Sunday, March 25, 2007

Budaya Kita

Masih di acara pelatihan dan workshop Quantum Teaching kemarin. Dalam sesi pelatihan itu, berkali-kali dering ponsel terdengar. Bukan hanya sms, tapi panggilan telfon, dijawab pula oleh si pemegang telfon. Dalam ruangan pelatihan gitu lho...!Awalnya dengan suara pelan, dengan menyembunyikan kepala ke balik punggung kursi, tapi di sana-sini terdengar, ada juga yang menjawab dengan suara cukup keras. Bu, apakah ibu-ibu senang jika murid-murid lebih asyik membaca buku atau komik atau menggambar pada saat pelajaran ibu sedang berlangsung? Senang atau tidak mungkin bukan pertanyaan yang cocok juga. Sopankah? Nah, silakan jawab deh.
Selain itu, ada pula guru lain (dari sekolah lain, yang diundang oleh Y.P. SaF sebagai penyelenggara) yang meremas sampah pembungkus snack dan menjatuhkannya begitu saja ke lantai di bawah kursinya. O-ow... let's keep our Bandung clean and beautiful, will you?
Tentu tidak semua demikian, tapi budaya kita... budaya jelek kita, apakah akan terus terbawa kepada generasi berikutnya? Bila gurunya saja demikian, bagaimana pula muridnya kelak? Ayo dong pak, bu, perbaiki diri kita, beri contoh terbaik buat murid-murid kita, anak bangsa yang kelak akan membawa Indonesia menuju kemajuan, atau keterpurukan.

2 comments:

sri said...

Ikutan comment ya soalnya dah lama baca tapi ga pernah masuk (hehehe) Gimana atuh supaya kita bisa lebih berbudaya? Kebiasaannya kali ya yang harus terus diingatkan, ditegakkan, dst.

Diah Utami said...

Betul, bu Sri. Perilaku keseharian yang dilakukan terus-menerus akan jadi kebiasaan yang mendarah-daging. Sebuah komunitas yang 'memelihara' kebiasaan itu kemudian akan berkembang jadi budaya. Nah, sekarang jadi opsi kita kan, mau berbudaya seperti apa? Kebiasaan buang sampah pada tempatnya? Ya dimulai dari kita dong. Kebiasaan menjawab telfon atau ber-sms-ria dalam rapat atau di tempat2 yang dilarang? Mau dipupuk atau diredam? dsb dsb. Kayaknya pilihannya ada pada kita. Wah... ini bisa jadi bahasa panjang, bu Sri. ;)