Friday, October 15, 2010

Karena Seni Rupa ITB Juga

Narasi 'curhat' yang sebagiannya dipublikasikan di buku Mata Rantai Ganesha, database buku alumni ITB 90. Ide awalnya sama banget dengan Koko, dan ini kumodifikasi. Niatnya mau diluncurkan di buku MaRaGa itu, tapi ternyata gagal terkirim ke panitia pusat, jadilah kusimpan saja. Tapi terasa sayang, jadi kupublikasikan di sini saja ya. ;)
Tahun sembilanpuluh…
fotoku 20 tahun lalu, nongol di situ
Kami tidak masuk ITB lewat jalur UMPTN.
Tapi kami juga masuk lewat pintu sempit yang berdesakan, melalui seleksi persaingan yang tidak kalah ketat. Kartu seleksi UMFSRD yang kami bawa tidak membuat kami diperlakukan berbeda, karena kami warga ITB juga.
Kami tidak ikut OSKM.
Tapi kami juga kena dikerjain senior di dalam fakultas. Betul-betul orientasi studi yang sangat berguna. Bertemu dan berinteraksi dengan senior yang tidak pelit bagi-bagi ilmu, dan swasta(h) yang tidak pelit bagi-bagi hukuman. :p
Kami tidak kenal Kalkulus dan Logaritma. Tapi kami kenal si Kokom dan Arpan yang suka jadi model buat kita berlatih menggambar. Menjelajahi segenap kampus Ganesha untuk mencari objek gambar, mulai daun hingga kuda, hydrant hingga gedung perpustakaan. Menggambar di mana saja, mulai dari ruang studio hingga Taman Ganesha, dikomentari, ditontoni, dan disambangi mahasiswa sampai orang gila. Semuanya bermakna.
Imajinasi, kreativitas, logika dipadu tenaga. Beda suasana dengan masa SMA, kami sungguh-sungguh merasa jadi mahasiswa. Di ITB pula, bangga rasanya. Walaupun orang masih banyak salah-salah duga, lantas bertanya dengan ramahnya, “Sudah bikin lukisan apa saja?” Wuah… cappe deh… Padahal komunitas Seni Rupa, kan isinya bukan pelukis semata. 
Tanah liat hingga batu, bisa jadi media rupa. Cat dan lilin malam, bisa jadi sarana berkarya. Cutter dan pahat, sudah jadi mainan saja rasanya. Begadang sudah tak terhitung seringnya, untuk menyelesaikan tenggat tugas yang tak kunjung henti. Jika kantuk menyerang, cutter dan pahat pun bisa berbalik menyerang. Betadine, kapas dan perban sudah jadi kawan, bahkan UGD Borromeus pun akhirnya jadi tempat ‘kuliah’. Kampus kita, hm… luas sekali ya? ;)
Pasar Balubur menjadi mall terindah, kebun binatang dan penghuninya ikut menjadi saksi.
Tak ada laboratorium bagi kami, tapi kami punya studio untuk berkarya. Walau materi praktikum tak tersedia, kami happy-happy saja (walau kadang sedikit merana), ketika harus membeli crayon dan cat, penggaris ‘ajaib’ hingga cutter, atau ‘sekedar’ kuas yang harganya bisa bikin geleng-geleng kepala. Solusinya: pinjam pada teman saja –minta, tepatnya. Toh kami sama-sama warga Ganesha. :p
Kami sempat merasa minoritas di antara warna-warni jaket himpunan mahasiswa. Tapi kami malah bisa pakai jaket jeans belel. Bintang Merah dengan simbol Gajah cukup memberikan identitas, dan kami bangga karenanya, jadi bagian dari kampus Ganesha.
Sempat juga kami merasa bukan ITB.
Tapi merasa jadi bagian dari ITB lagi ketika daftar ulang bersama di Rektorat Taman Sari. Atau ketika menumpang kuliah di gedung tambang, saat kampus Seni Rupa sedang direnovasi. Atau pula ketika bergabung dalam unit kegiatan kampus, menonton bersama di LFM, berdiskusi seru di student center dan kantinnya, atau berbaur dalam shaf tertata di masjid Salman. Karena kami ITB juga.
Merasa ITB karena sejarah, Seni Rupa ada karena ITB ada.
Lapangan Aula Timur seakan mau bercerita banyak.
Lapangan tengah pun tak kalah ingin bicara, tempat kita biasa berpuisi sore di sana. Lapangan basket jadi saksi, saat pertandingan Ganesha cup diramaikan oleh teriakan mendukung Seni Rupa, dengan para supporter yang tak kalah gila, berdandan dengan pakaian norak warna-warni dan pom-pom boys yang gagah jelita, hingga dukun jadi-jadian yang berlagak menjampi-jampi. Tapi semua adalah teman kami, warga kampus ini.
Tak terasa, sudah 20 tahun serba-serbi kampus kami tinggalkan.
Yang dulu berambut lebat dan panjang, sekarang sudah menipis dan seadanya.
Kenangan seorang teman yang desersi dari opspek gara-gara rambut gondrongnya terancam dibuat botak untuk menunjukkan kekompakan angkatan, membuat kami teringat lagi padanya. Apa kabar kiranya teman-teman semua? Ayo ketemuan, di reuni 90-an.
Jaket Seblu, nggak bisa dikancingin lagi. Hihi...
Jaket kebanggaan masa lalu, apakah sudah pantas diwariskan kepada ponakan? Bukan karena out of date, tapi mungkin karena sudah tak muat gara-gara lingkar pingang yang semakin membesar. Tapi semangat kami masih sama, bermain dan bergembira, tetap berjiwa muda. Dan kenangan indah kuliah di kampus Ganesha, akan kami kenang selamanya, sampai kami tua nanti, sampai mati.
Untuk terus tersenyum sambil mengingat jiwa-jiwa eksentrik kawan-kawan FSRD’90.
Kebersamaan yang telah lewat dua puluh tahun membuat kami rindu saat pertama bertemu di tahun sembilan puluh.
Kami ada untuk melihat segala sesuatu dari sudut pandang lain, menambah keindahan dan menyelipkan bahasa rupa, bahasa yang paling universal yang dapat diterima semua pihak; pintar, bodoh, miskin dan kaya.
Belum banyak rasanya, karya yang kami persembahkan untuk negeri tercinta, walaupun ada beberapa karya seni, hingga karya berteknologi tinggi yang terlahir dari tangan kami yang terasah di kampus kebanggaan ini. Ada pula beberapa pemikiran yang kami kontribusikan, dedikasikan untuk generasi mendatang, semoga berguna. Dua puluh tahun telah berlalu sejak sembilan puluh kami bertemu, waktu sungguh cepat berlalu. Tapi kami masih ada, dan masih mampu berkarya tanpa pamrih, tidak peduli orang lain peduli.
Cinta kami pada ITB tak akan pernah pupus, dan kami akan terus ada untuk ITB. Sekarang dan esok hari, tulus murni tanpa basa basi. Untuk ITB, untuk sembilanpuluh, untuk bangsa dan negara, bahkan untuk dunia.
Bukan mimpi rasanya. Karena jejak kami ada di mana-mana, mulai pendidikan dasar hingga perguruan tinggi ternama, di pelosok Indonesia hingga manca negara, tapi semuanya masih tetap satu nama, Indonesia. Dari Ganesha, untuk dunia!
Kami akan terus ada hingga akhir hayat. God with us all!

Tuesday, October 12, 2010

Setelah 20 Tahun Tak Bertemu...

9 Oktober 2010, kampus Ganesha ramai 2 kali lipat. Selain sibuk dengan persiapan Pasar Seni yang digelar di tanggal unik, 10-10-10, kampus Ganesha 10 juga 'diserbu' oleh 'gerombolan' kaos hijau, alumni 90 ITB. Ada event reuni akbar angkatan ini, dan aku senang termasuk salah satu di antaranya. 
Melihat teman-teman satu angkatan berkumpul bersama, wah... riuhnya. Banyak juga yang terbawa euphoria masa muda, pada narsis berfoto bersama. Di depan gerbang, di depan back drop acara, di selasar ruang kuliah, di tangga kampus, wah... pada intinya sih, di mana-mana. Nggak ada satu titik pun yang luput dari bidikan lensa kamera yang kami bawa. Kampus ITB sudah banyak berubah, ternyata, jadi kami asyik-asyik aja berfoto di mana-mana ;)
Pasukan hijau warnai kampus Ganesha, berfoto di mana-mana.
ITB jadi lautan hijau, warna kaos reuni yang kami kenakan di pagi hari. Tak ada rona cemas di hati kami, tak seperti 20 tahun lalu saat pertama kali resmi menjejakkan kaki di kampus Ganesha sebagai mahasiswa baru. Senyum ceria tampak di sana-sini, tulus bukan cuma tebar pesona seperti saat muda dulu. Jadi komunitas Ganesha, bangga tentunya, walau tebar pesona pun, apa gunanya? Lha wong pesona yang ditebar, ya... ke anak-anak kampus Ganesha juga. Sama saja kan? :p
Saat ini, 20 tahun sejak pertama kali kami bertemu, banyak wajah-wajah yang berubah. Wajah-wajah para pengusaha ataupun pembuat keputusan. Wajah-wajah pendidik maupun peneliti. Wajah-wajah yang telah matang ditempa pengalaman. Tapi satu-dua, ada juga wajah yang relatif tak berubah, sehingga sangat mudah dikenali. Semua berbaur bersama, sebagai alumnus ITB yang jaya. Viva ITB, in persevero progressio. Bersama dalam kemajuan yang berkelanjutan.

Monday, September 20, 2010

Berkelana Bersama Sammy

Jelang akhir liburan, akhirnya aku berkesempatan mengajak kakak dan keponakan-keponakanku untuk nonton film bareng. Nonton film 3 dimensi, pengalaman baru buat mereka. Sengaja ngajak nonton di hari kerja, supaya harga tiket nggak terlalu mencekik leher :p
Bersama Layla, di depan poster timbul Sammy's Adventure
Melihat petualangan Sammy si penyu dengan beragam ikan dan biota laut lainnya yang seolah-olah ada di depan mata dan bisa terpegang tangan, seru dong... Kabarnya, ponakan-ponakanku jadi ketagihan nonton film 3D lagi. Hm... Kalau itu sih, udah tinggal urusan ibu-bapaknya aja deh. Hehe...

Wednesday, September 15, 2010

Batik Depok, Ikon Sebuah Kota

Ngakunya sih pecinta batik… hingga blog-ku pun bertajuk batikmania. Tapi sebetulnya… kurasa aku bukan betul-betul penggila batik. Ya, aku memang ingin jadi kolektor beragam batik Indonesia, dan dengan begitu ikut melestarikan warisan budaya ini. Namun apa daya, dompet tak cukup berisi. :p
Batik gitu loh… Yang asli, apalagi batik tulis, tentu harganya tidak murah. Aku sih setuju setuju saja, jika dengan begitu kita bisa memberi apresiasi kepada para pengrajin batik. Aku tahu bagaimana ‘susahnya’ membatik. Berpanas-panas di depan kompor, menggambar dengan bantuan canting yang sekali gores tak boleh salah, atau menstempel pola pada kain, lalu mewarnai dengan bahan kimia yang bisa merusak kulit, setelah itu melunturkan lilin dengan rebusan air mendidih, wah… pada intinya, membatik itu bukan pekerjaan yang mudah. Jadi, sudah selayaknya sehelai kain batik dihargai dengan harga tinggi.
Apalagi saat ini batik sudah diakui oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia. Alhamdulillah… Tak boleh lagi dong di-claim oleh negara lain, apalagi oleh negara tetangga yang suka ngaku-ngaku itu. :p Apresiasi kita terhadap budaya bangsa sendiri ini, harus semakin tinggi. Kalau memang punya uang, jangan ragu untuk membayar lebih, toh keuntungannya untuk bangsa sendiri.
Berbagai daerah menggunakan batik sebagai sarana eksistensi diri alias ikon daerah. Setahuku, ada beberapa daerah yang sudah merancang motif batik sendiri, termasuk Depok. Melalui sebuah lomba desain motif batik, diluncurkanlah batik khas Depok itu di tahun 2009 lalu. Beragam hasilnya, semua indah dan menampilkan ciri khas Depok. Yang sangat kentara terlihat adalah pola/gambar irisan buah belimbing yang memang telah menjadi ikon kota Depok.
Paduan motif dan warna harus dirancang secara cermat agar dapat memperlihatkan ciri khas Depok, agar terlihat berbeda dengan daerah lainnya. Beberapa desain yang membuatku tertarik, kudapat gambarnya dari situs jejaring facebook dan kupampang di bawah ini.
Motif irisan buah belimbing yang menjadi ciri khas Depok dipadu dengan sulur-suluran dalam paduan warna merah-terakota terlihat anggun. Bapak Toni sang perancang motif terlihat luwes menggambarkan bagian demi bagian motif batik ini. Cukup sederhana, sebetulnya, namun rancangan ini pastilah dibuat dengan penuh ketekunan dan kesabaran untuk menghasilkan yang terbaik.
Yang berikutnya, batik Depok hasil rancangan bapak Fatlan. Desain kali ini relatif lebih rumit dari yang sebelumnya, Masih mengambil esensi irisan buah belimbing sebagai ikon kota Depok, rancangan batik ini dipadu dengan gambar sulur-suluran dan ornamen dekoratif lainnya, membuat desain ini secara keseluruhan terlihat kaya. Pengisian bidang dengan ornamen dekoratif yang berupa rangkaian garis yang berliuk-liuk tentulah juga memerlukan kesabaran dan ketekunan dalam mengolahnya. Nilai-nilai ini diharapkan dapat juga tumbuh di kalangan warga Depok. Semoga…
Selain nilai-nilai keutamaan yang diharapkan keberadaannya di kalangan warga Depok, produksi masal batik ini pun akan mendongkrak sektor ekonomi secara signifikan. Pengrajin batik dapat terus berproduksi dan mendapatkan keuntungan dari hasil penjualan batik ini, termasuk juga industri terkait, hingga melibatkan pengrajin batik di Solo. Depok bagi-bagi rejeki-lah... ;) Sementara itu, masyarakat Depok pun diharapkan agar memiliki kebanggaan dengan mengenakan batik khas ini. Kabarnya, walikota Depok sudah memberikan instruksi agar pegawai di lembaga pemerintahan dapat mengenakan busana batik Depok dan mendukung penggunaan batik serupa di kalangan yang lebih luas. Dengan demikian, terwujud rasa kebersamaan yang padu di kalangan warga Depok. Suatu upaya yang bagus, kukira. Aku sendiri, walaupun bukan warga Depok, mau juga dong batik Depok… ;)

Tuesday, September 14, 2010

Depok, Sebuah Kota Dengan Tangan Terbuka

Lebaran lalu, kakakku dan anak-anaknya kembali berkunjung ke rumah kami di Bandung. Setiap tahun selalu begitu. Rutin dijalaninya. Transportasi Bandung-Depok saat ini, tidak sulit lagi. Jika dulu aku bolak-balik Bandung-Depok dengan bus harus ‘transit’ dulu di Bogor atau Kampung Rambutan, sekarang tidak lagi. Ada rute bus khusus Bandung-Depok yang kini sering kugunakan jika aku perlu berkunjung ke rumah kakak di Depok. Kakak dan keluarganya, lebih sering membawa kendaraan sendiri, dengan rute perjalanan yang nyaman melalui tol Cikunir, sambung menyambung hingga tol Padaleunyi. Sungguh perjalanan yang tidak lagi merepotkan.
Aku sendiri, belum pernah membawa kendaraan sendiri ke Depok. Kalaupun aku beberapa kali ada urusan di Jakarta, aku masih sering numpang menginap di rumah kakak yang terletak di Depok. Tapi kendaraan? Aku lebih suka memanfaatkan fasilitas angkutan umum saja deh. Sebagai sebuah kota satelit dari Jakarta, Depok memiliki akses yang makin lama makin mudah saja. Mulai ojek, angkutan umum, bus, hingga kereta api, semua mendapat tempat di Depok, walaupun keberadaannya tentu saja membuat lalu lintas di Depok, juga dari dan menuju Depok makin lama makin padat saja.
Kemacetan tak terhindarkan ada di mana-mana, sementara perilaku pengemudi juga tak jarang gila-gilaan, menerjang segala jalanan berlubang sesukanya saja. Belum lagi pengendara motor yang menyalip dari kanan dan kiri dengan lihainya. Wah… tak jarang aku ‘memuji’ mereka, tapi tentu saja was-was juga. Kalau aku yang mengendarai mobil di Depok, wah… alamat bakalan terjaga selalu. Alert! Tapi lama-lama mungkin jantungan juga, atau malah kebas dan mati rasa :p Sisi baiknya, kondisi itu membuat kita belajar sabar dan ikhlas, dan banyak-banyak berdzikir di dalam kendaraan. Sama sekali tidak jelek, bukan? Hikmahnya kita bisa cepat sampai tujuan, dan... makin dekat pada Tuhan sepanjangnya dzikir yang dirapal sepanjang jalan. Bukankah itu baik? ;)
Belasan tahun berlalu sejak pertama kali kakakku menetap di Depok. Saat ini kota itu sudah berkembang sangat pesat. Pusat perbelanjaan, jangan ditanya… banyak tersebar di seantero Depok. Mulai dari Tiptop, Depok Plaza, Depok Town Square hingga Margo City, semua bisa dicapai dengan akses yang begitu mudah. Gebyar potongan harga yang selalu ada, wah… membuat kita tak boleh sering-sering berkunjung ke sana jika ingin isi dompet tetap selamat ;) Tapi justru hal inilah yang membuat laju roda ekonomi di Depok berputar kencang. Banyak tenaga kerja terserap, yang ujung-ujungnya, memakmurkan warga juga kan? Salut-lah untuk Depok.
Kota yang lahir kembali 11 tahun lalu ini, semakin berkembang saja. Depok yang ’berubah wujud’ dari sebuah kota administratif ini telah berubah menjadi kotamadya, dan kini bisa disejajarkan dengan Bogor, Bekasi dan Tangerang sebagai sebuah kota yang maju dengan dukungan infrastruktur yang memadai. Seperti Bogor, salah satu Perguruan Tinggi besar di Indonesia, ada di Depok. Universitas Indonesia sepertinya sudah bedol desa, transmigrasi ke Depok, menjadikan kota ini sebagai salah satu pusat pendidikan tinggi terpercaya. Dengan kampus yang luas dan asri, UI masih selalu menjadi salah satu perguruan tinggi favorit putra-putri terbaik bangsa ini. Satu poin lagi untuk Depok.
Dengan adanya salah satu Perguruan Tinggi terbesar dan tertua di Indonesia, Universitas Indonesia yang telah menjadi ikon Depok, ditambah dengan perguruan tinggi swasta lainnya, Depok menjadi ramai dengan banyaknya pendatang dari berbagai daerah, terutama tentu saja mahasiswa yang notabene pintar dan terpelajar. Tak lama lagi, Depok bisa menyaingi Yogyakarta dan Bandung dengan predikat sebagai kota pelajar juga.
Lagi-lagi berkait dengan roda perekonomian, banyaknya pendatang ini tentu saja membuat bertumbuhnya sebuah bahkan beberapa peluang bisnis baru bagi warga setempat. Mulai dari pengadaan tempat kost, servis cuci-laundry pakaian dengan harga mahasiswa, warung makan, rental komputer, perpustakaan, dan… tinggal sebut saja, banyak peluang bisnis ada di sana. Depok makin berkembang, dan hanya tinggal menunggu waktu, ketika usai lebaran nanti, Jakarta tidak lagi jadi tujuan utama para perantau yang ingin mengadu nasib, tapi Depoklah yang akan jadi tujuan berikutnya, yang akan menerima para pendatang itu dengan tangan terbuka.

Sunday, September 12, 2010

9-11, Masa Lalu dan Masa Kini

11 September, 9 tahun lalu. Kulihat peristiwa runtuhnya gedung tertinggi di Amerika itu dari siaran berita televisi yang diulang-ulang, di stasiun televisi mana pun. Sebuah tragedi sedang terjadi. Runtuhnya gedung kembar yang jadi lambang kepongahan Amerika itu menjadi headline di mana-mana. Ribuan orang menjadi korban, tua-muda, laki-laki dan perempuan, dan coba bandingkan korban muslim dan yahudi. Jika Anda punya datanya, mungkin Anda pun akan tercengang karenanya. JIKA data itu terbongkar.
Tahun ini, 9 tahun setelah tragedi itu terjadi, rencana didirikannya sebuah masjid di ground zero di-counter oleh rencana pembakaran masal al-quran yang diusulkan oleh seorang pendeta di Amerika, pendeta Jones. Dia sangat menentang rencana pembangunan masjid di tempat runtuhnya gedung kembar itu. Menurut dia, hal itu akan menyakiti warga Amerika. Berita itu, tentu juga menyebar dan sampai ke belahan dunia mana pun. Sebagian orang menyambut "gembira" rencana itu dan bersiap melaksanakannya, sementara tentu saja umat Islam di seluruh dunia protes berat!!!
Presiden SBY mengirim nota khusus untuk presiden Amerika, Barrack Obama, agar dapat melakukan langkah-langkah 'penertiban' untuk meredam aksi yang dapat memicu kemarahan muslim di seluruh dunia. Beliau menindaklanjuti dengan cukup sigap, kukira, sehingga tampak olehku dalam berita di salah satu televisi swasta, pendeta Jones menyatakan untuk mengurungkan niatnya melakukan aksi pembakaran al-quran dalam rangka mengenang runtuhnya gedung kembar WTC 9 tahun lalu itu. Tapi sebagai imbalannya, dia meminta agar pembangunan masjid di ground zero dibatalkan. Dia dan imam masjid sudah berdialog dan keduanya telah mencapai kata sepakat. Rencana pembangunan masjid di Ground Zero dibatalkan, begitu pula aksi masal pembakaran al-quran yang diprakarsai oleh pendeta Jones.
Peristiwa 11 September 9 tahun yang lalu memang sebuah tragedi, tidak saja bagi bangsa Amerika, tapi juga bagi warga dunia. Aku bersimpati pada para korban, dan ikut mengutuk pelakunya. Hari ini merupakan peringatan bagi kita semua, mengingat tragedi besar yang terjadi di belahan dunia sana. Tapi kupikir, tak selayaknya peristiwa itu dikenang dengan cara-cara kekerasan. Apakah tidak mungkin seluruh penduduk bumi ini bersatu padu membangun perdamaian dunia, tanpa perlu memandang suku bangsa, ras, dan agama. Damainya...
Masa lalu menjadi tempat kita bercermin, sedangkan masa kini menjadi ladang amal kita untuk berkarya, dan masa depan adalah tujuan yang akan kita raih untuk mencapai sebaik-baik kualitas hidup. Bisakah kiranya...?

Saturday, September 11, 2010

Idul Fitri Kali Ini...

Pertama kalinya kami jalani tanpa ibu. Berbeda, tentunya, tapi tak boleh berlama-lama terlena dan malah tak berbuat apa-apa. Tetap mensyukuri kebersamaan bersama keluarga. Tiga kakak dan dua keponakan menginap di rumah dan menyiapkan banyak hal bersama-sama. Kami bahkan memasak ketupat ketan, sama seperti yang biasa ibu buat setiap tahun di hari lebaran. Rasanya? Sama saja, serasa ibu masih ada... :)
Silaturahmi dengan kerabat, tetap kami lakukan. Adik-adik ibu kami telefon satu-persatu. Kakak tertua yang kuminta untuk mewakili kami berbicara. Kami cukup titip-titip salam ;) Walau tak dapat bertemu muka, biarlah suara jadi penyambung sua.
Taqabbalallaahu minna wa minkum
Shiyamana wa shiyamakum
Selamat Idul Fitri 1431 Hijriah
Mohon maaf lahir dan batin

Salah Satunya... Kok Jadi Banyak.