Showing posts with label counting blessings. Show all posts
Showing posts with label counting blessings. Show all posts

Thursday, December 11, 2008

Sedih di Hari Bahagia?

Kuambil dari conectique.com dan sedikit kuedit ulang. Mengingatkan diri sendiri.
Pernah dilanda rasa 'sepi', kosong dan tidak merasa bahagia di saat yang mestinya Anda berbahagia? Seperti di saat hari ulang tahun atau hari ulang tahun pernikahan Anda misalnya... Salah satu pemicu timbulnya bad mood tersebut mungkin karena sikap Anda yang cenderung terlalu keras pada diri sendiri. Cari tahu gejala lainnya dan segera lepaskan diri dari perangkap yang merusak mood bahagia Anda.
Mood Musiman
Mood musiman ini disebut sindrom SAD atau Seasonal Affective Disorder, yaitu kesedihan yang dialami seseorang pada musim-musim tertentu. Psikolog Peggi Elam dari situs ivillage.com mengatakan, mood ini bisa mengakibatkan seseorang kehilangan semangat saat langit mulai mendung. Walau pada awalnya ia berada dalam mood yang baik secerah sinar matahari, namun dengan mudah berubah bersamaan dengan langit yang gelap atau hujan dan badai. Bisa juga mengakibatkan ia 'alergi' terhadap cuaca tertentu. "Perasaan tidak nyaman yang terjadi terus menerus ini dapat mengakibatkan depresi," ujar Elam.
Si penderita umumnya cepat merasa lelah, senang mengkonsumsi karbohidrat serta makanan berkalori tinggi secara berlebihan, mengalami insomnia, bahkan sistem kekebalan tubuhnya mengalami penurunan. "Meski demikian perubahan mood berdasarkan cuaca ini masih tergolong normal dan bukan kelainan yang bersifat akut," tambah Elam
Coba lakukanlah hal-hal yang Anda sukai saat perasaan yang mengganggu itu mulai menghampiri. Menikmati makanan yang memberikan efek menenangkan seperti cokelat amat disarankan. "Perasaan tidak enak ini bisa diatasi dengan menambah insentisitas cahaya di sekitar Anda atau mewarnai dinding rumah dengan warna-warna terang," ujar Norman E. Rosethal penulis buku Winter Blues. Upayakan untuk menata ruangan sedemikian rupa sehingga kesan yang tercipta adalah ruangan yang terang dan cerah. Jangan biarkan benda-benda di sekeliling Anda penuh debu dan jangan lupa tempatkan bunga segar di dalam ruangan untuk menciptakan suasana hati yang menyenangkan.
Benci Hari Ulang Tahun
Saat pesta ulang tahun Anda sedang berlangsung meriah, justru Anda merasa tidak nyaman. Atau rencana yang sudah tersusun rapi tak berjalan mulus karena sebagian teman berhalangan hadir. Situasi ini kemudian membuat Anda merasa 'sendirian' dan tidak dipedulikan. Fakta mengatakan, perempuan memang memiliki kecenderungan berpikir dan bersikap lebih emosional dan mudah tersinggung di hari ulang tahunnya.
Perasaan ini timbul ketika Anda memasang harapan terlalu tinggi dan kemudian tidak tercapai. Bisa jadi hari ulang tahun membuat Anda teringat bahwa usia Anda semakin bertambah. Perasaan sensitif dan cemas tersebut sesungguhnya merupakan manifestasi dari rasa takut dan cemas. Anda khawatir tidak akan berhasil meraih cita-cita yang direncanakan sementara usia Anda terus bertambah. Cobalah pikirkan, emosi negatif muncul karena alam bawah sadar Anda yang menginginkannya. Untuk itu, katakan pada diri Anda bahwa pikiran negatif ini bisa Anda halau, karena tak memberikan manfaat apa-apa bagi kebahagiaan Anda.
"Menjaga perasaan agar tetap positif itu penting. Perasaan merefleksikan respon Anda terhadap hidup, harapan serta kepercayaan diri Anda," ujar Roberta Shaler,Ph.D, penulis Optimize Your Day. Pikirkanlah hal-hal yang sudah Anda dapatkan daripada hal-hal yang belum Anda raih. Mulai dari masa indah ketika sekolah, kucing lucu yang Anda temui, perjalanan penuh kesan yang Anda lakukan, sampai hadiah terindah yang pernah Anda dapatkan.
Tak Bisa Menikmati Kebahagiaan
Selalu berusaha menghindar setiap kali diundang ke sebuah resepsi pernikahan? Rasa sesak dan sedih mulai datang silih berganti memenuhi dada. Alih-alih rasa ikut bahagia yang muncul, malah rasa tak betah dan ingin pulang yang Anda rasakan...
Orang yang kerap merasa depresi ketika berada di lingkungan yang dipenuhi orang-orang yang sedang berbahagia biasanya disebabkan karena mereka membandingkan dirinya dengan orang-orang tersebut, dan melihat bahwa mereka tidak cukup bahagia.
Cara Mengatasinya:
Bersyukurlah dengan apa yang Anda miliki. Anda bisa bernafas dengan teratur setiap detik saja sudah merupakan anugerah Tuhan yang tak terkira nilainya. Bayangkan orang yang menderita radang paru-paru sehingga kesulitan bernapas misalnya....Carilah hal positif dalam setiap situasi dan rasakanlah kebahagiaan orang lain dan pikirkan suatu saat Andapun akan bisa menikmati rasa bahagia tersebut, walau mungkin bukan saat ini. Ciptakan pembicaraan ringan dan menarik dengan teman-teman serta buka hati Anda untuk menikmati setiap pembicaran tersebut.

Tuesday, November 18, 2008

Taman Bunga Bunda

Alhamdulillah… hari-hari belakangan ini banyak tanaman bunga di taman kecil ibuku berbunga. Cantik-cantik.
Mawar batik berbunga lagi. Setelah sempat mekar kembaran, segera disusul dengan satu tangkai lagi yang awet mekarnya. Menyambutku setiap pulang kerja. Sekali lagi, mawar jenis ini memang tak begitu harum, tapi tetap indah.Musim hujan begini, bunga bulan desember bermunculan. 3 bunga mekar bergantian. Warnanya yang cerah menceriakan halaman depan rumah kami.Sementara itu, di taman samping, setangkai anggrek hijau juga mulai mekar bermunculan. Dengan kombinasi warna ungu di bagian tengahnya, kurasa bunga ini cantik sekali. Tapi kenapa juga ya tuh bunga diikat-ikat? 'Ulah' ibuku tuh. Atau mungkin ulah bunganya. Mungkin dia bersalah, jadi diikat, tak boleh kabur. Hehe... Nggak deng... Biasanya anggrek hijau ini berbunga banyak sekali, memberati batangnya. Sayang kan kalau sampai patah gara-gara terguncang angin? Makanya diikat di batang pralon supaya posisinya mantap. ;)Di ‘taman’ atas, kaktus ternyata juga berbunga. Cantik ketika masih kecil-kecil, dan dia akan terus tumbuh membesar, seperti buah naga, tapi sayang tak bisa dimakan :(

Monday, November 17, 2008

Teman-teman Salman

Ketika bertemu mereka hari Sabtu lalu di Pusdai, aku merasa seolah bertemu anggota keluarga yang lama tak berjumpa. Kerinduan yang sangat alami, bukan artifisial, kurasakan saat mereka menyapaku dengan hangat dan tentu saja kubalas tak kalah hangat. Akupun merindukan kalian, teman-teman. Nyaman rasanya berada di antara kalian yang saling berpegang teguh dalam Islam, sama-sama merasakan kuatnya tali silaturahim. Semoga Allah meridhoi. Amiin.
Mari kuperkenalkan teman-teman terbaik yang kumiliki, insya Allah masih tetap kumiliki hingga saat ini. Perkawanan tak mesti putus kan hanya karena kita berbeda ladang jihad (jie... bahasanya tinggi ya? Ladang jihad, gitu ;)) Dari kiri ke kanan...
Bu Ratna. Guru PAI (Pendidikan Agama Islam) ini setelah menikah dan berputra kok malah kelihatannya semakin kurus saja. Capek, pasti, mengurus keluarga di samping sibuk mengajar di Salman. Tak pernah berkeluh kesah, kecuali ketika Salman kebanjiran dulu. ;)
Saat itu longsoran di tebing belakang kompleks sekolah Salman membendung aliran sungai kecil dan akhirnya air tumpah ruah ke kelas-kelas. Sebagai salah satu guru yang kelasnya ikut tergenang, bu Ratna tentu ingin menyelamatkan berbagai dokumen. Maka dengan sigap, dia angkat rok dan mencemplung begitu saja ke dalam air setinggi separuh betis yang sudah memenuhi kelasnya. Dalam kondisi demikian, seorang guru laki-laki melintas dan menengok ke dalam kelas, yang kuyakin, tak ada maksud lain selain ingin menawarkan bantuan jika diperlukan. Tapi... ikhwan, gitu lho. Dengan spontan, bu Ratna melepaskan rok yang sedang dipegangnya, pasrah kebasahan juga, asal jangan sampai betisnya terlihat oleh yang bukan muhrim. Walah... padahal si bapak ikhwan itu belum tentu juga melihat ‘sesuatu’, toh saat itu dia sedang tidak mengenakan kacamata minusnya. Nah... karena roknya terlanjur basahlah (atau karena ada kemungkinan betisnya terlihat oleh si guru ikhwan), makanya bu Ratna jadi misuh-misuh. “Teu rido...!” Hihi... ;)
Bu Ine. Guru bahasa Indonesia ini berpembawaan kalem. Eh tapi jangan salah... dia bisa all-out juga lho di satu kesempatan lomba mengajar intern Salman, PAIKEM. Hmm... paikem tuh apa ya... atau siapa? ;) Temennya pak Ridwan, pasti :p Pokoknya paikem ini lomba mengajar antar-MGMP di lingkungan SD Salman yang tujuannya untuk merangsang kreativitas guru dalam mengajar. Aku sempat ikut, 2 kali, dan melihat aksi bu Ine saat merayakan keberhasilan ‘murid’ di kelas, dengan menari ala Dora. Yes! Berhasil, berhasil, berhasil, HORE! Sukses selalu ya, bu Ine ;)
Bu Liyah. Guru ini sudah alih subjek (bukan alih profesi) beberapa kali. Nggak jauh dari pengalamanku-lah, bu. Guru IPS, pernah. Guru bahasa Inggris, lama juga, dan seusai cuti melahirkan anak keduanya, kabarnya dia ini jadi guru Leadership, subjek yang spesial, cuma ada di lingkungan YP SaF. Asyik juga kan, ngajar Leadership? ;) Enjoy it!
Bu Tika. Guru PAI yang pengantin baru ini rupanya masih sedikit merahasiakan pernikahannya. Masih ada yang belum tahu bahwa bu guru yang kecil mungil ini ternyata sudah menikah. Muridnya sampai mutung karena nggak dikasih tahu, dan terus menagih undangan pernikahannya. Hayo... gimana tuh?
Bu Endang. Kadang iseng kupanggil dia dengan sebutan “Bu Dendang”. Itu teh panggilan sayang, bukan ejekan. Tapi jika tidak berkenan, mohon dimaafkan m(_ _)m Ibu berputra 3 ini masih asyik-asyik aja bermotor-ria ke mana-mana. Tampilannya yang lembut gemulai membuat orang-orang tak akan menyangka subjek yang diajarnya. Penjas, gitu lho. Satu-satunya guru penjas perempuan di Salman. Wow... ini baru yang namanya cantik perkasa. Setuju? ;)
Bu Tia. Satu lagi guru PAI di Salman, tapi yang ini mah rada-rada okem. hehe...;) Kalau sudah ketemu dia, kayaknya ketawa nggak bakalan berhenti-berhenti. Adaa... saja celetukannya yang bisa bikin kita ketawa. Aku sampai niat mau ikutan audisi API-TPI bareng bu Tia. Untung dia masih berakal sehat (berarti aku yang kurang waras dong? hah???) dan menolak ide itu mentah-mentah. Kalau sampai lolos audisi, wah... Bajaj pasti lewat deh ;) Kita naik taksi aja kali ye... Hehe...
btw, terakhir kali ketemu bu Tia, kayaknya makin cantik aja nih. Sedang perawatan kulit ya? Jelang pernikahan, mungkin? Hayo.. undangannya jangan sampai kelewat ya. Jangan sampai saya mutung seperti muridnya bu Tika, dan nagih terus... sampai kurus... (ih, udah kurus juga :p)
Bu Ecin. Dia salah satu pengajar subjek Sains di Salman. Satu lagi guru Salman yang kurus. Dia nih kurus banget. Bahkan ketika hamil sekalipun, yang gendut cuma perutnya. Nggak kebayang deh beratnya membawa bayi berbulan-bulan, dan ternyata kembar dua! Melahirkan normal pula! Subhanallah... Huibatt. Saat ini kabarnya beliau dan keluarga sudah menempati rumah baru, rumah sendiri. Alhamdulillah. Barakallaah.
NRF. Pendeknya dibilang begitu. Lengkapnya: Neneng Rohmatul Fitria. Ini salah satu ‘kembaranku’. Yang kembar, tanggal lahirnya. Beda tahun, dikit. Kami masuk Salman barengan, tapi maaf ya, aku keluar Salman duluan. Bu Neneng ini mengajar PAI. Banyak betul ya guru PAI di Salman? Ya iyalah... karena di kelas kecil (1-3), dengan metode pembelajaran tematik, tiap kelas harus punya guru PAI sendiri. Makanya guru PAI di Salman banyak (banget).
Satu foto lagi untuk ‘dibahas’. Eh... aku nongol lagi di situ. Nggak usah dikenalkan lebih jauh ya. Sudah kenal kan? ;) (Hihi.. Pe-De banget ya?)
Di sebelahku, Bu Nelly yang jadi partner pertamaku di Salman, mentorku. Aku belajar banyak darinya, tentang manajemen kelas, tentang penanganan masalah anak, wah... pokoknya kalaulah sekarang ini aku pinter, ya bu Nelly yang berperan banyak dalam mencerdaskanku. Jie..ting... ting... kedip kedip. Ketika berpartner denganku dulu, sekitar 11 tahun yang lalu, dia masih gadis. Sekarang sudah berubah status jadi istrinya pak Agus, dan ibu dari Dani, Ilma dan Luqman. Sebagai lulusan sastra Indonesia, kapasitas keilmuannya dimanfaatkan secara optimal. Kalau nggak ngajar kelas 6, beliau akan mengajar kelas 1. Penempatan yang tepat. ;)
Bu Tika. Cerita apalagi ya tentang dia? Lain kali lagi deh. Kan di atas sudah diulas. ;)
Bu Dewi. Ini guru yang relatif baru di lingkungan SD Salman. Aku tidak kenal cukup dekat dengan guru yang satu ini. Sebelumnya bu Dewi ini beraktivitas di TK Salman, lalu penugasan baru menempatkan ibu guru lemah lembut ini di SD. Ketika aku keluar dari (SD) Salman, bu Dewi justru masuk ke lingkungan SD. Ayo bu, bawa keceriaan TK ke SD, tapi harus siap-siap dengan kerja ekstra di SD. Selamat berjuang ya.
Bu Mei. Guru bahasa Inggris ini sempat menjadi partnerku di MGMP, tepat sebelum aku pergi meninggalkan Salman. Selain bahasa Inggis, dia juga ‘penguasa’ bahasa Sunda. Jagoan banget! Aku baru tahu istilah ‘si utun’, ya dari dia ini. Ketika bicara dengan bahasa Inggris, logat western-nya terasa, dan ketika switch ke bahasa Sunda, alah... meni katara urang Sundana. Bu Mei ini selalu mengenakan gaun terusan dalam keseharian. Ketika yang lain asyik-asyik bercelana panjang, dengan tunik panjang sekalipun, bu Mei mah teteup... gamis forever!
And for me, our friendship is forever, with you all, my best friends in my best period of time, the sweetest time in Salman Al Farisi (da di mana deui, perkenalan pertamaku dengan dunia kerja dan mengajar ya di Salman, pastilah berkesan begitu mendalam. Jangan ada yang cemburu ya ;))
Oh ya, satu lagi, yang mengambil foto ini adalah bu Sri Artini, guru IT di Salman. Selain ngajar, bisnis souvenir beliau ternyata berkembang pesat lho. Pokoknya, nggak usah ke mana-mana, kalau perlu cendera mata, besar-kecil, yang biasa atau luar biasa, kontak bu Sri saja. Bisa pake cepet kan ya? ;)

Salah Satunya... Kok Jadi Banyak.