Showing posts with label Mamah Gajah Ngeblog. Show all posts
Showing posts with label Mamah Gajah Ngeblog. Show all posts

Monday, May 01, 2023

Gudeg Banda Kesukaan

Lebaran baru saja usai. Seperti tradisi di keluargaku, ketupat ketan selalu terhidang di meja makan. Lauknya saja yang selalu berganti setiap tahun. Tahun ini keponakan yang biasa berkunjung ke Bandung tak berkesempatan datang. Qadarullah, dia masih menjalani masa isoman (masih musim aja nih, si covid?). Padahal dia ini, yang bidang pekerjaannya di bidang boga, kan sebetulnya bisa dikaryakan untuk membantu masak-masak di rumah. Hahaa... Azas manfaat banget ya si tante.

Intinya sih... aku memang mencari partner masak dan ide untuk membuat lauk pendamping untuk ketupat ketan tahun ini. Berakhir dengan memasak gulai yang rasanya nggak ke sana nggak ke sini, yang akhirnya lebih banyak kumakan sendiri. Mau bagi-bagi tetangga kok ya nggak laku ya. Rata-rata mereka juga masak lebih 'grande' dibanding aku. 

Ketupat ketan #batch2 kubuat beberapa hari selepas Idul Fitri, untuk menghabiskan kulit ketupat dan beras ketan yang sudah kubeli. Aku memasak ketupat ketan setengah kiloan (untuk sekitar 6-7 buah ketupat berukuran sedang) yang bisa habis dalam beberapa hari. #Batch1 sudah habis dimakan bersama kakak-kakak. #Batch2 giliran kumakan sendiri karena kakak yang tinggal serumah denganku lebih suka nasi daripada ketupat ketan. Aku nggak ambil pusing lah. Yang pusing adalah aku, akan makan pakai apa lagi kali ini?

Foto diambil dari tokopedia 

Ada gudeg kalengan dalam beberapa varian yang kubeli tempo hari. Gudeg kaleng Bu Tjitro yang rasanya sudah kuakrabi sejak lama. Rasa dan aromanya cukup dekat dengan Gudeg Banda kesukaanku. Kali ini, aku coba varian rasa rendang. Biasanya rendang adalah lauk paling pas buat ketupat ketan karena rasanya yang cenderung pedas, bisa jadi penyeimbang gurihnya ketupat ketan. Tapi review jujurku untuk gudeg varian rendang ini, humm... kurang cocok ah. Rasa gudegnya jadi samar karena adanya rasa rendang yang jadinya juga nggak ke mana-mana. Mana nggak ada dagingnya pula. Jadi rendang apa ini teh...? Tapi sejujurnya, varian gudeg originalnya sih enak juga, jadi salah satu favoritku, pengobat kangen pada gudeg yang sedep. 

Gudeg Banda komplit-dari laman ig Gudeg Banda
Duh... jadi kangen banget nih sama Gudeg Banda kesukaan. Perkenalan pertamaku dengan Gudeg Banda adalah di jaman kuliah medio 90-an, ketika diajak teman akrabku membeli gudeg ini. Waktu itu lokasinya terletak di sebuah paviliun di Jalan Banda, di seberang Gedung Wahana Bakti Pos yang tentu saja juga berlokasi di Jalan Banda. Lapaknya masih berupa warung semi permanen dengan tenda di bagian depannya. Biasanya temanku membeli gudeg untuk dibawa pulang sebagai lauk makan nasi. Sesekali, aku dan dia makan juga sih di warung itu. Kunikmati sekali daging buah nangka muda yang lembut, dengan campuran kerecek yang tak kalah lembut, dengan pelengkap tahu, dan opor telur atau ayam, disiram kuah santan yang encer melembabkan nasi (fyi, aku suka yang becek-becek begini), ditambah dengan sambal yang pedasnya pas sesuai selera (nggak terlalu pedas) dan bebas biji cabai. Damai banget makan nasi dengan Gudeg Banda ini. Kunikmati sekali setiap suapannya hingga piring licin tandas.

Belakangan, semakin berkembang pesat warung Gudeg Banda ini, dia membuka gerai di food court Yogya Dept Store. Kalau berkesempatan berkunjung ke food court Riau Junction atau BIP, hampir bisa dipastikan aku akan memilih Gudeg Banda sebagai main course. Tak cukup puas dengan kelas food court, Gudeg Banda membuka restoran yang berlokasi di Jalan Lombok. (Pusing... pusing deh. Ini sebetulnya gudeg Yogya, yang mulai dengan gerobak dorong yang mangkal di Jalan Riau di tahun 1976, lanjut numpang berdagang di sebuah paviliun di Jalan Banda, tapi sekarang jadi resto permanen di Jalan Lombok di kota Bandung). Rasa gudeg ini masih otentik cenderung manis. Seleraku banget yang ngikutin lidah bapak yang keturunan Solo-Yogya. Sejauh ini, gudeg paling favorit itu ya Gudeg Banda ini. Ketika berkunjung ke Yogyakarta dan mencicip gudeg di sana, ah... aku masih terkenang-kenang Gudeg Banda. Gudeg paling juara. Saat ini, Gudeg Banda punya 3 lokasi permanen, yaitu di Jalan Lombok no 57, Jalan Taman Cibeunying Selatan No 33, dan Topaz Commercial No 28, Summarecon yang semuanya di Bandung. Tinggal pilihlah, mau makan di outlet mana. Tersedia juga kok di layanan pesan-antar makanan. 
3 lokasi Restoran Gudeg Banda
Sekiranya pembaca punya referensi gudeg juara lainnya, silakan menjejak komentar ya, siapa tahu aku bisa menjajal rasanya dan pasti... pasti akan membandingkan dengan Gudeg Banda sebagai benchmark. Aku berani ngadu jagoanku deh, yang kunobatkan sebagai makanan favorit walaupun jarang-jarang juga kunikmati (makanya akan sangat mengapresiasi ketika berkesempatan menikmatinya lagi, di mana pun tempatnya, apakah di outlet/restonya, di food court Yogya, atau sesekali memesan lewat layanan pesan-antar).
 
Tulisan tentang Gudeg Banda kesukaan ini kusetorkan untuk menjawab Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog yang digelar komunitas MGN setiap bulan yang bulan ini mengusung tema Makanan Favorit. Boleh bilang dong, apa makanan favorit kalian. Siapa tahu aku juga suka. Kasih tahu yaa...

Saturday, April 15, 2023

Hiroshima Kuingin Jumpa

Di Kebun Plum Osaka Garden

20 tahun yang lalu (Oh my Lord... sudah selama itu...?), ketika aku berkesempatan untuk belajar setitik di Negeri Matahari Terbit, pastilah ada keinginan untuk jalan-jalan mengunjungi beberapa tempat wisata populer di sana. Kalau sempat waktunya dan cukup (dicukup-cukupkan) budgetnya, aku pilih-pilih destinasi wisata populer yang jadi landmark-nya beragam kota di sana. Di beberapa kali kesempatan libur semester, aku menyempatkan untuk jalan agak jauh, baik bersama teman ataupun grup wisata yang dikelola kampus. Area Tokyo yang berjarak sekitar 3 jam perjalanan dari Gunma sudah kukunjungi beberapa kali, numpang lewat dan menyempatkan berfoto dengan latar belakang Tokyo Tower. Kyoto yang lebih jauh pun sempat kujejak dan menikmati suasana kota budaya yang sangat kental berbau Jepang lama. Sempatlah berfoto di depan Ginkakuji yang terkenal itu. Area Hokkaido di ujung utara Jepang dengan suasana yang sedikit berbeda dengan Jepang pada umumnya sudah pula kukunjungi, sementara agak ke selatan, aku sempat menjalani masa homestay selama 2 minggu sekalian sedikit berwisata. Salah satu tempat yang ingin tapi belum sempat kukunjungi adalah kota Hiroshima dengan kekhususan untuk menginjakkan kaki di depan landmark kota: Monumen Perdamaian atau tepatnya sih Kubah Bom Atom (Genbaku Domu).  

Genbaku Dome sepertinya kalah populer dibandingkan destinasi wisata lainnya di Hiroshima yaitu Itsukushima Shrine dengan gerbang merah megah yang seolah terapung di air. Genbaku Dome bahkan tidak masuk dalam 50 tempat yang direkomendasikan untuk dikunjungi di Jepang menurut situs Tsunagu Japan. Seriously? Orang Jepangnya sendiri mempertanyakan keinginanku mengunjungi Genbaku Dome itu. Kenapa ingin berkunjung ke sana? Giliran aku yang terpaku, tak tahu harus bagaimana menjawabnya. Bukan karena tak tahu alasannya, tapi karena tak tahu bagaimana mengungkapkannya dalam Bahasa Jepang. Hahaa... Separah itu kemampuan Bahasa Jepangku. Aku hanya bisa bilang, ada keterkaitan sejarah antara dijatuhkannya bom atom di Hiroshima dengan deklarasi kemerdekaan Indonesia di tahun 1945. 

Mengapa aku ingin mengunjungi area Monumen Perdamaian Hiroshima itu? Seperti yang kubilang sebelumnya, aku ingin pergi ke sana karena ada keterkaitan sejarah dengan Indonesia. Di masa penjajahan Jepang yang mensengnya... mensengaya... mengsengya... ah, menyengsarakan rakyat Indonesia, di saat itulah tentara sekutu menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan meluluhlantakkan kota tersebut. Momen itu tentu saja mengguncangkan seluruh Jepang, termasuk balatentara yang sedang menginvasi di luar negeri. Maka tak menunggu lama, Presiden Soekarno pun mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia di 17 Agustus 1945, mengambil kesempatan di masa kekosongan kekuasaan itu. Merdeka, Indonesia!
Tentara Jepang menginvasi? Sebagian orang Jepang bahkan tak tahu fakta ini. Beberapa teman yang kutanya, hanya sebatas tahu bahwa tentara Jepang atau (mereka pikir) warga sipil Jepang dikirim ke Indonesia untuk bekerja di pertambangan atau pertanian. Sejatinya, mereka menjajah Indonesia lho... Seorang kenalan yang mempelajari sejarah bertanya setengah sungkan, "Apakah kamu tidak benci Bangsa Jepang?" katanya. Dia tanyakan karena dia tahu fakta bahwa tentara Jepang menjajah Indonesia di rentang waktu 1942 hingga 1945. Aku mau jawab apa ya? Kalau bilang benci, lha kok usaha banget untuk dapat beasiswa (biarpun nondegree sekalipun) untuk ke Jepang. Aku dibiayai hidup selama 1,5 tahun di sana, itu jadi wujud negara Jepang untuk menebus kesalahan leluhurnya di masa lalu mungkin yaa. Jadi... yuk, kita berdamai saja. Maka dari itu, wajar sekali bukan, keinginanku untuk mengunjungi Monumen Perdamaian Hiroshima

Selain itu, setiap landmark dan kota di seantero Jepang biasanya memiliki stempel khusus yang bisa digunakan untuk penanda bagi pengunjung, bahwa mereka sudah menjejak di sana, dengan stempel sebagai buktinya. Di saat-saat terakhir masa tinggalku di sana, aku baru sempat mendapatkan stempel kota Maebashi (itu pun nggak terlalu jelas), sementara beberapa kota lainnya sudah kudapatkan stempelnya yang rata-rata bisa ditemukan di stasiun maupun gedung atau area populer lainnya. Nah... sudah cukup kan alasan bagiku untuk ingin pergi ke Hiroshima? Aku ingin dapat stempel dari landmark bangunan bersejarah itu. Doakan yaa, semoga suatu saat aku bisa ke sana. 
Setoran untuk Tantangan Ngeblog Mamah Gajah bulan April, tapi lagi-lagi kelewat deadline. :( Posting anyway lah...



Tuesday, September 20, 2022

Gaya Belanja Yang Mana?

Beberapa waktu yang lalu, seorang teman di dunia maya menulis di halaman media sosialnya, 

"Dua tahun pandemi, akhirnya lihat pameran lagi…
Tapi…
Selera belanja udah nggak kayak dulu…"

Maksudnya bagaimanakah...? Pernyataannya kuterjemahkan sebagai berkurangnya minat dia untuk berbelanja di pasar real. Dia tak lagi (terlalu) tertarik untuk melihat-lihat barang, memegang atau mencium aroma sesuatu yang menarik minatnya untuk dimasukkan ke dalam keranjang belanja. Apakah beralih ke moda belanja daring? Mungkin begitu. Aku sih iya. :)

Ketika pandemi melanda dan gerak penduduk dunia sangat dibatasi, tak lagi bebas ke mana-mana, kualihkan moda belanja ke moda belanja daring. Belanja segala, bisa banget dilakukan dari depan monitor PC atau ponsel kita, baik menggunakan aplikasi, situs web resmi toko yang bersangkutan, ataupun meminta layanan pesan antar melalui pesan pendek saja. Sungguh sepraktis itu lah.  Setelah beberapa waktu, ternyata aku menikmatinya. Mulai belanja buku, sepatu, pakaian, hingga segala printilan besar maupun kecil, juga belanja kebutuhan sehari-hari, (hampir) semua bisa didapat secara daring.

Dipikir-pikir, banyak juga lho benefit dari sistem belanja daring ini.

  • Aku yang biasa ke mana-mana menyetir sendiri, ternyata sangat bisa menikmati rasanya bersantai di rumah saja, belanja sambil rebahan. Tidak perlu berjibaku menyusuri jalanan dalam kondisi cuaca apapun, tidak perlu repot mencari spot parkir yang kadang sangat tak mudah dan tak praktis. Dengan demikian, aku bisa menghemat biaya transport juga recehan untuk parkir dan mamang gopek-man yang biasa ada di setiap persimpangan. Hemaat... hemaat...

Filter pencarian favorit

  • Aku yang biasa berlama-lama di toko, melipir setiap gang dan kios, membanding-bandingkan harga untuk mencari yang paling ekonomis, dengan belanja daring seluruh proses itu bisa dilakukan dengan lebih efisien. Cukup ketik kata kunci yang diinginkan, maka berderetlah jenis barang yang kuincar. Beragam toko daring siap membentu kita berbelanja. Lokasi bolelh dipilih sesuka kita. Silakan mencari toko daring di sekitar rumah kita jika perlu pengiriman instan, tapi dipersilakan juga mencari produk yang jauh dari tempat tinggal kita jika memang perlu. Aku sendiri biasa mengurutkan dengan filter tertentu, Filter yang kupakai biasanya adalah mengurutkan barang dari harga terendah untuk mendapatkan harga paling ekonomis. Setelah itu filter lokasi pun kuaktifkan untuk mencari lokasi terdekat agar jejak karbon tak terlalu panjang. Aku juga mengaktifkan filter bebas ongkir agar hanya toko-toko yang menerapkan kebijakan bebas ongkir yang muncul di hasil pencarian. Lumayan kaan, bebas ongkir saat jumlah pembelajaan mencapai nilai tertentu. ribuan hingga belasan ribu bisa dihemat untuk belanja online lainnya.     
  • Selain benefit receh-receh begitu, ada juga benefit receh lainnya berupa voucher toko yang memberikan potongan harga. Tentu saja dengan syarat dan ketentuan yang berlaku. 

Akumulasi cashback dari Shopback

  • Masih belum cukup hemat, aku juga melipir dulu ke Shopback, sebuah aplikasi perantara yang berani memberi cashback setiap kali kita belanja online setelah melipir ke shopback. Aku yang belanjanya recehan, tentu saja dapat benefit cashback-nya juga recehan. Tapi kalau dikumpul-kumpul diakumulasikan, bisa sampai ratusan ribu juga yang sudah beberapa kalu kutukar dengan pulsa atau kuminta untuk ditransfer ke rekening tabunganku. Recehan juga lumayan kan, ada harganya... ;) Mau ikut dapat benefit cashback dari shopback? Hayu ikut daftar di sini.

Tulisan ini dibuat untuk menjawab tantangan belanja ehh.... Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan September. Yuk, belanjaaa...!




Thursday, July 07, 2022

Kacapi Yang Ingin Kupelajari

Di Masa Itu

Bersama mama angkat di kebun tomat.

Bertahun lalu, ketika aku dapat kesempatan tinggal di Jepang selama 1,5 tahun, kusempatkan mengisi 2 pekan di dalamnya dengan ikut berpartisipasi dalam program homestay ke Pulau Kyushu, bersama Yayasan Karaimo yang sudah rutin menggelar program itu selama bertahun-tahun. Berkumpul bersama mahasiswa asing lainnya dari berbagai tempat di Jepang, lalu disebar ke rumah-rumah keluarga Jepang untuk beraktivitas rutin di sana selama 2 pekan, jadi pengalaman yang sungguh berharga. Aku sendiri ditempatkan di Takanabe, bersama 3 orang mahasiswa asing lainnya dan secara spesifik aku tinggal bersama keluarga petani yang ramah.


Di akhir masa 2  pekan, setiap perwakilan area diminta untuk unjuk kebolehan, baik bersama keluarga angkat maupun secara individual. Saat itu kami menyanyikan lagu 'It's A Small World' dalam 3 bahasa yang dinyanyikan secara bersahut-sahutan. Latihannya dilakukan dalam bus yang melaju menuju lokasi. Mudah eksekusinya, apalagi mamak-mamak angkat kita bersuara merdu dan sangat paham nada. Paduan suara yang kami tampilkan terasa sangat padu dan harmonis, megah juga saat seluruh audiens dipersilakan ikut bernyanyi dalam bahasa mereka masing-masing. Lagu ini juga sangat universal, tersedia dalam berbagai bahasa, hingga semua orang di dalam aula saat itu bisa ikut menyanyi dalam bahasanya masing-masing. Meriah. 

Dalam sesi performance itu, tentu saja banyak tampilan lain yang unik dan menarik. Ada yang menampilkan tarian Jepang, namun ada pula yang menampilkan tarian tradisional negara tempat peserta homestay berasal. Ada yang tampil solo bermain biola, namun ada juga yang peserta negara asing yang dengan percaya diri tampil solo memainkan alat musik Jepang. Di saat itu, aku terpikir betapa inginnya aku menampilkan salah satu kekayaan budaya Indonesia di kancah internasional semacam itu.

Alat musik kecapi. Sumber: wikipedia.
Coba kita list satu persatu. Untuk tampilan degung komplit tentu tak mungkin ditampilkan secara solo, mengingat alat yang dimainkan sangat beragam, punya dimensi dan berat yang tak main-main. Selain itu, biasanya setiap nayaga bertanggung jawab dan mempunyai peran masing-masing atas instrumennya. Angklung tentu akan jadi tampilan yang unik dan punya nilai budaya khas Jawa Barat. Satu set angklung bisa saja dimainkan secara solo, tapi instrumen bambu itu juga perlu penanganan khusus yang tidak sederhana saat dibawa bepergian. Terpikir olehku untuk menguasai salah satu instrumen musik Sunda, apakah suling, rebab atau kecapi. Nnahh... tampak unik bukan, kecapi? Sangat bisa dimainkan sendiri dan bisa jadi pengiring lagu dalam beragam kesempatan.

Di Masa Kini

Sepulang dari Jepang aku baru mulai mencari kesempatan untuk belajar memainkan kecapi. Terus terang saja, instrumennya pun belum aku miliki. Gitar sih aku punya, dan bisa memainkannya secara otodidak dengan chord dasar. Kupikir, memainkan kecapi tak akan jauh dari itu lah. Tapi engkau salah duga, Marbela...!  

Beberapa waktu (tepatnya beberapa tahun) kemudian, kutemukan seorang guru yang bisa mengajarkan cara memainkan kecapi. Guru privat, datang ke rumah, dengan imbalan fee yang masih murah meriah. Saat itu bersama dengan salah satu keponakanku, kami bergantian belajar kecapi di rumah. Suatu kebetulan bahwa keluarga kakak iparku punya sebuah kecapi yang bisa kita pakai. Niatnya siiih, buat latihan di rumah, memperlancar keterampilan bermain kecapi. Tapi niat tinggallah niat.

Ternyata memainkan kecapi tak semudah yang kukira. Perlu koordinasi jari kanan dan kiri yang padu. Jari kanan memainkannya dengan cara dipetik ke arah depan, sedangkan jari yang kiri justru memetik senar ke arah yang berlawanan. Dan itu harus dilakukan bersamaan. Dalam beberapa pertemuan saja, aku sudah ketinggalan dari keponakan yang belajar lebih cepat (hadeuww... ini tantenya yang sudah mulai 'karatan' nih. Belajar keterampilan baru tak lagi secepat dulu). Selain itu, kuku juga harus dipelihara cukup panjang supaya bisa memetik senar kecapi dengan nada yang jernih. Sementara aku malah nggak betahan dengan kuku panjang, selain gampang rusak pula, makanya perlu suplemen.  

Setelah lanjut berpikir, motivasi pun mulai goyah. Niat awal untuk menguasai alat musik kecapi adalah agar bisa perform solo sambil mengenalkan budaya Indonesia di kalangan internasional. Sementara sekarang, kesempatan itu cenderung menyempit. Budget bulanan juga agak diirit-irit, jadilah aku ngibrit. Nggak jadi deh pengen mastering kecapi. Shifting aja ke keterampilan yang lain. Apa dong...? Ada yang mau kasih ide? Mengingat ini adalah Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan ini yang mengusung tema tentang hal-hal yang ingin dipelajari. Hmm... untuk saat ini tampaknya aku harus fokus dulu ke keterampilan memanage waktu dengan baik. Nah, setelah ini mudah-mudahan bisa upgrade skill baru ya, biarpun nggak akan bisa dipakai untuk perform solo di panggung, tapi manfaatnya terasa buat diri sendiri yaa.

Friday, July 01, 2022

#Day1, Disaster

Beberapa waktu lalu, karena cukup berani (malu) untuk posting foto dan cerita kegagalan saat baking, aku terpilih menjadi salah satu pemenang yang mendapat paket hadiah dari #TulipChocolate berupa kursus baking yang dipandu oleh dua orang Chef yang sudah tahunan malang-melintang di dunia percoklatan. Selain kursus baking berkelas internasional (yang kalau berbayar tentulah tak murah), kami 5 orang pemenang dari Indonesia beserta 5 orang lainnya dari Filipina pun dibekali dengan peralatan baking yang kualitasnya juga standar internasional dong. Mindset-ku langsung di-set untuk siap upgrade baking skill dari amatir menjadi... apa ya? Ya pokoknya harus naik kelas lah. Siap? Bismillah... bisa yuk bisa...
Paket hadiah dari Tulip Chocolate. 
Untuk keperluan kursus baking ini, selama beberapa hari aku menginap di rumah kakak untuk meminjam dapur dengan akses ke segala peralatannya. Yeay! Selain memang rumah yang aku tempati sebelumnya (punya kakak juga) memang dijadwalkan untuk renovasi besar. Jadilah aku angkut perlengkapan standar menginap beberapa hari. 
Niat awalnya, kakak maulah jadi asistenku sekalian curi dengar ilmu baking. Checklist segala kelengkapan alat dan bahan, termasuk belanja sendiri bahan-bahan premium, sudah dilakukan (rasanya) sebelum hari-H. Maka sok 'siap tempur', di Senin pagi pukul 9 kurang aku sudah duduk manis di depan laptop di dalam kamar dengan catatan di tangan, siap menyimak penjelasan Chef Jean-Marc Bernelin melalui aplikasi zoom.
Chef Jean-Marc in action.
Mungkin aku yang terlalu santai, atau kurang menyimak di saat briefing, dan yang jelas sih tidak mengecek kembali guide book yang sudah disampaikan panitia, aku salah jadwal lah di hari pertama ini. Yang kupahami... Chef akan mendemonstrasikan resep di sesi pagi untuk kami praktikkan di siang harinya. Kupikir aku akan punya cukup waktu untuk mempersiapkan alat dan bahan pada saat istirahat siang untuk kemudian praktik di siang jelang sore harinya. Eh ternyata tidak dong. Setelah Chef Jean-Marc demo memasak 1 resep, kami harus langsung mempraktikkannya segera setelah itu. O-ow... Aku gagap gempita dong. Tidak siap. Segeralah aku bersicepat menyiapkan beragam alat dan bahan. Owh... aku bingung sendiri di dapur yang tidak terlalu familiar buatku ini. Di mana spatula? Di mana whisk? Mana wadah-wadah untuk putih telur, wadah untuk menyiapkan gula, tepung, atau bahan lainnya untuk diolah? Bagaimana pula mengoperasikan oven listrik? Aku merasa tersesat di dapur ini. Kakak dan anak-anaknya sedang sibuk dengan berbagai aktivitas lain, jadi aku dipersilakan 'menjarah-rayah' dapurnya sendiri saja. Tapi aku tidak cukup mengenali medan dan alat dapur canggih yang membuatku gamang untuk menggunakannya. Ah... sudah salah langkah sejak sesi pertama nih. 😳😳😳
Lanjut resep kedua, kita perlu plastic wrap, yang ternyata tak tersedia di rumah kakak. Di saat bristirahat sholat dan makan, aku sibuk survey market place termurah dan terdekat untuk membeli cling wrap supaya bisa segera dikirim ke lokasiku berada saat ini untuk dipakai hari ini juga! Selepas makan siang, pesanan datang. Ternyata kakakku pun menyempatkan untuk mampir ke supermarket dan belanja cling wrap serupa. Hahayy... salah pengertian, kita. Tak apalah punya stok lebihan. Daripada kurang kan ya...?
Kompilasi hari pertama
Maka resep 2-ku kupending untuk digarap setelah sesi kursus berakhir. Aku lanjut dulu menyimak dan praktik resep ke-3 dan ke-4. Bagaimana nasib resep 2? Siap-siap begadang jangan begadang deh untuk proses eksekusinya. Sementara resep 1 yang adalah Choco Biscuit (semacam sponge cake), akhirnya berhasil juga kupanggang dengan loyang seadanya. Oven yang cenderung kecil membuatku harus membagi adonan menjadi dua kali naik panggangan. Sebelum menuangkannya ke dalam loyang, kakakku sempat bertanya, "Ini ada gula putih (dalam wadah terbuka), apa mau dipakai juga?" Astaghfirullah... aku lupa menambahkan sisa gula ke dalam adonan kocokan putih telur. Seharusnya gula ditambahkan sedikit demi sedikit pada saat membuat meringue. Jadi bagaimana ini? Maksa, aku tambahkan saja sisa gula putih itu ke dalam adonan. Nggak tahu deh hasilnya bakal bagaimana. Masih #GagalBaking dong kalau begini caranya. Betul-betul Day1 Disaster nih. Bismillah... semoga di hari ke-2 besok bisa lebih baik.
Ke-hectic-an hari pertama kursus baking bersama Tulip Chocolate ini kurangkum untuk setoran Nulis Kompakan Mamah Gajah Ngeblog yang bertema Rutinitas harian mamah. Ah... tentu saja aktivitas kursus baking ini bukan rutinitas harianku. Aku hanya ingin bercerita, satu hari hectic dalam hidupku sebagai baker amatir. Hari ke-2 hingga ke-4 akan lanjut di postingan mendatang yaa. InsyaaAllah. 

Sunday, March 20, 2022

Kucing Garong


“Dasar kucing garong! Kuletakkan gagang telefon di tempatnya sambil memaki si penelefon di luar jangkauan pendengarannya.
Untuk ketiga kalinya, dia mengajakku makan bersama. Kali ini buka puasa bersama ceritanya, tapi dia hanya ingin berdua saja. Huh! Setelah gagal dengan usahanya mengajakku makan bersama di restoran miliknya, dia masih belum putus asa rupanya.
Bukan cuma sebal, aku jadi sedih. Hingga saat ini, hanya dia yang berani mengajakku 'kencan', sementara orang yang kuharapkan akan membawaku pergi ternyata malah mengajak menikah… gadis lain. 
Setelah bubaran dengan tunanganku awal tahun, aku tidak putus harapan. Aku yakin, masih ada laki-laki baik yang potensial untuk kujadikan pasangan hidup. Tidak semua laki-laki brengsek lah... Tapi yang datang kok dia? Laki-laki beristri itu, yang bahkan anaknya ada di kelasku!!!
Mantan tunanganku was bad enough. Dia mengaku sudah bercerai dari istri yang memisahkannya dengan dua putrinya. Tapi ketika kami sudah mulai mempersiapkan pernikahan dan menentukan tanggal, eh… dia bilang,”Maybe we have to delay our marriage. I haven’t really divorced from my wife.” Hari itu juga aku deklarasikan perpisahan dengannya. Sayangnya, aku tak bisa bertemu muka dan menampar wajahnya personally. Kami terpisah samudera.

Undangan acara buka bersama dari karibku semasa SMA rasanya bisa jadi pengalih perhatian nih. Sofi jadi tuan rumah. Yanti yang berdinas di Purwakarta kebetulan sedang di Bandung. Aku sendiri, setelah lulus kuliah dan mengajar di sebuah sekolah swasta, bisalah mampir ke rumah Sofi dengan acara bertajuk reuni ini. Tak kusangka hadir juga cowok-cowok se-gang ketika Paskibra dulu. Fadil datang bersama istrinya, sedangkan Teddy yang sekarang bekerja di Jakarta, datang dengan style. Betul-betul reuni kecil yang meriah.
“Dengar-dengar, ada kabar baik nih, Ted? Kok undangannya belum sampai ke sini?” Sofi membuat muka Teddy memerah dengan pertanyaannya. Yang tidak dia tahu, mataku pun membulat mendengar pertanyaan itu. Teddy mau menikah?? Dan dia tidak mengajakku untuk menjadi pengantinnya? Krkkk.. krak!! Aku patah hati lagi.
“Iya. Insya Allah setelah lebaran.”
“Eh… kirain bakalan sama Desi.” Celetuk Yanti, ringan saja. Kali ini aku yang gelagapan.
“Dari dulu udah dijodoh-jodohin, eh gagal.” Yanti memang paling rajin ngeledekin aku dengan Teddy sejak dulu. Sejak kami sama-sama aktif di Paskibra.
“Laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik…” ujarku menyitir sebuah hadits nabi.
“Teddy terlalu baik lah buatku….” Ujarku. Rasanya aku berhasil menyembunyikan rasa hati yang sesungguhnya.
“Bukan sebaliknya, Des?” timpal Teddy tersenyum. Masih menawan seperti dulu.
“Ya… mungkin juga.” Ujarku. Komentar garing! Tiba-tiba aku kehilangan sense of humor. Kusembunyikan kecewaku di balik tegukan besar es kelapa muda segar. 

Sejak Yanti semangat sekali menjodoh-jodohkan kami berdua, tepatnya meledek kebersamaan kami, aku memang jadi lebih memperhatikan dia. Kepribadiannya yang tenang, dikombinasikan dengan otak encer, plus tampang dan hati yang cenderung di atas rata-rata, cukup membuat diariku padat dengan cerita tentang dia.
Dari 5 orang bersahabat di Paskibra, selepas SMA kami saling berpisah. Aku dan Teddy bertemu lagi di kampus yang sama walaupun berbeda jurusan. Aku di Biologi, sementara Teddy mengambil Teknik Informatika.
Di kampus Ganesha, kurasakan jatuh cinta yang sesungguhnya pada dia. Betapa berdebarnya ketika lewat di depan gedung fakultasnya. Hanya melihat mobilnya parkir di tepi jalan Tamansari saja sudah membuatku tersenyum-senyum sepanjang hari. Sekilas melihat sosoknya di gedung Oktagon saat kuliah umum pun sudah cukup membuat kupu-kupu di perutku berdansa. Bertemu dan disapanya dalam perjalanan ke perpustakaan, membuatku merasa berbunga-bunga. Gila! Tanpa disadarinya, dia jadi penyemangatku, dan memacuku untuk lulus cepat, sementara dia kelihatannya betah dengan suasana kampus.

Ponselku bergetar. Kulirik layarnya untuk melihat identitas si penelepon. Si kucing garong! Ah… tidak cukup menderitakah hariku saat ini?
“Maaf… saya tidak bisa bicara saat ini, Pak.” Ujarku formil, dan langsung menutup telefon.
“Judes amat sih, Des!” celetuk Yanti.
“Biarin ah.” Ujarku tak acuh.
Kubiarkan handphone-ku bergetar hingga berhenti sendiri.
Reuni kali itu tidak lagi meriah. Perpisahan di halaman rumah Sofi saat itu jadi perpisahan sungguhan. Selamat menempuh hidup baru, Teddy. Hiks.

* * *

Ponselku bergetar. Kulirik layar depan ponselku, nama Teddy terbaca di sana. Kutarik nafas panjang.
“Hallo! Mau nganterin undangan ya? Kapan?” rentetan pertanyaanku sebelum dia bahkan sempat menyapa. Jeda sesaat. Kurasakan dia tersenyum di seberang.
“Akhir minggu ini aku ke Bandung. Bisa ketemu?”
“Bisa. Di Warung Pasta aja ya.”
“Oke. Kalau kamu nggak datang, undangannya aku kirim.”
“Iya…iya… aku datang.”

* * *

Aku datang lebih dulu. Kupilih satu tempat di area depan taman dan membuka ponselku sambil menunggu. Tak berapa lama, dia mengetuk meja di hadapanku. Kami bertukar senyum lalu dia duduk berseberangan. Kami saling berdiam diri sampai pesanan kami datang.
“Maafkan aku…” katanya. Aku mengangkat alis. Bertanya.
“Lama tidak bertemu. Aku memang sengaja menghindarimu.”
“Oh… nggak apa-apa. Aku sudah duluan (menghindarimu).” kupuntir spaghettti di piringku lalu kusuapkan sekaligus untuk kemudian kukunyah dengan geram.
“Sebenarnya… aku sangat menyukaimu,” ujarnya, dengan suaranya yang terdengar berat dan susah keluar. Kunyahanku berhenti. Ini anak… pada detik-detik penyerahan kartu undangan pernikahannya, tega-teganya dia bilang begitu???
“Aku ingin namamu yang tercetak di undangan ini, bersanding dengan namaku. Tapi sekaligus juga tidak ingin. Kita terlanjur sahabatan.”
Entahlah, aku harus tersanjung, marah, kecewa, atau malu dengan hal itu. Tak ayal, aku ingin tahu juga apa alasannya.
“Sebagai sahabat, aku ingin memberi yang terbaik buat kamu. Nasihat, cukup baik nggak?” tanyanya sambil mempermainkan sendok di tangannya.
“Bolehlah.”
“…” kulihat mukanya yang tepat di depanku. Gila! Dia masih setampan dulu, bahkan auranya makin menyala! Kupalingkan pandanganku ke piring di hadapanku.
“Tetaplah seperti kamu sekarang ini.” Ujarnya kemudian.
“Ha???” Itu saja nasihatnya?” dia mengangguk.
“Itu sih nggak perlu dikasih tahu lagi…”
“Supaya aku nggak menyesal kalau menikah nanti.”
“Ya jangan dong!”
“Kalau kamu jadi feminin, manja, dan tidak mandiri, aku akan menyesal tidak menikahimu.”
“Kamu jahat ih! Tega ngomong begitu.” Dia diam.
“Memangnya, calon istrimu, karakternya gimana sih?”
“Prita? Dia feminin, manja, dependent. Dengan begitu, aku merasa dibutuhkan.” Aku mengangguk-angguk.
“Baguslah.”
“Tapi selera humormu, aku suka.” Sambungnya kemudian.
“Nggak perlu aku. Kamu bisa sewa badut Ancol. Lebih dekat.”
“Kamu cerdas, aku respek karena itu.”
“Makasih yaa.” Sebuah reaksi garing lagi.
“Kamu mandiri, tegar, sabar, pintar …”
“Bundar,” sambungku asal saja. Dia tersenyum kecil.
Strong sense of humor. Satu sisi dirimu, aku suka.” Makin lama dia bicara, sebetulnya hatiku makin teriris.
“Tapi aku ingin merasa dibutuhkan, tidak hanya untuk teman diskusi. I want a friend, a wife, a mother for my kids, a sister, and a lover in one person.”
And you found all of them in your future wife. I see. Congratulations.” Aku tersedak. Aku belum mengunyah spaghetti sialan itu dengan baik.
“Tidak semua, memang. But nobody’s perfect. Sebagiannya ada padamu.”
“Aku nggak keberatan jadi istri kedua.” Ujarku. Mudah-mudahan dia tidak mendengar keseriusan dalam nada suaraku. Lagi-lagi, dia cuma tersenyum.
“Maafkan aku, Tam. Kuharap kamu mendapat pendamping terbaik.” Eh, dia memanggilku “Tam”? Nama kecilku. 
“Aku berpikir lebih baik menjaga jarak kita supaya tidak ada yang kecewa. Mungkin akulah yang akan paling kecewa karena dari dulu, sejak teman-teman meledek menjodoh-jodohkan kita di SMA dulu, aku mulai memperhatikan kamu, dan ternyata aku suka. Entahlah dengan kamu, aku rasa kamu sangat baik sebagai sahabat. Tapi kamu terlalu mandiri, tak memerlukan apa-apa dari orang lain. Aku merasa tidak berharga di sisimu, tidak pantas. Daripada berharap muluk-muluk, aku sudah merasa puas dengan persahabatan kita. Meskipun sering menghilang dan menjaga jarak, sebenarnya aku tetap nggak mampu melupakan kamu.”
‘Lalu mengapa kamu muncul lagi sekarang, with shocking news like this?’ satu kalimat dalam benakku menginginkan jawaban.
“Prita biasa memintaku untuk menemaninya ke sana-sini, dan itu membuatku merasa dibutuhkan.”
Good for you. She’ll be a good wife, your lover, your friend, your sister, mother for your kids, she’ll be just perfect!” Aku biasa bicara dalam bahasa Inggris kalau sedang kalut. Bukannya sok gaya, tapi justru untuk menutupi perasaanku yang sebenarnya. Bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu akan terkait erat dengan perasaanku saat aku bicara. Dan saat ini aku sedang sakittt, dan aku tak ingin dia tahu.

Padahal, akhir-akhir ini, entah dirasuki setan apa, aku mulai sedang-hampir-akan mempertimbangkan usul Fasya, teman kantor yang terkenal dengan ide-ide brilyan (baca: edan) untuk melamar dia saja, daripada nunggu dilamar dan dia memang ternyata tak datang-datang. Lebih baik didului saja, begitu katanya. Hampir saja ide gila itu kulaksanakan. Untung saja tidak jadi. Atau malah rugi? Ah… Entahlah. Aku tak tahu lagi. Yang kutahu, sekarang ini aku ingin segera pergi dari hadapan pria perampok hatiku ini, yang tak juga dikembalikannya hingga kini. Yah… bawa pergi sana sebagian hatiku! Aku tak kuasa merebutnya kembali dari kucing garong yang satu ini. Kuhabiskan spaghetti di piringku, lalu kuteguk juga jus lemon dalam gelas tinggi di hadapanku. Kecut…! Biarlah kecut ini terasa sampai ke hati. Ih!! Sentimentil banget sih Tam? Kutegakkan mukaku, menatap langsung ke bulat matanya.
“Selamat ya…!”
“Kamu akan datang di pernikahan kami?”
“Mungkin.”
“…” dia tidak berkata-kata lagi. Lalu kami berpisah. Kubawa kartu undangan cantik darinya dengan tangan yang dingin.

Aku pulang dengan sebuah kehancuran jiwa yang baru. Apa yang salah dengan takdirku? Kenapa aku (pernah) jatuh cinta pada dia? Dia yang telah mencuri hatiku dan membawanya pergi. Hatiku tak kan pulih dalam waktu dekat. Jadi… kayaknya untuk saat ini aku akan terima nasihat Teddy sepenuh hati. Tetaplah seperti kamu sekarang ini. I am what I am. Biarpun nanti malam bantalku akan basah dengan air mata hasil nangis Bombay, tapi aku akan tetap jadi gadisnya, seperti yang dia mau. Gadis yang tegar, pintar, sabar, dan… bundar? Hah!!! Yang terakhir nggak-lah.

* * *
Tayang perdana di Majalah Chic edisi Juli 2007. Tayang ulang dengan edit pangkas habis untuk ‘Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog’ edisi Maret: Cerita Fiksi (Dengan Unsur) ITB

Salah Satunya... Kok Jadi Banyak.