Saturday, July 28, 2007

Kucing Garong

Sabtu ini aku pulang ke rumah, menemui kiriman majalah Chic langgananku masih tertutup rapat dalam amplop coklat yang biasa. Segera kubuka dan mulai menelusuri halaman demi halaman. Nyaris tanpa pretensi apa-apa. Aku berniat membaca rubrik "Story" sebagai referensi, cerita seperti apa sih yang akhirnya dimuat di sana. Aku sempat mengirim 2 naskah ke majalah ini, dan hingga saat ini belum ada kabar apapun mengenai keduanya, padahal kupikir naskah karanganku nggak jelek.
Sebelum sempat meneliti lebih jauh, aku membaca judul yang tercetak dengan huruf besar. "Kucing Garong". Hey... rasanya judul ini cukup familiar. Bukan karena itu adalah judul lagu dangdut yang kebetulan sedang populer (walaupun aku tak tahu pasti bagaimana lirik maupun melodi lagunya), tapi itu adalah judul cerpen yang kukirim ke majalah ini. Kulirik nama penulisnya, D. Utami. HA!!! Aku tersenyum lebar. Akhirnya karyaku bisa nampang juga di majalah ini. Hm... kapan ya dapat honorariumnya? Hehe...

Friday, July 27, 2007

Kangen...!

Hari-hari belakangan ini sibuk sekali di tempat baruku. Kegiatan hari-hari pertama bersekolah betul-betul menyita waktu dan konsentrasi. Belum lagi aku diminta nemenin bu Zainab di mess. Nggak nyesel sih biarpun aku nyaris nggak bisa ke mana-mana. (Yang jelas sih nggak bisa menyempatkan ke warnet)
Beberapa waktu lalu aku berkunjung ke Salman, menuntaskan urusanku dengan ka.bid pendidikan dan beberapa kolega di sana. Mereka sedang ber'lokaria'. Sibuk-lah dengan berbagai urusannya masing-masing. Sudah baku dan tentu, mengenai apa yang perlu dibahas, direncanakan, dan dijalankan untuk tahun pelajaran mendatang. Wah... jadi kangen banget dengan sistem Salman. Beberapa yang kurasa baik, ingin juga kuterapkan di tempat baru ini, tapi... keterkaitan dengan sistem Singapore membuat langkahku tertahan. Hiks. Semoga muncul hal baru lainnya di sini, dengan keterikatan hati yang lebih mendalam di antara teman-teman di sini. Amiin. Ya Allah... jika ini memang keputusan yang terbaikMu, maka jadikanlah demikian bagiku dan bagi lingkunganku. Amiin.

Tuesday, June 26, 2007

Buang sampah di mana...?

Sebel banget deh, sudah beberapa hari ini aku ada di belakang mobil-mobil yang penumpang dan sopirnya buang sampah sembarangan!
Yang pertama, sebuah mobil kijang bernomor polisi Jakarta ketika kita sedang sama-sama menanti lampu hijau di persimpangan lepas gerbang tol Pasteur. Seorang pejalan kaki membagikan selebaran, mungkin info resto baru atau entah apa-lah. Ditambil oleh penumpang di kursi tengah. Tapi belum lagi berlalu, dibuangnya dengan semena-mena kertas itu ke jalan. HEY!!! Kalo nggak tertarik dengan info di selebaran itu, kembaliin aja, kenapa sih? Nggak cukup dengan itu, menyusul kemudian puntung rokok yang dibuang ke jalan. Sembarangan! Nggak punya keranjang sampah ya di dalam mobil? Kutekan klakson untuk mengingatkan. Iya... iya... Aku tahu lampu masih merah. Aku nggak minta jalan kok. Aku cuma mau ngingetin supaya jangan buang sampah sembarangan.
Yang berikutnya, sebuah kendaraan bernomor polisi "N", dari mana tuh? Lempar tissue dengan ringannya. Tambah lagi tadi pagi seorang penumpang motor membuang plastik sisa batagor ke pinggir jalan (Aku yakin, dari tampilannya, yang dia buang pasti bungkus batagor, sisa sarapannya, kali). Asli, ke pinggir jalan, bukan berusaha membuang ke tempat sampah di pinggir jalan dan meleset. Satu yang paling baru, tadi sore. Kali ini sebuah mobil bernomor "D" membuang gelas plastik bekas air mineral ke tengah jalan!!!. Eh..., orang Bandung ngotorin kotanya sendiri?? Sungguh teganya deh. Lagi-lagi, kubunyikan klakson di belakangnya. Yuk! kita budayakan membunyikan klakson (atau menyalakan lampu dim) di belakang kendaraan yang membuang sampah sembarangan. And let's keep our neighborhood clean...!

Tuesday, June 19, 2007

Kakak Iparku Berpulang

Sabtu, 16 Juni 2007. Sejak pagi menjelang siang, sampe malam menjelang, aku bareng bu Tika. Ke Salman dulu, menggarap lanjutan laporan naratif buat anak-anak kelas 1. 1A, selesai. 1B setengah jalan. Berlanjut bincang-bincang dengan beberapa guru di sekolah, aku nggak makan siang di sekolah (emangnya aku masih di-jatah-in?), akhirnya pergi makan bareng bu Tika dan bu Tia.
Sore, mampir dulu di masjid Salman, numpang shalat ashar, lalu ke Rabbani, nyari kerudung kaos. Aku beli satu, yang warna biru tua, setelah milih-milih cukup lama juga. Sementara bu Tika beli satu kerudung sifon putih. Shalat maghrib di mushala Rabbani, lalu kita berniat pulang.
Ketika kuambil tas di tempat penitipan tas, kulihat handphone-ku berisi 1 pesan baru dan 6 miscall dari ibu. Pesan dari mbak Yayu,"D, tlg doain. Sam dtk jantungnya ga kedeteksi sama aku" DEG!!! Kaget juga. Kutelfon ibu, tadinya mau minta beliau menelfon balik, karena pulsaku sudah di ambang kritis. Tahu-tahu ibu dengan suara tegasnya menyuruhku untuk segera pulang dan berkemas untuk pergi ke Depok karena mas Samuel meninggal dunia sore tadi. Innalillaahi wa inna ilaihi raaji'uun. Tentu tak menunggu lama, walaupun sempat bengong sebentar, aku segera pulang. Telfon-telfonan sama mbak Rani yang kujemput di seputaran Uninus, juga A-Lulu yang bersedia mengantar kami ke Depok.
Sekitar jam 9 malam berangkat dari rumah, sampai Depok sedikit lewat tengah malam. Tasya sedang ngobrol di dekat rumah dengan teman-temannya. Belum mau pulang, katanya. Mungkin takut menangis lagi. Sementara Adam sudah tidur. Kecapekan, mungkin. Setelah menunggui ayah mereka, berjuang melawan sakitnya. Seperti meracau, padahal mungkin 'hanya' untuk mengalihkan perhatian dari sakitnya sakaratul maut, lalu akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya di depan anak-anaknya sendiri! Adam juga diminta memanggil dokter untuk memastikan status meninggalnya mas Samuel. Ke rumah sakit di depan kompleks mereka, Sendiri! Mbak Yayu bolak-balik menerima tamu yang datang takziah. Di depan rumah sudah dipasang tenda dan kursi-kursi yang diurus oleh tetangga sebelah menyebelah. Sementara jenazah terbaring kaku di ruang depan yang dikosongkan. Selamat jalan, mas Samuel. Semoga lapang jalanmu menghadap-Nya.
Umur betul-betul jadi rahasia Allah. Kakak iparku itu belum lagi 42 tahun. Sakit sih... berawal dari lupus (yang sebetulnya jarang banget diderita oleh laki-laki). Lalu setelah beberapa tahun berlanjut jadi komplikasi penurunan fungsi ginjal (atau malah sudah sampai tahap gagal ginjal?), lalu kena heparnya juga. Tapi ini memang sudah jadi takdir Allah. Apapun ikhtiar manusia, kalau sudah sampai ajalnya, tak ada yang bisa mengundurkan ataupun mengajukannya. Almarhum meninggalkan kakakku menjanda dengan 2 anak. Tasya baru didaftarkan ke SMA, sementara Adam baru mau naik kelas 6, dan Evaluasi Hasil Belajar alias ulangan umumnya dimulai hari Senin ini! Padahal, mas Samuel sudah berencana pergi haji tahun ini dan bahkan sudah melunasi ONH. Mbak Yayu nangis lagi ketika bilang bahwa harapannya untuk pergi haji bersama akhirnya pupus. Tak ada yang bisa menghibur selain dirinya sendiri. Dia pun tahu bahwa niat mas Samuel sudah dicatatkan, bahkan mungkin sudah mabrur jika niatnya tulus. Semoga Allah meridhoinya. Amiin.

Thursday, June 14, 2007

Surat Layla

Layla ingin tahu cara berkirim surat. Ponakanku itu betul-betul penasaran dan tak bisa menunggu lagi. Ibuku ditelfon, siapa tahu bisa ngantar Layla ke kantor pos. Sebetulnya ibu baru saja pulang dari bepergian, tapi kemudian segera bersiap untuk pergi lagi, dengan catatan: Layla harus sudah siap ketika dijemput eyang.
Betul saja. Dia sudah berganti baju, menyiapkan bekal makanan kecil dan minuman dalam botol. Kakak juga ingin ikut. Rupanya dia pun ingin tahu proses pengiriman sepucuk surat hingga sampai ke tangan penerima. Maka berangkatlah mereka bertiga ke kantor pos buah batu.
Di depan loket, terjadilah dialog.
"Ini ada anak kecil mau beli perangko, Pak. Berapa biayanya?"tanya ibuku.
"Ah, ini sih dekat... seribu saja." jawab petugas di balik loket.
"Mau dikirim ke mana?" tanyanya lagi.
"Ke rumah eyang." jawab Layla.
"Ya diberikan saja ke eyangnya," kata pak pos lagi.
"Justru itu, saya dari alamat yang tertera di amplop itu." sambung ibuku lagi.
"Tapi anak ini ingin tahu caranya berkirim surat."
Ah... ada-ada saja. Pak pos geleng-geleng kepala sambil tersenyum. Layla menyerahkan kembali amplop yang sudah ditempelinya perangko kepada petugas pos di balik loket, lalu mereka bersiap pulang.
Keesokan harinya, surat itu sudah kuterima.
"tante diah, kalau neng ke rumah nyang lihat kolesi perangko nyah tante diah" ditandatangani, layla. Itu isi suratnya. Asli, tulisan Layla, tanpa campur tangan bunda atau kakaknya. Yang nempel perangko juga dia. Bunda hanya menuliskan alamat di sampul depan untuk menghindari salah alamat. Nah, Layla sudah tahu kan cara berkirim surat? Aku jadi teringat untuk menuliskan surat balasan untuknya. Dia pasti senang mendapatkannya.

Wednesday, June 13, 2007

Virus Attack!

Sejak awal mula kedatangan PC di kantor kita, sebetulnya sudah 'tercium' adanya serangan virus menyelinap diam-diam. Beberapa file menggandakan diri dengan sendirinya, flash-disc yang tak terdeteksi keberadaannya, juga kinerja PC yang jadi lambat (atau emang udah lemot dari sononya? Hehe...). Beberapa teman membawa laptop ataupun PC dari rumah untuk memperlancar pekerjaan. Kalau nggak begitu, antrian di depan komputer nggak akan berhenti-berhenti. Kerjaan kita nggak akan beres deh. Bu Shita bahkan membawa scanner-nya dari rumah untuk kita gunakan. How nice...
Hari ini sebetulnya dateline untuk menyelesaikan target kerjaan kita, tapi tahu-tahu... 3 file bu Reni lenyap seketika. Bu Rima juga kehilangan file. Mbak Indri bilang dia juga kehilangan data. Satu file-ku juga raib, sementara file-lainnya nge-hang melulu. Baru ngetik satu-dua kata saja, nge-save satu-dua kali, tahu-tahu "not responding". Wadduh...! Bikin frustrasi banget deh. Lalu yang katanya recovered file, bentuknya jadi berubah nggak karuan. Watau!!! Terpaksa bikin file baru dan mengulang tahapan kerja copy-paste berulang-ulang. Setiap tahap juga di-save supaya perubahannya terpantau selalu. Akhirnya targetku tak tercapai. Cuma 4 kelas yang akhirnya selesai. Maaf ya, bu Asri, pak Syaiful. Mudah-mudahan besok bisa menyelesaikan sisa kerjaanku. Insya Allah.

Monday, June 11, 2007

Sehari Bersama Bu Tika

Lewat jam 10, disamper bu Tika. Kita mau melewatkan hari bersama, ke banyak tempat. Tangan bu Tika agak bengkak, jadi aku yang mbawa motor. Nyantai aja, nggak seperti kalau bu Tika yang mbawa. Kulirik speedometer berkali-kali, jarumnya menunjuk kisaran angka 30-50 km per jam saja. Asli, nyantai. Hehe...
Pemberhentian pertama, nikahannya bu Reni di seputaran Cijerah. Bu Tika navigator yang baik. Walaupun kita sempat bertanya arah yang harus kita tuju beberapa kali, tapi kita nggak sampai nyasar. Ramai juga di sana. Ketemu beberapa rekan guru juga murid-murid Salman. Serasa reuni kecil.
Jam satu lewat, bu Tika mulai gelisah. Dia harus pergi, sudah ada janji lain. Baiklah... usai penantian menunggu pengantin berganti kostum, ternyata dilanjut dengan sesi foto di kamar pengantin. Tak ingin mengganggu, akhirnya kita pamitan tanpa sempat berfoto bersama pengantin.
Next stop, kita ke Ciburial. Jauh juga tuh, nanjak ke arah utara Bandung, di Dago atas. Aku ngedrop bu Tika di sana, lalu 'turun gunung' lagi untuk mampir ke warnet, dilanjut dengan berkunjung ke rumah mbak Indri. Nggak lama. Sekitar jam 7-an, bu Tika siap pulang. Kita ketemu di depan kantor polisi Cisitu (nggak elit banget deh..), lalu pulang bareng. Masih aku yang mbawa motor.
Tadinya mau makan malam bareng. Bu Tika kelaparan, soalnya di kondangan tadi dia nggak sempat menyelesaikan makan siangnya, keburu diambil petugas pembersih. Rajin banget deh, sebetulnya dia cuma nyimpan piringnya di kursi sebelah sementara dia nerima telefon. Padahal dia baru makan 2-3 suap saja! Makanya lapar. Niatnya mau makan sambil bincang-bincang, tapi akhirnya sudah terlalu malam. Jam 9 kurang dikit. Sudah cukup larut buat kita. Akhirnya kita berpisah dengan janji akan ketemu lagi segera. Insya Allah. Sehari bersama bu Tika, terulang kembali. (pekan-pekan ini kok jadi banyak 'napak tilas' ya? hehe...)

Salah Satunya... Kok Jadi Banyak.