Wednesday, November 26, 2008

Bunga Kaktus

Lagi asyik-asyik 'mantengin' bunga-bunga di taman ibu. Satu bunga kaktus yang kunanti-nanti mekarnya, ternyata 'meninggalkanku'. Dia mekar duluan, mengembang seharian tanpa sempat kulihat proses puncak keindahannya. Tapi inilah 'yang tersisa darinya'. Entah apa nama sebenarnya, tapi kunamai saja kaktus bintang.

Friday, November 21, 2008

Bunga Kaktus

Awalnya...Kemudian...Sehingga...Subhanallah... Indah...
Note: Bunganya sebesar piring makan. Berat menyangga kelopak bunga yang saling tumpang-tindih. Ternyata bunganya mirip sekali dengan bunga Wijayakusuma. Mereka memang sepupuan, kayaknya. Tapi bunga kaktus ini mekar di siang hari, sedangkan Wijayakusuma mekar malu-malu di malam hari. Tapi keduanya sama-sama tak mau lama memamerkan diri, cukup satu hari saja. Sore hari, dia sudah layu... :(

Tuesday, November 18, 2008

Taman Bunga Bunda

Alhamdulillah… hari-hari belakangan ini banyak tanaman bunga di taman kecil ibuku berbunga. Cantik-cantik.
Mawar batik berbunga lagi. Setelah sempat mekar kembaran, segera disusul dengan satu tangkai lagi yang awet mekarnya. Menyambutku setiap pulang kerja. Sekali lagi, mawar jenis ini memang tak begitu harum, tapi tetap indah.Musim hujan begini, bunga bulan desember bermunculan. 3 bunga mekar bergantian. Warnanya yang cerah menceriakan halaman depan rumah kami.Sementara itu, di taman samping, setangkai anggrek hijau juga mulai mekar bermunculan. Dengan kombinasi warna ungu di bagian tengahnya, kurasa bunga ini cantik sekali. Tapi kenapa juga ya tuh bunga diikat-ikat? 'Ulah' ibuku tuh. Atau mungkin ulah bunganya. Mungkin dia bersalah, jadi diikat, tak boleh kabur. Hehe... Nggak deng... Biasanya anggrek hijau ini berbunga banyak sekali, memberati batangnya. Sayang kan kalau sampai patah gara-gara terguncang angin? Makanya diikat di batang pralon supaya posisinya mantap. ;)Di ‘taman’ atas, kaktus ternyata juga berbunga. Cantik ketika masih kecil-kecil, dan dia akan terus tumbuh membesar, seperti buah naga, tapi sayang tak bisa dimakan :(

Seorang Teman Lagi. Alhamdulillah...

1 musuh terlalu banyak. 1000 teman masih kurang.
Itu aku pernah baca di sebuah poster beberapa tahun yang lalu, dan kurasa benar sekali. Banyak teman dan kenalan datang dan pergi dalam kehidupanku. Kenalan bisa datang dan pergi tanpa kesan, terlupakan begitu saja. Teman adalah seseorang yang bisa kita andalkan, dengan siapa kita mempercayakan sebagian hati kita, perasaan kita, pikiran kita, dan begitupun sebaliknya. Dengan teman kita dapat bertukar rasa, bertukar idea tanpa prasangka, saling mendukung dan menyemangati.
Beberapa waktu lalu, kuterima pesan singkat melalui ponselku. Dari Bu Suzana, memintaku untuk tidak membeli agenda 2009 karena sudah dia belikan untukku. Terima kasih banyak... sungguh kejutan yang manis. Sebetulnya, aku memang menunggu gratisan, mungkin dari majalah yang biasa kubeli. Akhir tahun begini, berbagai majalah pasti 'bertaburan' hadiah sebagai ajang promosi, termasuk menyisipkan agenda harian sebagai bonus. Tapi tak kusangka aku akan mendapatkannya dari seorang teman baik. Jazaakillah, anti.
Kami janjian ketemu di food court Riau Junction, salah satu tempat favoritku. Sambil menunggu, kunyalakan notebook dan menulis beberapa tulisan pendek. Ketika bu Jana datang, kami pun terlibat perbincangan seru. Selalu. Saling menyemangati untuk mengembangkan diri, mengikuti berbagai lomba menulis yang sama-sama kami minati. Saling memberi informasi mengenai lomba yang bisa kami ikuti. Alhamdulillah, tak terbersit sedikitpun rasa iri ketika saling bertanya mengenai progress yang sedang kami jalani. Yang terasa justru semangat saling dukung untuk memunculkan potensi terbaik kami. Semoga hanya yang terbaik yang kami upayakan, semoga hanya yang terbaik yang kami dapatkan, semoga Allah meridhoi pertemanan ini. Amiin.
Ternyata, selain agenda 2009 yang berkesan eksklusif dan classy, bu Jana pun memberi beberapa pin yang bisa kusematkan di berbagai benda. Terima kasih banyak... Apa ya yang bisa kuberikan sebagai balasan? Bukankah dalam Islam kita disarankan untuk saling memberi hadiah agar makin saling cinta sesama muslim. Bu Jana bilang, simpan saja hadiah untuknya hingga kelak pengumuman lomba menulis buku keluar, akhir bulan ini (eh, diundur sampai awal tahun depan). Dia sangat berharap akan menjadi salah satu pemenangnya, akupun mendoakan. Yang terbaik untukmu, bu Jana. Kita saling mendoakan, karena begitulah teman kepada yang lainnya, hanya mendoakan kebaikan semata. Semoga Allah ridha. Amiin.
Blogged with the Flock Browser

Monday, November 17, 2008

Teman-teman Salman

Ketika bertemu mereka hari Sabtu lalu di Pusdai, aku merasa seolah bertemu anggota keluarga yang lama tak berjumpa. Kerinduan yang sangat alami, bukan artifisial, kurasakan saat mereka menyapaku dengan hangat dan tentu saja kubalas tak kalah hangat. Akupun merindukan kalian, teman-teman. Nyaman rasanya berada di antara kalian yang saling berpegang teguh dalam Islam, sama-sama merasakan kuatnya tali silaturahim. Semoga Allah meridhoi. Amiin.
Mari kuperkenalkan teman-teman terbaik yang kumiliki, insya Allah masih tetap kumiliki hingga saat ini. Perkawanan tak mesti putus kan hanya karena kita berbeda ladang jihad (jie... bahasanya tinggi ya? Ladang jihad, gitu ;)) Dari kiri ke kanan...
Bu Ratna. Guru PAI (Pendidikan Agama Islam) ini setelah menikah dan berputra kok malah kelihatannya semakin kurus saja. Capek, pasti, mengurus keluarga di samping sibuk mengajar di Salman. Tak pernah berkeluh kesah, kecuali ketika Salman kebanjiran dulu. ;)
Saat itu longsoran di tebing belakang kompleks sekolah Salman membendung aliran sungai kecil dan akhirnya air tumpah ruah ke kelas-kelas. Sebagai salah satu guru yang kelasnya ikut tergenang, bu Ratna tentu ingin menyelamatkan berbagai dokumen. Maka dengan sigap, dia angkat rok dan mencemplung begitu saja ke dalam air setinggi separuh betis yang sudah memenuhi kelasnya. Dalam kondisi demikian, seorang guru laki-laki melintas dan menengok ke dalam kelas, yang kuyakin, tak ada maksud lain selain ingin menawarkan bantuan jika diperlukan. Tapi... ikhwan, gitu lho. Dengan spontan, bu Ratna melepaskan rok yang sedang dipegangnya, pasrah kebasahan juga, asal jangan sampai betisnya terlihat oleh yang bukan muhrim. Walah... padahal si bapak ikhwan itu belum tentu juga melihat ‘sesuatu’, toh saat itu dia sedang tidak mengenakan kacamata minusnya. Nah... karena roknya terlanjur basahlah (atau karena ada kemungkinan betisnya terlihat oleh si guru ikhwan), makanya bu Ratna jadi misuh-misuh. “Teu rido...!” Hihi... ;)
Bu Ine. Guru bahasa Indonesia ini berpembawaan kalem. Eh tapi jangan salah... dia bisa all-out juga lho di satu kesempatan lomba mengajar intern Salman, PAIKEM. Hmm... paikem tuh apa ya... atau siapa? ;) Temennya pak Ridwan, pasti :p Pokoknya paikem ini lomba mengajar antar-MGMP di lingkungan SD Salman yang tujuannya untuk merangsang kreativitas guru dalam mengajar. Aku sempat ikut, 2 kali, dan melihat aksi bu Ine saat merayakan keberhasilan ‘murid’ di kelas, dengan menari ala Dora. Yes! Berhasil, berhasil, berhasil, HORE! Sukses selalu ya, bu Ine ;)
Bu Liyah. Guru ini sudah alih subjek (bukan alih profesi) beberapa kali. Nggak jauh dari pengalamanku-lah, bu. Guru IPS, pernah. Guru bahasa Inggris, lama juga, dan seusai cuti melahirkan anak keduanya, kabarnya dia ini jadi guru Leadership, subjek yang spesial, cuma ada di lingkungan YP SaF. Asyik juga kan, ngajar Leadership? ;) Enjoy it!
Bu Tika. Guru PAI yang pengantin baru ini rupanya masih sedikit merahasiakan pernikahannya. Masih ada yang belum tahu bahwa bu guru yang kecil mungil ini ternyata sudah menikah. Muridnya sampai mutung karena nggak dikasih tahu, dan terus menagih undangan pernikahannya. Hayo... gimana tuh?
Bu Endang. Kadang iseng kupanggil dia dengan sebutan “Bu Dendang”. Itu teh panggilan sayang, bukan ejekan. Tapi jika tidak berkenan, mohon dimaafkan m(_ _)m Ibu berputra 3 ini masih asyik-asyik aja bermotor-ria ke mana-mana. Tampilannya yang lembut gemulai membuat orang-orang tak akan menyangka subjek yang diajarnya. Penjas, gitu lho. Satu-satunya guru penjas perempuan di Salman. Wow... ini baru yang namanya cantik perkasa. Setuju? ;)
Bu Tia. Satu lagi guru PAI di Salman, tapi yang ini mah rada-rada okem. hehe...;) Kalau sudah ketemu dia, kayaknya ketawa nggak bakalan berhenti-berhenti. Adaa... saja celetukannya yang bisa bikin kita ketawa. Aku sampai niat mau ikutan audisi API-TPI bareng bu Tia. Untung dia masih berakal sehat (berarti aku yang kurang waras dong? hah???) dan menolak ide itu mentah-mentah. Kalau sampai lolos audisi, wah... Bajaj pasti lewat deh ;) Kita naik taksi aja kali ye... Hehe...
btw, terakhir kali ketemu bu Tia, kayaknya makin cantik aja nih. Sedang perawatan kulit ya? Jelang pernikahan, mungkin? Hayo.. undangannya jangan sampai kelewat ya. Jangan sampai saya mutung seperti muridnya bu Tika, dan nagih terus... sampai kurus... (ih, udah kurus juga :p)
Bu Ecin. Dia salah satu pengajar subjek Sains di Salman. Satu lagi guru Salman yang kurus. Dia nih kurus banget. Bahkan ketika hamil sekalipun, yang gendut cuma perutnya. Nggak kebayang deh beratnya membawa bayi berbulan-bulan, dan ternyata kembar dua! Melahirkan normal pula! Subhanallah... Huibatt. Saat ini kabarnya beliau dan keluarga sudah menempati rumah baru, rumah sendiri. Alhamdulillah. Barakallaah.
NRF. Pendeknya dibilang begitu. Lengkapnya: Neneng Rohmatul Fitria. Ini salah satu ‘kembaranku’. Yang kembar, tanggal lahirnya. Beda tahun, dikit. Kami masuk Salman barengan, tapi maaf ya, aku keluar Salman duluan. Bu Neneng ini mengajar PAI. Banyak betul ya guru PAI di Salman? Ya iyalah... karena di kelas kecil (1-3), dengan metode pembelajaran tematik, tiap kelas harus punya guru PAI sendiri. Makanya guru PAI di Salman banyak (banget).
Satu foto lagi untuk ‘dibahas’. Eh... aku nongol lagi di situ. Nggak usah dikenalkan lebih jauh ya. Sudah kenal kan? ;) (Hihi.. Pe-De banget ya?)
Di sebelahku, Bu Nelly yang jadi partner pertamaku di Salman, mentorku. Aku belajar banyak darinya, tentang manajemen kelas, tentang penanganan masalah anak, wah... pokoknya kalaulah sekarang ini aku pinter, ya bu Nelly yang berperan banyak dalam mencerdaskanku. Jie..ting... ting... kedip kedip. Ketika berpartner denganku dulu, sekitar 11 tahun yang lalu, dia masih gadis. Sekarang sudah berubah status jadi istrinya pak Agus, dan ibu dari Dani, Ilma dan Luqman. Sebagai lulusan sastra Indonesia, kapasitas keilmuannya dimanfaatkan secara optimal. Kalau nggak ngajar kelas 6, beliau akan mengajar kelas 1. Penempatan yang tepat. ;)
Bu Tika. Cerita apalagi ya tentang dia? Lain kali lagi deh. Kan di atas sudah diulas. ;)
Bu Dewi. Ini guru yang relatif baru di lingkungan SD Salman. Aku tidak kenal cukup dekat dengan guru yang satu ini. Sebelumnya bu Dewi ini beraktivitas di TK Salman, lalu penugasan baru menempatkan ibu guru lemah lembut ini di SD. Ketika aku keluar dari (SD) Salman, bu Dewi justru masuk ke lingkungan SD. Ayo bu, bawa keceriaan TK ke SD, tapi harus siap-siap dengan kerja ekstra di SD. Selamat berjuang ya.
Bu Mei. Guru bahasa Inggris ini sempat menjadi partnerku di MGMP, tepat sebelum aku pergi meninggalkan Salman. Selain bahasa Inggis, dia juga ‘penguasa’ bahasa Sunda. Jagoan banget! Aku baru tahu istilah ‘si utun’, ya dari dia ini. Ketika bicara dengan bahasa Inggris, logat western-nya terasa, dan ketika switch ke bahasa Sunda, alah... meni katara urang Sundana. Bu Mei ini selalu mengenakan gaun terusan dalam keseharian. Ketika yang lain asyik-asyik bercelana panjang, dengan tunik panjang sekalipun, bu Mei mah teteup... gamis forever!
And for me, our friendship is forever, with you all, my best friends in my best period of time, the sweetest time in Salman Al Farisi (da di mana deui, perkenalan pertamaku dengan dunia kerja dan mengajar ya di Salman, pastilah berkesan begitu mendalam. Jangan ada yang cemburu ya ;))
Oh ya, satu lagi, yang mengambil foto ini adalah bu Sri Artini, guru IT di Salman. Selain ngajar, bisnis souvenir beliau ternyata berkembang pesat lho. Pokoknya, nggak usah ke mana-mana, kalau perlu cendera mata, besar-kecil, yang biasa atau luar biasa, kontak bu Sri saja. Bisa pake cepet kan ya? ;)

Sunday, November 16, 2008

'Reuni' Salman Al Farisi Berujung Sakit... :(

Sabtu ini, sepulang dari sekolah, kusempatkan untuk mampir ke Pusdai. Ada rencana ketemu bu Tika untuk melanjutkan sesi bincang-bincang yang lama terputus.
Sebetulnya, sejak di sekolah aku sudah merasa demam. Tenggorokan terasa bengkak, ya... pokoknya nggak enak badan deh. My body is not delicious. :pSampai di Pusdai bada ashar, gerimis baruuu saja turun. Nekat, lari-lari sedikit tanpa payung, kuterjang saja jarak 20 meteran dari tempat parkir ke selasar Pusdai, menemui teman-teman Salman Al Farisi yang baru saja bubaran seusai pelatihan manasik haji di sana (hari Rabu, mereka akan melaksanakan simulasi manasik haji untuk murid-murid SaF. Hm... jadi ingat masa awalku di Salman dulu, manasik haji di Sabuga).
Ketemu bu Nelly dan Bu Mei yang masing-masing menunggu 'my husband'. Yeah... and I'm gonna fetch 'my wife'. :p Semua orang kayaknya dijemput suami. Bu Tika juga kali ya. But... instead of her husband, it's me whose come and fetch her. So... does it mean I become her husband? Ha... no-lah... Bu Nelly mau walking-walking dulu bersama keluarga. Oke deh... save walking-walking (selamat jalan-jalan ;))
Note: Tahun depan Insya Allah SaF akan mulai ber-bilingual, maka dimulailah dari sekarang. Kali ini sih lucu-lucuan aja. Sementara itu, aku bergabung dengan beberapa rekan guru SaF lainnya yang masih menanti hujan reda di lantai 1 Pusdai. Ramailah dengan perbincangan tentang berbagai hal, termasuk konten blog-ku yang ternyata mereka baca juga, kadang-kadang. Termasuk kisah pernikahan bu Tika yang ramai jadi pembicaraan di SaF, baik oleh guru maupun murid-murid. Hihi... Hayo atuh... jangan cuma baca... kasih komentar juga ya. Bukti bahwa teman-teman sudah berkunjung. Kritik dan saran juga boleh kok.
Nggak berlama-lama, aku dan bu Tika pergi dari Pusdai, setelah berfoto dengan teman-teman SaF yang ingin foto mereka dipajang di blog ini. Mangga... yeuh. Rencananya, aku mau mampir sebentar ke suatu tempat, nyari hadiah untuk kakakku. Hari Sabtu ini dia berulang tahun. Mampir ke Borma Bubat yang nggak terlalu besar, ternyata lama juga kita 'berputar-putar' di sana. Bukannya nyasar atau apa sih, cuma sekedar cuci mata akhirnya. Belinya sih kagak. Setelah hadiah buat kakak dan satu pesanan teman yang lain sudah kudapat, aku sudah pengen pulang nih. Ujung-ujung jariku terasa sedikit kesemutan, sementara suhu tubuhku terasa meninggi. Wah... bakal selamat nggak nih nyopir mobil sampe ke rumah, mana bawa istri orang lagi? ;)
Alhamdulillah... jalan yang sedikit macet bisa kulalui, juga jalanan yang banyak macet. Malam minggu, gitu. Ketemu suami bu Tika di area 'Rencong', lalu aku melanjutkan perjalanan yang tinggal 1-2 km lagi ke rumah. Sampai rumah, sudah tinggal istirahat saja.
Suhu badanku mulai meninggi. Agak pusing dan sakit kepala juga. Tidur dengan kompres di dahi, berkali-kali juga aku terbangun, tidak nyaman dengan kondisi badanku. Paginya, rasanya sih suhu badan agak menurun, tapi masih leng-lengan. Badan rasanya ringan bener... Disuruh ke dokter, aku nggak mau nyetir sendiri, ogak juga naik angkot (manja bener ya? ;p) Akhirnya kakak iparku yang njemput ke rumah dan mengantar kami sekeluarga ke dokter, emang seisi rumah lagi sakit. Kompak kan? ;)
Di klinik 24 jam Moh.Toha, dokter yang memeriksa kami agak-agak 'okem' juga nih, tapi asyik aja. Karena badanku masih panas, dia beri aku surat sakti untuk istirahat di rumah selama dua hari. Wadduh...! Aku teringat rentetan jam ngajarku di hari Senin. Kasihan teman-teman yang harus nggantiin. Sing ikhlas nya... Semoga Allah SWT membalas kebaikan kalian. Amiin.

Saturday, November 15, 2008

Bu Didi Deui...

Terinspirasi dari tulisan di blog-nya mbak Diana (berkas-cahaya), aku ingin juga mempublikasikan tulisan lamaku di sini. Temanya tentang nama pasaran... (Ternyata, yang punya nama Diah bahkan Diah Utami atau Diah Lestari, wah... banyak sekali!)
Sejak kecil, aku bercita-cita jadi guru, dan alhamdulillah, akhirnya kesampaian juga. Setelah menjalani serangkaian tes dan wawancara, aku mulai mengajar di sebuah sekolah swasta di kawasan Bandung Utara.
Dari delapan orang rekan seangkatan, ada satu teman lain yang juga bernama Diah. Kompromi punya kompromi, harus ada salah satu yang rela mengubah nama panggilan. Okelah... aku ngalah... toh kadang temen-teman kuliah juga memanggilku "Di" atau "Di... Didi...!" Jadilah aku 'terkenal' sebagai "Bu Didi".
Aku dan Diah jadi akrab sejak awal. Ke mana-mana kami biasa barengan. Pada intinya sih supaya gampang ngasih petunjuk... yang mana Diah, yang mana Diah eh... Didi. Sementara aku mulai populer dengan nama Bu Didi, Diah yang satu lagi punya nama panggilan lain yang hanya beredar di kalangan guru tertentu. Kebetulan dia masih termasuk kalangan ningrat Sunda dengan gelar Nyi Raden di depan namanya. Maka dari itu, seorang guru senior kadang iseng memanggilnya "Bu Nyi" ;)
Setelah 5 tahun-an mengajar, nama bu Didi atau b'Deedee sudah melekat dan jadi trade mark-ku. Tapi rasanya, kadang-kadang be-te juga. Peluang untuk salah sangka jadi cukup besar juga sih... Dalam beberapa kesempatan berbincang dengan orang tua murid, kadang pembicaraan menyangkut ke hal-hal pribadi. Aku ngerti, mereka hanya bermaksud mengakrabkan diri, dan setelah ngobrol ke sana ke mari, dengan percaya diri, ada juga yang bertanya, "Pak Didi-nya kerja di mana ya bu?" Hmm... mereka pikir aku pakai nama suami, padahal suami saja belum punya. Kalau pembicaraan sudah sampai ke sana, maka bla...bla...bla... berbusa lagi deh mulut ini menceritakan sejarah munculnya nama bu Didi. Bosan juga kalau harus terus menceritakan kisah yang sama berulang kali. Tapi rupanya kisah ini beredar juga di kalangan orang tua murid. Lama-lama pertanyaan tentang 'Pak Didi' tidak muncul lagi. Mereka sudah mahfum bahwa 'Pak Didi'nya masih 'ghaib'. Hehe...
Beberapa waktu berselang, Bu 'Nyi' Diah mengundurkan diri dari sekolah tempatku mengajar, maka aku bertekad untuk 'mengembalikan kejayaan' nama Diah Utami. Hehe... Kuperkenalkan diriku sebagai 'Bu Diah' di depan murid-murid kelas 1, sekalian untuk menghindari kesalahpahaman panggil memanggil dengan Didi asli yang jadi muridku (Sebetulnya, namanya Zuhudi. Didi tuh cuma nama panggilan juga). Lucu aja kali ya kalau "Bu Didi berkata kepada Didi..." Haha... Sementara itu, kolega masih harus menyesuaikan diri dengan panggilan baru buatku. Ah, itu cuma masalah pembiasaan kok.
Baru 2 bulan-an mengajar di kelas 1, di bulan Oktober 2002 aku harus pergi meninggalkan sekolah tempatku mengajar dan baru kembali lagi di bulan Juni 2004.
Ketika bertemu dengan anak-anak yang sempat kuajar sebelumnya, dengan bersemangat mereka menyapaku, "Bu Diah, bu Diah, mengajar di sini lagi?" Duh.. bikin terenyuh hati. Iya nak... bu Diah akan kembali mengajar kalian. Sementara kakak kelas mereka masih teteup... memanggilku dengan sapaan Bu Didi. Rupanya, nama bu Didi sudah terlanjur lekat di benak mereka. Sudah terlanjur ngetop. Ya udah deh... pasrah aja. Teman-teman di tempatku ngajar sekarang ini,ada juga yang menyapaku dengan sebutan 'Mbak Didi'. Sok-lah, suka-suka aja. Siap-siap lagi nih menjelaskan tentang pak Didi yang 'masih ghaib' hingga hari ini. Hihi...

Tuesday, November 11, 2008

Musim Hujan pun Dimulai...

Beberapa hari ini cuaca Bandung mendingin. Hujan mulai sering mengguyur kota bunga ini. Aku suka sekali bau tanah basah yang tersiram hujan pertama, tapi hujan ini juga mulai membawa cemas, karena di hari-hari pertama turunnya saja jalanan sudah mulai tergenang. Air sungai Citarum sudah mulai terlihat meninggi. Akankah Bandung (Selatan) tergenang lagi? Hh... Cappek deh...
Sementara itu, di kios buah di tepi jalan sudah mulai terlihat beberapa ikat rambutan segar dijual. Buah kesukaanku, yang memang biasa meramaikan musim hujan ini mulai ramai dijajakan para penjual buah. Saat ini harganya masih mahal, memang. Tapi tunggu saja beberapa pekan mendatang. Puas-puasin deh makan rambutan. ;)
Blogged with the Flock Browser

Saturday, November 08, 2008

Eyang Mangkat

Beberapa hari lalu, sebuah berita singkat via e-mail mengatakan bahwa eyang putri di Solo (ibu dari ayahku) tidur lama sekali. 30 jam! Tidak biasanya bukan? Beberapa waktu kemudian, update berita menyatakan bahwa eyang sudah bangun, bisa minum susu lalu tidur lagi. Lama juga. Tito, sepupuku yang dokter dan memang berdomisili di Solo, jadi dokter pribadi eyang. Dia bilang, kondisi jantung eyang baik, tapi memang pola tidurnya yang lama (sekali) sempat bikin khawatir. Update kabar di hari-hari berikutnya mengabarkan bahwa kondisi eyang kurang stabil. Sempat dipasangi sonde (selang) untuk makan dari hidungnya dan infus. Kabarnya dicurigai ada stroke. Kondisinya nggak stabil.
Usia eyang saat ini sudah 91 tahun. Sudah sepuh, memang... kondisinya memang ya... sakit tua-lah. Tante Wiwik dan tante Sri langsung berangkat ke Solo untuk menemui eyang, sementara cucu-cucunya yang tersebar di Bandung, Bogor, dan Jakarta, 'asyik-asyik' bertukar kabar via sms dan e-mail. Kita doakan yang terbaik untuk eyang. Jika memang Allah masih memanjangkan umurnya, semoga diberi sehat. Tapi jika Allah berkehendak lain, semoga eyang diberi kemudahan pada saat Dia memanggilnya.
Putra-putri eyang ada 10, dan 3 di antaranya sudah meninggal dunia mendahului ibu mereka. Menantu eyang pun, 3 orang telah mendahului beliau dipanggil ke haribaan-Nya. Selain itu, cucu eyang pun sudah 3 orang yang meninggal. Ketiganya cucu menantu. Yang lebih muda malah sudah meninggal dunia lebih dulu. Ini sungguh jadi bukti bahwa usia adalah rahasia Allah, dan hanya Dia yang berhak mengetahui, kapan saat seseorang sudah tiba.
Jumat malam, kudengar kabar eyang mangkat. Innalillaahi wa inna ilayhi raaji'uun. Semoga Allah SWT memberikan tempat terbaik sesuai dengan amal ibadah eyang. Amiin. Ibu dan kakakku memang sudah pesan tiket untuk berangkat ke Solo hari Sabtu pagi. Tak sempat melihat eyang terakhir kali selagi masih hidup, mungkin hanya sempat menziarahi makamnya. Selamat jalan, eyang.
Blogged with the Flock Browser

Friday, November 07, 2008

Ak! Obama Menang

Foto hasil jepretan Reuters yang muncul jadi headline koran Republika tanggal 17 Oktober lalu ini menunjukkan kandidat presiden AS John McCain yang bereaksi spontan saat salah jalan pada debat terakhir capres di New York. Hal ini mungkin jadi pertanda bakal kekalahannya dari kandidat kuat capres AS, Barack Obama.
Setelah kemenangan Obama tanggal 4 November lalu, Indonesia pun seolah ikut merayakan dan berpartisipasi dalam kemenangan presiden kulit hitam pertama di Amerika ini. Sekitar 3 tahun masa bersekolah dasar, dilewatkan Obama di Indonesia, di sebuah sekolah di kawasan Menteng. Sedangkan saudara tirinya -dari sang ayah tiri yang memang orang Indonesia- berdomisili di Cirebon, Jawa Barat. Berita di media cetak dan elektronik ramai memperbincangkan hal ini.
Amerika sedang mengukir sejarah sekarang ini. Obama adalah capres kulit hitam pertama, sedangkan di kubu lawannya, McCain adalah capres tertua sepanjang sejarah AS, demikian pula cawapresnya, Sarah Palin, yang merupakan cawapres wanita pertama. Dan ketika akhirnya Amerika memilih Obama, sejarah baru telah dibuat. Semoga Obama dapat membawa perubahan baik tidak hanya bagi Amerika, namun juga pada negara lain yang menjadi rekanan politik dan ekonominya, termasuk Indonesia. Amiin.

Blogged with the Flock Browser

Thursday, November 06, 2008

Triplet Wijayakusuma

Pulang sekolah kemarin malam, capek... ngantuk... kedinginan... udah terserang pilek pula, nggak mood banget deh untuk ngeringin mobil yang butek gara-gara hujan seharian. Tapi terhibur rasanya hati melihat bunga wijayakusuma kembar tiga yang menyambutku di taman ibu. Belum mekar sempurna sih karena memang belum tengah malam, tapi indah... sungguh. Lebih indah daripada gambar yang berhasil kutangkap dan kupampang di sini. Kalau di depan rumah, ditambah efek aroma semerbak samar-samar. Sungguh indah ciptaan Allah.