Tuesday, June 24, 2008

Modus Operandi Penggalangan Dana

Beberapa waktu lalu, aku (dan tentu saja banyak kendaraan lain di jalan yang kami lalui) dihadang oleh segerombolan mahasiswa. Betul, segerombolan. Entah dari perguruan tinggi mana, aku tak sempat memperhatikan karena konsentrasiku lebih tertuju ke jalanan di depanku yang diblokade oleh mereka. Jumlah mereka sekitar 30-50 orang, aku tak tahu pasti, menyebar diri merayapi sela-sela mobil di perempatan dengan lampu yang menyala merah. Di perempatan Sulanjana-Dago mereka beraksi.
Selepas dari hadangan lampu merah, kulihat di arah yang berlawanan, 3 orang gadis berpakaian ketat plus seorang jejaka dengan rebana yang ditabuh tak beraturan membawakan tari kreasi pribadi di depan sebuah sedan putih, yang tak berdaya, terdiam di tempat. Tak bisa melaju padahal kendaraan di depannya sudah mulai bergerak maju. Mereka menyanyi (tidak) kompak dalam nada yang seadanya, dengan lagu yang juga ala kadarnya. Dan jelas terlihat, mereka berani nekat karena bersama-sama. Maksudnya, tak lain dan tak bukan, ingin menggalang dana dengan cara yang ‘fun’ buat mereka, mudah dan murah. Modalnya cuma nekat.
Dalam kurun waktu sepekan ini, aku melihat praktik remaja di beberapa tempat mulai mengacung-acungkan kotak kardus bekas mi instan atau ember karet hitam di tepi jalan, bahkan di tengah jalan! Tujuannya tak lain dan tak bukan, mereka berupaya menggalang dana sesegera dan sebanyak mungkin, persiapan untuk merayakan HUT RI yang akan jatuh di bulan Agustus nanti!! Ini baru bulan Juni, bung! Di persimpangan Bubat-Pelajar Pejuang, ada yang cukup kreatif menjadi seniman jalanan. 2 orang lelaki yang hanya bercelana sebatas paha, mengecat diri mereka dengan warna perak. Bergerak perlahan atau hanya merenung seumpama patung, dimangsa teriknya matahari, tak urung beberapa sopir atau penumpang kendaraan tergugah hatinya untuk merogoh kocek mereka dan menumpahkan isinya ke kardus besar yang mereka bawa, bertuliskan “Penggalangan dana HUT RI ke-63”.
Aku heran, di zaman susah seperti sekarang ini, banyak orang masih ingin merayakan kemerdekaan RI dengan pentas seni rakyat di panggung-panggung gemerlap yang digelar hingga bulan September. Apa esensinya? Kupikir, sudah saatnya tradisi itu direduksi mulai saat ini, karena sesungguhnya, negara kita belum betul-betul merdeka. Jika masih banyak rakyat kelaparan, mengantri air dan minyak tanah di mana-mana, bahkan bayi yang baru lahir sudah dibebani dengan piutang leluhurnya (yang sibuk pesiar sambil mencari pinjaman utang hingga jauh-jauh ke luar negeri), apakah negeri ini sudah bisa disebut merdeka? Ah... miris aku memikirkannya.

No comments: