Wednesday, June 14, 2006

Chat Session

Baru kali ini aku chatting sampe terharu-biru. Berasa nih mata sudah berkaca-kaca. Gara-gara ngomongin seorang teman yang kukhawatirkan. Aku juga sih yang ngerasa 'ditinggalin'. Nggak cuma sekarang sih kejadiannya. Jadi ngerasa nggak berguna. Feel like nobody want me. I'm just nobody myself.
Sejarah seolah membuktikan. Sejak jaman sekolah dulu, kok rasanya aku selalu aja ditinggalin temen. Rasanya aku nggak jahat sama mereka, they just don't wanna be my friend no more. But it hurt!!! Once, twice, then I get used to it. I try to become a solitary person instead. Sejak SMA jadinya aku berusaha berteman dengan banyak orang. Jadi, kalau ditinggal oleh satu orang, nggak begitu kerasa (sakitnya). Toh masih punya banyak teman lain. Haha... Atau sekalian aja, no friends around.
Aku senang berada di tengah-tengah banyak teman baik, dan itu adalah perasaan yang betul-betul menghangatkan hati. Tapi kalaupun harus sendiri, I just have to survive. Though no one ever want you, just be tough, Dee! And let Allah be your only 'friend'.
BTW, here are some of a bunch of my friends. Thanks for being my friends, buddy. (At least, at the moment. I have no intention to leave you, but if you need to, don't hesitate. Its your right, anyway. All I can do is ... just say farewell and wish you all good luck!)

Sunday, June 11, 2006

Kabar hari ini

Pagi tadi aku dapat kabar bahwa pertemuan ‘kantin menulis’ W2C dibatalin. Rencana yang sudah kususun hari ini, ya gagal total jadinya. Tapi nggak nyesel juga, karena dengan begitu aku bisa nonton Oprah Show di Metro TV, bisa nyelesaikan cucianku 2 putaran, dan bisa banyak-banyak latihan menulis di komputerku.Ya jurnal harian, ya ng-edit beberapa naskah cerpenku, juga sempat keidean untuk bikin naskah tulisan buat dikirim ke majalah Noor. Siapa tahu dimuat…?
Oya, menjelang sore tadi, sekitar jam setengah 3-an, Kayo nelfon dari Jepang. Hontouni Nihon kara da yo! Dia mungkin ingin ‘sekedar’ menanyakan kabarku pasca bencana gempa Yogya akhir bulan lalu. Alhamdulillah, watashi wa genki desu. Sayang suaranya agak terputus-putus, dan aku nggak tahu gimana bilangnya dalam bahasa Jepang. Hehe… Aku akhirnya cuma bilang, mata me-ru de renraku suru ne…! Dia juga minta nomor telefon genggamku. Via handphone malah mungkin akan lebih baik kualitas suaranya, selain nanti bisa juga SMS-an. Hai, douzo. Mattemaaasu.

Saturday, June 10, 2006

Jumat Sore Berseri ;)

Hari Jumat, sibuk-sibuk enggak nih. Ada anak-anak sih, tapi aku nyaris nggak ke kelas, bahkan buku penghubung pun ‘digarap’ partnerku initiatively. Thanks.
Pagi kuawali dengan menyelesaikan tugas-tugas untuk melengkapi persyaratan calon guru berprestasi. Dua hari kemarin kulewatkan overtime di sekolah sampai jam 7-an, menggarap penulisan karya ilmiah yang disyaratkan. Hari ini harus di-print dan dijilid. Ah… biasa deh, kalo lagi ada perlunya, lagi buru-buru, addaaa aja masalah. File-ku di dokum komputer 4C nggak bisa diakses dari komputer di ruang guru. Kontak-kontak ke lab.komp, untungnya Pak Amin bisa turun tangan mbantu troubleshoot. Terima kasih ya. Karya tulisku selesai diprint. Done. Syarat lainnya, SK penugasan terakhirku dari Salman, surat-surat keterangan dari sekolah, copy piagam penghargaan maupun keikutsertaan, pas foto, dan… apa lagi ya? Itupun mesti dijilid dan dikirimkan. Wakur yang berangkat mengantarkan berkas. Done.
Satu lagi tanggung jawabku adalah menyelesaikan penulisan berkas soal ulangan umum. Berkas kelas 4 sudah beres, bahkan mungkin sudah diperbanyak dan dipak. Berkas soal untuk kelas 1 baru selesai diperiksa wakur, dan harus segera kuselesaikan. Biasalah, mesti nggambar-nggambar, nebelin sketsa, dst dst. Inipun, selesai. Alhamdulillah.
Sorenya, acara evaluasi sekolah. Sebetulnya lebih banyak info-info belaka. Mulai dari perkembangan rencana kegiatan tasyakur akhir tahun, kompetisi PAIKEM seperti tahun lalu, rencana lomba antarguru (seperti pingpong, bulutangkis, niup balon, dsb deh), lalu juga ada pengumuman komposisi WK-AWK. Ini kayaknya yang ditunggu-tunggu para guru. Sudah 3 kali diumumkan dengan kali ini, dan komposisi selalu berubah. Selama ini aku selalu diposisikan di kelas 4 sih, dan ternyata… kali ini juga. Tapi lagi-lagi seperti tahun lalu, aku belum punya partner. Katanya sih akan dipasangkan dengan guru baru berlatar belakang matematika. Mudah-mudahan dapat partner yang bersemangat tinggi, supaya aku juga tertulari. Hihi… Mungkin agak repot karena mesti jadi mentor dan ngajarin ini-itu, terutama berkaitan dengan budaya Salman, tapi ya nggak apa-apa sih, selama dia juga bersemangat ingin tahu dan siap berpartisipasi. Kalo dia semangat, masa aku mau kalah sih? Jadi senior mesti bisa ngasih contoh ya. Sok lah, bismillaah. Dipasangkan dengan siapa aja, aku mesti siap.
Bubaran dari aula SD, kulihat Tika dan Ocha sedang duduk-duduk di pelataran lokal kelas 1. Matching aja, dua-duanya berbaju biru muda, dan… aku juga lho! Ocha pake nuansa biru-putih, Tika berkaos biru plus celana hitam, sedangkan aku rok biru muda dengan blus dan kerudung hitam.
“Hey, mau berfoto bareng lagi nih?” sapaku kemudian.
“Temanya biru, kali ini.” Beberapa waktu lalu kita emang pernah spontan berfoto-ria gara-gara nggak sengaja kompakan berbaju hitam-putih ke acara ngabuburit bareng UJ. Hari ini, kebetulan aku bawa kamera digital.
Mulanya kita bergaya di tangga kelas 2, pake self-timer dong. Abis itu, pindah ke playground SD. Ocha dan Tika yang mau, tapi akhirnya kita sukses juga berfoto bareng bertiga di undak-undakannya. Aku sampe kesandung-sandung di pasir gara-gara niat banget nge-set timer di kameraku lalu lari bergabung dengan Tika dan Ocha di seberang. Westri yang lihat kejadian itu akhirnya mbantuin motretin kita. Dan hasilnya, Cheese!

Wednesday, June 07, 2006

Moment tadi malam, 7 Juni 2006

Akhirnya Evi cerita juga tentang rencana dia. Kondo no shichi gatsu ni, kanojo no kekkon suru yotei mo tatemashita tte. Kanojo no ryoushin kara, midori shingo mou ageta. Ibrahim-san kara mo ii jouhou attasou desu.
Sepanjang perjalanan dari sekolah sampai penggalan perbincangan di dalam angkot biru, dia bilang bahwa ortunya udah betul-betul ngasih lampu hijau untuk rencana masa depannya itu. Kanojo no kareshi (kana…?) mou “kuru hazu” datte. Tiket sudah didapat, surat-surat sudah diurus, tapi persiapan lainnya semacam gaun, catering, undangan, dan lain-lain, Evi bilang dia belum nyiapin. Katanya sih masih trauma sejak kegagalannya beberapa waktu lalu. Takut gagal lagi. Biar yang di Cirebon aja yang ngurusin, gitu kata dia.
Ketika kutanya tentang rencana back-offnya dia dari Salman, dia nggak ngerespon baik. Harapanku, dia bisa ngasih berita atau paling sedikit petunjuk ke pimpinan sekolah yang menyatakan bahwa dia akan berhenti kerja di tahun pelajaran mendatang, supaya pihak sekolah bisa siap-siap nyari penggantinya, nggak perlu pake acara dadak-dadakan seperti yang sudah terjadi beberapa waktu ini. Kasus Tari beberapa tahun yang lalu yang bela-belain segera nikah dan turut suami, berefek ninggalin kelas di tengah semester. Setelah itu giliran Intan, Pak Aang, dan bu Ovi yang dipaksa mundur segera karena lolos seleksi PNS tahun kemarin, abis itu kasus bu Ismi yang juga terkesan dipaksa keluar, sebetulnya berbuntut kelabakannya pihak sekolah mencari pengganti mereka (Ya salah manajemen yayasan juga, sih, sebetulnya…). Belum lagi kasus Umi yang buru-buru hengkang dari Salman, dengan pengganti yang kayaknya nggak bisa survive dalam waktu cepat, jadinya ngorbanin anak-anak yang justru perlu penguatan menjelang masa kenaikan kelas ini. Umi bilang, dia jadi sempat nggak enak hati juga dengan keputusannya. Nah, kalau nanti Evi ikutan berlaku serupa, jelas aku nggak akan suka. Ya kusayangkan aja kalau ternyata justru teman-teman dekatku yang ternyata bikin sekolah kita jadi gonjang-ganjing. Nggak usah pertimbangkan nama baik Salman deh kalo emang nggak suka, tapi lihat sekolah Islamnya. Malu euy kalo pergantian guru ‘begitu dinamis’ dengan kualitas yang belum bisa dijanjiin, tapi uang pangkal dan SPP dll begitu besar. Aku sendiri malu hati karena belum bisa ngasih kontribusi terbaik, tapi aku masih terus berusaha. Dan paling nggak, kalaupun aku harus keluar dari Salman kelak, mudah-mudahan aku bisa konsisten menyelesaikan tugasku sampai periode semester berakhir, dan nggak mesti pake acara mendadak-dadak yang bikin kacau sistem sekolah, ritme belajar anak-anak, juga partner dan rekan kerja se-tim atau se-level.
Kembali ke ‘kasus’ Evi, ini jelas otoritas dia untuk memutuskan apapun. Sebagai teman yang (merasa) dekat dengannya, aku mungkin nggak berhak untuk ikut campur dan menyarankan apa-apa. Tapi setidaknya aku sudah menyatakan pendapat dan sikapku. Soal dia mau terima atau nggak, itu bukan urusanku lagi. Then, no further comment for you. Just do what you want to do, Vi. . . .
(Sejak kupersilakan mbaca posting ini, rasanya Evi jadi agak menjauh. Atau aku aja ya yang perasa? Emang sebetulnya Evi nggak deket-deket amat sama aku. Hehe...Aku aja yang ke-Ge-eR-an)

Tuesday, June 06, 2006

Ditodong

Ekor dari lomba mengajar yang kuikuti beberapa waktu yang lalu (lihat Lomba Mengajar vs 6th Sence dan Lomba Guru dan Siswa di posting Maret 2006)ternyata berbuntut di kemudian hari. Sejak hari Jumat yang lalu, 'wakur' alias the person in charge meminta kesediaanku untuk ikut lomba di tingkat kota. Katanya sih kelanjutan dari lomba yang kuikuti waktu itu, tapi 'labelnya' beda. Kali ini, "Lomba Guru Teladan" (tapi siang ini berubah lagi judulnya jadi "Lomba Guru Berprestasi"). Uwah....yang bener aja!
Sebetulnya sih mau aja, dan mungkin persyaratannya pun bisa saja kupenuhi segera (bikin karya tulis, melengkapi dengan CV, foto, berbagai piagam penghargaan ataupun sekedar keikutsertaan, dsb), tapi justru beban mental di kalangan temen-temen sekolah yang mbikin aku sangat ragu dan berat hati untuk memutuskan ikut serta dalam lomba itu. Ya itu tea... lha wong di sekolah aku guru yang nggak prestatif sama sekali, kok ya berani-beraninya maju ke tingkat kota (tingkat kotamadya, bo!!!) Lagian, di tingkat kecamatan juga nggak ikut seleksinya (lha emang nggak diadain pihak kecamatan. Hhhh... nggak bener tuh) Terus, sekarang, aku disodori dua pilihan, ikut serta, atau ikut berpartisipasi. Atau... sebetulnya si wakur ngasih pilihan lain sih, dia bilang nggak akan maksain aku untuk ikut kalo akunya juga berat hati. Tapi ya gimana ya...? Nama sekolah dipertaruhkan nih. Kalo aku ikut serta, aku mesti jadi mercusuar lagi di luaran sana, dan mesti siap makan ati plus panas kuping dengan komentar temen-temen lain di dalam. Tapi kalo maksa nggak ikutan (dan milih egoku sendiri), aku mengorbankan nama Salman Al Farisi yang diberi kepercayaan oleh dinas kecamatan. Berat ya pilihannya...?
Tapi lagi-lagi, sukarela atau terpaksa, aku sebagai staf yang ditugasi dari sekolah ya cuma bisa menerima dan kemudian melaksanakan tugas itu. Bener deh, sukarela ataupun terpaksa. Whether you like it or not, just do it, Dee. Do your best. Bismillah...

Mimpi di Jepang lagi! Hihi...

Nggak tahu kenapa, tadi malem ujug-ujug mimpi ada di Jepang. Ketemu oya-san di Maruwa Haitsu, dan ngambil sepedaku kembali. Walaupun kondisinya agak rusak, mesti diperbaiki, tapi aku senang banget bisa 'ketemu lagi' dengan sepedaku. Eh, rasanya mbak Yayu juga ada di sana, mengiringi langkahku sambil nuntun sepeda.
Ih... beneran deh, pengen bersepeda lagi. Mau di Jepang, kek, mau di Indonesia, kek. Jitensha ga hoshii...!
Oya, tadi pagi juga nyempatin nelfon Iis yang lagi liburan di Indonesia. Urayamashiina... Ngobrol agak lama juga, sampe pulsa telfon tinggal nyisa 500-an! Haha...!

Monday, June 05, 2006

Ke Taman Safari...!


Kemarin pergi wisata akhir tahun bareng anak-anak sekolah dan guru-guru Salman. Sebetulnya asyik juga. Acara di sana rasanya lancar juga (Bu Westri tuh yang sibuk berat! Otsukare sama deshita...) Cuma di perjalanan aja yang aku tak suka. Anak-anak ribut banget!!! Kebayang nggak sih... suara Kukuh berpadu dengan Imran, Biondi, Didi, Ufa, Gadis, dan lain-lain yang biang teriak tea? Wah! Aku sih milih tidur aja, pura-pura budek selama perjalanan pergi. Mesti hemat-hemat energi buat nyiapin 'menggiring' dan nyemangati anak-anak selama di Taman Safari nantinya.
Keliling area satwa liar, nggak sempat motret banyak. Susah dapat foto yang bagus, soalnya kehalang kaca yang agak buram. Berhenti di area Taman Buaya (cuma namanya doang), kita makan siang dan istirahat di sana. Ngadain acara kelas dikit, lalu nonton pentas singa laut. Nyaris tersiram ketika "Sarmila" loncat untuk ngambil ikan dari mulut sang pelatih. Cipratt!!!
Setelah itu, kita nonton Cowboy Show yang seru. Dua kali nonton, nyaris nggak ada bedanya, sih. Tapi kali ini lebih seru karena bareng anak-anak yang bersemangat sekali nonton dan mengomentari berbagai adegan yang ditampilkan di arena 'kampung Cowboy' itu. Quite impressive. Bravo!
Pulangnya, aku ikutan nimbrung dengan anak-anak di daerah bangku belakang. Cerita kisah-kisah seram lucu sama Hafizh, Ilham, Raihan, Seila, dan Fico yang nimbrung dari kursi belakang. Dan mereka minta tambah cerita melulu! Wah... beneran deh, jadi guru tuh mesti punya stock cerita segudang!! Nanti lagi ya...!

Salah Satunya... Kok Jadi Banyak.