Sunday, January 14, 2007

Nirmana 3D

Dapat kiriman beberapa gambar dari teman. Bagus-bagus. Jadi ingat jaman kuliah dulu, semester 1 & 2, Nirmana 3D. Mbikin dari kertas, karung goni, korek api, kayu, wah...! Asyik sih, biarpun sempat lecet-lecet juga nih jari. Punyaku dulu, biassaaaa banget. Tapi yang ini emang keren abis!

Thursday, January 11, 2007

Grateful for being Single. ;)

Dapat kiriman e-mail gratisan (entah gimana mberhentiin kiriman daily single horoscope ini, tapi satu-dua pesannya, bagus juga... ;))

Dear Diah,
Here is your single's love horoscope for Tuesday, January 9:

This morning, you're probably delighted to be single, if only because other people are driving you nuts. Later, you may be delighted to be single for entirely different reasons -- like all the sweet possibilities.

Yah... kadang aku ngerasa 'kurang beruntung' sebagai lajangster, tapi itu hanya di saat 'sensitif' aja (dan itu nggak sering, kok). Lebih sering bersyukur kok sebagai lajang, for entirely different reasons. Alhamdulillah.

Saturday, January 06, 2007

Tahajjud Bersama

Tadi malam sebagian guru SD nginap di sekolah, dan dini hari kita tahajjud bersama. Aku ikut nginap di sekolah. Jam 3-an pagi, ikut duduk di barisan belakang aula, menyimak bacaan quran dalam shalat yang dipimpin pak Soleh. Khusyuk. Auranya terasa syahdu, tapi bukan itu yang mbikin aku nangis, melainkan doa yang kuucapkan dalam hati yang membuat air mataku mengalir. Masih doa yang serupa dengan yang biasa kupinta pada-Nya, berharap Dia akan mengabulkannya. Mungkin dalam doaku kali ini.

Begitu indah kebersamaan ini, ya Allah. Begitu indah bila shalat sudah padu dalam keseharian kita pula. Jika kebersamaan ini baik untukku, tetapkanlah aku di dalamnya. Tapi sekiranya jamaah lain akan lebih baik untukku, mudahkanlah jalanku. Amiin.

Usai shalat subuh, kita sempat nonton bareng film dubbing Harun Yahya, tentang hidup dan tujuan hidup. Mungkin perlu nonton ulang supaya maknanya lebih meresap. Berarti harus beli CD-nya, kali.

Acara ditutup dengan doa yang dipimpin oleh pak Nino. Doa sempat terputus karena dia nangis-nangis. Begitu juga dengan banyak teman lainnya. Aku, kali ini tidak bisa menangis. Usai berdoa, kita saling bermaafan, mudah-mudahan tulus, dan benar-benar mentekadkan langkah terbaik ke depan di semester dua ini. Bismillah…

Friday, January 05, 2007

Lokaria!

Hari Kamis lalu, guru-guru SD Salman, nyaris dengan ‘kekuatan penuh’, bertolak ke Jatihandap dalam rangkaian kegiatan Lokakarya (yang berkembang jadi lokaria. ;)). Judulnya, Outbond! Semua guru harus menjalani serangkaian kegiatan yang sudah dirancang.

Diawali dengan senam bersama, pemanasan… supaya otot tidak kaku.

Guru-guru putri mulai dengan tanding bola tangan. Dua tim saling bertanding keunggulan. Strategi yang sudah disusun, terlihat apik dijalankan oleh kelompok lawan, menghasilkan kemenangan 5-3 (satu di antaranya dengan pinalti, dengan jarak pinalti yang sangat dekat… mana mungkin tidak menghasilkan gol. :P) Tapi kita mesti sportif-lah. Akui kemenangan lawan, dan mesti introspeksi diri, menyadari bahwa kerjasama tim kita masih perlu diperbaiki.

Berikutnya, lomba dayung perahu. Kelihatannya mudah. Teorinya, arah kayuhan dayung tentu akan menentukan arah meluncurnya perahu. Beberapa kali aku menyemangati teman-teman yang sedang mendayung supaya tetap ‘di jalan yang benar’. Hehe… Kalau mereka melaksanakan arahan yang kuberikan, sukses-lah tim dayung itu. Setelah beberapa kali menyemangati teman-teman, akhirnya kuputuskan aku harus ikut jadi salah satu anggota tim dayung. Ternyata… praktek tak semudah teori. Dengan 3 orang ‘kru’ di atas satu perahu, kerjasama ternyata tak semudah yang dibayangkan. Beberapa kali perahu kami ‘keluar jalur’, tapi bisa kembali ‘ke jalan yang benar’, dan keluar sebagai pemenang. Yess! I like being the winner. ;)

Yang berikutnya, meniti jembatan bambu di atas kolam renang yang tidak begitu dalam. Tak ada yang sukses sampai ke seberang. Tapi tercebur di kolam yang jernih itu, akhirnya teman-teman memanfaatkan momen untuk belajar berenang, ‘main polo air’, balap lari dalam air, atau sekedar berkecipak. Seru! Banyak yang tidak mau keluar dari kolam. Haha…

Rangkaian terakhir, flying fox. Ini sudah jadi wahana standar uji nyali. Beberapa rekan guru mencoba posisi terbang (diikat di punggung, lalu diluncurkan dalam posisi horizontal). Tangan terentang, tak berpegangan. Ketika kuamati, dengan posisi itu kontrol pendaratan jadi sulit dilakukan. Beberapa orang guru wanita terpaksa merelakan diri bersentuhan dengan petugas di ujung rentangan tali dan menunggu dilepaskan dari ikatan dalam posisi menungging. Kelihatannya tidak nyaman. Maka dari itu, ketika giliranku tiba, aku pilih posisi konvensional, ‘berdiri’, dan meluncur menuruni tali dengan gaya berlari. Di ujung rentangan, aku bisa melakukan pendaratan sendiri. Suksess!

Hari yang menyenangkan, berkesan mendalam, akhirnya usai. Banyak komentar positif dari teman-teman, yang sangat mengharapkan acara serupa dijadwalkan rutin di waktu mendatang. Lokakarya kali ini, beda. Betul-betul jadi ajang refreshing and recharging. Alhamdulillah.

Thursday, January 04, 2007

Di mana Adam Air?


Selasa tanggal 2 pagi, Ibu nelfon dari Surabaya, ngabari rencana kepulangannya malam ini ke Bandung (Kamis). Beliau sampaikan juga untuk sering-sering memantau berita dari TV. Kabarnya, tete Im (pamannya Ibu) berada di dalam pesawat Adam Air yang sekarang masih belum diketahui keberadaannya. Ya Allah… Aku cek ulang nomor penerbangan pesawat yang membawa tete Im. Mak Is (adik ibu yang di Sidoarjo) mengkonfirmasi kepastiannya. Pesawat Adam Air dari Surabaya memang cuma itu. Tete Im dan menantunya duduk di seat 81 dan 82. Masya Allah…
Tete Im (Tete=kakek, bahasa Melayu Sulut. Namanya Ibrahim Lamani, tapi kami biasa memanggilnya ‘tete Im’), datang ke Surabaya dalam rangka menemani istrinya ‘berobat’ akibat kanker yang dideritanya. Beliau dirawat di rumah sakit haji di Surabaya, tapi kemudian meninggal dunia dan dimakamkan di Malang, tempat kerabatnya berada. Tete Im ditemani menantunya, Halid. Belum genap sepekan setelah kematian sang istri, beliau memutuskan untuk pulang ke Manado, mungkin untuk menyelenggarakan acara tahlilan di sana.
Tanggal 1 take off dari Surabaya menuju Manado, naik pesawat Boeing-nya Adam Air. Sekitar satu jam mengudara, pesawat hilang kontak di sekitar Sulawesi Barat, dan hingga saat ini, keberadaan pesawat itu beserta seluruh penumpang dan awak kapal yang berjumlah 102 orang, belum diketahui. Innalillaahi… Di mana kiranya mereka berada? Hari Selasa, seharian aku di depan TV, menyimak berita dari berbagai stasiun TV. Sempat dikabarkan, pesawat menabrak bukit, pecah berkeping-keping, tapi sulit dievakuasi karena kondisi medan dan cuaca yang relatif buruk di musim hujan ini. Tapi kemudian, berita itu dibantah, karena ternyata pesawat itu belum diketahui posisinya. Masya Allah…
Bila di waktu-waktu lalu aku hanya melihat berita kecelakaan di TV dan merasa ‘tidak peduli’ terhadap korban dan keluarganya -walaupun tentu saja ber-empati atas kejadian yang menimpa mereka-, ini mungkin karena tidak ada kerabatku di antara mereka. Tapi kali ini, tete Im dan Alit ada di antara mereka, yang keberadaannya ‘ghaib’ sekarang ini. Beberapa kali, kucoba mengontak handphone tete Im, berharap siapa tahu… setelah pendaratan darurat entah di mana, dia mengaktifkan telepon selularnya. Tapi selalu jawaban operator yang kudengar, menyatakan bahwa nomor itu sedang tidak aktif atau di luar jangkauan. Kak Pur (anak tete Im, istri Alit), sempat muncul di televisi, diwawancara salah satu kru TV sebagai keluarga korban. Miris… sekalinya ‘masuk TV’ kok ya karena berita duka.
Sedih, pasti. Cemas, bingung, berdebar-debar menunggu kepastian, ada di mana mereka. Kalau masih hidup, lindungi mereka ya Allah. Jika sudah meninggal, tolong berikan petunjuk agar tim SAR bisa segera menemukan mereka, mengevakuasi ke tempat aman, untuk dibawa keluarga mereka agar jenazahnya bisa diselenggarakan dengan selayaknya. Dimandikan, dikafani, dishalatkan, dan dimakamkan di tempat yang diketahui. Doa kami, di manapun adanya mereka, tentu akan selalu tersampaikan pada-mu, selalu akan bisa Kaudengar, dari manapun kami panjatkan. Tapi tentu keluarga akan lebih tenang jika bisa ‘bertemu’ dengan para korban. Izinkanlah ya Allah… berilah kemudahan…

Friday, December 08, 2006

Selamat Jalan Teh Dewi...

Senin dini hari lalu, akhirnya teh Dewi yang kita cintai berpulang kepada Sang Pemilik Jiwa. Beberapa hari dalam kondisi kritis dan labil yang fluktuatif, tentu saja membuat keluarga dan teman-teman yang sayang padanya hanya mengharapkan yang terbaik untuknya (terutama, dan tentu juga bagi keluarga yang ditinggalkan). Setelah semua saling mengikhlaskan, teh Dewi menghembuskan nafas terakhirnya di ruang ICU rumah sakit Immanuel. Semoga dalam sunyinya, teteh masih selalu menyebut nama-Nya.

Yaa ayyatuhannafsul muthmainnah. Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhan-mu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku (Q.S. Al Fajr 27-30)

Aku tak bisa hadir untuk menyalatkan dan mengantarkan teteh ke tempat peristirahatan terakhirnya. Saat itu aku sedang tidak di Bandung. Simpang-siur SMS sejak jam setengah dua-an pagi membangunkan aku dari lelap tidur, mengabari berita duka itu. Innalillaahi wainna ilayhi raaji’uun. Kita semua sayang teteh, tapi Allah mungkin lebih sayang padanya, sehingga dipanggilnya ia segera.

Kudengar, hampir seluruh sekolah datang untuk melayat. Sekolah nyaris sepi! Nyaris semua guru ingin ikut hadir mengantar jenazah teh Dewi ke ‘rumah masa depannya’. Armada mobil jemputan sekolah stand by, siap mengantar siapapun yang akan pergi ke sana. Kendaraan orang tua murid pun membentuk konvoi panjang. Bahkan pesan yang berantai sangat cepat juga membuat beberapa ‘alumni’ Salman ikut hadir, selain tentu saja murid-murid yang dulu pernah belajar bersama ibu guru yang lembut dan baik hati itu. Semoga teh Dewi meninggal dalam keadaan husnul khatimah, dengan iringan doa dari semua teman dan kerabat yang mencintainya. Ya Allah, terimalah amal ibadahnya, ampuni dosa-dosanya, dan tempatkan beliau di tempat terbaik di sisi-Mu. Amiin.