Saturday, May 16, 2026

Bukan Hari Biasa

Kamis, 7 Mei 2026 siang, sekira pukul 14.30 (aku tak ingat persisnya)

Mobil putih di depanku mendadak berhenti. Aku pun refleks menginjak pedal rem sedalam dan secepat yang kubisa. Baruuu saja bernapas lega karena rasanya masih cukup celah antara mobilku dengan mobil di depan, eh tiba-tiba sebuah benturan, lalu benturan kedua, mendorongku ke depan, menghantam mobil di depanku. Euh... ini mah depan belakang kena dong. Kami yang sedang berada di lajur kanan jalan tol Padaleunyi arah Padalarang saling berpandangan melalui kaca spion lalu sepakat menepikan kendaraan.

Empat kendaraan -seharusnya 5 siih- terlibat dalam insiden tabrakan beruntun siang itu. Setelah menepi sesuai urutan, kami pun keluar dari kendaraan masing-masing, saling mengecek keadaan dan kerusakan yang terjadi. Mobil Xenia yang menghantam Ayla-ku dari belakang tampak mengucurkan air mata eh... air radiator. Kendaraan di belakangnya pun, sebuah Expander hitam yang gagah, tampak tak berdaya karena mimisan (halaahhh... bukan dong). Radiatornya juga kena. Mobil Ayla-ku yang persis di tengah-tengah bonyok bagian bagasinya. Kap depan pun tampak agak mencuat sedikit karena menghantam mobil Freed putih di depanku.

Kondisi pintu bagasi mobil.

Semua pengemudi keluar dan saling mengecek, baik kondisi mobil maupun penumpang di tiap kendaraan. Alhamdulillah, semua pengemudi maupun penumpang, sehat selamat tak kurang suatu apa. Kami pun mulai menelepon sana-sini, baik keluarga, agen asuransi mungkin, perusahaan tempat bekerja, bengkel langganan atau siapapun juga. Aku sendiri menelepon kakak ipar, melaporkan kejadian. Setelah laporan pandangan mata sekilas, plus mengirimkan foto kendaraanku yang penyok, dia cuma bilang akan menghubungi bengkel langganan untuk booking slot waktu agar mobilku bisa masuk dan segera direparasi.

Ketika kami masih belum tuntas bertelepon, menunggu sama-sama luang untuk rembukan, sekalian menunggu petugas datang, aku mengirim pesan whatsapp kepada radio PR FM yang siarannya biasa kudengar dari radio mobil. Update kondisi lalu lintas dan cuaca dari penyiarnya biasa menemaniku di perjalanan. Kali ini aku dikontak untuk mengudara, melaporkan situasi dari TKP. Gini amat ya mau 'masuk radio'. Padahal ini lutut masih lemes lhooo. Demikianlah sekilas laporan pandangan mata dari TKP di km 134 Padaleunyi.

Rembukan dan Kesepakatan Bersama

Kami berempat saling berbagi nomor kontak. Selain 'berkenalan' dengan sesama pengemudi, penumpang pun ikut turun dan berbaur bersama kami di bahu jalan. Ada pasangan muda di mobil Freed yang sebetulnya sedang dalam perjalanan untuk menjemput anak-anaknya dari sekolah. Tugas bisa didelegasikan kepada kakek yang sigap menjemput cucu. Di belakangku, dia berkoordinasi dengan kantor karena memang sedang dalam perjalanan dinas menuju tempat kerja setelah tugas luar. Sementara di paling belakang, kulihat ada anak kecil berumur sekitar 8 tahun beserta ibunya yang sedang hamil 7 bulan. Subhanallah... sehat-sehat ya bunda dan nanda. Alhamdulillah kami semua tak kurang suatu apa. Semua saling sepakat bahwa ini adalah takdir Allah yang tak terhindarkan.

Petugas jalan tol akhirnya datang. Mereka menanyakan kronologi kejadian. Sebuah mobil box memperlambat kendaraan secara mendadak, yang menjadi penyebab awal tabrakan beruntun. Sayangnya, pengemudinya tidak menyempatkan berhenti namun langsung saja melanjutkan perjalanan sehingga tak bisa dimintai keterangan. Tak berapa lama kenudian polisi pun datang dan meminta kami untuk keluar di gerbang tol terdekat, Pasirkoja, untuk merembukkan langkah dan kesepakatan selanjutnya. Baiklah... 

Malah wefie di kantor Jasa Marga

Sampai di kantor Jasa Marga, kami tak berpanjang kata. Kesepakatan untuk saling menanggung perbaikan secara mandiri sudah diambil sejak kami berbincang di tepi jalan tol. Semua berkepala dingin, tak ada yang saling menyalahkan, sepakat bahwa ini adalah qadarullah. Kami semua sehat selamat saja sudah suatu kasih sayang dari Allah. Biaya perbaikan mobil bisa dicari, tapi nyawa tentu tak bisa diganti. Perbincangan berlangsung damai dalam suasana kekeluargaan. Aku sempatkan untuk foto bersama ya. ;)

Pagi harinya

Kukira ini hari biasa saja, seperti hari Kamis lainnya. Ada beberapa jadwal rutin dan tidak rutin.

Sempat mau menjadwalkan pergi ke bengkel untuk mengganti lampu kiri depan si Silvie karena satu bola lampunya mati. Belum kujadwalkan karena kupikir masih bisa besok lagi. Hari ini ada jadwal rutin yang biasa kuikuti.

Ngabreng, bukan ngabring alias ngaji bareng (Kalau ngabring, ngaji baring dong :p) jam 9-an sampai jam 10.30-an di masjid komplek. Aku maju-mundur untuk berangkat karena ada janji dengan Pak Nana yang mau bantu beberes taman depan yang sudah menghutan.

Menunggu-nunggu Pak Nana, tak datang-datang. Katanya sih dia sudah mengetuk pintu rumahku 2 kali, tapi aku nggak dengar ya karena sedang di dapur. Daun pintu rumahku cukup tebal dan solid. Mengetuknya malah terasa meredam suara ketukan, jadi wajar saja kalau aku yang sedang ada di bagian belakang rumah tak mendengar ketukan di pintu depan.

Satu agenda lain di luar jadwal adalah niat mau jenguk tetangga yang baru pulang dari RS pasca operasi mata ikan. Eh ternyata ybs sudah masuk kerja jadi kalaupun mau jenguk, mungkin baru bisa jam 3-an, sedangkan biasanya jam segitu aku sudah harus ada di KBP untuk jadwal rutin mengajar privat sesi pertama. 

Kalau... (bukan berandai-andai juga sih, sebetulnya) aku jenguk tetangga dulu lalu baru pergi selepas asar, apakah aku akan terhindar dari insiden accident di km 134 itu? Hmm... bisa jadi. Tapi tak menutup kemungkinan ada hal lebih 'tak biasa' yang terjadi di hari itu. Jadi... aku bersyukur saja bahwa Allah melibatkanku di kecelakaan tabrak beruntun yang cenderung ringan di hari itu. Kalaulah Silvie harus 'diopname' dulu sementara waktu, yang mengakibatkan terkurasnya tabunganku, toh Allah juga yang akan membukakan pintu rejeki yang lain bagiku. Aku sehat walafiat tak kurang suatu apa pun sudah suatu rejeki yang sangat patut disyukuri. Alhamdulillah... ya Allah. Selanjutnya tinggal giatkan usaha dan kencangkan doa supaya rejekinya mengucur lagi untuk mengganti 'biaya pengobatan Silvie'. Sehat-sehat terus ya setelah ini.

Tadinya nggak ada ide untuk menulis Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog di bulan Mei ini, tapi setelah ada kejadian ini, HARUS kali ya dijadikan blog posting. :p

No comments:

Bukan Hari Biasa