Showing posts with label flower. Show all posts
Showing posts with label flower. Show all posts
Saturday, February 07, 2009
Anggrek
Monday, January 19, 2009
Bunga Sukulen
Bunga kaktus di 'taman' atas berkembang lagi. Dari 10 calon bunga yang muncul, hanya 3 yang sukses mekar sempurna. Satu bunga rupanya mekar di Sabtu malam. Kupikir, bunga ini akan mekar di siang hari seperti yang kutulis di blog ini beberapa waktu lalu. Minggu pagi, ibu sibuk bilang bahwa bunga kaktus sedang mekar begitu indahnya. Kutunggu dia mekar sempurna hingga menjelang siang. Tapi apa yang kudapat, bunga indah itu justru berangsur layu. :(
Dua bunga lainnya mulai merekah. Kuprediksi, bunga itu punya sifat serupa dengan sepupunya, si Wijayakusuma. Dia mungkin mekar sempurna di malam hari. Ayo deh, aku tungguin.
Pagi hari, kusempatkan mengabadikan bunga ini lagi, bersanding dengan sepupunya, Wijayakusuma mini yang juga berkembang semalam. Si besar dan si kecil. Sungguh kuasa Allah yang menciptakan keindahan ini untuk kita nikmati.
Wednesday, November 26, 2008
Bunga Kaktus
Friday, November 21, 2008
Bunga Kaktus
Awalnya...
Kemudian...
Sehingga...
Subhanallah... Indah...
Note: Bunganya sebesar piring makan. Berat menyangga kelopak bunga yang saling tumpang-tindih. Ternyata bunganya mirip sekali dengan bunga Wijayakusuma. Mereka memang sepupuan, kayaknya. Tapi bunga kaktus ini mekar di siang hari, sedangkan Wijayakusuma mekar malu-malu di malam hari. Tapi keduanya sama-sama tak mau lama memamerkan diri, cukup satu hari saja. Sore hari, dia sudah layu... :(
Tuesday, November 18, 2008
Taman Bunga Bunda
Alhamdulillah… hari-hari belakangan ini banyak tanaman bunga di taman kecil ibuku berbunga. Cantik-cantik.
Mawar batik berbunga lagi. Setelah sempat mekar kembaran, segera disusul dengan satu tangkai lagi yang awet mekarnya. Menyambutku setiap pulang kerja. Sekali lagi, mawar jenis ini memang tak begitu harum, tapi tetap indah.
Musim hujan begini, bunga bulan desember bermunculan. 3 bunga mekar bergantian. Warnanya yang cerah menceriakan halaman depan rumah kami.
Sementara itu, di taman samping, setangkai anggrek hijau juga mulai mekar bermunculan. Dengan kombinasi warna ungu di bagian tengahnya, kurasa bunga ini cantik sekali. Tapi kenapa juga ya tuh bunga diikat-ikat? 'Ulah' ibuku tuh. Atau mungkin ulah bunganya. Mungkin dia bersalah, jadi diikat, tak boleh kabur. Hehe... Nggak deng... Biasanya anggrek hijau ini berbunga banyak sekali, memberati batangnya. Sayang kan kalau sampai patah gara-gara terguncang angin? Makanya diikat di batang pralon supaya posisinya mantap. ;)
Di ‘taman’ atas, kaktus ternyata juga berbunga. Cantik ketika masih kecil-kecil, dan dia akan terus tumbuh membesar, seperti buah naga, tapi sayang tak bisa dimakan :(
Thursday, November 06, 2008
Triplet Wijayakusuma

Monday, August 25, 2008
Mawar Batik (part 2)
Monday, August 18, 2008
Seleb Lain dari Dunia Flora
Wednesday, August 13, 2008
Mawar Batik
Kulihat beberapa pokok mawar belang ini di sebuah stand di arena pameran bunga bulanan yang berlokasi di MTC Metro. Seorang penjaga stand, anak muda, menawarkan pokok-pokok bunga ini dengan bersemangat. Aku yang sudah menunjukkan minat, tentu jadi 'sasaran empuk' buatnya. Dia bilang, "Belilah bu.. buat nambah-nambah biaya kuliah...". Hm, semangat anak muda ini boleh juga. Ketika kutanya kampus tempatnya belajar, kupikir dia akan menyebutkan kampus pertanian atau semacamnya. Ternyata, dia menyebut Unikom. Eh??? Kutanya lebih jauh, kuliah di jurusan apa, dia jawab desain komunikasi visual. EH??? Itu kan aku banget. Aku sempat jadi dosen di sana, sampai lepas pertengahan 2002. Wah, memori terkuak kembali. Temanku sudah semangat menawar, nggak kira-kira. Aku sih senang, tentu, kalau dapat harga murah, tapi kasihan juga sih pada si penjual kembang. Dia yang sudah merawat bunga-bunga itu sampai berbunga cantik, mengangkut ke tempat pameran dengan bersusah payah, memajangnya di stand bunga, menungguinya, menanti satu-dua pembeli seperti aku.
Aku beli dua pokok mawar belang ini. Lucu lho... Yang satu berbunga belang (makanya disebut mawar batik), sedangkan pohon yang satunya lagi berbunga kembar tak identik. Dua bunga muncul di satu pohon pada waktu itu, yang satu berbunga pink agak fuschia, sedangkan yang satunya lagi marun. Aih... Cantiknya. Nanti ya... foto menyusul, kalau dia berbunga lagi. Siapa tahu warna bunganya lain lagi. ;) Di stand bunga yang lain, sebetulnya aku melihat bunga mawar berbunga ungu muda. Agak langka tuh kayaknya. Pengen beli juga, tapi ... hm... lain kali lagi deh ya. ;)
Monday, August 11, 2008
Bunga Wijayakusuma
Malam tadi, aku nggak mau ketinggalan lagi. Kuingatkan diriku sendiri untuk mengambil foto dari setangkai bunga cantik yang hanya mekar di malam hari ini. Wijayakusuma.
Bunga ini merupakan varian mini dari bunga Wijayakusuma yang sudah dimiliki ibuku sebelumnya. Ukuran, tentu saja berbeda. Waktu mekarnya juga tak terduga. Jika Wijayakusuma besar mekar ketika kuncup bunganya sudah menggembung, maka Wijayakusuma mini tak mau menunggu sampai kuncupnya terlihat besar. Aku sudah 'kecolongan' di kesempatan lalu. Tahu-tahu menemukan bunga itu sudah mulai 'redup' di pagi hari ketika aku siap berangkat sekolah. Maka kali ini, aku tak mau ketinggalan lagi.
Jam 10 malam, aku mengecek halaman depan, dan kutemukan bunga ini sudah merekah indah. Belum mencapai puncaknya, namun sudah terlihat kecantikannya. Keharuman samar tercium ketika kudekatkan hidung ke rekahan bunga putih itu. Subhanallah...
Satu lagi keagungan Tuhan yang dapat kunikmati. Bunga pemalu ini seolah melambangkan kerendahan hati. Tak sombong karena rupa, dan hanya menunjukkan diri pada orang-orang yang menunjukkan ketertarikan padanya -tentu karena tahu apa yang dicari-. Belajarlah rendah hati dari bunga ini.
Teringat satu lagu lama yang dulu kerap kunyanyikan. Entah karya siapa. Tidak begitu familiar, memang, tapi kusukai lagunya karena kutahu ibuku punya sepohon bunga itu di halaman rumah.
Bunga ini merupakan varian mini dari bunga Wijayakusuma yang sudah dimiliki ibuku sebelumnya. Ukuran, tentu saja berbeda. Waktu mekarnya juga tak terduga. Jika Wijayakusuma besar mekar ketika kuncup bunganya sudah menggembung, maka Wijayakusuma mini tak mau menunggu sampai kuncupnya terlihat besar. Aku sudah 'kecolongan' di kesempatan lalu. Tahu-tahu menemukan bunga itu sudah mulai 'redup' di pagi hari ketika aku siap berangkat sekolah. Maka kali ini, aku tak mau ketinggalan lagi.
Jam 10 malam, aku mengecek halaman depan, dan kutemukan bunga ini sudah merekah indah. Belum mencapai puncaknya, namun sudah terlihat kecantikannya. Keharuman samar tercium ketika kudekatkan hidung ke rekahan bunga putih itu. Subhanallah...
Satu lagi keagungan Tuhan yang dapat kunikmati. Bunga pemalu ini seolah melambangkan kerendahan hati. Tak sombong karena rupa, dan hanya menunjukkan diri pada orang-orang yang menunjukkan ketertarikan padanya -tentu karena tahu apa yang dicari-. Belajarlah rendah hati dari bunga ini.
Teringat satu lagu lama yang dulu kerap kunyanyikan. Entah karya siapa. Tidak begitu familiar, memang, tapi kusukai lagunya karena kutahu ibuku punya sepohon bunga itu di halaman rumah.
Subscribe to:
Posts (Atom)
-
Hari Minggu pagi, pukul 3 dini hari, telefon berdering. Kupikir, pasti bukan kabar yang terlalu baik. Emergency, pasti. Pada intinya, kesimp...
-
Suatu siang di Kota Baru Parahyangan. Aku berada di kawasan niaga di tatar Ratnasasih. Kuparkir mobilku menghadap jalanan supaya memu...
-
Belakangan ini, blogging buatku jadi sarana untuk curcol aja. Lama nggak update , ketemu tantangan bertema fashion di bulan Juli. Hayulah ki...