Showing posts with label muridku. Show all posts
Showing posts with label muridku. Show all posts

Saturday, May 02, 2015

Bahagia Bersama Dalam Setiap Momennya

Lagu-lagu bahagia, bertebaran dan bertaburan, jadi soundtrack perjalanan hidupku. Yang sempat jadi salah satu soundtrack untuk momen pejalanan hidupku adalah lagu asik dari Oppie Andaresta. Sebagai single, aku tak punya alasan untuk tidak bahagia. Jomblowati, maybe, but I'm single and very happy. Kebahagiaan nggak perlu selalu didapat dengan keberadaan pendamping hidup. Ketika kita bersyukur dengan apa yang kita punya, kita bisa bahagia dengannya. Pas juga dengan lagu bahagia rilisan GAC yang akhir-akhir ini sering berkumandang dari radio. Ciamiiik...! Lagu-lagu bahagia begitu, pantes banget untuk jadi inspirasi kebahagiaan di keseharian. 
Lagu dengan ritme yang dinamis ini, mengiringi keseharianku. Hampir setiap pagi beredar di udara dari sebuah radio kesayangan yang kupanteng di pagi sebelum berangkat kerja. Dan ya, bahagia itu ada di keseharian, setiap hari, di sekitar kita, nggak jauh-jauh, sedekat radio di depan kamar aja kok ;)
Bahagia ketika bangun pagi masih sehat, siap beraktivitas. Bahagia ketika membayangkan akan bertemu lagi dengan murid-muridku. Bahagia itu memicu semangat. Jadi, yuk mari berangkat ke sekolah lagi...!
Beraktivitas di sekolah itu selalu ada saja kejadian lucu-lucu dan menyenangkan yang membuat bahagia. Biasanya, yang jadi sumber kesenangan dan kebahagiaan itu adalah murid-muridku. Berawal dari kejadian-kejadian keseharian yang sebetulnya biasa, tapi berdampak luar biasa saat tahu bahwa momen 'kecil' itu menorehkan hal yang 'besar' bagi mereka.
Setelah bertahun-tahun mengajar anak-anak 'kecil' di level primary, tak banyak lagi kejadian yang kuanggap luar biasa. Mengajar di dalam ataupun di luar kelas, sudah jadi 'makanan' sehari-hari. Mendampingi anak-anak makan snack paginya dan saling berbagi, atau menemani makan siang, mengingatkan agar mereka menunjukkan rasa syukur dengan menikmati apapun menu mereka. Membimbing anak-anak shalat dan dzikir, pada saat dzuhur maupun duha, itu pun nggak perlu 'usaha keras'. Well... di awal-awal masa sekolah sih lumayan juga, sampai sakit-sakit tenggorokan gitu, memandu bacaan shalat dan dzikir mereka. Tapi semua rangkaian kegiatan di sekolah, sejatinya membuatku bahagia. Melihat anak-anak itu sehat gembira, aktif dan bersemangat, sudah cukup jadi sumber kebahagiaan buatku. Tapi kalau mereka rajin, semangat belajar, dan menurut selalu pada kami, guru-gurunya, itu jadi kebahagiaan plus tentunya ;)
Dalam beberapa sesi perbincangan dengan orang tua murid yang berbeda, terungkap ucapan terima kasih mereka karena anak-anak mereka, di usia sebelia itu, ternyata sudah hapal bacaan shalat, lengkap dengan dzikirnya. Kalau flashback, kembali ke masa silam, mungkin ketika kami masih seumur mereka, bacaan shalat masih belum lancar juga ya. Jadi ketika anak-anak mereka ternyata sudah hapal, tahu bacaan dan gerakan shalat, bisa pula mendoakan kebaikan untuk orang tua mereka, tentu ini jadi sumber kebahagiaan, yang semoga tidak hanya di dunia, tapi hingga di akhirat kelak.
Hal yang seperti ini membuatku terharu. Terima kasih kembali, bahwa apa yang kulakukan sehari-hari, ternyata dianggap sebagai sesuatu yang berarti, jadi jalan untuk berbagi kebahagiaan
Menyukuri berkah, terkadang kami sempatkan dalam momen istimewa. Salah satu yang terbaru adalah ketika salah satu murid kami memperingati hari lahirnya dengan berbagi cupcake cantik, buatan sang bunda dengan penuh cinta. Berdoa bersama, dan ternyata momen itu sangat bisa dimanfaatkan sebagai sarana untuk belajar bersama. Ketika setiap cupcake dihiasi dengan replika sayuran dari fondant, momennya pas sekali dengan materi pelajaran yang diajarkan di hari itu. Maka jadilah percakapan berikut.
"Do you like cabbage?"
"No, I don't."
"What do you like?"
"I like corn."
"OKHere you are."
"Thank you."
Dan percakapan berulang kembali, menjadi latihan yang efektif untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris murid-muridku, dengan pengalaman yang nyata. Semua bahagia, karena mendapatkan cupcake dengan hiasan sesuai keinginan dan gurunya pun tak kalah bahagia karena menemukan sarana untuk melatih percakapan bagi murid-muridnya. Alhamdulillah, gurunya juga kebagian cupcake ternyata.  Umm... I like pumpkin. Can I have one, please ;)
Menjalani hari-hari sebagai guru, sungguh kunikmati setiap momennya. Bertemu dengan murid-muridku di kelas maupun di luar kelas, dirindukan oleh mereka saat tak bisa bersama, ditanyakan saat tak ada, ah.... itu sungguh perasaan yang luar biasa. Berkomunikasi dan bercengkerama dengan orang tua murid, di dalam konteks pendampingan putra-putri mereka ataupun urusan lainnya -termasuk sesi belajar membuat cupcake ;)-, membuatku merasa punya keluarga besar. Dan bahagia bersama keluarga besar di P1 Baghdad itu, ketika bisa berbagi momen di keseharian mereka. Tak jarang aku mengirim gambar melalui grup WhatsApp bersama para orang tua siswa, membuat mereka ikut merasakan apa yang terjadi di sekolah saat putra-putri mereka tak di rumah. Tak jarang pula kami saling berbagi informasi maupun kisah inspirasi ataupun saling koreksi dengan cara yang santun. Kita belajar bersama, juga bahagia bersama, dalam setiap momennya. Alhamdulillah, bahagianya. Semoga dalam kebahagiaan ini tak luput juga dari limpahan berkah-Nya. Aamiin.
Nah, jika murid-murid dan keluarga besarnya jadi inspirasi kebahagiaan buatku, apa inspirasi kebahagiaan menurutmu? Ayo berbagi bahagia bersama Tabloid Nova melalui event lomba yang digelar hingga akhir Mei nanti. Hadiahnya lumayan bakal bikin kita tertawa bahagia deh, pastinya.
Baca syarat dan ketentuannya dengan teliti ya, tapi pada intinya sih untuk membagikan kisah bahagia kita, tulis di blog, lalu submit ke microsite kontes Berbagi Bahagia bersama Tabloid Nova. Ikuti syarat dan ketentuannya dengan seksama jika tidak ingin didiskualifikasi. Lomba ini berlangsung hingga 31 Mei 2015. Masih cukup waktu kan untuk memilah dan memilih inspirasi kebahagiaanmu lalu menuangkannya jadi sebuah tulisan di blog pribadimu. 
Nanti setelah posting di blog dan submit, sempatkan juga untuk share di social media dengan hashtag #NovaBerbagiBahagia.
Untuk lebih jelasnya, ayo langsung berkunjung saja ke microsite Tabloid Nova.

Tuesday, July 20, 2010

Apa Kabar Lagu Anak Indonesia?

Tempo hari, di acara penutupan program orientasi sekolah di sekolah kami, rangkaian foto hasil jeprat-jepret selama 3 hari itu ditayangkan di depan anak-anak dalam bentuk slide show. Untuk menambah semaraknya suasana, tentu saja disisipkan lagu untuk menyertai dinamika pergantian foto-foto kegiatan itu. Satu lagu lewat, anak-anak menikmati tampilan foto-foto kegiatan itu. Lagu berikutnya, sejak intro lagu, anak-anak sudah ramai dan terlihat bersemangat. Mereka kompak ikut menyanyi sejak bait pertama, dan makin bersemangat ketika mencapai refrain lagu. Seisi sekolah jadi Belieber semua, tersihir Justin Bieber dengan lagu “Baby”-nya.

Tak kupungkiri, lagu ini bagus, dengan irama semangat menghentak, lirik lagu yang mudah, ditambah lagi dengan penyanyinya yang cakep, lagu dan penyanyinya memang pantas jadi idola anak-anak dan remaja. Tapi sedikit sedih juga sih… menyayangkan bahwa setelah Sherina dengan lagu-lagu cantiknya (hmm… siapa saja ya pencipta lagunya?), belum ada lagi lagu yang khusus dibuat untuk anak-anak, dengan lirik dan melodi yang bagus. Anak-anak saat ini lebih asyik menyanyikan lagu-lagu untuk orang dewasa, dengan tema cinta segitiga, patah hati atau dendam membara. Aku jadi ikut dendam membara nih. Apa kabar lagu anak Indonesia? Aku jadi pengen juga nih bikin lagu untuk anak-anak. Sudah punya beberapa stok sih, nunggu yang berani memproduseri. Kalau penyanyi, pasti ada deh anak-anak yang mau jadi penyanyinya. Beberapa muridku juga cukup potensial untuk nyanyiin lagu-laguku. Tapi yang jadi sponsornya, hm… ada yang berminat? Boleh dong kontak aku. Japri aja deh... ;)

Sunday, July 12, 2009

Bismillah...

Tahun pelajaran baru, kembali dimulai. Penugasan baru, siap dijalankan. Selain tugas 'reguler' sebagai guru kesenian yang mengajar semua kelas (9 kelas, nih. lieur... geuningan :p), aku juga kebagian menggawangi kelas dengan anggota terbanyak. Masih separuhnya sih dari rata-rata murid di sekolah negeri mah, tapi kalau di sekolah swasta seperti sekolahku sekarang ini, dengan potensi mereka yang rata-rata enerjik, plus konsekuensi untuk selalu berbahasa Inggris dengan mereka, termasuk memberi catatan setiap akhir term (berarti 4 kali dalam setahun, pake bahasanya Harry Potter, pula), wah... selalu harus dimulai dengan basmalah lagi. Bukan beban enteng tuh, soalnya. Laa hawlaa walaa quwwata illa biLlaah.
Tentu saja, setiap orang berkata bahwa aku adalah orang yang tepat untuk mendapatkan tugas ini, karena aku dianggap mampu. Wanita tegar perkasa tea, atuh... Iya, tapi... ah, nggak usah pake tapi-tapian deh. Bismillaah. Innallaaha ma ana.

Saturday, April 25, 2009

Kunjungan Ke Salman

Hari Jumat kemarin, menyempatkan mampir ke SD Salman Al Farisi. Ada sedikit keperluan dengan bu Sri. Langsung menuju kelas 5C, tempat bu Sri jadu wali kelas di situ, eh... ternyata anak-anak masih banyak berkumpul di sana. Ramailah mereka menyapa, terutama anak-anak yang dulu sempat kuajar ketika di kelas 4. Sekarang mereka sudah kelas 6, siap untuk ujian akhir (eh, siap nggak...?). Pada minta didoain deh, semoga lancar menjalani ujian, jujur berusaha, dan dapat hasil terbaik. Amiin.
Ada siapa saja di sana? Ada Ajay yang nyaris tidak berubah (cuma tambah tinggi aja. Tetep kasep, cenah. Jiee....) Ada Ovi yang sekarang pake kawat gigi, ada Ira, Icha, Dede, Diyyah, Rosa, belum lagi titip-titip salam dari ini dan itu. Mereka betul-betul bertumbuh ya. Tambah tinggi. Kurus-kurus dan tinggi. Cantik (iya... kecuali Ajay anu kasep) dan (semoga) shalihat. Amiin. Bu Diah kangen kalian semua.

Sunday, January 25, 2009

Romantic Night at CCF

Salah satu muridku di Salman dulu, mengundangku untuk ikut nonton konser piano klasik di CCF Bandung. Dia salah satu pianis yang akan tampil di konser itu. Setelah dua kali perubahan jadwal, akhirnya malam minggu tanggal 24 ini, fix sebagai hari konser dengan tema "An Evening of Romantic Piano Music". Tadinya aku akan hadir di konser itu bersama beberapa teman lain, tapi karena perubahan jadwal , tiga orang teman tak bisa ikut bergabung. Intan kebetulan bisa ikut gabung, walaupun dia berkomentar, "Beda kelas ya?" Maksudnya... dandanan kita yang berjilbab tidak trendi, kayaknya kurang cocok juga di acara itu. Dress-code-nya nggak matching, gitu. Hehe... Memangnya, kalau kita dandan pake rok dan kerudung agak lebar begini, cuma boleh nonton konser nasyid ya? ;)
Beberapa anak muda yang datang di konser itu, memang (kelihatannya sih) mahasiswa atau anak-anak SMA yang notabene teman-teman para pianis yang akan tampil di malam itu, atau ya... keluarga mereka, tentunya, beserta guru-guru musik mereka. Sedangkan aku dan Intan, ya... itu tadi, beda kelas. Hehe...
Dari 15 pianis yang tampil, ketika kucermati perjalanan bermusik mereka (dari profil mereka yang kudapat), memang terlihat jejak mantap mereka di dunia musik. Walaupun rata-rata mereka juga menempuh jalur pendidikan formal, sekolah SMA atau kuliah di bidang tertentu, tapi bermusik dan bermain piano merupakan kegemaran mereka yang juga ditekuni secara serius. Prestasi mereka mencengangkan. Tidak hanya lulus ujuan musik dengan predikat "distinction", tapi juga sudah menjajal konser di negara lain, memenangkan kompetisi ini dan itu, atau berkolaborasi dengan pemusik besar lain. Dan salah satu di antara mereka adalah Andhika Sarasono, salah satu muridku dulu.
Usai mencermati program acara dan ulasan tentang para pianis, seorang lelaki tampil di panggung untuk membuka acara, mengingatkan pengunjung untuk menonaktifkan dering ponsel juga untuk tidak keluar masuk ruangan pada saat pianis tampil agar tidak mengganggu konsentrasi mereka. Lampu ruangan kemudian diredupkan, untuk menjadikan grand piano di panggung sebagai fokus.
Pianis pertama muncul, seorang lelaki berkacamata dengan kemeja batik. Dia memainkan komposisi musik klasik tanpa membaca partitur musik lagi. Hapal di luar kepala. Aku tak tahu, apakah dia memainkan komposisi itu dengan sempurna atau tidak, karena kalaupun dia melakukan kesalahan, aku tak akan tahu juga. Tepuk tangan mengawali dan mengakhiri permainan pianonya. Tertib. Pianis kedua, seorang perempuan. Dia bermain piano dengan serius, padahal kubayangkan seorang pianis akan memainkan jarinya di atas piano dengan senyum. Tapi... mungkin komposisi yang dia bawakan memang memerlukan keseriusan, kecermatan dan hafalan yang cermat, maka dari itu rata-rata mereka berwajah serius saat tampil di depan audiens.
Pianis ketiga dan selanjutnya, kurang-lebih berpenampilan senada. Penuh konsentrasi dan sangat fokus. Serius. Aku menikmati setiap dentingan piano, setiap hentakan nada, bahkan kejutan-kejutan kecil yang membuat malam itu jadi lebih seru. Misalnya, bagian ending yang berangsur lembut, tahu-tahu ditutup dengan hentakan keras beberapa nada yang dibunyikan sekaligus. Jreng-jreng!!! Penonton terkejut, tapi jadi penanda jelas bahwa komposisi yang dibawakan sang pianis telah usai. Ada saatnya penonton 'tertipu'. Ketika seorang pianis laki-laki sudah cukup panjang memainkan komposisi pianonya, nada yang dimainkannya berangsur lembut dan seolah menghilang, sebuah tepukan keras dari penonton yang duduk di bagian tengah ruangan terputus tiba-tiba karena ternyata sang pianis masih melanjutkan alunan musiknya. Masih panjang, ternyata. Haha... Kali ini penonton tertipu. Sang pianis yang kulihat cukup ekspresif terlihat mengulum senyum karena kesalahan penonton itu. Dia melanjutkan permainannya, tetap cantik dan tak terganggu. Kepalanya terayun ke kanan dan kiri sesekali, ketika nada yang dibuat pianonya menghentak apik. Di akhir permainannya, penonton jadi ragu untuk bertepuk tangan. Apakah dia sudah betul-betul selesai dengan permainannya? Tapi tepuk tangan dari para pianis yang menunggu di ruang sebelah menjadi tanda bahwa komposisi yang dia bawakan memang sudah betul-betul selesai, dan penonton menyambung tepuk tangan itu dengan meriah, plus komentar di sana-sini. Seru.
Andhika tampil setelah jeda sejenak. Aku sempat berbincang sedikit dengannya sebelum dia manggung. Nervous sedikit, katanya... tapi itu biasa kan? Semoga sukses, Dhika. Aku yakin, tak ada nada yang salah dia mainkan. Dia terlihat percaya diri di depan piano, tapi teteup... serius banget. Pas banget dengan baju warna gelap yang dia pakai malam itu. Serius, fokus, pastinya. Sorry ya, fotonya nggak begitu bagus.
Gaya berbusana para pianis kali ini sungguh sangat beragam. Ada yang berjas dan berdasi resmi, ada pula yang casual. Ada yang bergaya klasik romantis sesuai tema, dengan gaun malam one shoulder yang cantik, tapi ada pula yang tampil di panggung dengan bercelana pendek dan t-shirt berpadu vest saja. Begitu pun dengan musik yang mereka mainkan. Ada yang menghentak riang, ada yang lembut romantis, ada pula yang gagah bewibawa. Tapi semuanya indah. Overall, aku menikmati malam penuh musik indah itu, dan berharap dapat kesempatan nonton konser lain lagi (terutama karena gratis kali... hehe...).
Blogged with the Flock Browser

Sunday, December 14, 2008

'menemukan' Muridku (dulu)

Sedikit menjelajah situs pertemanan facebook, dalam waktu satu-dua jam sambil menunggu hujan reda di sekolah, aku 'menemukan' murid-muridku di SD Salman Al Farisi dulu, sudah jadi pemuda-pemuda yang gagah, pemudi-pemudi yang cantik. Semoga tambah shalih & shalihat. Amiin. Kisah sukses mereka membuatku bangga. Senang rasanya bisa ambil sedikiiiit bagian dalam proses pendidikan mereka. Semoga Allah berkenan menjaga jalinan silaturahim ini -melalui dunia maya sekalipun- agar tetap terjalin dengan baik. Amiin.
Kusempatkan juga membaca blog mereka. Asyik juga ya, mbaca blog 'anak muda' ;) 'Terkagum-kagum' dengan gaya bahasa dan isi pembicaraan mereka di forum itu. Memori yang kuingat tentang mereka memang masa kecil mereka, polosnya pemikiran mereka sebagai anak SD (walaupun sempat ketemu dengan salah satu dari mereka saat sudah menjadi mahasiswa). Tanpa kusadari, saat aku 'terperangkap' di dunia pendidikan dasar, anak-anak itu telah 'meninggalkanku' jauh. Ah... anak-anak itu benar-benar telah tumbuh besar.

Saturday, October 25, 2008

Ilang Tahun Rasyad

Pagi tadi, jadwal pertama adalah mengantar ibu ke terminal Leuwi Panjang. Ibu mau berangkat ke Depok karena ada acara pertemuan keluarga besar Mangundimedjan di Jakarta hari Ahad besok. Aku nggak ikut karena sore nanti ada pertemuan keluarga besar angkatan 90 ITB. ;)
Rasyad, salah satu murid di 'kelas tetangga' mengundang ke acara syukuran ulang tahunnya. Hanya 4 orang guru yang bisa datang menghadiri acara itu. Anak-anak yang datang pun tidak lengkap dari keseluruhan murid kelas 1 yang diundang Rasyad.
Acara... overall... biasa-biasa saja. MC dan sound system tidak begitu optimal. Tapi asyik juga karena kita bisa ikutan 'kitchen tour' , make our own pizza, dan pizza bikinan kita itu dibawa pulang sebagai kenang-kenangan. Asyiik...! Sementara di sana juga kita disuguhi pizza dan spaghetti yang ennak! Beneran, spaghetti-nya enak. Kapan-kapan, berkunjung ke sana lagi ah... ;)

Monday, August 25, 2008

Penjelajah PT DI

Sabtu lalu (23 Agustus 2008) aku mendampingi 3 orang muridku ikutan lomba origami pesawat terbang di PT DI alias IPTN alias Nurtanio dulu. Lomba ini merupakan rangkaian kegiatan dalam rangka HUT PT DI yang jatuh di bulan ini. Mereka menyelenggarakan berbagai kegiatan berupa open house, dirangkai dengan berbagai lomba untuk anak-anak seperti lomba mewarnai, lomba menggambar, dan lomba origami pesawat terbang.
Jangan bayangkan origami pesawat seperti yang 'biasa'. Ini adalah lomba mewarnai-menggunting, melipat dan merakit bagian-bagian pesawat kertas menjadi sebuah model sederhana. Menarik sih, walaupun cukup rumit juga. Ketiga orang muridku bisa menyelesaikan tugas itu dengan... baik-lah. ;)
Setelah menyelesaikan tugas merakit model pesawat terbang, kami diajak berjalan-jalan keliling komplek PT DI alias plant tour. Seru juga, walaupun capek juga nih jalan jauh mengelilingi kompleks pabrik pembuatan pesawat terbang yang memang (pasti) luas itu.
Feizal, Kynan dan Safina bersama Kayla (adik Kynan) yang mengikut, berjalan bersamaku menyusuri bagian demi bagian ruangan-ruangan di sana, tempat terjadinya proses pembuatan kapal terbang itu, mulai dari sepotong lempengan alumunium alloy hingga menjelma pesawat terbang gagah dengan tipe CN-235 atau N-250 ataupun beberapa helikopter pesanan. Kereen... Selain pesawat, rupanya PT DI pun membuat mobil mini yang disebut "gang car" alias mobil gang yang memang sengaja didesain agar memudahkan mobilitas di jalanan Indonesia yang masih banyak berupa gang atau jalan kecil. Lucu banget. Imut! Aku menyempatkan diri dong berfoto di depan salah satu model mobil gang berwarna hijau, warna kesukaanku tea. ;)
Sementara murid-muridku juga banyak berfoto-ria di depan beragam model pesawat. Tak lupa kuingatkan mereka untuk banyak bertanya kepada para pemandu di sana. Pengalaman begini, nggak bisa terjadi setiap hari. Akan jadi pengalaman berharga buat mereka. Semoga mereka terinspirasi, untuk menguasai ilmu dan teknologi, dan kelak menyumbangkan ilmu pengetahuan mereka untuk negeri yang masih sering dipandang sebelah mata oleh warga dunia ini.

Wednesday, July 30, 2008

Memperingati Hari Anak Nasional

Hari Minggu tanggal 27 Juli lalu, sekolah kami dapat undangan untuk berpartisipasi dalam event peringatan hari anak nasional, di area Kukuruyuk Market, Mohamad Toha area. Anak-anak perempuan kelas 2 & 3 akan menampilkan tari Badindin di panggung food court, sementara 3 anak lainnya diikutsertakan untuk ikut lomba mewarnai. Pada dasarnya, mereka sudah punya bakat memadukan warna dengan tingkat kerapihan yang cukup bagus, sementara aku hanya memberi sedikit pengarahan untuk memoles skill mereka.

Hari Minggu, aku langsung pergi dari rumah ke tempat lomba karena memang relatif lebih dekat, sementara teman-teman lain beserta para penari akan datang dari sekolah, diantar pak Deni dengan mobil putih besarnya.

Setelah terhadang pasar kaget di seputaran Bale Endah, lamma... dan tak terduga (soalnya aku ambil jalan memutar, dan tetap saja terjebak macet), aku sampai juga di kompleks Mekar Wangi, di mana Kukuruyuk Market berada. Sempat salah jalan dan tersasar ke kompleks dan tidak menemukan jalan masuk ke tempat parkir, akhirnya aku berputar dan memarkir mobilku tidak jauh dari food court tempat event itu berlangsung.

Turun dari mobil, terdengar sayup-sayup musik pengiring tari Badindin sudah mulai mengalun. Aku bergegas mendekati bunyi suara, dan tepat waktu menyaksikan murid-murid binaan bu Reni & bu Tri itu menunjukkan kebolehannya. Beberapa shoot foto sempat kuambil, tapi sayang hasilnya tak begitu bagus karena jarak yang relatif dekat, selain padatnya daerah depan panggung yang disesaki oleh para orangtua murid maupun pengunjung lain.

Usai tarian, panggung disingkirkan untuk memberi ruang bagi para peserta lomba gambar. 3 orang muridku mengambil tempat di karpet yang disediakan. Tak berapa lama kemudian, mereka sudah mulai asyik mewarnai gambar dengan tema Candy World. Kelihatannya rumit juga. Puteri dan Fina terlihat asyik mewarnai dengan konsep dan tahapan kerja yang tertata. Sementara Naufal yang sedang pilek keukeuh ingin pakai pensil warna atau pastel lilin. Dia memang nggak suka pakai crayon yang warnyanya justru lebih kuat. Kekuatannya ada di paduan warna yang tidak biasa. Satu peserta dadakan adalah Dekha, adik Fina yang ingin ikut serta ikut lomba, daftar di tempat. Dengan riang dan percaya diri, dia mewarnai gambar. Sesekali dia memanggil papanya, memperlihatkan gambar yang setahap demi setahap sudah diwarnainya.

1,5 jam waktu yang disediakan dimanfaatkan dengan baik oleh anak-anak itu. Gambar dikumpulkan. Lomba lain digelar. Indi dan Anggi ikut serta di lomba gratisan itu, merangkai beads bergambar lebah yang diselenggarakan oleh Hama-Craft. Serius sekali mereka berdua, beserta belasan peserta lainnya. Satu orang peserta yang jelas-jelas dibantu emak-nya, ternyata jadi juara. Tapi Indi tak mau kalah cepat. Dia berhasil mendapatkan hadiah sebagai juara ketiga. Alhamdulillah. Selepas jam 1, teman-teman lain dengan anak-anak sudah dijadwalkan untuk kembali ke sekolah, meninggalkan aku sendiri menanti pengumuman lomba. Ya... okelah.

Keliling-keliling di arena food court, mau tak mau, aku tergoda juga untuk menikmati apa yang tersedia di sana. Sambil membaca majalah yang kubawa, kunikmati teh dingin walaupun bukan teh favoritku. Cukup menyegarkan-lah sebagai pelepas dahaga. Sementara, makan siang seporsi sate-lontong traktiran dari mama Kayla sudah kunikmati sebelumnya. Terima kasih banyak.

Tunggu punya tunggu, bosan juga nih menanti jam 4 sore saat pengumuman lomba dilaksanakan. Merintang waktu, kunikmati segelas tinggi natural yoghurt-peach favoritku yang ternyata tersedia di sana. Ummm... yummy... Rupanya penantianku tak sia-sia. 3 muridku lolos mendapatkan gelar dari 6 yang tersedia. Semoga di kesempatan lain mereka dapat berprestasi lebih baik lagi. Amiin.

Friday, June 20, 2008

Wisata Waterboom

Hari Senin lalu, diajakkin jadi pendamping murid di acara wisata yang dikoordinir oleh para orang tua murid. Asyik dong... Beberapa murid memang ikut tanpa didampingi orang tua mereka. Acara berenang di Waterboom tentu perlu 'extra mata' karena keselamatan mereka jadi prioritas kita.
Berangkat sekitar jam setengah delapan pagi, 2 bus besar dan satu bus kecil membawa rombongan keluarga besar AIS ke Jakarta.
Nonton Hantu Ambulans sepotong (yaiks. Sebetulnya aku betul-betul nggak suka. Tapi operatornya ada di depan, sedangkan aku ada di bagian belakang bus). Anak-anak sih suka biarpun ada aja yang sembunyi-sembunyi melirik layar. Namun gelombang protes rupanya cukup deras menerpa operator, hingga akhirnya mereka mengganti DVD dengan film animasi Kungfu Panda. Uh... seru!!! Cuma sekitar 20 menit-an nonton di perjalanan pergi, disambung dalam perjalanan pulang sampai tamat. Asyik. :)
Sampai Bandung lagi jam setengah 9 malam, sungguh perjalanan yang patut dikenang. Beneran, perjalanannya yang patut dikenang, karena justru di situlah kita makin akrab dengan para orang tua murid, sedangkan ketika di Waterboom, kita juga sibuk juga mengkoordinir anak2 untuk menunggu giliran naik menara untuk ikutan flying fox (hey hey... aku ikutan juga lho. ;)), atau mengawasi anak2 bolak-balik main luncuran spiral dan akhirnya membujuk mereka untuk menyudahi permainan air yang menyenangkan itu. Hm... sebetulnya asyik juga sih, main air. Kali ini aku nggak ikut nyebur. Mungkin lain kali. ;)

Salah Satunya... Kok Jadi Banyak.