Showing posts with label cerita biasa. Show all posts
Showing posts with label cerita biasa. Show all posts

Saturday, May 16, 2026

Bukan Hari Biasa

Kamis, 7 Mei 2026 siang, sekira pukul 14.30 (aku tak ingat persisnya)

Mobil putih di depanku mendadak berhenti. Aku pun refleks menginjak pedal rem sedalam dan secepat yang kubisa. Baruuu saja bernapas lega karena rasanya masih cukup celah antara mobilku dengan mobil di depan, eh tiba-tiba sebuah benturan, lalu benturan kedua, mendorongku ke depan, menghantam mobil di depanku. Euh... ini mah depan belakang kena dong. Kami yang sedang berada di lajur kanan jalan tol Padaleunyi arah Padalarang saling berpandangan melalui kaca spion lalu sepakat menepikan kendaraan.

Empat kendaraan -seharusnya 5 siih- terlibat dalam insiden tabrakan beruntun siang itu. Setelah menepi sesuai urutan, kami pun keluar dari kendaraan masing-masing, saling mengecek keadaan dan kerusakan yang terjadi. Mobil Xenia yang menghantam Ayla-ku dari belakang tampak mengucurkan air mata eh... air radiator. Kendaraan di belakangnya pun, sebuah Expander hitam yang gagah, tampak tak berdaya karena mimisan (halaahhh... bukan dong). Radiatornya juga kena. Mobil Ayla-ku yang persis di tengah-tengah bonyok bagian bagasinya. Kap depan pun tampak agak mencuat sedikit karena menghantam mobil Freed putih di depanku.

Kondisi pintu bagasi mobil.

Semua pengemudi keluar dan saling mengecek, baik kondisi mobil maupun penumpang di tiap kendaraan. Alhamdulillah, semua pengemudi maupun penumpang, sehat selamat tak kurang suatu apa. Kami pun mulai menelepon sana-sini, baik keluarga, agen asuransi mungkin, perusahaan tempat bekerja, bengkel langganan atau siapapun juga. Aku sendiri menelepon kakak ipar, melaporkan kejadian. Setelah laporan pandangan mata sekilas, plus mengirimkan foto kendaraanku yang penyok, dia cuma bilang akan menghubungi bengkel langganan untuk booking slot waktu agar mobilku bisa masuk dan segera direparasi.

Ketika kami masih belum tuntas bertelepon, menunggu sama-sama luang untuk rembukan, sekalian menunggu petugas datang, aku mengirim pesan whatsapp kepada radio PR FM yang siarannya biasa kudengar dari radio mobil. Update kondisi lalu lintas dan cuaca dari penyiarnya biasa menemaniku di perjalanan. Kali ini aku dikontak untuk mengudara, melaporkan situasi dari TKP. Gini amat ya mau 'masuk radio'. Padahal ini lutut masih lemes lhooo. Demikianlah sekilas laporan pandangan mata dari TKP di km 134 Padaleunyi.

Rembukan dan Kesepakatan Bersama

Kami berempat saling berbagi nomor kontak. Selain 'berkenalan' dengan sesama pengemudi, penumpang pun ikut turun dan berbaur bersama kami di bahu jalan. Ada pasangan muda di mobil Freed yang sebetulnya sedang dalam perjalanan untuk menjemput anak-anaknya dari sekolah. Tugas bisa didelegasikan kepada kakek yang sigap menjemput cucu. Di belakangku, dia berkoordinasi dengan kantor karena memang sedang dalam perjalanan dinas menuju tempat kerja setelah tugas luar. Sementara di paling belakang, kulihat ada anak kecil berumur sekitar 8 tahun beserta ibunya yang sedang hamil 7 bulan. Subhanallah... sehat-sehat ya bunda dan nanda. Alhamdulillah kami semua tak kurang suatu apa. Semua saling sepakat bahwa ini adalah takdir Allah yang tak terhindarkan.

Petugas jalan tol akhirnya datang. Mereka menanyakan kronologi kejadian. Sebuah mobil box memperlambat kendaraan secara mendadak, yang menjadi penyebab awal tabrakan beruntun. Sayangnya, pengemudinya tidak menyempatkan berhenti namun langsung saja melanjutkan perjalanan sehingga tak bisa dimintai keterangan. Tak berapa lama kenudian polisi pun datang dan meminta kami untuk keluar di gerbang tol terdekat, Pasirkoja, untuk merembukkan langkah dan kesepakatan selanjutnya. Baiklah... 

Malah wefie di kantor Jasa Marga

Sampai di kantor Jasa Marga, kami tak berpanjang kata. Kesepakatan untuk saling menanggung perbaikan secara mandiri sudah diambil sejak kami berbincang di tepi jalan tol. Semua berkepala dingin, tak ada yang saling menyalahkan, sepakat bahwa ini adalah qadarullah. Kami semua sehat selamat saja sudah suatu kasih sayang dari Allah. Biaya perbaikan mobil bisa dicari, tapi nyawa tentu tak bisa diganti. Perbincangan berlangsung damai dalam suasana kekeluargaan. Aku sempatkan untuk foto bersama ya. ;)

Pagi harinya

Kukira ini hari biasa saja, seperti hari Kamis lainnya. Ada beberapa jadwal rutin dan tidak rutin.

Sempat mau menjadwalkan pergi ke bengkel untuk mengganti lampu kiri depan si Silvie karena satu bola lampunya mati. Belum kujadwalkan karena kupikir masih bisa besok lagi. Hari ini ada jadwal rutin yang biasa kuikuti.

Ngabreng, bukan ngabring alias ngaji bareng (Kalau ngabring, ngaji baring dong :p) jam 9-an sampai jam 10.30-an di masjid komplek. Aku maju-mundur untuk berangkat karena ada janji dengan Pak Nana yang mau bantu beberes taman depan yang sudah menghutan.

Menunggu-nunggu Pak Nana, tak datang-datang. Katanya sih dia sudah mengetuk pintu rumahku 2 kali, tapi aku nggak dengar ya karena sedang di dapur. Daun pintu rumahku cukup tebal dan solid. Mengetuknya malah terasa meredam suara ketukan, jadi wajar saja kalau aku yang sedang ada di bagian belakang rumah tak mendengar ketukan di pintu depan.

Satu agenda lain di luar jadwal adalah niat mau jenguk tetangga yang baru pulang dari RS pasca operasi mata ikan. Eh ternyata ybs sudah masuk kerja jadi kalaupun mau jenguk, mungkin baru bisa jam 3-an, sedangkan biasanya jam segitu aku sudah harus ada di KBP untuk jadwal rutin mengajar privat sesi pertama. 

Kalau... (bukan berandai-andai juga sih, sebetulnya) aku jenguk tetangga dulu lalu baru pergi selepas asar, apakah aku akan terhindar dari insiden accident di km 134 itu? Hmm... bisa jadi. Tapi tak menutup kemungkinan ada hal lebih 'tak biasa' yang terjadi di hari itu. Jadi... aku bersyukur saja bahwa Allah melibatkanku di kecelakaan tabrak beruntun yang cenderung ringan di hari itu. Kalaulah Silvie harus 'diopname' dulu sementara waktu, yang mengakibatkan terkurasnya tabunganku, toh Allah juga yang akan membukakan pintu rejeki yang lain bagiku. Aku sehat walafiat tak kurang suatu apa pun sudah suatu rejeki yang sangat patut disyukuri. Alhamdulillah... ya Allah. Selanjutnya tinggal giatkan usaha dan kencangkan doa supaya rejekinya mengucur lagi untuk mengganti 'biaya pengobatan Silvie'. Sehat-sehat terus ya setelah ini.

Tadinya nggak ada ide untuk menulis Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog di bulan Mei ini, tapi setelah ada kejadian ini, HARUS kali ya dijadikan blog posting. :p

Saturday, January 17, 2009

Pelangi Pagi

Pekan lalu, senin pagi, saat tergesa dalam perjalanan ke sekolah, kulihat sisa pelangi, bersanding dengan matahari yang mulai memanjat langit pagi. Tinggal sebaris samar ketika kutangkap dengan kameraku. Tak begitu jelas, memang, tapi untukku, tetap membawa semangat warna-warni di hari pertama pekan itu.

Thursday, June 12, 2008

忙しいの一日 = Hari Sibukku

Selasa adalah hari yang sibuk buatku.
Diawali dengan bergulirnya rencana Sport's Day bersama murid-murid sekolahku. Kita menyelenggarakan Learning Journey ke area SORGA (Sarana Olah Raga Sabuga). Mengumpulkan semua anak (untungnya belum banyak) di satu area luas, wah... sorga dunia deh buat mereka. Bisa berlari, melompat, bergulingan, sampai berenang-renang. Apa nggak asyik tuh...? Guru-gurunya aja yang harus pasang mata mengawasi ke mana mereka berlarian.
Selesai di arena olah raga Sabuga, kita pindah ke Dome Sabuga, mau nonton film 3 dimensi tentang "Season" di bioskop berkubah bulat di dalam Dome Sabuga. Asyik juga. Walaupun tidak ada efek gerak, tapi kurasa cukup menghibur dan sangat informatif. Buat gurunya sih seru... buat muridnya? Belum tentu deh. Hehehe... Usai nonton film, kita menjelajah wahana iptek di sana. Asyik juga. Mirip dengan yang ada di Puspa Iptek Sundial KBP, tapi beberapa alatnya rata-rata lebih besar daripada yang ada di sana. Anak-anak having fun mencoba berbagai alat di sana. Gurunya juga. Hehehe... ;)
Selesai nonton, makan bersama. Aku kebagian jadi petugas distributor jatah makan siang. Dilanjut dengan shalat dan review kegiatan. Hujan turun. Kita duduk mepet-mepet ke pinggiran gedung. Untungnya, pas jadwal pulang, hujan sudah reda. Aku termasuk kelompok terakhir yang ninggalin Sabuga, nunggu sampai anak terakhir dijemput ortunya.
Setelah itu, bareng Erlin pergi ke Balubur. Mesti belanja buat keperluan Art & Culture Day keesokan harinya. Banyak konfirmasi ke sekolah dan BSB (buat acara besoknya...), baterai HP-ku drop sampai titik terendah. Padahal, setelah itu aku masih punya rencana ketemu teman di MTC, lagi-lagi menengok Bandung Orchid Festival di sana.
Janjian lepas ashar, sempat juga dong menyusuri area pameran bunga yang rutin diselenggarakan di sana. Nggak banyak tanya dan tawar-tawar harga, aku beli sepasang mawar batik dan sepasang anggrek bulan mini. Oleh-oleh buat ibuku.
Lepas dari area pameran bunga, kita masih menyempatkan ngobrol panjang lebar... seru-lah, jadi ajang curhat timbal-balik. Betul-betul satu hari yang sibuk buatku. Tapi seru-lah. Kapan-kapan, harus kita lakukan lagi. ;)

Friday, June 06, 2008

Sapaan dari SPBU

Pagi tadi aku antri mengisi bensin di SPBU langganan di dekat rumah. Petugas SPBU ramah menyapa. Membukakan tutup tangki bensin dan berkomentar, "Mobilnya ganti ya bu?" Eh??? Dia rupanya memperhatikan juga. Dari sekian banyak pengunjung SPBU, ternyata dia hafal juga dengan kendaraan yang biasa kubawa. Personal touch seperti ini, membuat hari para pemakai jasa SPBU jadi agak 'bersinar' sedikit.
Itu juga yang mbikin aku kadang-kadang menyapa para penjaga tol. Cuma mengingatkan papan nama yang belum terpasang, misalnya, atau sekedar mengucap selamat pagi atau salaam. Nggak kebayang deh betapa membosankannya pekerjaan mereka. Hanya mengambil dan memberikan kartu tol kepada para pengemudi yang lewat, atau menerima uang dan memberi kembalian setiap harinya. Sapaan kecil dari para pengguna jalan mungkin akan sedikit memberi warna berbeda dalam rutinitas pekerjaan mereka.

Saturday, May 31, 2008

Reuni 'Alumni' Salman Al Farisi

Sebuah panggilan telefon menjelang tengah malam mengganggu konsentrasiku di depan PC ketika aku sedang asyik menekurinya. Sebuah nomor tak kukenal muncul di layar ponselku. Kupijit tombol terima panggilan dan mulai ber-hallo. Terdengar sapaan salam dari seberang, suara seorang perempuan yang ceria. "Wa'alaikum salaam..." balasku. Perbincangan kemudian berlanjut. Penelefon itu ternyata bu Ismi, rekan guru di Salman dulu yang kini asyik aja jadi 'ibu kos' para bebek dan ayam di Padang sono.
Saat itu dia sedang di bis, dalam perjalanan ke rumah teman. Dia bilang, mumpung di Bandung nih, pengenlah ketemuan dengan teman-teman lain. Maka disusunlah rencana untuk mengumpulkan para 'alumni' Salman, dan kita janjian ketemu di satu tempat, lengkap dengan rencana tukar kado segala.
Hari Minggu, 18 Mei lalu, bertemulah 6 orang lajangsters di sebuah tempat makan di seputaran Dago. Sejak sebelum order makanan, meja kita sudah meriah dengan haha-hihi, saling tukar cerita seru. Bu Ismi bawa cerita paling banyak, tentang si Ucok, si Tungteng, si Soleh dan kawan-kawannya (jangan salah, itu nama ayam dan itiknya semata). Dia juga bawa rekaman suara itik-itiknya ketika sedang diangon, mungkin dia jadiin ringtone. Juga cerita perkembangbiakan ayam dan itiknya yang akhirnya tak tega untuk dia jual. Ibu & abahnya 'mengancam', kalau dia kelamaan di Bandung, jangan salahkan mereka kalau ayam dan itiknya dijual. Habis, kalau nggak ada dia , siapa yang ngurusin? Daripada repot ngurusin, mendingan dijual kan? ;)
Yang sarjana peternakan aja kalah lho sama dia. Bu Intan yang kebetulan sedang di Bandung ikutan ngumpul, tapi nggak banyak cerita. Dia lebih banyak jadi pendengar, penganalisa dan tim haha-hihi.
Bu Umi yang pendiam jadi ada saingan nih. Menjelang keberangkatannya ke Inggris untuk kursus bahasa selama 5 minggu, dia nggak banyak cerita juga. 'Defaultnya' emang udah seperti itu sih... dari sononya. Udah bawaan orok. Hehe...
Sementara itu, bu Tia dan bu Tika juga bawa kabar tak kalah seru. Kalau mereka sih bawa kabar dari Salman. Seru-biru berbagai aktivitas dengan guru dan murid. Mereka sih masih aktif mengajar di Salman. Mereka ini calon alumni Salman. :p
Aku menyempatkan bawa kamera dan foto-foto bersama, mengabadikan sepenggal memori persahabatan abadi antara kita, biar jadi kenangan manis buat anak cucu (halah!!! suami aja belum pada punya kok. Haha...!) Tak terasa, dua jam lebih kita berbincang. Berat rasanya untuk berpisah. Orang-orang datang dan pergi, sementara kita berenam masih asyik aja berhaha-hihi. Waiter dan waitress bolak-balik di sekitar meja kita, ngambilin piring kosong dan menanti kepulangan kita (kali ya...) Ya udah, kita minta salah seorang waiter untuk mengambil foto kita berenam. Kita jadwalkan lagi ya pertemuan di kesempatan mendatang. Mungkin di acara walimahannya siapa... atuh. ;)

Wednesday, May 28, 2008

Salman Members

Kemarin ketemu Rafil dan Ayyas dengan ibu mereka di FoodCourt favoritku. Rafil dan Ayyas sempat jadi muridku ketika di Salman dulu. Rafil sekarang sudah SMA, sedangkan Ayyas mau naik kelas 6. Mereka duduk nyaris berseberangan denganku, dan memesan yoghurt yang persis sama dengan yang juga kupesan. Aku pesan nasi gudeg dan yoghurt peach (padanan makanan yang nggak biasa sih... nggak matching malah. Tapi biar aja ah, maksa, soalnya dua-duanya enak.) Duduk di tempat favoritku, sambil baca bacaan favoritku juga (nggak boleh disebutin di sini, karena nanti disangka beriklan. Hehe...)
Ngomong-ngomong soal ketemu 'member' Salman, hari sebelumnya juga aku ketemu dengan beberapa orangtua murid (plus muridnya) di tempat lain. 3 keluarga sekaligus!! Yang pertama ketemu Dilla & Diko yang datang bareng ortu mereka. Saling menyapa tapi tentu saja duduk terpisah. Berikutnya, Ketemu mamanya Hafizh & Naufal. Berbincang juga sedikit dengannya. Setelah itu, ketemu ortunya Naufal (yang lain lagi), yang sebetulnya tinggal di Kota Baru Parahyangan. Ketemunya di Bandung. Firas (si adek) menyalamiku dengan semangat. Kalau tidak salah, dia sekarang di kelas 2. Aku sempat mengajar bahasa Inggris di kelasnya ketika dia masih kelas 1.
Waduuh... beberan deh, jadi kangen mereka. Ingin ketemu lagi dengan 'member' Salman yang lainnya. Hubungan yang hangat sesama teman, akrab dengan murid, juga orang tua mereka, wah... kuanggap sebagai privilege yang masih kucari di tempat kerjaku yang baru. Tentu saja ada (beberapa) teman yang sangat... sangat baik kutemui di sini, tapi mungkin standarku terlalu tinggi ya, ingin segera menyamakan dengan Salman yang sudah berumur 19 tahun, mantap dan 'steady' (kelihatannya. Hehe...). Ya, nggak perlu membandingkan deh. Kita yang baru setahun berjalan, kalau diibaratkan manusia, tentu layaknya seperti bayi yang baru mulai berjalan, tertatih. Sementara Salman mungkin sudah jadi 'anak kuliahan' yang sudah pandai berpikir logis dan taktis. Kalau kita seumur itu, mungkin kita akan jadi mitra setara (nggak perlu lebih baik, karena standar mutu sekolah -menurut pendapatku- seharusnya sama baiknya) dengan sekolah-sekolah lainnya. Insya Allah.

Saturday, May 03, 2008

Luppaa...!

Sore kemarin, ngobrol dan makan-makan bareng "Power Puff Girls" di Bale Pare (gaya aamat ya...? padahal duit lagi cekak.) Seru! Bincang-bincang ini-itu, sana-sini. Membicarakan kondisi di tempat kerja. Seru. Panas. Penuh semangat. Serasa belum tuntas, tapi kita harus bergegas pulang. Ada satu "Power Puff Girl" yang sudah ditungu anaknya (sementara 2 yang lain masih lajangster, dan satu lagi belum punya baby). Tapi toleransilah... maka bubarlah kita sebelum malam terlalu matang.
Di benakku masih berjejal pikiran tentang hal-hal yang tadi dibahas. Menembus kesibukan lalu lintas Bandung di ruas jalan regular (bukan tol), terhenti cukup lama di perempatan By-Pass. Huuh... males banget deh. Masa sampai 4 kali lampu lalu lintas berganti merah, aku baru bisa nembus perlintasan itu? Yang bener aja. Pikirku, akan asyik banget kalau bisa cepat pulang, sampai rumah, dan langsung rebahan. Ah... Nikmat kayaknya.
Sampai rumah, ketika kubuka gerbang garasi, kupikir ibu akan 'heran' melihat anaknya sudah pulang sebelum jam 9. Eh??? Tapi... ibu kayaknya juga belum nyampe rumah deh. Hm... Rasanya aku harus njemput ibu di rumah kakak. HA??? Kupastikan. Nelfon teh Trini deh, dan... ya, ibu nungguin aku datang njemput. Haha...! Kututup lagi pintu garasi, putar mobil, balik lagi untuk njemput ibu. Walah... gara-gara lupa, niat istirahat cepat malah jadi tertunda lebih lama lagi. Hihi...!

Sunday, April 13, 2008

Bandung Orchid Festival (juga)

Hari terakhir pameran anggrek bulanan yang biasa diselenggarakan di MTC. Bulan ini nggak pergi ke Bandung Orchid Festival. Takut tergiur. Hihi... Soalnya, selalu ada koleksi baru yang dipajang di sana, selalu juga tergoda. Hah, dasar perempuan tak tahan godaan. :p
Bulan lalu pergi ke sana. Hujan-hujan. Jam 3-an nyampe area MTC, hujan sudah mulai turun, tapi kita nekat aja berhujan-hujan menyusuri stand pameran satu demi satu untuk melihat-lihat bunga yang cantik-cantik. Di satu-dua stand, mampir lebih teliti untuk 'sekedar bertanya', tapi akhirnya memutuskan beli juga beberapa pohon yang sedang berbunga. Salah satunya, Anggrek totol varian baru. きれいでしょう...? Dapat juga dua pohon anggrek lainnya, nggak kalah cantik.Pulang dari sana, basah kuyup, tapi puas karena sudah melewatkan sore untuk mengagumi karya cipta Sang Maha yang sungguh tak terbatas. 'Memiliki' satu-dua bunga ciptaan-Nya membuatku semakin merasa kecil, karena manusia juga sungguh hanya satu makhluk-Nya saja. Juga menyadari betapa mahalnya makhluk ciptaan Allah itu 'dihargai'. Tak kan sanggup kita, manusia, membayar kenikmatan yang Allah pinjamkan pada kita saat ini. Fabi ayyi aalaa-i Rabbikumaa tukadzdzibaan.

Tuesday, April 01, 2008

Berkendaraan Umum

Mulai hari Selasa lalu, aku berkendaraan umum ke sekolah. Kata bu Erlin, naik angkot dulu sampai PTT lalu disambung dengan bis kota jurusan Kota Baru Parahyangan. Berarti cuma sekali ganti kendaraan, aku bisa langsung nyampe sekolah. Perjalanan panjang, tapi relatif nyaman-lah. Hari pertama, bareng Erlin, naik bis pertama yang datang terlambat. Nggak biasanya, jam 6.20-an baru lewat di PTT. Tapi alhamdulillah, nyampe sekolah masih 15 menit-an sebelum bel sekolah berbunyi. Hari kedua, aku kecewa berat...! Turun dari angkot, bisa kulihat bis kota baru masih di seberang jalan, tapi tentu dia tak bisa menungguku. Terpaksalah menunggu bis berikutnya. 20 menit... 30 menit... 40 menit...!!! Aku mulai putus asa. Kirim-kirim sms ke (hampir) semua orang di sekolah. Membunuh waktu. Ngabisin pulsa banget ya. Tapi akhirnya bis itu datang juga... membawaku hingga sekolah. Namun tak ayal, aku sudah kadung terlambat. Apa boleh buat. Hari ketiga, aku berangkat sendiri. Sang kondektur menyapa, "Nggak bareng dengan ibu yang berkacamata, bu (bu Erlin, maksudnya)" Wah... rupanya dia sudah terkenal di seantero jagad bis kota baru ;). Mungkin karena penumpangnya relatif sedikit, kondektur dan sopir bis hafal dengan kebiasaan penumpangnya. Ada 2 orang di Alun-alun, ada 4 orang di Pasteur, dsb dsb. Hehe... Pulang sekolah jadi lebih cepat dari biasanya gara-gara ngejar jadwal bis kota. Tetap aja yang bikin sebel ketika harus terjebak macet berkendaraan umum. Kalau di bis kota sih bisa manfaatin waktu dengan membaca atau tidur. Wah, suatu kenikmatan yang tak bisa kudapat jika menyetir kendaraan sendiri. Dalam suatu perjalanan pulang, pernah juga aku disuruh pindah ke kendaraan lain gara-gara aku cuma satu-satunya penumpang di kendaraannya. Hm... salahnya sendiri dong mau langsung jalan aja ketika aku naik di Kebun Kelapa, padahal aku nggak keberatan kalau si sopir mau menunggu penumpang beberapa waktu. Tapi ya... itulah dinamika berkendaraan umum. Dinikmati saja. ;)

Monday, March 24, 2008

One Day Trial by Bike

Hari Sabtu lalu, setelah tak ber-Kijang lagi, aku coba pinjam motor kakak dan menjajal jalanan Bandung (rute Cimahi) ke sekolahku di Padalarang. Jauh juga. Aku tahu. Sempat ragu ketika bingung menentukan rute perjalanan. Asli, nggak tahu!!! Tapi pikir punya pikir, akhirnya aku nekat juga bermotor-ria.
Menyusuri jalan panjang Soekarno-Hatta alias ByPass tea, mataku awas melihat rambu penunjuk jalan. Arah Cimahi! Arah Padalarang! Nyantai saja kupacu Mio kakakku menuju arah Padalarang. No rush. Nyampe sekolah sebelum jam 8. Bisa dibilang tepat waktu, karena hari Sabtu begini jam kerja kita memang 'normalnya' ya... jam 8. Ini berarti waktu tempuhku dari rumah kakak di GBA ke KBP sekitar 1,5 jam. Not bad...
Pulang dari sekolah, agak sorean. Jam 5-an dari sekolah. Langit sudah mulai mendung sih, tapi hujan baru turun setelah aku separuh jalan. Sudah nggak bisa mundur lagi. Sudah tanggung, aku harus maju terus! Jaket kulitku cukup melindungi badan dari percikan air hujan. Tapi celana panjangku basah kuyup. Malu juga ketika mampir sebentar di pom bensin untuk mengisi tangki Mio kakakku. Mau diisi berapa? Walah... Berapa ya kapasitas tangki motor matic itu? 10 ribu deh. Alhamdulillah, pas! Nggak terlalu sedikit, dan nggak sampai meluap juga.
Sampai kembali di GBA jam setengah 7-an. Betul-betul 1,5 jam waktu yang kuperlukan menempuh perjalanan Bandung-Padalarang. Langsung mandi dan ganti baju kering. Siap-siap, hari Senin aku pinjam motor lagi. ;)

Monday, February 18, 2008

Wisata Senam Lansia (atau Wisata Belanja?)

Hari Minggu kemarin, aku menemani ibu berwisata bersama teman-teman senam lansia dari RS Al Ihsan, tempat ibu biasa senam setiap minggu pagi. Tujuan wisata, nggak tanggung-tanggung, 3 tempat sehari jalan. Taman Buah Mekarsari, Kampung Cina Kota Wisata Cibubur, dan masjid kubah emas yang memang sedang terkenal saat ini.
Bada subuh, kami bertolak dari rumah menuju area rumah sakit tempat berkumpul semua anggota rombongan. Aku dan ibu termasuk dalam rombongan di bus 7 dari 9 bus yang berangkat beriringan. Masa mengabsen jadi acara rutin yang penting tapi jadi lucu karena beberapa kekeliruan yang terjadi berulang-ulang. 'Ibu' Yeye, protes karena beliau adalah 'pak' Yeye. Sebaliknya, 'pak' Luki juga protes berkali-kali karena sebetulnya dia adalah istri dari pak Maman. Berkali-kali ibu Luki melayangkan protes karena lagi-lagi dipanggil 'pak' Luki.
Sampai di taman buah Mekarsari, siang sudah menjelang. Maka acara makan siang jadi prioritas pertama yang didahulukan, dilanjut dengan jalan-jalan keliling taman buah dengan kereta gandeng. Sayangnya, kami tak bisa berhenti di kebun tertentu untuk sekedar melihat-lihat ataupun berbelanja. Kebetulan di hari itu ada kunjungan beberapa dubes negara tetangga ke taman buah Mekarsari, untuk mendukung promosi Visit Indonesia Year tahun ini, jadi pengunjung yang lain tak bisa leluasa menyusuri area taman wisata itu. Sayang ya...
Jam 1 lewat, rombongan bus kami bergerak lagi. Kali ini menuju Kota Wisata Cibubur, untuk mengunjungi Kampung Cina. Kali ini tak lain dan tak bukan, pasti tujuannya belanja. Haha...! Ibu membelikan piyama bernuansa Cina untuk ketiga keponakanku yang ada di Bandung. Sedangkan aku, walaupun mencari ke hampir semua gerai toko di sana, tak kutemukan sandal rumah yang sesuai dengan seleraku. Yah... biarlah, itu toh bukan kepentingan yang mendesak. Jadinya memang nggak ngotot beli.
Selepas dari Cibubur, perjalanan berlanjut ke masjid kubah emas di bilangan Limo, Depok. Alhamdulillah, aku masih diberi kesempatan untuk mengunjungi masjid megah ini dari dekat. Subhanallah... betapa murah hati pemiliknya yang mengikhlaskan sebagian hartanya untuk kepentingan umat. Dikunjungi, banyak orang beribadah di dalamnya, berdoa dan mendekatkan diri pada Sang Pencipta Segala isi semesta. Indah, benar. Sayang, ketika kami tiba di sana, malam mulai menjelang, sehingga tak sempat kuabadikan keindahan kubah emas itu dalam cahaya siang. Namun keindahan bagian dalamnya pun tak kalah memukau. Tentu seharusnya, lebih indah lagi hati orang-orang yang beribadah di dalamnya. Sayang (lagi), banyak sekali pengunjung yang membuang sampah sembarangan, merusak keindahan rumah ibadah megah ini.

Wednesday, February 06, 2008

Reuni 'Alumni' Salman Al Farisi

Senin sore, usai mengerjakan berkas soal untuk siswa pindahan, aku angkat kaki untuk takziah ke rumah Ella. Dari Padalarang, melintas tol Pasteur, melewati jalan layang, njemput bu Dewi Telaphia dan anak bungsunya di Cikutra. Setelah itu, melintas Bandung ke daerah Pasir Koja, njemput Intan, sang navigator menuju rumah Ella. ;) Numpang shalat ashar di sana.
Perjalanan menuju rumah Ella di Bumi Asri, diisi dengan bincang-bincang nostalgia, juga bertukar cerita tentang apa yang sudah terjadi selama pisahan. Disambung di rumah Ella dengan perbincangan dan topik lain. Ternyata, baru kita sadari bahwa kita seolah reuni 'alumni' Salman Al Farisi. Intan berdinas di Purwakarta, aku di Padalarang, DT jadi ibu rumah tangga di Bandung, sementara Ella masih setia beraktivitas di Salman.
Bincang-bincang dengan Ella, jadi ajang untuk saling menguatkan. Ibunya bu Dewi juga ternyata baru meninggal dunia sekitar 2 bulan sebelumnya. Kita pun bercermin dari situ, bahwa umur betul-betul jadi rahasia Allah. Berbincang ini-itu ke sana ke mari, akhirnya menjelang maghrib kita tuntaskan. Harus pulang! Bu Dewi bawa anak kecil yang sudah waktunya tidur. Mohon maaf... cuma 'kuantar' sampai BMI Bubat. Dari sana, kita menunggu taksi yang akan membawa bu Dewi pulang. Lama juga, ternyata.
Aku masih bersama Intan beberapa waktu, melanjutkan cerita, untuk kemudian berpisah dan berjanji untuk bertemu lagi. Segera. Insya Allah.

Sunday, February 03, 2008

Bandung Orchid Festival 2

Ke pameran anggrek lagi di MTC. Kali ini nggak sebesar yang kita kunjungi November lalu. Menyusuri area pameran, aku 'jatuh cinta' pada anggrek berkantong yang memang belum ada dalam koleksi ibuku.
Sebelumnya, aku sudah membawa sepasang Euphorbia mini, buah tangan untuk ibuku. Menambah koleksi keluarga Euphorbia di 'taman' atas. Jadi ragu juga untuk membeli anggrek berkantong itu. Di stand yang satu, kulihat masih bersisa 2 pohon. Bunganya cantik sih, tapi daunnya terlihat tidak begitu sehat. Di stand berikutnya, 3 batang anggrek berkantong dengan warna ungu kehijauan (belakangan kutahu dia dari keluarga Paphiopedilum), terlihat cantik sekaligus 'gagah'. Bikin ngiler... bener! Akhirnya kuambil juga satu batang dengan satu bunga yang belum mekar sempurna, plus satu kuncup bunga baru. Belinya udah pake nawar, biarpun nggak ngotot. Aku nggak biasa sih, nawar 'pake urat'. Kasihan sama yang jualan. Hehe...
Di stand yang paling depan, setangkai anggrek Paphiopedilum berwarna kombinasi putih dan hijau terlihat begitu anggun, bertengger di meja pajangan yang disebut penjualnya dengan 'tanaman koleksi'. Iseng, kutanya harganya. Aku yakin, pasti mahal, dan tak boleh kaget ketika harga 250 ribu rupiah disebut. Beberapa tunas muda memang sudah mulai bermunculan. Beberapa bulan ke depan, bisa dipecah jadi tanaman baru yang punya harga sendiri. Tertarik sih... tapi saat ini "ilfil" kalau dengar harganya. Hehe...

Saturday, January 26, 2008

Rencana Seru di Hari Sabtu

Sejak malam tadi, mbak Indri sudah ‘meminangku’ untuk ikut ke Lembang. Departemen Math & Science mau survey ke Lembang untuk melihat pembibitan anggrek, pembuatan pupuk alami dan Parongpong untuk melihat proses pemanfaatan biogas. Mbak Indri bilang, dia sekalian mau membahas konsep guru kelas denganku dan Sofi yang sudah punya pengalaman tentang itu di sekolah kami sebelumnya. Aku sih mau-mau aja, tapi Departemenku punya jadwal dan agenda pertemuan sendiri kan...?

Pagi hari di sekolah, ketika aku baru saja mulai nge-set notebook-ku untuk mulai bekerja dengan berbagai dokumen yang harus diselesaikan, tahu-tahu ide untuk ‘pindah kerja’ ke lokasi lain di luar sekolah, muncul begitu saja. Semua departemen diajak untuk ikut serta ke Lembang dan Parongpong. Eh??? Dengan rencana dadakan begitu, dengan hampir seluruh sekolah ikut serta, akhirnya mobilku ikut ‘dikaryakan’, tentu saja dengan aku sebagai sopirnya. Yang tadinya ingin santai menumpang mobil siapa.... gitu, akhirnya malah jadi sopir full time!

Mulai jalan jam 9-an, kembali lagi ke sekolah (untuk mengambil notebook-ku yang kutinggal di sekolah) sekitar jam 3-an sore. Lumayan deh, serasa jadi sopir yang melayani rute luar kota. Alhamdulillah, mobil Kijang-ku ternyata kuat juga dibawa jalan-jalan dengan rute yang lumayan susah. Mestinya pakai kendaraan off-road tuh, apalagi ketika menuju lokasi pemanfaatan Biogas di Parongpong. Jalanan berbatu yang sama sekali tidak rata, ‘dihajar’ begitu saja oleh ban Kijang-ku. You are tough, buddy. I’m proud of you. ;)

Perjalanan yang lumayan bikin tegang, sebetulnya. Apalagi dalam perjalanan pulang. Membuntuti sebuah truk di jalan yang relatif kecil, jalanan menurun berkelok-kelok. Harus menahan rem dan kopling terus. Rem sempat agak los, nyaris saja mencium bagian belakang truk bergambar domba di depanku. Phew!!! Alhamdulillah, Allah masih menjaga kita semua, bertujuh di dalam kendaraan yang kubawa. Selamat kembali ke sekolah, dan selamat juga sampai di rumah, termasuk sepohon Anggrek Bulan totol yang kubawa sebagai buah tangan untuk ibuku. Mumpung berkunjung ke pembibitan bunga di Lembang tadi. Dengan harga yang relatif murah, bisa kudapat satu varian anggrek bulan lagi untuk menambah koleksi anggrek ibuku. Bunga yang ini sudah berbunga pula, ditambah satu tunas bunga baru yang akan segera muncul, wah... ibuku senang sekali. Biarpun aku sebetulnya ‘megap-megap’ di akhir bulan begini. Belum gajian, soalnya. Hihi... Tapi melihat ekspresi ibu yang begitu senang, I think it's worthy.

Sunday, January 06, 2008

Ke Nikahan Teman

2 orang rekan Irsyad menikah hari ini. Tidak di tempat yang sama, tapi (untungnya) di tempat yang berdekatan. Sejak kemarin aku sudah janjian dengan bu Tika untuk pergi bareng, nemenin ke dua tempat itu, supaya aku tidak ‘cengok’ sendiri, juga ada teman untuk lihat peta di perjalanan, tapi yang paling penting, tentu saja untuk saling bertukar cerita.

Kujemput bu Tika ke rumahnya, setelah itu berangkat menyusuri rute Soreang tembus ke Lanud Sulaiman. Niatnya mau ke nikahannya Pupung dulu, tapi sulit sekali menemukan janur yang tepat di jalur jalan Kopo Sayati yang di kanan-kirinya banyak sekali janur. Jalanan macet berat! Akhirnya hanya ikut arus dan memutuskan ke tempatnya Pury dulu. Toh dalam perjalanan pulang nanti kita akan menyusuri kembali jalan Kopo Sayati.

Di tempat Pury, ketemu teman-teman Irsyad yang 'manglingi'. Cantik-cantik...! Kalau dandan untuk ke pesta, memang hasilnya 'beda' ya. Teman-teman lain sekali dengan keseharian di sekolah. ;)

Setelah dari tempat Pury, aku dan bu Tika kembali menyusuri macetnya jalan Kopo untuk mencari janur yang tepat. Bolak-balik nginjak kopling, lumayan bikin pegel nih. Mata ditajam-tajamkan untuk melihat tanda janur yang tepat, ah... akhirnya dapat juga. Badan kegerahan, muka kepanasan di dalam mobil yang tak ber-AC, wah... penampilanku sudah mulai kacau balau nih. Masih boleh datang ke pesta nggak ya? hehe... ;)

Alhamdulillah, akhirnya sampai juga di tempat Pupung. Masih sempat makan-minum, kenyangnya di sini nih. Hehe... Di tempat Pury sebelumnya, sok ja-im banget deh, lagian tetamu masih ramai banget di sana. Sedangkan di tempat Pupung, walaupun sudah nggak banyak tamu yang datang, area pesta sudah lengang, tapi makanan masih berlimpah. Nyantai deh makan, bisa pilih tempat duduk, dan menikmati hidangan makan siang.

Hari ini, nyaris seharian bersama teman lama, bu Tika tea, berbagi cerita bersama. Mudah-mudahan pekan depan akan ketemu satu teman lama lagi. Udah kangen banget...!

Salah Satunya... Kok Jadi Banyak.