Showing posts with label kisah. Show all posts
Showing posts with label kisah. Show all posts

Tuesday, March 17, 2009

Benci karena Disinformasi

By Jalaluddin Rakhmat
Selasa, 16 Desember 2008 pukul 14:39:00
Kira-kira 40 tahun setelah Rasul Allah SAW wafat salah seorang penduduk Syam pergi ke Madinah al-Munawwarah untuk menziarahi makamnya. Di situ ia berjumpa dengan seorang penunggang kuda yang tampan dan berwibawa. Di sekitarnya berkumpul sahabat-sahabatnya, siap untuk melaksanakan segala perintahnya.
Ketika orang Syam itu diberitahu bahwa orang itu Hasan bin Ali bin Abi Thalib, bangkitlah amarahnya. Di mimbar-mimbar Jumat di Syam ia sudah sering mendengar para khatib menerangkan kejelekan keluarga Ali. ''Jadi inilah anak Abu Turab yang keluar dari Islam itu?'' kata orang Syam itu sambil menyusulnya dengan memaki Hasan, ayahnya, dan keluarganya.
Mendengar itu sahabat-sahabat Hasan menghunus pedang untuk membunuhnya. Tapi Hasan melarang mereka. Dengan ramah beliau menyapa orang Syam itu, ''Tampaknya Anda orang asing di sini, wahai Saudaraku orang Arab?''
Orang Syam menjawab, ''Benar, aku dari Syam. Aku pengikut Amirul Mukminin dan Pemimpin kaum Muslim, Muawiyyah bin Abi Sofyan.''
Hasan mendesaknya untuk menjadi tamu. Selama beberapa hari dijamunya dan dihormatinya orang Syam itu. Pada hari yang keempat orang Syam itu tampak menyesali perbuatannya. Ia merunduk dan menciumi jari-jemari Hasan. Ia memohon maaf atas apa yang dilakukannya sebelum itu.
Hasan melirik kepada sahabat-sahabatnya. ''Kemarin kalian bermaksud membunuhnya, padahal ia tak bersalah. Ia korban disinformasi. Sekiranya ia mengetahui kebenaran, ia tidak akan memusuhinya. Kebanyakan orang Islam di Syam seperti itu.''
Kemudian Hasan membaca firman Allah: ''Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah kejahatan itu dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.'' (Q. S. 41: 34)
Tidak jarang kita membenci sesama Muslim karena kita mendengar berita yang jelek mengenai dirinya. Jangan-jangan, pertengkaran di antara kita selama ini terjadi karena proses disinformasi. Marilah kita memaklumi orang yang membenci kita karena disinformasi. Balaslah makian mereka -- yang dilakukan karena ketidaktahuan -- dengan lapang dada dan keramahan. Mudah-mudahan Allah mengubah mereka menjadi sababat-sahabat kita yang setia.- ah
Ya Allah... sungguh sulit menjadi orang baik itu. Ketika orang (mungkin) benci kita karena kurangnya informasi tentang kita, ternyata memberikan informasi yang tepat juga tidak mudah, sehingga mereka pun sulit mengubah sikap mereka. Atau ketika kita kurang informasi tentang satu-dua orang, dan kita jadi benci padanya, sungguh sulit pula untuk mencari informasi yang benar tentang mereka. Berilah petunjuk agar selalu dapat menemukan informasi yang benar, dan agar dapat selalu mencinta atau membenci karena-Mu saja.

Saturday, December 06, 2008

Perangkap Tikus Di Ladang Pertanian

diambil dari www.darulbayan.com
Oleh khairilmustapha
Rabu, 10 September 2008
Seekor tikus mengintip di sebalik celah di tembok untuk mengamati sang petani dan isterinya membuka sebuah bungkusan. Ada makanan fikirnya?
Dia terkejut sekali, ternyata bungkusan itu berisi perangkap tikus. Lari kembali ke ladang pertanian itu, tikus itu menjerit memberi peringatan, "Awas, ada perangkap tikus di dalam rumah, awaslah, ada perangkap tikus di dalam rumah!"
Sang ayam dengan tenang berkokok dan sambil tetap menggaruk tanah, mengangkat kepalanya dan berkata, "Ya maafkan aku, Pak Tikus, aku tahu ini memang masalah besar bagi kamu, tapi buat aku secara peribadi tak ada masalahnya. Jadi jangan buat aku peninglah."
Tikus berbalik dan pergi menuju sang kambing, katanya, "Ada perangkap tikus di dalam rumah, sebuah perangkap tikus di rumah!"
"Wah, aku menyesal dengar khabar ini," si kambing menghibur dengan penuh simpati, "Tetapi tak ada sesuatupun yang bisa kulakukan kecuali berdoa. Yakinlah, kamu sentiasa ada dalam doa doaku!"
Tikus kemudian berbelok menuju si lembu.
"Oh? sebuah perangkap tikus, jadi saya dalam bahaya besar ya?" kata lembu itu sambil ketawa.
Jadi tikus itu kembalilah ke rumah, kepala tertunduk dan merasa begitu patah hati, kesal dan sedih, terpaksa menghadapi perangkap tikus itu sendirian.
Malam itu juga terdengar suara bergema diseluruh rumah, seperti bunyi perangkap tikus yang berjaya menangkap mangsanya. Isteri petani berlari pergi melihat apa yang terperangkap. Di dalam kegelapan itu dia tak bisa melihat bahawa yang terjebak itu adalah seekor ular berbisa. Ular itu sempat mematuk tangan isteri petani itu.
Petani itu bergegas membawanya ke hospital. Dia kembali ke rumah dengan demam. Sudah menjadi kebiasaan setiap orang akan memberikan pesakitdemam panas minum sup ayam segar, jadi petani itu pun mengambil goloknya dan pergilah dia ke belakang mencari bahan bahan untuk supnya itu.
Penyakit isterinya berlanjutan sehingga teman teman dan jiran tetangganya datang menjenguk, dari jam ke jam selalu ada saja para tamu. Petani itu pun menyembelih kambingnya untuk memberi makan para pengunjung itu.
Isteri petani itu tak kunjung sembuh. Dia mati, jadi makin banyak lagi orang orang yang datang untuk pengkebumiannya sehingga petani itu terpaksalah menyembelih lembunya agar dapat menjamu makan orang orang itu.

Moral kisah ini:
Apabila kamu dengar ada seseorang yang menghadapi masalah dan kamu fikir itu tiada kaitan dengan anda, ingatlah bahawa apabila ada 'perangkap tikus' didalam rumah, seluruh 'ladang pertanian' ikut menanggung risikonya .
Sikap mementingkan diri sendiri lebih banyak keburukan dari baiknya.

Friday, June 20, 2008

Tukang Sepatu

Hari Minggu yang lalu, seorang tukang (sol) sepatu sepatu lewat di depan rumah. Biasanya aku cuekin biarpun (sebetulnya) tertarik untuk memanggilnya. Teringat pada beberapa sepatuku yang sudah dalamkondisi 'mengenaskan', hampir tak layak untuk dipakai berjalan-jalan. (lihat posting berjudul "Sepatu Butut"). Kebetulan, aku sedang mengelap mobilku di garasi, maka sekalian kupanggil saja tukang sepatu itu untuk mangkal di teras rumah dan 'ngerjain' beberapa sepatuku.
Beberapa sepatu langsung bertaburan di hadapan pak tukang. Kupikir, dia pasti akan bekerja cukup lama, maka kusodorkan segelas air mineral padanya.
"Air bening begini biasa disebut air ustadz." komentarnya.
"Ibu tahu apa artinya air ustadz?" tanyanya kemudian.
Hm... apakah karena ustadz rata-rata diberi air bening ya? Atau... apakah dia akan segera berceramah? Dia memang memberiku beberapa pelajaran. Yang pertama, dia bilang air bening itu sebagai cerminan agar kita senantiasa menjaga hati agar tetap bening. Subhanallah... betul sekali.
Setelah bincang sana bincang sini, ibuku bilang bahwa aku adalah guru. Ada satu pelajaran lagi dari sang tukang sepatu ini. Dia bilang, jadi guru itu sudah tak ada lagi celanya ya. Ah... aku bercermin diri. Masih sangat banyak sifat jelekku yang harus kubenahi. Kubilang, tentu saja aku masih harus membenahi diri, masih harus dinasihati. Dia bilang, "Wah... kalau masih banyak yang perlu dibenahi, belum jadi guru, itu. Baru jadi pengajar. Hakikatnya, guru itu adalah yang digugu dan ditiru." Ya. Jadi renungan untukku. Sungguh, pelajaran itu bisa datang dari mana saja. Tak melulu harus di kelas. Hari itu, tukang sepatu jadi guruku.

Sunday, June 08, 2008

The 99


Kisah tentang komik Islami “The 99”, sudah kudengar sejak beberapa waktu yang lalu. Berkisah tentang superhero yang tokohnya berasal dari berbagai penjuru dunia. Kedengarannya seru. Penasaran dong... pingin tahu seperti apa ceritanya. Dalam beberapa kali kesempatan ke Depok, kusempatkan membaca beberapa edisi yang sudah terbit. Kebetulan ponakanku punya. Menarik! Memang tidak semua tokoh wanitanya berbusana muslim, tapi ceritanya membumi, walaupun tetap ada konflik dan teori konspirasi.

Dalam setiap cerita, tentu saja akan selalu ada tokoh protagonis dan antagonis. Hal inilah yang membuat cerita jadi asyik. Tokoh-tokoh di dalamnya banyak memakai nama Islami, bahkan mungkin menyarikan dari asma ul husna, seperti tokoh superhero pertama yang muncul di seri komik ini, “Noora”, dari cahaya. Ada juga Jabbar, Hadya, Raqib, Jami, dan satu tokoh baru yang muncul di edisi ke-6 (kalau nggak salah), Fattah, yang aslinya orang Padang, Indonesia. Fattah, sang pembuka, bisa berteleportasi ke bagian manapun di bumi. Wow... Idenya menarik, penggambarannya cantik, jalan ceritanya juga asyik. Ada konflik seru yang dinanti-nanti jalan keluar penyelesaiannya. Aku juga jadi ingin segera baca edisi berikutnya.

Salah Satunya... Kok Jadi Banyak.