Monday, January 23, 2006

nasihat seorang kawan

Dapat nasihat dari seorang kawan. Isi nasihatnya bagus sih... pada intinya sih supaya aku lebih baik dan konsisten dalam bersikap. Terima kasih banyak. Sungguh! Tapi kok yang ngasih nasihat ya... ikhwan ya? Pada ke mana nih akhwat-akhwaaaa......t? Berilah aku nasihat, jangan sekadar sindiran atau ngomong di belakang. Ujung-ujungnya nggak lain selain jadi gosip. Iddih! Ayo dong, kutunggu nasihat lainnya.

Sunday, January 08, 2006

Polah... siapa?

Pagi ini, setelah 2 minggu kutunggu-tunggu, Republika Minggu akhirnya datang juga. 2 minggu yang lalu bertepatan dengan hari Natal, libur nasional, jadi koran nggak terbit. Minggu lalu bertepatan dengan tahun baru, libur nasional lagi, jadi ya koran nggak terbit juga, padahal aku nunggu-nunggu … banget, siapa tahu pertanyaan atau pernyataanku tentang kunjungan studi banding (yang emang jadi isyu nasional yang ‘panas’ banget,) para anggota DPR-RI ke Mesir beberapa waktu lalu dikomentari si Bos di rubrik Konbos5000. Aku kirimin via e-mail tertanggal 18 Desember lalu lho, makanya nunggu-nunggu banget pemuatannya. Setelah beberapa kali ditanggapi si Bos, jadi ‘nagih’ nih, biarpun sampai sekarang belum pernah dapat cendera mata dari si Bos . Senang aja bahwa namaku muncul di koran, biarpun orang-orang di Salman sih kayaknya nggak ’ngeh’ bahwa D_Utami@Plasa.com itu aku. Hehe… Tapi account di Plasa juga terbatas banget nih kapasitasnya. Sekarang ini udah over quote, jadi agak susah untuk ngirim dan nge-save banyak pesan e-mail di sana.
Oya, balik lagi ke peristiwa tadi pagi, ketika koran baru datang, aku langsung mbuka halaman yang berisi rubrik Konbos5000, dan mulai mencermati nama-nama pengirim pesan yang dikomentari si Bos. Ah… tak ada namaku di sana. Kecewa dikit, karena aku yakin banget bahwa pertanyaan/tpernyataanku tentang kunjungan studi banding (bermuatan belanja-ria dan hura-hura) para anggota DPR-RI itu isyu yang hot dan layak banget untuk dibahas (biarpun secara bercanda) di media cetak nasional. Tapi ya… sudahlah…. Siapa tahu minggu depan diangkat.
Tahu-tahu… ketika pandangan kualihkan ke bagian bawah halaman itu, kulihat judul di rubrik Polah, berbunyi.”Nenekku Nyopir AngkotHey… it sounds familiar to me. Aku pernah ngirimin cerita bu Tika tentang bibinya yang jadi sopir angkot sehari ke koran ini, dan … apakah ini hasil tulisanku? Ketika kubaca nama pengirimnya, Hehe… Jelas banget terbaca, Diah Utami, lengkap dengan alamat rumah!! Haha…! Katanya bakal dapat imbalan nih, untuk yang tulisannya dimuat di rubrik itu. Aku jadi nunggu-nunggu nih, bakalan dapat apa ya dari Republika? Pagi tadi juga, langsung kutelfon Bu Tika untuk ngabari tentang hal ini, dan kita ketawa-ketawa bersama, janjian untuk makan-makan kalau aku dapat honor. Lalu dia bilang, nanti akan cerita lagi ah…, yang nanti biar aku aja yang nulis dan ngirimin, lalu kalau dimuat, ya kita makan-makan lagi. Hehe… asyik aja. Aku juga jadi pengen nulis cerita yang lain. Sudah ada ide (yang sebetulnya udah nggak) baru lagi di kepalaku. Mau cerita tentang Pak Tasmin yang SPG dan (lagi-lagi) cerita Bu Tika dengan penumpang Angkot ber-rok mini yang akhirnya memakai koran untuk menutup paha atasnya. Aha…

Thursday, December 15, 2005

Tutup Tahun... ngapain ya...?

Sekitar akhir tahun lalu, kumulai blog ini. Waktu itu kayaknya banyak banget masalah pribadi, yang akhirnya nggak bisa 'curhat' di blogger. Lebih banyak menahan diri. Sekarang rasanya adalah saat yang tepat untuk re-evaluasi diri. Apa yang sudah aku jalani, aku capai, seberapa jauh aku berubah ke arah yang lebih baik, to become a better me.

Satu pemikiran yang just popped up in my mind this morning, on my way to the office: Banyak-banyaklah bersyukur dengan keadaanku saat ini. Bandingkan dengan satu-dua orang, tiga, empat, dan seterusnya. Sesungguhnya aku masih sangat beruntung. Maka banyak-banyaklah bersyukur. Bersainglah dengan diri sendiri, dan berusahalah untuk menang! Raih banyak-banyak kesempatan, bahkan di saat sempit sekalipun!! Wuah... ambisius banget ya? Iie, ganbariyasan ni naritai dake de...

Saturday, November 19, 2005

Batik Workshop

Mbaca iklan tentang workshop mbatik yang diselenggarakan Intisari kerjasama dengan museum tekstil Indonesia, wah... menarik nih. Aku pengen ikutan...! Prinsipnya sih aku tahu, tapi ngerjain langsung proses mbatik (yang bener), aku belum bisa.
Ketika kuajakin, mbak Yayu dan Tasya ternyata mau ikutan juga. Jadilah kita bertiga ke museum tekstil Jakarta. Sebelumnya, aku nginap di rumah mereka-lah. Sempat keliling-keliling areal museum, dan tentu saja menemukan hal-hal yang menarik tentang tekstil tradisional. Sayang aja waktu itu aku nggak nemuin tenun kerawang (yang sebetulnya dari Sulut) di antara koleksi yang dipamerkan di sana.
Pendek kata, proses mbatik itu asyik, sebetulnya. Panas sih, ya lilin cairnya, ya proses nglorot*), apalagi di Jakarta. Hehe... Kita mbatik di atas kaos. Aku nggambar sendiri (nyontek sih...), nggambarin di kaos pake canting sendiri, tapi nggak bisa ngasih warna dan nglorot sendiri. Nggak gampang soalnya, dan membahayakan. Lama juga nih proses ini dijalani. Tapi kita maksa mbawa kaos hasil batik-an kita, padahal masih basah kuyup. Akhirnya rencanaku untuk hadir ke nikahannya Ferdi batal deh. Abis, ngapain juga kondangan mbawa-bawa batik basah?

*)Nglorot: proses meluruhkan lapisan lilin dari kain dengan cara merebus kain yang sudah dibatik di atas belanga atau panci besar berisi air mendidih, diaduk berulang-ulang sampai seluruh lapisan lilin luruh.

Tuesday, April 05, 2005

Kecewa... tapi nyata

Dalam beberapa hari ini aku dapat kabar yang mengecewakan.
Pertama, keikutsertaanku dalam lomba rancang busana muslim majalah Noor hanya berakhir sampai tahap nominasi 40 besar. Bukan sesuatu yang membanggakan, karena hanya sekitar 75 partisipan yang ikut serta dalam lomba ini. Sebetulnya aku berharap, paling tidak bisa lolos sampai semifinal-lah. Tapi rupanya Allah punya pilihan yang lebih baik buatku. Yah... setidaknya aku bisa menghemat biaya yang sangat mungkin akan mengalir deras keluar dompetku bila aku lolos bahkan hanya sampai tahap semifinal sekalipun. Yah... disyukuri saja-lah...
Kedua, kuterima kartupos dari Femina, yang ternyata hanya berisikan pernyataan bahwa artikel yang kukirimkan untuk rubrik 'gado-gado' ternyata tidak memenuhi syarat layak muat redaksi. Wuah, kecewa.....! Dan ini bukan yang pertama kalinya. Sudah beberapa kali aku mendapat kartupos serupa. Femina maunya yang gimana sih? 'Dendam' deh. Terus terang, aku belum menyerah. Tunggu saja.
Yah... apapun kekecewaan yang kudapat, kalau sudah diendapkan, dipikirkan dengan kepala dingin, insya Allah ada hikmah yang bisa diambil di balik itu. Untuk saat ini, terima takdir dulu aja deh, dan berarti, harus berusaha lebih baik! Strive for the best!! Don't give up (just yet)!!!

Tuesday, March 29, 2005

Sakit...

Masya Allah... sudah seminggu ini sakit batuk-pilek nggak sembuh-sembuh. (Salahnya sendiri, nggak bener juga minum obatnya!) Pasti ada hikmahnya nih 'dikasih' sakit seperti ini. Mungkin aku terlalu sering 'mengumbar' suara, teriak, bicara yang nggak perlu, dsb-dsb, makanya dikasih penyakit supaya bisa nge-rem kebiasaan jelek. Bisa jadi kan...?
Sementara itu, kerjaan di sekolah juga jadi terbengkalai, nggak terorganisir dengan rapi! Jadi malu nih sama semua orang. Siang tadi sempat bicara dengan seorang rekan yang juga sedang ngalami penurunan semangat. Hehe... kalo nyemangatin orang sih paling bisa deh! Tapi dengan begitu, aku juga jadi terpacu untuk ikut bersemangat, supaya nggak omong doang. Yok ah, mata gambarimasu...!

Friday, February 18, 2005

gundah

Sedang gundah. Nggak bisa nulis panjang-panjang. Kangen sebetulnya, untuk nulis panjang-panjang. Tapi khawatir akan terlalu 'curhat'. Jadi mungkin disimpan untuk sendiri saja dulu.
Sulit ternyata untuk menyatukan dua keinginan. Bagai makan buah simalakama. Kedua konsekuensi berakibat 'fatal'. Malah konsekuensi ketiga berakibat bunuh diri. haha...! Makanya gundah banget. Ingin segera bisa memutuskan. Tapi itulah manusia, seringkali tidak sabar ya. Harus banyak-banyak shalat nih, supaya bisa sabar juga.
Nah... itu aja deh sementara ini. I really got to go.

Salah Satunya... Kok Jadi Banyak.