Thursday, October 06, 2016

Saat Sakit, Recovery, Saatnya Recharge Lagi

Alhamdulillah, harus sering-sering bersyukur atas nikmat sehat yang hampir sepanjang tahun aku nikmati. Aku termasuk kategori orang yang jarang sakit. Kalaupun sakit, itu pun biasanya yang ringan-ringan saja sampai kadang tak menyempatkan ke dokter karena cukup diobati dengan obat tradisional dan banyak istirahat saja. Tapi kali ini, sakit datang di saat yang sangat tidak tepat (lagian, kapan sih sakit datang di saat yang tepat? :p)
Jelang akhir term 1, di masa aktivitas di sekolah tempatku mengajar sedang tinggi-tingginya, kondisiku drop gara-gara batuk pilek. Kombinasi antara capek, faktor U, hingga kebanyakan dosa, kali ya, gara-gara terlalu sering mengomel pada murid-muridku. Semoga sakit ini jadi peluruh dosa. Keceriaan terkikis sedikit demi sedikit karena kondisi badan yang tidak fit. Muka ceria akhirnya cuma ada di koleksi foto saja. My healthiness, it is truly my precious moment. Gara-gara sakit, nggak bisa selfie cantik deh untuk sementara waktu. Sabaaar...
Suplemen dan ekstra vitamin C termasuk madu dan perasan lemon hangat tiap pagi sudah kutambahkan di menu harian. Sementara tidur malam sebagai sesi istirahat pun sudah kuperpanjang porsinya. Tapi batuk kali ini disertai demam yang sangat membuat tidak nyaman. Setelah lebih dari 3 hari tak bisa tidur nyenyak karena batuk dan demam, akhirnya aku menyerah, harus ketemu dokter!
Bagaimana mungkin aku tidak menyerah, 'kalah' oleh batuk kali ini? Tak mudah berdiri di depan kelas dengan gangguan batuk bertubi-tubi. Menjelaskan materi atau langkah-langkah pengerjaan project yang akan dikerjakan di kelas jadi tak optimal, apalagi saat harus memberi contoh lagu yang akan diajarkan. Selain itu, 'berbahaya' juga ya beraktivitas intens dengan murid-murid saat sakit, karena berpotensi menulari mereka. Dilema jadinya.
Dalam posisiku sebagai guru, pemilihan waktu untuk 'off' dari aktivitas sekolah jadi pertimbangan yang perlu diperhitungkan dan tak bisa sembarangan. Kupilih hari Senin untuk off sebentar dari kelas. Di hari itu aku biasa didampingi oleh seorang guru musik yang memang mumpuni di bidangnya. Jadi kelas bisa kupercayakan untuk dihandle sang guru musik sejati ;) Titip kelas yaa...
Mengunjungi faskes yang jadi layanan bpjs, jadi pengalaman pertama buatku. Ketika mendaftar sebagai pasien bpjs, ternyata kartu kepesertaanku tertolak. Nama klinik tempatku mendaftar dengan data yang tertulis di kartu ternyata berbeda. Aku mendaftar di Klinik Kiara Husada yang lokasinya relatif dekat rumah, tapi yang tertera di kartu anggotaku adalah Kirana Medika. Tanggung sudah di lokasi, ya daftar saja sebagai pasien umum. Proses periksa berlanjut dengan ambil resep di loket yang berbeda. Mudah dan relatif cepat. Sempat cemas, khawatir uang yang kubawa tak cukup untuk membayar biaya dokter dan resep, ternyata kekhawatiranku tak terbukti. Murah meriah kok berobat di klinik itu. Langsung bertambah sehat satu langkah rasanya mengingat dompetku dalam status aman terkendali ;)
Pulang ke rumah dengan obat di tangan, kembali rasa cemas melanda. Karena aku jarang sakit, aku jadi tak pandai minum obat. Susah sekali meluncurkan obat melalui tenggorokan. Air saja tak mempan untuk memperlancar laju obat. Biasanya air berteguk-teguk bisa masuk tenggorokan, tapi obat tetap tertinggal di rongga mulut. Payah deh. Solusi paling pas adalah keberadaan pisang sebagai 'pelicin'. Caranya? Kukunyah pisang hingga siap telan, masukkan obat, lalu glek. Obat bisa mulus masuk tenggorokan. 
Demi lancarnya makan obat, aku bela-belain deh beli pisang di warung sayur dekat rumah. Beli setengah sisir saja, karena cuma aku yang akan makan pisang ini di rumah. Urusan obat kelar dan lancar. Setelah obat habis, eman-eman deh jaga kesehatan. Udah umur segini sih urusan kesehatan mesti jadi prioritas (sebenarnya, umur berapa pun, jaga kesehatan sih mesti jadi prioritas. Tapi umur segini mesti lebih serius). Benahi gaya hidup supaya lebih sehat. Makan teratur, istirahat cukup, kerja dan liburan seimbang (hmm... ini agak susah) dan doping multivitamin deh.
Dengar-dengar, Theragran-M jadi salah satu multivitamin yang recommended. Searching-searching di dunia maya, produk ini merupakan vitamin yang bagus untuk mempercepat masa penyembuhan. Khasiatnya cukup untuk jadi dongkrak energi sehari. Mengandung vitamin A, B, C, D, E dan beragam mineral yang pas untuk mengembalikan kondisi badan supaya fit kembali di masa penyembuhan setelah sakit.
Nah... pas banget kan dengan kebutuhanku saat ini. Harganya pun masuk akal, berkisar dari Rp 16.800,- hingga Rp 21.000,- untuk satu strip berisi 4 tablet (hasil searching di beberapa toko online). Layak coba nih, tepat di saat aku perlu vitamin yang bagus untuk masa pemulihan. Oke, kalau begitu harus kusempatkan waktu untuk mampir ke apotek dekat rumah dan beli 1.
Stok multivitamin siap untuk 4 hari pasca batuk-pilek. Kebetulan pisang pun masih ada persediaan, jadi urusan telan-menelan multivitamin ini amaaan. Theragran-M ini berupa tablet bersalut gula, jadi nggak akan khawatir pecah di mulut dan menyebar rasa pahit. Setelah ditelan dan masuk kerongkongan, khasiatnya bisa segera diserap tubuh. Hari pertama setelah mengonsumsi Theragran-M, aku langsung 'test drive' dengan beraktivitas seharian, tapi nggak diforsir juga, tetap tidur agak cepat. Mesti sadar diri, mengukur kemampuan badan sendiri. Hari kedua, mumpung libur sekolah, ayo beraktivitas lagi seharian. Berkebun di belakang rumah, beres-beres rumah dan blogging. Disambung dengan jalan-jalan untuk refreshing. Yuk ah, langsung berasa nih bahwa tubuh berangsur kembali ke kondisi 100%. Siap-siap menghabiskan Theragran-M untuk 'recharge' baterai diri supaya sehat dan fit kembali.
Berasa banget nih, ketika sehat, banyak aktivitas bisa dilakukan secara optimal, sedangkan ketika sakit, bukan hanya tak optimal saat beraktivitas tapi bahkan banyak hal tak bisa dilakukan dan jadi kehilangan banyak hal, banyak moment penting. Betul sekali apa yang diwasiatkan rasul dalam salah satu haditsnya, bahwa kita harus memanfaatkan yang 5 sebelum datang yang 5. Salah satunya adalah manfaatkan sehatmu sebelum datang sakitmu. Kesehatan itu berharga dan tentunya harus dijaga, karena memang lebih mudah menjaga daripada mengobati. My healthiness, indeed my precious moment.
setelah obat habis, lanjut multivitamin untuk jaga kondisi
Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Taisho

Sunday, September 11, 2016

Rumah Mungil Impian, Ada di Medan

Komplek perumahan tempatku tinggal saat ini sebetulnya bukan perumahan elite siih. Lokasinya agak menjorok masuk cukup jauh dari jalan utama. Tapi akses menuju jalan utama relatif mudah dan cukup dekat dengan akses pintu tol Buahbatu. Dengar-dengar kabar, material bangunannya berkualitas pula. Boleh cek komplek sebelah deh. Tak heran harganya lumayan bikin lumanyun untuk bayar cicilannya tiap bulan. Aku jadi mimpi pengen punya rumah (lebih) kecil yang pembiayaannya lebih ringan. Jadi searching-searching deh. 
Dan mendaratlah aku di web WIRALAND, sebuah perusahaan pengembang perumahan yang mengelola properti di area Jakarta dan Medan. Menarik. Iseng-iseng serius, aku telusuri ragam informasi di web tersebut. 
Beragam jenis properti ditawarkan pihak WIRALAND, mulai dari rumah sederhana hingga rumah mewah dan tempat usaha. Sebuah banner di web tersebut menjanjikan ketersediaan rumah murah di Medan dengan harga mulai dari 100 jutaan. Whoaa... seriously? Di Bandung sini, dengan harga segitu cuma dapat rumah second dengan kondisi seadanya di pelosok yang kita sebut Bandung coret. Tapi WIRALAND masih ‘berani’ menawarkan rumah baru berharga seratus jutaan di lokasi yang cukup strategis? Jadi pengen pindahan ke sana iih... :p 
Pic: courtesy of www.wiraland.com
Searching lebih lanjut, salah satu lokasi properti yang ditawarkan adalah The Adamaris Residence dengan 3 tipe rumah yang bisa dijadikan pilihan. Rumahnya memang imut-imut, tapi buat the single happy seperti aku sih, cukup banget dong pastinya. 
Pic: courtesy of www.wiraland.com
Tipe paling imut adalah tipe Canary dengan luas tanah 6 x 13 meter. Hunian ini terdiri dari satu kamar tidur, ruang tamu dan kamar mandi yang terletak di luar bangunan utama. Ini mengingatkan aku pada tipe apartemen standar yang pernah kuabrabi di suatu waktu di masa lalu. Dapur tidak tersedia, tapi tak akan jadi masalah besar untuk menambahkan area dapur di bagian belakang rumah yang sudah disiapkan semi permanen. Sementara itu, carport dan area taman di depan rumah sudah tersedia untuk menambah kesan asri di hunian kita. Hasrat berkebunku bisa tersalurkan di situ. 
Pic: courtesy of www.wiraland.com
Tipe yang sedikit lebih besar adalah Castillo dengan luas tanah keseluruhan berukuran 8 x 13 meter. Hunian ini terdiri dari dua kamar dengan ruang tamu dan kamar mandi plus bangunan semi permanen di bagian belakang rumah. Mendandani rumah ini tampaknya tidak perlu budget besar. Sementara itu, membersihkan dan merapikannya tiap hari juga bakalan jadi pekerjaan ringan karena areanya yang relatif kecil. Rumah bakalan selalu nyaman ditinggali karena perawatannya mudah. Mudah dan murah itu kombinasi yang indah yaa... 
Rumah sebagai investasi, baik untuk dihuni atau disewakan, tentu perlu punya daya dukung optimal berupa kelengkapan sarana pendukung yang tersedia. The Adamaris Residence memenuhi persyaratan ini. Lokasinya cukup strategis, relatif dekat ke berbagai sarana umum. Waterpark, Polda hingga Bandara, bisa dicapai dalam hitungan menit saja. Area perumahan menjanjikan kenyamanan berupa akses jalan yang lebar dengan paving block. Sementara itu, penghijauan di area komplek juga menjadi salah satu prioritas bagi pengembang ini. Tim security siap menjaga keamanan di area perumahan, memberi perasaan aman bagi penghuninya. Hal lain yang tak kalah penting adalah ketersediaan pasokan air bersih. Di Adamaris Residence tak perlu khawatir dengan kualitas air, karena pasokan air dari PDAM sudah tersedia. Ah, nyaman sekali tampaknya hidup di sana. 
Pic: courtesy of www.wiraland.com
Di lokasi yang berbeda, WIRALAND menyiapkan River Valley Residence. Rumah tipe 36 yang dilabeli tipe Crystal, dibandrol mulai Rp 106 juta. Hunian dua kamar dengan tampilan simply minimalis ini sungguh menarik perhatian. Tipe lainnya tak kalah cantik, tersedia dengan harga yang tak jauh berbeda. Rumah murah di Medan bukan sekedar angan-angan nih kalau begini. WIRALAND bisa bantu mewujudkan mimpi untuk memiliki rumah kecil idaman. 
Selayaknya, rumah itu bukan sekedar ‘house’, tapi ‘home’ yang memberi kenyamanan dan kehangatan bagi penghuninya. Sebagai investasi ataupun hunian pribadi, kepemilikan rumah akan jadi kesempatan terbaik seumur hidup. Medan jadi salah satu lokasi yang potensial untuk investasi properti, mengingat lokasinya yang terletak di salah satu kota besar di Sumatera. Makanya, ketika rumah murah di Medan tersedia, #AkuInginPunyaRumah lalu diniatkan, diupayakan, dan layak diperjuangkan. 
Setelah mengetahui informasi mengenai rumah murah di Medan, tampaknya langkah yang juga harus disinergikan adalah pencarian peluang kerja di sana supaya bisa sekalian boyongan pindah. Opsi lainnya adalah mencari pendamping hidup kali yaa. Hmm... yang juga murah meriah ada nggak ya di sana? Kalau bisa dapat sepaket sama rumahnya, itu bakalan jadi bonus plus plus. Siap-siap packing dulu deh kalau begitu ;)

Saturday, July 30, 2016

Variasi Olahan Buah, Opsi yang Bikin Happy

Jelang akhir Juli lalu, aku ikut dengan rombongan sekolah dalam acara tahunan yang digelar sekolah untuk mempersiapkan guru-guru dan staf sekolah menyambut tahun akademik yang baru. Judul kerennya sih Teachers Conference, yaa… semacam lokakarya begitu deh. Tahun ini kami menginap di Kampung Sampireun, sebuah tempat yang magis eksotis gitu deh untuk menghabiskan waktu liburan. Eh, tapi kami ke sana bukan untuk berlibur dong ah… 
Pendek kata, mulai Selasa, 19 Juli lalu aku dan teman-teman berangkat ke lokasi, menghabiskan 3 hari di kawasan resort itu, hingga Kamis, 21 Juli. Semua pengalaman dan pengamatan, seluruhnya berkesan mendalam. Tapi... agak salah fokus juga sih, kali, yang ingin ku-highlight di sini adalah sesi makan-makan di sana. Ahahaa… 
Alhamdulillaah, nggak ada ceritanya kami kelaparan di sana. Yang ada malah kenyang sekenyang-kenyangnya, dengan menu sajian yang memanjakan perut dan lidah. Dalam sehari, ada 5 sesi makan dong… 3 sesi makan berat, plus 2 kali coffee break. Makanan yang disajikan di sana, whoaaa… enak-enak semua. Cukup banyak menu dengan kandungan buah di sana. Berasa sekali, karena memang aku suka, dan jadi bahan candaan untuk salah seorang teman yang tidak suka buah. (Suatu ‘keajaiban dunia’, ada orang yang nggak suka buah. Tapi dengan begitu, jatah makanannya bisa kuminta tanpa merasa berdosa, toh dia memang tak suka. Ahahaa… :p) 
Di hari pertama, setiap kamar mendapat jatah buah jeruk sebagai tanda welcome. Buah yang akhirnya berhasil kubawa pulang, setelah sempat di-claim oleh teman sekamarku. Tapi rejeki sih nggak lari ke mana. Akhirnya welcome fruit itu jatuh ke tanganku juga ;)
Selain welcome fruit, sajian buah segar sesekali muncul di meja prasmanan, yang bisa kita ambil sesuai selera. Jeruk, buah naga, semangka, melon, dan pepaya, jadi beberapa yang kuingat sempat tersaji di sana. Pepaya California-kah gerangan? Karena belakangan ini, saat menampak sajian buah, aku langsung teringat buah pasti Sunpride, mengingat kualitasnya yang selalu prima. Selain buah segar, tak jarang juga muncul sajian buah yang sudah diolah. Cocktail buah, tak kalah segar tentunya.
Teringat di salah satu sesi coffee break sore, dihidangkan pisang goreng crispy yang, umm… bagaimana ya menggambarkannya. Manis buahnya, hingga berkaramel di beberapa bagian. Lembutnya daging buah pisang yang ranum, berpadu dengan renyahnya caramel. Ah… sungguh nikmat tak terkira. Sajian menu berbahan buah lainnya adalah puding strawberry yang sangat berasa kesegarannya. Tampaknya buah strawberry segar jadi campuran puding tersebut. Ini pun menghasilkan paduan rasa segar dan jadi penutup sesi makan siang yang menyenangkan. Satu sajian berbahan buah lainnya adalah pie mini dengan isian pure apel dan kismis dengan aroma kayu manis. Sebagai penyuka hidangan manis, aku suka sekali hidangan yang satu ini. Biasanya aku nggak terlalu suka pie karena berdasarkan pengalaman, pie-nya itu berasa tawar atau hambar. Tapi pie yang di sini ini, ennak ternyata….#KasihJempol. Jadi pengen bikin juga yang seperti itu. Siap-siap bongkar koleksi resep sunpride. Mesti ada deh resep pie apel.
pic: courtesy of sunpride.co.id
Dan aku tersesat… Tersesat di antara ratusan resep penganan berbahan buah yang sungguh sangat menggugah selera. Beberapa resep pie apel kutemukan, membuatku bingung sendiri, mana yang mau kupraktikkan lebih dulu. Ada beberapa butir apel granny smith di kulkas, hasil belanja tempo hari. Dan aku pun senyum-senyum senang sendiri mengingat manfaat apel untuk kesehatan, bakal sukses bikin kesehatan makin terjaga, seperti kata pepatah berbahasa Inggris: An Apple a day, keeps the doctors away. Sebetulnya, pepatah itu awal mulanya berbunyi begini: Eat an apple on going to bed, and you’ll keep the doctor from earning his bread. Tapi apapun pepatahnya, itu membuatku kembali menjelajah dunia maya, mencari rujukan mengenai manfaat apel. Beberapa di antaranya, yang dilansir oleh Health India adalah sebagai berikut:
Mencegah penyakit jantung, karena apel mengandung pectin yang dapat menyerap kolesterol. Antioksidannya efektif untuk memerangi kolesterol jahat. Apel juga mengurangi resiko stroke, membersihkan gigi dari noda, membuat kulit lebih sehat dan cerah. Ini idaman banyak orang, termasuk diriku tentunya. Selain itu, apel juga bisa membantu mengontrol pertambahan berat badan. Dengan kandungan seratnya, apel membantu cegah konstipasi dan diare. Apel juga meningkatkan daya tahan saat berolahraga serta mempertajam daya ingat. Yang lebih asik lagi, apel juga menambah sistem kekebalan tubuh hingga dapat melawan kanker dengan kandungan flavonoid yang banyak terdapat di kulitnya. 
Oke deh. Dengan dukungan data begini, aku makin yakin untuk mempertahankan gaya hidup sehat dengan makan buah di keseharian dengan buah pasti sunpride. Dimakan segar begitu saja ataupun diolah jadi penganan lain, sama enaknya, dapat manfaatnya. Segera kutentukan pilihan, print resep hari ini untuk kupraktikkan di akhir pekan ini. Mumpung libur… mengolah buah jadi penganan sehat makin menyenangkan. Makan buah juga jadi makin semangat karena begitu banyak variasinya pengolahannya. Makan buah setiap hari, bikin happy suasana hati. ;)

Wednesday, June 29, 2016

Car Phone Holder Yang Jadi Solusi Ramadan

Ramadan di Indonesia berarti 'hujan' undangan buka puasa bersama. Siap-siap aja untuk wara-wiri ke sana ke mari untuk memenuhi undangan buka puasa bersama itu. Mulai dari kolega sekantor, kawan lama, keluarga dekat dan jauh, rekanan, teman masa lalu a.k.a. mantan (eh...).  Kadang lokasi yang dijadikan spot pertemuan tidak cukup familiar. PascaRamadan pun bisa dipastikan aku akan cukup sibuk wara-wiri untuk silaturahmi, mumpung masih libur. Dalam situasi begini, siap-siap aktifkan apps favoritku untuk menemukan lokasi: waze
Sesekali menggunakan waze sambil nyetir, agak repot juga nih. Saat tangan bergantian memegang kemudi dan sesekali mengganti persneling, ribet betul ketika merasa perlu melihat panduan jalan apalagi sambil memutar kemudi. Asli, ribet! Aku perlu tools baru nih untuk menunjang aktivitasku dengan bantuan navigasi saat berkendara. Aku perlu dudukan ponsel untuk ditempatkan di dalam kabin mobilku. Oke... order satu, bang! 
Pilihanku jatuh pada sebuah car phone holder yang bisa diposisikan di dashboard. Kalau begini, aku bisa lebih fokus mengendalikan kendaraan dan berkonsentrasi pada kemudi. Mata? Cukup sesekali mengecek navigasi ketika menyetir jadi nggak perlu repot bolak-balik memegang ponsel. Tapi ternyata... perlu juga sih sekali-sekali colek-colek layar smartphone-ku. Untuk keperluan navigasi ulang, mengecek rute paling efektif, atau melaporkan kejadian di jalanan semacam macet, kecelakaan lalu lintas dan lainnya. Nah... ternyata penggunaan phone holder ini masih cukup menimbulkan masalah. 
Posisi di dashboard. Difoto tepat sebelum meluncur ke jalanan.
Hypersonic phone holder ini diletakkan permanen di dashboard sehinga aku sebagai pengemudi harus betul-betul pas mengukur jarak pada saat menempatkannya di dashboard. Tergantung jenis kendaraan yang digunakan, jarak ini bisa cukup dekat atau sebaliknya. Pada kendaraan yang biasa kukendarai, Daihatsu Ayla, dashboard terletak relatif jauh dari jangkauan sehingga hal ini agak menyulitkanku saat mengoperasikan maupun saat perlu melihat informasi navigasi.
Penempatan ponsel di phone holder ini pun masih mudah bergeser. Jika tidak dihubungkan pada kabel saat ponsel sedang diisi ulang, maka posisi ponsel sangat mudah bergerak/bergeser seiring dengan dinamika laju kendaraan. Sementara itu, untuk memposisikan ponsel dan kabel pada tempatnya, ini pun tidak cukup praktis karena dudukan ponsel harus dibuka-tutup nyaris seperti bongkar-pasang. Cukup merepotkan yaa, apalagi ketika aku perlu mengambil ponsel. Melepaskan kabel atau mencopotnya dari dudukan, wadeuh... ribet seri kedua nih. :(
Bagaimana dong ini? Mungkin pilihanku kurang tepat ketika memilih phone holder yang satu ini. Well... harganya memang relatif lebih murah dibanding produk sejenis. Tapi familiar kan dengan frase yang satu ini: ada harga ada rupa. Maksudnya tentu ketika kita berani membayar cukup mahal untuk suatu produk, kualitas pun akan berbanding lurus dengannya. Hmm... mungkin aku harus mencari solusi lain untuk masalah ini, yaitu: car phone holder yang baru. Alessaaan... mumpung THR udah masuk rekening nih... ;)
sumber foto: ruparupa.com & aubarn.com.au
Pilihanku kali ini jatuh pada Hypersonic Universal Phone Holder. Dilekatkan di kaca depan mobil, posisinya bisa disesuaikan dengan pengemudi. bisa diatur ketinggian dan kemiringannya. Tampaknya produk yang satu ini bisa jadi solusi ramadan buat bantu saat perlu navigasi ke tempat buka persama atau silaturahmi idul fitri nanti. Yuk ah, beli sekarang, supaya barang bisa dikirim sebelum lebaran. Beli di mana? Di ruparupa.com saja. Kalau masih mau pilih-pilih barang lainnya, bisa sekalian diambil di toko offline dengan fasilitas STOPS (Store Pick-Up Service). Kita bisa langsung mengambil pesanan di lokasi yang sudah ditentukan. Kalau di Bandung, ada di Pick Up Point Ruparupa Plaza IBCC Bandung (Istana Building Commodities Center) ACE IBCC Main Floor & 1st Floor, Jl. Jend. A. Yani No. 296. Harus beli sekarang nih, supaya segera bisa dipakai di akhir Ramadan ini. Mariii...

Thursday, June 16, 2016

Solusi Ramadan? Aku Mau Ruparupa

Ramadan, saatnya untuk lebih sering masak sendiri di rumah. Sebagai single happy, aku jarang-jarang juga sih masak sendiri. Effort-nya besar, seringkali hasilnya jadi mubazir. Sayang banget... :( Gimana enggak, untuk aktivitas menanak nasi, misalnya. Masak sedikit kok jadi boros listrik ya kalau jadi sering pakai rice cooker. Sementara kalau masak banyak, masi itu tak bisa habis sekali dua kali. Kalau dihangatkan lagi, nasi itu mengerak di rice cooker yang kupunya. Memang bukan magic jar juga siih... Rice cooker yang kupunya adalah tipe standar yang hanya punya satu fungsi: menanak nasi, jadi memang tidak ideal juga untuk menghangatkan nasi.
Kalau begini caranya, jadi pengen ganti rice cooker dengan yang mini aja, supaya masak nasi bisa pas untuk dua atau tiga kali makan saja. Sudah intip-intip toko online yang sedia rupa-rupa. Ada salah satu yang kusuka. Rice cooker mini berkapasitas 0,3 liter saja. Asli, kecil, ini... Varian yang warna putih dengan desain yang simpel, pasti terkesan elegan untuk nangkring di meja dapurku. ;)
Tak jauh beda dengan nasi, hal serupa terjadi juga dengan sayur. Sepaket bahan untuk sayur semisal sop atau sayur asem dari warung, bisa kumasak sampai dua kali, praktikkin setengah resep, gitu... Tapi bahkan di saat aku masak hanya sedikit sekalipun, kadang itu pun tak habis kumakan sendiri. Aku makannya sedikit siih... lambungnya kecil. Setelah tumisan atau sup dihangatkan satu-dua kali kok ya masih ada sisa juga. Ujung-ujungnya kan aku terpaksa membuang sisa sayur yang sudah tak baik lagi untuk dikonsumsi. Sayaaaang... 
Sesekali, ingin juga sih menjajal bikin sop buntut atau iga, seperti di rumah makan gitu... Pressure cooker untuk mempercepat proses memasak sebetulnya ada di rumah, peninggalan almarhumah ibu, tapi ukurannya lumayan besar. Sementara aku? Untuk sehari-hari kan cukup untuk masak sendiri saja, nggak perlu banyak-banyak. Aku jadi mengangankan satu pressure cooker baru dengan kapasitas yang lebih kecil untuk dapurku. Lagi-lagi, aku melirik ruparupa.com dan menemukan satu yang cocok dengan kebutuhan. Pengen dong ambil satu untuk Ramadan kali ini, supaya masak jadi makin ceria (apa atuhlah...), tanpa beban pemborosan.
Intip dompet, hheu... agak krisis nih kondisinya. Maksudnya... mau eman-eman buat nambah-nambah belanja lebaran nanti. Coba pasang mata deh di ruparupa.com untuk tahu berbagai promo, supaya bisa dapat harga terbaik. Kita bisa dapat extra diskon 10% kalau memanfaatkan waktu belanja terbaik: Sale on Sahur. Sementara itu, ada juga flash sale di jam-jam tertentu. Mesti rajin-rajin pasang mata nih, siapa tahu produk yang kuinginkan pas mejeng juga di situ. Jika bisa dapat produk dengan kualitas dan harga terbaik di bulan ini, kejaaar...!!! Setelah produk didapat, urusan dapur bisa makin efisien. Ini akan jadi solusi terbaik di Ramadan ini.
Ramadan itu bukan bulan pemborosan. Saatnya mengoptimalkan hal terbaik yang bisa diupayakan. Dengan peralatan dapur terbaik, memasak bisa jadi aktivitas yang menyenangkan tanpa buang-buang waktu, tenaga dan sumber daya. Dengan begitu, nggak ada lagi cerita buang-buang makanan. Sip! Ini akan jadi solusi Ramadan terbaikku.

Sunday, June 12, 2016

Pengalaman Nebeng Nissan Grand Livina - Jadi Pengen ke #PameranMobil

Sudah beberapa bulan ini aku putus hubungan sama si Kukut, mobil yang sudah beberapa tahun kurepotkan untuk wara-wiri ke sana ke mari. Kangen dia... Awalnya sih asik asik aja, tapi dengan lokasi rumah saat ini yang berada agak melipir ke pinggiran kota, menyusup ke kedalaman, tak terjangkau arus transportasi kendaraan umum, rasanya merana juga ketika aku mesti berganti-ganti moda transportasi berkali-kali saat beraktivitas di keseharianku. Rasanya, sudah saatnya move on dan pindah ke lain hati eh...mobil. 
Lirik sana-sini, browsing beberapa web resmi kendaraan, dan tak jarang memanfaatkan kesempatan nebeng mobil sesiapa untuk mencoba mengenali tampilan dan kinerja mobil paling optimal, aku mulai menyusun list mobil yang kurasa layak untuk 'kupinang' sebagai pendampingku selanjutnya.
Dalam suatu kesempatan menghadiri acara pernikahan partner kerjaku di kelas, aku menumpang mobil salah satu orang tua murid ke wedding venue. Kebetulan dia pun mencari teman untuk berkendara bersama, dan aku mencari tumpangan, klop kan kita...? ;) Maka pagi itu, aku janjian untuk ketemuan di gerbang tol Buah Batu. Sebuah Grand Livina putih sudah menungguku, bersama dua muridku dan sang bunda di dalamnya. Yuk kita berangkat ke Garut. Bismillaah...
Perjalanan cukup panjang dijalani dengan nyetir santai walaupun tentu saja sempat digeber cepat di tol hingga gerbang Cileunyi. Keluar tol, kami disambut antrean panjang kendaraan yang menuju ke tujuannya masing-masing. Kendaraan masih bisa melaju perlahan di rentang jalan yang diramaikan oleh pengunjung pasar tumpah di Minggu pagi itu. Tidak terlalu lama setelah itu, kami pun bisa melaju kembali di jalanan lancar menuju lokasi. Jalan raya yang cukup berkelok dengan kondisi yang berlubang di sana-sini dapat ditaklukkan oleh Bunda Ninet dengan ringan, sambil ngobrol ringan ngalor-ngidul, diseling makan minum sepanjang perjalanan. Mengemudi Nissan Grand Livina itu mudah dan menyenangkan walaupun sistem kemudinya bukan matic.
Sementara itu, anak-anak di bangku belakang anteng sekali. Si kakak asyik mengunyah cemilan sambil sesekali terlibat dalam percakapan kami. Sementara adiknya segera tenggelam ke alam mimpi. Kombinasi yang tepat antara kenyamanan kursi berpadu dengan suhu AC yang diset sejuk plus sistem audio seolah jadi pengantar tidur yang pas. Dalam perjalanan pulang, mereka berdua sibuk mengomentari pemandangan yang tersaji di depan mata, juga kanan kiri jalan, tampak jelas dari jendela yang lebar. 
Bagasi belakang pun luas dengan kursi deret belakang yang bisa ‘disulap’ hingga seolah menghilang. Sistem ini didesain untuk memperluas ruang bagasi saat diperlukan. Bisa muat banyak barang nih di belakang, sampai gelar Kasur dan anak-anak bisa nyaman gegulingan selama di perjalanan. Ini mobil ideal juga ya untuk keluarga muda yang bakalan mudik di libur lebaran nanti. 
Aku sendiri? Hmm… sebagai pengguna kendaraan tunggal di rumah, aku masih perlu pilah-pilih mobil terbaik untuk pengganti ‘Si Kukut’. Mungkin aku harus menjadwalkan kunjungan ke pameran mobil dan langsung test drive sendiri supaya bisa menjajal performa Grand Livina dengan tangan dan kakiku sendiri. Siap-siap berkunjung ke ICE BSD-City untuk pasang mata di event Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) mendatang.

Saturday, June 11, 2016

My Favorite Spots at My Home Sweet Home

Home Sweet Home. Frase ini terasa betul saat kangen rumah. Jelang akhir tahun begini jadi masa paling hectic buat seorang guru seperti aku. Kalau sudah dilibas kesibukan kantor, rumah cuma jadi tempat numpang tidur. Tapi jelang akhir tahun pelajaran begini, rumah berubah jadi tempat kerja. Ya… yaa… kerjaan sekolah akhirnya kuboyong ke rumah untuk diselesaikan di rumah. Yang berprofesi sebagai guru pasti ngerti deh... Toss dulu yuuk, sama aku.
Nah, saat membawa hasil kerjaan anak-anak untuk dinilai, ada satu spot rumah yang jadi tempat favorit untuk bekerja: kursi di depan meja makan lipat. Posisinya pas sebagai center of activity. Karena terlindung di balik dinding kamar mandi, ruangan yang terletak di antara ruang tamu dan dapur ini membuatku nyaman bekerja sambil 'buka-bukaan' kerudung tanpa takut terlihat dari luar. Nilai plusnya lagi, kursi itu dekat dengan kulkas dan lemari persediaan cadangan 'makanan musim dingin'. Kalau sudah duduk di situ, dengan laptop menyala di hadapanku, aku bisa betah berlama-lama. Kerjaan kelar? Hmm... kadang banyakan makannya sih daripada kerjanya. Hahaa... :p
Setelah kerjaan kelar, akhir pekan jadi saat untuk mengurusi taman seuprit di depan rumah yang jadi sumber hiburan. Taman kecil ini adalah salah satu area favoritku di rumah baru, jadi spot favorit untuk foto-foto bareng teman yang berkunjung ke rumah juga. Nah, mengurusi si kecil ini kulakukan pagi-pagi sekali . Mencabuti rumput liar dan mengajak berbincang tanaman bungaku di halaman, berharap mereka tumbuh sehat dan rajin berbunga. Bahagia betuuul memandangi mereka mekar bergantian.
Taman belakang pun tak luput kumanjakan. Ada sedikit tanaman buah dan sayur di sana. Setelah puas ngobrol dengan mereka dan masak-masak sebentar, biasanya aku kembali ke spot favoritku, si kursi lipat di ruang tengah, menikmati makan siang sambil berselancar di dunia maya. Walaupun rumahku seuprit saja (bukan berarti aku kurang bersyukur), tapi aku masih bisa menikmati moment indah di rumah, tempat favoritku berada.
Transformasi taman depan rumah dari masa ke masa. Jiaah...
Rumah... sebetulnya seluruh bagiannya adalah tempat paling menyenangkan, karena rumah itu adalah tempat rehatnya raga, berlabuhnya hati. Tapi itu cerita tentang rumahku. Bagaimana dengan kamu? Ayo berbagi juga, aku kok jadi pingin tahu... ;)

Salah Satunya... Kok Jadi Banyak.