Showing posts with label Vario. Show all posts
Showing posts with label Vario. Show all posts

Friday, October 10, 2008

Perjalanan menuju dan kembali dari "Amsterdam"

Pasca lebaran ini, aku bersama dua dari ketiga kakak beserta ibuku pergi boyongan ke Depok, ke rumah kakak sulung. Anak-anak kakak nggak ikut karena mereka ikut dengan kakak yang ke-3 menjelajah sebagian pulau Jawa. Nggak ada kerjaan juga sih di Depok, selain membaca majalah yang tak kupunya di Bandung sana, menjajal kemampuan main games di komputer kakak, dan sesekali mengakses internet barang sebentaran.
Hari Sabtu lalu (4 Okt) kita berangkat dari Bandung menjelang jam 10 pagi. Istirahat shalat dan makan siang di tempat peristirahatan di ruas jalan tol Padaleunyi, kita sampai di Depok tak lama selepas jam 1-an (atau jam 2-an ya? Hehe... lupa) Tapi tetap nggak terlalu lama juga kan di perjalanan?
Hari Minggu, aku didaulat kakak jadi 'tukang ojek' buat nganterin dia bersilaturahim dengan teman-temannya, alumni karyawan British Council Jakarta. Tempat pertemuan, tak tanggung-tanggung, di "Amsterdam"! Hehe... Maksudnya, di cluster Eropa wilayah Amsterdam di Kota Wisata Cibubur. Jauh juga lho dari Depok, dan aku sok-sok-an aja mboncengin kakakku yang 'mirip' Tike Priyatnakusumah yang anggota tetap Extravaganza itu. Literally, beneran, mirip! ;)
Menjajal jalanan Depok yang berlubang-lubang besar, motor ponakanku sempat oleng juga ketika awal-awal aku berusaha menjaga keseimbangan mengemudi. Akhirnya terbiasa juga. Di jalan lurus ke arah Cibubur, asyik juga kupacu Vario hijau itu dengan kecepatan 50-65 km/jam. Beban di belakang, tak begitu terasa.
Pendek kata, acara silaturahim berjalan lancar, biarpun aku nggak begitu kenal orang-orang di sana. Sok berbaur aja, dan menikmati hidangan lezat yang disediakan tuan rumah. Terima kasih ya, mbak Wiwin... Semuanya enak! Terutama yoghurt campur buahnya. Hm... yummy...!
Selepas ashar, satu persatu tamu mulai berpamitan. Kakakku akhirnya undur diri juga. Sebagai 'tukang ojek', tentu saja aku ikut. Tergoda sih, pengen cuci mata lihat pernak-pernik di Kampung Cina yang rasanya tinggal selangkahan kaki. Tapi melihat mendung kelam yang bergantung rendah, kuurungkan niatan itu. Nggak usahlah belanja-belanja. Langsung pulang saja. Perjalanan pulang kali ini, sebetulnya agak lebih percaya diri dibandingkan arah sebaliknya, tapi kondisi badan yang sudah capek, ditambah arus lalu lintas yang sedikit lebih padat membuatku harus sabar-sabar di jalur kiri.
Di ruas jalan Cibubur, tak jauh dari Cibubur Junction, antrian panjang kendaraan membuatku ragu. Haruskah tetap di kiri, di jalan tanah sebelah bahu jalan, atau pindah jalur ke kanan (ke sebelah kanan mobil yang berderet) tapi berresiko menghadang arus kendaraan dari depan. Sebagai pengendara mobil juga, aku suka sebal dengan pengendara motor di lajur kanan ini, karena seringkali bikin kagok! Akhirnya aku putuskan untuk istiqamah di lajur kiri. Ini lajur yang dilematis juga. Tetap di jalan tanah berarti mengambil resiko menerjang becek-becek sisa hujan dan melindas batuan yang tidak rata. Kalau naik sedikit ke bahu jalan di sebelah kiri mobil, berarti aku harus stabil memegang stang motor supaya tetap lurus dan tidak menyenggol spion kendaraan yang kulewati.
Gara-gara.... ragu-ragu sih... Ketika aku masih berpikir, naik ke bahu jalan (yang lebih tinggi sekitar 7 sentian dari tepi jalan) atau tidak, kuarahkan stang motor agak ke kanan. Ban depan sudah naik ke aspal, sementara ban belakang masih berusaha mengimbangi, sedangkan motor masih melaju, tak terlalu cepat. Tak kuasa... Seperti slow motion rasanya. Motor mulai oleng ke kiri, dan tak bisa kukendalikan lagi, doyong... doyong... dan terguling. Hihi... Soft landing. Kami berdua jatuh ke tepi jalan. Karena gerak jatuhnya motor sudah kami duga (kakakku pun sudah berpikir bakalan jatuh), maka kaki kami sudah siaga, tapi tak urung, bagian lutut sih, kena juga sedikit. Untungnya, tak ada yang tertimpa motor. Cuma, lucu aja... tak ada angin tak ada hujan, tahu-tahu motor yang kami tumpangi oleng dan terguling. Orang-orang yang lewat juga tak ada yang menolong karena melihat kami berdua baik-baik saja, justru memandangi dengan heran. Sementara kita saling bertanya, "Nggak ada orang yang kita kenal kan?" "Nggak ada candid camera kan (yang mengabadikan ketololanku)?" Waduh... Sakitnya sih nggak seberapa, wong cuma memar dikit di lutut kiri, tapi malunya itu lho. Haha... Lebih 'gila' lagi, kejadian memalukan begini, ku-publish juga di blog ini ya? Bukan menyebarluaskan kebodohan, justru mengingatkan diri untuk belajar dari kesalahan. Jangan terulang lagi, Dee!
Kejadian sore itu belum usai. Gara-gara jalanan berlubang di Depok tak terlihat jelas karena dipenuhi air berlumpur, kakakku mengajak untuk menjajal jalur alternatif melalui perumahan, bukan lewat jalan utama. Aku sih, ayo aja. Ternyata, putar sana putar sini, nyasar juga kita. Tanya sana tanya sini, ah... akhirnya sampai juga ke rumah kakak. Alhamdulillah. Betul-betul perjalanan jauh yang kutempuh hari itu. Dari Depok ke "Amsterdam" lalu balik lagi hanya dalam setengah hari. Hihi... ;)
Blogged with the Flock Browser

Tuesday, August 05, 2008

Vario Tasya

Kisah kali ini, masih berkisar seputar pengalamanku dengan alat transportasi.
Sabtu 2 pekan lalu, ketika aku di Depok, kupinjam motor Tasya, keponakanku untuk kukendarai menuju Depok Town Center di Sawangan (yang pake acara nyasar tea... :p).
Pagi sebelum berangkat, kucek perlengakapan berkendaraku. Sepatu, cukup sporty dan nyaman dipakai, biarpun sudah cukup 'berumur'. Jaket, waterproof dan windproof yang kubawa dari Bandung, siap menghadapi terjangan angin saat bermotor-ria. Helm, oke juga, walaupun kacanya tak bisa diangkat. Selalu turun lagi menghalangi batas pandanganku, tapi justru melindungi mataku dari angin dan debu. Pelindung hidung dan mulut? Hm... kurasa tak begitu penting-lah. Sarung tangan? Sayang tak kubawa. Membayangkan jarak tempuh yang akan kujalani di bawah matahari pagi begitu, hm... kebayang deh belangnya warna kulit punggung tanganku berbanding dengan bagian lengan lainnya yang selalu tertutup.
Perjalanan pergi merupakan perjuangan karena adanya peristiwa nyasar sampai ke Bogor tea. Memarkir Vario hijau keponakanku di area parkir DTC seharian sempat membuatku cemas juga. Akankah aku mengenalinya saat akan mengendarainya pulang di sore hari nanti? Hihi...
Pendek kata, seusai acara di DTC, aku bergegas menuju tempat parkir untuk mengambil motor matic yang tadi membawaku ke sana. Posisi parkir sudah sedikit berubah, tapi aku masih bisa mengenali motor keponakanku dengan mudah. Kusiapkan jaket dan helm, lalu mulai mencoba menstarter motor itu. Eh... tak ada reaksi apapun. Kucoba beberapa kali, Vario hijau itu masih tetap 'bungkam'. Aku coba memancing kinerja mesin dengan starter pedal. Mesin tak juga menyala. Gerah juga nih aku. Kubuka kancing jaket, dan sebetulnya mulai panik juga. Ada apa sih dengan motor matic ini? Kusempatkan menelfon Tasya, menyanyakan masalah yang mungkin dia ketahui jalan keluarnya. Dia nggak jelas juga menyatakan sumber permasalahan yang mungkin akan jadi solusi. Hh... sekalinya minjem motor, dapat masalah begini deh.
Kucoba lagi menstarter motor matic yang memang belum familiar buatku. Beberapa kali menggenjot pedal starter, mesin Vario itu tak juga bergeming. Hampir putus asa aku, ketika seorang bapak dengan anak kecil lewat di dekatku, dan memberikan saran untuk mengangkat standar kecil motor itu. Standar besar yang lebih mantap memang sudah kupasang sebelumnya. Ketika aku akan mencoba lagi menggenjot pedal starter, bapak itu berkata tak perlu melakukannya. "Pakai starter otomatis saja, bu." katanya. Kutarik pedal rem di stang kiri, sesuai SOP rata-rata motor matic, lalu dengan berdebar harap, kutekan tombol starter otomatis di stang kanan, dan . . . brrrmm... mesin pun hidup dengan 'riangnya', seolah menertawakan kebodohanku. Halah... Untung saja aku tidak disangka pencuri motor. Penjaga parkir di sana mungkin maklum bahwa aku membawa motor pinjaman dan sangat tidak familiar dengan motor itu. Cepat kubawa Vario hijau itu dari pelataran parkir, menyembunyikan muka merahku di balik kaca helm yang relatif gelap. Langsung pulang ke Taman Depok Permai.

Salah Satunya... Kok Jadi Banyak.