Friday, December 11, 2009

detikcom : Sambut Hari Guru, Microsoft Buka Bloggership 2010

title : Sambut Hari Guru, Microsoft Buka Bloggership 2010
summary : Bertepatan dengan Hari Guru Nasional, 25 November 2009, Microsoft Indonesia kembali meluncurkan Microsoft Bloggership 2010. Apa tema tahun ini? (read more)

Monday, December 07, 2009

Bertemu Nanny Stella

Dapat info panas. Dari sebuah milis yang kuikuti, terbuka kesempatan untuk mengikuti sebuah lomba menulis. Kali ini menulis artikel pendidikan atau psikologi. Deadline-nya mepet banget. Aku baru tahu infonya tanggal 3, sementara deadline-nya tanggal 4, dan pemenangnya akan diumumkan pada hari itu juga, pukul 6 sore.
Kebetulan, aku punya 'stok' tulisan setengah jadi tentang pendidikan, tepatnya tentang alasan untuk memilih sekolah dengan sistem full day. Semalaman, kurampungkan tulisan itu. Ah... tidak semalaman juga sih... hanya sedikit selepas tengah malam, aku menyelesaikan tulisan itu dan siap kukirim di pagi tanggal 4.
Udah G-R (atau ke-PD-an ya?) tentang kemungkinan aku memenangkan hadiah yang ditawarkan, selembar golden ticket seharga Rp 850.000,- untuk mengikuti sesi grand seminar bersama nanny Stella, the nanny911. Gimana nggak ngiler, coba... (makanya bela-belain begadang)? Kesempatan begini kan nggak datang tiap bulan. Belum tentu juga tiap tahun. Kalau menang... harus datang nih.
Sore tanggal 4 itu, alhamdulillah aku dapat pemberitahuan melalui e-mail dan sms, mengabari kemenanganku sebagai salah satu pemenang tiket untuk mengikuti seminar itu dan bertemu Nanny Stella secara langsung. Wow... Langsung deh aku siap-siap berkemas. JITEC Mangga Dua, aku datang...!

Sunday, November 29, 2009

Trophy Pertamaku

Selepas lomba blog kebahasaan yang lalu, baru belakangan ini aku mendapatkan hadiahnya, sejumlah uang tunai dan trophy. Ini adalah trophy pertamaku. Sungguh. Walaupun aku telah beberapa kali memenangkan beberapa lomba sebelumnya, piagam, medali dan beragam hadiah telah kumenangkan juga. Tapi mendapat trophy, baru kali ini. Mudah-mudahan jadi pemicu semangatku untuk mengikuti (dan memenangi) berbagai lomba lain. Semoga menginspirasi.

Tuesday, November 17, 2009

Berdebar-debar Berburu Premium

Sebuah hari Jumat. Aku berencana datang terlambat ke sekolah, karena harus menyelesaikan urusan taspen dan terminasi pembayaran pensiun almarhumah ibu. Sedikit njelimet karena ada beberapa berkas yang belum lengkap. Surat Keputusan pensiun ibu, entah di mana adanya (tapi ternyata ada juga berkasnya di kantor Taspen). Surat keterangan dari BRI, (belakangan ketahuan, ternyata masih kurang satu data dan stempel). Dilanjut dengan mampir ke toko ACCU untuk membeli satu buat mobilku, untuk langsung dipasang agar bisa berangkat ke sekolah mengendarainya.
Menjelang tengah hari, urusan kami selesai. Aku siap-siap ke sekolah. Terlambat juga tak mengapa, karena malam itu akan berjaga. Ikut bertugas di sekolah, berpartisipasi dalam kegiatan Science Night. Semua guru harusnya ikut. Jadi... aku yang baru beberapa hari lalu ditinggal ibu, ya ikutan juga-lah. Nggak ada urusan dengan kedukaan, aku harus masu k kerja. Ayo, ikutan pakai slogan Pertamina, "kerja keras adalah energi kita".
Ngomongin Pertamina, aku jadi ingat tangki bahan bakar Katana-ku. Nyaris kosong nih. Harus segera diisi premium lagi. ACCU sudah OK, tanki bahan bakar megap-megap minta diisi nih. Tengah hari Jumat begitu, ternyata nggak gampang menemukan SPBU yang buka dan melayani pembeli untuk penjualan premium maupun solar.
Perburuanku dimulai dari SPBU di dekat rumah. Kulihat untaian rantai memblokade jalan masuk ke area SPBU, dengan papan pemberitahuan "Sedang Shalat Jumat". Maka aku hanya melintas di depannya. Dilanjut dengan yang berikutnya di kawasan yang biasa macet kalau pagi hari kulewati. Tutup juga. Aku jalan terus, menuju gerbang tol Toha yang biasa kumasuki. Mulai dari rumah hingga gerbang tol, ada sekitar 4 SPBU yang kulewati. Semuanya tutup, semua petugasnya sedang shalat Jumat. Rupanya, selain membiasakan diri untuk kerja keras, para petugas itu juga tak lupa beribadah sebagai energi mereka.
Aku mulai cemas nih. Kondisi bensin sudah kritis. Untungnya, di sebuah SPBU baru di dekat gerbang tol juga, aku bisa masuk dan dilayani oleh petugas perempuan yang memang tidak shalat Jumat. Dengan ramah dan cekatan, dia mengisi tangki bensinku sesuai dengan jumlah rupiah yang kuminta. Pas! Cocok dengan dengan imej barunya, Pertamina pasti pas.
Alhamdulillah... aku bisa bernapas lega dan memacu Katana-ku kembali di jalan tol. Tidak hanya petugas Pertamina yang harus menerapkan slogan baru. Aku yang sudah terlambat pun harus bersicepat ke sekolah. Yuk, ikutan slogan Pertamina, karena "Kerja Keras Adalah Energi Kita". ;)

Saturday, November 14, 2009

Yang Terlarang di SPBU

Di sebuah SPBU di dekat gerbang tol Padalarang, aku menemukan tanda peringatan ini. Standar, sebetulnya, seperti yang biasa terlihat di SPBU lainnya (dan biasa dilanggar orang-orang :p).
Dilarang memotret (eh, kenapa ya?) Aku kok ya memotret juga. Soalnya gambar dan tulisan ini harus diabadikan dan dipublikasikan di blog ini, sebagai bukti nyata.
Dilarang merokok. Tentu saja. Akan sangat berbahaya tentunya jika perokok aktif di Indonesia masih juga merokok di SPBU. Berani ambil resiko membuat area itu meledak?
Dilarang meng-aktifkan telepon. Disinyalir gelombang telepon bisa mengganggu kinerja alat-alat di SPBU bahkan menyebabkan letupan listrik yang bisa berakibat -lagi-lagi- membuat ledakan di SPBU. Ada kejadian nyata lho tentang ini, beritanya sampai masuk koran segala.
Dan di bagian bawah, dipasang tulisan "DILARANG MELAYANI JERIGEN", padahal SPBU Pertamina sudah bertekad bulat untuk mewujudkan mottonya: kerja keras adalah energi kita. Lho, bukankah para pembawa jerigen itu juga sudah susah payah, bekerja keras membawa jerigen ke SPBU, mengantri dan kalau perlu berdebat kusir dengan para petugas SPBU untuk mendapatkan layanan pembelian bahan bakar, lalu bekerja keras juga membawanya kembali dan mendistribusikannya (menjualnya kembali, begitu) kepada konsumen secara langsung. Eh... tunggu... tunggu... Yang tidak boleh dilayani jerigen kan...? Kalau orang yang membawa jerigen? Boleh dilayani kali ya...? ;) Hehe...

Friday, November 13, 2009

Kemenangan (Kecil) Ini Untuk Ibu

Sebelum ibu jatuh sakit, aku sudah mendapat panggilan telefon dari Balai Bahasa Bandung, mengkonfirmasi data mengenai aku dan blog yang kuikutsertakan dalam lomba blog kebahasaan. Selain menyemangati aku untuk terus meng-update posting-an di blog tersebut. Kumintakan doa pada ibu agar blog tersebut lolos sebagai salah satu pemenang. Doa ibu menjelang akhir hayatnya, rupanya didengar Allah. Blog tersebut, bahasamania.blogspot.com keluar sebagai salah satu pemenang di lomba tersebut. Berikut ini link ke laman pengumuman hasil lomba.
Alhamdulillah.

Wednesday, November 11, 2009

Doa Untuk Ibunda

Banyak doa indah dilantunkan kawan dan kerabat,
Untuk ibunda yang sedang dirawat
Di ruang perawatan hingga ICU sebuah rumah sakit Islam
Ibunda hanya dapat terbaring dalam diam
Sejak sakit hingga berpulangnya
Kami selalu ada di dekatnya
Mendoakan dan mengupayakan
Yang terbaik untuk sebuah kesembuhan
Namun usia telah ditetapkan
Oleh Yang Maha Menentukan
Tak dapat diajukan ataupun dimundurkan
Tugas sang Izrail harus dijalankan
Allah… kami berserah
Tak bisa lain selain pasrah
Walaupun Engkau dengar apa yang kami pinta
Engkau lebih tahu apa yang terbaik bagi kami maupun ibunda
Saat ini doa kami padaMu
Tempatkan bunda kami di sisi-Mu
Terimalah amal ibadahnya, lapangkan kuburnya,
Dan kelak kumpulkan kami semua
Di hadapan-mu, sebagai hamba
Sebagai satu keluarga yang takwa, untuk masuk ke dalam surga
Amiin ya Rabbal ‘aalamiin

"Ya Allah ampunilah dosanya, sayangilah dia, maafkanlah dia, sehatkanlah dia, muliakanlah tempat tinggalnya, luaskanlah kuburannya, mandikanlah dia dengan air es dan air embun, bersihkanlah dari segala kesalahan sebagaimana kain putih bersih dari kotoran, gantikanlah untuknya tempat tinggal yang lebih baik dari tempat tinggalnya, keluarga yang lebih baik dari keluarganya, pasangan yang lebih baik dari pasangannya dan peliharalah dia dari siksa kubur dan siksa neraka.”(HR Muslim).

Monday, October 05, 2009

Ramadhan This Year...

Awal Oktober, harap-harap cemas aku mengecek situs islamonline.net. Aku mencari berita tertentu di situs Islam itu. Penasaran. 1 Oktober, berita yang kucari belum ada. 2 Oktober, juga belum. Tanggal 3 Oktober, hari Sabtu, ketika aku masih harus ke sekolah, tentu saja kusempatkan mengecek kembali berita yang kucari di dunia maya itu melalui komputer jinjing yang selalu kubawa ke sekolah. Masih juga belum ada.
Hari Minggu, nekat, nekat deh. Aku mengakses internet di rumah melalui komputer jinjingku dengan ponsel sebagai modem dan pulsa indosat reguler di dalamnya. Nekat. Kenapa coba? Mahal, tahu?! Apalagi kecepatan loading jadi menurun drastis. Tapi itu semua mengalahkan rasa penasaranku. Kubuka lagi situs islamonline.net. Ah... akhirnya halaman muka situs itu bisa juga terbuka di layar komputerku. Ku-klik tombol informasi yang kucari, pengumuman lomba blog
Ramadhan. Hasilnya, bisa diduga... Juara 1 sampai 3 (juara 3 dimenangkan 2 orang), ternyata nama-nama yang sama sekali belum kukenal. Kutelusuri lagi daftar lima orang runner up lainnya, the best 5, ceritanya. Satu dari Afsel, dua orang dari Inggris, satu dari India, dan yang kelima dari Indonesia, yaitu aku!!! Subhanallah... Alhamdulillah...
Tak percaya rasanya. Cek lagi halaman situs itu, kubaca berkali-kali. Tetap namaku yang tertulis di sana, untuk posting-an bertajuk "Ramadhan This Year...". Senangnya... Buatku, ini bukan sekedar lomba blog biasa. Lomba kali ini harus berkisah tentang Ramadhan di negara kita dengan ke-khas-annya masing-masing, dan tulisan harus berbahasa Inggris. Bahasa Inggris tetap bukan bahasa pertamaku, dan aku pun masih tertatih untuk belajar menulis. Susah betul menulisnya, dan aku main posting aja, tanpa konsultasi dengan native speaker, padahal aku punya beberapa kenalan. Nekat lagi... Ngejar deadline, soalnya :p
Hasil lomba ini jadi satu pencapaian kecil, satu langkah sukses lagi buatku. Bukan event yang luar biasa, memang, nggak berhadiah berbentuk materi, pula (jadi jangan minta traktiran ya..:p). Tapi tentunya satu hadiah berharga bagi batinku, agar aku makin memicu semangat untuk berbuat lebih banyak, melompat lebih jauh,dan berkarya lebih baik. Insya Allah.
Link ke situs tersebut bisa diakses di sini: http://www.islamonline.net/servlet/Satellite?c=Article_C&cid=1254573300647&pagename=Zone-English-ArtCulture%2FACELayout

Tuesday, September 29, 2009

Silaturahmi Tahunan

Beberapa tahun belakangan ini, masa-masa pasca-lebaran kami manfaatkan untuk bersilaturahmi. Kami sempatkan untuk berkunjung ke rumah Pak Rombang, mantan atasan kami. Beliau adalah mantan kepala sekolah di tempat aku mengajar dulu. Hal ini rutin kami lakukan setiap tahun. Tahun ini, pak Rombang juga bersiap-siap untuk ‘invasi’ kami ke kediaman beliau… Biarpun sudah berkali-kali berkunjung ke sana, sendiri ataupun bersama-sama, aku masih juga sering nyasar di kompleks besar itu. Tidak mudah memang menemukan jalan Pluto yang terletak di pelosok kompleks Margahayu Raya yang luas. Tahun ini, Alhamdulillah nggak nyasar lagi. Dua tahun lalu, kami saling mengajak teman, dengan pesan berantai, sms-an. Yuk, kita bersilaturahmi ke rumah pak Rombang. Tahun sebelumnya kami perempuan saja yang ke sana. Jadi nggak enak hati kan, sama istrinya. Biarpun mereka berdua sudah cukup sepuh, tapi tetep aja nggak enak hati ketika yang datang kok gadis-gadis semua. Haha…! Tahun berikutnya kami mengajak beberapa orang bapak rekan kerja kami untuk ikut berkunjung. Untungnya mereka setuju. Diaturlah waktu pertemuan yang tepat untuk itu. Bada dzuhur, sesudah makan siang, supaya nggak usah ngerepotin tuan rumah dengan acara menjamu kita-kita (huhuy… ke-GR-an amat ya? ;)) Di hari yang sudah disepakati, kami datang satu persatu ke kediaman beliau. Tidak berapa lama kemudian, kami sudah terlibat perbincangan seru. Segala macam topik bisa jadi bahan perbincangan. Mulai dari urusan birokrasi sekolah yang masih juga njelimet hingga urusan nyari sekolah lagi (Nerusin sekolah, maksudnya…). Mulai dari teman-teman yang masih aktif mengajar hingga yang sudah resign. Mulai dari urusan anak, keluarga, hingga perjuangan mencari pasangan hidup. Hah… susah ya kalau udah ngomongin yang satu ini. Soalnya, salah satu ‘korbannya’ adalah aku Sampailah saat adzan asar. Bapak-bapak pergi shalat ke masjid dekat rumah pak Rombang, sementara ibu-ibu numpang shalat di rumah. Yang nggak shalat, menemani ibu Rombang sambil bincang-bincang lebih jauh. Sepulangnya bapak-bapak dari masjid, perbincangan berlanjut lagi. Tentang masa kini dan masa lalu, tentang kenangan dan harapan, wah… pokoknya perbincangan nggak habis-habis deh. Sulit untuk menyudahi. Ketika kita sudah menggiring pembicaraan ke arah penutup untuk segera pamit, eh… addaaa aja yang nyambung lagi, bikin cerita jadi panjang lagi. Tak terasa, waktu maghrib pun tiba. Beneran deh, saatnya pamitan. Yak ampuuun, masih ada juga yang manjang-manjangin cerita. Niat mau pulang masih belum juga terlaksana. Sampai akhirnya.. pett!!! Mati lampu. Gelaplah sekitar. Ibu Rombang sibuk mencari lilin ke dalam, gelap-gelapan, sementara pak Rombang masih menemani kami di ruang tamu. Salah seorang kawan menyalakan lampu di ponselnya, dan masih juga melanjutkan berbincang. Nggak enak hati juga kita. Maksudnya, masa sih ketika suasana terang-riang kita ngobrol dan berbincang, tapi ketika lampu mati lantas kita pergi begitu saja. Rasanya kok ya kurang sopan gitu ya. Tapi memang harus pulang nih. Akhirnya ketika ibu Rombang sudah datang membawa lilin menyala, kita sepakat untuk pamitan pulang. Lagi, yang bapak-bapak pergi ke masjid untuk shalat di sana, sementara kami yang ibu-ibu shalat maghrib di Carrefour Kircon, nggak jauh dari rumah pak Rombang. Sekalian makan malam dan belanja. Mumpung deket… ;). Padahal sih memang dasarnya ibu-ibu, sukanya belanja melulu :p Jadi, kejadian tahun itu merupakan reuni sekaligus silaturahmi yang nyaris nggak berhenti-berhenti, diakhiri acara makan dan ketawa-ketiwi. Capek deh pipi. Tahun ini, kami berkunjung lagi. Dan masih juga… perbincangan nggak berhenti-berhenti. Kami sudah pamitan pun, pak Rombang masih juga ngajakin bincang-bincang di teras rumahnya (abis berfoto-foto tuh..) Jam setengah dua-an, akhirnya aku dan Intan baru berhasil meloloskan diri. Hihi… Bukannya nggak kangen, pak, tapi masih ada tujuan lain yang berencana kami datangi. Silaturahmi juga. Mumpung masih liburan nih. Kalau sudah masuk sekolah lagi, kan nggak bisa ke mana-mana selain ke kelas dan ketemu murid-murid.
Minal aidin wa faizin. Maaf lahir batin ya atas semua salah dan khilaf.

Sunday, September 27, 2009

Dari Puncak CiWalk

Kamis, 24 September 2009, aku, Intan dan Umi berniat ketemuan untuk bersilaturahmi pasca Idul Fitri, mau Meraih Mimpi bersama-sama. Maksudnya, mau nonton film animasi karya Nia Dinata ini di teater XXI CiWalk.
Setelah late brunch di rumah, aku pergi ke rumah Intan dulu. Menjemputnya sebelum kemudian berangkat bareng ke lokasi. Jalanan tidak terlalu padat, dan kami bisa sampai cukup cepat ke area Cihampelas. Di jalan Cihampelas itulah laju kendaraan padat merayap. Kendaraan dari atas (Ciumbuleuit dan Dago) ataupun Cipaganti, berbaur di Cihampelas. Kendaraan yang menuju gerbang tol Pasteur, ataupun yang masih ingin berlama-lama di Bandung dan menjajal area CiWalk, campur baur di sana.
Seperti sudah diprediksi, CiWalk ramai... deh. Mencari slot parkir jadi susah sekali. Aku harus berputar naik berkali-kali hingga lantai tertinggi. Agak ngeri juga setiap kali mendaki landasan terjal menuju lantai berikutnya. Kuat nggak nih, katana kecilku. Jangan dulu mikirin turunnya deh. Udah ngeri duluan. Tapi... rupanya kengerian itu terbayar dengan pemandangan indah dari atas gedung CiWalk. Di kejauhan nampak jembatan layang Pasupati yang gagah. Indah.
Ketemu Umi yang sudah nunggu lama. Jadi malu hati karena sudah bikin dosa lagi. Dia ternyata nggak bisa ikutan acara kita karena akan dijemput sang kakak dari luar kota yang berencana untuk bersilaturahmi ke rumah kerabat. Jadi cuma ketemu sebentar, lalu dia pergi. Aku dan Intan lalu mengantri tiket bioskop di teater 2 untuk film Meraih Mimpi. Dapat barisan paling belakang di sayap kiri. Lokasi yang cukup strategis, menurutku.
Nontonlah kita sambil menahan lapar gara-gara belum sempat makan siang. Tayangan film itu tak kunikmati betul. Mungkin karena lapar (hehe...), aku jadi ekstra kritis terhadap apa yang kulihat dan kudengar. Begitu banyak taburan bintang Indonesia yang terlibat di dalam proses produksi film itu, kurasa malah membuatnya jadi tidak fokus. Cut Mini sebagai Kakatu kurasa bermain apik. Penggambaran Gita Gutawa sebagai Dana si gadis desa dengan celana pendek birunya, kurasa tidak cukup membumi. Kurang meng-Indonesia, gitu. Patton sebagai Rai, adiknya Dana, yang digambarkan suka kungfu, hm... lucu juga sih. Di beberapa scene-nya kok ya jadi seperti Kungfu Panda ya. Agak lebay sih... tapi masih OK-lah.
Komunitas binatang di hutan sekitar, ini juga kurasa kurang tergarap dengan apik. Begitu banyak binatang dengan logat bahasa lokal yang tergabung di sana. Ada monyet Sunda, kancil Cina, bunglon Jawa, sementara Kakatu konsisten dengan logat melayunya. Padahal mereka tinggal di hutan yang sama.
Mencermati gambar animasi sepanjang film ini, kupikir animator Indonesia yang terlibat boleh diberi applause untuk penyemangat kerja mereka. Belum bisa dibandingkan dengan animasi Disney sih. Masih jauh deh rasanya, tapi sudah cukup lumayan-lah. Gerak bibir para pemeran kadang tidak sinkron dengan kata-kata yang diucapkannya. Tapi sejauh ini, film itu masih bisa kuberi dua bintang deh. Sementara itu, Gita Gutawa masih bisa dapat poin tambahan ketika dia menyanyikan themesong untuk film ini. Cantik betul. Suaranya yang jernih, artikulasi yang pas dengan nada yang tepat membuat film ini semakin cantik. Lagi-lagi, jadi teringat film yang lain sebagai pembanding, dan film Meraih Mimpi ini kalah lagi. Petualangan Sherina dengan lagu-lagu cantiknya menurutku masih lebih bagus. Ayo, sejarah perfilman Indonesia sudah mencatat karya-karya besar anak bangsa yang membanggakan. Di masa depan, pasti akan ada film Indonesia yang lebih spektakuler dan mengguncang sejarah (karena bagusnya). Insya Allah.
Usai nonton film, aku shalat asar dulu di mushala CiWalk yang apik. Setelah itu jalan-jalan sebentar di kawasan pertokoan, sekedar cuci mata, lalu menuju sebuah restoran favorit untuk makan siang yang sangat terlambat (atau makan malam yang terlalu awal?) Beberapa kekecewaan terpaksa kualami lagi. Berawal dari tak dipedulikannya kehadiran kami, dua orang perempuan sederhana di restoran yang cukup elit itu. Kita harus bengong dulu beberapa saat sebelum waiter mengantar kami ke meja yang tersedia. Setelah memesan dan berbincang berpanjang-panjang, eh... pesanan kita ternyata nggak datang-datang. Waiter/waitress malah mendahulukan pelanggan di meja lain yang justru datang belakangan. Setelah sedikit complain (cuma dengan muka asem kita sih...), akhirnya pesanan kita datang juga. Alhamdulillah. Makanlah kita sambil melanjutkan bincang-bincang.
Selesai makan, aku buru-buru ke mushala lagi untuk shalat magrib, sementara Intan ke lantai bawah untuk window shopping sesi ke-2. Selesai shalat, aku bergabung dengan Intan. Lihat-lihat juga. Tertarik dengan beberapa helai batik cantik, tapi nggak tega mbayarnya (soalnya mahal sih...). Agak ngiler juga lihat dislay sepatu-sepatu lucu, tapi sengaja nggak nyari nomor yang cocok denganku. Kalo ada, nanti aku merasa berkewajiban untuk beli. Bisa gawat. Intan menemukan softcase yang cocok untuk laptopnya, sementara aku nggak menemukan banyak pilihan untuk laptop berlayar 15 inci yang kupunya. Pengen punya sih, tapi belum mau beli karena opsi yang tersedia tidak cukup menarik buatku.
Usai menjelajah lantai bawah CiWalk, ah... rasanya hari sudah cukup panjang. Sudah saatnya untuk pulang. Kembali ke lantai atas tempat parkir mobil, kudapati pemandangan indah, Bandung di malam hari. Tentu kusempatkan untuk mengambil satu-dua shot dari kamera poketku, dan salah satu yang tercantik, kupajang di sini ya, untuk kita nikmati bersama. Enjoy Bandung... ;)

Saturday, September 26, 2009

Wisata Puntang

Hari pertama Idul fitri. Ritual tahunan, nyaris tak ada bedanya, kecuali dengan kedatangan sepupuku dari Jakarta yang tidak biasa. Kunjungan yang menghadirkan tanda tanya besar karena kali ini tanpa disertai keluarganya.
Hari kedua Idul fitri. Sementara anak-anak (baca: ponakan-ponakanku) ‘diungsikan’ ke rumah kakak, kami empat orang dewasa di rumah memanfaatkan ketiadaan mereka dengan beres-beres pasca-lebaran. Nyuci piring dan peralatan masak, nyuci baju, beres-beres rumah. Segar semua deh.
Hari ketiga Idul fitri, Selasa, 22 September 2009, rencana jalan-jalan keluarga telah disusun. Target: Area wisata Gunung Puntang, Banjaran. Catatan: lokasi ini sering jadi sasaran penggemblengan kami ketika masih jadi pramuka jaman SMP dan SMA. Aku dan kakak-kakak ipar sih serasa nostalgia aja ;)
Sekitar jam 9, kami bertolak. Konvoi 4 mobil, siap menuju kawasan Puntang. Aku menumpang mobil kakakku, sedan Honda City, bersama ibu dan satu kakak lainnya. Mobil kakak yang lain (Toyota Avanza) dikemudikan oleh kakak ipar, membawa istri, ketiga anaknya, dan 4 keponakan. Fully-loaded. Yang berikutnya, Suzuki Karimun hitam, dibawa oleh kakak ipar kakakku, sekeluarga, 4 orang, plus segala persediaan pangan ;) Yang terakhir, Mitsubishi carry merah yang relatif kosong, hanya diisi oleh suami-istri adik ipar kakakku. Dua anak mereka kan sudah menumpang di mobil kakakku. Cari serunya tuh.
Perjalanan tidak jauh. Tidak sampai satu jam, kami sudah sampai di lokasi. Jalan menanjak dan berkelok-kelok, membawa kami ke kaki gunung Puntang yang permai (halah...) Area Puntang masih relatif sepi di pagi Selasa itu. Kami menemukan sebuah lokasi landai beratap yang kami gunakan sebagai “base camp”. A Iwan alias papah akan menjaga base camp, sementara kami berjalan sedikit mendaki, ke area yang kami ingini. Mau ke mana...? Curug? Lapangan tenis masa silam (dibangun di jaman Belanda tuh...)? Kolam cinta (karena bentuk kolamnya menyerupai bentuk hati, walaupun kolam itu sudah tak berair dan tak digunakan lagi)? Kami pun mendaki hingga lokasi kolam cinta. Ibuku yang sudah nenek-nenek maupun keponakan kecilku yang belum lagi genap 3 tahun, masih bisa mendaki dan berjalan sendiri.
Berfoto-fotolah kami di sana. Melanjutkan perjalanan, ibu dan beberapa orang kakakku kembali ke base camp, sementara aku dan beberapa orang lainnya, plus seluruh keponakan berjalan lagi menyusuri jalan setapak untuk menemukan tepi sungai. Sungai kecil yang berair sangat jernih itu sangat mengundang keinginan untuk menceburkan diri ke dalamnya. Walaupun airnya dingin sekali, tapi keponakanku tak ragu untuk bermain-main di antara bebatuan besar itu. Pengalaman baru untuk mereka. Keponakan kecilku pun ikut berkecipak di air tenang. Setelah semua bajunya ditanggalkan (oleh sang ayah), dia dibiarkan untuk berjalan-jalan dan menjelajah sebagian kecil wilayah sungai itu, sementara kakak-kakak sepupunya asyik dan seru bermain air dengan segala gaya ;)
Dinginnya air membuat keponakan kecilku memuaskan diri dengan berjalan di air dangkal di antara bebatuan. Cipratan air dari aktivitas heboh kakak-kakaknya sempat membuatnya kesal. Tapi rupanya lama kelamaan dia tertarik juga untuk menjajal aliran sungai itu. Dia mulai dengan berjongkok di air dangkal. Pinggangnya ke bawah sudah basah, dan dia menyenangi arus kecil air sungai melintas di sekitarnya. Sementara itu kakak-kakaknya menemukan lokasi serupa kolam kecil dengan arus berbuih yang menyerupai kolam jacuzzi air dingin. Seru sekali mereka bertiga, para perjaka muda itu, bermain di dalamnya.
Sebelum tengah hari, kami berkemas dan kembali ke basecamp. Di perjalanan, si adik berucap, “Adik lapar...” Ha!!! Nggak biasanya dia begitu. Biasanya kalau jam makannya tiba, dia harus dibujuk atau dikejar-kejar dulu untuk makan, dan sekarang dia bilang lapar? Pasti efek dari kedinginan tuh. Kakak perempuannya juga kedinginan sampai ke tulang. Jelas aja, bajunya basah semua. Untunglah kita tidak begitu jauh dari base camp. Sesampainya di sana, segera saja mulut-mulut kecil itu lahap menyambut makanan yang disuapkan ke depan mereka. Lapar berat tuh, judulnya ;)
Selesai makan, ponakan-ponakanku ingin main air lagi. Maka turunlah mereka ke cabang sungai yang terletak agak di bawah base camp yang kita tempati. Main air lagi, tapi tak seseru sesi sebelumnya. Berfoto-ria, nggak lupa dong, tapi tidak dengan kameraku. Low batt se-low-low-nya membuat kameraku tak berguna di sesi siang itu. Tapi pengalaman bahagia di hari lebaran itu toh sudah terekam dan tersimpan di memory card dalam kameraku, siap untuk di-upload ke album foto facebook-ku. Wisata Puntang, judulnya.
Segera setelah kupasang dan kuberi komentar pendek-pendek di setiap fotonya, komentar dari teman-teman spontan berdatangan, menyatakan kekaguman. Sungai jernih yang alami, lengkap dengan batu-batu besar begitu, di mana lagi bisa ditemui? Setelah jenuh dengan suasana kota dengan hutan beton, hutan pinus tentu akan jadi penyejuk mata. Pemandangan sungai kotor penuh sampah yang melintas di tengah kota sebagai ‘santapan’ sehari-hari, tentu akan menyenangkan bila bisa menghapusnya sejenak dari pelupuk mata, digantikan dengan pemandangan alam segar tepi sungai yang masih alami. Siapa yang tidak tertarik, coba...? Ayo deh, siapa mau ikut wisata Puntang, aku mau deh jadi guide-nya ;)

Sunday, September 20, 2009

Tradisi (Jelek) Lebaran

Alhamdulillah, sampai juga kita di bulan Syawal. Sedih juga ketika Ramadhan meninggalkan kita. Bulan mulia itu telah berlalu. Semoga Allah masih memberi umur agar kita bisa bertemu lagi dengan Ramadhan di tahun depan, untuk melakukan amalan terbaik, yang lebih baik dari tahun ini. Amiin.
Setiap tahun, selalu ada yang pantas kita cermati dari pelaksanaan Ramadhan dan Lebaran di negara kita tercinta, Indonesia ini (biarpun Agustus sudah lewat, aku tetap cinta Indonesia lho…) Kadang malu juga sih, soalnya sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia (ya iyalah, luas negaranya juga lumayan gitu lho, bukan lu manyun :p), ternyata kualitas umatnya rata-rata masih memble. Kuantitas boleh diadu, tapi kualitas belum bisa dijagokan. Sungguh seperti ucapan nabi bertahun silam, “Suatu saat umat muslim akan berjumlah besar, namun hanya seperti buih di lautan.” Nggak punya kekuatan. Mungkin karena masih ada hal-hal kecil yang kita permasalahkan, bukannya mengurusi hal besar dan bermanfaat. Beberapa contoh kecil di sini, coba ingat-ingat… adakah di sekitar kita, atau malah kita sendiri pelakunya? Hmm…
Lebaran Tidak Bersamaan
Tahun ini, persoalan Lebaran yang tidak bersamaan, muncul lagi. Sempat muncul kebingungan sih di masyarakat, Idul Fitri tuh kapan ya…? 20 atau 21 September? Yang jelas mah tanggal 1 Syawal deh. Ketika berbagai ormas besar hingga MUI sudah sepakat dengan tanggal penetapan 20 September sebagai 1 Syawal, eh… masih ada saja kelompok-kelompok kecil di beberapa tempat di Indonesia yang “mencuri start” dengan berlebaran lebih dulu. Hayoo… puasanya 28 hari ya…?
Main Petasan di Malam Takbiran
Ini lagi yang bikin sebel en mangkel. Di sekitar rumah nih, pada malam takbiran, beberapa pemuda tanggung main petasan malam-malam. Nggak tanggung-tanggung, petasannya meledak dengan kekuatan besar. Suaranya fantastis. Ini sih sudah nggak bisa ditolerir lagi. lha wong malam takbiran gitu lho. Orang lain sibuk takbiran di masjid atau malah kirab keliling kampung, ini malah main petasan di sekitar perumahan. Berisik, tahu?!? Belum lagi perbincangan di antara mereka yang ramai dengan bahasa dan kata-kata kasar. Gemas aku jadinya. Kuteriaki dari jendela kamarku, “Hey, takbiran sana, jangan main petasan aja. Ngganggu!” Salah satu dari mereka sempat berseru, “Allaahu akbar Allaahu akbar. Laa ilaaha ilallaahuwallaahu akbar…” sambil berlalu.
Mereka sempat pergi beberapa saat. Eh eh eh… jam 10-11-an mereka (atau rombongan yang lain lagi kali ya) datang lagi, main petasan lagi. Kuteriaki lagi, “Hey, sayang-sayang uangnya tuh. Daripada beli petasan dan ngganggu orang, mendingan sumbangin buat korban gempa, sana!” Sekitar 10 km dari kediaman kita, di Banjaran dan Pangalengan, banyak saudara-saudara kita yang jadi korban gempa pertengahan Ramadhan tempo hari. Betul kan, daripada buang uang dan jadi dosa, mendingan sumbangin dan jadi pahala.
Membiarkan Koran Berantakan/Berserakan
Satu lagi nih. Yang ini terjadi di hari Idul Fitri. Khutbah Idul fitri tak sepenuhnya disimak oleh jamaah, padahal khatibnya mirip-mirip ustadz Yusuf mansyur lho (sedikiit… banyak enggaknya. Haha…) Sebelum sang khatib sempurna menutup khutbahnya dengan doa, sudah banyak jamaah yang berdiri dan membubarkan diri. Nggak sopan banget ya. Lebih nggak sopan lagi, ketika banyak di antara mereka yang membiarkan koran alas shalat mereka berserakan di lapangan. Boro-boro dibawa pulang lagi. Dibereskan saja enggak. Mentalitas macam apa tuh? Seorang anak kecil bertanya pada ibunya, “Korannya nggak dibawa, mah?” Sang ibu menjawab santai, “Biarin aja.” Tak puas dengan jawaban ibunya, si anak bertanya lagi, “Kenapa dibiarin?” Ibunya agak bingung sih, tapi dia jawab lagi, “Iya… nanti biar diambil orang… buat disumbangin…” Eh… sembarangan aja nih si ibu. Disumbangin ke mana koran robek-robek begitu? Asbun aja... Sedangkan beberapa hadits mengabarkan bahwa Islam itu indah.
Allah itu indah, dan Dia mencintai keindahan.
Kebersihan sebagian dari iman.

Kesimpulannya, yang nggak bersih tentu kualitas keimanannya patut dipertanyakan. Jadi, kalau umat Islam jorok begini, sudah berimankah kita? Jadi pertanyaan besar ya…?

Anggrek untuk Lebaran

Rabu lalu, 16 September 2009, hari terakhirku ke sekolah. Dapat jadwal piket ceritanya... Membenahi beberapa file sebelum liburan, bikin anggaran kegiatan untuk kuartal berikutnya, tapi belum bikin persiapan mengajar. Itu sih nanti aja ah. Hehe...
Bincang-bincang dengan ibu kepsek, kukomentari satu pot anggrek baru di meja kerjanya. Bunga-bunga cantik keluarga anggrek bulan hybrid dalam nuansa ungu yang siap bermekaran. Kuingatkan untuk merawatnya semasa liburan, jangan sampai kering ketika saatnya kembali beraktivitas di sekolah. Tahu-tahu, beliau menitipkan bunga itu padaku. Beliau tahu bahwa ibuku bertangan dingin dalam merawat bunga-buangaan, termasuk anggrek yang jadi salah satu favoritnya (favoritku juga...)
Kaget dong... semudah itukah keputusan untuk menitipkan bunga anggrek cantik itu di rumah ibuku? Tapi aku tidak melewatkan kesempatan ini. Kesempatan baik tak datang sering-sering, harus cepat disambar sebelum kesempatan itu keburu melayang ;) Kuperhatikan, tanaman bunga ini masih dalam kondisi yang prima. Daunnya segar mengkilap, sementara kuntum bunganya banyak, siap mekar satu demi satu di hari-hari mendatang. Untuk Idul Fitri, titipan anggrek dari ibu kepsek ini akan tampak manis sekali di ruang tamu ibuku ;)
Satu lagi anggrek cantik dari taman bunga ibuku, masih tergantung di atas kolam. Dua untai bunga anggrek kecoklatan yang cantik, sementara ini biarlah jadi pemanis taman bunga belakang. Untaian yang satu sudah mekar duluan, dan satu persatu kelopak bunga mungil itu mulai layu dan berguguran. Sementara untaian yang baru sudah bermekaran sempurna, bersanding dengan 'kakaknya', membuatnya jadi sebuah paduan yang indah. Sungguh. Memperindah hari fitri di Syawal ini.

Friday, September 18, 2009

Selamat Idul Fitri

Di penghujung Ramadhan... kusadari betapa masih banyak amalan yang belum dijalani dengan sempurna, walaupun kusadari betul, bahwa sempurna itu hanya milik-Nya saja.
Sambut Syawal yang menjanjikan fitri... merenung kupertanyakan kelayakan diri untuk meraih fitrah diri, rasanya masih jauh panggang dari api.
Mohon maafkan lahir dan batin, atas semua salah dan khilaf. Semoga Allah SWT menerima amal ibadah shaum kita, dan mempertemukan kita kembali dengan Ramadhan tahun depan, untuk melakukan yang terbaik dalam upaya meraih ridho-Nya. Amiin.
Taqabalallaahuminna wa minkum, taqabbal yaa Kariim.

Wednesday, September 16, 2009

Karma

Satu hari 'libur' sebelum masa piket di sekolah, aku bertekad untuk memanfaatkan hari Senin untuk meng-upgrade kondisi mobilku. Harus ganti oli, ganti saringan oli, dan ngecek kondisi lampu kecil (atau lampu dekat?) mobilku. Jadilah sebuah kunjungan ke bengkel mobil langganan.
Karma, kali. Beberapa waktu sebelumnya, aku suka misuh-misuh kalau ada mobil yang menyalakan lampu besar di jalanan. Silau, tahu!?! Nggak bisa nyalain lampu kecil aja gitu? Eh... nggak berapa lama kemudian, kejadian padaku sendiri. Awalnya cuma lampu yang sebelah kanan yang mati (ini juga gara-gara aku suka berkomentar pada kendaraan yang 'berkedip nggak genit' begini :p), tapi kemudian yang kiri kompakan ikut mati. Daripada gelap-gelapan, kalau pulang malam, terpaksa aku nyalakan lampu besar. Bikin silau orang lain. Maaf ya... m(_ _)m
Masih urusan mobil, aku sudah kena 'karma' sebelumnya. Sebelum ganti dengan katana yang sekarang, aku suka misuh-misuh juga (seneng banget sih? Mudah-mudahan abis ini, kapok!), terutama pada pengendara mobil yang nggak bisa mulus berputar di U-turn. Jalanan Bandung punya banyak jalur terpisah dan tentu saja di beberapa tempat tersedia U-turn untuk kendaraan yang berminat untuk berbalik arah. Nah, ketika satu kendaraan di depanku tak bisa mulus berputar, seringkali aku tak kuasa menahan komentar. Aku yang bawa Kijang, bisa lho ber-U-turn mulus dengan sekali memutar kemudi. (Astaghfirullaah al'adziim. Ampuni kesombonganku, ya Robbi...) Tapi setelah berganti Katana yang notabene lebih kecil, kok malah nggak bisa ya. Putaran kemudinya ternyata lebih pendek. Giliran aku deh yang harus ekstra hati-hati atau malah melambung dulu ketika perlu berbalik arah di U-turn tertentu. Karma.
Satu karma lagi... (Mungkin sebetulnya, kata "karma" kurang tepat, tapi kata inilah yang paling dekat penggambarannya.) Di akhir Ramadhan ini, 4 hari menjelang hari-H, aku belum terima THR. :( Mungkin karena aku sering telat datang ke sekolah kali ya, makanya THR-ku juga datangnya telat.
'Pembalasan' ini, biarlah jadi pelajaran untuk diri ini. Supaya jadi bahan renungan, agar tak lagi sembarangan berpikir, berucap dan bersikap. Semoga apa yang terjadi saat ini jadi 'balasan' kontan atas sikapku, yang hanya terjadi di dunia, nggak perlu dibayar lagi di akhirat. Tak akan tertahankan...

Suatu Momen Fitri, Sebuah Memori

Idul fitri sudah dekat. Teringat lagi momen idul fitri di penghujung November 2003, ketika aku melewatkan salah satu Idul fitri paling berkesan di negeri seberang, Jepang.
Jadi satu pengalaman mengharukan ketika aku berkesempatan untuk mengikuti shalat Ied di kedutaan besar Indonesia. Di malam takbiran, aku numpang menginap di asrama seorang kawan. Kurang syahdu rasanya tanpa adanya gema takbir sepanjang malam. Paginya, setelah berjuang di kepadatan lalu lintas Tokyo, disambung dengan jalan kaki yang cukup melelahkan (apalagi karena dilakukan dengan bergegas), sampailah aku dan beberapa kawan di halaman Balai Indonesia. Pagi itu gerimis, tapi tentu saja ‘the show must go on’ alias shalat Ied harus tetap dilangsungkan. Aku sebetulnya sudah ketinggalan shalat, tapi … masa mesti masbuk sih? Tapi ternyata ada shalat Ied gelombang kedua, dan bahkan ketiga!
Seusai shalat, aku berbaur dengan jamaah lain di dalam gedung untuk menikmati sajian makanan khas Indonesia ataupun sekedar kue-kue camilan sambil berbincang-bincang dengan kawan sesama muslim lain, yang notabene baru kutemui pada saat itu. Tapi kami betul-betul serasa saudara. Tidak pernah kenal sebelumnya, tapi saling menyapa ramah. Kalau saja muslim di Indonesia bisa juga seperti ini ya? Indahnya…
Aku ketemu dengan Daichi dan kedua orangtuanya. Daichi ini pernah jadi muridku di kelas satu ketika aku mengajar di sekolah terdahulu. Nggak lama, hanya beberapa bulan, sebelum aku harus berangkat ke Jepang. Tahun berikutnya, giliran dia dan keluarganya yang kembali ke Jepang. Ibunya adalah warga negara Jepang. Saat itu, bicara dengan Daichi sudah harus pakai bahasa Jepang. Dia mulai lupa bahasa Indonesia. 私も日本語もうだんだん忘れちゃうんだ...。Sayang... Nggak lama berbincang dengan mereka, aku pulang ke Gunma, tempat tinggalku selama di Jepang.
Siang itu aku langsung pulang ke Maebashi dengan kereta api. Di stasiun, hilir-mudik wajah-wajah melayu, sedangkan kereta pun nyaris penuh dengan orang Indonesia. Kalau kita memejamkan mata, serasa mudik deh, karena rata-rata mereka berbicara dengan bahasa daerah masing-masing. Lucu juga. Ada Padang, Medan, Sunda, Jawa, hm... apa lagi ya? Pokoknya terasa kental-lah nuansa Indonesia-nya. Sepanjang memejamkan mata, serasa ada di Indonesia. Tapi... aku kangen untuk kembali ke sana.

Sunday, September 13, 2009

Foto-foto Masa Silam

Menemukan beberapa foto lama, membawaku kembali ke masa silam.
Berawal dari beberapa kawan yang meng-unggah foto-foto jadul di facebook. Sempat malu juga sih, ketika foto-fotoku muncul di album foto teman-teman dan di-share ke banyak orang. Masalahnya... aku baru beristiqamah mengenakan kerudung ketika kuliah semester 2 (waduh... telat banget ya? Jadi nyesel juga, nggak ngikutin saran tiga orang teman (cowok!!!) SMA-ku yang sudah baik banget mengingatkan untuk menutup aurat dengan sempurna) Tapi untungnya, masa-masa sebelum itu aku nggak pernah berfoto yang terlalu 'nganeh-anehi' gitu. Jadi kalaupun beberapa fotoku muncul, walaupun tanpa kerudung, ya... masih pose wajar deh, nggak akan sampe bikin malu berat (biarpun tetap aja sih... malu juga...)
Foto-foto jaman TK sampai kuliah, merupakan rentang waktu exploring (Dora... kali). Beberapa prestasi yang kuraih mengingatkan kembali tentang potensi diri yang sudah Allah anugerahkan. Kalau dulu bisa berprestasi, kenapa sekarang (agak) mandek sih...? Ayo ah, bikin prestasi lagi! Semangat yok, semangat...!

Wednesday, September 09, 2009

Berharap Pada Manusia

Ketika kita kecewa gara-gara berharap pada manusia, ya... salah sendiri. Kualami lagi. Seperti keledai bodoh yang jatuh ke lubang yang sama untuk kesekian kalinya, dan akhirnya menyesali diri, menyalahkan diri sendiri.
Berharap akan dapat rezeki dari orang tertentu. Halah... ngarep amat sih, kenapa harus dari dia? Kalau Allah sudah menetapkan, rezeki sebesar apapun, kalau memang jatahnya kita, tak akan terhalang oleh apapun. Mau dari dia, mau dari sini atau sana, terserah Allah saja. Bahkan jumlahnya bisa lebih besar dari yang kuharapkan. Insya Allah...
Berharap seseorang akan melakukan perbuatan tertentu untuk kita. Ah, salah sendiri kalau akhirnya aku kecewa karena orang tersebut tak kunjung melakukan apa yang kita harapkan akan dilakukannya. Ingin diramahi orang lain? Ya baiknya dimulai dari kita sendiri-lah... Yuk, ramah sama orang lain. Di sini kok kayaknya susah ya? Biar susah, bukan berarti nggak bisa kan...? よっし、がんばるぞ!
Ternyata, yang kejadian malah aku dimarah-marahin. Sayangnya, sampai merusak hubungan silaturahmi. Sayang sekali. Iya... iya... aku ikut andil kesalahan, tapi memang niat baik tak selalu dapat diterima dan disikapi dengan baik. Harapan tak sesuai dengan kenyataan. Salahku sendiri, ngapain juga ngarep-ngarep dibaikin. Dan ketika harapan tak sesuai dengan kenyataan, kalaupun kecewa, ya salah sendiri. Kenapa juga berharap pada manusia. Kecewa? Rasain aja sendiri. Kasiaan deh gue :p

Thursday, September 03, 2009

Gempa di Jawa, Allaahu Akbar!

Rabu siang menjelang sore, 2 September 2009. Anak-anak TK sudah pulang sejak sebelum tengah hari, sementara anak-anak SD baru saja dibubarkan dan bersiap pulang. Beberapa anak sudah dijemput oleh orang tua atau sopir jemputannya masing-masing, pulang ke rumah. Beberapa anak lainnya masih asyik di sekolah, bermain sambil menunggu saat pulang ke rumah. Anak-anak SMP beristirahat sejenak usai melanjutkan tadarus alQuran. Jam tiga nanti mereka akan berlatih angklung untuk tampilan perdana di depan petinggi yayasan dan Kota Baru, dalam event peresmian pemasangan tiang pancang pertama pembangunan mesjid raya Kota Baru. Aku, sebagai pelatih angklung amatiran, beristirahat sejenak usai mengajar di kelas 6.
Hari itu hari yang melelahkan. Aku hanya mengajar di tiga kelas, sebetulnya, tapi ketiganya berada di lantai yang berbeda, maka bolak-baliklah aku ke atas dan ke bawah dengan membawa segala perlengkapan seni, "senjataku" untuk mengajar. Capek... niatnya sih mau istirahat dulu sebentar deh sebelum naik lagi ke ujung lantai tiga, untuk melatih angklung di ruang musik sekolah kami. Baru beberapa saat di depan komputer, mengecek mailbox-ku, kurasakan guncangan kecil yang berangsur semakin kuat. 'Apakah gempa?' pikirku. Menunggu... akankah dia berhenti? Oh, ternyata tidak. Guncangan semakin kuat dan semua yang masih ada di sekolah berhamburan ke luar ruangan, mencari tempat lapang.
Berlarian menuruni tangga, kepanikan melanda. Sebagian semen dari sambungan dua buah gedung, berguguran dalam serpihan kecil-kecil. Takbir dan tasbih diucap tak putus, berharap kemurahan Allah. Satu-dua menit, guncangan gempa akhirnya reda. Tangis beberapa anak terdengar di sana-sini. Mulai dari yang takut, panik, atau justru karena takut dimarahi sang ibu karena kehilangan sebelah sepatu saat berlari ke ruang terbuka. Ah... ada-ada saja.
Tak berapa lama kemudian, kami 'diusir' dari pelataran dalam sekolah, untuk menuju ke ruang terbuka lainnya di halaman depan sekolah, mengantisipasi kemungkinan adanya gempa susulan.`Bergegaslah kami ke depan. Segera seusai itu, kami sibuk bertelepon ke sana-sini. Hampir semua orang terlihat memakai telegon genggamnya. Tapi tampaknya line telefon juga teramat sibuk, atau memang putus. Setelah berkali-kali mencoba, aku berhasil mengontak dua kakakku, yang juga merasakan gempa serupa.
Gempa rupanya berpusat di Tasikmalaya, dengan kekuatan 7,3 skala Richter. Kuat. Sungguh. Sementara di daerah Cianjur, daerah yang mengalamai kerusakan terparah, para relawan berupaya menjangkau daerah mereka. Daerah lain yang mengalami kerusakan juga adalah Bandung selatan, seperti Banjaran dan Pangalengan. Masya Allah... itu kan tidak seberapa jauh dari rumah kami. Rumah kami pun mengalami retak-retak sedikit. Bukan kerusakan berarti sih dibandingkan robohnya rumah saudata-saudara kami di tempat lain. Sungguh, peringatan Allah ini... terasa begitu nyata di bulan puasa ini. Bahwa usia manusia bisa berakhir kapan saja, di mana saja, dan bagaimana pun caranya. Gimana Allah saja. Allaahu akbar!

Tuesday, September 01, 2009

Logo

Senin kemarin, akhir Agustus, sebuah pengumuman lomba logo yang kuikuti sudah kutunggu-tunggu. Tentu saja sangat berharap untuk bisa memenangkannya. 10 juta, euy... siapa yng nggak mau? ;) Lagi perlu, pula. Hehe...
Terinspirasi dari bentuk ambigram koleksi "Angels and Demons" karya Dan Brown, diperkaya oleh banyak koleksi ambigram dari blog tetangga, nagfa.blogspot.com, kurancang-lah beberapa alternatif logo yang kukirim ke panitia penyelenggara.
Berdebar-debar menanti pengumumannya, sudah ge-er pula serasa jadi pemenang, eh ternyata panitia memutuskan... tidak ada juaranya. Hhh...
Karena tidak menang, boleh dong kupublikasikan sendiri di sini...
Salah satunya, logo putar ini.

Saturday, August 22, 2009

Ramadhan Tahun Ini...

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Ramadhan tahun ini...
kusambut dengan segenap hati
berharap ridho Ilahi
akan Dia limpahkan kepada kami

Ramadhan tahun ini...
masih kujalani sendiri
shaum, tarawih juga tadarus
menguatkan hati untuk istiqamah dan meluruskan niat
ibadah ini untuk Allah saja

Ramadhan tahun ini...
mohon maafkan lahir dan batin
agar kembali fitri di Syawal nanti
dan berharap bertemu lagi dengan Ramadhan di tahun depan
untuk meraih segala kebaikan di bulan suci itu

Ramadhan tahun ini...
semoga lebih baik dari tahun kemarin
amiin

Friday, August 21, 2009

Akhirnya Nonton Juga...

Harry Potter and the Half Blood Prince. Film ke-6 dalam seri Harry Potter ini sudah lama kutunggu kemunculannya. Sejak sebelum dirilis, aku dan seorang teman sudah siap menjadwalkan untuk nonton bareng di PVJ. Niat itu sudah tercetus sejak nonton Angels and Demons di BIP beberapa waktu lalu.
17 Juli, hari pertama film HP ini tayang di bioskop. Aku tak bisa menyempatkan untuk nonton, gara-gara sok sibuk dengan urusan persiapan hari pertama sekolah (dan aku bertanggung jawab dalam dua sesi utamanya) yang dilanjut dengan urusan akreditasi sekolah beberapa waktu lalu. Ketika waktu kurasa cukup luang, jaringan bioskop 21 ternyata telah menyelesaikan masa tayang film itu. Wah... searching searching di dunia maya, jaringan 21 Jakarta masih mutar film itu sih... tapi masa segitunya ya, ngebelain nonton ke Jakarta. nggak perlu sebegitunya deh. Ternyata, jaringan teater Blitz masih punya dua kali masa tayang setiap harinya sampai akhir minggu ini. Masalahnya... jam tayangnya jam 2.15 sore atau 9.15 malem. Yang satu kepagian (jam kerjaku belum selesai dong jam sekian), sementara yang satu lagi kemaleman (aku bisa berubah jadi Upik Abu ketika sampe rumah setelah nonton).
Untungnya... hari Kamis tanggal 20 sudah merupakan hari libur di sekolahku. Aku bisa meluangkan waktu untuk pergi nonton deh. Janjian dengan seorang teman, siang-siang panas terik, aku berjuang di beberapa titik kemacetan yang sangat tidak terduga. Sampe Taman Sari sudah jam setengah dua-an, sementara perhitungan awalku, dari Taman Sari (seputaran ITB) ke Blitz PVJ akan makan waktu 30-45 menit, belum lagi antri tiket dsb. Keburu nggak ya...? Aku ragu, sementara temanku memutuskan untuk mengambil resiko dan mencoba. Hmm... ayo deh. Ternyata eh ternyata, perjalanan ke sana nggak makan waktu lama lho. Mencari tempat parkir, mengunci mobil, jalan ke lokasi Blitz, eh... kita masih punya waktu untuk nunggu lho sebelum pintu teater dibuka.
Penonton nggak banyak, nggak sampai setengah kapasitas tempat duduk terisi. Jelas aja, yang lain kan udah pada nonton berminggu-minggu sebelumnya. Kita aja yang telat :p Dapat kursi di tengah belakang, puas deh aku menikmati film itu. Tempat duduk nyaman, ruangan nggak terlalu dingin (soalnya aku lagi agak batuk-batuk juga, nggak akan nyaman di ruangan yang dingin), kualitas audio seru. Wah... puas deh pokoknya. Usai nonton, keluar dari teater, kusempatkan berfoto dulu di depan poster 3 dimensi film Harry Potter and the Half Blood Prince. Agak malu juga sih berpose di depan orang-orang yang lalu lalang, cuma sok cuek aja. Hehe... Nggak sabar deh nunggu film Harry Potter berikutnya. Nonton bareng lagi yuk...! Sama siapa ya nanti? ;)

Thursday, August 13, 2009

Terbiasa

Bunga Anggrek hijau-putih yang kubanggakan mulai layu. Cepat sekali. Hanya beberapa hari, dan segera kelopaknya menguning, layu dan akan segera tanggal dari tangkainya. Aku kehilangan. Keindahan itu begitu cepat berlalu. Sedang aku masih rindu.
Tapi kenapa harus mengharu-biru hanya karena itu? Toh sebelumnya dia pun tak ada di situ. Hidupku baik-baik saja sebelum dia ada. Sedikit lebih ceria saat dia ada. Tapi tak perlu berduka ketika dia harus tiada. Dari tak ada menuju tak ada. Bukankah tak ada yang berbeda? Aku pun terbiasa.

Monday, August 10, 2009

Curhat Jelang Ramadhan

Sebentar lagi Ramadhan, bulan yang agung, datang menghampiri aku yang rasanya masih belum melakukan persiapan yang matang untuk menyambut bulan mulia itu. Rabbi... Sampaikanlah aku kepada Ramadhan. Izinkan aku untuk mengisi hari-hari di bulan itu dengan amalan terbaik, yang akan mengantarkan aku menuju ridho-Mu.
Satu lagu persembahanku (sayangnya, nggak bisa di-upload di blogger. Untuk yang mau dengar (mudah-mudahan bisa), silakan datangi batikmania.multiply.com) Kualitas suaranya masih sangat standar sih, soalnya nggak direkam di studio rekaman dengan peralatan canggih, melainkan di kamar atas yang harus menunggu sepi dulu untuk merekam tuntas lagu ini. Kalau ada motor lewat, rekaman diulang deh (kayaknya RRI jaman dulu juga ngak gini-gini amat yak?). Diiringi petikan gitar standar juga, tidak maksimal, rasanya. Tapi biarlah, ini memang cuma sekedar curhat menjelang Ramadhan.

Renungan Ramadhan

karya Diah Utami

Waktu sahur berlalu, diwarnai kantukku
Siang terasa panjang menunggu adzan
Nyaris tak bermakan puasa

Saat tarawih berlalu, ditemani kantukku
Kubaca Quran selintas tanpa I’tikaf
Idul Fitri yang kunanti

Ampunilah aku, wahai Tuhanku
Ramadhan berlalu, sekedar berlalu
Akankah Kauberi waktu untukku
Nikmati kembali, maknai Ramadhan di tahun depan

Friday, August 07, 2009

Bertandang ke Salman

Sabtu, 1 Agustus lalu, aku diundang untuk jadi juri dalam lomba gambar komik dan poster. Kusanggupi, bagai mengulang moment setahun berselang. Aku datang ke kampus Salman Al Farisi, sekolah tempatku mengajar beberapa tahun berselang. Gelombang rindu menyerbu begitu aku berbelok menuruni jalanan landai di depan gerbang sekolah itu. Masih sangat familiar, rasanya.
Hari masih muda. Panitia perhelatan besar rangkaian milad ke-20 Salman itu masih berbenah. Kusapa satu-dua orang yang kutemui dalam perjalanan menuju lab. komputer untuk menemui bu Santi. Berhubung anak-anak peserta lomba baru memulai sesi pertama, aku pun memutuskan untuk hilir-mudik dulu, tebar pesona. EH! Nggak kok. Hanya ingin menyempatkan menyapa teman-teman lama. Akhirnya aku berhenti di meja panitia untuk berbincang-bincang dengan bu Tia, bu Tini, pak Jajang, dan banyak orang lagi yang hilir mudik. Senangnya, ketika aku masih mengenali mereka. Kurasakan keriaan yang sama ketika mereka mengenali aku.
Sempat berkunjung ke area panggung untuk menonton tampilan performance dari guru dan murid. Mengesankan. Sebelumnya, tentu saja sempat 'dibajak' beberapa orang tua murid ke meja display mereka di arena bazar, untuk ditawari 'proposal bisnis' maupun produk jualannya. Menarik... menarik....
Setelah itu, saatnya bertugas. Naik ke lab. komputer baru, aku menganalisa hasil gambar anak-anak para peserta lomba yang menggambar dengan komputer, baik dengan program word, paint, ataupun coreldraw. Wow...! I'm impressed. Hasilnya juga bagus-bagus. Menentukan juara 1-2-3 hingga harapan 3, tidak terlalu sulit. Hasilnya segera juga diumumkan di panggung. Tak lama kemudian, pukul dua tepat, acara hari itu benar-benar usai. Panitia melanjutkan pekerjaan beres-beres, sementara aku yang sudah janjian dengan Intan melanjutkan agenda bincang-bincang di koridor mushala.
Intan akan ke Jogja, melanjutkan studi, S-2 lagi. Semoga jadi ilmu yang bermanfaat. Amiin. Intan... aku kangen cerita berpanjang-panjang denganmu. Kapan lagi ya...? Semoga baik-baik saja engkau di sana, dengan Allah sebagai sebaik-baik penjaga. Semoga Dia berkenan mempertemukan kita kembali di suatu masa, dengan keadaan yang berbeda. Lebih baik tentunya. Amiin.

Bunga-bunga di Taman Bunda

Kembali, taman bunga bunda 'dimeriahkan' dengan kemunculan beragam bunga. Aneh-aneh tingkah bunga bunda kali ini.
Ada Cattleya labiata yang sebatang kara... Biasa, sebetulnya, walaupun lebih sering mekar berpasangan atau bahkan bertiga. Kalau baca wikipedia, bisa sampai sepuluh kuntum dalam satu masa (tapi yang begini cukup langka ya, rasanya)
Ada pula mawar kembar tak identik. Ini sungguhan, dari satu pohon. Yang satu adalah mawar batik dengan bercak creme, sedangkan yang satu lagi mulus bagai beledu burgundy.
Paphiopedilum madela kali ini sudah memberi harap, namun tak dapat dipenuhinya. Adiknya kemudian layu tak berkembang. Sedihnya... namun tak boleh aku kecewa, karena itulah takdirnya. Kutunggu kalian berbunga bersama, di kesempatan lain.Di depannya ada anggrek kecil dari keluarga Onchidium yang berbunga tiga. Dia muncul belakangan setelah sebelumnya serangkaian telah mekar bersamaan.
Ada satu yang sedang jadi primadona. Bunga sederhana, sebetulnya., mungkin masuk keluarga Cattleya (kalau melihat bentuk daunnya, walaupun bunganya terlihat lebih sederhana). Berwarna kombinasi putih dan hijau saja. Tapi aromanya... segar menggoda. Kelopak daunnya kokoh kuat namun tetap menunjukkan kecantikannya. Melengkapi keindahan taman bunga bunda. Aku senang berada di sana.

Kebakaran di Cimahi

Sore-sore, waktunya pulang sekolah. Setelah mengantar muridku ke gerbang sekolah untuk pulang, terlihat asap hitam tebal membubung di kejauhan. Tidak terlalu jauh, sebetulnya, tapi cukup mengerikan melihat bentuk asap dan arah angin yang bertiup ke sembarang arah, berpotensi memperluas wilayah kebakaran.
Dengar-dengar info, ada kebakaran di seputaran Cimahi, tidak begitu jauh dari Padalarang, tempatku mengajar. Ngeri juga, karena asap hitam itu merupakan hasil terbakarnya gudang sebuah pabrik kasur di dekat jalanan yang lalulintasnya sangat padat. Salah satu muridku terhambat pulang karena penjemputnya terjebak macet panjang di dekat lokasi kebakaran. Ketika kecelakaan pesawat di PT DI beberapa waktu lalu, dia pun terlambat (banget) dijemput karena lokasi sekitar gerbang Pasteur juga padat sangat.
Dengar-dengar berita dari sebuah stasiun televisi, kebakaran dapat diatasi setelah mengerahkan unit pemadam kebakaran dari wilayah Bandung (kota), Bandung Barat, dan juga Cimahi. Api dapat dijinakkan beberapa jam kemudian. Kerugian ditaksir mencapai milyaran. Innalillaahi wa inna ilayhi raaji'uun.

Saturday, July 25, 2009

Kisah Milad ke-3 SK (Bagian 1)

Ragu. Beberapa hari sebelum memutuskan untuk ikut serta, ada-lah perasaan ragu di hatiku. Ikutan nggak ya, acara milad eSKa kali ini? Mumpung di Bandung, gitu. Harusnya bisa dong menyempatkan untuk ikut berpartisipasi. Dengan dukungan semangat, motivasi, dan dana (hehe...) dari kakak, akhirnya aku putuskan untuk ikutan!
Sabtu siang menjelang sore, rencana keberangkatan tertunda-tunda (kebiasaan burukku). Akhirnya setelah shalat ashar di sekolah, kunaiki Katana-ku menuju Padepokan Karang Tumaritis, tempat diselenggarakannya acara Milad ke-3 eSKa ini. Lembang, aku datang....
Separuh jalan ke sana, ah... bukan separuh, tinggal sepertiga jalan menuju lokasi, Nova nelfon, mengabari berita kecelakaannya bu Indri, kepala sekolah kami. Katanya, motor yang ditumpanginya jelas rusak, laptop yang dibawanya rusak berat. Lha, kondisi bu Indri, gimana...??? Galau aku memegang handphone. Kuingatkan diri sendiri, harus konsentrasi berkendaraan. Jalan Raya Lembang yang berkelok-kelok, dengan badan dan bahu jalan yang tidak sejajar membuatku harus ekstra hati-hati mengendarai mobil kecilku itu. Alhamdulillah, arus lalu lintas ke atas menuju Lembang relatif lancar, walaupun aku sempat sedikit nyasar juga hingga menemukan lokasi yang dituju.
Nova nelfon lagi. Kali ini aku benar-benar menepikan kendaraanku sebelum berkonsentrasi pada apa yang dikatakannya. Oke... oke. Pesan diterima. Kulanjutkan perjalanan hingga ke lokasi. Sampai di sana, sudah hampir maghrib. Sahabat-sahabat eSKa sedang dalam sesi perkenalan, sementara aku masih sibuk kirim-kirim sms, mengabari beberapa teman lain untuk koordinasi.
Bergabung di lingkaran, aku disapa dengan ramah, hingga aku merasa diterima sebagai bagian dari mereka, walaupun aku belum kenal siapapun sebetulnya. Ada sih satu-dua yang sudah 'kenal', via e-mail dan sms, tapi kan belum kenal secara pribadi. Jadi sedikit minder ketika melihat keakraban yang terjalin di antara mereka. Break shalat maghrib, aku dengan tidak tahu malu meminta teman-teman untuk mendoakan bu Indri. Iya... belum kenalan, gitu, aku minta doa begitu saja. Tapi bukankah sesama muslim itu bersaudara? Boleh dong sesama saudara salingmendoakan ;) Setelah itu, bubarlah kami untuk sementara. Aku menuju kamar yang akan kutempati bersama 6 orang lainnya.
Kamar no. R-8 terletak hampir paling ujung dari rangkaian sekian kamar yang ditempati peserta milad eSKa ke-3 ini, berada agak di puncak setelah menaiki tangga yang sedikit berkelok. Kami shalat maghrib dan menyegarkan diri. Air di kamar mandi ternyata tidak sedingin yang kuperkirakan. Setelah mandi, badan malah terasa lebih hangat. Tya dan aku berbincang seru. Ternyata banyak kesamaan minat dan kepentingan (iyakah?) di antara kami. Sebuah 'kebetulan' yang manis. Tapi perbincangan itu tak bisa berpanjang-panjang, karena setelah itu kami harus segera turun untuk makan malam. Nasi rawon yang nikmat. Alhamdulillah.
Rangkaian acara perkenalan dilanjut lagi, diselingi dengan pembacaan hasil lomba menulis "Ngaku eSKa". Mbak Wiwiek dan Mbak Endah sebagai juara 1 & 2 bergiliran membacakan tulisan mereka. Namaku dipanggil pula sebagai salah satu pemenang favorit, people's choise award. Jiee... Nggak nyangka, karena rasanya milis sepi-sepi saja tuh dengan "polling" tentang tulisan terpilih itu. Tapi senang, tentu saja, karena si anak baru di eSKa ini ternyata bisa eksis juga. Aku dapat hadiah bantal cantik dari sponsor, MP Toys. Terima kasih...
Setelah itu, Novi dan mbak Anty unjuk gigi, memainkan drama singkat tentang "Emak", diiringi gesekan biola mbak Nia, ditemani Tya yang memegangi lilin. Dilanjut dengan pembacaan puisi bertema Ibu oleh Novi. Sesi perkenalan masih berlanjut. Kang Hadian sang ketua SK divisi Bandung, baru datang setelah menemani sang istri yang baru saja melahirkan anak ke-2 mereka. Mas Andri yang jauh-jauh datang dari Jogja, ternyata dapat tiket tanpa tempat duduk di kereta, sehingga nyaris sepanjang perjalanan, dia berdiri. Pegal, pastinya. Sebegitunya ya, perjuangan untuk ikut bergabung di acara milad eSKa ini.
Berikutnya adalah drama interaktif serupa Opera van Java di salah satu televisi swasta. Pemerannya diambil dari peserta milad, tanpa bisa menawar apalagi menolak. Maka terjadilah lakon Manohara yang dimainkan oleh Kang Hadian, didampingi ibu dan ayah yang diperankan oleh bunda Icha dan mbak Wiwiek. Sementara sang pangeran diperankan oleh Budi, dengan mbak Anty (kalo nggak salah) dan mbak April sebagai ibu dan ayahnya. Plus beberapa sahabat eSKa lainnya sebagai pemeran pendukung. Aku sempat berpikir, kenapa mereka tidak bertukar peran saja, agar terlihat "lebih pantas". Ya, misalnya Manohara dimainkan oleh seorang wanita, juga peran ayah-ayah itu agar diperankan oleh lelaki, dan sebagainya.
Penonton boleh berkomentar apapun mengenai 'tayangan' Opera van eSKa' ini, tapi drama bergulir dengan arahan kang Dani, sang sutradara yang tegas, yang tidak membiarkan para pemain berimprovisasi semaunya. Cukup menghibur. Di akhir 'tayangan', sebuah hikmah diungkap. Drama tadi layaknya kehidupan itu sendiri. Setiap pelakon tak bisa memilih perannya, hanya boleh berperan sebaik mungkin dalam drama kehidupan, dengan arahan Sang Maha Sutradara. Ya, begitulah kita...
Malam ditutup dengan renungan. Aku ngantuk... jadi, kisah milad eSKa ke-3, dilanjut lagi nanti-nanti ya... ;)

Tuesday, July 21, 2009

Ulang Tahun ke-10

Tahun ini, perkenalanku dengan dunia maya akan mencapai ulang tahunnya yang ke-10. Sementara, aku masih belum pinter juga. Perkembangan dunia maya berkembang sedemikian pesatnya, sementara kemampuanku berkembang slowy but sure. ;) Prinsip yang kupegang, biar lambat asal selamat, kuterapkan ke semua bidang, termasuk dalam juklak dan juknis sistem operasional penggunaan koneksi internet.
Ya... aku sudah bisa pakai internet untuk browsing & searching data berbagai info, situs, maupun gambar.Ya... aku juga sudah bisa pakai koneksi internet untuk bikin blog. Bahkan nggak cukup satu, aku punya lebih dari 3 blog di beberapa situs penyedia blog gratis (apa sih namanya, tuh kan, aku masih belum tahu. Pokoknya sih asal bisa pakenya aja) Ya... aku juga bisa pakai internet untuk kirim dan terima e-mail, ikutan milis, facebook-ing dan chatting. Nah, ini dia yang membuatku tersesat-sesat di dunia maya, di awal-awal masa perkenalanku dengan internet.
Aku tahu berita tentang jaringan internet beserta keistimewaan atau kehebatannya dari beberapa artikel koran dan majalah. Penasaranlah... aku ingin tahu juga. Ingin nyoba, seperti apa sih sebetulnya? Ragu-ragu tapi malu (takut ketahuan gapteknya), aku beranikan diri untuk menjajal salah satu warnet tak jauh dari tempat kerjaku. Hm... bingung. Pertama kali masuk, aku harus ngomong apa ya...? Kalau ke wartel, aku tinggal cari booth telfon yang kosong, atau tanya penjaga wartel tentang ketersediaan ruang telfon yang kosong. Kalau warnet? Sebetulnya nggak akan jauh dari rental komputer kali. Tapi lagi-lagi masalahnya, aku nggak pernah berkunjung ke rental komputer. Secara aku punya komputer dan printer sendiri di rumah, jadinya nggak pernah berurusan dengan rental komputer. Tapi mungkin antara wartel dan warnet, ah... nggak jauh beda, kali ya? Sama-sama warung toh?
Dan begitulah, sore itu sepulang kerja, aku mampir di sebuah warnet yang cukup besar di seputaran Dago. Sok ngerti aja, kutanya, “Ada yang kosong?” Si mas penjaga warnet menunjukkan sebuah booth komputer yang relatif terbuka. Aku masih bisa melirik tampilan layar di kanan-kiriku. Buat contekan... ;) Sebelum kembali ke pos jaganya, si mas petugas warnet sempat menjelaskan sistem billing yang berlaku di warnet itu. Dia bilang, kalau sudah log in sebagai pengunjung warnet, aku bisa langsung buka internet explorer. Ahha! Begitu toh caranya. Internet explorer ya... Gerbang pertamaku ketemu dengan yahoo.
Ya itulah... saat itu aku tahunya cuma yahoo.com doang. Lengkap kutulis di jendela alamat, http://www.yahoo.com dan klik. Wweng... wweng... wweng... nunggu sebentaran, lalu muncullah tampilan halaman depan yahoo. Menarik. banyak info yang ternyata bisa di-klik, dan akan membawaku berpindah dari satu informasi ke informasi lainnya. Ada beberapa link (ha! Aku tahu sekarang, namanya “link”) yang ingin kuakses, tapi tak bisa masuk karena aku belum sign-in. Harus sign-in dulu katanya untuk bisa membuka ‘pintu’ menuju link yang kuinginkan. Nggak bisa pilih sign-in, ternyata. Aku harus sign-up. Mendaftarlah aku untuk memiliki account di yahoo. Susah juga cari nama untuk account pertamaku itu. Nama Diah, ternyata dimiliki banyak orang. Diah, sudah diambil orang. D1ah, sudah ada yang punya juga. D14H, ternyata juga sudah ada. Diah Utami, eh, nggak bisa dipisah spasi ya. Diahutami maupun utami diah, pakai underscore (_) ataupun dash (-), sudah pula didahului orang lain. Akhirnya sekalian aja kupakai nama lain yang kupikir belum ada orang yang punya, “batikmania”. Ahha... bisa!!! Akhirnya aku punya alamat e-mail sekarang.
Kirim-kirim e-mail, belum bisa juga ya, karena belum banyak teman juga yang kupunya. Iseng-iseng, kucoba aplikasi chat di yahoo. Lagi-lagi, karena belum punya teman chatting, aku masuk chatroom besar dan coba-coba nimbrung di obrolan mereka. Asal nyambung aja. Dari situ, ada beberapa kawan cyber yang ngajakin ‘ngobrol’ di jendela kecil, private message. Kulayanin aja, karena sedang terkagum-kagum dengan keajaiban dunia maya yang luar biasa itu. Ketemulah dengan teman-teman baru dengan beragam karakternya. asl pls, rangkaian huruf itu jadi akrab sekali denganku, jadi pengantar menuju perbincangan yang asyik atau sebaliknya. Lama-lama, sebel juga karena sebagian besar dari teman chatting baru itu ternyata cuma iseng aja. Beberapa kali, sempat juga terjebak diajakin cyber-sex. Iddiih... nggak banget deh.
Karena masih belum aktif e-mail-email-an, aku masih explore situs-situs lain di dunia maya. Kucoba masuk plasa.com, buat account di situ. Kucoba masuk satumail.com, bikin juga account e-mail di situ. Aplikasi chat-nya friendly-user, teman-teman yang kutemui di situ juga rata-rata friendly. Sayang, satumail.com tidak berumur panjang. Setelah itu, aku coba-coba klak-klik situs ini-itu. Gara-gara penasaran dengan iklan, aku sempat nyasar ke situs aneh-aneh. Bayangin deh... orang baru di dunia cyber, ditunjukkin banner yang kedip-kedip dengan tulisan, “Selamat, anda pengunjung ke seribu dan berhak mendapatkan hadiah. Klik di sini” Siapa yang nggak tertarik, coba? Aku takjub banget dengan ‘keberuntunganku’ sebagai pengunjung ke-1000. Aku klik deh banner kelap-kelip itu. Ternyata eh ternyata, itu cuma iklan belaka. Lebih celaka lagi, sempat juga aku disesatkan ke situs... iddiih... situs xxx deh pokoknya. Lebih gila lagi, ternyata jendela-jendela iklan lantas bermunculan, menawarkan service gadis-gadis beragam benua dengan kostum seadanya. Watau...!!! Nggak bisa menghentikannya, aku harus minta penjaga warnet deh untuk menanganinya. Malu banget. Dia kan bisa nyangka aku sengaja masuk-masuk ke situs ‘begituan’. Malu aja. Aku cewek kerudungan, gitu. Ngapain juga lihat-lihat properti orang. lha wong aku sendiri juga punya kok :p
Sekarang sih kapok untuk sembarangan chatting dan klak-klik banner hadiah. Banyak bohongnya. Setelah 10 tahun lewat sejak perkenalanku dengan koneksi internet, koneksi pertemananku makin luas dan terpelihara. E-mail-e-mail-an lancar dengan banyak teman di berbagai belahan dunia. Cari info apa saja, bisa. Cari teman lama, nggak susah juga via jejaring pertemanan yang kuikuti. Chatting-an, sambil ngecek e-mail juga OK. Aku bahkan lebih sering pakai mode invisible supaya nggak sembarangan disapa orang dan ‘terjebak’ chatting yang mengganggu ritme kerja. Makin bijak-lah saat berselancar di dunia maya, supaya tidak terjebak gara-gara gaptek atau sekedar sotoy. Sudah 10 tahun, gitu, kenal internet. Kalau masih ‘bodoh’ juga, keterlaluan kan...?

Sunday, July 12, 2009

Bismillah...

Tahun pelajaran baru, kembali dimulai. Penugasan baru, siap dijalankan. Selain tugas 'reguler' sebagai guru kesenian yang mengajar semua kelas (9 kelas, nih. lieur... geuningan :p), aku juga kebagian menggawangi kelas dengan anggota terbanyak. Masih separuhnya sih dari rata-rata murid di sekolah negeri mah, tapi kalau di sekolah swasta seperti sekolahku sekarang ini, dengan potensi mereka yang rata-rata enerjik, plus konsekuensi untuk selalu berbahasa Inggris dengan mereka, termasuk memberi catatan setiap akhir term (berarti 4 kali dalam setahun, pake bahasanya Harry Potter, pula), wah... selalu harus dimulai dengan basmalah lagi. Bukan beban enteng tuh, soalnya. Laa hawlaa walaa quwwata illa biLlaah.
Tentu saja, setiap orang berkata bahwa aku adalah orang yang tepat untuk mendapatkan tugas ini, karena aku dianggap mampu. Wanita tegar perkasa tea, atuh... Iya, tapi... ah, nggak usah pake tapi-tapian deh. Bismillaah. Innallaaha ma ana.

Tak Ada Apa-apanya Dibanding Mereka