Showing posts with label Salman Al Farisi. Show all posts
Showing posts with label Salman Al Farisi. Show all posts

Friday, August 07, 2009

Bertandang ke Salman

Sabtu, 1 Agustus lalu, aku diundang untuk jadi juri dalam lomba gambar komik dan poster. Kusanggupi, bagai mengulang moment setahun berselang. Aku datang ke kampus Salman Al Farisi, sekolah tempatku mengajar beberapa tahun berselang. Gelombang rindu menyerbu begitu aku berbelok menuruni jalanan landai di depan gerbang sekolah itu. Masih sangat familiar, rasanya.
Hari masih muda. Panitia perhelatan besar rangkaian milad ke-20 Salman itu masih berbenah. Kusapa satu-dua orang yang kutemui dalam perjalanan menuju lab. komputer untuk menemui bu Santi. Berhubung anak-anak peserta lomba baru memulai sesi pertama, aku pun memutuskan untuk hilir-mudik dulu, tebar pesona. EH! Nggak kok. Hanya ingin menyempatkan menyapa teman-teman lama. Akhirnya aku berhenti di meja panitia untuk berbincang-bincang dengan bu Tia, bu Tini, pak Jajang, dan banyak orang lagi yang hilir mudik. Senangnya, ketika aku masih mengenali mereka. Kurasakan keriaan yang sama ketika mereka mengenali aku.
Sempat berkunjung ke area panggung untuk menonton tampilan performance dari guru dan murid. Mengesankan. Sebelumnya, tentu saja sempat 'dibajak' beberapa orang tua murid ke meja display mereka di arena bazar, untuk ditawari 'proposal bisnis' maupun produk jualannya. Menarik... menarik....
Setelah itu, saatnya bertugas. Naik ke lab. komputer baru, aku menganalisa hasil gambar anak-anak para peserta lomba yang menggambar dengan komputer, baik dengan program word, paint, ataupun coreldraw. Wow...! I'm impressed. Hasilnya juga bagus-bagus. Menentukan juara 1-2-3 hingga harapan 3, tidak terlalu sulit. Hasilnya segera juga diumumkan di panggung. Tak lama kemudian, pukul dua tepat, acara hari itu benar-benar usai. Panitia melanjutkan pekerjaan beres-beres, sementara aku yang sudah janjian dengan Intan melanjutkan agenda bincang-bincang di koridor mushala.
Intan akan ke Jogja, melanjutkan studi, S-2 lagi. Semoga jadi ilmu yang bermanfaat. Amiin. Intan... aku kangen cerita berpanjang-panjang denganmu. Kapan lagi ya...? Semoga baik-baik saja engkau di sana, dengan Allah sebagai sebaik-baik penjaga. Semoga Dia berkenan mempertemukan kita kembali di suatu masa, dengan keadaan yang berbeda. Lebih baik tentunya. Amiin.

Saturday, April 25, 2009

Kunjungan Ke Salman

Hari Jumat kemarin, menyempatkan mampir ke SD Salman Al Farisi. Ada sedikit keperluan dengan bu Sri. Langsung menuju kelas 5C, tempat bu Sri jadu wali kelas di situ, eh... ternyata anak-anak masih banyak berkumpul di sana. Ramailah mereka menyapa, terutama anak-anak yang dulu sempat kuajar ketika di kelas 4. Sekarang mereka sudah kelas 6, siap untuk ujian akhir (eh, siap nggak...?). Pada minta didoain deh, semoga lancar menjalani ujian, jujur berusaha, dan dapat hasil terbaik. Amiin.
Ada siapa saja di sana? Ada Ajay yang nyaris tidak berubah (cuma tambah tinggi aja. Tetep kasep, cenah. Jiee....) Ada Ovi yang sekarang pake kawat gigi, ada Ira, Icha, Dede, Diyyah, Rosa, belum lagi titip-titip salam dari ini dan itu. Mereka betul-betul bertumbuh ya. Tambah tinggi. Kurus-kurus dan tinggi. Cantik (iya... kecuali Ajay anu kasep) dan (semoga) shalihat. Amiin. Bu Diah kangen kalian semua.

Sunday, December 14, 2008

'menemukan' Muridku (dulu)

Sedikit menjelajah situs pertemanan facebook, dalam waktu satu-dua jam sambil menunggu hujan reda di sekolah, aku 'menemukan' murid-muridku di SD Salman Al Farisi dulu, sudah jadi pemuda-pemuda yang gagah, pemudi-pemudi yang cantik. Semoga tambah shalih & shalihat. Amiin. Kisah sukses mereka membuatku bangga. Senang rasanya bisa ambil sedikiiiit bagian dalam proses pendidikan mereka. Semoga Allah berkenan menjaga jalinan silaturahim ini -melalui dunia maya sekalipun- agar tetap terjalin dengan baik. Amiin.
Kusempatkan juga membaca blog mereka. Asyik juga ya, mbaca blog 'anak muda' ;) 'Terkagum-kagum' dengan gaya bahasa dan isi pembicaraan mereka di forum itu. Memori yang kuingat tentang mereka memang masa kecil mereka, polosnya pemikiran mereka sebagai anak SD (walaupun sempat ketemu dengan salah satu dari mereka saat sudah menjadi mahasiswa). Tanpa kusadari, saat aku 'terperangkap' di dunia pendidikan dasar, anak-anak itu telah 'meninggalkanku' jauh. Ah... anak-anak itu benar-benar telah tumbuh besar.

Monday, November 17, 2008

Teman-teman Salman

Ketika bertemu mereka hari Sabtu lalu di Pusdai, aku merasa seolah bertemu anggota keluarga yang lama tak berjumpa. Kerinduan yang sangat alami, bukan artifisial, kurasakan saat mereka menyapaku dengan hangat dan tentu saja kubalas tak kalah hangat. Akupun merindukan kalian, teman-teman. Nyaman rasanya berada di antara kalian yang saling berpegang teguh dalam Islam, sama-sama merasakan kuatnya tali silaturahim. Semoga Allah meridhoi. Amiin.
Mari kuperkenalkan teman-teman terbaik yang kumiliki, insya Allah masih tetap kumiliki hingga saat ini. Perkawanan tak mesti putus kan hanya karena kita berbeda ladang jihad (jie... bahasanya tinggi ya? Ladang jihad, gitu ;)) Dari kiri ke kanan...
Bu Ratna. Guru PAI (Pendidikan Agama Islam) ini setelah menikah dan berputra kok malah kelihatannya semakin kurus saja. Capek, pasti, mengurus keluarga di samping sibuk mengajar di Salman. Tak pernah berkeluh kesah, kecuali ketika Salman kebanjiran dulu. ;)
Saat itu longsoran di tebing belakang kompleks sekolah Salman membendung aliran sungai kecil dan akhirnya air tumpah ruah ke kelas-kelas. Sebagai salah satu guru yang kelasnya ikut tergenang, bu Ratna tentu ingin menyelamatkan berbagai dokumen. Maka dengan sigap, dia angkat rok dan mencemplung begitu saja ke dalam air setinggi separuh betis yang sudah memenuhi kelasnya. Dalam kondisi demikian, seorang guru laki-laki melintas dan menengok ke dalam kelas, yang kuyakin, tak ada maksud lain selain ingin menawarkan bantuan jika diperlukan. Tapi... ikhwan, gitu lho. Dengan spontan, bu Ratna melepaskan rok yang sedang dipegangnya, pasrah kebasahan juga, asal jangan sampai betisnya terlihat oleh yang bukan muhrim. Walah... padahal si bapak ikhwan itu belum tentu juga melihat ‘sesuatu’, toh saat itu dia sedang tidak mengenakan kacamata minusnya. Nah... karena roknya terlanjur basahlah (atau karena ada kemungkinan betisnya terlihat oleh si guru ikhwan), makanya bu Ratna jadi misuh-misuh. “Teu rido...!” Hihi... ;)
Bu Ine. Guru bahasa Indonesia ini berpembawaan kalem. Eh tapi jangan salah... dia bisa all-out juga lho di satu kesempatan lomba mengajar intern Salman, PAIKEM. Hmm... paikem tuh apa ya... atau siapa? ;) Temennya pak Ridwan, pasti :p Pokoknya paikem ini lomba mengajar antar-MGMP di lingkungan SD Salman yang tujuannya untuk merangsang kreativitas guru dalam mengajar. Aku sempat ikut, 2 kali, dan melihat aksi bu Ine saat merayakan keberhasilan ‘murid’ di kelas, dengan menari ala Dora. Yes! Berhasil, berhasil, berhasil, HORE! Sukses selalu ya, bu Ine ;)
Bu Liyah. Guru ini sudah alih subjek (bukan alih profesi) beberapa kali. Nggak jauh dari pengalamanku-lah, bu. Guru IPS, pernah. Guru bahasa Inggris, lama juga, dan seusai cuti melahirkan anak keduanya, kabarnya dia ini jadi guru Leadership, subjek yang spesial, cuma ada di lingkungan YP SaF. Asyik juga kan, ngajar Leadership? ;) Enjoy it!
Bu Tika. Guru PAI yang pengantin baru ini rupanya masih sedikit merahasiakan pernikahannya. Masih ada yang belum tahu bahwa bu guru yang kecil mungil ini ternyata sudah menikah. Muridnya sampai mutung karena nggak dikasih tahu, dan terus menagih undangan pernikahannya. Hayo... gimana tuh?
Bu Endang. Kadang iseng kupanggil dia dengan sebutan “Bu Dendang”. Itu teh panggilan sayang, bukan ejekan. Tapi jika tidak berkenan, mohon dimaafkan m(_ _)m Ibu berputra 3 ini masih asyik-asyik aja bermotor-ria ke mana-mana. Tampilannya yang lembut gemulai membuat orang-orang tak akan menyangka subjek yang diajarnya. Penjas, gitu lho. Satu-satunya guru penjas perempuan di Salman. Wow... ini baru yang namanya cantik perkasa. Setuju? ;)
Bu Tia. Satu lagi guru PAI di Salman, tapi yang ini mah rada-rada okem. hehe...;) Kalau sudah ketemu dia, kayaknya ketawa nggak bakalan berhenti-berhenti. Adaa... saja celetukannya yang bisa bikin kita ketawa. Aku sampai niat mau ikutan audisi API-TPI bareng bu Tia. Untung dia masih berakal sehat (berarti aku yang kurang waras dong? hah???) dan menolak ide itu mentah-mentah. Kalau sampai lolos audisi, wah... Bajaj pasti lewat deh ;) Kita naik taksi aja kali ye... Hehe...
btw, terakhir kali ketemu bu Tia, kayaknya makin cantik aja nih. Sedang perawatan kulit ya? Jelang pernikahan, mungkin? Hayo.. undangannya jangan sampai kelewat ya. Jangan sampai saya mutung seperti muridnya bu Tika, dan nagih terus... sampai kurus... (ih, udah kurus juga :p)
Bu Ecin. Dia salah satu pengajar subjek Sains di Salman. Satu lagi guru Salman yang kurus. Dia nih kurus banget. Bahkan ketika hamil sekalipun, yang gendut cuma perutnya. Nggak kebayang deh beratnya membawa bayi berbulan-bulan, dan ternyata kembar dua! Melahirkan normal pula! Subhanallah... Huibatt. Saat ini kabarnya beliau dan keluarga sudah menempati rumah baru, rumah sendiri. Alhamdulillah. Barakallaah.
NRF. Pendeknya dibilang begitu. Lengkapnya: Neneng Rohmatul Fitria. Ini salah satu ‘kembaranku’. Yang kembar, tanggal lahirnya. Beda tahun, dikit. Kami masuk Salman barengan, tapi maaf ya, aku keluar Salman duluan. Bu Neneng ini mengajar PAI. Banyak betul ya guru PAI di Salman? Ya iyalah... karena di kelas kecil (1-3), dengan metode pembelajaran tematik, tiap kelas harus punya guru PAI sendiri. Makanya guru PAI di Salman banyak (banget).
Satu foto lagi untuk ‘dibahas’. Eh... aku nongol lagi di situ. Nggak usah dikenalkan lebih jauh ya. Sudah kenal kan? ;) (Hihi.. Pe-De banget ya?)
Di sebelahku, Bu Nelly yang jadi partner pertamaku di Salman, mentorku. Aku belajar banyak darinya, tentang manajemen kelas, tentang penanganan masalah anak, wah... pokoknya kalaulah sekarang ini aku pinter, ya bu Nelly yang berperan banyak dalam mencerdaskanku. Jie..ting... ting... kedip kedip. Ketika berpartner denganku dulu, sekitar 11 tahun yang lalu, dia masih gadis. Sekarang sudah berubah status jadi istrinya pak Agus, dan ibu dari Dani, Ilma dan Luqman. Sebagai lulusan sastra Indonesia, kapasitas keilmuannya dimanfaatkan secara optimal. Kalau nggak ngajar kelas 6, beliau akan mengajar kelas 1. Penempatan yang tepat. ;)
Bu Tika. Cerita apalagi ya tentang dia? Lain kali lagi deh. Kan di atas sudah diulas. ;)
Bu Dewi. Ini guru yang relatif baru di lingkungan SD Salman. Aku tidak kenal cukup dekat dengan guru yang satu ini. Sebelumnya bu Dewi ini beraktivitas di TK Salman, lalu penugasan baru menempatkan ibu guru lemah lembut ini di SD. Ketika aku keluar dari (SD) Salman, bu Dewi justru masuk ke lingkungan SD. Ayo bu, bawa keceriaan TK ke SD, tapi harus siap-siap dengan kerja ekstra di SD. Selamat berjuang ya.
Bu Mei. Guru bahasa Inggris ini sempat menjadi partnerku di MGMP, tepat sebelum aku pergi meninggalkan Salman. Selain bahasa Inggis, dia juga ‘penguasa’ bahasa Sunda. Jagoan banget! Aku baru tahu istilah ‘si utun’, ya dari dia ini. Ketika bicara dengan bahasa Inggris, logat western-nya terasa, dan ketika switch ke bahasa Sunda, alah... meni katara urang Sundana. Bu Mei ini selalu mengenakan gaun terusan dalam keseharian. Ketika yang lain asyik-asyik bercelana panjang, dengan tunik panjang sekalipun, bu Mei mah teteup... gamis forever!
And for me, our friendship is forever, with you all, my best friends in my best period of time, the sweetest time in Salman Al Farisi (da di mana deui, perkenalan pertamaku dengan dunia kerja dan mengajar ya di Salman, pastilah berkesan begitu mendalam. Jangan ada yang cemburu ya ;))
Oh ya, satu lagi, yang mengambil foto ini adalah bu Sri Artini, guru IT di Salman. Selain ngajar, bisnis souvenir beliau ternyata berkembang pesat lho. Pokoknya, nggak usah ke mana-mana, kalau perlu cendera mata, besar-kecil, yang biasa atau luar biasa, kontak bu Sri saja. Bisa pake cepet kan ya? ;)

Sunday, November 16, 2008

'Reuni' Salman Al Farisi Berujung Sakit... :(

Sabtu ini, sepulang dari sekolah, kusempatkan untuk mampir ke Pusdai. Ada rencana ketemu bu Tika untuk melanjutkan sesi bincang-bincang yang lama terputus.
Sebetulnya, sejak di sekolah aku sudah merasa demam. Tenggorokan terasa bengkak, ya... pokoknya nggak enak badan deh. My body is not delicious. :pSampai di Pusdai bada ashar, gerimis baruuu saja turun. Nekat, lari-lari sedikit tanpa payung, kuterjang saja jarak 20 meteran dari tempat parkir ke selasar Pusdai, menemui teman-teman Salman Al Farisi yang baru saja bubaran seusai pelatihan manasik haji di sana (hari Rabu, mereka akan melaksanakan simulasi manasik haji untuk murid-murid SaF. Hm... jadi ingat masa awalku di Salman dulu, manasik haji di Sabuga).
Ketemu bu Nelly dan Bu Mei yang masing-masing menunggu 'my husband'. Yeah... and I'm gonna fetch 'my wife'. :p Semua orang kayaknya dijemput suami. Bu Tika juga kali ya. But... instead of her husband, it's me whose come and fetch her. So... does it mean I become her husband? Ha... no-lah... Bu Nelly mau walking-walking dulu bersama keluarga. Oke deh... save walking-walking (selamat jalan-jalan ;))
Note: Tahun depan Insya Allah SaF akan mulai ber-bilingual, maka dimulailah dari sekarang. Kali ini sih lucu-lucuan aja. Sementara itu, aku bergabung dengan beberapa rekan guru SaF lainnya yang masih menanti hujan reda di lantai 1 Pusdai. Ramailah dengan perbincangan tentang berbagai hal, termasuk konten blog-ku yang ternyata mereka baca juga, kadang-kadang. Termasuk kisah pernikahan bu Tika yang ramai jadi pembicaraan di SaF, baik oleh guru maupun murid-murid. Hihi... Hayo atuh... jangan cuma baca... kasih komentar juga ya. Bukti bahwa teman-teman sudah berkunjung. Kritik dan saran juga boleh kok.
Nggak berlama-lama, aku dan bu Tika pergi dari Pusdai, setelah berfoto dengan teman-teman SaF yang ingin foto mereka dipajang di blog ini. Mangga... yeuh. Rencananya, aku mau mampir sebentar ke suatu tempat, nyari hadiah untuk kakakku. Hari Sabtu ini dia berulang tahun. Mampir ke Borma Bubat yang nggak terlalu besar, ternyata lama juga kita 'berputar-putar' di sana. Bukannya nyasar atau apa sih, cuma sekedar cuci mata akhirnya. Belinya sih kagak. Setelah hadiah buat kakak dan satu pesanan teman yang lain sudah kudapat, aku sudah pengen pulang nih. Ujung-ujung jariku terasa sedikit kesemutan, sementara suhu tubuhku terasa meninggi. Wah... bakal selamat nggak nih nyopir mobil sampe ke rumah, mana bawa istri orang lagi? ;)
Alhamdulillah... jalan yang sedikit macet bisa kulalui, juga jalanan yang banyak macet. Malam minggu, gitu. Ketemu suami bu Tika di area 'Rencong', lalu aku melanjutkan perjalanan yang tinggal 1-2 km lagi ke rumah. Sampai rumah, sudah tinggal istirahat saja.
Suhu badanku mulai meninggi. Agak pusing dan sakit kepala juga. Tidur dengan kompres di dahi, berkali-kali juga aku terbangun, tidak nyaman dengan kondisi badanku. Paginya, rasanya sih suhu badan agak menurun, tapi masih leng-lengan. Badan rasanya ringan bener... Disuruh ke dokter, aku nggak mau nyetir sendiri, ogak juga naik angkot (manja bener ya? ;p) Akhirnya kakak iparku yang njemput ke rumah dan mengantar kami sekeluarga ke dokter, emang seisi rumah lagi sakit. Kompak kan? ;)
Di klinik 24 jam Moh.Toha, dokter yang memeriksa kami agak-agak 'okem' juga nih, tapi asyik aja. Karena badanku masih panas, dia beri aku surat sakti untuk istirahat di rumah selama dua hari. Wadduh...! Aku teringat rentetan jam ngajarku di hari Senin. Kasihan teman-teman yang harus nggantiin. Sing ikhlas nya... Semoga Allah SWT membalas kebaikan kalian. Amiin.

Friday, October 17, 2008

Nebeng Reuni-an

Hari Jumat malam, aku menyempatkan diri untuk menemui bu Meity, teman lama yang kebetulan sedang ada di Bandung. Dia menikah dengan orang Pakistan dan tinggal di Jeddah. Lebaran tahun ini menyempatkan datang ke Indonesia dan meluangkan waktu beberapa hari tinggal di Bandung. Ketika di Salman, bu Meity mengajar komputer dan lebih sering 'ngetem' di lab.komputer, bergaul dengan guru-guru SMP. Lab komputer memang terletak di area SMP. Aku yang guru SD, sok akrab aja dipertemukan dengan bu Meity untuk satu dan lain urusan.
Jumat malam itu, aku datang ke rumah bu Triana yang jadi tempat pertemuan. Beberapa teman yang hadir di pertemuan itu memang rata-rata sudah tidak aktif di Salman juga, seperti bu Tari, bu Danti dan Umi yang sudah jadi abdi negara alias PNS. Cie... Sementara bu Sri, bu Triana dan bu Evi masih jadi 'aktivis' Salman. Rata-rata mereka adalah guru SMP Salman, sedangkan aku dulu nggak pernah beranjak dari ngajar anak-anak SD. Aku yang juga sudah nggak di Salman lagi, ikutan nebeng aja. ;) Judulnya, reunian juga nih. Aku jadinya nebeng reuni. hehe...
NOTE: Maaf, fotonya tidak statis. Kamerawannya belum 'padu' dengan kamera yang digunakan, jadi fotonya ya... apa adanya. ;)

Sunday, October 12, 2008

Silaturahim Tahunan

Hari ini, janjian dengan beberapa rekan Salman (atau ‘alumni’ Salman), kita berkunjung ke rumah pak Rombang, mantan kepala sekolah Salman. Beliau sangat bijak, sangat mengerti bidang yang ditanganinya, dan tak segan membagi ilmu untuk kita. Makanya kita sangat menyegani beliau, menghormati beliau, dan… menyayangi beliau. ;) Tahun lalu kita bersilaturahmi ke rumahnya, juga tahun sebelumnya. Tahun ini kita jadwalkan hal serupa.
Janjian jam 9 (tahun ini giliran Intan yang jadi 'penghubung' untuk menjalin kontak dengan p'Rombang), aku ketemu dengan bu Umi dan bu Suzana di pasar Kordon, seperti tahun lalu, di depan kios-kios penjual pisang. Nggak lama nunggu, kulihat mereka turun dari angkot dan langsung naik katana-ku yang segera melaju menuju rumah pak Rombang. Tahun ini, nggak pake nyasar deh ya... :p
Sampai rumah pak Rombang, sudah ada pak Nino di sana, yang bilang belum lama datang. Kita bertiga gabung, dan menyusul datang pak Soleh dengan salah satu anaknya. Setelah itu, bu Tia dan pak Eko susul-susulan. Terakhir, Intan gabung. Ngobrol panjang, tentang segala macam... masih membicarakan kebijakan pendidikan di Indonesia, situasi di Salman, dan kabar kita sekarang di tempat yang ‘baru’. Bu Umi di P3GT, Intan di Dinas Peternakan Purwakarta yang jadi pegawai negeri, dan b'Suzana yang masih betah di Salman. Mereka bertiga semuanya mahasiswa S2. Sedangkan aku di Irsyad, masih dalam tahap bermimpi. Dibalap Intan melulu sih... :( Dulu bilang pengen keluar dari Salman, ditahan-tahan sama Intan, tapi ternyata dia duluan yang keluar. Setelah itu aku keluarkan juga 'pernyataan kebulatan tekad' untuk ngejar sekolah S2, eh... Intan duluan juga. Jangan-jangan (eh, boleh-boleh deh...), ntar kalo aku bilang mau nikah, Intan juga kali ya yang duluan. Silakan...
Setelah berbagi kisah tentang berbagai hal yang terjadi di tempat kami sekarang berbakti, bada dzuhur kami berpisah. Pamitan dari kediaman pak Rombang. Nggak selesai-selesai kalau bicara dengan beliau. Hehe... Insya Allah ketemu lagi di lain kesempatan ya pak, mudah-mudahan Allahmasih memberi umur di tahun depan. Insya Allah.
Karena masih kangen, (dan lapar pula) aku, bu Umi, bu Suzana dan Intan ikut gabung, melanjutkan perbincangan sambil makan siang di Pizza Hut Carrefour Kircon. Kalau bareng bu Tia, pasti pegel pipi aja. Ketawa melulu. Haha...! Selepas ashar, kita bubaran. Besok-besok ketemu lagi ya. Jangan bosan. Miss you all! Always.

Monday, September 08, 2008

Reuni 'Alumni' Salman Al Farisi (part 2)

Bertajuk "Buka Puasa Bersama", Ahad lalu kita berenam, para 'alumni' Salman Al Farisi, janjian lagi untuk ketemu. Dengan 'formasi' baru. ;) Masih bu Ismi yang punya ide. Katanya, sebelum balik ke Padang untuk ketemu dengan bebek-bebek peliharaan yang dikangeninya (yang sebagian telah dijual oleh sang ibunda. hiks), dia mau ketemu dulu sama bebek-bebek Bandung. HEY! Bukan bebek, tapi gadis-gadis Bandung... ;)
Kali ini acara diselenggarakan di rumah salah seorang calon alumni (hehe...), bu Tia tea. Bu Tika sang pengantin baru yang tadinya sudah konfirmasi mau ikut, ternyata di saat-saat terakhir menyatakan mundur. Minder kali, bergabung dengan gadis-gadis. ;) 'Posisinya' digantikan oleh bu Jana, plus satu 'anggota' tambahan, Dijah. Sisanya, aku, Intan dan Umi yang asli alumni. ;) (Ih, banyak banget ya kedip-kedipannya?)
Buka bersama kali ini, dengan menu rumahan yang hm... asyik banget. Dimulai dengan minum air bening, icip-icip gehu buatan mamanya bu Tia, disambung dengan cireng isi kacang pedas. Wah... enak!!! Setelah itu, diseling dengan sop buah yang segar. Semangkuk besar! Sudah cukup kenyang tuh.
Setelah shalat maghrib, makan nasi dengan lauk capcay, ayam suwir dan emping jumbo. Alhamdulillah... nikmat. Di sela-sela berbagai topik pembicaraan, mulai yang ringan, yang lucu, yang serius, sampai yang horor. Wah... lengkap deh. Ketika akhirnya kami melirik jam, waduh!! Ternyata sudah jam setengah sembilan-an. Bulan Ramadhan begini mah, jam malamnya "Cinderella" mundur lebih awal, bukan tengah malam lagi. ;) Makanya kami kemudian bergegas pamitan pulang. Terima kasih atas semuanya. Rencana reuni alumni Salman pasca-lebaran pun, kudengar sedang dalam tahap perencanaan, akan segera dilaksanakan. Insya Allah. Dengan peserta alumni tak terbatas pada gadis-gadis ;), melainkan ibu-ibu yang sudah menikah dan berputra, bapak-bapak yang berdinas jauh dan dekat, kalau berkesempatan datang, kayaknya akan senang sekali bisa ketemu dan berbincang lagi dengan semuanya. Looking forward for that occasion. ;)

Salah Satunya... Kok Jadi Banyak.