Showing posts with label kerja keras adalah energi kita. Show all posts
Showing posts with label kerja keras adalah energi kita. Show all posts

Monday, January 04, 2010

Sambut Tahun Baru 2010

2010, tanpa bisa ditahan lajunya, datang menghampiri. Siapa saja tak lepas dari terjangan waktu. Dan siapa saja akan merugi bila tak mengambil kesempatan terbaik yang dilewati masa ini. Siapa saja harus bekerja lebih keras lagi di tahun ini, bekerja lebih cerdas lagi, termasuk aku tentunya. Yuk... manfaatkan potensi yang dianugerahkan kepada diri ini untuk berkarya sekemampuan kita. Semangati diri lagi.
Di awal tahun ini, kuisi tangki bahan bakar Katana-ku dengan premium di SPBU dekat rumah, full tank. Aku harus menunggu di antrian panjang sebelum tiba giliranku. Sabar... Dalam masa menunggu itu membuatku berpikir tentang pekerjaan mereka. Kulihat petugas SPBU sibuk sekali melayani semua orang. Selesai dengan kendaraan satu, kendaraan lain sudah menunggu, nggak ada berhentinya. Itu sungguh-sungguh kerja keras.
Kadang aku membandingkan dengan pekerjaanku sendiri. Sebagai guru, aku masih punya waktu untuk mengerjakan hal-hal lain di luar kerjaan sekolah, termasuk menulis blog (biasanya aku tulis di rumah, tapi ku-posting di sekolah). Di sela-sela kesibukan mempersiapkan bahan pelajaran, membuat contoh karya untuk ditunjukkan kepada murid, mengajarkannya, merapikan kembali ruang seni setelah dipakai anak-anak berkegiatan (menggunting, mewarnai, memahat dsb), membuat panduan penilaian, plus memeriksa dan menilai hasil karya mereka. Sesekali ikut meeting, sibuk di kepanitiaan atau menyiapkan anak-anak ikut lomba, atau 'hanya' memperhatikan murid-muridku di kelas. Mengisi buku komunikasi setiap hari, melerai yang bertengkar, mengobati luka jika ada yang jatuh. Giliran "istirahat" makan siang, kita "on" terus dong. Memastikan bahwa anak-anak makan dengan benar, kalau perlu sedikit dipaksa untuk mau makan sayur, setidaknya mencoba makan deh, sepotong sayur atau sesendok keciiil aja. Setelah itu dilanjut dengan mengawasi mereka wudhu dan shalat di mushala (walaupun aku... harus kuakui, agak jarang melakukannya gara-gara biasanya aku belum selesai makan. Soalnya aku selalu makan paling akhir, setelah semua anak menghadapi piring dengan menu makan siang mereka. Tapi bagaimanapun, kayaknya aku harus belajar untuk makan lebih cepat!). Kegiatan sore ditutup dengan memandu anak-anak shalat asar bersama, kali ini dilakukan di kelas masing-masing. Biasanya mereka menagih cerita sebelum shalat, yang membuatku harus aktif mencari info dan referensi cerita-cerita berhikmah yang menarik untuk mereka, yang harus kuceritakan dengan cara yang menarik pula. Maaf-maaf... biasanya aku pakai bahasa Indonesia (padahal sekolah kami memiliki kebijakan global, termasuk dalam penggunaan bahasa Internasional di lingkungan sekolah). Maaf, seringkali aku memang membuat permakluman, dengan alasan supaya waktu yang singkat sebelum bubaran sekolah itu termanfaatkan secara efektif, tanpa perlu mengulang dan menterjemahkan, setelah mulutku berbusa-busa bicara dalam bahasa Inggris, eh ujung-ujungnya mereka minta diterjemahkan juga.
Berbicara dalam bahasa Inggris pun perlu upaya keras, kuupayakan semampuku. Walau bagaimanapun, bahasa Inggris bukan bahasa ibu kita, sehingga untuk menggunakannya otakku kadang perlu berpikir dua langkah sebelum bicara. Tapi bagaimanapun, ini harus kuupayakan. Aku kerja keras mencari kata dan kalimat yang tepat untuk kukatakan, dan mereka pun harus bekerja keras untuk memahami dan mengingat apa yang kukatakan. Kerja keras, itulah energi kita. Kerja cerdas, itu yang lebih utama.

Tuesday, November 17, 2009

Berdebar-debar Berburu Premium

Sebuah hari Jumat. Aku berencana datang terlambat ke sekolah, karena harus menyelesaikan urusan taspen dan terminasi pembayaran pensiun almarhumah ibu. Sedikit njelimet karena ada beberapa berkas yang belum lengkap. Surat Keputusan pensiun ibu, entah di mana adanya (tapi ternyata ada juga berkasnya di kantor Taspen). Surat keterangan dari BRI, (belakangan ketahuan, ternyata masih kurang satu data dan stempel). Dilanjut dengan mampir ke toko ACCU untuk membeli satu buat mobilku, untuk langsung dipasang agar bisa berangkat ke sekolah mengendarainya.
Menjelang tengah hari, urusan kami selesai. Aku siap-siap ke sekolah. Terlambat juga tak mengapa, karena malam itu akan berjaga. Ikut bertugas di sekolah, berpartisipasi dalam kegiatan Science Night. Semua guru harusnya ikut. Jadi... aku yang baru beberapa hari lalu ditinggal ibu, ya ikutan juga-lah. Nggak ada urusan dengan kedukaan, aku harus masu k kerja. Ayo, ikutan pakai slogan Pertamina, "kerja keras adalah energi kita".
Ngomongin Pertamina, aku jadi ingat tangki bahan bakar Katana-ku. Nyaris kosong nih. Harus segera diisi premium lagi. ACCU sudah OK, tanki bahan bakar megap-megap minta diisi nih. Tengah hari Jumat begitu, ternyata nggak gampang menemukan SPBU yang buka dan melayani pembeli untuk penjualan premium maupun solar.
Perburuanku dimulai dari SPBU di dekat rumah. Kulihat untaian rantai memblokade jalan masuk ke area SPBU, dengan papan pemberitahuan "Sedang Shalat Jumat". Maka aku hanya melintas di depannya. Dilanjut dengan yang berikutnya di kawasan yang biasa macet kalau pagi hari kulewati. Tutup juga. Aku jalan terus, menuju gerbang tol Toha yang biasa kumasuki. Mulai dari rumah hingga gerbang tol, ada sekitar 4 SPBU yang kulewati. Semuanya tutup, semua petugasnya sedang shalat Jumat. Rupanya, selain membiasakan diri untuk kerja keras, para petugas itu juga tak lupa beribadah sebagai energi mereka.
Aku mulai cemas nih. Kondisi bensin sudah kritis. Untungnya, di sebuah SPBU baru di dekat gerbang tol juga, aku bisa masuk dan dilayani oleh petugas perempuan yang memang tidak shalat Jumat. Dengan ramah dan cekatan, dia mengisi tangki bensinku sesuai dengan jumlah rupiah yang kuminta. Pas! Cocok dengan dengan imej barunya, Pertamina pasti pas.
Alhamdulillah... aku bisa bernapas lega dan memacu Katana-ku kembali di jalan tol. Tidak hanya petugas Pertamina yang harus menerapkan slogan baru. Aku yang sudah terlambat pun harus bersicepat ke sekolah. Yuk, ikutan slogan Pertamina, karena "Kerja Keras Adalah Energi Kita". ;)

Saturday, November 14, 2009

Yang Terlarang di SPBU

Di sebuah SPBU di dekat gerbang tol Padalarang, aku menemukan tanda peringatan ini. Standar, sebetulnya, seperti yang biasa terlihat di SPBU lainnya (dan biasa dilanggar orang-orang :p).
Dilarang memotret (eh, kenapa ya?) Aku kok ya memotret juga. Soalnya gambar dan tulisan ini harus diabadikan dan dipublikasikan di blog ini, sebagai bukti nyata.
Dilarang merokok. Tentu saja. Akan sangat berbahaya tentunya jika perokok aktif di Indonesia masih juga merokok di SPBU. Berani ambil resiko membuat area itu meledak?
Dilarang meng-aktifkan telepon. Disinyalir gelombang telepon bisa mengganggu kinerja alat-alat di SPBU bahkan menyebabkan letupan listrik yang bisa berakibat -lagi-lagi- membuat ledakan di SPBU. Ada kejadian nyata lho tentang ini, beritanya sampai masuk koran segala.
Dan di bagian bawah, dipasang tulisan "DILARANG MELAYANI JERIGEN", padahal SPBU Pertamina sudah bertekad bulat untuk mewujudkan mottonya: kerja keras adalah energi kita. Lho, bukankah para pembawa jerigen itu juga sudah susah payah, bekerja keras membawa jerigen ke SPBU, mengantri dan kalau perlu berdebat kusir dengan para petugas SPBU untuk mendapatkan layanan pembelian bahan bakar, lalu bekerja keras juga membawanya kembali dan mendistribusikannya (menjualnya kembali, begitu) kepada konsumen secara langsung. Eh... tunggu... tunggu... Yang tidak boleh dilayani jerigen kan...? Kalau orang yang membawa jerigen? Boleh dilayani kali ya...? ;) Hehe...

Salah Satunya... Kok Jadi Banyak.