Friday, December 12, 2008

Quote of the Day

Kebanggaan kita yang terbesar adalah bukan tidak pernah gagal,
tetapi bangkit kembali setiap kali kita jatuh.
(Confusius)

Thursday, December 11, 2008

Sedih di Hari Bahagia?

Kuambil dari conectique.com dan sedikit kuedit ulang. Mengingatkan diri sendiri.
Pernah dilanda rasa 'sepi', kosong dan tidak merasa bahagia di saat yang mestinya Anda berbahagia? Seperti di saat hari ulang tahun atau hari ulang tahun pernikahan Anda misalnya... Salah satu pemicu timbulnya bad mood tersebut mungkin karena sikap Anda yang cenderung terlalu keras pada diri sendiri. Cari tahu gejala lainnya dan segera lepaskan diri dari perangkap yang merusak mood bahagia Anda.
Mood Musiman
Mood musiman ini disebut sindrom SAD atau Seasonal Affective Disorder, yaitu kesedihan yang dialami seseorang pada musim-musim tertentu. Psikolog Peggi Elam dari situs ivillage.com mengatakan, mood ini bisa mengakibatkan seseorang kehilangan semangat saat langit mulai mendung. Walau pada awalnya ia berada dalam mood yang baik secerah sinar matahari, namun dengan mudah berubah bersamaan dengan langit yang gelap atau hujan dan badai. Bisa juga mengakibatkan ia 'alergi' terhadap cuaca tertentu. "Perasaan tidak nyaman yang terjadi terus menerus ini dapat mengakibatkan depresi," ujar Elam.
Si penderita umumnya cepat merasa lelah, senang mengkonsumsi karbohidrat serta makanan berkalori tinggi secara berlebihan, mengalami insomnia, bahkan sistem kekebalan tubuhnya mengalami penurunan. "Meski demikian perubahan mood berdasarkan cuaca ini masih tergolong normal dan bukan kelainan yang bersifat akut," tambah Elam
Coba lakukanlah hal-hal yang Anda sukai saat perasaan yang mengganggu itu mulai menghampiri. Menikmati makanan yang memberikan efek menenangkan seperti cokelat amat disarankan. "Perasaan tidak enak ini bisa diatasi dengan menambah insentisitas cahaya di sekitar Anda atau mewarnai dinding rumah dengan warna-warna terang," ujar Norman E. Rosethal penulis buku Winter Blues. Upayakan untuk menata ruangan sedemikian rupa sehingga kesan yang tercipta adalah ruangan yang terang dan cerah. Jangan biarkan benda-benda di sekeliling Anda penuh debu dan jangan lupa tempatkan bunga segar di dalam ruangan untuk menciptakan suasana hati yang menyenangkan.
Benci Hari Ulang Tahun
Saat pesta ulang tahun Anda sedang berlangsung meriah, justru Anda merasa tidak nyaman. Atau rencana yang sudah tersusun rapi tak berjalan mulus karena sebagian teman berhalangan hadir. Situasi ini kemudian membuat Anda merasa 'sendirian' dan tidak dipedulikan. Fakta mengatakan, perempuan memang memiliki kecenderungan berpikir dan bersikap lebih emosional dan mudah tersinggung di hari ulang tahunnya.
Perasaan ini timbul ketika Anda memasang harapan terlalu tinggi dan kemudian tidak tercapai. Bisa jadi hari ulang tahun membuat Anda teringat bahwa usia Anda semakin bertambah. Perasaan sensitif dan cemas tersebut sesungguhnya merupakan manifestasi dari rasa takut dan cemas. Anda khawatir tidak akan berhasil meraih cita-cita yang direncanakan sementara usia Anda terus bertambah. Cobalah pikirkan, emosi negatif muncul karena alam bawah sadar Anda yang menginginkannya. Untuk itu, katakan pada diri Anda bahwa pikiran negatif ini bisa Anda halau, karena tak memberikan manfaat apa-apa bagi kebahagiaan Anda.
"Menjaga perasaan agar tetap positif itu penting. Perasaan merefleksikan respon Anda terhadap hidup, harapan serta kepercayaan diri Anda," ujar Roberta Shaler,Ph.D, penulis Optimize Your Day. Pikirkanlah hal-hal yang sudah Anda dapatkan daripada hal-hal yang belum Anda raih. Mulai dari masa indah ketika sekolah, kucing lucu yang Anda temui, perjalanan penuh kesan yang Anda lakukan, sampai hadiah terindah yang pernah Anda dapatkan.
Tak Bisa Menikmati Kebahagiaan
Selalu berusaha menghindar setiap kali diundang ke sebuah resepsi pernikahan? Rasa sesak dan sedih mulai datang silih berganti memenuhi dada. Alih-alih rasa ikut bahagia yang muncul, malah rasa tak betah dan ingin pulang yang Anda rasakan...
Orang yang kerap merasa depresi ketika berada di lingkungan yang dipenuhi orang-orang yang sedang berbahagia biasanya disebabkan karena mereka membandingkan dirinya dengan orang-orang tersebut, dan melihat bahwa mereka tidak cukup bahagia.
Cara Mengatasinya:
Bersyukurlah dengan apa yang Anda miliki. Anda bisa bernafas dengan teratur setiap detik saja sudah merupakan anugerah Tuhan yang tak terkira nilainya. Bayangkan orang yang menderita radang paru-paru sehingga kesulitan bernapas misalnya....Carilah hal positif dalam setiap situasi dan rasakanlah kebahagiaan orang lain dan pikirkan suatu saat Andapun akan bisa menikmati rasa bahagia tersebut, walau mungkin bukan saat ini. Ciptakan pembicaraan ringan dan menarik dengan teman-teman serta buka hati Anda untuk menikmati setiap pembicaran tersebut.

Quote of the Day

Di tiap jengkal kehidupan, sang hujan memang harus tercurahkan.
Kadang hari-hari memang harus dilalui dalam selingkup awan kelabu dan kedukaan.
(Henry Wadsworth Long Fellow, Pujangga AS, 1807-1882)

Udah lama nggak menyisipkan quote of the day. Kali ini pake yang bahasa Indonesia ah... ;)

Tuesday, December 09, 2008

Idul Adha Berbunga... :)

Idul Adha tahun ini, alhamdulillah... sempat mengikuti shalat Ied bareng ibu dan kakak. Mendengarkan khutbah yang cukup kupahami, walaupun 95% disampaikan dalam bahasa Sunda. Mengingatkan diri agar selalu minta ditunjukkan jalan yang lurus untuk menuju Allah, dan jangan marah ketika kita diberi cahaya penerang untuk mengerjakan kebaikan.
Pulang ke rumah, rehat sebentar dan makan-makan dulu. Pikiranku sudah di sekolah. Ada kegiatan berkurban juga di sekolah, dan agak siangan aku baru bergabung. Karena pembagian tugas tidak cukup jelas, aku menempatkan diri di posisi mana saja yang tersedia. Awalnya di bagian penghitungan bungkusan daging kurban. Tapi kok kayaknya aku nggak cukup berguna ya. Menempatkan diri di sebelah bu Anne, memanfaatkan pisau miliknya yang sempat menganggur, aku kebagian tugas memotong2 daging hingga jeroan (hati, paru, usus yang panjang terburai, dengan sebagian masih terisi). Ditingkahi komentar sana-sini, juga kena cipratan darah maupun serpihan tulang dari pencacah tulang di seberangku yang begitu semangatnya menggunakan kampak, suasana di bawah tenda biru itu jadi agak meriah. Suara dari radio MQ menambah syahdu suasana qurban.
Lepas tengah hari, aku meninggalkan area sekolah. Ada tempat lain yang ingin kutuju. Bandung Orchid Festival, pameran bunga bulanan yang diselenggarakan di Metro-Bubat. Ada yang ingin kubeli untuk ibu. Soalnya, kapan lagi? Nunggu pekan depan berarti harus siap dengan stok bunga sisa, yang mungkin bukan bunga terindah yang tersedia. Hari kerja? Jelas nggak mungkin-lah, karena perjalanan dari Padalarang (Bandung Barat) ke daerah Bubat ujung (sudah dekat Bandung Timur), pasti makan waktu banyak. Tidak akan optimal juga berkunjung dan melihat-lihat arena pameran di saat menjelang tutup. Maka... kupaksakan diri di hari Idul Adha ini untuk mengunjungi arena pameran dan penjualan bunga itu. Masih bau kambing? Cuek aja deh...
Sendirian, aku menyusuri arena pameran yang tidak terlalu luas itu, dan jatuh cinta pada beberapa bunga yang terpajang di sana. Untuk beberapa item, tentu saja aku harus 'tahu diri' karena harga yang tak tergapai tangan (nggak bisa cukup jauh merogoh kantong. hehe...) Tapi gara-gara sudah kadung jatuh cinta, kubawa pulang cukup banyak bunga cantik juga untuk melengkapi koleksi di taman ibuku. Salah satu yang jadi incaranku kali ini adalah sejenis anggrek brassidium berujung lancip yang kadang-kadang dijuluki "the shooting star", mungkin karena bentuknya memang jadi serupa bintang. Indah. Sungguh. Kubagi keindahannya di sini agar kita semua bisa ikut menikmati.

Saturday, December 06, 2008

Perangkap Tikus Di Ladang Pertanian

diambil dari www.darulbayan.com
Oleh khairilmustapha
Rabu, 10 September 2008
Seekor tikus mengintip di sebalik celah di tembok untuk mengamati sang petani dan isterinya membuka sebuah bungkusan. Ada makanan fikirnya?
Dia terkejut sekali, ternyata bungkusan itu berisi perangkap tikus. Lari kembali ke ladang pertanian itu, tikus itu menjerit memberi peringatan, "Awas, ada perangkap tikus di dalam rumah, awaslah, ada perangkap tikus di dalam rumah!"
Sang ayam dengan tenang berkokok dan sambil tetap menggaruk tanah, mengangkat kepalanya dan berkata, "Ya maafkan aku, Pak Tikus, aku tahu ini memang masalah besar bagi kamu, tapi buat aku secara peribadi tak ada masalahnya. Jadi jangan buat aku peninglah."
Tikus berbalik dan pergi menuju sang kambing, katanya, "Ada perangkap tikus di dalam rumah, sebuah perangkap tikus di rumah!"
"Wah, aku menyesal dengar khabar ini," si kambing menghibur dengan penuh simpati, "Tetapi tak ada sesuatupun yang bisa kulakukan kecuali berdoa. Yakinlah, kamu sentiasa ada dalam doa doaku!"
Tikus kemudian berbelok menuju si lembu.
"Oh? sebuah perangkap tikus, jadi saya dalam bahaya besar ya?" kata lembu itu sambil ketawa.
Jadi tikus itu kembalilah ke rumah, kepala tertunduk dan merasa begitu patah hati, kesal dan sedih, terpaksa menghadapi perangkap tikus itu sendirian.
Malam itu juga terdengar suara bergema diseluruh rumah, seperti bunyi perangkap tikus yang berjaya menangkap mangsanya. Isteri petani berlari pergi melihat apa yang terperangkap. Di dalam kegelapan itu dia tak bisa melihat bahawa yang terjebak itu adalah seekor ular berbisa. Ular itu sempat mematuk tangan isteri petani itu.
Petani itu bergegas membawanya ke hospital. Dia kembali ke rumah dengan demam. Sudah menjadi kebiasaan setiap orang akan memberikan pesakitdemam panas minum sup ayam segar, jadi petani itu pun mengambil goloknya dan pergilah dia ke belakang mencari bahan bahan untuk supnya itu.
Penyakit isterinya berlanjutan sehingga teman teman dan jiran tetangganya datang menjenguk, dari jam ke jam selalu ada saja para tamu. Petani itu pun menyembelih kambingnya untuk memberi makan para pengunjung itu.
Isteri petani itu tak kunjung sembuh. Dia mati, jadi makin banyak lagi orang orang yang datang untuk pengkebumiannya sehingga petani itu terpaksalah menyembelih lembunya agar dapat menjamu makan orang orang itu.

Moral kisah ini:
Apabila kamu dengar ada seseorang yang menghadapi masalah dan kamu fikir itu tiada kaitan dengan anda, ingatlah bahawa apabila ada 'perangkap tikus' didalam rumah, seluruh 'ladang pertanian' ikut menanggung risikonya .
Sikap mementingkan diri sendiri lebih banyak keburukan dari baiknya.

Friday, December 05, 2008

Telat Beraaaaat!!

Pagi tadi berangkat lebih pagi, mengantisipasi kejadian macet di jalan di hari sebelumnya. Hujan deras mengguyur Bandung semalaman. Citarum meluap lagi, menggenangi ruas jalan yang biasa dilalui kendaraan umum. Arus lalu lintas beralih ke ruas jalan yang biasa kulalui, membuatnya padat luar biasa.
Para pengemudi tak sabaran, menyerobot jalan di kanan-kiri 'jalur resmi', membuatnya 'bertemu muka' dengan arus lalu lintas berlawanan arah, membuat macet makin tak terkendali. Tak bergerak, tak berkutik. Polisi tak bisa mencapai tempat kami untuk mengatur lalu lintas. Kesal, sebal gara-gara para pengemudi mobil dan motor yang tak berpikir logis itu, aku mulai mengambil gambar orang-orang di sekitarku. Bapak pengemudi di mobil belakangku terlihat tetap tersenyum berjuang di antrian yang tak bergerak itu, membuat suasana hatiku agak sedikit cerah. Dia tidak tersenyum ke arahku, tentu, tapi tensiku jadi agak sedikit turun karenanya. Subhanallah... begitu besarnya pengaruh sebuah senyum kecil.
Pengendara motor menepikan kendaraannya, beristirahat. Para karyawan pabrik turun dari bus jemputan mereka, berjalan kaki berlawanan arah. Ada yang bergerak maju mendekati tempat kerja mereka, sementara sebaliknya, ada yang berjalan melawan arus, kembali ke rumah masing-masing. Beberapa anak sekolah (laki-laki) di mobil jemputan tepat di depanku akhirnya pipis di pinggir jalan, tak tahan dengan desakan proses metabolisme yang sudah menanti untuk dilepaskan. Penjual air minum memanfaatkan momen, menawarkan barang dagangan mereka kepada para pengendara yang kelelahan-kepanasan di bawah matahari pukul sembilan yang mulai menyengat.
Sungguh, arus kendaraan (terutama mobil) terhenti sama sekali. 1,5 jam aku berada di titik yang sama, mematikan mesin kendaraan dan membuka jendela, membuat aroma sapi calon hewan kurban yang ditambat di tepi jalan bebas masuk memenuhi katana kecilku. Tak kunikmati, tapi mau apa lagi? Waktu kumanfaatkan dengan membaca. Luar biasa ya? Bisa lho, mbaca sambil nyetir mobil. Haha...! Buku The Secret yang kupinjam dari seorang teman membuatku bisa meredam rasa sebal dalam perjalanan kali ini. Kutuliskan data 'pemindah frekuensi', beberapa poin ingatan bahagia yang bisa mengubah energi negatif menjadi positif. Serta merta aku mulai merasa lebih bahagia. Sesekali, arus lalu lintas bergerak sedikit.
Maju dua meter, berhenti 10 menit... maju dua meter, berhenti 7 menit... sampai akhirnya maju perlahan, menembus lautan helm para pengendara motor yang menghabiskan ruas jalan. Lihat saja foto di bawah ini, sejauh mata memandang, puncak-puncak helm mengisi selebar jalan, di antara satu-dua bis yang jadi minoritas.
Akhirnya... aku berhasil 'meloloskan diri' dari kemacetan dan masuk gerbang tol Buah Batu menuju Padalarang. Jam 11 baru aku sampai sekolah. Jam 11, sodara-sodara...!!! Rekor nasional, menempuh jarak 35 km dalam waktu hampir 5 jam!!! Luar biasa. Sementara itu, tugas masih menanti. Anak-anak yang baru selesai ulangan umum hari terakhir perlu ditangani, surat untuk dibagikan belum selesai dilengkapi lampiran, pelatih ekskul janjian mau ketemu, dsb dst. Langsung 'in' ke kegiatan rutin di sekolah. Hari banjir pun terlupakan, walaupun masih khawatir. nTar malam, hujan lagi nggak ya...? :(

Monday, December 01, 2008

Terkunci!!!

Udahan dulu ah cerita-cerita tentang bunga. Kali ini mau 'curhat' tentang ketololanku hari Kamis beberapa waktu yang lalu. :p
Pagi-pagi nih... udah mau buru-buru berangkat ke sekolah. Waktunya mepet...! Tahu-tahu kondisi mobil celemongan banget, sisa hujan semalam. Aaahh...! Masa sih mesti 'ngeratain jeblok' dulu sebelum pergi? Agak kesel juga sih, tapi sadar ya ini salahku sendiri. Kenapa juga nggak dari tadi malam mbersihin mobil (dingin sih... aku kan masih agak sakit. :( ha... alasan!!). Setelah memasukkan tas dan peralatan lainnya, aku ambil chamois untuk mulai ngelap katana ijo itu. Eh, belum lagi satu menit aku ngelapin mobilku, tahu-tahu... "cuit!" mobilku ngunci sendiri, dengan kunci mobil lengkap di dalamnya!!! HA!!??!! Segala tas, handphone, kunci termasuk kunci serep yang kusimpan di dalam tas, kamera, laptop, pokoknya semua deh, terkunci di dalam mobil. Waduh... バカな私。
Mulai keringat dingin deh. Bakalan telat ke sekolah, sementara nomor telfon teman-teman, semuanya ada di phonebook handphone yang juga terkunci di dalam mobil. Jam setengah tujuh begitu, di sekolah pun belum ada orang. Mau ngontak siapa dong...? Bantuin...!
Nelfon A Lulu, kakak iparku. Siapa tahu dia bisa bantu. Dikasih petunjuk-petunjuk via telefon, tapi tak berhasil diterapkan pada katana ijo itu. Tentang buka kap mobil dan melepas koneksi aki. Konon, pada saat disambungkan kembali, kunci mobil akan terbuka secara otomatis. Tapi apa daya... kap mobil saja tak berhasil terbuka. Mulai deh utak-atik mencoba berbagai tips dan trik. Mulai dari ngakali kunci ala mcGyver, sampai trik maling mobil, semua tak kunjung berhasil (emang nggak berbakat maling mobil :p). Cape deh...
Setengah jam otak-atik pintu dan kaca mobil, nggak berhasil juga. Kutelfon sekolah. Sudah ada teman yang sampai di sana. Aku titip pesan karena bakalan terlambat datang. Titip jam ngajar periode pertama. Pasti nggak akan terkejar nih. Dia maklum.
Aku kembali ke mobilku. Mau coba trik apa lagi ya...? Ibuku mengontak tetangga belakang rumah yang berprofesi teknisi jempolan. Dia bilang, dia baru pulang dari Jakarta di malam sebelumnya. Ketika datang, dia membawa 'senjata' kecil yang dipakainya 'mengakali' kunci. Hanya dengan sentuhan kecil, klik, kunci mobil pun terbuka. Alarm berbunyi sih... tapi segera dinon-aktifkan dengan kunci otomatis. Eh... ternyata cuma dibegitukan saja? Ah... memang harus ditangani ahlinya. Sedangkan tanganku sempat lecet gara-gara sok jadi McGyver ;), pak Parman tetangga belakang rumahku itu cuma perlu 30 detik untuk membuka pintu mobil. Ah... mungkin itu kekuatan silaturahim ya? ;) Alhamdulillah.
Pergilah aku ke sekolah. Masih telat 10 menit-an di periode kedua, tapi untunglah murid-murid itu kooperatif dan berlatih sendiri di dalam kelas. Kujanjikan tes main musik di hari itu. Sisa hari kujalani dengan sukses. Alhamdulillah...
Pelajaran hari itu: jangan pernah meninggalkan kunci di dalam kendaraan ketika akan menutup pintu. Pastikan kunci ada dalam genggaman ketika hendak menutup pintu. Jangan sampai deh kejadian lagi.

Salah Satunya... Kok Jadi Banyak.