Saturday, May 05, 2018

Skippy Brownies Lava Cake Ala-ala

Week end itu saatnya bersibuk beberes rumah dan 'serius' turun ke dapur. Sabtu ini aku mau coba bikin brownies. Eitts... jangan-coba-coba bikin brownies. Mari lakukan dengan serius. Gimana juga sih bikin brownies yang serius itu?
Berbekal resep dari majalah edisi lama, dengan modivikasi sesuai bahan yang tersedia di rumah, kubuat brownies klasik dengan cetakan bulat. Kusiapkan bahan-bahan yang diperlukan. Ganti-ganti ingredients sedikit, kupikir tak akan terlalu mengubah rasa maupun tampilan. Oke. Sebagian dark cooking chocolate kuganti dengan milk chocolate dan cokelat oleh-oleh dari Arab. Kupilih yang tidak ada isian kurma atau kacang. Sedangkan kacang almond atau kismis ku-skip saja. Eh... ngomong-ngomong skip, jadi teringat Skippy peanut butter yang baru kubeli, Kalau kutambahkan sebagai isian, tampaknya 'lucu' juga kali yaa...
Kuikuti langkah demi langkah cara pembuatan brownies hingga memanggangnya di oven. Ah...! Browniesku masih belum secantik yang kuharapkan. Tapi soal rasa, tak ada kata gagal untuk brownies. Semua enakkk. Mudah-mudahan di kesempatan berikutnya, dalam sesi remedial, aku bisa bikin brownies yang lebih cantik.
Resepnya? Sesimpel tampilannya. Boleh ikuti sesuai instruksi, atau modivikasi lagi.

Bahan:
  • 250 gram dark cooking chocolate (kupakai sekitar 220 gram dark cooking chocolate, sisanya cokelat lain)
  • 100 gram margarin
  • 50 ml air
  • 3 butir telur
  • 225 gram gula pasir
  • 100 gram tepung terigu protein sedang
  • 30 gram coklat bubuk
  • Skippy peanut butter, sekitar 3 sendok makan
     note: coklat bubuk di rumah tinggal sisa sekitar 20 gram saja, jadilah tambah terigu sedikit.
Cara membuat:
  1. Panaskan air dan margarin. Tambahkan cokelat yang sudah dipotong-potong. 
  2. Kocok telur dan gula pasir selama 3 menit asal rata. Tambahkan campuran cokelat. Aduk rata.
  3. Tambahkan tepung terigu dan cokelat bubuk sambil diayak dan diaduk perlahan hingga rata.
  4. Siapkan cetakan bulat (aku pakai cetakan muffin kecil). Alasi dengan kertas yang biasa dipakai untuk membuat cupcake.
  5. Tuang sesendok adonan ke dalam cetakan. Taruh setengah sendok teh Skippy peanut butter ke tengah cetakan. Tuangkan lagi sesendok adonan hingga selai kacang tertutup dan adonan mencapai tiga perempat tinggi cetakan.
  6. Panggang dalam oven selama kurang lebih 40 menit dengan api sedang.
Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan dan Praxis sebagai perwakilan SKIPPY® Peanut Butter Indonesia.

Skippy Yippee... Teman Makan Kapan Saja

Setiap masuk dapur, aku selalu teringat ibu. Biasanya beliau yang paling sibuk dengan segala urusan dapur, termasuk urusan menu makanan tentunya. Ketika beliau sudah tiada dan aku mengurus rumah sendiri saja, segala urusan mesti kutangani sendiri tentunya. Tetap dengan konsep nggak mau ribet, untuk urusan menu aku cari yang praktis-praktis saja deh. Hmm... sebetulnya ibu pun dulu begitu siih... 
Ini salah satu menu paling praktis yang cukup sering disiapkan ibu ketika aku masih kecil dulu. Termasuk favoritku. Kata ibu, namanya Selada Singapur. Ya kita sebut saja begitu. Sedikit googling, info tentang salad singapur ini beda-beda banget ya. Jadi kita bebas sajalah menerjemahkan resep selada ini suka-suka kita. Menu ini, bisa dihidangkan kapan saja, walaupun rasanya paling pas untuk makan siang karena dihidangkan dingin lebih sedap rasanya. Menyiapkannya cepat dan praktis. Asli gampang banget karena bahan-bahannya tidak perlu dimasak, cukup ambil dari kulkas dan langsung eksekusi. 
Siapkan sayuran mentah. Biasanya sih ibu menyiapkan irisan sawi putih, ketimun, tomat, atau apapun sesuai selera, tambahkan irisan telur rebus. Salad dressingnya dibuat dari campuran selai kacang, kuning telur, dan cuka atau perasan air jeruk nipis. Tidak pakai takaran, cukup dengan kira-kira, dengan kekentalan sesuai selera. Aku sih suka yang agak encer. Disiram ke atas sayuran dingin, wah... kebayang segernya nggak siih... :D
Dulu sih ibu sering beli selai kacang kiloan di pasar, yang rasanya yaa... gitu deh. Tapi sekarang, aku percayakan selai kacang untuk salad dressing ini pada Skippy. Dengan varian creamy atau crunchy, wah... bikin aku galau mau pilih yang mana. Dua-duanya enak siih... Tapi kusiapkan satu untuk stok selalu. Persediaan selai kacang begini nih bikin hati happy, soalnya berasa ada jaminan makanan yang pasti enak. Buat olesan roti atau donat, sudah pasti. Buat olesan cemilan pisang crispy pun jadi. Belum lagi buat campuran kue atau brownie. Ah, tapi itu cerita lain lagi. Jadi semangat untuk masak lagi nih. Yippee...!

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan dan Praxis sebagai perwakilan SKIPPY® Peanut Butter Indonesia.

Monday, April 30, 2018

Situs Paripurna Produk Handmade Indonesia

koleksi souvenir mancanegara
Sesi beres-beres rumah di akhir pekan kali ini, menyisakan sebuah pemikiran panjang. Ketika aku mengusap debu di piring hias souvenir dari Australia, mengelap noda yang menempel di boneka kokeshi dari Jepang, menata kembali lonceng dari Inggris dan Singapur, membersihkan satu persatu souvenir dari luar negeri pemberian kawan dan kerabat yang pulang dari mancanegara, hal itu membuatku berpikir. Apa ya, souvenir khas Indonesia yang akan diingat oleh orang-orang yang membawanya pulang ke negara asal mereka? Apa kiranya mercandise unik khas Indonesia yang sekali lihat akan membuat orang teringat pada Nusantara?
Kukenang masa bertahun berselang. Saat aku berkunjung dan tinggal di Jepang selama beberapa waktu sebagai partisipan program teacher training. Tentunya banyak hal yang harus dipersiapkan, mulai dari dokumen penting, pakaian khusus, hingga pernak-pernik unik menarik khas Indonesia yang akan kuhadiahkan kepada teman dan kolega termasuk dosen pembimbingku di sana.
Sebuah kebiasaan masyarakat Jepang adalah saling bertukar omiyage sebagai tanda mata bagi teman atau orang-orang yang berjasa bagi kita. Rasanya tidak banyak opsi yang bisa kupikirkan saat itu. Bukan semata karena sedikitnya pilihan yang tersedia, tapi mungkin karena kesibukan mempersiapkan berbagai keperluan sehingga tidak cukup serius mencari souvenir terbaik untuk kubawa.
Peta Batik Indonesia
Aku ingin menyiapkan souvenir khas Indonesia yang cukup ringan dan ringkas untuk dibawa namun berkesan sebagai sebuah tanda mata. Sebagai pecinta produk lokal yang males ribet, saat itu aku membawa sepaket tas tangan dan cosmetic pouch dari kain tradisional untuk kuberikan kepada dosen pembimbing, kain batik untuk host family, juga cukup banyak bros angklung mini untuk teman dan sahabat. Cukup meng-Indonesia-kah? Hmm... agak kupertanyakan ya, karena semuanya masih relatif kedaerahan, tidak sungguh-sungguh mewakili Indonesia secara utuh. 
Indonesia yang luas terdiri atas beragam suku bangsa dengan keunikannya masing-masing. Rasanya teramat banyak icon Indonesia mengingat begitu luasnya Zamrud Khatulistiwa tercinta kita ini. Monumen Nasional yang terdapat di Ibukota tentu akan mudah dikenal turis mancanegara. Tapi Borodudur sebagai bangunan candi Budha terbesar bahkan di dunia tentu tak mudah pula dilupa. Monumen Khatulistiwa di Pontianak pun jadi ciri khusus Indonesia yang terletak tepat di tengah bola dunia. Walaupun demikian, akan menarik juga ya memikirkan beberapa alternatif souvenir khas yang bisa jadi sarana untuk makin mengenalkan Indonesia di mata dunia. Pencarian dengan kata kunci "Produk handmade Indonesia" atau "Produk handmade unik" langsung diarahkan ke situs qlapa.com. Dan berkelana di satu situs belanja saja sudah cukup sebagai referensi.
pic. courtesy of qlapa.com
Menjelajah sebentar di web yang user-friendly ini membuatku merasa puas. Web ini tampak lengkap dan paripurna sebagai pusat produk handmade berkualitas dengan ragam keunikannya masing-masing yang mencerminkan aspek keIndonesiaan. Bisa dikata, ini adalah mall online untuk produk lokal berkualitas. Bekerjasama dengan pengrajin lokal, qlapa.com menjadi jembatan penghubung antara produsen dan konsumen. Di satu sisi, pengrajin lokal diberdayakan untuk menghasilkan produk dengan standar kualitas yang terkurasi. Hal ini membuat pengrajin lokal akan terus meningkatkan kualitas produknya agar bisa bersaing di pasar dunia maya yang sangat mungkin menembus batas wilayah bahkan hingga mancanegara. Sementara pembeli yang tertarik dengan produk lokal pun tak perlu menempuh perjalanan jauh untuk mendapatkan produk yang diinginkan. Cukup dengan sentuhan jari di tetikus saja, produk berkualitas bisa didapat dan langsung diantar ke depan pintu. Dengan demikian, harga pun menjadi lebih ekonomis tentunya. Selain harga yang terjangkau, ketika kita bisa membeli langsung dari pembuatnya, ini memberi kemudahan bagi kita untuk mengatur dan memodifikasi produk sesuai keinginan kita.
Rekomendasi untuk DIah Utami
Rasanya tidak berlebihan jika kukatakan bahwa qlapa.com sudah cukup paripurna sebagai penyedia produk handmade khas Indonesia. Ketik saja kata kunci yang diingini, maka berderet pilihan akan muncul, menanti untuk dimasukkan ke dalam keranjang belanja virtual hingga siap dikirim ke rumah. Dengan adanya rekomendari produk yang ditujukan khusus untukku, wah... aku merasa jadi kastemer paling istimewa. Produk yang direkomendasikan adalah produk yang memang menarik dan  sesuai dengan yang kuminati. qlapa tahu saja apa yang kumau. Jadi pengen belanja kan...
inspirasi kado dari qlapa.com
Tak ayal aku pun jadi kalap mata saat mencermati deretan produk berkualitas yang tersedia di sana. Sebagai penyuka produk etnik, aku bisa menemukan banyak item di web ini, yang membuatku tergoda untuk mengaktifkan token e-banking, bersiap menjemput barang yang kumau. Untuk koleksi barang unik, banyak tersedia di sini. Mencari hadiah untuk rekan dan kerabat dengan gaya dan keunikannya masing-masing, atau mencari produk pelengkap gaya hidup pun tak sulit ditemukan di satu web saja, cukup di qlapa. Selain itu, catat lagi nih... barang yang kita inginkan bisa kita minta customise, dibuat atau dimodifikasi sesuai permintaan dan keperluan kita.
produk limited edition
Aku dibuat terpesona dengan luasnya range produk yang tersedia di qlapa. Dengan standar kualitas tinggi, jumlah barang yang tersedia cukup terbatas, tapi kesannya jadi eksklusif. Sebagai orang yang belajar desain dan seni, aku sangat mengapresiasi karya buatan tangan. Aku tahu bagaimana sulitnya membuat sebuah produk orisinil tapi terlalu malas untuk membuatnya sendiri. Dengan begitu aku harus siap dengan konsekuensi untuk membayar lebih untuk sebuah produk berkualitas.
Eh dipikir-pikir lagi, aku kok jadi tergoda untuk ikut meramaikan ranah bisnis ini ya. Kulirik mesin jahit di kamar sebelah, rasanya masih sangat bisa diberdayakan. Kain-kain tradisional yang selama ini jadi penghuni lemari bisa kumanfaatkan untuk membuat produk handmade unik yang layak jual Siap mendapatkan produk etnik cantik buatanku? Celemek bolak-balik ini salah satu contohnya. Kuhadiahkan kepada ibu angkat host family-ku ketika di Jepang dulu. Dia senang mendapatkan produk yang memang dia ingin dan perlukan. Rasanya bisa kubuat beberapa lagi untuk ikut kupajang melalui qlapa.com. Tapi untuk detilnya sih... kita 'ketemu' di qlapa.com saja yaa. ;)

Sunday, September 24, 2017

Belajar Masak

Aku tidak pandai memasak. Bahkan boleh dibilang tidak bisa memasak. Nyaris tak ada resep yang kuhapal di luar kepala. Biasanya aku mengandalkan contekan ke buku resep, atau praktisnya sih pakai bumbu instan yang sekarang banyak tersedia di pasaran. Tapi kadang-kadang, memasak dari nol itu jadi tantangan tersendiri lho (selain rasa bumbu instan yang seringkali memang terlalu 'pabrikan'). 
Well... it's never too late to start. 
Aku pun mengecek resep-resep di web kumpulan resep, hasil googling yang membawaku mendarat di web cookpad. Banyak referensi resep yang beda-beda walaupun nama masakannya sama. Okelah, tinggal kita pilih saja sesuai selera. 
Beberapa resep sudah kucoba. Senang juga ketika berhasil memasak suatu masakan dengan rasa yang tidak mengecewakan. Beberapa kali kubawa hasil masakanku sebagai bekal makan siang. Lumayan juga kan untuk memangkas pos pengeluaran, daripada ikut catering terus-terusan.
Sedikit bahas tentang cookpad ah. Web ini berisi beragam resep yang disuplai oleh para penyuka masak-memasak untuk berbagi resep andalannya. Setelah search satu nama masakan, biasanya resep contekan berderet minta dilirik. Aku sih cek 4 atau 5 resep sebelum memutuskan untuk memasak dengan panduan resep terpilih. Beberapa resep yang tampak menggoda (selain fotonya yang juga bikin mulut nganga), kutandai di 'cookmark', supaya sewaktu-waktu bisa kukunjungi lagi saat aku perlu.
Setelah berhasil masak sesuai resep (atau kadang dimodif sedikit...), seru juga sih untuk membagikan hasil re-cook di halaman resep yang kucontek. Sebetulnya, kebahagiaannya terletak pada kepuasan setelah berhasil mengeksekusi bahan masakan sesuai resep. Ketika hasil masakan kubagi ulang (walaupun hanya berupa foto siih) dengan cukup percaya diri, itu ternyata menyenangkan. 
Ini cuma sebagian resep masakan rumahan yang sudah kucoba re-cook. Bukan suatu prestasi besar yang layak dibanggakan juga sih sebetulnya, cuma sekedar ingin curhat belaka. Ketika memasak bukan suatu kecintaan, maka sukses-sukses kecil begini terasa bermakna.
Sesekali aku berpikir jauh ke masa silam. Ketika aku kecil, sebetulnya cukup sering diajak ibu turun ke dapur untuk bantu-bantu, tapi minatku bukan di bidang masak-memasak. Aku suka ikut ibu pergi belanja ke pasar. Melihat interaksi antara pedagang dan pembeli, itu jadi sebuah pengalaman pembelajaran juga. Tapi urusan masak-memasak? Ahaha... Malesin ah. Tapi mengingat masak dan menyiapkan makanan itu esensial, jadi ya belajar juga deh sekarang. Nyontek juga nggak apa ya, toh nggak akan dinilai juga :p

Saturday, May 27, 2017

Kolak... Panas Atau Dingin?

Mengenang masa kecil dulu, ibu sering menyiapkan beragam jenis kolak sebagai hidangan berbuka. Yang paling sering sih kolak pisang rasanya. Kadang ditambahi kolang kaling atau tape ketan, bisa juga dengan variasi ubi manis atau singkong. Sesekali ibu masak kolak labu kuning juga siih, tapi mungkin karena kurang peminat, jadi jarang-jarang juga jenis kolak ini terhidang di meja makan saat buka puasa tiba. 
Kali ini aku tergoda melihat pisang di tukang sayur langganan. Setelah merayu si mamang untuk mengizinkanku membeli setengah sisir saja, kubawa pulang keranjang belanja yang sudah sarat dengan bahan makanan persiapan untuk Ramadhan kali ini.
Sebetulnya, sebagai lajangster, aku jarang-jarang juga masak. Sesukanya dan sesempatnya saja. Tapi memang di bulan Ramadhan biasanya aku jadi rutin masak, baik untuk penganan berbuka, apalagi untuk makan sahur. Kali ini, kolak pisang jadi menu perdana untuk takjil buka puasa di Ramadhan tahun ini.
Setelah sempat galau untuk mengolah pisang, antara menggorengnya atau dibuat kolak, akhirnya kuputuskan untuk membuat kolak saja. Itung-itung nostalgia saat ibu masih ada. Kali ini menu untuk sendiri, tak perlu banyak-banyak tentunya, Mau masak sebuah pisang saja (jadi 4 potong) untuk kumakan sendiri kok rasanya tanggung yaa... akhirnya agak-agak maruk, kukupas 3 buah pisang untuk kujadikan kolak. Tak habis untuk sesi berbuka kali ini, kusimpan sebagiannya untuk jadi cemilan saat sahur nanti.
Menikmati hidangan puasa
Bersyukur atas rezeki-Nya
Kolak dingin sisa berbuka
Dinikmati dengan suka cita
(Aku sih memang lebih suka kolak dingin. Kalau kamu?)

Sunday, April 16, 2017

Banana Cupcake

Long week end begini, bikin mood untuk ke mana-mana jadi menguap. Kabarnya, Bandung penuh!!! Jarak Jakarta-Bandung dijalani dengan waktu tempuh membengkak hingga berjam-jam. Itu kabarnya... dari status teman-teman yang saling berkabar di media sosial. Maka tanpa menyesal, kulewatkan akhir pekan di rumah saja, mengurusi rumah dan kebun yang nggak seberapa besar. Berasa home sweet home banget. 
Merasa sebagai orang rumahan (padahal nggak ada budget buat jalan-jalan), kuhabiskan waktu di seputar dalam rumah saja. Salah satu aktivitas yang kusukai akhir-akhir ini adalah memanggang kue. Kabarnya, memanggang kue bisa menghilangkan stress lho. Cobain yaa... 
Kali ini aku manggang Banana Cup Cake lagi. Sengaja beli pisang kelewat matang di supermarket supaya dapat harga miring plus bisa langsung diolah. Sekalian kubagikan resepnya di sini ya. Sedikit modif dari resep contekan dari cookpad nih.
Bahan-bahan:
Adonan kering:
250 gram tepung terigu
200 gram gula pasir
2 sdt baking powder
1 sdt soda kue
1/2 sdt garam
Adonan basah:
3 buah pisang ambon (yang sudah sangat matang)
2 butir telur, kocok lepas
115 ml susu cair full cream
115 ml minyak sayur
1 sdt perasan air jeruk nipis atau jeruk lemon
1 sdt vanilla ekstrak
Tambahan:
Selai cokelat untuk isian atau cheese spread untuk hiasan.
Cara Membuat:
1. Campurkan adonan kering dalam sebuah wadah. Aduk rata, lalu sisihkan.
2. Lumatkan pisang dengan garpu, tambahkan telur kocok, susu, minyak sayur, air perasan jeruk dan ekstrak vanilla. Aduk hingga semuanya tercampur rata.
3. Tuang adonan basah ke dalam wadah berisi adonan kering. Aduk kembali hingga adonan tercampur rata.
4. Siapkan wadah/cetakan cupcake, tuang adonan satu persatu. Panggang dengan api sedang hingga berwarna kuning kecoklatan. Cek kematangan kue dengan menusuknya dengan lidi. Jika adonan tak lagi menempel di lidi, itu menandakan kue sudah matang.
5. Lepaskan dari cetakan. Kue siap dihidangkan.

NOTE
Aku sisipkan langkah ke-4.a. Tuang 2 sendok adonan ke cetakan cupcake. Tambahkan setengah sendok (boleh lebih) selai cokelat, lalu tutup lagi dengan adonan kue hingga 7/8 penuh. Setelah itu panggang kue hingga matang. Ini jadi lava cake ala ala gitu... Pas digigit, cokelatnya lumerrr. Yumm, enak nggak siih...?
Atau tahap terakhir kalau nggak pakai selai cokelat di dalamnya, oles/tambahkan cheese spread di bagian atas kuenya. Lengkap sudah kenikmatan sarapan pagi di long week end ini. Selamat sarapan, semua...

Sunday, October 30, 2016

Pilih-pilih Mobil Anak Muda

Menyesap kopi creamy pagi ini, sambil orat-oret menuliskan rencana kecil yang kadang leading menuju sesuatu yang besar, aku teringat percakapanku dengan salah satu keponakanku beberapa waktu yang lalu. Dia sedang semangat-semangatnya menikmati masa awal kuliahnya. Makin banyak saja kesibukannya tapi dia nikmati setiap momennya. Besar mimpinya, banyak rencananya. Aku ikut bangga padanya, anak muda yang gagah dan sehat, pandai bergaul dan pandai menjaga diri. Tapi terkadang tantenya ini ikut khawatir dengan kondisinya saat di luar. Apa kabarnya saat dia terpaksa pulang malam seusai kuliah dan mengerjakan tugas di rumah kawan, misalnya. Membelah lalu lintas Bandung yang makin padat saja terutama di akhir pekan, menepis asap dan debu atau menembus hujan, selain ancaman begal yang makin menggila. Iih... na’udzubillah. 
Teringat moment beberapa waktu lalu, saat aku menembus hujan dan membelah lalu lintas Bandung di akhir pekan yang padat untuk bergabung dengan komunitas blogger Bandung dan menyimak pembahasan tentang mobil untuk anak muda bersama Sales Supervisor Auto2000 cabang Soekarno Hatta, Bandung, Pak Deni Rohmat. Hadir juga Pak Irwan Nufiandy sebagai Head of Marketing mobil123.com beserta Pak Indra Prabowo yang menjabat Managing Editor di mobil123.com. Jadi keidean untuk ngajuin proposal untuk beli mobil buat si kakak. Psst, yang beli mah biar babenya aja dong. Tantenya cuma ngajuin proposal ;)
Dia ini termasuk generasi Z yang lahir pasca tahun 1995, dengan kecenderungan berinteraksi secara digital. Terbiasa dengan berbagai aktivitas secara bersamaan atau dikenal juga dengan multi-tasking, dan menginginkan segala sesuatu serba cepat cenderung instan. Mereka juga akrab dengan teknologi informasi dan cenderung aktif di jejaring sosial. Gaya hidup mereka bergerak dinamis dengan nilai-nilai praktis. Mereka perlu alat transportasi yang tepat untuk mendukung aktivitas mereka. Saat ini, kakak biasa mengendarai motor di keseharian, tapi tampaknya dia perlu mengubah moda transportasi jadi kendaraan yang lebih aman dan nyaman.
Sebagai generasi Z, dia nggak Z-Z amat sih, sebetulnya. Dia masih suka berinteraksi secara langsung dengan teman-temannya, bahkan akun media sosialnya relatif inaktif. Dia lebih sering menggunakan koneksi internet untuk berselancar di dunia maya, mencari berita dan info yang mendukung kegiatannya di kampus. Kusarankan dia untuk mencari info mengenai mobil incarannya via web mobil123.com
Sebagai portal otomotif, mobil123 tidak berjualan mobil, melainkan lebih sebagai perantara untuk memfasilitasi penjual dan pembeli untuk bertemu di pasar yang tepat. Kendaraan yang ditawarkan via mobil123 terjamin kondisinya karena rata-rata penjual terverifikasi dengan data yang akurat. Kelengkapan dokumen kendaraan, kondisi fisik mobil hingga riwayat servis terdata, sehingga tidak ada sejarahnya pembeli kena tipu penjual abal-abal.
Sedikit tips buat calon pembeli mobil second nih... 
  • Selalu cek kondisi fisik kendaraan yang ditaksir. Pastikan mobil dalam kondisi prima, baik body maupun mesinnya. Jangan sampai terjebak membeli mobil yang tampak cantik tapi ternyata mesinnya burik gara-gara sempat jadi korban banjir, misalnya. Lihat dari kaca dari lampu depannya. Jika ada noda embun di dalamnya, boleh curiga bahwa itu mobil korban banjir. 
  • Cek pula kelengkapan surat-surat kendaraan. Pastikan mobil tidak dalam kondisi tergadai atau masih dalam proses sengketa atau kredit macet. Jangan sampai kejeblos perkara dengan polisi gara-gara mobil yang diincar ternyata adalah mobil curian yang didaur-ulang. Untuk lebih meningkatkan kewaspadaan, jika memungkinkan, periksa juga riwayat mobil dan pemiliknya. Siapa tahu mobil pernah dipakai tindak kejahatam, mulai perampokan sampai pembunuhan. Hiyy... ngerri nggak sih?
Narasumber di Blogger gathering
Khusus untuk mobil-mobil keluaran toyota, bisa dicek rekam jejaknya di Auto2000 dengan mengecek nomor rangka. Kalau mobil itu rajin service rutin di Auto2000, tentu sejarahnya bisa terlacak. Tapi kalau masih ragu, ya silakan lakukan general check di bengkel terpercaya untuk memastikan bahwa kendaraan yang akan dibeli ada dalam kondisi prima. Itu sedikit kesimpulan yang kudapat dari pemaparan 3 narasumber di acara blogger gathering hari Jumat sore lalu.
Ketika kutanya kakak tentang mobil idamannya, dengan mata berbinar dan senyum penuh harap, dia bertutur bahwa impiannya adalah sebuah mobil klasik yang tidak diproduksi lagi. Atuhlah, kakak... mobil collectible gitu mah urusan babeh-babeh kali. Kalau mobil anak muda, beda kelas, kali...
Ketika bicara pilih-pilih mobil baru, tentu beda lagi ceritanya. Mobil baru bisa dipastikan kualitasnya dalam kondisi prima, tapi ada baiknya juga test drive untuk membiasakan dengan setelan rem, kopling dan gas. Keuntungan lain memilih mobil baru adalah zero maintenance di tahun-tahun awal, selain cek berkala yang belum memerlukan biaya tinggi. Tentu saja benefit ini berbanding lurus dengan biaya yang dikeluarkan untuk membawa mobil gres ini ke garasi kita. Tapi dengan uang muka 12-15 jutaan, kita sudah bisa kok membawa pulang satu unit mobil gres toyota. 
Ragam fitur All New Sienta
Toyota punya sederet produk terpercaya yang bisa dipilih. Sebutlah Agya yang dibandrol di harga seratus jutaan, ini bisa jadi pilihan city car yang ramah buat siapa saja. Desainnya yang simpel dengan dimensi yang relatif kecil cukup lincah untuk membelah lalu lintas kota. Kalau naik sedikit spec-nya, bisa pilih Toyota Sienta yang fiturnya sudah sangat kekinian. Desainnya cantik dengan konsep androgin yang fit untuk laki-laki maupun perempuan. Tersedia dalam banyak pilihan warna yang bisa disesuaikan dengan selera. Gadget dapat terkoneksi dengan mudah dan bisa langsung terhubung ke dashboard dengan layar sentuh. Fitur keamanan canggih, lengkap dengan sistem suspensi yang nyaman, anti-lock brake sistem, dilengkapi double air bag dan beberapa fitur keamanan tambahan untuk tipe tertentu. Kabin cukup luas, cukup untuk menampung serombongan anak muda dan membawa serta segala kebutuhan mereka di dalam bagasi. Mobil ini pun ideal sebagai kendaraan keluarga muda. Toyota masih punya banyak opsi kendaraan impian yang dapat dipilih. Demikian paparan Pak Deni Rohmat selaku Sales Supervisor Auto2000 cabang Soekarno Hatta, Bandung di acara blogger gathering yang kuhadiri tempo hari.
Blogger Bandung di acara Gathering bersama Mobil123
Acara seru di hari Jumat itu sungguh bermutu karena aku bisa dapat banyak ilmu. Jadi bahan referensi untuk bahan 'proposal' keponakanku ketika berminat untuk cari mobil untuk anak muda seperti dia. Bagaimana dengan aku? Hmm... sesekali nebeng di mobilnya, boleh kali... biar berasa anak muda lagi ;) 

Sunday, October 23, 2016

Trik Hemat Ngebolang di Negeri Orang

Mengenang saat jalan-jalan di Osaka kouen
Lihat dinamika timeline teman-teman di medsos, terlihat ramai dengan aktivitas jalan-jalan saat liburan ataupun meliburkan diri. Jadi pengen liburan atuhlaah... Sudah bertahun-tahun rasanya aku tidak melakukan perjalanan liburan. 
Sementara ini aku sedang berkutat dengan jadwal dan budget yang ketat, jadi agak susah untuk merencanakan getaway, padahal pengen banget jalan-jalan ke Bali gitu... Orang Indonesia tapi belum pernah nginjak Bali? Ya aku ini. 
Jadi ingat bertahun lalu ketika aku batal berkunjung ke Hiroshima gara-gara kurang perencanaan. Masih menyimpan mimpi deh, berkunjung ke kota bersejarah terkait kemerdekaan negara kita ini. Catatkan di dream book!
Nah sementara ini, ketika aku belum bisa pergi liburan, ya minimal nghayal atau nostalgia dulu, mengingat masa silam, saat sempat curi-curi waktu untuk 'ngebolang' di negeri orang. Ini catatan #TravelingHemat ketika dulu sempat menjalani masa kuliah di program nongelar di Jepang selama setahun setengah. Pastilah ada masanya cari kesempatan untuk menjelajah negeri Sakura di masa-masa liburan. Tips dan trik di masa silam ini, rasanya masih bisa diaplikasikan di masa kini atau beberapa waktu ke depan.
Rencana
Untuk sukses traveling, pasti perlu rencana dong. Pastikan jadwal kegiatan tidak bertabrakan dengan jadwal lain. Harus tahu prioritas, mana yang perlu didahulukan. Jangan sampai bolos-bolos ke kampus atau gagal ketemu dosen gara-gara lagi jalan ke tempat yang jauh. Selain cari waktu luang, juga cari waktu yang tepat supaya dapat harga terbaik untuk sesi perjalanan paling baik. Sedapat mungkin, hindari peak season yang bisa menyedot budget lebih besar dibanding low season. Tapi di waktu-waktu tertentu, di Jepang justru tersedia tiket kereta murah meriah yang dikenal dengan juhachi kippu. Tiket kereta ini dijual dalam paket seharga 11.850 yen untuk pemakaian selama 5 hari ke mana saja selama memakai layanan kereta biasa di jalur Japan Railways. Bisa juga dipakai oleh 5 orang secara bersamaan untuk sehari jalan. Sangat menghemat, selama kita tahu jadwal kereta tujuan kita.
Tiket ini hanya tersedia di 3 waktu dalam setahun, tepat di saat masa liburan sekolah, seperti ditunjukkan dalam tabel berikut. Jadi, manfaatkan waktu terbaik untuk bepergian dengan mengoptimalkan budget.
Transportasi 
Moda transportasi tentu jadi pertimbangan saat jalan-jalan. Pilih jalan darat, laut atau udara? Mau cepat atau mau santai sambil menikmati pemandangan di sepanjang perjalanan? Terkait juga dengan (lagi-lagi) budget. Soal juhachi kippu di atas adalah salah satu opsi untuk perjalanan darat yang cukup nyaman. Kereta malam bisa diperhitungkan sebagai alternatif akododasi sekalian menghemat biaya penginapan saat perjalanan jauh. 
Selain kereta, bermobil bersama beberapa teman juga bisa jadi pilihan. Nyetir bisa gantian dan uang bensin dibagi rata. Sempat juga aku berkendara dari Gunma ke area Gunung Fuji yang jaraknya lumayan jauh dan gantian nyetir sebagai sopir cadangan. Jadi pengalaman seru saat traveling bareng teman-teman.
Naik feri menuju pulau Kyushu
Sementara itu, moda transportasi bus pun bisa jadi andalan. Reservasi bisa dilakukan per telepon atau online dan kita tinggal datang ke pool bus lalu duduk nyaman di dalamnya tanpa pusing dengan urusan ganti jalur kereta sesuai jadwal. Untuk rute yang lebih jauh, kita bisa pilih pesawat terbang atau kapal feri. Pengalaman naik kapal feri dan sempat diserang mabuk laut lumayan aja deh buat cerita. Males banget kalau mesti mengalami lagi. 
Aku sempat tinggal beberapa hari di area Hokkaido dan menyewa sepeda seharian untuk eksplorasi kota. Enaknya pakai sepeda adalah kita tidak perlu terikat jadwal. Buat yang pengen bebas pergi dan pulang kapan saja, sepeda pas banget dijadikan pilihan. 
Akomodasi
Saat traveling ke beberapa tempat di Jepang, beberapa jenis penginapan sudah 'kucicipi'. Hotel besar dengan layanan lengkap hanya 'kupilih' ketika termasuk paket liburan yang dikelola universitas bareng teman-teman kampus. Tak jarang aku memilih penginapan kecil khas Jepang atau youth hostel. Fasilitas lumayanlah kalau hanya untuk tempat istirahat saja, tapi ada 'cerita lucu' di sana. Ketika menginap di area Kyoto, aku sempat shock ketika lihat fasilitas tempat mandi umum. Asli, terbuka buat publik. Triknya: aku curi-curi waktu mandi di dini hari, sebelum orang-orang bangun. Kalau nggak, siap-siap deh mandi bersama di open space onsen. Kalo ada yang berani tebal muka mandi bareng dengan budaya cuma nutup area paling pribadi pake handuk kecil, sok aja. Saya sih tidaaak. Mandi pake deg-degan, takut ada yang tahu-tahu masuk ke kamar mandi umum dan memergoki aku... Oh nooo. 
Di masa liburan musim semi pertamaku di sana, aku sempat ikut program homestay selama 2 minggu. Ini jadi pengalaman seru, karena kita ditempatkan di rumah penduduk setempat dan terlibat langsung dalam irama kerja mereka di sana. Saat itu aku tinggal di rumah keluarga petani dan ikut bantu-bantu pekerjaan di sana. Menyiangi tanaman tomat, menanam dan mengepak piman (semacam paprika), juga menanam padi yang bahkan di Indonesia saja aku belum pernah mengalami. Cuma satu yang sempat jadi kekhawatiranku, yaitu adanya anjing ramah yang diaku sebagai anggota keluarga oleh mereka. Aku kan agak-agak phobia sama anjing, jadi ketika anjing ini menggonggong ramah untuk menyambutku, aku yang jadi panik dan pengen kaburrr :(
Berfoto bersama okaa-san di sela-sela kesibukan menyiangi tanaman Tomat
Konsumsi
Sebagai muslim, aku mesti sangat hati-hati memilih makanan. Salah satu jenis makanan yang relatif aman untuk dikonsumsi adalah tempura karena biasanya gegorengan ini hanya terdiri dari sayuran dan seafood. Pilihan lain adalah onigiri/roti kepal berbalut nori dengan beragam isi. Pilihan isinya tersedia cukup banyak, tinggal pilih sesuai selera, mudah pula menemukan toko-toko yang menjual onigiri. 
Saat traveling, praktis juga lho membeli bentou di kombini atau berbagai mini market yang tersebar di seantero Jepang. Tinggal pinter-pinternya kita memilih yang paling sesuai dengan selera dan (lagi-lagi) dompet. Kalau mau dapat harga miring, pantengin aja rak bentou selepas jam 9 malam. Kalau masih ada stok sisa, biasanya itu dijual dengan harga miring. Masih sangat layak makan kok karena biasanya disimpan di rak berpendingin.
Saat sarapan di salah satu youth hostel di area Hokkaido
Jika kita menginap di youth hostel, kadang kita dapat layanan sarapan atau bisa juga memanfaatkan dapur untuk memasak sendiri. Yang perlu diingat: tidak ada warung tegal atau gerai nasi padang di Jepang, jadi nggak bisa sembarangan jalan lalu berharap bakalan nemu warung tegal atau nasi padang saat kepergok lapar. Mesin bentou cukup banyak juga sih di Jepang, tapi harganya relatif mahal. Aku sih milih kekepin dompet deh... 
Souvenir a.k.a. Oleh-oleh
Kantong bertulisan Hiragana dari Hyaku-en Shop
Pengeluaran untuk pos yang satu ini kadang jadi overbudget. Seringkali gara-gara 'lapar mata' aja, lihat yang lucu di sana-sini dan jadi ingat orang-orang tersayang untuk dihadiahi. Mengingat masa tinggalku yang cukup lama di Jepang, biasanya aku membeli souvenir dalam jumlah kecil di tempat yang berbeda. Dengan mencicil beli beberapa item di sana-sini, pengeluaran untuk oleh-oleh tak terasa (terlalu) berat. Di momen-momen terakhirku di sana, aku memborong beberapa barang khas Jepang dari Daiso atau hyaku-en shop. Murah meriah, tetap berkualitas dan punya ciri khas. 
Tapi souvenir khas Hisroshima belum kupunya. Jadi pengen pergi ke sana, seperti aku juga pengen liburan ke Bali. Nginap di jejaring hotel Zen Rooms, bisa cukup hemat tampaknya. Sayang, Zen Rooms belum merambah Jepang, padahal Zen Rooms sudah punya reputasi baik sebagai jaringan hotel berkualitas yang berpartner dengan hotel-hotel budget terbaik di seluruh Indonesia maupun mancanegara seperti Singapura, Thailand, Filiphina, Srilanka hingga Brazil.  Hotel-hotel yang berada di bawah naungan Zen Rooms memiliki standar kualitas dan kebersihan yang tinggi. Jadi mau juga kan nginap di salah satu jaringan hotel Zen Rooms. Nah... kembali ke poin pertama yang kutulis di atas, aku mesti tulis rencana liburan dulu kali ya. Setelah itu, siap-siap Bali, aku datang...