Thursday, August 07, 2008

MENYIKAPI REJEKI

'Nyontek' dari situs Yasmin-barbeku.org.

Nabi Musa menyaksikan seorang fakir, yang karena kefakirannya tidur di atas tanah padang pasir tanpa baju. Setelah beliau mendekatinya, si fakir berkata, “Wahai Musa, mohonlah kepada Allah agar memberi saya sedikit rejeki yang dapat membebaskan saya dari kemiskinan ini”.

Karena perihatin melihat kondisi si fakir, Nabi Musa lalu memohon kepada Allah agar dikaruniakan kepadanya rejeki yang diperlukannya, lalu beliau segera melanjutkan perjalanannya ke gunung untuk bermunajat kepada Allah Swt.

Hari berikutnya, Nabi Musa pulang melalui jalan yang sama dan melihat si fakir yang telah dia doakan dalam keadaan terikat, babak belur dan dikelilingi oleh sekelompok orang.

Nabi Musa as bertanya, “Apa yang telah terjadi?” Mereka menjawab, “Baru saja dia mendapatkan uang, lalu digunakannya untuk minum arak sampai mabuk dan melakukan penyerangan hingga membunuh seseorang. Dan sekarang mereka menangkapnya untuk melaksanakan hukum qishash dan menggantungnya”.

Rejeki merupakan salah satu nikmat Allah, sekaligus amanah yang cukup berat dari Allah Swt. Acapkali, ketika seseorang mendapatkan rejeki, mereka lupa diri, terkunci hatinya untuk bersyukur atas anugerah Allah tersebut. Allah SWT memperingatkan bahaya bagi orang yang tidak memanfaatkan rejeki sesuai syariat-Nya, “Dan jikalau Allah melapangkan rejeki kepada hamba-hamba-Nya, tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi”.

Sungguh rejeki itu merupakan tanda kasih dan kemurahan Allah SWT. Betapa Allah SWT memberikan kepada setiap makhluk-Nya curahan rejeki. Firman Allah SWT. “Dan tidak ada satu binatang melatapun dibumi melainkan Allah-lah yang memberikan rejekinya. (QS. Hud: 6)

Rasulullah Saw bersabda: “Rejeki itu mengejar seorang hamba dengan cepat, melebihi kematiannya”. Tidak ada binatang melata di muka bumi ini yang Allah tidak menentukan rejekinya, dan tidak ada jiwa yang mati melainkan dia telah memakan makanan terakhir yang ditakdirkan atasnya. Manusia dalam memenuhi seluruh kebutuhan hidupnya, harus berusaha mencari rejeki dengan cara halal. Jika dia telah berusaha tetapi masih mendapat kekurangan, jangan sampai ada pikiran untuk mencarinya dengan cara yang haram. Sebaik-baik cara menghadapi kekurangan ini adalah bersabar dan tetap bersyukur kepada-Nya.

Setiap manusia memiliki cara khusus dalam mencari rejeki; sebagian menjadi saudagar dan berdagang, sebagian menjadi kuli angkut barang, sebagian menjadi pegawai, dan jika seseorang tidak merasa puas dan cukup dengan pembagian ini, maka dia akan dihinggapi oleh sifat hina, tamak dan serakah. Dan demi memuaskan keserakahannya itu dia akan melakukan berbagai perbuatan haram demi mendapatkan apa yang diinginkannya. Dan tidak ada cara lain untuk menghindarkan diri dari perbuatan tercela ini, melainkan dengan bertawakkal dan menyerahkan diri kepada Allah Swt.

Sebaik-baik cara mencari rejeki Allah SWTadalah dengan berikhtiar dengan segenap daya dan upaya di jalan yang halal dan diridhoi Allah. Mengiringi setiap upaya kita dengan untaian doa dan amal sholeh. Secara konsisten dengan penuh keikhlasan mencari jalan menggapai rejeki halal, dan selalu bersyukur di kala dikaruniai rejeki ataupun tidak diberikan rejeki, karena Allah SWT tidak pernah mendzalimi hamba-Nya.

Tahap selanjutnya untuk mendapatkan keberkahan rejeki adalah, sucikan rejeki kita dengan zakat, sedekah dan berbagi dalam bingkai keikhlasan kepada dhu’afa. Pilih dan pertimbangkan manfaat terbaik dalam pemberian tersebut, sehingga mereka benar-benar mendapatkan solusi terbaik. Dan berikanlah dengan penuh kerendahan dan pengabdian karena sejatinya ketika kita berbagi, kita sedang menyambut ‘uluran tangan Tuhan’.

Semoga Allah senantiasa menjadikan kita bersyukur dan berbagi atas rejeki yang ada pada kita. Wallahu a’lam bi ash-shawab. (Sulistiyo)

No comments: