Wednesday, September 16, 2009

Karma

Satu hari 'libur' sebelum masa piket di sekolah, aku bertekad untuk memanfaatkan hari Senin untuk meng-upgrade kondisi mobilku. Harus ganti oli, ganti saringan oli, dan ngecek kondisi lampu kecil (atau lampu dekat?) mobilku. Jadilah sebuah kunjungan ke bengkel mobil langganan.
Karma, kali. Beberapa waktu sebelumnya, aku suka misuh-misuh kalau ada mobil yang menyalakan lampu besar di jalanan. Silau, tahu!?! Nggak bisa nyalain lampu kecil aja gitu? Eh... nggak berapa lama kemudian, kejadian padaku sendiri. Awalnya cuma lampu yang sebelah kanan yang mati (ini juga gara-gara aku suka berkomentar pada kendaraan yang 'berkedip nggak genit' begini :p), tapi kemudian yang kiri kompakan ikut mati. Daripada gelap-gelapan, kalau pulang malam, terpaksa aku nyalakan lampu besar. Bikin silau orang lain. Maaf ya... m(_ _)m
Masih urusan mobil, aku sudah kena 'karma' sebelumnya. Sebelum ganti dengan katana yang sekarang, aku suka misuh-misuh juga (seneng banget sih? Mudah-mudahan abis ini, kapok!), terutama pada pengendara mobil yang nggak bisa mulus berputar di U-turn. Jalanan Bandung punya banyak jalur terpisah dan tentu saja di beberapa tempat tersedia U-turn untuk kendaraan yang berminat untuk berbalik arah. Nah, ketika satu kendaraan di depanku tak bisa mulus berputar, seringkali aku tak kuasa menahan komentar. Aku yang bawa Kijang, bisa lho ber-U-turn mulus dengan sekali memutar kemudi. (Astaghfirullaah al'adziim. Ampuni kesombonganku, ya Robbi...) Tapi setelah berganti Katana yang notabene lebih kecil, kok malah nggak bisa ya. Putaran kemudinya ternyata lebih pendek. Giliran aku deh yang harus ekstra hati-hati atau malah melambung dulu ketika perlu berbalik arah di U-turn tertentu. Karma.
Satu karma lagi... (Mungkin sebetulnya, kata "karma" kurang tepat, tapi kata inilah yang paling dekat penggambarannya.) Di akhir Ramadhan ini, 4 hari menjelang hari-H, aku belum terima THR. :( Mungkin karena aku sering telat datang ke sekolah kali ya, makanya THR-ku juga datangnya telat.
'Pembalasan' ini, biarlah jadi pelajaran untuk diri ini. Supaya jadi bahan renungan, agar tak lagi sembarangan berpikir, berucap dan bersikap. Semoga apa yang terjadi saat ini jadi 'balasan' kontan atas sikapku, yang hanya terjadi di dunia, nggak perlu dibayar lagi di akhirat. Tak akan tertahankan...

No comments: