Wednesday, May 28, 2008

Salman Members

Kemarin ketemu Rafil dan Ayyas dengan ibu mereka di FoodCourt favoritku. Rafil dan Ayyas sempat jadi muridku ketika di Salman dulu. Rafil sekarang sudah SMA, sedangkan Ayyas mau naik kelas 6. Mereka duduk nyaris berseberangan denganku, dan memesan yoghurt yang persis sama dengan yang juga kupesan. Aku pesan nasi gudeg dan yoghurt peach (padanan makanan yang nggak biasa sih... nggak matching malah. Tapi biar aja ah, maksa, soalnya dua-duanya enak.) Duduk di tempat favoritku, sambil baca bacaan favoritku juga (nggak boleh disebutin di sini, karena nanti disangka beriklan. Hehe...)
Ngomong-ngomong soal ketemu 'member' Salman, hari sebelumnya juga aku ketemu dengan beberapa orangtua murid (plus muridnya) di tempat lain. 3 keluarga sekaligus!! Yang pertama ketemu Dilla & Diko yang datang bareng ortu mereka. Saling menyapa tapi tentu saja duduk terpisah. Berikutnya, Ketemu mamanya Hafizh & Naufal. Berbincang juga sedikit dengannya. Setelah itu, ketemu ortunya Naufal (yang lain lagi), yang sebetulnya tinggal di Kota Baru Parahyangan. Ketemunya di Bandung. Firas (si adek) menyalamiku dengan semangat. Kalau tidak salah, dia sekarang di kelas 2. Aku sempat mengajar bahasa Inggris di kelasnya ketika dia masih kelas 1.
Waduuh... beberan deh, jadi kangen mereka. Ingin ketemu lagi dengan 'member' Salman yang lainnya. Hubungan yang hangat sesama teman, akrab dengan murid, juga orang tua mereka, wah... kuanggap sebagai privilege yang masih kucari di tempat kerjaku yang baru. Tentu saja ada (beberapa) teman yang sangat... sangat baik kutemui di sini, tapi mungkin standarku terlalu tinggi ya, ingin segera menyamakan dengan Salman yang sudah berumur 19 tahun, mantap dan 'steady' (kelihatannya. Hehe...). Ya, nggak perlu membandingkan deh. Kita yang baru setahun berjalan, kalau diibaratkan manusia, tentu layaknya seperti bayi yang baru mulai berjalan, tertatih. Sementara Salman mungkin sudah jadi 'anak kuliahan' yang sudah pandai berpikir logis dan taktis. Kalau kita seumur itu, mungkin kita akan jadi mitra setara (nggak perlu lebih baik, karena standar mutu sekolah -menurut pendapatku- seharusnya sama baiknya) dengan sekolah-sekolah lainnya. Insya Allah.

Quote of the Day

The world hates change, yet it is the only thing that has brought progress.
Charles Kettering

Filsafat Kamar Mandi

Membaca rubrik Resonansi di Republika Senin lalu (19 Mei), aku tergelitik untuk membaginya dengan pembaca blog yang lain. Filosofi yang bagus untuk ditiru.
Filsafat Kamar Mandi
Ahmad Tohari - Republika
Suatu kali, ketika menghadiri suatu pertemuan, saya diinapkan selama beberapa malam berdua dengan Pak Fulan, seorang tokoh masyarakat. Orangnya tenang, usianya lima puluhan. Selama sekian hari bersama dia, saya mendapat pengalaman yang menarik. Bukan dalam kaitan dengan pertemuan itu, melainkan dalam hal penggunaan kamar mandi.
Saya perhatikan, Pak Fulan selalu meninggalkan kamar mandi dalam keadaan amat rapi, seperti belum dipakai. Lantai kering seperti habis dipel dan peralatan mandi tertata rapi. Bahkan, kaca sudah bersih dari uap air panas yang mengembun. Jelas, Pak Fulan telah mengelap kaca cermin itu. Karena beberapa kali menemukan hal seperti ini, saya bertanya kepada Pak Fulan.
''Bapak selalu meninggalkan kamar mandi dalam keadaan prima. Bukankah itu urusan room boy? Lalu, kenapa Bapak mau repot?''
Pertanyaan itu hanya ditanggapi dengan senyum dan baru dijawab setelah saya mengulangnya dua kali.
''Tidak apa-apa. Saya hanya ingin menghormati pemakai di belakang saya.''
''Tapi, tidak selayaknya Bapak menghormati saya, kan?''
''Ah, siapa bilang? Kita hidup bersama, jadi harus saling hormat. Lagi pula, kita hidup dalam tatanan yang berkelanjutan. Maka, hak-hak mereka yang berada di belakang kita harus kita hargai pula.''
Saya mengangguk-angguk. Dan, pembicaraan putus sampai di situ. Namun, kata-kata Pak Fulan terus terngiang dalam telinga saya, bahkan sampai jauh hari setelah pertemuan itu usai. ''Kita hidup bersama dan berkelanjutan. Maka, hargai hak-hak mereka yang datang sesudah kita.''
Ucapan Pak Fulan ini amat mengesankan. Ini ucapan seorang yang selalu meninggalkan kamar mandi dalam keadaan prima karena dia mau memberi kemudahan dan mengenakkan mereka yang datang sesudahnya. Menurut kata-katanya sendiri, Pak Fulan bermaksud menghormati hak-hak mereka.
Saya membayangkan, jika menggunakan fasilitas umum, Pak Fulan akan bersikap sama; penuh tanggung jawab dan bila sudah selesai akan meninggalkannya dalam keadaan seperti semula atau malah lebih baik lagi. Bila dia seorang pegawai negeri, bila pensiun akan meninggalkan kantor dalam keadaan dan suasana yang kondusif sehingga penggantinya akan bekerja dengan enak. Dan, bila Pak Fulan seorang kepala desa, ketika masa tugasnya habis, dia akan lengser dengan anggun. Ditinggalkan jabatan dan desanya aman-tertib, siap jadi lahan berkembangnya geneasi berikut.
Bila Pak Fulan kelak meninggal? Saya percaya Pak Fulan akan meninggalkan kehidupan yang nyaman bagi perkembangan anak-cucunya. Juga, nilai-nilai dan tatanan yang mendukung kesadaran bahwa hidup adalah hadir bersama-sama dan berkelanjutan. Dan, dengan kesadaran seperti itu, Pak Fulan akan meninggalkan rumah-pekarangan yang terjaga, lingkungan yang diperhatikan kelestariannya.
Sayangnya, dalam kehidupan nyata, amat sedikit orang yang punya falsafah seperti Pak Fulan, yang amat sadar bahwa hidup adalah kehadiran bersama dan berkelanjutan. Kesadaran ini menuntut setiap orang tidak boleh terlalu egoistis. Juga tidak boleh serakah dengan ruang dan waktu serta sumber daya alam yang menjadi jatah generasi mendatang. Kehadiran bersama dan berkelanjutan juga membutuhkan tatanan hidup dan nilai-nilai yang terus-menerus dibangun dan ditaati. Tapi, dalam hal ini pun kita masih amat kedodoran.
Alangkah sering kita mendengar oknum pemimpin, baik sipil, polisi, maupun militer, yang menjual hutan, laut, atau gunung emas secara ilegal sehingga amat merugikan masyarakat dan generasi mendatang. Dalam skala pribadi, alangkah banyak orang yang begitu kemaruk menikmati kehidupan dengan mengabaikan etika dan moral. Bahkan, melupakan kepentingan anak-cucu mereka sendiri. Maka, jadilah kita masyarakat yang mungkin akan gagal membangun hidup sebagai sebuah kehadiran bersama dan berkelanjutan. Menyedihkan, memang.
Ah, ini sudah waktunya mandi pagi. Saya akan meniru Pak Fulan. Bila selesai, saya akan tinggalkan kamar mandi dalam keadaan prima. Dengan demikian, istri atau anak saya yang akan masuk kemudian bisa menikmati kemudahan dan hak-haknya sebagai orang yang datang kemudian terjamin sepenuhnya.

Friday, May 09, 2008

Quote of the Day

Most people have the will to win, few have the will to prepare to win.

Voyage of the Leader

Sebuah puisi yang kukutip dari majalah Percikan Iman edisi April (kalau tidak salah). Timingnya sangat tepat dengan kondisi yang sedang terjadi di sekitarku saat ini. Semoga semua pemimpin di muka dunia semakin menyadari hakikat kepemimpinan yang diembannya. Amiin.
Leader... leader... on the ship
Would you tell me what should I do
With the amanah...?
Hang it on the wall,
Nice painting for proud?
Hold it in my arms?
Carry it on my shoulder,
Burden?

Leader... leader... on the ship
Would you tell me and us...
What you must do with the amanah...?
Hang it on the great walls of your proud,
Admired?
Hold it in your arms of authority...?
Carry it on the solidity of the flowing hour...?
Then let the amanah guide us to do things in the flow.

Wednesday, May 07, 2008

Salah Satunya... Kok Jadi Banyak.