Tuesday, September 14, 2010

Depok, Sebuah Kota Dengan Tangan Terbuka

Lebaran lalu, kakakku dan anak-anaknya kembali berkunjung ke rumah kami di Bandung. Setiap tahun selalu begitu. Rutin dijalaninya. Transportasi Bandung-Depok saat ini, tidak sulit lagi. Jika dulu aku bolak-balik Bandung-Depok dengan bus harus ‘transit’ dulu di Bogor atau Kampung Rambutan, sekarang tidak lagi. Ada rute bus khusus Bandung-Depok yang kini sering kugunakan jika aku perlu berkunjung ke rumah kakak di Depok. Kakak dan keluarganya, lebih sering membawa kendaraan sendiri, dengan rute perjalanan yang nyaman melalui tol Cikunir, sambung menyambung hingga tol Padaleunyi. Sungguh perjalanan yang tidak lagi merepotkan.
Aku sendiri, belum pernah membawa kendaraan sendiri ke Depok. Kalaupun aku beberapa kali ada urusan di Jakarta, aku masih sering numpang menginap di rumah kakak yang terletak di Depok. Tapi kendaraan? Aku lebih suka memanfaatkan fasilitas angkutan umum saja deh. Sebagai sebuah kota satelit dari Jakarta, Depok memiliki akses yang makin lama makin mudah saja. Mulai ojek, angkutan umum, bus, hingga kereta api, semua mendapat tempat di Depok, walaupun keberadaannya tentu saja membuat lalu lintas di Depok, juga dari dan menuju Depok makin lama makin padat saja.
Kemacetan tak terhindarkan ada di mana-mana, sementara perilaku pengemudi juga tak jarang gila-gilaan, menerjang segala jalanan berlubang sesukanya saja. Belum lagi pengendara motor yang menyalip dari kanan dan kiri dengan lihainya. Wah… tak jarang aku ‘memuji’ mereka, tapi tentu saja was-was juga. Kalau aku yang mengendarai mobil di Depok, wah… alamat bakalan terjaga selalu. Alert! Tapi lama-lama mungkin jantungan juga, atau malah kebas dan mati rasa :p Sisi baiknya, kondisi itu membuat kita belajar sabar dan ikhlas, dan banyak-banyak berdzikir di dalam kendaraan. Sama sekali tidak jelek, bukan? Hikmahnya kita bisa cepat sampai tujuan, dan... makin dekat pada Tuhan sepanjangnya dzikir yang dirapal sepanjang jalan. Bukankah itu baik? ;)
Belasan tahun berlalu sejak pertama kali kakakku menetap di Depok. Saat ini kota itu sudah berkembang sangat pesat. Pusat perbelanjaan, jangan ditanya… banyak tersebar di seantero Depok. Mulai dari Tiptop, Depok Plaza, Depok Town Square hingga Margo City, semua bisa dicapai dengan akses yang begitu mudah. Gebyar potongan harga yang selalu ada, wah… membuat kita tak boleh sering-sering berkunjung ke sana jika ingin isi dompet tetap selamat ;) Tapi justru hal inilah yang membuat laju roda ekonomi di Depok berputar kencang. Banyak tenaga kerja terserap, yang ujung-ujungnya, memakmurkan warga juga kan? Salut-lah untuk Depok.
Kota yang lahir kembali 11 tahun lalu ini, semakin berkembang saja. Depok yang ’berubah wujud’ dari sebuah kota administratif ini telah berubah menjadi kotamadya, dan kini bisa disejajarkan dengan Bogor, Bekasi dan Tangerang sebagai sebuah kota yang maju dengan dukungan infrastruktur yang memadai. Seperti Bogor, salah satu Perguruan Tinggi besar di Indonesia, ada di Depok. Universitas Indonesia sepertinya sudah bedol desa, transmigrasi ke Depok, menjadikan kota ini sebagai salah satu pusat pendidikan tinggi terpercaya. Dengan kampus yang luas dan asri, UI masih selalu menjadi salah satu perguruan tinggi favorit putra-putri terbaik bangsa ini. Satu poin lagi untuk Depok.
Dengan adanya salah satu Perguruan Tinggi terbesar dan tertua di Indonesia, Universitas Indonesia yang telah menjadi ikon Depok, ditambah dengan perguruan tinggi swasta lainnya, Depok menjadi ramai dengan banyaknya pendatang dari berbagai daerah, terutama tentu saja mahasiswa yang notabene pintar dan terpelajar. Tak lama lagi, Depok bisa menyaingi Yogyakarta dan Bandung dengan predikat sebagai kota pelajar juga.
Lagi-lagi berkait dengan roda perekonomian, banyaknya pendatang ini tentu saja membuat bertumbuhnya sebuah bahkan beberapa peluang bisnis baru bagi warga setempat. Mulai dari pengadaan tempat kost, servis cuci-laundry pakaian dengan harga mahasiswa, warung makan, rental komputer, perpustakaan, dan… tinggal sebut saja, banyak peluang bisnis ada di sana. Depok makin berkembang, dan hanya tinggal menunggu waktu, ketika usai lebaran nanti, Jakarta tidak lagi jadi tujuan utama para perantau yang ingin mengadu nasib, tapi Depoklah yang akan jadi tujuan berikutnya, yang akan menerima para pendatang itu dengan tangan terbuka.

11 comments:

Rina said...

Iya, Depok makin hiruk-pikuk, kendaraan tambah banyak jumlahnya tapi kapasitas jalan sepertinya belum ditingkatkan...
Terakhir kita ke Depok jalan2nya banyak yang rusak, semoga sekarang sudah diperbaiki semua jalan2 rusaknya supaya warga Depok tetap bisa merasakan kenyamanan walaupun tambah berdesakan :)

Anonymous said...

Setuju banget mbak Di,memang Depok perkembangannya sangat pesat dng segala kemudahan & fasilitas yg ada. Hanya saja kemacetannya jg meningkat ya.
Ma'e Sekar

Anonymous said...

Setuju banget mbak Di,memang Depok perkembangannya sangat pesat dng segala kemudahan & fasilitas yg ada. Hanya saja kemacetannya jg meningkat ya.
Ma'e Sekar

Anonymous said...

Diah..uraian cerita soal Kota Depok sangat detail jd nggak perlu pergi ke depok, sudah paham soal Depok kalo ada yg cerita soal Depok dah nggak usah nganga ooooo panjang gitu hehehehe...good job!

dewi said...

Mbak Di...jadi pengen ke Bogor nih abis baca tulisan Depoknya. he...he...

Diah Utami said...

@Dewi: lho, kok malah ke Bogor sih, bukannya ke Depok? Nostalgia masa kecil ya? ;)

Anonymous said...

Depok penuh kenangan buatku, tapi ada juga yg menyamaratakan Depok dengan Jakarta, jadi kalo mau ke Depok, dia bilang mau ke Jakarta, mungkin kondisinya mirip dengan Cimahi dan Bandung...Trini tea...

shita said...

wah..Depok sekarang makin panas dan terlihat gersang, macetnya tetep (konsisten!), ribet, ruwet dan isinya mal semua. Padahal 10 tahun lalu masih terlihat asri. Semoga phonnya segera tinggi ya.

Anonymous said...

Makinmantap deh nanti ngelanjutin kuliah ke UI. Yeay! Tunggu aku, Depok ;)

Nursari said...

Ya begitulah depok. Sama seperti halnya kota2 penyangga Jakarta seperti Bekasi, Tangerang, Bogor. Pagi hari kta akan lihat lautan kendaraan menuju Jakarta, dan sebaliknya pada sore/ menjelang malam.
Tapi saya ingin menambahkan sisi lain: sisi kehidupan beragama. Depok menjadi pilihan tempat tinggal keluarga2 muda yang punya idealisme beragama. Dari sinilah tumbuh pula sistem2 yang bernafaskan semangat ini spt lembaga pendidikan dan bahkan perumahan. Banyak perumahan2 berlabelkan perumahan muslim tumbuh menjamur di depok. Ini yang mungkin saya pikir perlu dikaji lagi. Karena pendudk depok sesungguhnya mrpkan penduduk yang cukup heterogen. Saya berkeyakinan peng "kutub" an sesuatu masalah akan menimbulakn kutub lain yang berlawanan. Semoga pemimpin, pemuka masyarakatnya cukup arif mengelola kemajemukan yang ada di kota ini.

Diah Utami said...

Terima kasih, Sari, Ini jadi satu input lain sebagai bahan pemikiran pemkot Depok. Semuanya tidah lain untuk membuat Depok jadi tempat yang lebih baik untuk dihuni. Bukankah begitu?