Showing posts with label artikel. Show all posts
Showing posts with label artikel. Show all posts

Monday, December 07, 2009

Bertemu Nanny Stella

Dapat info panas. Dari sebuah milis yang kuikuti, terbuka kesempatan untuk mengikuti sebuah lomba menulis. Kali ini menulis artikel pendidikan atau psikologi. Deadline-nya mepet banget. Aku baru tahu infonya tanggal 3, sementara deadline-nya tanggal 4, dan pemenangnya akan diumumkan pada hari itu juga, pukul 6 sore.
Kebetulan, aku punya 'stok' tulisan setengah jadi tentang pendidikan, tepatnya tentang alasan untuk memilih sekolah dengan sistem full day. Semalaman, kurampungkan tulisan itu. Ah... tidak semalaman juga sih... hanya sedikit selepas tengah malam, aku menyelesaikan tulisan itu dan siap kukirim di pagi tanggal 4.
Udah G-R (atau ke-PD-an ya?) tentang kemungkinan aku memenangkan hadiah yang ditawarkan, selembar golden ticket seharga Rp 850.000,- untuk mengikuti sesi grand seminar bersama nanny Stella, the nanny911. Gimana nggak ngiler, coba... (makanya bela-belain begadang)? Kesempatan begini kan nggak datang tiap bulan. Belum tentu juga tiap tahun. Kalau menang... harus datang nih.
Sore tanggal 4 itu, alhamdulillah aku dapat pemberitahuan melalui e-mail dan sms, mengabari kemenanganku sebagai salah satu pemenang tiket untuk mengikuti seminar itu dan bertemu Nanny Stella secara langsung. Wow... Langsung deh aku siap-siap berkemas. JITEC Mangga Dua, aku datang...!

Tuesday, June 23, 2009

Cubicle Etiquette

Nyontek dari majalah Chic no. 39, terbitan akhir Juni 2009. Bagus nih, buat diterapkan dikantor, bahkan di ruang guru sekolah kami. Bercermin dari itu, ya... mari baca saja tulisan dari salah satu Jurnalis majalah Chic, mbak Erika Paula.
Ruang kerja masa kini dirancang seefisien mungkin. Bahkan kadang tak menyisakan ruang privasi. Pahami etikanya agar kenyamanan kerja tak terganggu.
1. Silence Please
Gunakan nada suara seakan Anda berada di ruang perpustakaan. Tidak semua orang bisa mendengar suara keras. Banyak pula yang suka suasana tenang, dan tidak bisa berkonsentrasi kerja dalam kondisi bising.
2. Hampiri Teman
Kalau mau mengajak bicara teman, hampiri dia baru ajak ngobrol. Bila dari jauh Anda sudah teriak, teman yang lain pasti akan terganggu. Anda toh bukan berada di hutan.
3. No Speaker Phone
Masih berkaitan dengan audio things, jangan gunakan speaker kalau menelepon atau menerima telepon. Baik itu untuk telepon kantor maupun ponsel pribadi. Selain bising, Anda tentu tak ingin pembicaraan jadi konsumsi publik, kan?
4. Setting Ringtone
Tidak salah kalau Anda suka pada ringtone telepon seluler Anda. Pasti Anda akan memilih lagu atau suara favorit. Jadi masalah, kalau disetel sangat keras sehingga bisa kedengaran sampai ke seantero kantor bila ada telepon masuk. Apalagi kalau lagu yang Anda pilih tidak disukai rekan kerja. Jangan salahkan dia kalau khilaf dan mengamankan telepon ke tempat lain.
5. Jangan Tinggalkan Handphone
Jangan pernah meninggalkan handphone dalam waktu lama, sebut saja makan siang. Tidak mungkin makan siang hanya 10 menit, minimal 30 menit. Jadi jangan tinggalkan telepon seluler Anda di kantor dengan volume suara maksimal. Kalau Anda berada pada posisi teman, pasti bete mendengar telepon terus berdering sementara pemilik telepon sedang pergi. Kalaupun ditinggal ya di-silence, supaya tidak ada yang terganggu. Lebih sip lagi, masukkan ke dalam laci.
6. Gunakan Earphone
Musik bagi sebagian besar orang seperti penyemangat hidup. Mendengarkan musik di saat sedang stress memang disarankan para ahli. Namun bukan berarti selera musik Anda disukai teman kerja yang lain. Jadi, kalau pasang musik, ya jangan keras-keras. Hidup rekan kerja Anda akan nyaman kalau Anda menggunakan earphone. Dan satu lagi: orang suka tidak sadar ikut menyanyikan lagu yang didengar lewat earphone dengan suara keras. Ini juga bisa mengganggu tetangga sebelah. Ingat, kantor bukan tempat konser lho.
7. Di-Mute Aja
Suara berisik juga berasal dari komputer. Entah Anda sedang menonton film, men-download lagu, melihat widget dari berbagai situs. Please, gunakan earphone saja. Jadi tidak mengganggu teman sebelah Anda. Satu lagi, gunakan srceen saver yang tidak berisik. Atau saat membukanya, volumenya diperkecil atau bahkan di-mute.
8. "Psst, Ini Rahasia Lho"
Perempuan senang curhat pada teman sekerja. Dan kalau lagi semangat bercerita, suka lupa kalau suaranya semakin keras. Mau tak mau akan terdengar oleh yang lain. Kalau sangat pribadi, lakukan di tempat yang lebih privasi, ruang meeting misalnya. Tapi kalau Anda mau semua orang mendengar cerita Anda, dan mereka tidak keberatan, sah-sah saja Anda melakukannya di ruang kerja. Lihat situasi jugalah, kalau semua orang sibuk, Anda enggan juga kan bercurhatria?
9. Antibau
Karena terbuka tidak ada pembatas, tidak hanya suara yang akan terdengar, juga bau-bauan akan cepat tercium. Jadi jangan gunakan wewangian yang sangat kuat di ruang kerja. Bisa-bisa teman sebelah Anda pingsan :-) Juga jaga agar badan Anda tidak berbau kurang sedap. Kalau sering keluar, seringkali baju pun jadi berbau tidak sedap, karena itu sebaiknya bawa baju ganti, minimal atasan.
10. Bersih Dari Makanan
Masih berkaitan dengan bebauan, jaga kebersihan meja kerja Anda dari makanan yang berbau tidak sedap. Menurut Anda sedap, belum tentu teman Anda setuju. Jangan pula menyimpan makanan di dalam laci meja, baunya akan menyebar dengan cepat.
11. Dilarang Menguping
Kalau ada yang sedang bicara pribadi di dekat Anda, pura-pura aja tak mendengarnya. Sangat disarankan, jangan ikut nimbrung kecuali Anda diajak bicara. Sangat tidak sopan, meski bukan salah Anda ada yang berbicara masalah pribadi di tempat terbuka.
12. Minta Izin
Meski ruangnya terbuka, anggap saja ada pintu antara area kerja Anda dan teman Anda. Jadi kalau mengambil sesuatu jangan lupa minta izin, dan segera mengembalikannya. Dan jangan pula melihat-lihat meja kerja teman tanpa izin. Anda juga tak mau meja kerja Anda dimasuki tanpa izin kan?
13 Jaga Kebersihan Keja Kerja
Meja kerja mencerminkan kepribadian pemiliknya. Dan Anda membawa imej agar reputasi Anda dan kantor terlihat baik di mata klien. Karena terbuka, setiap tamu yang datang bisa melihat langsung meja kerja Anda. Kalau meja karyawannya saja berantakan, klien bisa meragukan kinerja perusahaan Anda.
14. Gunakan Messenger
Bila ingin berkomunikasi dengan rekan tanpa suara, gunakan saja messenger, seperti YM atau Yahoo Messenger. Lebih jelas dan tidak mengganggu. Asal, jangan kebablasan jadi ajang ngobrol ya.

Tuesday, March 17, 2009

Benci karena Disinformasi

By Jalaluddin Rakhmat
Selasa, 16 Desember 2008 pukul 14:39:00
Kira-kira 40 tahun setelah Rasul Allah SAW wafat salah seorang penduduk Syam pergi ke Madinah al-Munawwarah untuk menziarahi makamnya. Di situ ia berjumpa dengan seorang penunggang kuda yang tampan dan berwibawa. Di sekitarnya berkumpul sahabat-sahabatnya, siap untuk melaksanakan segala perintahnya.
Ketika orang Syam itu diberitahu bahwa orang itu Hasan bin Ali bin Abi Thalib, bangkitlah amarahnya. Di mimbar-mimbar Jumat di Syam ia sudah sering mendengar para khatib menerangkan kejelekan keluarga Ali. ''Jadi inilah anak Abu Turab yang keluar dari Islam itu?'' kata orang Syam itu sambil menyusulnya dengan memaki Hasan, ayahnya, dan keluarganya.
Mendengar itu sahabat-sahabat Hasan menghunus pedang untuk membunuhnya. Tapi Hasan melarang mereka. Dengan ramah beliau menyapa orang Syam itu, ''Tampaknya Anda orang asing di sini, wahai Saudaraku orang Arab?''
Orang Syam menjawab, ''Benar, aku dari Syam. Aku pengikut Amirul Mukminin dan Pemimpin kaum Muslim, Muawiyyah bin Abi Sofyan.''
Hasan mendesaknya untuk menjadi tamu. Selama beberapa hari dijamunya dan dihormatinya orang Syam itu. Pada hari yang keempat orang Syam itu tampak menyesali perbuatannya. Ia merunduk dan menciumi jari-jemari Hasan. Ia memohon maaf atas apa yang dilakukannya sebelum itu.
Hasan melirik kepada sahabat-sahabatnya. ''Kemarin kalian bermaksud membunuhnya, padahal ia tak bersalah. Ia korban disinformasi. Sekiranya ia mengetahui kebenaran, ia tidak akan memusuhinya. Kebanyakan orang Islam di Syam seperti itu.''
Kemudian Hasan membaca firman Allah: ''Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah kejahatan itu dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.'' (Q. S. 41: 34)
Tidak jarang kita membenci sesama Muslim karena kita mendengar berita yang jelek mengenai dirinya. Jangan-jangan, pertengkaran di antara kita selama ini terjadi karena proses disinformasi. Marilah kita memaklumi orang yang membenci kita karena disinformasi. Balaslah makian mereka -- yang dilakukan karena ketidaktahuan -- dengan lapang dada dan keramahan. Mudah-mudahan Allah mengubah mereka menjadi sababat-sahabat kita yang setia.- ah
Ya Allah... sungguh sulit menjadi orang baik itu. Ketika orang (mungkin) benci kita karena kurangnya informasi tentang kita, ternyata memberikan informasi yang tepat juga tidak mudah, sehingga mereka pun sulit mengubah sikap mereka. Atau ketika kita kurang informasi tentang satu-dua orang, dan kita jadi benci padanya, sungguh sulit pula untuk mencari informasi yang benar tentang mereka. Berilah petunjuk agar selalu dapat menemukan informasi yang benar, dan agar dapat selalu mencinta atau membenci karena-Mu saja.

Thursday, March 05, 2009

Pengujian

Ambil dari Republika online
By Danarto
Selasa, 13 Januari 2009 pukul 14:00:00

Allah menguji hamba-Nya dengan musibah, sebagaimana seseorang menguji kemurnian emas dengan api. Jika yang terlihat emas murni, itulah orang yang dilindungi Allah dari keragu-raguan. Jika mutunya kurang dari itu, pertanda ia orang yang bimbang dan ragu. Dan jika yang terlihat seperti emas hitam, itulah orang yang benar- benar ditimpa fitnah dan musibah - Nabi Muhammad SAW
Tidak dengan sendirinya jika seorang hamba menyatakan dirinya beriman, ia bebas dari pengujian. Tidak dengan sendirinya jika seorang hamba menyatakan dirinya siap diuji, lalu ia bebas dari rasa takut dari pengujian itu. Memahami pengujian iman adalah memahami kekuasaan Allah. Kesadaran yang paling puncak ketika kita memahami Alquran adalah kepasrahan kepada Tuhan.
Iman dan rasa takut itu bersanding sehingga keduanya saling memandang. Barangkali ada tenggang rasa. Memang, rasa takut yang dikaruniakan kepada setiap makhluk itu merupakan kendala terbesar dalam menempuh lautan iman. Bagaimana iman yang besar yang didampingi keberanian yang besar pula, dapat kita miliki dalam beribadah, itulah soalnya.
Sebenarnya, apa pun nasib kita, kita layak bersyukur karena nasib itu Allah sendiri yang memberikannya. Tidak hanya berwujud musibah, pengujian itu juga berwajah keuntungan. Alhamdulillah. Hadis riwayat At-Thabrani yang dikutip di atas selalu mengingatkan kita bahwa Allah Maha Mengetahui atas seluruh aktivitas makhluknya. Bahkan ketika kita dikaruniai kekuasaan -- sebagai presdir maupun ketua RT -- kita justru sedang masuk ke laboratorium pengujian Allah itu. Kita menjadi pemimpin yang baik atau sebaliknya. Iman dan ketakutan, pengujian dan keputusasaan, seperti jalin-menjalin.
Begitu besar sesungguhnya tanggung jawab dan pengujian yang dibebankan seorang pemimpin, sampai-sampai kita ingat Abu Bakar Al-Shiddiq yang pernah berpidato: ''Mereka yang paling sengsara di dunia dan di akhirat adalah para raja! Apabila seorang raja memiliki sesuatu, maka Allah akan menjadikannya selalu tak puas. Muak akan apa yang dimilikinya, tapi rakus terhadap apa yang digenggam orang lain.''
''Ia memperpendek masa hidupnya dan mengisi hatinya dengan kecemasan. Karena raja tidak puas bila mendapat sedikit, namun sakit hati kalau mendapat banyak. Ia bosan akan hidup enak dan keindahan tak lagi menarik baginya. Tak ubahnya seperti uang palsu atau fatamorgana, ia tampak ceria tapi gundah-gulana batinnya. Dan bila ia meninggal dunia, akan ditimpa hisab yang keras, dengan sedikit pengampunan. Sesungguhnya raja adalah orang yang patut dikasihani!'' - ah

Wednesday, February 11, 2009

Kita, Cina, dan India (Renungan Tragedi Demo Sumut)

Dikutip dari Republika Jumat, 06 Februari 2009 pukul 06:56:00
Oleh: Zaim Uchrowi

Berangkatlah dengan damai ke hadirat Ilahi, saudaraku Abdul Aziz Angkat! Engkau bukan korban. Engkau pahlawan meskipun keluarga memilih memakamkanmu di pekuburan biasa. Kepahlawananmu kau tunjukkan dengan kematian yang menjadi penanda bagi seluruh bangsa ini: Moralitas macam apa yang kita miliki sekarang ini sebagai bangsa?

'Pemekaran'. Itu kata indah yang dalam beberapa tahun terakhir menari-nari di benak banyak orang di seluruh Nusantara. Ada argumen indah di balik kata itu. Buat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Tapi, tak sedikit pula permainan kepentingan yang ada di balik kata dan alasan indah itu. 'Pemekaran daerah' berarti memperbanyak jabatan serta kesempatan menyedot dana publik. Akan ada jabatan gubernur, bupati, dan wali kota baru. Akan banyak kursi baru di dinas-dinas, juga di lembaga legislatif. Akan muncul pula orang-orang kaya baru.

Akankah rakyat umum teruntungkan dari 'pemekaran'? Tak selalu. Tak sedikit provinsi, kabupaten, serta kota hasil pemekaran yang sampai sekarang belum layak sebagai provinsi, kabupaten, dan kota semestinya. Tak sedikit pemekaran yang lebih didorong kepentingan elite. Berbagai cara akan ditempuh untuk mengegolkan pemekaran. Termasuk, bila perlu, dengan aksi demo anarkis. Entah apakah hal ini pula yang terjadi pada aspirasi pemekaran Provinsi Tapanuli. Yang pasti, penyampaian aspirasi itu telah berkembang anarkis hingga engkau, Ketua DPRD Sumatra Utara, mengembuskan napas terakhirmu.

Memang seburuk inikah wajah kita saudaraku? Budaya macam apa yang sebenarnya kita miliki saat ini? Dengan budaya yang ada, bagaimana kita dapat menjadi bangsa besar? Bagaimana kita mampu berdiri tegak dan bermartabat sebagaimana India, Cina, apalagi Amerika di tengah kompetisi global yang kian ketat ini? Ataukah kita telah menikmati, lantaran terbiasa, terus berkubang dengan berbagai persoalan? Termasuk dengan pertikaian demi pertikaian? Amerika, Cina, dan India punya modal jelas untuk dapat berjaya di kancah global.

Dengan hegemoni politik dan budayanya, Amerika akan terus mencetak dolar, mengekspor film, musik, budaya makan, program teknologi informasi, serta senjata ke pasar dunia buat memakmurkan dirinya. Cina memiliki masyarakat pekerja superkeras yang mampu mengembangkan industri manufaktur yang menguasai dunia. Maka, di tengah resesi sekarang, pun mereka terus berekspansi untuk menguasai pasar Afrika. Juga, agresif merebut energi di seluruh dunia. Sedangkan, India akan terus tertopang oleh jejaring para profesionalnya yang menguasai lembaga-lembaga serta perusahaan-perusahaan dunia.

Hingga 64 tahun merdeka, kita belum punya modal jelas buat berjaya di dunia. Kita masih bergelut dengan persoalan-persoalan lama, juga tetap mempertahankan perilaku-perilaku lama. Rumitnya pula, kita tidak merasa ada yang keliru dengan keadaan bangsa. Kita tak merasa perlu ada yang diubah dari bangsa ini. Kita tak merasa perlu mendesak para pemimpin, serta seluruh kekuatan politik, untuk bekerja keras mencari jalan baru bagi Indonesia. Kita bukan penguasa seperti Amerika, bukan pekerja keras macam Cina, juga belum jadi profesional global seperti India. Apa yang akan kita andalkan buat mengatasi kemiskinan, keterbelakangan, kemerosotan lingkungan, serta moral yang ada?

Saudaraku Abdul Aziz Angkat, kematianmu mengingatkan bahwa saat ini kita masih terlena. Kita, para akademisi, budayawan, wartawan, profesional, rohaniwan, serta para pendidik, ini masih terus menangguk keuntungan dari kecentangperenangan yang ada. Kita belum sungguh-sungguh berusaha mentransformasi bangsa ini menjadi bangsa maju yang mampu menyejahterakan dan menenteramkan seluruh rakyatnya. Jalan kematianmu adalah jalan syuhada atas bakal terjadinya perubahan mendasar Indonesia.*

Thursday, December 25, 2008

Kematian Hati

Sebuah renungan untuk mengingatkan diri sendiri, lampu kuning untuk mengingatkan diri agar kembali ke jalan lurus yang ditunjukkan-Nya, menuju-Nya. Semoga Allah SWT selalu membimbing kata hati, langkah kaki, tingkah laku, ucapan lisan dan tulisan, agar selalu di jalan kebenaran untuk menggapai ridha-Nya. Amiin.

Thursday, December 11, 2008

Sedih di Hari Bahagia?

Kuambil dari conectique.com dan sedikit kuedit ulang. Mengingatkan diri sendiri.
Pernah dilanda rasa 'sepi', kosong dan tidak merasa bahagia di saat yang mestinya Anda berbahagia? Seperti di saat hari ulang tahun atau hari ulang tahun pernikahan Anda misalnya... Salah satu pemicu timbulnya bad mood tersebut mungkin karena sikap Anda yang cenderung terlalu keras pada diri sendiri. Cari tahu gejala lainnya dan segera lepaskan diri dari perangkap yang merusak mood bahagia Anda.
Mood Musiman
Mood musiman ini disebut sindrom SAD atau Seasonal Affective Disorder, yaitu kesedihan yang dialami seseorang pada musim-musim tertentu. Psikolog Peggi Elam dari situs ivillage.com mengatakan, mood ini bisa mengakibatkan seseorang kehilangan semangat saat langit mulai mendung. Walau pada awalnya ia berada dalam mood yang baik secerah sinar matahari, namun dengan mudah berubah bersamaan dengan langit yang gelap atau hujan dan badai. Bisa juga mengakibatkan ia 'alergi' terhadap cuaca tertentu. "Perasaan tidak nyaman yang terjadi terus menerus ini dapat mengakibatkan depresi," ujar Elam.
Si penderita umumnya cepat merasa lelah, senang mengkonsumsi karbohidrat serta makanan berkalori tinggi secara berlebihan, mengalami insomnia, bahkan sistem kekebalan tubuhnya mengalami penurunan. "Meski demikian perubahan mood berdasarkan cuaca ini masih tergolong normal dan bukan kelainan yang bersifat akut," tambah Elam
Coba lakukanlah hal-hal yang Anda sukai saat perasaan yang mengganggu itu mulai menghampiri. Menikmati makanan yang memberikan efek menenangkan seperti cokelat amat disarankan. "Perasaan tidak enak ini bisa diatasi dengan menambah insentisitas cahaya di sekitar Anda atau mewarnai dinding rumah dengan warna-warna terang," ujar Norman E. Rosethal penulis buku Winter Blues. Upayakan untuk menata ruangan sedemikian rupa sehingga kesan yang tercipta adalah ruangan yang terang dan cerah. Jangan biarkan benda-benda di sekeliling Anda penuh debu dan jangan lupa tempatkan bunga segar di dalam ruangan untuk menciptakan suasana hati yang menyenangkan.
Benci Hari Ulang Tahun
Saat pesta ulang tahun Anda sedang berlangsung meriah, justru Anda merasa tidak nyaman. Atau rencana yang sudah tersusun rapi tak berjalan mulus karena sebagian teman berhalangan hadir. Situasi ini kemudian membuat Anda merasa 'sendirian' dan tidak dipedulikan. Fakta mengatakan, perempuan memang memiliki kecenderungan berpikir dan bersikap lebih emosional dan mudah tersinggung di hari ulang tahunnya.
Perasaan ini timbul ketika Anda memasang harapan terlalu tinggi dan kemudian tidak tercapai. Bisa jadi hari ulang tahun membuat Anda teringat bahwa usia Anda semakin bertambah. Perasaan sensitif dan cemas tersebut sesungguhnya merupakan manifestasi dari rasa takut dan cemas. Anda khawatir tidak akan berhasil meraih cita-cita yang direncanakan sementara usia Anda terus bertambah. Cobalah pikirkan, emosi negatif muncul karena alam bawah sadar Anda yang menginginkannya. Untuk itu, katakan pada diri Anda bahwa pikiran negatif ini bisa Anda halau, karena tak memberikan manfaat apa-apa bagi kebahagiaan Anda.
"Menjaga perasaan agar tetap positif itu penting. Perasaan merefleksikan respon Anda terhadap hidup, harapan serta kepercayaan diri Anda," ujar Roberta Shaler,Ph.D, penulis Optimize Your Day. Pikirkanlah hal-hal yang sudah Anda dapatkan daripada hal-hal yang belum Anda raih. Mulai dari masa indah ketika sekolah, kucing lucu yang Anda temui, perjalanan penuh kesan yang Anda lakukan, sampai hadiah terindah yang pernah Anda dapatkan.
Tak Bisa Menikmati Kebahagiaan
Selalu berusaha menghindar setiap kali diundang ke sebuah resepsi pernikahan? Rasa sesak dan sedih mulai datang silih berganti memenuhi dada. Alih-alih rasa ikut bahagia yang muncul, malah rasa tak betah dan ingin pulang yang Anda rasakan...
Orang yang kerap merasa depresi ketika berada di lingkungan yang dipenuhi orang-orang yang sedang berbahagia biasanya disebabkan karena mereka membandingkan dirinya dengan orang-orang tersebut, dan melihat bahwa mereka tidak cukup bahagia.
Cara Mengatasinya:
Bersyukurlah dengan apa yang Anda miliki. Anda bisa bernafas dengan teratur setiap detik saja sudah merupakan anugerah Tuhan yang tak terkira nilainya. Bayangkan orang yang menderita radang paru-paru sehingga kesulitan bernapas misalnya....Carilah hal positif dalam setiap situasi dan rasakanlah kebahagiaan orang lain dan pikirkan suatu saat Andapun akan bisa menikmati rasa bahagia tersebut, walau mungkin bukan saat ini. Ciptakan pembicaraan ringan dan menarik dengan teman-teman serta buka hati Anda untuk menikmati setiap pembicaran tersebut.

Saturday, September 20, 2008

Ubahlah Bersama Allah (3)

Oleh Yusuf Mansur
(Dikutip dari rubrik Hikmah, Republika.co.id)

Berani menerima tantangan untuk berubah, insya Allah kita akan berubah.
Allah 'menantang' kita untuk memberikan balik rezeki yang diberikan-Nya untuk Allah (baca: bersedekah). Sesiapa yang bersedia memberi, Allah menyediakan penggantinya; yang lebih banyak, yang lebih baik. Sayang, tidak semua orang berani menerima tantangan-Nya, dan karenanya pula tidak semua bisa menikmati janji Allah.
Juga dalam hal tantangan shalat. Allah tunggu kita di penghujung malam. Sesiapa yang bisa bangun malam, Allah janjikan perubahan derajat, naik ke derajat yang lebih tinggi. Sayang juga, tidak semua orang tahu lalu bersedia bangun malam. Sebagaimana tidak semua orang tahu tentang sedekah lalu berani bersedekah. Khususnya sedekah yang terbaik.
Petugas keamanan yang kita angkat kisahnya sebagai ''orang-orang yang berubah bersama Allah,'' menerima tantangan ini. Di tulisan yang terdahulu, saya membacakan ayat-ayat Allah padanya; ayat-ayat tentang shalat dan sedekah.
Subhanallah, sekuriti ini menyambut tantangan tersebut. ''Innamal mu'minuunal ladziina idzaa dzukirallaahu wajilat quluubuhum'', sesungguhnya mereka yang beriman ialah yang ketika diingatkan akan ayat-ayat Allah bergetar hatinya.''
Maka, ia siap kasbon gaji bulan depan dan disedekahkan. Dia tidak pasrah pada janji Allah, tapi yakin pada janji itu.
Shalatnya juga dibenahi. Ia menjaga supaya shalat dilakukan berjamaah, ada qabliyah ba'diyah, dan sebisa mungkin melakukan duha, tahajud, dan witir. Saya menambahkan satu hadis, ''Awtiruu, witirlah kalian fa-illam tawtiruu, barang siapa yang tidak witir, falaisan minnii, maka ia bukan dari golonganku.'' (Muttafaq 'Alaih).
Pembaca Republika yang dirahmati Allah, insya Allah kita akan menemukan jawaban ''Berubah Bersama Allah'' ini pekan depan. Kita akan menemukan jawaban bahwa janji Allah itu benar adanya.

Tuesday, August 12, 2008

Muslim Paripurna

'Nyontek' dari kolom Hikmah - Republika

oleh : Lukman Hakim

Nabi Muhammad SAW telah bersabda, ''Bila anak Adam meninggal, terputus (pahalanya) dan amalnya kecuali tiga hal, yaitu amal jariyah, ilmu yang bermanfaat, serta anak yang shaleh dan mendoakannya.'' (HR Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Nasa'i, dan Ahmad).

Hidup hanya sekali, hiduplah yang berarti. Ungkapan ini dapat menjadi penyemangat hidup bagi setiap manusia. Untuk mencapai hidup yang berguna, berarti harus memiliki kualitas hidup yang mapan. Orang yang menjalani hidup berkualitas adalah mereka yang memiliki derajat kemuliaan, yakni orang yang memiliki tingkat ketakwaan yang tinggi kepada Allah SWT, melintasi usia, profesi, jabatan, keturunan, dan seterusnya. (Lihat QS Alhujurat (49): 13).

Dunia adalah jalan menuju akhirat; yakni sebuah tujuan akhir bagi kehidupan manusia. Bagi seorang Muslim, untuk menjadi orang yang berkualitas harus memadukan dua kehidupan ini (dunia dan akhirat).
Berdasarkan hadis di atas, terdapat tiga komponen utama yang harus dimiliki seorang Muslim, yakni aspek finansial (amal jariyah), aspek intelektual (ilmu yang bermanfaat), dan aspek spiritual (yang direpresentasikan oleh anak shaleh). Ketiga hal tersebut adalah simbol keberhasilan bagi seorang Muslim paripurna.

Setiap Muslim dianjurkan untuk mengombinasikan ketiga-tiganya dan tidak ada keharusan memilah ataupun memilih salah satu dari ketiganya. Menjadi intelek tidak harus lemah dalam hal spiritual dan finansial. Menjadi ahli ibadah tentu pula harus kuat intelektual dan finansial. Begitu pula menjadi orang kaya, harus intelek, dan ahli beribadah.

Dalam hadis lain disebutkan, ''Sesungguhnya dunia itu diperuntukkan untuk empat orang, yaitu (1) Seorang hamba yang dikaruniai oleh Allah rezeki dan ilmu, tetapi dia bertakwa kepada-Nya dan baik hubungannya dengan manusia serta mengetahui hak Allah dalam hartanya. Maka, orang ini merupakan kelompok manusia yang paling utama; (2) Orang yang diberi ilmu saja, tapi tidak diberi harta (yang banyak). Tetapi, dia mempunyai niat yang baik. Dia mengatakan, 'Seandainya aku mempunyai harta, pasti aku akan menggunakannya seperti yang dilakukan oleh si anu, maka dengan niat yang bagus itu keduanya sama dalam besar pahalanya; (3) Manusia yang diberi harta, tapi tidak diberi ilmu. Dia pergunakan hartanya semaunya tanpa ilmu.

Dia tidak bertakwa kepada Tuhan-Nya dan tidak baik hubungannya dengan sesamanya. Serta, tidak mengetahui dan tidak memenuhi hak Allah, maka orang seperti ini adalah manusia yang paling buruk kedudukannya. Dan, (4) Orang yang tidak diberi rezeki dan tidak pula diberi ilmu. Dia mengatakan, 'Jika aku mempunyai harta yang banyak, pasti aku akan melakukan seperti yang dilakukan oleh si anu, dengan niatnya seperti itu, kedua orang (terakhir) ini dosanya sama.'' (HR Ahmad).

Begitulah salah satu tuntunan Islam, agama yang menjadi rahmat bagi seluruh alam.

Saturday, August 09, 2008

Belajar dari Al Kindi

oleh Lina M

(Kali ini, copy-paste dari Republika.or.id, edisi Jumat, 08-08-08)

Dalam buku kecilnya yang berjudul Fi Al Hilah li Daf'i Al Ahzan (Kiat Melawan Kesedihan), Al Kindi mendefinisikan kesedihan sebagai gangguan psikis (neurosis) yang terjadi karena kehilangan hal-hal yang dicintai dan sangat diinginkan.

Orang yang menjadikan kecintaan dan keinginan yang bersifat indriawi, maka ia akan menjadi sedih jika kecintaan dan keinginan yang bersifat indriawi itu hancur, hilang, atau musnah. Termasuk, dalam hal itu adalah kecintaan akan kekasih, orang tua, anak, keluarga, warisan, harta benda, jabatan, dan sebagainya.

Manusia akan selalu mengalami kehilangan sesuatu yang dicintainya. Oleh karena itu, kita tidak boleh bersedih karena kehilangan sesuatu atau kehilangan yang kita cintai. Sebaliknya, kita harus membiasakan diri dengan kebiasaan yang mulia dan rela terhadap segala keadaan agar selalu bahagia.

Karena, kesedihan adalah gangguan psikis. Maka, kita harus mencegah gangguan psikis ini sebagaimana kita mencegah gangguan fisik. Menurut Al Kindi, menyembuhkan gangguan psikis lebih penting karena kita memiliki jiwa, sedangkan fisik hanyalah alat bagi jiwa. Tindakan fisik menjadi suci karena tindakan jiwa. Maka, intinya lebih baik memperbaiki jati diri kita dibanding memperbaiki alat (fisik) kita.

Kemudian, ia mengatakan, ''Kita harus sabar dalam memperbaiki diri melebihi kesabaran kita dalam menyembuhkan gangguan fisik.'' Apalagi, penyembuhan jiwa lebih ringan dari segi biaya dan ketidaknyamanan dibanding gangguan fisik. Perbaikan diri hanya dapat dilakukan dengan kekuatan tekad atas orang yang memperbaiki diri kita, bukan dengan obat yang diminum, bukan dengan deraan besi ataupun api, bukan pula dengan uang. Tetapi, lakukan dengan disiplin diri dan kebiasaan yang terpuji dari hal-hal kecil dan sepele. Kemudian, meningkat pada tahap pembiasaan pada hal-hal yang lebih besar.

Sesungguhnya, manusia cenderung ingin memiliki banyak hal yang tidak primer dalam menegakkan jati dirinya dan kebaikan hidupnya. Semua itu membuatnya menderita dalam mencarinya, bersedih karena kehilangannya, dan menyesal karena berlalunya.

Padahal, apa yang kita klaim sebagai 'milik' adalah titipan Allah dan Allah bisa mengambil titipan itu kapan saja jika Dia mau. Kita tidak boleh bersedih karena kehilangannya. Mahabenar firman Allah SWT dalam surat Albaqarah (2) ayat 155-156, ''Dan, sesungguhnya akan Kami beri cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan, berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji'uun (sesungguhnya kita itu milik Allah dan kepada Allah-lah kita kembali).''

Salah Satunya... Kok Jadi Banyak.