"No, I don't."
"What do you like?"
"I like corn."
"OK. Here you are."
"Thank you."

Tahun pelajaran baru, kembali dimulai. Penugasan baru, siap dijalankan. Selain tugas 'reguler' sebagai guru kesenian yang mengajar semua kelas (9 kelas, nih. lieur... geuningan :p), aku juga kebagian menggawangi kelas dengan anggota terbanyak. Masih separuhnya sih dari rata-rata murid di sekolah negeri mah, tapi kalau di sekolah swasta seperti sekolahku sekarang ini, dengan potensi mereka yang rata-rata enerjik, plus konsekuensi untuk selalu berbahasa Inggris dengan mereka, termasuk memberi catatan setiap akhir term (berarti 4 kali dalam setahun, pake bahasanya Harry Potter, pula), wah... selalu harus dimulai dengan basmalah lagi. Bukan beban enteng tuh, soalnya. Laa hawlaa walaa quwwata illa biLlaah.
Salah satu muridku di Salman dulu, mengundangku untuk ikut nonton konser piano klasik di CCF Bandung. Dia salah satu pianis yang akan tampil di konser itu. Setelah dua kali perubahan jadwal, akhirnya malam minggu tanggal 24 ini, fix sebagai hari konser dengan tema "An Evening of Romantic Piano Music". Tadinya aku akan hadir di konser itu bersama beberapa teman lain, tapi karena perubahan jadwal , tiga orang teman tak bisa ikut bergabung. Intan kebetulan bisa ikut gabung, walaupun dia berkomentar, "Beda kelas ya?" Maksudnya... dandanan kita yang berjilbab tidak trendi, kayaknya kurang cocok juga di acara itu. Dress-code-nya nggak matching, gitu. Hehe... Memangnya, kalau kita dandan pake rok dan kerudung agak lebar begini, cuma boleh nonton konser nasyid ya? ;)
Sedikit menjelajah situs pertemanan facebook, dalam waktu satu-dua jam sambil menunggu hujan reda di sekolah, aku 'menemukan' murid-muridku di SD Salman Al Farisi dulu, sudah jadi pemuda-pemuda yang gagah, pemudi-pemudi yang cantik. Semoga tambah shalih & shalihat. Amiin. Kisah sukses mereka membuatku bangga. Senang rasanya bisa ambil sedikiiiit bagian dalam proses pendidikan mereka. Semoga Allah berkenan menjaga jalinan silaturahim ini -melalui dunia maya sekalipun- agar tetap terjalin dengan baik. Amiin.
Kusempatkan juga membaca blog mereka. Asyik juga ya, mbaca blog 'anak muda' ;) 'Terkagum-kagum' dengan gaya bahasa dan isi pembicaraan mereka di forum itu. Memori yang kuingat tentang mereka memang masa kecil mereka, polosnya pemikiran mereka sebagai anak SD (walaupun sempat ketemu dengan salah satu dari mereka saat sudah menjadi mahasiswa). Tanpa kusadari, saat aku 'terperangkap' di dunia pendidikan dasar, anak-anak itu telah 'meninggalkanku' jauh. Ah... anak-anak itu benar-benar telah tumbuh besar.
Pagi tadi, jadwal pertama adalah mengantar ibu ke terminal Leuwi Panjang. Ibu mau berangkat ke Depok karena ada acara pertemuan keluarga besar Mangundimedjan di Jakarta hari Ahad besok. Aku nggak ikut karena sore nanti ada pertemuan keluarga besar angkatan 90 ITB. ;)Hari Minggu, aku langsung pergi dari rumah ke tempat lomba karena memang relatif lebih dekat, sementara teman-teman lain beserta para penari akan datang dari sekolah, diantar pak Deni dengan mobil putih besarnya.
Setelah terhadang pasar kaget di seputaran Bale Endah, lamma... dan tak terduga (soalnya aku ambil jalan memutar, dan tetap saja terjebak macet), aku sampai juga di kompleks Mekar Wangi, di mana Kukuruyuk Market berada. Sempat salah jalan dan tersasar ke kompleks dan tidak menemukan jalan masuk ke tempat parkir, akhirnya aku berputar dan memarkir mobilku tidak jauh dari food court tempat event itu berlangsung.
Turun dari mobil, terdengar sayup-sayup musik pengiring tari Badindin sudah mulai mengalun. Aku bergegas mendekati bunyi suara, dan tepat waktu menyaksikan murid-murid binaan bu Reni & bu Tri itu menunjukkan kebolehannya. Beberapa shoot foto sempat kuambil, tapi sayang hasilnya tak begitu bagus karena jarak yang relatif dekat, selain padatnya daerah depan panggung yang disesaki oleh para orangtua murid maupun pengunjung lain.
Usai tarian, panggung disingkirkan untuk memberi ruang bagi para peserta lomba gambar. 3 orang muridku mengambil tempat di karpet yang disediakan. Tak berapa lama kemudian, mereka sudah mulai asyik mewarnai gambar dengan tema Candy World. Kelihatannya rumit juga. Puteri dan Fina terlihat asyik mewarnai dengan konsep dan tahapan kerja yang tertata. Sementara Naufal yang sedang pilek keukeuh ingin pakai pensil warna atau pastel lilin. Dia memang nggak suka pakai crayon yang warnyanya justru lebih kuat. Kekuatannya ada di paduan warna yang tidak biasa. Satu peserta dadakan adalah Dekha, adik Fina yang ingin ikut serta ikut lomba, daftar di tempat. Dengan riang dan percaya diri, dia mewarnai gambar. Sesekali dia memanggil papanya, memperlihatkan gambar yang setahap demi setahap sudah diwarnainya.
1,5 jam waktu yang disediakan dimanfaatkan dengan baik oleh anak-anak itu. Gambar dikumpulkan. Lomba lain digelar. Indi dan Anggi ikut serta di lomba gratisan itu, merangkai beads bergambar lebah yang diselenggarakan oleh Hama-Craft. Serius sekali mereka berdua, beserta belasan peserta lainnya. Satu orang peserta yang jelas-jelas dibantu emak-nya, ternyata jadi juara. Tapi Indi tak mau kalah cepat. Dia berhasil mendapatkan hadiah sebagai juara ketiga. Alhamdulillah. Selepas jam 1, teman-teman lain dengan anak-anak sudah dijadwalkan untuk kembali ke sekolah, meninggalkan aku sendiri menanti pengumuman lomba. Ya... okelah.
Keliling-keliling di arena food court, mau tak mau, aku tergoda juga untuk menikmati apa yang tersedia di sana. Sambil membaca majalah yang kubawa, kunikmati teh dingin walaupun bukan teh favoritku. Cukup menyegarkan-lah sebagai pelepas dahaga. Sementara, makan siang seporsi sate-lontong traktiran dari mama Kayla sudah kunikmati sebelumnya. Terima kasih banyak.
Tunggu punya tunggu, bosan juga nih menanti jam 4 sore saat pengumuman lomba dilaksanakan. Merintang waktu, kunikmati segelas tinggi natural yoghurt-peach favoritku yang ternyata tersedia di sana. Ummm... yummy... Rupanya penantianku tak sia-sia. 3 muridku lolos mendapatkan gelar dari 6 yang tersedia. Semoga di kesempatan lain mereka dapat berprestasi lebih baik lagi. Amiin.
Hari Senin lalu, diajakkin jadi pendamping murid di acara wisata yang dikoordinir oleh para orang tua murid. Asyik dong... Beberapa murid memang ikut tanpa didampingi orang tua mereka. Acara berenang di Waterboom tentu perlu 'extra mata' karena keselamatan mereka jadi prioritas kita.
Nonton Hantu Ambulans sepotong (yaiks. Sebetulnya aku betul-betul nggak suka. Tapi operatornya ada di depan, sedangkan aku ada di bagian belakang bus). Anak-anak sih suka biarpun ada aja yang sembunyi-sembunyi melirik layar. Namun gelombang protes rupanya cukup deras menerpa operator, hingga akhirnya mereka mengganti DVD dengan film animasi Kungfu Panda. Uh... seru!!! Cuma sekitar 20 menit-an nonton di perjalanan pergi, disambung dalam perjalanan pulang sampai tamat. Asyik. :)