Dari Ajang Blogshop Kompasiana

on Monday, December 19, 2011

Pagi…! Ahad, 19 Desember kemarin adalah hari penting, soalnya ada event Blogshop Kompasiana yang sudah dijadwalkan untuk kuikuti. Sudah daftar jauh-jauh hari, 'berjuang' dapat kursi gratisan, mesti kuperjuangkan juga untuk berangkat dan ikut berpartisipasi. Mari...! 
Sok santai dulu ah di rumah, bikin puding roti panas, sambil nunggu jam 9 sebelum aku berangkat. Sambil nunggu panggangan di oven berangsur matang, kusempatkan juga untuk menulis satu posting-an baru untuk Kompasiana. Update di dunia maya sebelum setor muka di dunia nyata (penting banget ya? :p)
Bertabrakan dengan satu jadwal lain, acaranya big OOM d'BC Network yang digelar di Gedung Wahana Bakti Pos, kudahulukan acara blogshop ini. Ketemuan dengan teman-teman yang biasa ketemuan di dunia maya, bakalan seru kali. Tapi yang terjadi ternyata nggak seperti yang kubayangkan. Setelah kumpul bareng di Green Cafe, ternyata kita asyik sendiri di depan komputer masing-masing. Bikin tulisan terbaru untuk di-posting di Kompasiana, atau sekedar update status di facebook atau twitter. Ah... itu juga yang terjadi denganku :p Ramai saling berkomentar untuk tulisan yang kita posting di Kompasiana, rasanya kok ya lebih seru dilakukan di dunia maya. 
Kupandang sekitar, rasanya ada-lah beberapa wajah yang kukenal, duduk di seberang meja, berseberangan, jauh dan dekat. Jeprat-jepret flash kamera juga tak lagi kupedulikan. Wah, mestinya sadar kamera dan pasang pose terbaik. Siapa tahu ada yang mengunggah foto itu ke dalam blog-nya. Eh, ada lho, satu-dua ;) Cek dulu, fotoku di situ, bagus nggak tuh...? ;)
Memangnya seberapa penting sih sebuah foto? Bukan cuma ajang narsis kan ya? Apalagi kalau yang mempublikasikannya bukan diri sendiri. Foto mestinya jadi pelengkap sebuah cerita atau berita. Hey… yang ini rasanya tidak diulas di paparan pembicara pertama ataupun kedua di acara Blogshop Kompasiana hari ini. Salah satu admin Kompasiana yang mengisi materi di sesi kedua, mas Iskandarjet, mengulas lebih banyak serba-serbi mengatasi hambatan menulis, nggak mengulas tentang foto sebagai pelengkap tulisan. Nah, di sini kusertakan sesi foto bersama usai event tersebut. Bukan foto narsis, karena aku nggak ada di foto ini. Kan aku fotografernya ;)

Hujan Rintik... Peureus...

on Tuesday, September 20, 2011

Bertahun lalu, hujan deras serupa badai memporak-porandakan hati. Tahun ini, tinggal hujan rintik-rintik bersisa pasca Ramadhan kali ini. Butirannya yang kecil tajam tak lagi terasa menyakiti, walaupun tetap membuat kuyup hati. 
Masalah (yang kurasa besar) kali ini membuatku kembali menghadapkan wajahku kepada Ilahi (tuh ya… kalau lagi ada masalah, Allah didekati, di-curhat-i. Malu hati atuh, tapi… kepada siapa lagi aku menyembah, dan kepada siapa lagi aku memohon pertolongan, jika tidak kepada-Nya?). Kuadukan masalahku kepada-Nya saja, dalam sujud panjang di penghujung malam sunyi atau subuh dini hari, atau bahkan sesekali dari belakang kemudi dalam kendaraan yang sepi. 
Tak bisa cerita pada siapa-siapa lagi. Maka ya Allah… hanya kepada-Mu sajalah hamba berserah diri. Semoga aku masih kuat saja menjalani. Amiin. Update status Mak Aty, tanteku, di dinding facebook-nya membuatku kuat lagi. Diingatkan lagi, bahwa selalu ada Allah tempat berserah diri. 
Jika SENDIRI janganlah merasa sepi, ada ALLAH yang sedang mengawasi. Jika SEDIH janganlah dipendam di hati, ada ALLAH tempat berbagi. Jika SUSAH janganlah merasa pilu, ada ALLAH tempat mengadu. Jika GAGAL jangan berputus asa, ada ALLAH tempat meminta. Jika BAHAGIA janganlah menjadi lupa, ada ALLAH tempat memuja
Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Aku yakini itu. Aku tegar. Aku kuat. Aku sanggup menjalani semua ini. Seberapapun beratnya, karena Allah akan selalu ada untuk memberi dukungan. Insya Allah.

Waspada Dengan Polanya

on Saturday, September 10, 2011

Berulang dua tahun sekali.
Jelang Ramadhan atau pada saat Ramadhan.
Tersedia dalam paket berisi empat.
Berarti harus siap-siap di 2013.
Yosh...!
Tapi dengan catatan: kalau masih ada umur :)

Idul Fitri Tahun Ini

on Wednesday, August 31, 2011

Berkumpul dengan ketiga kakak dan lima keponakan. Ramadhan tahun ini tetap berkesan. Diwarnai dengan insiden 1 Syawal yang berlainan tanggal masehi, kita tergagap-gagap di pagi fitri. Tapi lumayan, jadi ada bahan tulisan buat diposting di kompasiana (lagi keranjingan nulis di sana ;))
Teh Trini datang jelang siang. Ngobrol sebentaran, foto-foto, lalu pergi lagi. Dan inilah foto memori moment idul fitri tahun ini. Idul fitri kedua setelah ibu tiada. Beda, pastinya...
ki-ka (depan): Panji, tante Dee, bude, bunda Trini, adik Rizki, mbak Layla, kakak Tasya. Belakang: tante Rani, Adam,  dan ayah Lulu sebagai fotografer.

Sambut Syawal Fitri

on Monday, August 29, 2011

Di penghujung Ramadhan, jelang Syawal... Kusadari betapa masih banyak amalan yang belum dijalani dengan sempurna, walaupun kutahu betul, bahwa sempurna itu hanya milik-Nya saja.
Sambut Syawal yang menjanjikan fitri... Merenung kupertanyakan kelayakan diri untuk kembali suci, rasanya masih jauh panggang dari api.
Mohon maafkan lahir dan batin, atas semua salah dan khilaf. Semoga Allah SWT menerima amal ibadah shaum kita, dan mempertemukan kita kembali dengan Ramadhan tahun depan, untuk melakukan yang terbaik dalam upaya meraih ridho-Nya. Amiin.

Renungan Ramadhan

on Sunday, August 21, 2011

Nyontek dari kiriman e-mail seorang teman, yang mengutip tulisan ini dari blog-nya mas yuliarso di multiply. Jadi pengingat untuk kita agar dapat menjalani hari-hari Ramadhan ini dengan amal terbaik. Insya Allah. Menangis jika perlu, karena telah menjalani lebih dari separuh Ramadhan tahun ini.
Menangislah,
Jika itu bisa melapangkan gundah yang mengganjal sanubarimu. Bahwa Ramadhan sudah bergegas di akhir hitungan. Dan tadarus quranpun tak juga beranjak pada Khatam. Jika itu adalah ungkapan penyesalanmu. jika itu merupakan awal tekadmu untuk menyempurnakan tarawih dan qiyamul lailmu yang centang perenang (ah, pasti kamu masih ingat obrolan tadi siang ketika dengan senyum manisnya teman ruanganmu berucap, "alhamdulillah tarawihku belum bolong." dan kamu merasa ada malaikat yang menjauh darimu dan pindah padanya. Kamu merasa sendiri, terasing.)
Menangislah,
Biar butir bening itu jadi saksi di yaumil akhir. Bahwa ada satu hamba Allah yang bodoh, lalai, sombong lagi terlena. Yang katanya berdoa sejak dua bulan sebelum ramadhan, yang katanya berlatih puasa semenjak rajab, yang katanya rajin mengikuti taklim tarhib ramadhan, tapi..., tapi .... sampai puasa hari ini masih juga menggunjingkan kekhilafan teman ruanganmu, masih juga tak bisa menahan ucapan dari kesia-siaan, tak juga menambah ibadah sunnah... Bahkan hampir terlewat menunaikan yang wajib.
Menangislah, lebih keras...
Allah tak menjanjikan apa-apa untuk Ramadhan tahun depan, apakah kamu masih disertakan, sedangkan Ramadhan sekarang cuma tersisa beberapa hari. Tak ada yang dapat menjamin usiamu sampai untuk Ramadhan besok, sedang Ramadhan ini tersia-siakan. Menangislah untuk Ramadhan yang kan hilang, bersama nostalgia yang terus tumbuh bersama usiamu. Setengah sadar menatap hidangan saat sahur, kolak-es buah yang tersaji saat berbuka, menyusuri gang sempit saat tadarus keliling, petasan dan kembang api yang disulut usai subuh. Ramadhan yang selalu membuka ingatan masa kecilmu dan terus terulang mengisi tahun-tahun kedewasaan...
Menangislah,
Untuk dosa-dosa yang belum juga diampuni, tapi kamu masih juga menambahi dengan dosa baru. Berapa kali kamu sholat taubat, tetapi tak lama kemudian ada saja kelalaian yang kamu buat? Kamu bilang tak sengaja? Tapi mengapa berulang dan tak juga kamu mengambil pelajaran? Syarat taubatan nasuha adalah bertekad tidak mengulanginya lagi dan bukannya bertobat sambil berucap 'kalau kejadian lagi, yaa taubat lagi'...
Menangislah.
Dan tuntaskan semuanya di sini, malam ini. Karena besok waktu akan bergerak makin cepat, Ramadhan semakin berlari. Tahu-tahu sudah sepuluh hari terakhir dan kamu belum bersiap untuk itikaf. Dan lembar-lembar quran menunggu untuk dikhatamkan. Dan keping-lembar mata uang menunggu disalurkan. Dan malam menunggu dihiasi sholat tambahan.
Sekarang, atau (mungkin) tidak (ada lagi) sama sekali..

Silaturahim Ramadhan

on Saturday, August 20, 2011

Setelah mengunjungi keponakanku, Adam, di pesantren, aku sempatkan untuk mampir bersilaturahim ke rumah seorang teman. Karib yang lama tak bersua. Kangen rasanya, bu Tika...
Karena aku datang ke sana setelah berbuka, diajak makanlah oleh mereka. Jadi nggak enak hati rasanya. Niat bertandang kok kesannya jadi numpang makan. Sebetulnya hari itu aku nggak puasa. Tapi karena tuan rumah mau makan, dan terkesan nggak akan makan kalau aku nggak ikut, ya akhirnya hayulah. Permisi... numpang makan. :) 
Berbincang panjang, dengan ibu dan putri kecilnya, sementara sang suami pergi ke masjid untuk shalat tarawih. Si kecil neng Tami cantik yang awalnya malu-malu (bukan takut kan ya...?) belakangan jadi akrab dan mau main bersama. Sebelum pulang, foto-foto dulu yuk...! Untuk mengabadikan momen indah silaturahim Ramadhan kali ini.