersedia. Jiwa kompetitifku bergejolak. Aku bertekad untuk mendapat nilai yang cukup tinggi supaya bisa bersaing masuk ke sana. Setelah lolos, ehh... semangatku malah melempem. Sempat sih ikut matkul pilihan dari jurusan kriya yang kupikir menarik, tapi ternyata nggak terlalu asik juga ya. Aku ambil matkul rajut waktu itu. Bukan seperti rajut yang kubayangkan, ini adalah sesi rajut untuk fabrikasi. Nggak asiiik. Hahaa... akhirnya nggak jadi pindah studio dan bertahan di DKV aja deh sampai lulus. Ini juga udah 'ngos-ngosan' ngejar wisuda. 

Sejak masuk Seni Rupa justru aku menarik diri dalam berkarya alias menggambar-gambar gitu. Malah nggak PD, tahu... soalnya yang lain goresan tangannya bagus-bagus bangeeet, bikin minder. Sedangkan aku beginner terus dari awal sampai akhir. Hhaa :p Jadi nilaiku ya biasa-biasa aja. Lumayanlah dapat IPK dua koma alhamdulillah. Berjuang ingin nyampe 3, tapi ternyata tak kuasa. Ya sudahlah, apa adanya saja. 

Hasil scan sketsa yang kubuat.

Masuk dunia kerja, aku bergabung di institusi pendidikan sekolah swasta, di bawah naungan sebuah yayasan di area Bandung Utara. Walaupun kabarnya kerjaan pertama itu seperti ditempa di Kawah Chandradimuka, aku bahagia jadi guru di sana. Aku mengajar di level SD dengan amanah beberapa mata pelajaran. Karena dulu masih merasa muda, banyak energinya, masih ada waktu aja untuk menggambar-gambar desain baju. Iseng-iseng kukirim ke majalah Ummi. Eh... disambut baik dan sempat jadi kontributor selama setahun lebih. Perjuangan lho di masa itu. Gambar dibuat manual, diwarna manual, lalu pergi ke warnet untuk discan. Kadang-kadang sekalian dikirim via e-mail, tapi sesekali kirim dari rumah via koneksi internet yang waktu itu masih mahal sekali.

Ragam sketsa karyaku yang dipublikasikan di majalah Ummi, kudokumentasikan juga di salah satu blog lainnya, sketsamania, selain berbagai issue fashion lainnya. Setelah kerjasama cukup panjang sebagai kontributor rubrik sketsa, aku sempat juga diundang jadi juri lomba sketsa desain yang digelar oleh majalah Ummi, bareng mbak Anne Rufaidah yang desainer busana muslimah ternama. Wah, bangganya... sayangnya aku tidak cukup baik menyimpan dokumentasi ketika acara penjurian itu. Jangan sampai dianggap hoax ya, ini...

Finalis REPC '99

Di masa itu juga aku sempat ikut lomba rancang busana. Target besarku adalah Lomba Perancang Mode (LPM) yang rutin digelar grup majalah Femina setiap tahunnya. Beberapa kali aku coba, tapi tak lolos juga. Sempat ikut bantu salah seorang senior di kampus yang lolos jadi finalis. Selain itu, majalah Noor yang mengkhususkan diri sebagai majalah muslimah juga pernah menggelar ajang serupa. Dari 4 kali (berarti 4 tahun yaa) ikut berpartisipasi, ada karyaku yang sempat masuk 40 besar, tapi belum cukup layak untuk jadi finalis. Ada lagi satu event lomba rancang busana yang digelar berskala nasional dengan sponsor utama body lotion Citra. Waktu itu aku lolos jadi salah satu finalis dengan judul karya 'Batik Tak Sampai' walaupun pada praktiknya justru karya batikku malah harus diproses bolak-balik. Jadi setelah selesai jadi batik, prosesnya harus dibalik lagi untuk menghapus beberapa pola yang sudah terbentuk. Untuk jadi 'batik tak sampai' justru harus bolak-balik kayak setrikaan ya. Hahaa....

Celemek bolak-balikku yang pertama.

Sekarang ini aku masih sesekali menyentuh dan berinteraksi dengan mesin jahit. Bukan membuat proyek jahitan yang rumit-rumit dan idealis, hanya sekedar menjahit celemek bolak-balik yang mengombinasikan kain polos dengan wastra nusantara. Yang sudah cukup sering digarap, tentu saja batik, tapi tenun ikat, lurik, dan jumputan pun sudah pernah kumanfaatkan. Hasilnya? Nggak terlalu butut lah ya... buat dibawa sebagai oleh-oleh ke luar negeri tentu nggak akan malu-maluin. Sempat juga kukirimkan karyaku untuk mama-mama angkatku di Jepang sana yang memang sangat dekat kesehariannya dengan celemek berbagai model dan rupa. Salah satunya kukombinasikan dengan kain chirimen yang biasanya dipakai untuk membuat ragam karya kerajinan di Jepang. Semoga mereka suka yaa.

Jadi...? Sejauh apa aku (masih) ingin jadi fashion designer? Sebetulnya sih dari dulu juga nggak pengen-pengen amat, tapi dengan adanya Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog ini, kok aku jadi keidean lagi ya. Hahaa... minimal mendesain baju buatku sendiri lah, yang mudah dieksekusi, nyaman dipakai, dan bangga dengan wastra nusantara. Melestarikan budaya, ceritanya, walaupun baru bisa 'setitik' saja. Kali ini sih setor tulisan dulu aja ya buat tantangan blogging bulan ini.

Friday, June 20, 2025

My Me Time

Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan ini adalah tentang Me Time tanpa internet. Ahhahaa.. biasanya seluncuran di dunia maya itu ya me-time-nya aku. Apakah nonton rangkaian J-dorama, nonton clip-clip pendek (atau panjang) di youtube, atau sekedar scrolling ig dan medsos lainnya. Jadi disuruh menuliskan aktivitas me-time tanpa internet sekarang tuh kayaknya memang menantang banget ya... menantang keinginan untuk tetap connect internetan. 😅


Tapi ayolah kita coba mendata kegiatan yang bikin aku nyaman dan bahagia gitu ya tanpa internet. 

Sejak kecil, aku suka membaca. Sekarang agak mandeg sih urusan membaca buku ini. Godaan & 'gangguan' internet memang luar biadab ya. Rasanya kalau tidak menatap layar bercahaya kok kayaknya kurang berwarna ya hidup ini rasanya. Hahaa...

Buku-buku yang suka kubaca masih seputaran genre novel aja sih, dari beberapa penulis kesayangan seperti Dee Lestari, Andrea Hirata atau Tere Liye. Sedang menunggu karya-karya baru mereka. Dee Lestari akan segera rilis sekuel Karya Karsa yang buku pertamanya habis kulalap dengan begadang semalaman. Andrea Hirata dengan Brianna dan Bottomwise yang sambungannya masih belum rilis juga (cepetan terbit atuhlah, aku keburu lupa nih ceritanya tentang apa. Hahaa...) Yang berikutnya adalah Tere Liye dengan buku-buku tetralogi -yang kemudian berkembang menjadi berlogi-logi berikutnya- dan 'Bibi Gili' sedang masuk antrian untuk dibaca (padahal bukunya belum beli juga :p)


Me-Time lainnya mungkin menjahit yaa. Walaupun rada ribet sih urusan jahit-menjahit ini. Masih suka menjahit celemek bolak-balik dengan padu-padan warna dan ragam motif wastra Indonesia, tapi males bikin polanya. Kalau tinggal njahit sih, serr... bisa tekun berlama-lama nih aku dengan mesin jahit baruku atau mesin jahit peninggalan ibu. Dua-duanya sama nyaman dipakai untuk menemani me-time tanpa internetku. 

Wednesday, July 10, 2024

Koleksi Memori

Berawal dari keingintahunan tentang kisah dan cerita di balik benda koleksi orang-orang, kuusung tema koleksi ini untuk menjadi salah satu tema tantangan MGN. Eh ternyata disambut dan jadi tema tantangan menulis blog posting di bulan Juli ini. Lha... kok aku jadi bingung sendiri, mau nulis tentang koleksi apa ya...? :D

Koleksi Klasik

Koleksi prangko peninggalan kakak.
Prangko merupakan salah satu benda koleksi yang kurasa bernilai klasik. Aku pun termasuk salah satu yang pernah mengoleksi prangko, ikut-ikutan kakakku... :p Beberapa album sudah kumiliki dengan koleksi prangko yang rata-rata kudapat dengan cara berkirim surat dengan sahabat pena (jadi dapat banyak prangko dari berbagai daerah), bertukar, atau minta. Hahaa... Aku jarang membeli prangko koleksi lama yang terkadang kulihat ada di emperan jalan -dan sekarang bisa didapat di berbagai e-commerce- tapi sesekali membeli prangko koleksi terbaru atau edisi khusus termasuk sampul hari pertama yang ujungnya tak pernah kupakai untuk berkirim surat tentunya, karena sayang. Di akhir tahun 90-an, 3 album prangkoku kubawa ke sekolah untuk kutunjukkan kepada murid-murid sebagai jejak sejarah filateli. Beberapa hari menginap di sekolah, eh... kok tahu-tahu menghilang aja itu album prangko beserta seluruh koleksinya. Kehilangan koleksi yang kukumpulkan sejak masih SD tentu ada rasa emosional juga siih, sedih pastinya, Tapi tak perlu nangis bombay juga, karena itu 'hanya' prangko. Sedih ya boleh juga, tapi ya sudahlah. Koleksiku juga nggak terlalu berharga sih kayaknya. Aku toh tak punya koleksi prangko langka (kayaknya). Hahaa... bukan kolektor militan juga siih...

Kalau berminat jadi kolektor militan atau minimal kolektor pranko beneran, bisa dong bergabung di Perkumpulan Penggemar Filateli Indonesia yang berdiri sejak tahun 1922 dan masih terus aktif hingga saat ini. Ragam kegiatannya banyak, bisa saling bertukar koleksi, ada pameran, workshop, termasuk sosialisasi untuk para filatelis yang baru mau bergabung dan masih bingung harus ngapain. Klub filateli ini juga punya banyak cabang di berbagai daerah. Setelah berkali-kali berganti nama, pada tahun 2022 namanya fix menjadi Penggemar Filateli Indonesia. Hingga saat ini jumlah anggotanya sudah mencapai angka sejuta filatelis. Untuk yang mau asik-asik melihat koleksi prangko bersejarah Indonesia, bisa berkunjung ke Museum Prangko yang ada di TMII-Jakarta. Selain itu di Bandung ada Museum Pos dan Giro yang terletak di area Gedung Sate. Museum ini bisa dikunjungi oleh siapa saja pada hari Senin hingga Sabtu pukul 09.00 - 16.00 WIB. Untuk berkunjung ke Museum ini pengunjung tidak dipungut biaya apapun. Aku sempat satu atau dua kali berkunjung ke museum ini bersama murid-murid sekolah tempatku mengajar dulu. Ada masanya museum bagi-bagi suvenir gratis kepada pengunjung, tapi pernah juga kami pulang dengan tangan hampa tapi hati dan memori penuh dengan ilmu baru.   

Koleksi Asik

Sebagian koleksi mug-ku. 
Selain prangko, aku juga suka mengoleksi gelas minum bergagang/mug. Mug berukuran kecil kudapat di supermarket dengan harga murah meriah. Mug keramik hitam elegan dengan bentuk hexagon kudapat di toko barang second juga dengan harga murah meriah. Beberapa mug lainnya kubeli dengan harga yang masuk akal dan masuk budget atau kudapat dari teman yang memang tahu kesukaanku mengumpulkan mug. Semuanya kusayang dan kueman-eman, sebagiannya didisplay tapi jarang sekali dipakai. Lama-lama... kupikir buat apa juga sih mengumpulkan mug kalau tak kunjung dipakai, hanya buat jadi penadah debu belaka, sementara untuk sehari-hari aku pakai mug dengan bentuk standar yang rata-rata adalah souvenir dari berbagai event, dengan sablonan atau cetakan yang sudah bocel di sana-sini. Kalau yang begini, aku tidak perlu pakai sayang-sayang untuk memakainya. Tapi mug yang begini bukan termasuk item koleksi yaa, walaupun hampir semua mug punya memorinya sendiri. 

Koleksi Antik

Sumber gambar di sini.

Hanya pernah kulihat di rumah orang lain. Koleksi barang antik berupa keramik-keramik bernilai tinggi. Ada guci, patung keramik, hingga ukiran batu mulia sekelas giok yang dibuat dalam jumlah terbatas bahkan mungkin cuma satu-satunya. Ada juga koleksi paketan keramik biru yang juga hanya kulihat di rumah orang lain. Mulai pajangan dinding, teko dan cangkir keramik, wadah saji, hingga kotak tissue dan lain sebagainya. Tampak elegan ketika muncul dalam satu tone warna begini. Bahkan sarung bantal di ruang tamunya pun (uhm... bukan keramik lah...) bernuansa biru-putih dengan desain klasik yang mirip lukisan/gambar pada keramik. Cantik. 

Koleksi Unik

Beberapa koleksi orang lain juga yang kurasa unik kutemukan di berbagai web, salah satu (atau tepatnya 10 di antaranya) kutemukan di sini. Ada yang mengoleksi bola bowling, bola golf dalam beragam bentuknya yang sudah mengalami asam garam kehidupan. Ada juga orang yang mengoleksi batu berbentuk hati, yang ditemukan di sana-sini dan terniat sekali mencari bentuk yang spesifik berupa hati dalam beragam ukuran, warna dan materi, yang semuanya batu alami. 

Koleksi lainnya yang tak kalah unik, salah satunya adalah mesin ketik. Ketika di masa kini orang tak lagi mengetik dengan mesin ketik jadul yang suara ketak-ketiknya bisa membangunkan seisi rumah, masih ada orang yang suka mengoleksi benda yang sudah layak jadi koleksi museum ini. Kamera atau pesawat telepon jadul pun ada lho yang mau mengoleksi, padahal sebagian anak-anak jaman sekarang bahkan tak tahu cara mengoperasikannya. Koleksi pasir dari berbagai pantai yang kemudian disusun dalam sebuah wadah tampak unik. Begitu pun dengan orang yang (mau-maunya) mengoleksi bola keciiil yang terdapat di ujung bolpoin. Buat apa, coba? Tapi yang lebih aneh menurutku adalah orang yang mengoleksi stiker dari buah pisang yang dibelinya dari supermarket. Humm, apakah itu menandakan jejak sejarah perpisangan di areanya? Menurutku sih, buat apa ya...? Tapiii kalau sudah jadi hobi, hal tak masuk akal pun bisa saja dikoleksi untuk menjadikannya sebagai memori.   

Koleksi Menarik

Satu lagi (atau beberapa) benda koleksiku yang cukup menarik, akan kuulas di sini. Bukan menarik-menarik amat siih... tapi lebih tepatnya menarik duit dari dompet/rekening. :p

Koleksi magnet kulkas asal tempel.
Koleksi magnet kulkas ada beberapa yang kutempel di dinding lemari es. Beberapa di antaranya kudapat dalam momen traveling yang sempat kulakukan bertahun lalu. Beberapa lainnya kudapat sebagai suvenir dari orangtua murid ketika mereka berlibur ke sana ke mari (banyaknya sih ke luar negeri, tentunya). Sisanya adalah magnet kulkas yang kudapat sebagai hadiah dari frozen food yang kubeli. Menarik? Nggak juga siih, cuma lumayan aja sih buat nutupin buriknya permukaan kulkas lungsuran dari kakakku ini.

Beberapa waktu lalu, ketika aku berkesempatan tinggal di Jepang selama 1,5 tahun, kusempatkan traveling ke beberapa tempat wisata. Kudapati di sana bahwa hampir di semua tempat wisata, stasiun kereta ataupun kantor lembaga memiliki cap/stempelnya sendiri. Kegiatan ini pun tentunya perlu dibarengi dengan menarik duit dari rekening untuk pergi ke sana ke mari, mencari lokasi stempel yang kadang agak tersembunyi, lalu mengecapnya di buku yang kita bawa atau kertas yang (sebetulnya tidak selalu) tersedia. Saat ini koleksi stempelku terkubur entah di mana, tapi masih ingin mengoleksi stempel beragam ukuran dan warna ini, terutama dari Hiroshima. Suatu saat kelak, sekiranya berkesempatan berkunjung ke sana, aku akan cari dan dapatkan stempel Hiroshima dengan landmark Monumen Bom Atomnya.

Sebagian koleksi kainku.
Satu koleksi lainnya yang juga kusuka adalah kain-kain tradisional Indonesia. Selain batik yang sudah kusuka sejak lama, aku juga suka dan kagum pada ragam kain tradisional Indonesia lainnya. Mengingat proses pembuatannya yang rata-rata masih buatan tangan bukan pabrikan, kain tradisional ini tentu bernilai cukup tinggi. Batik tulis yang perlu proses berbulan-bulan dalam proses pembuatannya dibandrol dengan harga mencapai jutaan. Kain kerawang dari Sulawesi Utara pun tak ada yang murah meriah. Harganya mulai enam puluhan ribu untuk sehelai kerudung segi empat hingga jutaan rupiah untuk setelai baju yang belum dijahit. Kain lurik dan tenun ikat pun sama-sama cantik dengan pola tenunnya masing-masing. Belum lagi jumputan, sasirangan, ulos hingga songket bersulam benang emas. Semuanya menarik ya... ingin kukoleksi, tapi juga akhirnya hampir tak kutemukan maknanya. Jika sekedar untuk dimiliki, hanya akan merendahkan arti, kecuali kukoleksi rapi lengkap dengan sejarah dan kisah mengenai kain-kain itu, menuliskan memori. 

Mengoleksi, dengan segala seninya, sejatinya tentu tak lepas dari merangkum kisah dan cerita tentang benda tersebut yang akan menjadi kenangan yang tersimpan dalam pikiran. Setiap item bisa kembali membawa kita ke suatu masa yang bermakna. Apakah itu reuni sekolah, atau mungkin pemberian dari seseorang yang punya tempat spesial di hati kita, bahkan mungkin 'sekedar' beli di suatu tempat yang pernah kita singgahi, hingga gratisan hasil datang ke kondangan. Semua punya arti yang akan mengaktivasi memori kita lagi. Kurasa... mengoleksi itu ada gunanya juga ya. Menuliskan ini pun menambahkan sebuah blog posting lagi dalam koleksi tulisan di blog ini, selain menjawab Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan ini. 

Tuesday, September 19, 2023

Tak Ada Apa-apanya Dibanding Mereka

Di, udah lama nih kita nggak ketemuan. Ketemuan yuk!

Sebuah pesan whatsapp kubaca di ponselku. Dari Mima, seorang teman yang pernah menjadi kolega di sebuah institusi di suatu masa. Ya... rasanya sudah cukup lama juga kami tak bersua dan bertukar kabar. Kubalas pesannya segera,

Yuk! Mau di mana? Kapan?

Di Ciwalk yuk. Sabtu ini?

Humm... sebetulnya agak males sih ke daerah macet begitu di akhir pekan, tapi sesekali aja kan ini... dengan tujuan silaturahmi pula, jadi baiklah, mari kita jabanin.

~🧡~

Sabtu sore pun datang. Aku sampai lebih dulu di resto yang sudah kami sepakati, sedangkan Mima datang tak lama kemudian dengan senyum lebarnya yang khas. Setelah cipika-cipiki dan sedikit basa-basi, kami pun menelusuri daftar menu untuk memilih menu makan sore kami. Hihii... iya, sore. Bukan makan siang, bukan pula makan malam. Pokoknya makan bareng lah judulnya, ini. Aku memilih sate maranggi yang jadi rekomendasi resto ini, sedangkan Mima memilih menu lain yang berkuah. Katanya dia sedang menghindari masakan yang dibakar atau dipanggang, padahal aku tahu betul dia sangat suka persatean,  makanya aku pilih resto ini untuk tempat ketemuan kami.

"Kenapa nggak nyate? Eh... kalau tahu sedang menghindari bakar-bakaran, kita bisa ke tempat lain aja tadi," ujarku sambil sedikit merasa bersalah.

"Nggak apa-apa... masih banyak menu lain yang bisa dinikmati kan?" Jawabnya ringan saja.

"Memangnya kenapa harus menghindari makanan yang dibakar-bakar?" selidikku sambil menunggu pesanan kami diantar ke meja. 

Dia pun bercerita tentang kunjungannya ke dokter beberapa waktu berselang. Setelah menyampaikan gejala yang dirasakan, ditunjang dengan hasil cek darahnya di lab,

"Cancer nih kayaknya." Ringan saja dia bilang begitu, masih dengan senyum di wajahnya. Sementara aku, mendengar pernyataannya dengan jelas, mataku tiba-tiba berembun.

"Hey... nggak apa-apa...," ujar Mima sambil mengulurkan tangannya ke seberang meja, meraih tanganku, menggenggamnya sejenak. "Saat ini nggak ada yang dirasa siih," sambungnya lagi. "Nggak sakit nggak apa, tapi ya mesti jaga pola makan. Nurut aja deh sama dokter. Nggak boleh makan yang bakar-bakar, segala yang fermentasi, kurangi roti, dan sebagainya. Pantangannya nggak banyak-banyak amat sih rasanya. Masih banyak lah yang bisa dimakan." Pungkasnya. Waiter datang mengantar pesanan kami, menghentikan percakapan sejenak. 

Aku memandangi sate sapi yang terhidang di depanku. Tadinya aku ingin memesan sate kambing, tapi tekanan darahku agak tinggi belakangan ini, membuatku sakit kepala bahkan mual muntah sesekali. Tapi tak pantas rasanya aku mengeluhkan sakit ini, sementara sahabatku mengidap sakit yang jadi momok banyak orang, pembunuh rangking ke-2 dari penyakit yang menyerang perempuan. Apa yang kualami saat ini, tak ada apa-apanya dibandingkan dia. Kami pun melanjutkan makan sore kami tanpa membahas lebih jauh mengenai sakit apapun yang kami idap saat ini.

~🧡~

Bulan Oktober akan bertepatan dengan Breast Cancer Awareness Month yang diperingati sebagai Bulan Kesadaran yang merupakan kampanye tahunan untuk meningkatkan kesadaran akan deteksi dini kanker payudara melalui SADARI (Periksa Payudara Sendiri). Pink ribbon for you, all breast cancer warriors! 

Sebetulnya aku pun pernah mengalami hal serupa itu bertahun yang lalu, jaman masih SMA atau awal kuliah. Kurasakan sebuah benjolan kecil di 'sekwilda'  setelah sadari beberapa kali. Benjolan itu seukuran kacang tanah sih rasanya, atau malah lebih kecil lagi. Aku sudah lupa. Saat itu aku pergi ke puskesmas sebagai faskes pertama. Dari sana diberi surat rujukan untuk menjalani pemeriksaan lanjutan ke bagian onkologi. Namanya berobat pakai askes (iyaa, masih askes waktu itu, bukan BPJS), aku ya nggak bisa manja-manja atau pilih-pilih dokter. Kuharap akan ketemu dokter wanita, tapi jebule yang nongol dokter laki-laki, tinggi kurus berkumis tebal. Setelah kusampaikan keluhan, ya mesti periksa fisik lah yaa (mallluuuu, tahu, buka-bukaan area 'sekwilda' di depan seorang laki-laki, dokter sekalipun). 

Setelah periksa, pak dokter bilang, "Nggak ada tuh (benjolannya)." Rasanya mukaku sudah merah maksimal karena malu. Ya masa sih aku harus minta dia untuk memeriksa lagi. 'Ini lho, dok... sebelah sini... coba pegang!' sambil menyodorkan *niiiit* #sensor. Duh, kan malu banget ya. Akhirnya aku benahi blus berkancing depan yang kupakai lalu bersiap pulang. Sebelum pulang, pak dokter sempat menyarankan untuk menjalani biopsi sebagai langkah lanjutan. Enggak ah, dok... aku balik badan lalu pulang. Waktu itu aku memilih untuk minum ramuan alternatif semacam jamu yang dijual bebas. Setelah beberapa bulan mengkonsumsi ramuan itu, alhamdulillah benjolan di sekwilda itu tak lagi teraba. Aku nggak perlu lapor ke pak dokter berkumis kan untuk memberi tahu bahwa benjolan benar-benar sudah hilang?

~🧡~

Membicarakan tantangan hidup, rasanya ingin berbagi tapi malu hati. Tantangan jasmani maupun rohani PASTI sama-sama kita alami dalam hidup ini. Kadang aku merasa tantangan hidupku kok gini-gini amat... tapi kalau lirik kanan-kiri, ternyata BANYAK orang lain yang tantangan hidupnya lebih berat, jauhhh lebih berat dari tantangan hidup yang kualami. Jadi... tak ada gunanya mengeluh, Dee. Semua orang menanggung bebannya masing-masing, sesuai dengan kemampuan dirinya. Itu yang dijanjikan Allah di ayat terakhir surat Al Baqarah.  

Aku pernah berbincang dengan salah seorang keponakan, membahas satu-dua tantangan hidup (masalah keluarga tentunya), yang rasanya berat sekali untuk dijalani. Saat membahas itu, dia katakan bahwa tentu tak mungkin kita menawar-nawar pada Allah mengenai apa tantangan hidup yang rasanya tak sanggup kita jalani. Allah pasti tahu bahwa kita mampu. Kalau kita masih 'iseng' dan mencoba menawar, nggak mau menjalani tantangan 'yang ini', hidiiih... kalau dikasih tantangan hidup 'yang itu', mungkin kita lebih nggak mampu. Jadi ya sudah, terima saja tantangan hidup kita saat ini sesuai kemampuan kita. Allah yang akan bantu menguatkan.  Sungguh tak kusadari, ternyata keponakanku sudah dewasa sekali. Peluk kamu, sayang. Kamu pun menjalani tantangan hidup yang tak kalah berat, ditinggal ibu dan ayah dalam usia yang masih cenderung belia. Ya mungkin justru itu yang membuatmu dewasa. 

Untuk mengingatkan diri sendiri saja, kupungkas tulisan ini dengan sebuah hadits.

Besarnya pahala sesuai dengan besarnya ujian dan cobaan. Sesungguhnya Allah 'Azza wajalla bila menyenangi suatu kaum Allah menguji mereka. Barangsiapa bersabar maka baginya manfaat kesabarannya dan barangsiapa murka maka baginya murka Allah. (HR. Tirmidzi)

Bismillah... semoga kita semua termasuk orang-orang yang disenangi Allah untuk kemudian sanggup bersabar dalam menjalani takdir-Nya, apapun adanya. 

Disetorkan untuk menjawab Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog di bulan September ini. Kita saling doakan yaa, semoga kita sanggup menjalani tantangan hidup, apapun itu.

Saturday, August 12, 2023

Tiga Impian Yang Belum Kesampaian

Aku menatap surat perjanjian kerjasama penulisan buku yang sudah kutandatangani di atas materai ini. Beneran nih... kumpulan tulisanku akan diterbitkan menjadi sebuah buku? Bukan di penerbit mayor siih, tapi ini bukan buku indie yang bisa cetak kapan saja dan berapa saja. Sungguhan dikurasi dan siap diterbitkan. Benerankah ini?

ZONK!!! Surat perjanjian penerbitan boleh saja sudah ditandatangani, tapi ternyata penerbitan bukuku batal. Kumpulan tulisan berupa pengalamanku selama di Jepang, akhirnya kuposting dengan hashtag #MemoriMaebashi di kompasiana. Salah satunya, yang sempat menjadi artikel utama di kompasiana bisa dibaca di sini

Menerbitkan buku berisi tulisan sendiri adalah salah satu mimpi yang belum kesampaian. Masih berharap siih, tapi jadi malu sendiri ketika menulis sebagai sarana berlatih malas-malasan kujabanin. Bahkan nulis blog posting untuk tantangan MGN aja masih sering mandeg. 🙈

Menulis keroyokan sih, sudah ada pengalaman beberapa kali. Ada yang memuaskan, tapi ada juga yang memualkan (nggak beneran memualkan, cuma ya rada nyebelin aja.) Dari 4 proyek antologi -Eh btw, e-book ITB dalam fiksi proyek barengnya MGN, keitung proyek antologi juga nggak siih...?- aku ceritakan serba sedikit tentangnya ya, biar semangatku terbakar lagi untuk menerbitkan buku sendiri.

Proyek Antologi pertama: Curhat Jalan Raya
Curhat Jalan Raya. Ini adalah proyek Antologi yang paling memuaskanku. Setiap kontributor dikurasi dulu dan diseleksi. Hanya 30 tulisan yang lolos kurasi dan berhasil ikut naik cetak menjadi buku kumpulan curhat yang seru ini. Setelah buku yang dicetak oleh Leutika Publishing ini sampai di tanganku, kubaca satu persatu tulisan di dalamnya, dan rasanya memang bagus-bagus siih. Aku bersyukur bisa menulis bersama salah satu penulis senior, Mbak Ifa Afianty di dalam proyek antologi ini. Tulisan-tulisan lain dalam buku itu sangat dekat dengan keseharian dan rata-rata dikisahkan dengan gaya bercerita yang menarik, sampai rasanya 'kesal' ketika sudah membaca buku itu hingga halaman terakhir. Masih ingin baca cerita yang lain lagi soalnya... 

Ramadan di Rantau. Ini adalah kebalikan dari buku Curhat Jalan Raya, menjadi proyek antologi yang paling tidak memuaskan juga tidak membanggakan. Aku merasa 'terjebak' ikut dalam proyek antologi ini. Kutemukan undangan untuk menulis pengalaman mengenai Ramadan di rantau ini dari sebuah akun penulis di facebook. Kabarnya dia sudah menulis banyak proyek antologi dengan buku yang tidak sekedar indie tapi juga terdaftar resmi dengan ISBN.  Terdengar sangat terpercaya bukan? Tapi ternyata kuratornya hanya dia sendiri. Bukan kurator juga sebetulnya, karena tulisan-tulisan yang masuk tidak melalui proses seleksi lagi. Dia bahkan sampai membuat 2 jilid buku ini, Ramadan di Rantau 1 dan 2, menimbang tulisan yang masuk sudah melebihi target. Yang membuatku kecewa, membaca beberapa tulisan dalam buku itu ternyata seperti mendengar seseorang bergumam saja, tak ada gregetnya. Sekiranya diseleksi dengan lebih baik, sangat mungkin buku ini akan lebih berkualitas. 

Proyek curhat berkedok Antologi :p
Unboxing Soulmate dan Melepas Untuk Bahagia. Dua proyek antologi ini jadi ajang curcol juga. Entah berapa persen kisah pribadi yang termuat di situ, tapi semoga jadi bahan pelajaran untuk pembaca. Membaca beragam kisah dalam buku Unboxing Soulmate, membuatku kembali menyadari dan memahami, bahwa pasangan hidup itu adalah misteri. Kadang tak dicari malah datang sendiri, tapi tak jarang dikejar malah dia menghilang, Buku Melepas Untuk Bahagia juga jadi sarana pembelajaran dan penguatan diri, bahwa tak semua yang kita kira baik, akan baik untuk kita. Menggenggam 'milik kita' tak selalu indah, sementara melepaskan bisa jadi membuat kita lebih bahagia. Selalu ada hikmah di balik semua peristiwa. 

Satu proyek antologi lagi, diwujudkan dalam bentuk e-book kumpulan cerita fiksi (dengan unsur) ITB. Ini kumpulan kisah yang serunya poll!!! Berisi cerita-cerita seru yang kental dengan aura nostalgia kampus Ganesha, dengan segala kisah seru tersembunyi di sana-sini. Yang mau baca-baca lagi, bisa langsung cuss ke sini.

~ ~ 💛 ~ ~

Hari-hari terakhir di Gunma, kuhabiskan dengan menyortir barang-barang yang akan kubawa pulang ke Indonesia. Omong punya omong dengan dua teman sesama program teacher training, segala urusan mereka dengan kampus sudah selesai bahkan sekitar 2 pekan sebelum kepulangan. Aku pun sudah menyelesaikan laporan kegiatan teacher training-ku dan bersiap untuk jalan-jalan terakhir sebelum kembali ke Indonesia. Hiroshima jadi tujuanku selanjutnya.

ZONK!!! Sensei memintaku untuk kembali merevisi laporan kegiatanku selama menjalani program teacher training. Aku harus bolak-balik mengedit dan menyerahkan revisian laporan sampai akhirnya sensei 'menyerah' di H-3. Ketika jadwal kepulangan sudah mepet begitu, aku tak mungkin lagi dong jalan-jalan ke Hiroshima yang jaraknya sekitar 800 km dari Gunma. Dengan jarak sedemikian jauh, tentu tak mungkin aku pergi bolak-balik dalam sehari, sementara packing belum beres, lalu undangan 'pesta perpisahan' juga berentet untuk dihadiri. Sementara masih banyak urusan domestik lain yang juga perlu didahulukan. Gagal deh berkunjung ke Hiroshima.

Berlatar belakang kebun Plum di area Nagoya Castle
Selama masa tinggalku di Jepang yang 1,5 tahun lamanya, alhamdulillah aku bisa berkunjung ke beberapa tempat wisata dan mendapatkan ragam kenangan yang begitu berkesan dan tak terlupakan. Tapi pergi ke Hiroshima dan mengunjungi Monumen Bom Atom adalah salah satu tujuan dalam daftar impian yang masih ingin kuwujudkan. Biarpun tabungan bolak-balik terpakai untuk hal lain-lainnya, optimis dulu ajalah. Entah kapan berkunjung ke sana, tapi ya siapa tahu... ada yang mau ngajakin untuk jadi guide ke sana. Yoroshiku ne

~ ~ 💛 ~ ~

Labbaik... Allahumma labbaik. Labbaika syariika laka labbaik. Innal hamda wanni'mata laka walmulk. Laa syariikalak. Berjalan di pusaran jamaah haji di sekitar ka'bah, melambai dengan takzim ke arah bangunan bersahaja yang jadi tujuan seluruh muslim di dunia, berdesakan di lautan jemaah berpakaian ihram. Ya Allah... ibadah tertinggi sebagai seorang muslim ini tentunya ingin juga kualami.

Dekorasi kamar: suasana masjidil haram dengan lampu.
Izinkan aku menjadi salah satu jemaah di rumah-Mu, ya Allah...

Tidak, kali ini tidak zonk. Bismillah... suatu saat aku akan datang ke baitullah, untuk beribadah di depan ka'bah, pergi ke tanah suci untuk menjalankan ibadah haji. Ya Allah... aku mohon izinkan diri ini untuk pergi. Entah tahun berapa aku akan dapat kuota, kesempatan untuk pergi berhaji, tapi ihtiar sudah mulai kujalani. Mendaftar untuk mendapatkan nomor antrian, menyetorkan sejumlah uang sebagai dana awal dan melanjutkan menabung di tabungan khusus yang kali ini tak akan kuotak-atik. Merutinkan berjalan kaki (masih pagi-pagi dulu) supaya badan terbiasa untuk ibadah yang perlu kekuatan fisik (dan mental) ini. Semoga Allah berkenan 'memanggilku' ke baitullah, sebelum Dia memanggilku ke haribaan-Nya. Tolong berikan kesehatan agar aku bisa menjalani ibadah itu dengan paripurna. Ya Allah...aku ingin pergi berhaji dalam keadaan sehat walafiat. Aamiin yaa mujiibassaailiin. 
~ ~ 💛 ~ ~

Bismillah... tulisan ini merupakan rangkuman keinginanku yang masih ingin dicapai. Disetorkan untuk menjawab Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog di bulan Agustus ini. Bantu aminkan yaa, mamah-mamah... 

Thursday, July 20, 2023

Tolong Katakan Padaku, Dari Mana Asalku?

Tiap kali ditanya, 'Kamu orang mana?' atau 'Kamu asalnya dari mana?', aku pasti perlu beberapa waktu untuk berpikir sebelum menjawab. Atau... kau siap-siap saja mendengarkan penjelasan yang cukup panjang ya. Aku siap bercerita dan nanti tolong bantu aku, apa yang harus kujawab ketika ditanya tentang daerah asalku. 
Beberapa waktu yang lalu, di acara halal bihalal keluarga besar Mangundimedjan, keponakanku bolak-balik menanyaiku, "Ini (yang baru datang) siapa, tante?" Ketika hubungan kekerabatan masih cukup dekat, misalnya sepupuku langsung beserta putra-putri mereka, aku masih bisalah memberi tahu dan mengenalkan. Tapi ketika yang datang adalah putra-putri dari sepupu bapak dari keluarga besarnya, euh... aku mendadak bodoh rasanya. Kalau ada ujiannya, mungkin nilaiku cuma 30. Harus remedial deh. 
Jika menurut garis patrilineal, aku termasuk suku Jawa. Bapak berasal dari Solo, keturunan ke-7 dari Sultan Mangkunagoro. Dari berkas-berkas yang ditinggalkan bapak, kutemukan dokumen Piagam Sentono yang menunjukkan hubungan kekerabatan bapak turun temurun dengan K.G.P.A.A. Mangkunagoro I. Keluarga besar dari bapak rata-rata bisa berbahasa Jawa, halus. Sedangkan aku? Jika ditanya dengan bahasa Jawa, jawaban default-ku adalah, "Hwaduh... mboten ngertos. Kulo ora iso boso Jowo." Pernah sih aku 'terjebak' bertanya kepada seorang teman kuliah yang berasal dari Solo. Kubilang, eyangku dari Solo juga sih. Lalu aku sok-sokan nanya, "Kalo kamu, Solone ngendhi?" Terus meluncurlah sederet kalimat dalam bahasa Jawa darinya, yang tak satu pun kupahami. Kuapok deh nanya orang pake bahasa Jawa. Hahaa... jadi kalau aku 'ngaku-ngaku' Orang Jawa, ya iyain sajalah ya, karena secara garis keturunan bapak, aku berdarah Jawa. Tapi kayak Jawa murtad rasanya kalau tak bisa Bahasa Jawa begini. :p 
Sebetulnya... dari ibu pun mestinya aku punya sedikit darah Jawa. Ibu berasal dari Tondano, tepatnya dari sebuah daerah yang disebut Kampung Jawa. Konon katanya, penduduk di sana adalah keturunan Kyai Madja dan pasukannya yang diasingkan oleh Belanda ke Sulawesi Utara. Kenalan serba sedikit yuk denganku, siapa tahu ternyata kita basudara.  Kita mulai dengan marga atau nama keluarga ya.
Marga ibuku, mengikut ayahnya adalah Masloman. marga bapak dari ibuku (yaitu kakekku) adalah Masloman, sedangkan marga ibu dari ibuku (yaitu nenekku) adalah Pulukadang.
Mengingat orang-orang di Kampung Jawa ini rata-rata terkait kekerabatan, sangat mudah bagi kami untuk mengenali kerabat sekampung. Marga atau kadang disebut Fam Pulukadang cukup dikenal, selain Kiay Modjo sebagai keturunan garis pertama dari Kiay Modjo. Ada pula Kiay Demak, Haji Ali, Kangiden, Lamani, dan sebagainya. Ternyata banyak juga nama-nama keturunan Kiay Modjo dan pengikutnya yang sekarang sudah banyak tersebar di seantero Indonesia. 

Nah... sebagai seorang yang lahir dari orang tua campuran Jawa-Tondano, aku merasa tak terkait dengan Jawa ataupun Tondano. Terus terang saja, aku lebih merasa sebagai orang Sunda dibandingkan Jawa. Ini karena sejak lahir aku sudah di Bandung, bersekolah di Bandung juga sejak TK sampai kuliah, Teman-teman mainku rata-rata orang kampung dan kami lebih aktif berkomunikasi dengan Bahasa Sunda, walaupun aku tetap kesulitan untuk berbicara Bahasa Sunda lemes/halus. 
Seumur hidupku, bisa dibilang begitu, aku tinggal di tanah Pasundan, menyerap budaya dan bahasanya, dan rasanya cinta banget dengan tanah dan air di kota Bandung ini. 
Jadi... bisakah kau katakan padaku, dari mana asalku sekiranya ada yang menanyakan itu padaku. Gampangnya sih... orang Indonesia sajalah. Setuju? Kupungkas ceritaku untuk disetorkan dalam Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog yang mengusung tema 'Daerah Asal'. Perlu 'bersemedi' sekian lama hingga akhirnya kutuntaskan juga tulisan bingung ini untuk menjawab tantangan Mamah Gajah Ngeblog bulan Juli.

Friday, June 16, 2023

Banjir Kenangan Tak Terlupakan

Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Juni ini bertema mengenai pengalaman masa kecil. Beuh... pikiran langsung flashback ke masa bertahun lalu, untuk kemudian memilih dan memilah kisah mana yang akan kuceritakan. Berikut ini salah dua di antara kenangan masa kecil yang enggan lepas dari ingatan.

Ketika kecil, aku tinggal di Dayeuhkolot. Familiar dengan nama itu? Ya... Dayeuhkolot kerap muncul di berita daerah maupun nasional sebagai area yang terdampak banjir  ketika musim hujan (dan banjir) tiba. Bittersweet memory kalau aku ingat masa itu. 

Di depan tembok sekolah masa kecilku.
Beberapa waktu lalu aku berkesempatan mengunjungi almamaterku, SDN Dayeuhkolot 7, yang terletak sekitar 100-200 meteran dari tepian Sungai Citarum. Berlokasi begitu dekat dengan salah satu sungai terbesar di Jabar ini tentu resiko kebanjiran mengintai di setiap waktu, terutama di musim hujan. Ketika hujan mengguyur Bandung dalam 2 atau 3 hari berturut-turut, tunggu saja... kami kemudian akan datang ke sekolah hanya untuk membaca pengumuman bahwa sekolah diliburkan karena banjir.  Biasanya aku dan teman-teman akan balik badan untuk pulang ke rumah masing-masing, berganti baju dengan baju lusuh, lalu kembali ke sekolah untuk bermain air. Kukucuprekan, istilahnya pada waktu itu.

Kami bermain air selama 1 hingga 2 jam  sesuka kami saja, toh biasanya orangtua kami tak ada di rumah karena pergi bekerja. Kami baru pulang ke rumah ketika lapar mulai melanda karena kelamaan bermain (atau berkubang?) dalam air yang sewarna bajigur. Tapi rasanya tentu saja tak ada bajigur-bajigurnya. Bagaimana aku bisa tahu? Ya, aku pernah merasakan sendiri ketika terpeleset dan bersalto 2 putaran di dalam air setinggi dada (di area yang landai sedikit lebih dekat ke tepi sungai). Dalam kepanikan nyaris tenggelam begitu, tak ayal air sungai terminum juga. Kupikir-pikir sekarang ini, jijik banget ya maenanku di masa itu, mengingat aliran Sungai Citarum yang berwarna coklat keruh itu tentulah membawa material lumpur dan... euwwhh... sudahlah, tak perlu dibayangkan lagi. 🥴😵‍💫

Bermain air begitu seringkali berlangsung beberapa hari. Dan setelah air surut, kami pun kembali ke sekolah untuk kerja bakti membersihkan kelas yang kotor berlumpur. Sebagai anak kecil, kami sih happy-happy aja, justru senang karena lepas dari kewajiban belajar di kelas. Sementara ketika aku dewasa dan menjalani profesi sebagai guru, rasanya libur sekolah 1-2 hari saja sudah cukup membuatku merasa kehilangan yang teramat sangat. Cemas mengingat target materi yang harus diajarkan. Akankah terkejar di sisa waktu semester berjalan? Dijejalkan atau justru dipangkas? Hahaa... Happy vs worry, what a bittersweet memory.

Flashback lebih jauh lagi yuk ke masa ketika aku bersekolah di TK. Ada pengalaman (tampak) lucu tapi bikin malu. Tapi biarlah kuceritakan padamu, karena toh saat itu aku masih lugu.

Tim tari Suwe Ora Jamu. Ki-ka: Panty, Yuli, Mbak Yayang, Nunung, Yani, aku.

Saat itu adalah hari perpisahan sekolah. Aku dan beberapa teman sudah berlatih untuk tampil menari di atas panggung. Aku ingat sekali, pagi itu aku diantar kakak sulungku, Mbak Yayu,  yang bersiap membantuku memakaikan kostum untuk tarian pertamaku, tari Suwe Ora Jamu, sesuai lagu yang mengiringi tarian itu. Dari 6 orang yang menari Suwe Ora Jamu, aku dan Nunung didapuk untuk membawakan dua tarian. Tarian kedua ini aku lupa judulnya, tapi kostumnya berupa baju senam hitam yang dilengkapi dengan kaos kaki kitam panjang (harusnya stocking kali ya) dengan rok berumbai dari kertas minyak, dan pelengkap mahkota bunga yang terbuat dari kertas krep juga kalung dan korsace. Untuk sesi ganti kostum yang rada ribet ini, aku ingat Mbak Yayu masih ada dan membantuku membuka lilitan selendang serta kain batik untuk kemudian menggantinya dengan kostum yang kusebut di atas tadi. 

Tari Hawai-kah ini?
Dengan kostum baju senam legendaris.
Rangkaian acara pun berlangsung satu demi satu. Ada teman lain yang bernyanyi, membaca sajak, atau unjuk kebolehan lainnya. Pengumuman-pengumuman pun disampaikan, termasuk pembagian hadiah. Aku juga dapat hadiah lah... standar saja, berupa buku tulis pada waktu itu. Kami naik ke atas meja panggung untuk menerima hadiah sementara aku masih memakai kostum tariku yang terakhir. 

Pendek kata, rangkaian kegiatan pun usai dan saatnya kami pulang ke rumah masing-masing. Kulihat berkeliling, tak kulihat sosok Mbak Yayu di mana pun. Tak pula ada orangtuaku karena keduanya bekerja. Tampaknya hari itu Mbak Yayu bersekolah siang dan dia pergi meminggalkanku di sekolah tanpa kabar apapun (ya mungkin karena aku sedang sibuk menari di panggung). Mbak Yayu kemudian pulang sambil membawa seluruh kelengkapan kostum tarian Suwe Ora Jamu. Intinya sih semua, tak bersisa. Tinggallah aku yang harus meninggalkan rok berjumbai dan mahkota bunga karena itu adalah properti sekolah. Kaos kaki hitam pun kutanggalkan karena tampaknya aku hanya dipinjami salah seorang teman. Ya, rasanya aku tak pernah punya kaos kaki hitam panjang. Aku tak ingat apakah Mbak Yayu meninggalkan alas kaki untukku atau juga dibawanya pulang. Yang jelas, yang kuingat dengan terang adalah aku pulang berjalan kaki ke rumah dengan mengenakan baju senam saja. Malunya luar biasa ketika siang hari itu aku memaksakan diri berjalan melewati barak tentara di kompleks Yon Zipur III alias barak tentara Kujang 330, melewati perumahan keluarga mereka yang sedang menjalani istirahat siang. Aku  sok cuek aja menebalkan muka dan telinga, mengabaikan segala komentar dan apapun kata atau tanya mereka. Perjalanan 500 meteran yang kutempuh dari sekolah ke rumah itu rasanya jadi perjalanan terlama. Lega rasanya bisa kembali ke rumah dan segera berganti baju dengan baju main yang normal, lalu kembali lagi ke komplek tentara di belakang rumah untuk manjat pohon kersen. Mudah-mudahan mereka nggak ingat mukaku, si anak yang barusan lewat pakai baju senam seksi tadi. Hihiii... 🤭🫣

Saturday, March 04, 2023

Handling Mudah Bawang Putih VS Bawang Merah


Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Maret ini mengusung tema 'Life Hack (Produk atau Metode yang Mempermudah Hidup).' Dari sekian banyak ide life hack yang bertebaran dan bertaburan di jagat maya, ya banyak juga sih yang applicable dan memang mempermudah hidup, walaupun tak sedikit juga yang malah bikin ribet. 🤪 

Mengingat ini sudah bulan Maret dan jelang akhir bulan nanti sudah masuk bulan Ramadhan, mamah-mamah pasti sibuk dengan segala aktivitas masak-memasak. Walaupun nggak terlalu suka masak dan merasa jalan ninja mamah adalah dengan order makanan via blablabla-food, tapi ya nggak mungkin tiap hari juga kali... apalagi buat hidangan sahur. Kasihan babang blablabla-food kalau harus nganterin pesanan kita sementara mereka pun bersicepat dengan imsak untuk makan sahur juga. Jadi... hayulah masak sesekali.

Urusan masak pasti nggak akan jauh dari perbawangan. Bawang merah dan bawang putih tampaknya harus selalu tersedia di dapur kita untuk modal masak sehari-hari. Eh... aku enggak juga sih, soalnya kalau soal bumbu, aku agak sering pakai bumbu dasar siap pakai ajs. Nah... tapi itu mah life hack yang lain lagi deh yaa. Saat ini aku mau sedikit sharing tentang cara praktis handling duo bawang ini. 

Bawang Putih

Rata-rata masakan -di belahan bumi mana pun- biasanya familiar dengan penggunaan bawang putih. Aku sebetulnya suka aromanya, tapi ya jangan nempel lama-lama di tangan juga dooong. Belakangan ini aku sedang suka bikin chicken wings ala salah satu resto waralaba. Resepnya kucontek dari sebuah akun di cookpad. Praktis banget ini, cuma mencampurkan beragam saus, madu, kecap dan... bawang putih cincang. Kalau mencincang bawang putih ya pasti ada kontak erat dengan si bawang dan pasti ketempelan aromanya, yang awet rajet seperti kena pelet. Kebayang nggak siih, pas kita abis khusyuk berdoa lalu mengusap muka, hadeuh... ambyar semua deh gara-gara aroma bawang.

Well... pendek kata, aku menemukan produk pemarut bawang putih ini di sebuah gerai e-commerce ketika mencari barang lain. Biasa... untuk menggenapkan belanjaan supaya dapat promo ongkir gratis, aku tambah bareng ini dan itu sebelum checkout. Harganya murah meriah, nggak sampai 10 ribuan, tapi membantu sekali untuk mencacah si bawang putih tanpa perlu berkontak intens dengannya. Hasilnya memang bukan bawang putih cincang siih, melainkan parutan bawang kasar. Sebagai pengganti bawang cincang, sangat boleh juga kan yaa?

Foto diambil dari sini
Pemarut bawang ini berukuran kecil yang cukup untuk mengeksekusi sesiung bawang putih. Ada stopper di kedua ujungnya, depan dan belakang, sehingga parutan bawang tidak akan mudah meluncur bebas hingga lepas. Namun begitu, ketiga bagian alat ini bisa dilepas ketika hendak dibersihkan. Cara penggunanya praktis sekali. Bawang putih bisa diletakkan di wadah berupa tabung kecil di bagian tengah alat, yang bisa bergerak maju-mundur. Terdapat pula penutup yang sekaligus berfungsi untuk mendorong si bawang perlahan hingga habis diparut. Jari kita tak akan kontak berlama-lama dengan si bawang. Tangan kiri memegang handle, sementara tangan kanan menggerakkan wadah bertutup untuk menghasilkan parutan dengan ukuran yang cenderung seragam. Setelah itu, parutan bawang putih bisa segera ditambahkan ke dalam bumbu marinasi.

Bawang Merah

Ketika pindahan rumah beberapa waktu yang lalu, kutemukan benda ini di antara beragam barang peninggalan ibu yang layak untuk dipertahankan dan dimanfaatkan tentunya. Ini adalah alat pengiris bawang, yang memungkinkan kita untuk merajang bawang tanpa berurai air mata. Irisan yang dihasilkan tipis seragam, walaupun arah irisan tak bisa kita atur sesuai keinginan kita.

Perajang bawang peninggalan ibu ini warnanya sudah pudar, tapi fungsinya masih optimal dengan bilah pisau yang masih terjaga tajam. Terakhir kupakai untuk mengiris bawang untuk digoreng. Kesukaan pisan. Membersihkannya pun mudah karena bagian demi bagian perajang bawang ini bisa dibongkar untuk dibersihkan secara paripurna. Perajang bawang serupa dengan beragam pilihan warna bisa didapatkan di toko kelontong offline ataupun online dengan harga di kisaran 15 ribuan hingga puluhan ribu. Sebagai mamak-mamak ekonomis, kita tentu cari harga termurah yang masih masuk akal yaa. Kalau kelewat murah juga aku malah jadi curiga, jangan-jangan yang dijual adalah produk reject.
Ngomongin produk yang bikin mudah atau nyaman hidup kita, dua alat yang kusebutkan di atas itu sangat membantuku untuk mempermudah urusan keseharian di dapur. Dulu, kupikir para desainer produk tuh cuma ngadi-ngadi aja, mendesain produk yang di-claim dengan fungsi begini dan begitu, lalu dijejalkan ke pasar agar konsumen merasa perlu untuk membeli. Tapi di antara sekian banyak produk yang diproduksi, pastilah ada beberapa yang memang dibuat untuk memecahkan masalah keseharian seperti yang kerap terjadi di dapur kita. Aku tak segan lagi untuk mengeksekusi duo bawang di dapur sekarang ini. Bawang putih dan bawang merah takluk tanpa meninggalkan jejak aroma di tangan ataupun drama air mata. 

Monday, February 27, 2023

Buku-buku Masa Kecilku

Buku Bahasa Indonesia (Seri Ini Budi)


Sebagai anak bungsu, yang terpapar banyak pengaruh kakak-kakakku, rasanya aku sebetulnya sudah bisa membaca sejak sebelum masuk Sekolah Dasar. Ketika aku ingin membaca cerita di majalah Bobo, misalnya, aku tak bisa selalu menunggu kakak-kakakku untuk membacakannya untukku. Mungkin, ketika dibacakan itulah aku menyimak dan melihat deretan huruf  lalu tampak otomatis bisa saja.
Ketika masuk sekolah, rasanya tak sabar membaca teks di dalam buku-buku seri Ini Budi ini. Tapi sebagai anak yang belajar adab dan sopan santun kepada orang dewasa terutama guru, aku sok sabar aja mendengarkan penjelasan Bu Ida, guru kelas 1-ku di masa itu. Sesekali, aku ikut membimbing teman di sebelahku untuk membaca teks sederhana di dalam buku itu. 
Tak cukup punya uang untuk membeli buku-buku bacaan lain, aku pun sok-sokan melangkah lebih jauh dengnan menyenandungkan beberapa teks pendek di dalam buku itu menjadi lagu. Tak pernah kupublikasikan tentunya, karena hanya bermodal kepekaan nada saja tanpa berbekal kemampuan memainkan alat musik. Tapi hanya dengan begitu pun, aku merasa sudah cukup bahagia, bahwa Budi, Wati, Iwan dan Arman menemani masa kecilku hingga lancar membaca dan menulis. Tak lupa terima kasihku utnuk Bu Ida, guru kelas 1 dan kelas 3-ku yang dengan contoh tulisan indahnya di papan tulis, aku cenderung meniru. Ahem... di masa itu ya. Sekarang sih terlalu sibuk mengetik di keyboard maupun layar sentuk ponsel, tulisan tanganku sudah acak adut tak karuan bentuk. 

Longman Graded Reader Books

"Diah, kamu sekolah siang kan ya? Ikut ke British Council (Library) yu, besok!" Ajak Mbak Yayu, kakak sulungku. Ketika itu aku berumur 12 atau 13 tahun-an, masih baru jadi anak SMP.

"Ngapain aja emangnya di sana?"
"Ada banyak buku-buku cerita (ber)bahasa Inggris. Hayu lah, sambil nemenin."  

Pendek kata, aku ikut lah ke British Council Library. Di Jalan Lembong, waktu itu. Mbak Yayu perlu mencarai referensi buku untuk keperluan kuliahnya, sementara aku dibiarkan untuk eksplor buku-buku untuk anak di area easy reader. Di pertengahan tahun 1980-an, bisa dibilang aku baru mulai belajar Bahasa Inggris. Membaca teks berbahasa Inggris masih merupakan hal yang sulit. Lha aku baru belajar dasar-dasarnya saja dengan kosa kata standar. 

Kutemukan satu buku dari Penerbit Longman, untuk pembaca pemula dengan level 1. Kubuka lembar demi lembarnya. Kulihat gambar besar di setiap halaman dengan teks pendek menyertainya. Ketika kucoba untuk membaca dan ternyata mengerti, whoaaa... serasa sebuah bohlam menyala di kepalaku, memacu untuk membuka halaman berikutnya, membaca lebih banyak lagi. 
Betah sekali aku di sana. Dengan cepat, buku level 1 sudah habis kubaca. Lanjut level 2, sama menyenangkan rasanya. Level 3 dan berikutnya siap-siap jadi santapan berikutnya. Sesekali aku pun meminjam beberapa buku dari sana untuk dibaca di rumah. Aku pun tak lagi selalu bersama Mbak Yayu pergi ke sana. Naik angkot sambung menyambung, dilanjut sedikit jalan kaki, kujabani demi membaca buku-buku seru di perpustakaan itu. Terima kasih, Mbak Yayu, sudah mengenalkan aku pada kecintaan terhadap buku yang seru. 

Tuntunan Shalat Lengkap

Sepulang sekolah, anak-anak Kampung Bolero saling jemput dan mengajak main bersama. Anak-anak kelas 3 itu seru sekali bermain. Mulai petak umpet, loncat tinggi, sapintrong, atau permainan yang lebih kalem seperti congklak, beklen, atau sekedar ucing beling (menyembunyikan pecahan beling untuk ditemukan anak lain). Adzan ashar sudah terdengar. 1-2 anak berpamitan untuk pulang, mau shalat asar dulu.

"Tong waka enggeusan nya ulinna. Urang balik heula nya, sholat heula."

(Mainnya jangan dulu udahan yaa. Aku pulang sebentar ya, sholat dulu.)

"Tong lila nya. Ieu ulinna can beres."

(Jangan lama ya. Ini kan mainnya belum selesai.)

"Moal lila. Geus apal da bacaanna."

(Nggak akan lama. Bacaannya udah hapal kok.)

"Nya enggeus... urang ge balik heula sakeudeung. Sarua da, urang ge geus apal bacaan(sholat)na."

(Ya udah, aku juga pulang dulu sebentar. Sama kok, aku juga udah hapal bacaan(sholat)nya.)

Acara main di-pause sebentar. Tak lama kemudian kami berkumpul kembali untuk melanjutkan bermain. Aku juga tentu ikut pulang ke rumah, pura-pura sholat sebentar, ngebut, tapi bacaan sholatnya tak lengkap. Malu aku untuk mengakui bahwa aku masih terbata membaca bacaan sholat. 

Ketika disuruh mengaji di masjid, ada saja alasanku untuk pindah dari satu masjid ke masjid lainnya. Ustadznya nggak asik lah, teman-temannya ngeselin lah, padahal yang sejujurnya adalah aku tak mau terlihat atau ketahuan 'bodoh' dibanding yang lain. Ketika ada anak yang ngajinya lebih bagus dariku, aku pun mundur teratur, lalu mencari alasan untuk pindah mengaji ke masjid lain. 

Ada juga masanya ibu mencarikan guru ngaji untuk datang ke rumah, mengajari membaca alquran, termasuk mengajar bacaan sholat dan doa-doa. Tapi sebagai anak bungsu, giliranku kadang dilewat, atau dimaklum ketika aku belum hapal dengan sempurna, dengan dalih aku kan masih kecil... Bu guru ngaji merasa sudah puas ketika ketiga kakakku sudah sukses menyetorkan hapalan bacaan sholat dan doa-doa harian. Tinggallah aku terbata-bata, malu sendiri ketika teman-teman sebayaku sudah hapal dan lancar dengan bacaan sholat mereka.

Aku pun akhirnya belajar lagi, berbekal buku sederhana yang klasik ini. Kubaca berulang-ulang bacaan sholat semampu yang aku bisa, mulai dari doa iftitah yang panjang versi wajjahtu, lalu bacaan rukuk, i'tidal, sujud hingga tahiyat. Surat-surat pendek hanya beberapa saja yang kuhapal, tapi lumayan ajalah buat modal sholat sehari-hari mah. 
Setelah makin besar, tentu aku perlu belajar lagi bacaan sholat juga hapalan surat-surat pendek maupun ayat pilihan lainnya. Mendengar kajian ustadz di radio, menonton TV ataupun mendatangi majelis taklim untuk menyimak kajian secara langsung sesekali. Nambah ilmu puh harus, pastinya. Ohya, tentu saja ada lagi buku tuntunan sholat lain yang kubaca untuk memperluas wawasan ilmu, supaya tak mudah menyalahkan si ini atau si itu karena bacaan sholat atau gerakannya begini dan begitu.
Tiga buku di masa kecilku itu sangat berkesan dan punya makna besar bagiku. Pastinya membawa pengaruh positif yang terbawa hingga dewasa. Tulisan ini tadinya mau disetorkan untuk tantangan ngeblog mamah Gajah perdana di tahun 2023 ini, tapi sebagai deadliners garis keras, ah... ternyata aku kalah beradu dengan waktu. Deadline lewat dan... sudah tanggung nulis, ya diposting saja ya. Terima kasih lho sudah menyempatkan membaca sampai akhir.

Salah Satunya... Kok Jadi Banyak.