Showing posts with label rahasia Allah. Show all posts
Showing posts with label rahasia Allah. Show all posts

Monday, March 30, 2009

Tragedi Situ Gintung

Allah kembali menunjukkan kuasa-Nya. Bahwa manusia tidak berarti apa-apa. Telah terjadi kerusakan di muka bumi disebabkan tangan-tangan manusia. Masihkan kita bisa berjalan lengang di muka bumi, membuat kerusakan di sana-sini, dan tetap bertanya-tanya, "Kenapa (semua ini terjadi)?"
Sudah selayaknya kita bahu membahu saling menolong. Bukan masanya saling menyalahkan. Selalu ada pelajaran dan hikmah yang bisa dipetik dari peristiwa yang terjadi di sekitar kita. Semoga kita masih selalu termasuk ke dalam golongan kaum yang mau berpikir. Semoga Allah SWT memberi tuntunan. Semoga hati kita dicondongkan untuk mengikuti tuntunan Allah itu. Amiin.
Beberapa kejadian jadi semacam pertanda. Mukzizat, kata orang. Bahwa ada masjid yang kokoh berdiri hanya beberapa ratus meter dari tanggul dam Situ Gintung yang bobol, sementara tempat-tempat yang beberapa kilometer jauhnya tersapu habis oleh air bah dari bendungan yang jebol itu. Bahwa ada mushaf alQuran yang bersih dan kering tak tersapu air, padahal benda-benda di sekelilingnya tak ayal diterjang air di ruangan Sekretariat Faperta UMJ. Subhanallah. Bukankah ini jadi pertanda, bahwa kita harus teguh berpegang kepada firman Allah dalam kitab suci-Nya, Al Quran al Karim? Bukankah ini jadi pertanda agar kita menyatukan hati-hati kita, memakmurkan masjid, memelihara silaturahim dan memelihara ibadah kita? Jika kita masih juga belum menemukan bayangan diri kita di cermin musibah ini, sungguh merugi kiranya kita. Semoga Allah melindungi kita. Amiin.

Saturday, November 08, 2008

Eyang Mangkat

Beberapa hari lalu, sebuah berita singkat via e-mail mengatakan bahwa eyang putri di Solo (ibu dari ayahku) tidur lama sekali. 30 jam! Tidak biasanya bukan? Beberapa waktu kemudian, update berita menyatakan bahwa eyang sudah bangun, bisa minum susu lalu tidur lagi. Lama juga. Tito, sepupuku yang dokter dan memang berdomisili di Solo, jadi dokter pribadi eyang. Dia bilang, kondisi jantung eyang baik, tapi memang pola tidurnya yang lama (sekali) sempat bikin khawatir. Update kabar di hari-hari berikutnya mengabarkan bahwa kondisi eyang kurang stabil. Sempat dipasangi sonde (selang) untuk makan dari hidungnya dan infus. Kabarnya dicurigai ada stroke. Kondisinya nggak stabil.
Usia eyang saat ini sudah 91 tahun. Sudah sepuh, memang... kondisinya memang ya... sakit tua-lah. Tante Wiwik dan tante Sri langsung berangkat ke Solo untuk menemui eyang, sementara cucu-cucunya yang tersebar di Bandung, Bogor, dan Jakarta, 'asyik-asyik' bertukar kabar via sms dan e-mail. Kita doakan yang terbaik untuk eyang. Jika memang Allah masih memanjangkan umurnya, semoga diberi sehat. Tapi jika Allah berkehendak lain, semoga eyang diberi kemudahan pada saat Dia memanggilnya.
Putra-putri eyang ada 10, dan 3 di antaranya sudah meninggal dunia mendahului ibu mereka. Menantu eyang pun, 3 orang telah mendahului beliau dipanggil ke haribaan-Nya. Selain itu, cucu eyang pun sudah 3 orang yang meninggal. Ketiganya cucu menantu. Yang lebih muda malah sudah meninggal dunia lebih dulu. Ini sungguh jadi bukti bahwa usia adalah rahasia Allah, dan hanya Dia yang berhak mengetahui, kapan saat seseorang sudah tiba.
Jumat malam, kudengar kabar eyang mangkat. Innalillaahi wa inna ilayhi raaji'uun. Semoga Allah SWT memberikan tempat terbaik sesuai dengan amal ibadah eyang. Amiin. Ibu dan kakakku memang sudah pesan tiket untuk berangkat ke Solo hari Sabtu pagi. Tak sempat melihat eyang terakhir kali selagi masih hidup, mungkin hanya sempat menziarahi makamnya. Selamat jalan, eyang.
Blogged with the Flock Browser

Salah Satunya... Kok Jadi Banyak.