Showing posts with label curhat. Show all posts
Showing posts with label curhat. Show all posts

Tuesday, September 20, 2011

Hujan Rintik... Peureus...

Bertahun lalu, hujan deras serupa badai memporak-porandakan hati. Tahun ini, tinggal hujan rintik-rintik bersisa pasca Ramadhan kali ini. Butirannya yang kecil tajam tak lagi terasa menyakiti, walaupun tetap membuat kuyup hati. 
Masalah (yang kurasa besar) kali ini membuatku kembali menghadapkan wajahku kepada Ilahi (tuh ya… kalau lagi ada masalah, Allah didekati, di-curhat-i. Malu hati atuh, tapi… kepada siapa lagi aku menyembah, dan kepada siapa lagi aku memohon pertolongan, jika tidak kepada-Nya?). Kuadukan masalahku kepada-Nya saja, dalam sujud panjang di penghujung malam sunyi atau subuh dini hari, atau bahkan sesekali dari belakang kemudi dalam kendaraan yang sepi. 
Tak bisa cerita pada siapa-siapa lagi. Maka ya Allah… hanya kepada-Mu sajalah hamba berserah diri. Semoga aku masih kuat saja menjalani. Amiin. Update status Mak Aty, tanteku, di dinding facebook-nya membuatku kuat lagi. Diingatkan lagi, bahwa selalu ada Allah tempat berserah diri. 
Jika SENDIRI janganlah merasa sepi, ada ALLAH yang sedang mengawasi. Jika SEDIH janganlah dipendam di hati, ada ALLAH tempat berbagi. Jika SUSAH janganlah merasa pilu, ada ALLAH tempat mengadu. Jika GAGAL jangan berputus asa, ada ALLAH tempat meminta. Jika BAHAGIA janganlah menjadi lupa, ada ALLAH tempat memuja
Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Aku yakini itu. Aku tegar. Aku kuat. Aku sanggup menjalani semua ini. Seberapapun beratnya, karena Allah akan selalu ada untuk memberi dukungan. Insya Allah.

Wednesday, September 16, 2009

Karma

Satu hari 'libur' sebelum masa piket di sekolah, aku bertekad untuk memanfaatkan hari Senin untuk meng-upgrade kondisi mobilku. Harus ganti oli, ganti saringan oli, dan ngecek kondisi lampu kecil (atau lampu dekat?) mobilku. Jadilah sebuah kunjungan ke bengkel mobil langganan.
Karma, kali. Beberapa waktu sebelumnya, aku suka misuh-misuh kalau ada mobil yang menyalakan lampu besar di jalanan. Silau, tahu!?! Nggak bisa nyalain lampu kecil aja gitu? Eh... nggak berapa lama kemudian, kejadian padaku sendiri. Awalnya cuma lampu yang sebelah kanan yang mati (ini juga gara-gara aku suka berkomentar pada kendaraan yang 'berkedip nggak genit' begini :p), tapi kemudian yang kiri kompakan ikut mati. Daripada gelap-gelapan, kalau pulang malam, terpaksa aku nyalakan lampu besar. Bikin silau orang lain. Maaf ya... m(_ _)m
Masih urusan mobil, aku sudah kena 'karma' sebelumnya. Sebelum ganti dengan katana yang sekarang, aku suka misuh-misuh juga (seneng banget sih? Mudah-mudahan abis ini, kapok!), terutama pada pengendara mobil yang nggak bisa mulus berputar di U-turn. Jalanan Bandung punya banyak jalur terpisah dan tentu saja di beberapa tempat tersedia U-turn untuk kendaraan yang berminat untuk berbalik arah. Nah, ketika satu kendaraan di depanku tak bisa mulus berputar, seringkali aku tak kuasa menahan komentar. Aku yang bawa Kijang, bisa lho ber-U-turn mulus dengan sekali memutar kemudi. (Astaghfirullaah al'adziim. Ampuni kesombonganku, ya Robbi...) Tapi setelah berganti Katana yang notabene lebih kecil, kok malah nggak bisa ya. Putaran kemudinya ternyata lebih pendek. Giliran aku deh yang harus ekstra hati-hati atau malah melambung dulu ketika perlu berbalik arah di U-turn tertentu. Karma.
Satu karma lagi... (Mungkin sebetulnya, kata "karma" kurang tepat, tapi kata inilah yang paling dekat penggambarannya.) Di akhir Ramadhan ini, 4 hari menjelang hari-H, aku belum terima THR. :( Mungkin karena aku sering telat datang ke sekolah kali ya, makanya THR-ku juga datangnya telat.
'Pembalasan' ini, biarlah jadi pelajaran untuk diri ini. Supaya jadi bahan renungan, agar tak lagi sembarangan berpikir, berucap dan bersikap. Semoga apa yang terjadi saat ini jadi 'balasan' kontan atas sikapku, yang hanya terjadi di dunia, nggak perlu dibayar lagi di akhirat. Tak akan tertahankan...

Wednesday, September 09, 2009

Berharap Pada Manusia

Ketika kita kecewa gara-gara berharap pada manusia, ya... salah sendiri. Kualami lagi. Seperti keledai bodoh yang jatuh ke lubang yang sama untuk kesekian kalinya, dan akhirnya menyesali diri, menyalahkan diri sendiri.
Berharap akan dapat rezeki dari orang tertentu. Halah... ngarep amat sih, kenapa harus dari dia? Kalau Allah sudah menetapkan, rezeki sebesar apapun, kalau memang jatahnya kita, tak akan terhalang oleh apapun. Mau dari dia, mau dari sini atau sana, terserah Allah saja. Bahkan jumlahnya bisa lebih besar dari yang kuharapkan. Insya Allah...
Berharap seseorang akan melakukan perbuatan tertentu untuk kita. Ah, salah sendiri kalau akhirnya aku kecewa karena orang tersebut tak kunjung melakukan apa yang kita harapkan akan dilakukannya. Ingin diramahi orang lain? Ya baiknya dimulai dari kita sendiri-lah... Yuk, ramah sama orang lain. Di sini kok kayaknya susah ya? Biar susah, bukan berarti nggak bisa kan...? よっし、がんばるぞ!
Ternyata, yang kejadian malah aku dimarah-marahin. Sayangnya, sampai merusak hubungan silaturahmi. Sayang sekali. Iya... iya... aku ikut andil kesalahan, tapi memang niat baik tak selalu dapat diterima dan disikapi dengan baik. Harapan tak sesuai dengan kenyataan. Salahku sendiri, ngapain juga ngarep-ngarep dibaikin. Dan ketika harapan tak sesuai dengan kenyataan, kalaupun kecewa, ya salah sendiri. Kenapa juga berharap pada manusia. Kecewa? Rasain aja sendiri. Kasiaan deh gue :p

Thursday, August 13, 2009

Terbiasa

Bunga Anggrek hijau-putih yang kubanggakan mulai layu. Cepat sekali. Hanya beberapa hari, dan segera kelopaknya menguning, layu dan akan segera tanggal dari tangkainya. Aku kehilangan. Keindahan itu begitu cepat berlalu. Sedang aku masih rindu.
Tapi kenapa harus mengharu-biru hanya karena itu? Toh sebelumnya dia pun tak ada di situ. Hidupku baik-baik saja sebelum dia ada. Sedikit lebih ceria saat dia ada. Tapi tak perlu berduka ketika dia harus tiada. Dari tak ada menuju tak ada. Bukankah tak ada yang berbeda? Aku pun terbiasa.

Tuesday, June 23, 2009

Ke Mana Perginya Mereka Semua...?

Ke mana perginya orang-orang baik itu...?
Ketika kuinginkan kehadirannya, mereka tampak seolah menghindar.
Sebaliknya, wajah datar tak bersahabat datang menghampiri.
Ke mana perginya orang-orang baik itu...?
Ketika kuinginkan kedatangannya, mereka tampak seolah menjauh.
Sebaliknya, wajah garang tak berperasaan datang mendekati.

Ke mana perginya wajah ramahku?
Mungkin tertinggal di sebuah persimpangan,
Menanti untuk dijemput sang bahagia.
Ke mana hilangnya senyum manisku?
Mungkin tersesat dalam peristiwa masa lalu,
menunggu untuk ditemukan sang waktu.
Ke mana rimbanya sapa ramahku?
Mungkin terkubur dalam lelah, letih dan putus asa.
Tinggal senyum palsu dan basa-basi belaka.
Rindukan semua kebaikan, keramahan dan kebahagiaan.
Tunggu aku. Kan kujemput engkau, hingga ujung usia...
Blogged with the Flock Browser

Monday, June 15, 2009

HRD Intip Facebook

'Nyontek' dari majalah Chic no. 35 edisi akhir April-awal Mei 2009, info ini bagus juga nih disimak.
Bagi Anda penggemar Facebook, terutama jika sedang melamar pekerjaan, hati-hati memasang foto dan komentar. Berdasarkan survey yang dilakukan Yasni.co,uk terhadap 961 manajer dan eksekutif sumber daya manusia di seluruh dunia, sepertiga dari mereka gemar memanfaatkan Facebook atau MySpace untuk mencari tahu seperti apa para pelamarnya itu. Sekitar 20 persen menyatakan mereka menolak karyawan berdasarkan apa yang terlihat dari kedua situs itu. Sebagian besar yang ditolak ini biasanya melihat adegan foto calon karyawan sedang mabuk atau komentar yang kasar.
Hmm... jangan hanya calon karyawan deh. Karyawan pun tampaknya harus hati-hati nih. Jangan terlalu sering ganti status Facebook, walaupun niatnya update kegiatan dari saat ke saat. Kita kerja kan nggak mesti selalu memberi tahu kepada seluruh dunia tentang apa yang sedang kita lakukan saat ini.

Friday, May 08, 2009

Jalan Berliku Menjadi Guru

Curhat-anku tentang profesi yang kujalani saat ini. Majalah Chic berkenan mempublikasikannya di edisi 6-20 Mei 2009 (setelah diedit sedikit). Kubagi juga di sini.
Sejak duduk di bangku Sekolah Dasar saya sudah bercita-cita menjadi guru. Cita-cita itu tidak direstui ibu saya. Beliau tidak mengizinkan anak-anaknya mengikuti jejak beliau sebagai pendidik. Aneh memang, padahal beliau pun seorang guru yang mengajar di sekolah menengah. Alasannya, karena profesi guru tidak menjanjikan imbalan yang sepadan dengan usaha yang dilakukan. Sejak saat itu saya berusaha mengalihkan cita-cita saya ke bidang lain walaupun masih dibayangi keraguan.
Lulus SMA, saya bingung menentukan pilihan kelanjutan studi. Akhirnya saya ‘terdampar’ di jurusan desain yang sebetulnya juga saya sukai. Walaupun demikian, saya masih agak ogah-ogahan kuliah dan menyelesaikan studi di kampus Ganesha (nggak mau rugi, mumpung masih berstatus mahasiswa ITB, terdengar sangat kredibel bukan? Sementara setelah lulus, tentu saya harus segera lebur ke dalam dunia pekerjaan yang tak akan melihat dari mana latar belakang kita). Ketika sebuah sekolah swasta membuka peluang sebagai staf pengajar di sana, tanpa ragu saya pun mengirimkan surat lamaran, menjalani proses rekrutmen panjang, dan sukses bergabung dalam komunitas pendidikan itu. Menjadi guru, seperti cita-cita saya dahulu.
Bulan-bulan pertama tentu saja merupakan masa adaptasi yang tidak terlalu mudah. Selain latar belakang pendidikan saya bukan dari kependidikan, juga dipengaruhi oleh sistem sekolah itu yang sangat moderat,tidak seperti sekolah (negeri) pada umumnya. Ditambah lagi dengan sistem full day school yang diterapkannya, menuntut kreativitas tinggi untuk dapat ‘survive’ di sana.
Pahit-getir, susah-senang, tentu saya jalani bersama rekan-rekan yang datang dan pergi silih berganti. Saya berusaha bertahan, semakin mengerti jalannya sistem, dan semakin adaptif untuk mengikutinya. Mengajar berbagai mata pelajaran, justru saya sangat jarang diberi kesempatan mengajar Kesenian yang menjadi latar belakang pendidikan saya. Aneh, tapi saya melihatnya sebagai suatu berkah.
Ketika datang kesempatan untuk mendaparkan beasiswa penataran guru ke luar negeri, di tahun ke-5 masa kerja saya sebagai guru, alhamdulillah, saya memenuhi kriteria untuk itu. Lomba guru pun berhasil saya jalani dan mendapatkan hasil yang tidak terlalu mengecewakan. Intinya, tidak memalukan sekolah yang telah memberikan kepercayaan kepada saya sebagai wakil yang ditunjuk.
Saat ini, saya mendapat kesempatan untuk mengembangkan diri di sekolah lain, sekolah yang baru berdiri. Tantangan di tempat baru ini, tentu berbeda dibandingkan dengan tempat pertama yang saya rasa telah sangat berjasa ‘membesarkan’ dan mendewasakan saya sebagai guru. Sulit memang, tapi saya pernah survive berkali-kali di tempat sebelumnya. Saya yakin, kali ini saya pun akan survive lagi, memperjuangkan cita-cita saya, sebagai guru yang mumpuni, untuk ikut serta berpartisipasi dalam dunia pendidikan di Indonesia.

Saturday, November 15, 2008

Bu Didi Deui...

Terinspirasi dari tulisan di blog-nya mbak Diana (berkas-cahaya), aku ingin juga mempublikasikan tulisan lamaku di sini. Temanya tentang nama pasaran... (Ternyata, yang punya nama Diah bahkan Diah Utami atau Diah Lestari, wah... banyak sekali!)
Sejak kecil, aku bercita-cita jadi guru, dan alhamdulillah, akhirnya kesampaian juga. Setelah menjalani serangkaian tes dan wawancara, aku mulai mengajar di sebuah sekolah swasta di kawasan Bandung Utara.
Dari delapan orang rekan seangkatan, ada satu teman lain yang juga bernama Diah. Kompromi punya kompromi, harus ada salah satu yang rela mengubah nama panggilan. Okelah... aku ngalah... toh kadang temen-teman kuliah juga memanggilku "Di" atau "Di... Didi...!" Jadilah aku 'terkenal' sebagai "Bu Didi".
Aku dan Diah jadi akrab sejak awal. Ke mana-mana kami biasa barengan. Pada intinya sih supaya gampang ngasih petunjuk... yang mana Diah, yang mana Diah eh... Didi. Sementara aku mulai populer dengan nama Bu Didi, Diah yang satu lagi punya nama panggilan lain yang hanya beredar di kalangan guru tertentu. Kebetulan dia masih termasuk kalangan ningrat Sunda dengan gelar Nyi Raden di depan namanya. Maka dari itu, seorang guru senior kadang iseng memanggilnya "Bu Nyi" ;)
Setelah 5 tahun-an mengajar, nama bu Didi atau b'Deedee sudah melekat dan jadi trade mark-ku. Tapi rasanya, kadang-kadang be-te juga. Peluang untuk salah sangka jadi cukup besar juga sih... Dalam beberapa kesempatan berbincang dengan orang tua murid, kadang pembicaraan menyangkut ke hal-hal pribadi. Aku ngerti, mereka hanya bermaksud mengakrabkan diri, dan setelah ngobrol ke sana ke mari, dengan percaya diri, ada juga yang bertanya, "Pak Didi-nya kerja di mana ya bu?" Hmm... mereka pikir aku pakai nama suami, padahal suami saja belum punya. Kalau pembicaraan sudah sampai ke sana, maka bla...bla...bla... berbusa lagi deh mulut ini menceritakan sejarah munculnya nama bu Didi. Bosan juga kalau harus terus menceritakan kisah yang sama berulang kali. Tapi rupanya kisah ini beredar juga di kalangan orang tua murid. Lama-lama pertanyaan tentang 'Pak Didi' tidak muncul lagi. Mereka sudah mahfum bahwa 'Pak Didi'nya masih 'ghaib'. Hehe...
Beberapa waktu berselang, Bu 'Nyi' Diah mengundurkan diri dari sekolah tempatku mengajar, maka aku bertekad untuk 'mengembalikan kejayaan' nama Diah Utami. Hehe... Kuperkenalkan diriku sebagai 'Bu Diah' di depan murid-murid kelas 1, sekalian untuk menghindari kesalahpahaman panggil memanggil dengan Didi asli yang jadi muridku (Sebetulnya, namanya Zuhudi. Didi tuh cuma nama panggilan juga). Lucu aja kali ya kalau "Bu Didi berkata kepada Didi..." Haha... Sementara itu, kolega masih harus menyesuaikan diri dengan panggilan baru buatku. Ah, itu cuma masalah pembiasaan kok.
Baru 2 bulan-an mengajar di kelas 1, di bulan Oktober 2002 aku harus pergi meninggalkan sekolah tempatku mengajar dan baru kembali lagi di bulan Juni 2004.
Ketika bertemu dengan anak-anak yang sempat kuajar sebelumnya, dengan bersemangat mereka menyapaku, "Bu Diah, bu Diah, mengajar di sini lagi?" Duh.. bikin terenyuh hati. Iya nak... bu Diah akan kembali mengajar kalian. Sementara kakak kelas mereka masih teteup... memanggilku dengan sapaan Bu Didi. Rupanya, nama bu Didi sudah terlanjur lekat di benak mereka. Sudah terlanjur ngetop. Ya udah deh... pasrah aja. Teman-teman di tempatku ngajar sekarang ini,ada juga yang menyapaku dengan sebutan 'Mbak Didi'. Sok-lah, suka-suka aja. Siap-siap lagi nih menjelaskan tentang pak Didi yang 'masih ghaib' hingga hari ini. Hihi...

Saturday, October 18, 2008

Insiden Malam Minggu di Pizza Hut

Sabtu malam, aku dan temanku jalan-jalan di BIP. Tujuan utamanya sih cari kado untuk salah seorang teman kami yang akan menikah di hari Ahad. Jalan ke sana ke mari, pertimbangan sana-sini, ditambah belanja keperluan pribadi, ternyata capek juga ya. Lapar pula. Pikir punya pikir, kami putuskan untuk mencoba peruntungan di Pizza Hut. Siapa tahu... malam minggu begini nggak terlalu penuh, karena banyak pasangan yang asyik-asyik nonton bioskop (ketahuan, ketika jalan-jalan di sekitar rak belanjaan Yogya supermarket dan antri di kasir tadi, banyak juga pasangan yang beli snack dan minuman kemasan untuk bekal nonton).
Sampai di depan pintu resto Pizza Hut, kami disambut oleh mbak-mbak waitress yang cantik-cantik, menanyakan tujuan kedatangan kami. Dine-in untuk berdua, pesanan kami. Meja kosong disiapkan. Kami diminta menunggu sebentar karena meja sedang dirapikan. Kami pun melanjutkan berbincang dan duduk di belakang seseorang (mungkin manajer PH) yang berbadan extra large. Dari sudut mataku, kulihat sepasang pemuda dan pemudi datang dan memesan meja untuk dine-in berdua juga. Mereka harus menunggu lebih lama dari kita dong, pikirku waktu itu. Eh, tahu-tahu... mereka dipersilakan masuk duluan. Wah... urusan nggak tertib antri, aku bisa 'meriang' nih. Untungnya, aku sedang happy, jadi dengan sok santai aku bertanya lagi pada seorang mbak waitress yang ada di dekat kami. "Mbak, meja untuk berdua di non-smoking area, ada?" Dia terlihat agak kaget (pasti karena sadar bahwa antrian kami diseling orang lain yang datang belakangan). Untungnya, nggak lama juga kami dipersilakan masuk. Sementara itu, kulihat dia (si mbak waitress itu) berbisik dengan waitress lain yang sebelumnya mempersilakan kami menunggu. Ha! Kurangi satu poinmu! Hihi... apaan sih? Jadi ingat satu game komputer yang 'lihay' dimainkan ponakanku di Depok sana, Diner Dash. Seru juga.
Tidak menunggu lama, kami memesan satu paket Delight untuk berdua plus Cooly cup (yang diucapkan dengan pronunciation "koli kap" oleh mbak waitress yang lain lagi), menu tambahan agar-agar yang baru di-launch di PH. Pertama, datang agar-agar (yang pada intinya mah, nutrijel nutrijel juga...). Eh, sendoknya kok cuma satu? Masa sih pakenya gantian? Ya kami minta satu lagi dong.
Berikutnya, datang minuman yang kami pesan, red and green soda. Kali ini terlihat sirupnya lebih banyak, sedangkan susu lebih sedikit. Pembandingnya adalah minuman serupa yang kita pesan beberapa waktu yang lalu di PH Carrefour Kircon. Hm... nggak apa-apalah.
Yang berikutnya, garlic bread datang. Kulihat, bentuknya agak lain dibanding biasanya. Biasanya gembung dengan tekstur agak kasar, kali ini gepeng dengan tekstur lebih lembut. Maaf, aku agak sering juga 'berkunjung' ke PH, jadi kalau ada sedikit perbedaan, bisa segera terdeteksi. ;) Sampai sini, kami sudah lebih sering tersenyum-senyum berdua. Bakal ada kejadian apa lagi nih di PH kali ini? Perbincangan berlanjut sambil mulai 'membahas' hidangan yang sudah tersaji di meja di depan kami.
Setelah kira-kira 17,5 menit seperti yang dijanjikan si mbak waitress, Pizza pesanan kami datang. Pan pertama, hm... toppingnya kok ada jamur dan potongan sosis ya? Padahal yang kami pesan jelas beda. Idaho berisi potongan kentang dan daging cincang, sedangkan Egg Sunshine rata dengan warna kuning telur plus 4 potongan salami (? Salami ya? bukan salaman? :p). Lha ini, apaan tuh? Ketika kutanya, dia bilang itu pizza Chicken Mushroom Barbeque. Eh, kita kan nggak pesan itu? Dia coba konfirm, bahwa pesanan kami kan delight bertiga, katanya. Lha, emang ada? Bukannya cuma ada paket delight berdua atau delight berempat? Ih... kayaknya hari ramai begitu, si mbak waitress kecapekan kali ya, jadi salah-salah menanggapi pesanan pelanggan. :)
Sesekali (tampaknya sesuai SOP), salah seorang waitress menghampiri meja kami dan berbasa-basi menanyakan sesuatu. Apakah pesanan sudah datang semua, apakah kami menikmati hidangannya, apakah pan kosong sudah boleh diambil, apakah mau tambah minuman ekstra, dsb. Tapi... setiap kali ditanya, Umi selalu dalam kondisi mulut fully loaded. Nggak bisa njawab-lah, dia.

Monday, August 04, 2008

Di Gerbang Tol

Beginilah salah satu 'wajah' layanan transportasi kita, Indonesia tea...
Jarak tempuh yang kujajal dari rumah ke sekolah tempatku mengajar lebih dari 30 km sekali jalan. Jarak terpendek yang bisa kulewati sekitar 32 km, lewat ruas Padalarang-Moh.Toha. Biasanya rute ini kupakai dalam perjalanan pulang. Malam hari, jalanan sudah relatif sepi, bebas macet, dan 'cuma' bayar Rp 3.000,- Aman-lah lewat Mohamad Toha. Terlepas dari itu, sebetulnya aku nggak begitu suka pakai ruas jalan ini karena kondisinya yang nggak begitu nyaman. Ada bagian yang bergelombang, mbikin kita terpantul-pantul dalam kendaraan (apalagi pakai katana). Selain itu, banyak pabrik tekstil di sepanjang jalan itu, membuatnya jadi jalur ramai yang rawan macet. Capek deh... kalau tiap kali harus kejebak antrian panjang kendaraan. Yang kadang-kadang jadi 'pelipur lara' ketika lewat jalur ini adalah adanya pabrik coklat Ceres yang seringkali menebar wangi manisnya coklat yang menggoda, walaupun hanya sesaat. ;)
Sementara kalau pagi, berangkat dari rumah, aku biasa pakai rute Bubat-Padalarang. Sedikit berputar, tapi relatif 'aman', karena bukan jalur padat yang diramaikan oleh para pelajar atau karyawan pabrik yang banyak terdapat di ruas jalan Mohamad Toha. Jarak tempuhnya sekitar 34 km, dengan tarif tol Rp 3.500,-
Sesekali, kalau ada rencana mampir-mampir sepulang sekolah, kadang aku pakai rute Padalarang-Pasteur yang jarak tempuhnya ke rumahku mencapai 39 km. Bayar tol-nya sih cuma Rp 2.000,-, itupun kadang-kadang dibayarin temen yang ikut numpang di mobilku, tapi konsumsi bensinnya yang lebih banyak dari umurku, membuatku malas menempuh jalur itu. Belum lagi kondisi rawan macet selepas gerbang Pasteur (karena saat ini sedang ada penyempitan akibat pembangunan terowongan), ditambah lagi dengan konsekuensi melewati beberapa perempatan berlampu lalu lintas yang biasanya jadi ajang para pengemis atau pengamen 'beroperasi'. Di bulan Agustus begini, rombongan mahasiswa atau anak muda nekat yang sibuk cari dana tujuhbelasan juga makin marak. Makin males deh aku untuk lewat Pasteur.
Sabtu pagi lalu (2/8/08), aku perlu ke sekolah, tapi sebelumnya mengantar ibuku dulu ke tempat pengajian rutinnya di Masjid Yayasan Assalaam, dekat terminal Kebun Kelapa. Karena sudah tanggung di daerah sana, maka sekalian saja aku pakai jalur bis kota dalam perjalananku ke sekolah. Ini berarti melewati alun-alun, Istana Plaza, dan masuk dari gerbang Pasteur. Alhamdulillah, Sabtu pagi itu lancar juga.
Dekat gerbang Padalarang, kubelokkan dulu mobilku ke kantor Jasa Marga. Beli karcis langganan tol. Bisa menghemat sampai 10% ongkos tol nih. Di masa susah duit seperti sekarang, dapat diskon tentu jadi pilihan yang diprioritaskan dong... ;)
Setelah beli karcis, uuh... dasar pikiran pendek, aku dengan serta merta menyerahkan selembar karcis tol sebagai alat pembayaran. Aku sempat heran ketika melihat tampilan layar elektronik di depan gardu tol menunjukkan tulisan "Pasteur-Pdlrg 2000". Eh, sementara karcis langganan tol yang kubeli adalah untuk lajur Bubat-Padalarang seharga 3500 sekali jalan. Hey, aku yang rugi dong.
Tak terdengar panggilan apapun dari petugas tol yang menjaga saat itu, padahal ada selisih harga lho. Kalau begini, aku yang harus sadar dong. Segera kutepikan kendaraanku, sekitar 6-7 meter dari pintu tol. Kuambil dua lembar seribuan yang sebetulnya sudah kusiapkan sedari tadi. Berlari kecil, kuhampiri petugas tol di dalam 'kotaknya'. Kusampaikan masalahku secara singkat padanya. Untungnya, tanpa banyak cing-cong, dia mau menukar karcis tol yang kuberikan padanya tadi, dan mengambil lembaran ribuan yang kusodorkan padanya.
Hm... janggal rasanya. Jika mereka begitu 'strict' dengan uang setoran tol dari kendaraan yang melewati gerbangnya. Kurang seribu atau bahkan 500 rupiah sekalipun, mobil yang sudah lewat akan mereka panggil melalui loudspeaker. Ada juga sih satu-dua kasus yang lolos (bukan aku lho), tapi setidaknya sudah diumumkan kepada khalayak ramai bahwa kendaraan bernomor sekian sekian, setorannya kurang. Malu-maluin juga kan? Sementara dalam kasusku, aku kelebihan setoran nih, 1500 perak gitu lho, lumayan banget... eh, petugas tadi tak memanggilku untuk memberikan kembalian uang. Kalau konsumen yang rugi, petugas cuek. Tapi kalau konsumen lalai (mbayar), wo... kesannya 'seluruh dunia' harus tahu karena dipanggil keras-keras via loudspeaker. Jangan begitu dong mbak... Tapi ini sebetulnya cuma indikasi agar aku -selaku pengguna jasa jalan tol- yang harus waspada dan selalu siaga. Oke deh...

Monday, June 02, 2008

Sepatu Butut

Baru kusadari, ternyata sepatuku nyaris nggak ada yang bener. Dari beberapa pasang yang kupunya, semuaanya ada aja masalahnya. Yang hitam, sepatu favoritku, sudah berumur 7 atau 8 tahun. Masih bisa dipakai sih... tapi alasnya sudah aus, jadi setiap kali aku jalan, dia berdecit-decit, selain kulitnya juga agak kering dan perah-pecah. Salahku sendiri, jarang nyemir sih. Hihi...
Sepatu hitam lainnya, pemberian dari mbak Yayu. Umurnya sih sebetulnya belum lama, tapi juga jarang kupakai karena memang kurang nyaman. Yang sebelah kiri sudah menganga 'minta makan'. Sudah diberi 'sesajen', dan kondisinya lumayanlah. Tapi ternyata, cuma dipakai nyetir 1-2 kali, yang kanan langsung protes dan bukan menganga lagi, wah... 'lambungnya' pecah. Tak terselamatkan. Hm... mungkin masih bisa sih 'dioperasi plastik'. Hehe...
Sepatu hitam satunya lagi kondisinya masih prima, pemberian orangtua murid jaman kaapan ya? Jarang kupakai karena berhak sekitar 5-6 cm, dan berbunyi keletak-keletuk setiap kali kupakai berjalan. Bagian depannya juga agak menyempit, jadi kurang nyaman kalau dipakai untuk waktu lama. Bentuknya yang cenderung feminin juga membuat jam terbangnya jadi terbabas.
Sepatuku yang relatif baru adalah yang putih. Beli gara-gara tergoda nafsu. Hahah...! Dikasih tas kulit putih sama mama Hilmi ketika aku pindah dari Salman dulu. Punya jaket kulit putih juga, jadi pengen sepatu putih juga. Halah... nafsu banget kan ya? Nomornya lebih kecil sedikit dari yang biasa kupakai. Belinya maksa, gara-gara relatif murah (nggak nyampe 60.000), sedangkan model yang kusuka tidak menyediakan nomor yang kuminta. Makanya, maksa aja beli satu nomor lebih kecil. Kulitnya kelihatannya bagus sih, lentur. Tapi lagi-lagi jarang kupakai, karena padanan warna putih? Hm... aku jarang punya juga. :p
Yang coklat muda, salah satu favoritku juga. Sering dipakai, dan sudah sempat merasakan 'nikmatnya' lem super lengket. Tapi kulitnya mungkin memang tak begitu bagus. Sekarang sudah mulai mengelupas di sana-sini. Jelek banget deh kelihatannya. Sudah saatnya beli yang baru kali ya... ;)

Saturday, May 31, 2008

Ngantri BBM

Tanggal 23 lalu, pemerintah memutuskan untuk menaikkan harga BBM sekitar 30 persen. Issue-nya sih sudah cukup lama digembar-gemborkan. Demo menolak kenaikan harga BBM juga sudah digelar di sana-sini, tapi teteup... keputusannya, BBM naik. Akhirnya, kita sebagai rakyat jelata, emangnya bisa ngapain? Ya pasrah aja kali, sambil berdoa semoga Allah memberi jalan keluar dari permasalahan ini.
Kulirik indikator bahan bakar di dashboard Katanaku. Wah.. jarumnya sudah menukik hampir menyentuh dasar. Kritis nih. Harus segera mengisi bahan bakar. SPBU pertama yang kulewati penuh sesak. Antrian panjang... bikin males deh. Selepas jalan tol, di SPBU berikutnya (bukan favoritku) sebetulnya antrian tidak begitu panjang, mungkin hanya sekitar 8 atau 10 mobil. Mestinya nggak akan lama. Tapi karena nggak biasa ngisi BBM di sana, kulewat aja dengan cueknya. SPBU berikutnya, tempat langgananku tuh, sudah kurencanakan untuk mampir. Tapi teurnyattaa... 100 meter, belum ada celah bagiku untuk masuk. 200 meter, masih terlihat antrian panjang. 500 meter, beberapa sopir sudah nggak sabar dan mulai berbalik arah, membatalkan niat mereka untuk mengisi bensin. 1 kilometer, aku akhirnya pasrah juga. Kupikir ya... sudahlah, nggak usah ngisi bensin malam itu. Biarlah besok ketika mau pergi, mengisi bensin dengan harga baru.
Ada satu SPBU terakhir, dekat rumahku. Antrian kelihatannya belum begitu panjang juga. Tapi motor sudah mengular dan dengan teganya menyelip dan menyalip antrian yang sudah teramat padat. Kutabahkan hati untuk mengantri di jalur yang benar, menunggu giliran dengan (sok) sabar. Kulewatkan waktu dengan main game di gadgetku. Main solitaire, dapat beberapa kali giliran. Sampai bosen. Asli!!! Kupotret suasana sekitar beberapa kali. Beberapa orang kaget, mencari sumber kilatan cahaya blitz. Haha... Tenang... saya bukan wartawan, cuma ingin mengabadikan moment dalam gambar. Mengingatkan pada jaman susah. :) ----> ini senyum pahit, lho.

Tuesday, March 18, 2008

Melepas Kijang

Sudah beberapa lama ini, rencana untuk menjual mobil Kijang yang biasa kupakai sehari-hari jadi 'topic of the week' di rumah. Pertimbangannya, mobil yang sudah beranjak dewasa itu terasa mulai menggerogoti kantongku. Akhir-akhir ini si 'teenager' ini mulai sering 'jajan' (maksudnya, ke bengkel melulu, gitu...) Urusan bensinnya juga ya makin menguras isi dompet. Cepat sekali lembaran 50 ribuan yang kutarik dari ATM itu beralih ke tangan petugas berseragam merah di pom bensin.
A Lulu, kakak iparku, menyarankan untuk mengganti si Kijang gagarubang itu dengan mobil kecil yang lebih irit. Aku sebetulnya setuju-setuju saja... tapi rupanya nggak gampang juga menemukan mobil pengganti yang sesuai dengan sikon yang kuhadapi sekarang. Ada mobil kecil yang kusuka, tapi stock tak tersedia alias not for sale. Ada juga mobil kecil (baru) yang kusuka dengan ketersediaan stock barang, tapi harganya... nggak suka banget deh!!! Mahal banget, soalnya. :(
Pagi tadi, mampir di bengkel dulu, lagi-lagi 'ngejajanin' si Kijang tea. POL!!! Nyaris menguras tabunganku. Ganti ini-itu, dan memang urgent, nggak bisa ditunda. Siang, datang ke sekolah, hanya untuk janjian dengan pak Eko, seorang sopir jemputan di sekolah yang jadi sang perantara transaksi jual-beli mobil. Aku juga ketemu langsung dengan sang pembeli, yang dengan 'bala tentaranya', memeriksa Kijangku luar-dalam (duh... kebetulan tadi pagi sudah sekalian dicuci bersih di bengkel, jadi penampilan si Kijang nggak terlalu memalukan. Paling nggak, nggak dekil deh.). Tanpa banyak cing-cong dan tawar menawar lagi, langsung saja setuju dengan harga yang kuminta. Deal!!! Langsung memberi uang panjar dan janjian ketemu lagi besok (BESOK!!!) untuk menyelesaikan urusan lainnya. Hari ini, puas-puasin deh bercengkerama dengan si Kijang yang sudah menemaniku sejak 11 tahun yang lalu.
Hiks... sedih juga deh ketika perpisahan dengan si Kijang ini sudah di depan mata. Selama ini aku masih mempertahankan Kijang ini, karena ternyata peminatnya banyak juga. Kupikir, kalau memang masih banyak untungnya, kenapa harus dilepas? Belum lagi nilai historisnya. Dialah mobil pertama yang kupakai menjajal jalanan dari rumah ke Dago bareng bapak (alm), tiap hari menuju tempat kerjaku. Deg-degan bareng dia juga ketika menghadapi area parkir curam di Salman yang akhirnya 'kutaklukkan'. Yes!!! Dia juga yang bolak-balik mengantar jemput bapak dari dan ke rumah sakit ketika sakit ginjal maupun darah tingginya perlu cek rutin.
Kijang setia ini sempat juga penuh percaya diri kubawa ke Depok, pengalaman nyetir jarak jauh pertama kaliku. Beberapa kali membawa murid-muridku untuk pergi ke event tertentu, atau menemaniku menginap ketika harus mendampingi siswa (misalnya sanlat di Banjaran tempo hari) atau 'lokaria' sambil outbond yang terakhir kuikuti bersama teman-teman guru Salman. Ketemu polisi beberapa kali, ditilang karena pelanggaran sepele, sampe nangis-nangis segala (ha!!!). Berurusan dengan pengemudi angkot yang ngotot ketika mobilnya menggores body Kijangku hingga bergaris biru tua sepanjang pertengahan body sampe ke ekornya. Mogok-mogok di jalan beberapa kali, mulai dari tikungan tak jauh dari sekolah (bersama Intan dan almarhumah teh Dewi), perempatan Dago bareng Intan, dekat gerbang tol Bubat, wah... sempat banyak kali juga deh. Sempat juga dia 'mutung' ketika dipakai di jalan menurun menuju Salman ketika macet berat, menahan rem dengan AC yang terus hidup. Mutung dia. 'Diinapkan' di sekolah juga pernah. Tapi alhamdulilah, di setiap kesempatan, selalu ada 'dewa penolong' yang mau membantu aku dan Kijangku. Di atas semuanya, syukur tak terhingga pada Allah SWT yang telah memberi kesempatan yang begitu berharga atas kesempatan menorehkan sejarah bersama Kijang ini.
Sekarang ini, aku akan menghabiskan detik-detik terakhir bersama Kijangku. Semoga di tangan berikutnya, engkau mendapatkan perawatan yang lebih layak, dan berbuat lebih banyak pula bagi umat (Cie...!)

Tuesday, January 15, 2008

. . .

Begitu banyak yang ingin kuungkap, begitu banyak yang ingin kuucap. Tak kuasa...
Ingin menyanyi, hati rasanya tak berseri.
Ingin berkata, lidah rasanya tak berbasa.
Ingin menangis, mata rasanya tak bertelaga.
Doa... satu pinta yang kuhantarkan pada Sang Maha.
Beri aku petunjuk untuk melangkah di jalan-Mu,
Beri aku kekuatan untuk menjalani takdir-Mu,
Beri aku keyakinan untuk istiqamah dalam menapaki jalan menuju-Mu.
Berkelok, mungkin. Berliku, mendaki, menurun. Mungkin penuh duri, atau lempang sebatas mata memandang. Semoga kelak berakhir di hadapan-Mu, untuk Kaurengkuh aku di ujung perjalanan nanti.

(Note: The beautiful picture taken from wvs.topleftpixel.com)

Tuesday, October 09, 2007

Hujan di Penghujung Ramadhan

Sudah dua hari ini hujan mengguyur Bandung, menjadikan kota ini sedikit sejuk. Mengangkat panas dan meresapkan debu yang kerap menabur sesak di dalam rumah. Akhir Ramadhan kali ini, semoga kesejukan mengiringi, menyambut Idul Fitri nanti.
Beberapa hari ini, hujan juga turun di dalam hati. Bukan hujan lagi, tapi badai melanda, membuatku berdarah-darah. Sakitt. Sebuah masalah besar kembali tampak di depan mata. Seperti Ramadhan tahun lalu, masalah ini membawaku kembali ke hadapan Allah (tuh ya… kalau lagi ada masalah, Allah didekati, di-curhat-i. Malu juga, tapi… kepada siapa lagi aku menyembah, dan kepada siapa lagi aku memohon pertolongan, jika tidak kepada-Nya?). Kuadukan masalahku kepada-Nya saja, dalam sujud panjang di penghujung malam sunyi. Ah… tak ada malam sunyi di bulan Ramadhan ini. Baru sebentar saja khusyuk ‘berbincang’ dengannya, segera juga kesibukan di dapur membuatku menyusut mata. Tak kuingin orang rumah tahu. Setidaknya, tidak untuk saat ini. Entah kapan akan kubuka rahasia besar ini, yang jelas tak bisa kusimpan sendiri. Bisa mati berdiri.
Tahun ini, tak ada lagi teh Dewi, tempatku berbagi cerita. Mungkin dari alam sana dia hanya memandangku iba. Terjadi lagi padamu, Dee? Semoga engkau kuat menjalani. Amiin. Ingin kumintakan doa pada semua orang, tapi tak mungkin tanpa mengungkap permasalahannya. Maka ya Allah… hanya kepada-Mu sajalah hamba berserah diri. Berikan keputusan terbaik-Mu untukku, dan jadikan hatiku meridhainya, serta ringankan langkahku menjalaninya. Amiin.

Salah Satunya... Kok Jadi Banyak.